• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 74-144)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

5.2 Saran

a. Sebaiknya dibuat SOP pendelegasian tugas ke tenaga teknis kefarmasian lain apabila APJ tidak dapat melaksanakan tugasnya dalam waktu yang ditentukan. b. Perlu dilakukannya inspeksi diri secara berkala dan berkesinambungan di

ketiga KFTD cabang untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing lini kegiatan agar mampu menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan di masa yang akan datang serta mempertahankan kinerja baik yang telah ada. c. Sebaiknya ruang transito out dan transito in di KFTD Jakarta-1 dan KFTD

Bogor dipisah dan tidak dijadikan tempat penyimpanan barang untuk mencegah kesalahan saat pengiriman barang, penerimaan barang dan kehilangan barang.

d. Sebaiknya SP asli pengadaan narkotika-psikotropika di ketiga KFTD cabang segera dikirimkan ke UBL setelah dibuat oleh APJ.

e. Sebaiknya pemeriksaan pada penerimaan barang didokumentasikan secara rutin oleh ketiga KFTD cabang.

f. Sebaiknya alat pengukur suhu ruangan di gudang ketiga KFTD cabang Bogor dipelihara, dikalibrasi, dimonitoring dan didokumentasikan secara rutin oleh petugas logistik.

g. Sebaiknya dibuat jadwal pembersihan gudang yang rutin di ketiga KFTD cabang.

h. Sebaiknya barang kembalian, rusak, dan kedaluarsa yang ada di KFTD cabang Serpong dan KFTD cabang Bogor disimpan di ruang terpisah dan terkunci. i. Sebaiknya pengadaan AC untuk gudang reguler di ketiga KFTD cabang segera

direalisasikan demi menjaga mutu sediaan farmasi tetap terjaga.

j. Sebaiknya penjualan narkotika-psikotropika di KFTD cabang Jakarta-1 dan KFTD cabang Serpong hanya melayani pesanan dengan SP asli.

k. Sebaiknya pencatatan pengambilan barang ke dalam kartu stok untuk barang reguler dilakukan dengan lengkap oleh ketiga KFTD cabang (tanggal, nomor faktur, nama pelanggan, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, jumlah barang yang diambil, dan sisa stok) sesuai SOP.

l. Sebaiknya motor penghantar barang di KFTD cabang Jakarta-1 dan KFTD cabang Serpong dilengkapi dengan box demi menjaga mutu sediaan dan keselamatan penghantar.

m. Sebaiknya dilakukan pelatihan kepada petugas di ketiga KFTD cabang mengenai penggunaan APAR, pengelolaan CCP, pengelolaan narkotika-psikotropika, CDOB dan perundang-undangan yang terkait.

62 Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Peraturan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik. Jakarta.

Kimia Farma. (2012). Laporan Tahunan Annual Report Tahun 2012. Jakarta: Kimia Farma.

Kementerian Kesehatan. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan No. 1148 Tahun

2011 tentang Pedagang Besar Farmasi. Jakarta.

Kementerian Keuangan. (2012). Peraturan Menteri Keuangan Nomor

162/PMK.011/2012. Jakarta.

Kementrian Pekerjaan Umum. (2013). Pembukuan Unit Pengelola Keuangan. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Nurjannah. (2012). Analisis Tingkat Perputaran Piutang Pada PT Adira Finance

Makassar. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1983). Undang-Undang Republik Indonesia No. 7

Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2000). Undang-Undang Republik Indonesia No. 18

Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 35

Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta.

Said, Muhammad Umar. (2013). Manajemen Pedagang Besar Farmasi Praktis. Solo: CV. Ar-Rahman.

Uni

UNIVERSITAS INDONESIA

KEPATUHAN MELAKSANAKAN CARA DISTRIBUSI OBAT

YANG BAIK (CDOB) UNTUK SEDIAAN NARKOTIKA DAN

PSIKOTROPIKA DI PT. KIMIA FARMA TRADING AND

DISTRIBUTION CABANG BOGOR

TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

ENNIE RIBEN SIHITE, S.Farm. 1206329575

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JANUARI 2014

DAFTAR ISI ... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Narkotika dan Psikotropika ... 3 2.1.1 Narkotika ... 3 2.1.2 Psikotropika ... 4 2.2 PT. Kimia Farma Tranding and Distribution (KFTD) Cabang Bogor 5 2.2.1 Gambaran Umum ... 5 2.2.2 Struktur Organisasi ... 5 2.3 Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) ... 6 2.3.1 Definisi ... 6 2.3.2 Tujuan ... 6 2.4 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika menurut Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) ... 6 2.4.1 Prinsip ... 6 2.4.2 Umum ... 6 2.4.3 Penanggung Jawab ... 6 2.4.4 Bangunan dan Peralatan ... 7 2.4.5 Operasional ... 7 2.4.5.1 Kualifikasi Pemasok ... 7 2.4.5.2 Kualifikasi Pelanggan ... 7 2.4.5.3 Pengadaan ... 8 2.4.5.4 Penerimaan ... 8 2.4.5.5 Penyimpanan ... 9 2.4.5.6 Penyaluran ... 10 2.4.5.7 Ekspor dan Impor ... 12 2.4.5.8 Pemusnahan ... 12 2.4.6 Narkotika dan Psikotropika Kembalian ... 13 2.4.7 Dokumentasi ... 13 2.5 Pelaporan Narkotika dan Psikotropika ... 14 2.5.1 Narkotika ... 14 2.5.2 Psikotropika ... 15

BAB 3 PEMBAHASAN ... 16 BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN ... 23

4.1 Kesimpulan... 23 4.2 Saran ... 24

DAFTAR ACUAN ... 25 LAMPIRAN ... 26

Lampiran 1. Struktur Organisasi ... 27 Lampiran 2. Produk Narkotika di KFTD cabang Bogor ... 28 Lampiran 3. Produk Psikotropika di KFTD cabang Bogor ... 29 Lampiran 4. Surat Pesanan Narkotika ke KFTD Pusat ... 30 Lampiran 5. Surat Pesanan Psikotropika ke KFTD Pusat ... 31 Lampiran 6. Gudang Narkotika dan Psikotropika ... 32 Lampiran 7. Lemari Besi Penyimpanan Narkotika ... 33 Lampiran 8. Langit-langit Ruang Narkotika ... 34 Lampiran 9. Tempat Penyimpanan Psikotropika ... 35 Lampiran 10. Air Conditioner (AC) di ruang Narkotika dan Psikotropika ... 36 Lampiran 11. Surat Pesanan Narkotika dari Pelanggan ... 37 Lampiran 12. Surat Pesanan Psikotropika dari Pelanggan ... 38 Lampiran 13. Faktur Penjualan Narkotika ... 39 Lampiran 14. Faktur Penjualan Psikotropika ... 40 Lampiran 15. Kartu Stok Narkotika ... 41 Lampiran 16. Kartu Stok Psikotropika ... 42 Lampiran 17. Pengemasan Narkotika ... 43 Lampiran 18. Pengemasan Psikotropika ... 44 Lampiran 19. Laporan Bulanan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor ... 45

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai salah satu modal pembangunan nasional perlu dipelihara dan ditingkatkan secara terus-menerus, termasuk derajat kesehatannya. Salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan, salah satunya dengan mengusahakan ketersediaan narkotika dan psikotropika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat serta melakukan pencegahan dan pemberantasan bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan psikotropika (Presiden Republik Indonesia, 2009).

Narkotika dan psikotropika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan kehidupan manusia dan kehidupan bangsa sehingga pada gilirannya dapat mengancam ketahanan nasional apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama. Sehubungan dengan pertimbangan tersebut di atas, untuk menghadapi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika yang berkecenderungan terus meningkat, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain mengesahkan undang-undang tersebut, untuk mempermudah pengawasan maka Menteri Kesehatan membuat keputusan dengan memberikan izin importasi narkotika kepada satu Perusahaan Milik Negara yaitu PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 199/Menkes/SK/III/1996 tentang Penunjukan pedagang besar farmasi PT.

(Persero) Kimia Farma Depot Sentral sebagai Importir Tunggal Narkotik di Indonesia.

Sebagai importir tunggal narkotika PT. Kimia Farma Tbk., harus dapat menjamin keabsahan mutu produk narkotika ataupun psikotropika yang sampai ke konsumen adalah produk yang aman, efektif dan dapat digunakan sesuai indikasinya; dan menjamin penyimpanan obat aman dan sesuai kondisi yang dipersyaratkan, termasuk pada sistem transportasinya. Salah satu usaha perusahaan ini adalah dengan melakukan penyaluran narkotika dan psikotropika hanya melalui PT. Kimia Farma Tranding and Distibution (KFTD). KFTD merupakan anak perusahaan dari PT. Kimia Farma Tbk., yang bergerak dalam bidang distribusi atau yang biasa disebut pedagang besar farmasi (PBF). Menurut Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik indonesia Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 tahun 2012, setiap PBF atau PBF cabang wajib memenuhi ketentuan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).

Oleh karena itu, mahasiswa Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Indonesia diberikan tugas khusus mengenai Kepatuhan dalam Melaksanakan Cara Distribusi Obat yang Baik untuk sediaan narkotika dan psikotropika di PT. Kimia Farma Trading and Distribution cabang Bogor.

1.2 Tujuan

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT. Kimia Farma Tranding and Distribution (KFTD) cabang Bogor, bertujuan agar para calon Apoteker dapat mengamati sejauh mana kepatuhan KFTD cabang Bogor menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dalam untuk sediaan narkotika dan psikotropika.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Narkotika dan Psikotropika

2.1.1 Narkotika

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

a. Narkotika golongan I

Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya: opium, candu, kokaina, ganja, MDMA, meskalina, heroina.

b. Narkotika golongan II

Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya: fentanil, metadona, morfina.

c. Narkotika golongan III

Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan ini adalah kodein.

Pengaturan narkotika dalam Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 meliputi segala bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang berhubungan dengan narkotika dan prekursor narkotika. Peraturan ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk: a. Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan

b. Mencegah, melindungi, dan menyelamatkan Bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika;

c. Memberantas peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika; dan

d. Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalah guna dan pecandu narkotika.

2.1.2 Psikotropika

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika yang digolongkan menjadi:

a. Psikotropika golongan I

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh dari obat psikotropika golongan I adalah ecstasy (MDMA), psilosin, LSD (lisergik deitilamid), dan meskalin (kaktus amerika).

b. Psikotropika golongan II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh obat golongan psikotropika golongan II adalah amfetamin, metamfetamina, sekobarbital, metakualon, dan metilfenidat.

c. Psikotropika golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh obat psikotropika golongan III adalah amorbarbital, flunitrazepam, dan kastina.

d. Psikotropika golongan IV

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan

mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh obat psikotropika golongan IV adalah barbital, bromasepam, diazepam, estazolam, fenorbarbital, klobazam, dan klorazepam.

2.2 PT. Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD) Cabang Bogor

2.2.1 Gambaran Umum

PT. Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD) cabang Bogor merupakan salah satu cabang kelas 2 dari PT. Kimia Farma Trading and Distribution, yang terletak di di Jl. Tentara Pelajar No. 2 Bogor. Bangunan yang digunakan KFTD cabang Bogor untuk melaksanakan kegiatan operasional bukan milik pribadi (sewa) dari KFTD Pusat, oleh sebab itu KFTD cabang Bogor memiliki kontrak tertulis sehingga pengelolaan bangunan sepenuhnya tanggung jawab KFTD cabang Bogor. KFTD cabang Bogor melakukan distribusi sediaan farmasi ke berbagai tempat seperti rumah sakit, apotek, toko obat, dan toko kosmetik yang berada di wilayah Kota Bogor, Cileungsi, Cibubur dan Depok. Sediaan Farmasi yang didistribusikan oleh KFTD Cabang Bogor meliputi obat reguler (obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras), obat tradisional, kosmetika, obat narkotika dan psikotropika, serta beberapa alat kesehatan habis pakai seperti kasa hidrofil.

2.2.2 Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT. Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD) cabang Bogor dapat dilihat pada Lampiran 1. PT. Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD) cabang Bogor dipimpin oleh Branch Manager yang berpengalaman. Kepala cabang membawahi 4 supervisor, yaitu :

a. Supervisor Tata Usaha dan Keuangan b. Supervisor Pembelian

c. Supervisor Penjualan d. Supervisor Logistik

2.3 Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)

2.3.1 Definisi

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik indonesia Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 tahun 2012, Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat CDOB adalah cara distribusi/ penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk memastikan mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya.

2.3.2 Tujuan

CDOB dimaksudkan untuk memastikan bahwa keamanan, manfaat dan mutu produk obat di sepanjang jalur distribusi tetap dipertahankan sesuai dengan karakteristik pada saat obat dimaksud disetujui untuk beredar, yaitu sejak dari industri farmasi hingga fasilitas pelayanan kefarmasian meliputi apotek, rumah sakit, klinik, pusat kesehatan masyarakat dan toko obat (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012).

2.4 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika menurut Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)

2.4.1 Prinsip

Cara distribusi narkotika dan psikotropika harus dilakukan dalam rangka pemenuhan CDOB termasuk untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan/atau kehilangan narkotika dan psikotropika dari jalur distribusi resmi

2.4.2 Umum

Distribusi narkotika dan psikotropika wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan CDOB.

2.4.3 Penanggung jawab

Sesuai dengan peraturan perundang undangan penanggung jawab narkotika dan psikotropika di pedagang besar farmasi (PBF) adalah seorang Apoteker.

2.4.4 Bangunan dan Peralatan

Persyaratan bangunan dan peralatan yang digunakan untuk mengelola narkotika wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Gudang atau lemari penyimpanan narkotika dan psikotropika harus aman dan terkunci. Kunci lemari atau gudang penyimpanan narkotika dan psikotropika dipegang oleh penanggung jawab fasilitas distribusi atau personil lain yang dikuasakan sesuai dengan uraian pekerjaan.

Kapasitas lemari atau gudang khusus penyimpanan narkotika atau psikotropika harus sesuai dengan yang dipersyaratkan. Gudang khusus penyimpanan narkotika dan psikotropika tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin penanggung jawab fasilitas distribusi

2.4.5 Operasional

2.4.5.1 Kualifikasi Pemasok

Pemasok yang menyalurkan narkotika wajib memiliki ijin khusus sebagai fasilitas distribusi atau industri farmasi yang memproduksi narkotika. Izin khusus menyalurkan atau memproduksi narkotika diterbitkan oleh Menteri Kesehatan. Menteri Kesehatan memberikan izin importasi narkotika kepada satu Perusahaan Milik Negara yaitu PT. Kimia Farma (Persero) Tbk., berdasarkan Kepmenkes No. 199/Menkes/SK/III/1996 tentang Penunjukan Pedagang Besar Farmasi PT (Persero) Kimia Farma Depot Sentral sebagai Importir Tunggal Narkotika di Indonesia.

2.4.5.2 Kualifikasi Pelanggan

Fasilitas distribusi harus memastikan penyaluran narkotika ke fasilitas distribusi lain yang memiliki ijin khusus penyalur narkotika, instalasi sediaan farmasi, apotek dan rumah sakit yang memiliki kewenangan menyalurkan atau menyerahkan narkotika sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Fasilitas distribusi harus memastikan penyaluran psikotropika ke fasilitas distribusi lain, instalasi sediaan farmasi, apotek dan rumah sakit yang memiliki kewenangan menyerahkan psikotropika sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2.4.5.3 Pengadaan

Perencanaan kebutuhan tahunan harus dibuat dalam pengadaan narkotika atau psikotropika. Pengadaan narkotika atau psikotropika harus berdasarkan surat pesanan dengan format khusus sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Surat Pesanan wajib:

a. Asli dan dibuat paling sedikit dalam rangkap 2 (dua) serta tidak dibenarkan dalam bentuk faksimili dan fotokopi.

b. Ditandatangani oleh penanggung jawab fasilitas distribusi dan dilengkapi dengan nama jelas dan nomor Surat Izin Kerja (SIK)/ Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).

c. Mencantumkan nama dan alamat lengkap, nomor telepon/ faksimili, nomor izin dan stempel fasilitas distribusi.

d. Mencantumkan nama industri farmasi atau fasilitas distribusi pemasok beserta alamat lengkap.

e. Mencantumkan nama narkotika atau psikotropika, jenis dan kekuatan sediaan, isi kemasan dan jumlah dalam bentuk angka dan huruf.

f. Diberi nomor urut dan tanggal dengan penulisan yang jelas. g. Dibuat terpisah dari surat pesanan obat lain.

2.4.5.4 Penerimaan

Pada saat penerimaan harus dilakukan pemeriksaan terhadap:

a. Kebenaran nama, jenis, nomor bets, tanggal kedaluwarsa, jumlah dan kemasan harus sesuai dengan surat pengantar/ pengiriman barang dan/ atau faktur penjualan.

b. Kondisi kontainer pengiriman dan/ atau kemasan termasuk segel, label dan/ atau penandaan dalam kondisi baik.

c. Kebenaran nama, jenis, jumlah dan kemasan dalam surat pengantar/ pengiriman barang dan/ atau faktur penjualan harus sesuai dengan arsip surat pesanan.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan telah sesuai, penanggung jawab fasilitas distribusi harus menandatangani surat pengantar/ pengiriman barang dan/atau faktur penjualan dan dibubuhi stempel fasilitas distribusi. Jika

setelah dilakukan pemeriksaan terdapat item obat yang tidak sesuai dengan surat pesanan atau kondisi kemasan tidak baik, maka obat tersebut harus dikembalikan dengan disertai bukti retur dan surat pesanan asli, dan segera meminta bukti terima pengembalian dari pemasok.

Jika terdapat ketidaksesuaian nomor bets, tanggal kedaluwarsa dan jumlah antara fisik dengan dokumen pengadaan harus dibuat dokumentasi untuk mengklarifikasi ketidak sesuaian dimaksud ke pihak pemasok.

2.4.5.5 Penyimpanan a. Narkotika

Penyimpanan narkotika wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 28/Menkes/Per/I/1978 Pedagang besar farmasi harus mempunyai gudang khusus untuk menyimpan narkotika dan dikunci dengan baik. Gudang yang dimaksudkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1) Dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yang kuat dengan merk yang berlainan.

2) Langit-langit dan jendela dilengkapi dengan jeruji besi.

3) Dilengkapi dengan lemari besi yang tidak kurang dari 150 kilogram dan mempunyai kunci yang kuat.

4) Gudang dan lemari tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan.

5) Gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa ijin penanggung jawab. 6) Anak kunci gudang dan anak kunci lemari besi dipegang oleh penanggung

jawab atau pegawai lain yang dikuasakan

b. Psikotropika

Psikotropika harus disimpan dalam lemari atau gudang terkunci serta tidak boleh digunakan menyimpan barang selain psikotropika untuk menjamin keamanan.

2.4.5.6 Penyaluran

Dalam penyaluran harus memperhatikan tahap-tahap penerimaan pesanan, pengemasan dan pengiriman.

a. Penerimaan pesanan

1) Pada saat penerimaan pesanan, penanggung jawab fasilitas distribusi wajib memeriksa hal-hal sebagai berikut:

a) surat pesanan menggunakan format khusus yang telah ditentukan dan terpisah dari produk lain

b) keaslian surat pesanan, tidak dalam bentuk faksimile, fotokopi maupun email

c) memeriksa kebenaran surat pesanan, meliputi: nama dan alamat penanggung jawab sarana pemesan; nama narkotika atau psikotropika, jenis dan kekuatan sediaan, isi kemasan dan jumlah dalam bentuk angka dan huruf; nomor surat pesanan; nama, alamat dan izin sarana pemesan.

d) keabsahan surat pesanan, meliputi: tanda tangan dan nama jelas penanggung jawab, nomor Surat Izin Kerja (SIK) penanggung jawab, stempel fasilitas distribusi atau sarana pelayanan kefarmasian

2) Penanggung jawab fasilitas distribusi harus memperhatikan kewajaran jumlah dan frekuensi pesanan.

3) Pesanan yang ditolak atau yang tidak dapat dilayani harus segera diberitahukan kepada pemesan dengan menerbitkan Surat Penolakan Pesanan paling lama 7 (tujuh) hari kerja.

4) Surat pesanan narkotika atau psikotropika yang dapat dilayani, disahkan oleh penanggung jawab fasilitas distribusi dengan membubuhkan tanda tangan atau paraf atau sistem lain yang dapat dipertanggungjawabkan. b. Pengemasan

1) Pengemasan untuk tujuan pengiriman narkotika atau psikotropika harus dilaksanakan setelah menerima surat pesanan

2) Setiap pengeluaran narkotika atau psikotropika untuk dilakukan pengemasan harus dicatat dalam kartu stok dan disahkan dengan paraf Kepala Gudang

3) Sebelum dilakukan pengemasan narkotika atau psikotropika yang akan dikirim harus dilakukan pemeriksaan terhadap:

a) kebenaran nama narkotika atau psikotropika, jenis dan kekuatan sediaan, isi kemasan dan jumlah

b) nomor bets, tanggal kedaluwarsa dan nama industri farmasi

c) kondisi kemasan termasuk penandaan dan segel dari narkotika atau psikotropika

d) kelengkapan dan keabsahan dokumen serta kebenaran tujuan pengiriman.

c. Pengiriman

1) Setiap pengiriman narkotika atau psikotropika harus disertai dan dilengkapi dengan dokumen pengiriman narkotika atau psikotropika yang sah, antara lain surat jalan dan/ atau surat pengantar/ pengiriman barang dan/ atau faktur penjualan yang dikeluarkan oleh fasilitas distribusi yang ditandatangani oleh kepala gudang dan penanggung jawab fasilitas distribusi.

2) Dokumen pengiriman harus terpisah dari dokumen lain.

3) Fasilitas distribusi wajib bertanggung jawab terhadap pengiriman narkotika atau psikotropika sampai diterima di tempat pemesan oleh penanggung jawab sarana atau penanggung jawab produksi, dibuktikan dengan telah ditandatanganinya surat pengantar/ pengiriman barang (nama, nomor SIK/ SIPA, tanda tangan penanggung jawab, tanggal penerimaan, dan stempel sarana)

4) Pengiriman narkotika atau psikotropika wajib sesuai dengan alamat yang

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 74-144)

Dokumen terkait