• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 85-141)

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

a. Kegiatan pelayanan, pembinaan dan pengawasan terhadap sarana farmasi, makanan dan minuman yang telah dilakukan perlu ditingkatkan dalam rangka sosialisasi informasi dan untuk meningkatkan tanggung jawab maupun pengetahuan tenaga kesehatan dan pemilik sarana kesehatan. b. Sistem pelaporan narkotika psikotropika dan laporan pemakaian dan

LPLPO menggunakan sistem yang baru sehingga perlu diadakan sosialisasi menyeluruh terhadap APA di seluruh Jakarta Timur serta perlu didukung penambahan sarana dan prasarana, seperti komputer dan internet.

c. Perlu dilakukan pemutakhiran format LPLPO yang sesuai dengan jenis obat di Puskesmas serta pemutakhiran data sarana farmasi makanan dan minuman di lapangan.

DAFTAR ACUAN

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. (2009). Pedoman Perizinan Sarana

Farmasi Makanan dan Minuman Provinsi DKI Jakarta. Jakarta: Suku Dinas

Kesehatan Jakarta Timur.

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. (2002). Pedoman Perizinan Sarana

Farmasi Makanan dan Minuman Provinsi DKI Jakarta. Jakarta : Suku

Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi DKI

Jakarta No. 150 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Suku Dinas Kesehatan. Jakarta : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4

Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Jakarta: Pemerintah Provinsi

DKI Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. (2012) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional. Jakarta: Kementrian

Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (2011). KeputusanMenteri Kesehatan No. 889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan No. 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (2007). Peraturan Menteri Kesehatan No284/MenKes/PER/III/2007, tentang Apotek Rakyat. Jakarta: Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (2003). Keputusan Menteri Kesehatan No. 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010.

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (2002). Peraturan Menteri Kesehatan No. 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Perizinan Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (1991). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

142/MenKes/PER/III/1991 tentang Penyalur Alat Kesehatan. Jakarta:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan No. 246/Menkes/PER/V/1990 Tentang Izin Usaha Industri Kecil Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional. Jakarta: Kementerian

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-undang No. 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Presiden Republik Indonesia. (2000). Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000

tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom Presiden RI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia.

Presiden Republik Indonesia. (1999). Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang

Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. (2009). Dokumen Sistem Manajemen Mutu

Sudinkes Kodya Jakarta Timur Tahun 2009;Deskripsi Kerja Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Jakarta: Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.

Lampiran 3. Formulir Permohonan Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) atau Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA)

Lampiran 4. Formulir Permohonan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK)

Lampiran 9. Formulir Permohonan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI

JAKARTA TIMUR

JL. MATRAMAN RAYA NO. 218

PERIODE 11 – 28 MARET 2013

REKAPITULASI LAPORAN PEMAKAIAN DAN LEMBAR

PERMINTAAN OBAT (LPLPO) PUSKESMAS DI SUKU DINAS

KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

PERIODE DESEMBER 2012 – FEBRUARI 2013

NURLISA DWI NOVIANTI, S.Farm.

1206313444

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

ii

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI

JAKARTA TIMUR

JL. MATRAMAN RAYA NO. 218

PERIODE 11 – 28 MARET 2013

REKAPITULASI LAPORAN PEMAKAIAN DAN LEMBAR

PERMINTAAN OBAT (LPLPO) PUSKESMAS DI SUKU DINAS

KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

PERIODE DESEMBER 2012 – FEBRUARI 2013

NURLISA DWI NOVIANTI, S.Farm.

1206313444

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI ... iii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR TABEL ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1Latar Belakang ... 1 1.2Tujuan ... 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4 2.1Pengelolaan Obat di Puskesmas DKI Jakarta ... 4 2.2Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)... 6 BAB 3 METODE PENELITIAN ... 11 3.1Waktu dan Tempat ... 11 3.2Teknik Pengumpulan Data ... 11 3.3Cara Kerja ... 11 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12

4.1Sistem LPLPO di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur ... 12 4.2Perbedaan Format Lama dan Baru LPLPO ... 13 4.3Permasalahan Pelaporan LPLPO ... 14 4.4Penggunaan Dua Puluh Jenis Obat Terbanyak di Puskesmas

Wilayah Jakarta Timur Periode Desember – Februari 2013 ... 15 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 19

5.1Kesimpulan ... 19 5.2Saran ... 20 DAFTAR ACUAN ... 21

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Diagram Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di Puskesmas Kecamatan Wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur Desember 2012 – Februari 2013 ... 15

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Perbedaan Antara Format Lama dan Baru LPLPO ... 13 Tabel 4.2 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di Puskesmas

Wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 16 Tabel 4.3 Daftar Pemakaian Obat Terbanyak Setiap Kecamatan di wilayah

Jakarta Timur periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 17 Tabel 4.4 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Cakung

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 22 Tabel 4.5 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Cipayung

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 23 Tabel 4.6 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Ciracas

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 24 Tabel 4.7 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Duren

Sawit Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 25 Tabel 4.8 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Kramat Jati

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 26 Tabel 4.9 Daftar pemakaian dua puluh obat terbanyak di PKC Pulo Makasar

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 27 Tabel 4.10 Daftar pemakaian dua puluh obat terbanyak di PKC Matraman

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 28 Tabel 4.11 Daftar pemakaian dua puluh obat terbanyak di PKC Pasar Rebo

Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 29 Tabel 4.12 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat Terbanyak di PKC Pulo

Gadung Periode Desember 2012 – Februari 2013... 30 Tabel 4.13 Daftar Pemakaian Dua Puluh Obat dan Total Pemakaiannya

Terbanyak di Puskesmas Kecamatan Wilayah Jakarta Timur Periode Desember 2012 – Februari 2013 ... 31

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Format Baru Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan (LPLPO) ... 32 Lampiran 2 Format Lama Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan

1 Universitas Indonesia BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat merupakan komponen yang esensial dari suatu pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik dan benar serta efektif dan efisien secara berkesinambungan. Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi kegiatan perencanaan dan permintaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi, pencatatan dan pelaporan, serta supervisi dan evaluasi pengelolaan obat. Obat dan perbekalan kesehatan hendaknya dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, tepat penyimpanan, tepat waktu pendistribusian, tepat penggunaan dan tepat mutu di tiap unit pelayanan kesehatan ( Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010).

Peran pemerintah lebih dititikberatkan pada perencanaan, pengaturan, penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan lingkungan, tatanan, fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial; ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata; serta ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Pemerintah juga bertanggung jawab memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan; ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau bagi masyarakat untuk mencapai, meningkatkan, dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, 2009).

Sistem otonomi daerah menjadikan Pemerintah Pusat melakukan pendelegasian wewenang kepada Pemerintah Daerah (Undang-undang No. 22 Tahun 1999, 1999). Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan

tersebut. Salah satu pendelegasian wewenang adalah dalam hal pengelolaan kesehatan (Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000, 2000).

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur adalah Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi/Dinas Kesehatan Kabupaten Administrasi sebagai perangkat pada tingkat kota administrasi/kabupaten administrasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Gubernur Provinsi DKI Jakarta, 2009). Salah satu tugas pokok dan fungsi Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur adalah melaksanakan kegiatan pengelolaan dan pengawasan persediaan obat dan perbekalan kesehatan di Kota Administrasi Jakarta Timur yang dalam ini dilakukan oleh Seksi Sumber Daya Kesehatan bagian Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin).

Seksi Farmasi Makanan dan Minuman mempunyai tugas melaksanakan pelayanan perizinan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian pelayanan kesehatan (Gubernur Propinsi DKI Jakarta, 2009). Dalam pengawasan obat, dilakukan pengawasan terhadap penggunaan obat di Puskesmas melalui Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Pengawasan Sistem pelaporan LPLPO pada Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur dari Puskesmas Kecamatan semula dilakukan dengan menggunakan sistem manual dengan cara memasukkan data dalam bentuk hardcopy pada program Microsoft excel kemudian mengirimkan data tersebut melalui kurir ke Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, terhitung januari 2013 sistem pelaporan dilakukan menggunakan sistem komputerisasi dalam bentuk softcopy program Microsoft excel kemudian mengirimkan data tersebut melalui email. Setiap 3 bulan dilakukan rekapitulasi data oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur dan selanjutnya rekapitulasi data triwulan tersebut dikirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi untuk dikompilasi di tingkat provinsi. Setiap enam bulan sekali data rekapitulasi tingkat provinsi diserahkan ke pusat, yaitu Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan alat Kesehatan.

Dalam struktur organisasi Suku Dinas Kesehatan, seksi yang bertanggung jawab terhadap Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) adalah seksi Sumber Daya Kesehatan bagian Farmasi Makanan dan Minuman dimana salah satu sumber daya manusia yang berperan adalah Apoteker. Oleh karena itu, mahasiswa Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) diberikan tugas

khusus mengenai rekapitulasi LPLPO pada Puskesmas Kecamatan wilayah Jakarta Timur periode Desember 2012 – Februari 2013.

1.2 Tujuan

Pelaksanaan PKPA di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur Seksi Sumber Daya Kesehatan, terutama di bagian Farmasi Makanan dan Minuman bertujuan untuk:

a. Mengetahui sistem dan tujuan pelaporan LPLPO Puskesmas di Jakarta Timur b. Mengetahui perbedaan antara format LPLPO lama dan baru.

c. Mengetahui data dua puluh jenis obat dari LPLPO yang paling banyak digunakan di wilayah Jakarta Timur periode Desember 2012 – Februari 2013. d. Mengetahui permasalahan dalam rekapitulasi LPLPO.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengelolaan Obat di Puskesmas

Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Secara nasional, standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah, yaitu desa/kelurahan atau dusun/rukun warga (RW) (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006a).

Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat. Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, dan derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat. Untuk mencapai visi tersebut, Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Dalam menyelenggarakan upaya tersebut, Puskesmas perlu ditunjang dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006a).

2.1.1 Perencanaan Obat di Puskesmas (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010)

Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan obat di Puskesmas. Perencanaan kebutuhan obat untuk Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh Pengelola Obat dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas. Dalam proses perencanaan kebutuhan obat per tahun, Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan mengunakan LPLPO.

Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya. Ketepatan dan kebenaran data di Puskesmas akan berpengaruh terhadap ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara keseluruhan di Kabupaten/Kota. Tujuan perencanaan obat, antara lain adalah untuk mendapatkan perkiraan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan, meningkatkan efisiensi penggunaan obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

2.1.2 Permintaan Obat di Puskesmas (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010)

Sumber penyediaan obat di Puskemas berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Obat yang diperkenankan untuk disediakan di Puskesmas adalah obat esensial yang jenis dan item-nya telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN). Selain itu, sesuai dengan kesepakatan global maupun Keputusan Menteri Kesehatan No. 085 Tahun 1989 tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan atau Menggunakan Obat Generik di Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah dan Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, maka hanya obat generik saja yang diperkenankan tersedia di Puskesmas.

Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di masing-masing Puskesmas diajukan oleh Kepala Puskesmas kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan format LPLPO, sedangkan permintaan dari subunit ke Kepala Puskesmas dilakukan secara periodik menggunakan LPLPO subunit. Perencanaan obat di Puskesmas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan obat di masing-masing unit pelayanan kesehatan sesuai dengan pola penyakit yang ada di wilayah kerjanya.

Berdasarkan pertimbangan efisiensi dan ketepatan waktu penyerahan obat kepada Puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menyusun petunjuk lebih lanjut mengenai alur permintaan dan penyerahan obat secara langsung dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota ke Puskesmas. Tujuan

permintaan obat di Puskesmas adalah untuk memenuhi kebutuhan obat di masing-masing unit pelayanan kesehatan sesuai dengan pola penyakit yang ada di wilayah kerjanya.

2.1.3 Penerimaan, Penyimpanan dan Distribusi Obat di Puskesmas (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010)

Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelola di bawahnya. Penerimaan obat harus dilaksanakan oleh petugas pengelola obat atau petugas lain yang diberi kuasa oleh Kepala Puskesmas. Penerimaan obat bertujuan agar obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas.

Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Penyimpanan bertujuan agar obat yang tersedia di Unit Pelayanan Kesehatan terjamin mutu dan keamanannya.

Distribusi/penyaluran adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan subunit-subunit pelayanan kesehatan, antara lain:

a. Subunit pelayanan kesehatan di lingkungan Puskesmas b. Puskesmas Pembantu

c. Puskesmas Keliling d. Posyandu

e. Polindes

Distribusi obat di Puskesmas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan obat subunit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, jumlah dan waktu yang tepat serta mutu terjamin.

2.1.4 Pencatatan dan Pelaporan Obat (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010)

Pencatatan dan pelaporan data obat di Puskesmas merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penatalaksanaan obatan secara tertib, baik

obat-obatan yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas dan atau unit pelayanan lainnya. Puskesmas bertanggung jawab atas terlaksananya pencatatan dan pelaporan obat yang tertib dan lengkap serta tepat waktu untuk mendukung pelaksanaan seluruh pengelolaan obat.

Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah : a. Bukti bahwa suatu kegiatan telah dilakukan.

b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian. c. Sumber data untuk perencanaan kebutuhan.

d. Sumber data untuk pembuatan laporan.

2.1.5 Supervisi dan Evaluasi Pengelolaan Obat (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010)

Supervisi adalah proses pengamatan secara terencana oleh petugas pengelola obat dari unit yang lebih tinggi (Instalasi Farmasi Provinsi/Kabupaten/Kota) terhadap pelaksanaan pengelolaan obat oleh petugas ke unit yang lebih rendah (Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota/Puskesmas/Puskesmas Pembantu/UPT lainnya). Pengamatan diarahkan untuk menjaga agar semua pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan sesuai dengan pedoman yang disepakati bersama. Tujuan supervisi adalah untuk meningkatkan produktivitas para petugas pengelola obat agar mutu pelayanan obat dapat ditingkatkan secara optimum.

Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan ang sistematis dari dampak program. Tujuan evaluasi antara lain :

a. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan dan mencari solusinya.

b. Memprediksi kegunaan dari pengembangan program dan memperbaikinya. c. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif.

d. Meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi.

e. Mengetahui kesesuaian antara sasaran yang diinginkan dengan hasil yang dicapai.

2.2 Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)

Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat adalah formulir terpadu yang digunakan dalam sistem informasi, yang digunakan baik di tingkat kabupaten/kota dan puskesmas kecamatan. Formulir ini dipergunakan oleh gudang obat Puskesmas untuk melaporkan data pemakaian obat bulanan dan mengajukan permintaan obat. Permintaan obat oleh Puskesmas ke Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II atau Gudang Farmasi Kabupaten diajukan sesuai dengan jadwal distribusi obat yang telah disusun/ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Dati II/Gudang Farmasi Kabupaten dan permintaan tambahan obat untuk mengatasi kekosongan obat dapat diajukan setiap saat, diluar jadwal distribusi rutin.

Sarana yang digunakan untuk pencatatan dan pelaporan obat di Puskesmas adalah Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) dan kartu stok. LPLPO yang dibuat oleh petugas Puskesmas harus tepat data, tepat isi dan dikirim tepat waktu serta disimpan dan diarsipkan dengan baik. LPLPO juga dimanfaatkan untuk analisis penggunaan, perencanaan kebutuhan obat, pengendalian persediaan, dan pembuatan laporan pengelolaan obat (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010).

Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat dibuat berdasarkan Kartu Stok Obat dan Catatan harian penggunaan obat. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat disampaikan oleh Puskesmas atau Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) ke Instalasi Farmasi (IF). Petugas Pencatatan dan Evaluasi melakukan evaluasi dan pengecekan sesuai dengan rencana distribusi dari IF lalu dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk mendapatkan persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Formulir yang digunakan sebagai dokumen bukti mutasi obat adalah formulir LPLPO atau disebut juga formulir Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat. Formulir ini dipakai untuk permintaan dan pengeluaran obat (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2007a).

Alur pelaporan LPLPO adalah sebagai berikut:

a. Puskesmas kelurahan memberikan rekapitulasi LPLPO ke Puskesmas kecamatan paling lambat tanggal 5 pada bulan berikutnya.

b. Puskesmas kecamatan mengirimkan LPLPO ke Suku Dinas Kesehatan kotamadya atau kabupaten paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya. c. Petugas Suku Dinas Kesehatan bagian sumber daya kesehatan kemudian

menginput kembali data LPLPO yang diperoleh dari tiap Puskesmas kecamatan dan menjumlahkan total pemakaian obat tiap bulan dari sepuluh Puskesmas serta menghitung jumlah obat yang paling banyak digunakan selama periode waktu tertentu dari sepuluh Puskesmas kecamatan tersebut d. Kemudian LPLPO dari Suku Dinas Kesehatan kotamadya atau kabupaten

dikirim kepada Dinas Kesehatan propinsi setiap tiga bulan

e. Dinas Kesehatan propinsi kemudian merekapitulasi kembali LPLPO dari semua Suku Dinas kesehatan yang ada dan melaporkannya setiap enam bulan sekali ke Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Data LPLPO dibuat tiga rangkap dan diberikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota untuk diisi jumlah yang diserahkan. Setelah ditandatangani oleh kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, satu rangkap untuk Kepala Dinas Kesehatan, satu rangkap untuk Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan satu rangkap dikembalikan ke Puskesmas. LPLPO sudah harus diterima oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota paling lambat tanggal 10 setiap bulannya (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2010).

Kegunaan LPLPO, antara lain (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2007a)

a. Bukti pengeluaran obat di IF.

b. Bukti penerimaan obat di Puskesmas/Rumah Sakit.

c. Surat permintaan/pesanan obat dari Puskesmas/RS kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

d. Sebagai bukti penggunaan obat di Rumah Sakit/Puskesmas.

Format LPLPO yang lama berisi sembilan kolom, dari kiri ke kanan berturut-turut adalah :

a. Nomor b. Nama Obat c. Satuan

d. Stock Awal e. Penerimaan f. Persediaan g. Pemakaian h. Stok Akhir i. Keterangan

Sedangkan format LPLPO yang baru (2013) berisi 8 kolom, dari kiri ke kanan berturut-turut adalah : a. Nomor b. Nama Obat c. Kemasan d. Kebutuhan e. Pemakaian f. Sisa Stok g. Ketersediaan h. Presentase Ketersediaan

BAB 3

METODOLOGI PENGKAJIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Pengambilan data dilakukan di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Bidang Seksi Sumber Daya Kesehatan, Seksi Farmasi Makanan dan Minuman

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 85-141)

Dokumen terkait