• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-131)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

5.2.1. Untuk meningkatkan kenyamanan pasien maka diperlukan adanya perbaikan beberapa fasilitas apotek yang kurang memadai.

5.2.2. Untuk menjaga kestabilan obat maka penempatan sediaan obat perlu diatur ulang, khususnya untuk sediaan yang terpapar sinar matahari. 5.2.3. Untuk menghindari terjadinya kekosongan obat maka pemanfaatan kartu

stok barang di Apotek Safa perlu ditingkatkan agar persediaan obat dapat lebih diawasi.

5.2.4. Untuk mensukseskan program Tiada Apoteker Tiada Pelayanan (TATAP), maka kehadiran Apoteker ditingkatkan atau diadakan Apoteker Pendamping.

Anif, M. (2001). Manajemen Farmasi Cetakan Ketiga. Yogyakarta: UGM Press. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan

No. 28/Menkes/Per/I/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia No.25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah no. 26 Tahun 1965 tentang Apotek. Jakarta: Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 347 Tentang Daftar Obat Wajib Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993c). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 924/Menkes/PER/IX/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik

Indonesia No. 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Jakarta: Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/Menkes/PER/X/1999 Tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 992/Menkes/PER/X/1993 Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027 Tahun 2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan

Republik Indonesia.

Hartono, Hdw. (1998). Manajemen Apotek. Jakarta: Depo Farmasi Obat

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2009a). Undang-Undang Republik

Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta : Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2009b). Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian.

Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2009c). Undang-Undang Republik

Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta: Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889//MENKES/PER/V/2011 Tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.

Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Sub Dinas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. (2002).

Pedoman Perizinan Sarana Farmasi Makanan dan Minuman Provinsi DKI. Jakarta.

Lampiran 3. Papan Nama Apotek Safa

Lampiran 5. Gambar Ruang Tunggu Apotek Safa

Lampiran 7a. Denah Apotek Safa

Keterangan :

A. Pintu masuk G. Ruang praktek dokter

B. Ruang tunggu H. Ruang konsultasi psikolog

C. Ruang peracikan I. Ruang praktek dokter D. Gudang penyimpanan resep J. Ruang kosong

E. Musholla K. Lahan parkIr F. Toilet

Lampiran 7b. Denah Apotek Safa (Lanjutan)

Keterangan :

1. Lemari alat kesehatan 2. Lemari pendingin 3. Box es krim 4. Etalase obat bebas 5. Kasir

6. Tempat penerimaan resep 7. Tempat penyerahan obat 8. Kursi tunggu

9. Display brosur dan majalah kesehatan 10. Televisi

11. Lemari etalase obat bebas 12. Rak sediaan solid generic 13. Rak sediaan solid paten

(abjad D-F)

14. a. Rak sediaan liquid generi b.Rak sediaan liquid paten c. Rak sediaan solid paten (abjad A-C)

15. Meja racik

16. Rak sediaan solid paten (abjad G-O)

17. Rak sediaan solid paten (abjad P-Z)

18. Alat timbang dan perlengkapan apotek 19. a. Rak sediaan semi solid

b. Rak sediaan tetes mata dan telinga

20. Rak penyimpanan resep 21. Rak bahan baku farmasi 22. Lemari pendingin 23. Wastafel dan tempat

cuci piring 24. Lemari narkotik

Lampiran 9. Rak Penyimpanan Obat Psikotropika

Lampiran 22. Berita Acara Pemusnahan Resep Dan Copy Resep

Apotek : Alamat :

BERITA ACARA PEMUSNAHAN RESEP dan COPY RESEP

Pada hari ... tanggal ... bulan ... Tahun ... sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 200/MenKes/SKN/1981, tertanggal 30 Mei 1981, kami : Nama : Jabatan : No. SIK/SIP : Dan : Nama : Jabatan : No. SIK/SIP :

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa kami telah memusnahkan sejumlah Resep yang sudah kami simpan selama 3 tahun, yaitu mulai tanggal ... tahun ... s/d tanggal ... tahun... sebanyak ... kg. Pemusnahan ini kami lakukan dengan cara ... dan ... , berita acara ini kami buat rangkap 4 dan dikirmkan kepada :

1. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat

2. Kantor wilayah Departemen Kesehatan DKI Jakarta, Jl. Kesehatan No. 10 Jakarta 3. Balai POM DKI Jakarta, Jl. Kesehatan No. 10 Jakarta

4. Arsip Apotek

Demikian berita acara ini kami buat dengan sesungguhnya agar dapat dipergunakan seperlunya. Jakarta,

Apoteker Penanggung Jawab Apotek SIK No.

( ) Saksi :

Asisten Apoteker : SIK/SIAA No.

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK SAFA

PERIODE 2 JULI – 10 AGUSTUS 2012

ANALISIS DISTRIBUTOR DAN SUBDISTRIBUTOR YANG

BEKERJA SAMA DENGAN APOTEK SAFA

UTAMI NURUL FADILAH, S.Farm.

1106153542

ANGKATAN LXXV

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK SAFA

PERIODE 2 JULI – 10 AGUSTUS 2012

ANALISIS DISTRIBUTOR DAN SUBDISTRIBUTOR YANG

BEKERJA SAMA DENGAN APOTEK SAFA

UTAMI NURUL FADILAH, S.Farm.

1106153542

ANGKATAN LXXV

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Definisi Perencanaan dan Pengadaan... 3 2.2 Pengertian Barang Persediaan ... 5 2.3 Prinsip Manajemen Persediaan ... 6 2.4 Pedagang Besar Farmasi ... 10 BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN. ... 13 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 13 3.2 Metodologi Pengkajian... 13 BAB 4 PEMBAHASAN ... 14 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 23 4.1 Kesimpulan... 23 4.2 Saran... 23 DAFTAR ACUAN... 24

Lampiran 1. Nama Distributor Obat di Apotek Safa... 26 Lampiran 2. Nama Subdistributor Obat di Apotek Safa ... 31

1.1. Latar Belakang

Apotek menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Upaya kesehatan merupakan setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Satu diantara upaya kesehatan khususnya dibidang pengobatan adalah tersedianya obat-obat yang dibutuhkan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2009b). Obat merupakan salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan, mulai dari upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan pemulihan. Ketersediaan obat harus terjamin dalam jumlah dan jenis obat yang cukup sesuai dengan keperluan nyata pola penyakit setempat secara tepat waktu, merata, dan berkesinambungan. Selain itu, obat yang disediakan harus terjamin khasiat, mutu, dan keamanannya.

Penyediaan obat pada sarana pelayanan kesehatan, tidak terkecuali apotek, memerlukan biaya yang tidak sedikit sehingga diperlukan perencanaan yang sangat teliti. Jika perencanaan tidak sesuai dengan keperluan, akan terjadi pemborosan biaya, penumpukan obat kadaluarsa, pelayanan kesehatan yang kurang efektif dan efisien serta memicu terjadinya penyimpangan penggunaan obat. Pengelolaan obat yang baik dan benar untuk meminimalkan risiko kerugian dan buruknya pelayanan kesehatan perlu dilakukan. Pengelolaan obat ini tidaklah mudah karena harus selalu berjalan seimbang dan berkesinambungan disesuaikan dengan keperluan masyarakat sekitar (Departemen Kesehatan RI, 2002). Oleh karena itu, Seorang apoteker diharapkan tidak hanya mampu menguasai pekerjaan teknis farmasi saja tetapi seorang apoteker juga harus dapat menguasai pekerjaan non-teknis farmasi antara lain adalah kegiatan perencanaan persediaan obat di apotek (Hartono, 1998). Perencanaan dan pengadaan adalah faktor kunci keberhasilan sebuah apotek karena dapat menurunkan biaya, meningkatkan

harus mempunyai kemampuan manajemen untuk pengelolaan apotek yang dikelolanya antara lain mampu memilih distributor atau subdistributor dengan pertimbangan-pertimbangan seperti potongan harga yang diberikan, waktu tenggang dalam pembelian kredit, dan lead time pengiriman barang, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi apotek tersebut.

Dengan demikian, sebuah apotek harus dapat menjalin kerjasama dengan pedagang besar farmasi sebagai salah satu pemasok obat dan alat kesehatan, sehingga perputaran persediaan di apotek menjadi lebih terkendali. Tugas khusus ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan bagi pihak apotek untuk meningkatkan pendapatan dan menjalin kerjasama dengan distributor dan subdistributor yang ada.

1.2. Tujuan

Penyusunan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Safa bertujuan untuk memberikan rekomendasi kepada Apotek dalam memilih distributor atau subdistributor sehingga dapat memberikan keuntungan bagi apotek tersebut.

2. 1. Definisi Perencanaan dan Pengadaan

2.1.1. Perencanaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2002).

Perencanaan merupakan kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga dalam rangka pengadaan dengan tujuan mendapatkan jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, serta menghindari kekosongan obat. Dalam perencanaan pengadaan sediaan farmasi seperti obat-obat dan alat kesehatan, maka perlu dilakukan pengumpulan data obat-obat yang akan dipesan. Data obat-obat tersebut biasanya ditulis dalam buku defekta, yaitu buku yang menunjukkan bahwa barang tersebut habis atau persediaan menipis berdasarkan jumlah barang yang tersedia pada bulan-bulan sebelumnya.

Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan APA didalam melaksanakan perencanaan pemesanan barang, yaitu memilih Pedagang Besar Farmasi (PBF). Pertimbangan tersebut meliputi PBF manakah yang memberikan keuntungan dari segala segi, misalnya harga yang ditawarkan sesuai (murah), ketepatan waktu pengiriman, diskon, bonus yang diberikan sesuai (besar), jangka waktu kredit yang cukup, dan kemudahan dalam pengembalian obat-obat yang hampir kadaluarsa.

Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, maka dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu memperhatikan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2004) :

a. Pola penyakit, maksudnya adalah perlu memperhatikan dan mencermati pola penyakit yang timbul di sekitar masyarakat sehingga apotek dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tentang obat-obat untuk penyakit tersebut.

b. Tingkat perekonomian masyarakat di sekitar apotek juga akan mempengaruhi daya beli terhadap obat-obat.

c. Budaya masyarakat, dimana pandangan masyarakat terhadap obat, pabrik obat, bahkan iklan obat dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan obat-obat khususnya obat-obat tanpa resep. Demikian juga dengan budaya masyarakat

obat yang sering diresepkan oleh dokter tersebut.

2.1.2. Pengadaan

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang PBF, pabrik dapat menyalurkan produksinya langsung ke PBF, apotek, toko obat, apotek rumah sakit, dan sarana kesehatan lain (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Pengadaan barang di apotek meliputi pemesanan dan pembelian. Pembelian barang dapat dilakukan secara langsung ke produsen atau melalui PBF. Proses pengadaan barang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:

a. Tahap persiapan, dilakukan dengan cara mengumpulkan data barang-barang yang akan dipesan dari buku defekta, termasuk obat baru yang ditawarkan pemasok.

b. Pemesanan dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan (SP), minimal dibuat 2 lembar (untuk pemasok dan arsip apotek) dan ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK.

Pengadaan atau pembelian barang di apotek dapat dilakukan dengan cara antara lain (Anief, 2001):

a. Pembelian dalam jumlah terbatas yaitu pembelian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam waktu pendek, misalnya satu minggu. Pembelian ini dilakukan bila modal terbatas dan PBF berada dalam jarak tidak jauh dari apotek, misalnya satu kota dan selalu siap untuk segera mengirimkan obat yang dipesan.

b. Pembelian berencana dimana metode ini erat hubungannya dengan pengendalian persediaan barang. Pengawasan stok obat atau barang dagangan penting sekali untuk mengetahui obat yang fast moving atau slow moving, hal ini dapat dilihat pada kartu stok. Selanjutnya dilakukan perencanaan pembelian sesuai dengan kebutuhan.

c. Pembelian secara spekulasi merupakan pembelian dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan, dengan harapan akan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau karena ada diskon atau bonus. Pola ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu jika diperkirakan akan terjadi peningkatan

permintaan. Apabila spekulasinya benar akan mendapat keuntungan besar, tetapi cara ini mengandung risiko obat akan rusak atau kadaluarsa.

2. 2. Pengertian Barang Persediaan (Indrajid & Djokopranoto, 2003)

Inventory atau barang persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan

yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi suatu obat atau penyediaan dalam perbekalan pengobatan. Persediaan dapat berupa bahan obat, sediaan obat jadi, atau alat-alat kesehatan. Persediaan ini harus dikelola dengan baik untuk menjaga tingkat persediaan pada tingkat yang optimal sehingga diperoleh penghematan-penghematan untuk persediaan tersebut. Dengan demikian perlu dilakukan perhitungan persediaan, sehingga dapat menunjukan tingkat persediaan yang sesuai dengan kebutuhan.

Pengendalian persediaan sangat penting bagi apotek. Persediaan obat merupakan harta yang paling besar dari sebuah apotek, maka pengendalian persediaan obat yang tepat memiliki pengaruh yang kuat dan langsung terhadap perolehan kembali atas investasi apotek. Pengendalian yang efektif memerlukan investasi yang lebih kecil. Untuk suatu laba tertentu, pengendalian stok obat diarahkan pada perolehan laba yang lebih besar atas investasi.

Manajemen persediaan (inventory control) atau disebut juga inventory

management atau pengendalian tingkat persediaan adalah kegiatan yang

berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan barang. Hal ini dilakukan agar di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan di lain pihak investasi persediaan barang dapat ditekan secara optimal. Pengendalian tingkat persediaan bertujuan mencapai efisiensi dan efektivitas optimal dalam penyediaan barang.

Dalam pengertian di atas, usaha yang perlu dilakukan dalam manajemen persediaan secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut:

a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan operasi. b. Membatasi nilai seluruh investasi.

c. Membatasi jenis dan jumlah barang.

2. 3. Prinsip Manajemen Persediaan

Dalam persediaan barang, ada prinsip pengelolaan yang dianut, yaitu penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan dalam persediaan harus sedemikian rupa sehingga produksi dan operasi perusahaan tidak terganggu, tetapi di lain pihak sekaligus harus dijaga agar biaya investasi yang timbul dari penyediaan barang tersebut seminimal mungkin (Indrajid & Djokopranoto, 2003).

Pengendalian merupakan salah satu fungsi manajemen yang berkaitan dengan perumusan kesuksesan untuk performa organisatoris di masa depan dan pengaturan sumber daya yang diperlukan guna pencapaian kesuksesan yang diinginkan. Pengendalian persediaan perlu dilakukan secara optimal di setiap sarana kesehatan termasuk apotek. Hal ini menjadi penting karena pengendalian persediaan yang baik juga akan menunjang upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal.

Beberapa fungsi dari pengendalian persediaan diantaranya (Quick, 1997) : a. Menghilangkan risiko akibat keterlambatan pengiriman obat atau bahan baku

obat yang diperlukan untuk memenuhi pelayanan kesehatan.

b. Menghilangkan risiko terhadap kemungkinan kenaikan harga atau inflasi. c. Memberikan kontribusi optimum kepada apotek dalam rangka memberikan

pelayanan yang terbaik bagi pasien atau konsumen. d. Mengurangi biaya pengadaan.

e. Menghilangkan risiko kekosongan persediaan ketika terjadi pengembalian barang yang dipesan karena mutu barang yang kurang baik atau jenis produk yang dipesan tidak sesuai.

Fungsi-fungsi tersebut akan tercapai bilamana pengendalian persediaan dapat diupayakan secara efektif dengan mengoptimalkan dua tujuan, yaitu (Seto, Nita, & Triana, 2004) :

a. Memperkecil total investasi pada persediaan obat.

b. Menjual berbagai produk yang benar untuk memenuhi permintaan konsumen. Pada pengendalian persediaan terdapat dua jenis keseimbangan, yaitu keseimbangan total dan keseimbangan komposisi. Keseimbangan total merupakan keseimbangan antara seluruh persediaan pembelian dengan seluruh penjualan secara proporsional. Sedangkan keseimbangan komposisi adalah keseimbangan

antara kelompok produk yang memiliki sifat perputaran cepat dengan produk yang memiliki sifat perputaran lambat. Sistem pengadaan barang telah dilakukan dengan baik jika pembelian barang memenuhi ketentuan, seperti kuantitas produk sesuai dengan kebutuhan, mampu melayani jenis produk yang diperlukan pasien, dan jumlah pembelian untuk keperluan rutin sebulan menunjukkan keseimbangan dengan penjualan secara proporsional

Dalam melakukan pengendalian persediaan, perlu diperhatikan parameter-parameter yang saling berkaitan antara lain (Quick, 1997) :

a. Konsumsi Rata-Rata

Permintaan (demand) sering juga disebut dengan konsumsi rata-rata. Permintaan yang diharapkan pada pemesanan berikutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan. Walaupun banyaknya permintaan dapat diprediksi, kemungkinan adanya kehabisan atau kekosongan barang dapat terjadi apabila salah memperkirakan waktu tunggu (lead

time) barang tersebut.

b. Waktu Tunggu (lead time)

Waktu tunggu merupakan waktu yang diperlukan mulai dari pemesanan sampai dengan barang yang dipesan datang/diterima. Lead time ini berbeda-beda untuk setiap pemasok. Lead time seringkali menjadi parameter yang tidak pasti, karena pada dasarnya faktor keterlambatan adalah sesuatu yang tidak bisa diduga. Berikut ini adalah rumus menghitung lead time:

Keterangan:

Dde = waktu tunggu yang sebenarnya. DDp = waktu tunggu yang dijanjikan supplier OD = rata-rata keterlambatan.

% OD = % keterlambatan.

c. Stok Pengaman (Safety Stock)

Stok pengaman merupakan persediaan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu barang datang, untuk mengantisipasi keterlambatan

karena perubahan pada permintaan, misalnya karena adanya permintaan barang yang meningkat secara tiba-tiba (karena adanya wabah penyakit). Berikut ini adalah rumus menghitung safety stock :

Keterangan:

SS = Stok pengaman LT = Waktu tunggu CA = Konsumsi rata-rata

d. Persediaan Maksimum.

Jumlah persediaan terbesar yang boleh disediakan disebut dengan persediaan maksimum. Jika kita telah mencapai nilai persediaan maksimum, kita tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian. Berikut ini adalah rumus menghitung persediaan maksimum:

Keterangan:

PP = Preocurement period (perputaran persediaan)

e. Persediaan Minimum

Jumlah persediaan terendah yang masih tersedia disebut juga persediaan minimum. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum, pemesanan sebaiknya segera dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika barang yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong. Berikut ini adalah rumus menghitung persediaan minimum:

Keterangan :

Smin = Persediaan minimum

SS = LA × CA

Smax= Smin+ (PP × CA)

Smin= (LT × CA) + SS

(2.2)

(2.3)

f. Perputaran Persediaan

Perhitungan perputaran persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ା୔ି ୗ ୗୖ = ୖୟ୲ୟି୰ୟ୲ୟ୮ୣ୰ୱୣୢ୧ୟୟ୬୔ୣ୬୨୳ୟ୪ୟ୬ Keterangan: So = Persediaan awal P = Jumlah pembelian Sn = Persediaan akhir SR = Rata-rata persediaan

g. Titik Pemesanan (Reorder Point / ROP)

Titik pemesanan merupakan suatu titik di mana harus diadakan pemesanan kembali sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan adalah tepat waktu, dimana persediaan di atas persediaan pengaman sama dengan nol. Pada keadaan khusus (cito), dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antara apotek dan pemasok.

Berikut ini adalah rumus menghitung reorder point :

Keterangan:

ROP = titik pemesanan SS = stok pengaman LT = waktu tunggu

Berbagai parameter pengendalian persediaan tersebut di atas saling berkesinambungan satu sama lain untuk dapat menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan. Jika produk berada dalan kuantitas persediaan rata-rata (average inventory), kebutuhan permintaan produk oleh konsumen akan terpenuhi. Idealnya, kuantitas persediaan rata-rata dari suatu produk di apotek perlu

ROP = SS + LT

(2.5)

Stock / SS). Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan berada

level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali (

terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu tunggu (lead time) kedatangan obat agar tidak

ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum

[Sumber : Quick, 1997]

Gambar 2.1. Grafik

2. 4. Pedagang Besar Farmasi (PBF) 2.4.1. Definisi

Pedagang Besar Farmasi 1148/MENKES/PER/VI/2011 t

perusahaan yang berbentuk badan hukum memiliki izin untuk

penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang

Republik Indonesia, 2011).

Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan berada level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali (

terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu ) kedatangan obat agar tidak terjadi kekosongan persediaan obat ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum

. Grafik yang Menunjukkan Persediaan Obat di A

Pedagang Besar Farmasi (PBF)

Pedagang Besar Farmasi menurut keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF)

perusahaan yang berbentuk badan hukum memiliki izin untuk

penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan berada dalam level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali (reorder point) terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu terjadi kekosongan persediaan obat ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum SS+Qo.

aan Obat di Apotek

keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-131)

Dokumen terkait