BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Perlu ditingkatkan kinerja dan komunikasi antar bagian maupun sub bagian yang ada agar tercipta lingkungan kerja yang kondusif dan pengembangan obat yang dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2001). Keputusan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Nomor: 02001/SK/KBPOM, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Jakarta.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2011). Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.12.11.10217 Tahun 2011 tentang Obat Wajib Uji Ekivalensi.
Jakarta.
Direksi PT Kimia Farma Tbk. (2009). Surat Keputusan Direksi PT Kimia Farma
(Persero) Tbk. No. KEP. 12 A/ DIR/ VI/2009 tentang Struktur Organisasi PT Kimia Farma Persero Tbk. Jakarta: PT Kimia Farma Tbk.
Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia. (2006). Indonesia
2005 – 2025 Buku Putih: Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Kesehatan dan Obat. Jakarta.
PT Kimia Farma Tbk. (2007). Company Profile Kimia Farma, Entering The
Health Care Industri. Jakarta: PT Kimia Farma Tbk.
PT Kimia Farma Tbk. (2011). 40 Tahun Kimia Farma, Melayani Sepenuh Hati. Jakarta: PT Kimia Farma Tbk.
PT Kimia Farma Tbk. (2013). Company Profile PT Kimia Farma Tbk. Jakarta: PT Kimia Farma Tbk.
Lampiran 1. Struktur Organisasi Unit Research and Development PT Kimia Farma
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT KIMIA FARMA TBK
UNIT RESEARCH AND DEVELOPMENT
JL. CIHAMPELAS NO. 5, BANDUNG, JAWA BARAT
PERIODE 3 – 28 MARET 2014
RANCANGAN FORMULASI MORFIN SULFAT DALAM
SEDIAAN SIRUP
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
GEUSAN NARISWARI ERDIANTY PUTERI, S.Farm.
1306343624
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR TABEL ... iv BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Larutan ... 3 2.2 Sirup ... 4 2.3 Komponen dalam sirup ... 6 2.4 Pembuatan sirup ... 8 2.5 Morfin Sulfat ... 9
BAB 3 PENGEMBANGAN FARMASETIKA ... 10
3.1. Komponen Produk Obat ... 10 3.2. Produk Obat ... 15 3.3. Pengembangan Proses Produksi ... 25 3.4. Sistem Penutupan Wadah ... 25 3.5. Kompabilitas ... 26
BAB 4 EVALUASI SEDIAAN ... 27
4.1. Evaluasi Fisik Morfin Sulfat ... 27 4.2. Evaluasi Kimia Morfin Sulfat ... 32 4.3. Evaluasi Biologi Morfin Sulfat ... 34
BAB 5 PEMBAHASAN ... 35 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 38
5.1 Kesimpulan... 38 5.2 Saran ... 38
Gambar 3.1 Struktur kimia morfin sulfat ... 17 Gambar 3.2 Rumus bangun gliserin ... 19 Gambar 3.3 Rumus bangun natrium benzoat ... 21 Gambar 3.4 Rumus bangun asam sitrat monohidrat ... 23 Gambar 3.5 Rumus bangun natrium sitrat ... 24 Gambar 4.1 pH meter ... 28 Gambar 4.2 Alat viscometer Hoopler (viscometer bola jatuh) ... 30
Tabel 2.1 Istilah Kelarutan ... 5 Tabel 3.1 Formulasi sediaan sirup... 16
1.1 Latar Belakang
Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Diperhitungkan 7,4 juta kematian (sekitar 13% dari semua kematian) pada tahun 2004, dari semua kematian akibat kanker, sekitar 70% terjadi pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2009). Kematian akibat kanker di seluruh dunia diproyeksikan akan terus meningkat, dengan perkiraan 12 juta kematian di tahun 2030 (WHO, 2009). Kasus kanker meningkat dari tahun ke tahun menurut data WHO tahun 2009, setiap tahun jumlah penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang. Dua pertiga dari penderita kanker di dunia berada di negara-negara yang sedang berkembang, salah satunya Indonesia (WHO, 2009).
Walaupun kanker memiliki gejala gangguan fisik yang beranekaragam, keluhan nyeri pada kanker sering dianggap yang paling penting. Nyeri merupakan manifestasi klinis yang hampir selalu dijumpai dan yang paling ditakuti pada kanker. Kanker menghasilkan nyeri melalui dua cara, yaitu melalui pertumbuhan dan metastasis sel-sel kanker dan melalui beragam pengobatan yang dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker tersebut (Allard, Maunsell, Labbe & Dorval, 2001). Tiga puluh persen penderita kanker didiagnosa mengalami nyeri dan 90% dari semua pasien kanker dalam stadium lanjut (Swierzewski, 2007).
Nyeri yang tidak teratasi akan mempengaruhi kualitas hidup dan menurunkan kemampuan dalam menjalani terapi untuk kembali sehat ataupun untuk mendapatkan proses kematian yang tenang. Prevalensi nyeri pada kanker diperkirakan sebesar 25% pada pasien yang baru didiagnosis, 33% pada pasien yang sedang menjalani terapi dan 75% pada stadium akhir. Nyeri kronik pada pasien kanker yang sudah menjalani terapi diperkirakan sekitar 33%. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya nyeri kronik pada pasien kanker adalah kemoterapi, radioterapi dan pembedahan (Paice J. A. & Betty F., 2011)
Nyeri sebagai pengalaman yang tak menyenangkan pada penderita kanker, maka dalam penanggulangannya dicapai dengan merubah pengalaman penderita
sendiri. Salah satu penanggulangan nyeri kanker adalah dengan pemberian analgesik, baik golongan opiat maupun non-opiat. Petunjuk Badan Kesehatan Dunia WHO membolehkan kombinasi analgetik opiat dan non-opiat terhadap penderita kanker dengan tingkat nyeri menengah sampai berat.
Opiat merupakan analgetik sentral menghambat transduksi syaraf di medulla spinalis. Sedangkan analgetik non-opiat, terutama analgetik anti-inflamasi non-steroid (AINS), merupakan analgetik perifer menghambat aktivitas cyclooxygnase dalam pembentukan prostaglandin sehingga sistem nosiseptor perifer tidak teraktivasi. Namun analgetik opiate morfin masih tetap sebagai baku emas dalam penanggulangan nyeri kanker. Morfin harus digunakan dengan benar, termasuk pengaturan dosis morfin yang diberikan (hendaknya dibawah kadar sedasi) (Lickiss, 2001).
Morfin adalah senyawa analgetik opiat yang diperoleh dari bunga opium dengan insisi kelopak bijinya setelah daun bunganya dibuang. R1-O pada morfin berupa gugus OH, yang bersifat fenolik, sehingga disebut sebagai OH alkoholik. Gugus OH fenolik bebas mencerminkan adanya analgesik, hipnotik, depresi napas, dan obstipasi. Hal ini yang menyebabkan morfin sebagai analgesik yang kuat dan biasa digunakan dalam terapi analgetik terhadap pasien penderita kanker. Untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien, maka dipilih bentuk sediaan larutan berupa sirup morfin sulfat. Sediaan sirup dipilih karena penerimaan yang baik oleh pasien, dapat segera diabsorbsi karena sudah berada dalam bentuk larutan (tidak mengalami proses disintegrasi dan pelarutan), obat secara homogen akan terdistribusi ke seluruh sediaan, dan mengurangi resiko iritasi pada lambung oleh zat-zat iritan, karena larutan akan segera diencerkan oleh isi lambung. Rancangan formulasi morfin sulfat dalam sirup disusun berdasarkan berbagai aspek untuk menghasilkan sediaan yang baik, memenuhi persyaratan mutu dan dapat diterima oleh pasien.
1.2 Tujuan Penulisan
Menyusun rancangan formulasi yang tepat dalam pembuatan sediaan morfin sulfat dalam sirup.
2.1 Larutan
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki keltelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur (Depkes RI, 1995).
Berdasarkan cara pemberiannya, larutan digolongkan menjadi larutan oral, larutan parenteral, larutan topikal, larutan otik dan larutan optalmik (Depkes RI, 1995):
a. Larutan oral
Larutan oral sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. Larutan oral dapat diformulasikan untuk diberikan langsung secara oral kepada pasien atau dalam bentuk lebih pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum diberikan. Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi, dinyatakan sebagai sirup. Larutan hampir jenuh dalam air dikenal sebagai Sirup atau Sirup
Simpleks. Larutan oral yang mengandung etanol sebgai kosolven dinyatakan
sebagai Elixir. b. Larutan topikal
Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol, untuk penggunaan topikal pada kulit / penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Istilah Lotio adalah larutan atau suspensi yang digunakan secara topikal.
c. Larutan otik
Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk pengunaan dalam telinga luar, misalnya larutan otik Hidrokortison.
d. Larutan optalmik
Larutan optalmik adalah larutan steril, bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan formula sediaan larutan adalah kelarutan zat aktif, kestabilan zat aktif dalam bentuk sediaan, dan dosis takaran. Kelarutan zat aktif dalam pelarut yang digunakan adalah hal yang penting dalam sediaan larutan. Kelarutan zat aktif dalam pelarutnya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sifat fisikokimia senyawa, suhu, pH larutan, bentuk senyawa, dan lain-lain. Beberapa usaha yang dilakukan untuk zat aktif yang sukar larut dalam pelarut yang digunakan dapat dilakukan subtitusi dengan bentuk garamnya, pengecilan ukuran partikel, penggunaan kosolven atau agen peningkat kelarutan, peningkatan suhu, pengocokan / pengadukan kuat, dan lain-lain (Allen, Popovich, Ansel, 2009).
Kriteria atau syarat sediaan larutan yang baik adalah larutannya jernih (tidak berawan), seluruh bahan terlarut dalam pelarut yang digunakan, dan tidak ada presipitat (endapan). Suatu bahan baik zat aktif maupun zat tambahan dalam sediaan larutan harus dapat larut dalam pelarut yang digunakan. Kelarutan adalah jumlah bahan / senyawa tertentu yang dapat terlarut dalam sejumlah pelarut yang ditentukan. Pengertian istilah larut dan tidak larut suatu bahan dalam pelarutnya dapat dilihat pada Tabel 2.1.
2.2 Sirup
Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dengan kadar tinggi. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai Sirup atau Sirup Simpleks. Sirup obat adalah sirup yang mengandung bahan terapeutik atau bahan obat (Depkes RI, 1995). Sirup merupakan sediaan yang sering dipilih untuk pemberian suatu bentuk cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak. Sirup
terutama efektif dalam pemberian obat untuk anak-anak karena rasanya yang enak biasanya menghilangkan keengganan pada sebagian anak untuk meminum obat. Karena ketidakmampuan beberapa pasien anak-anak dan orang tua untuk menelan bentuk sediaan padat, hal ini cukup umum untuk meminta apoteker untuk menyiapkan obat dalam sediaan cair oral untuk obat yang tersedia di apotek hanya sebagai tablet atau kapsul (Allen, Popovich, Ansel, 2009).
Tabel 2.1 Istilah kelarutan
Istilah Kelarutan Jumlah bagian pelarut diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1 Mudah larut 1-10
Larut 10-30
Agak sukar larut 30-100 Sukar larut 100-1000 Sangat sukar larut 1000-10000 Praktis tidak larut Lebih dari 10000
[Sumber: Depkes RI, 1995]
Sebagian besar sirup mengandung komponen-komponen berikut disamping air murni dan semua zat-zat obat yang ada: (1) Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk memberi rasa manis dan kekentalan larutan yang sesuai, (2) Pengawet antimikroba, (3) Perasa, dan (4) Pewarna. Kebanyakan sirup (yang dibuat dalam perdagangan) juga mengandung pelarut-pelarut khusus, kosolven atau pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator (Ansel, 2009).
Keuntungan bentuk sediaan sirup:
a. Lebih mudah ditelan dibanding bentuk padat, sehingga dapat digunakan untuk bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia
b. Segera diabsorpsi karena sudah berada dalam bentuk larutan c. Obat secara homogen terdistribusi ke seluruh sediaan
d. Zat yang mengiritasi mukosa lambung akan berkurang karena larutan akan segera diencerkan oleh cairan lambung.
Kerugian bentuk sediaan sirup:
a. Stabilitas dalam bentuk larutan lebih jelek dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul, terutama jika bahan mudah terhidrolisis.
b. Larutan merupakan media ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme. c. Ketepatan dosis tergantung kepada kemampuan pasien untuk menakar.
d. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika diberikan dalam larutan dibandingkan dalam bentuk padat.
2.3 Komponen dalam sirup (Allen, Popovich, Ansel, 2009)
2.3.1 Pemanis
Sukrosa adalah gula yang paling sering digunakan dalam sirup, meskipun dalam keadaan khusus, dapat diganti secara keseluruhan atau sebagian oleh gula lain atau zat-zat seperti sorbitol, gliserin, dan propilen glikol. Dalam beberapa kasus, semua zat glikogenetik (bahan yang diubah menjadi glukosa dalam tubuh), digantikan oleh zat nonglikogenetik, seperti metilselulosa atau hidroksietilselulosa. Kedua bahan ini tidak dihidrolisis dan diabsorpsi ke dalam aliran darah, dan hasilnya adalah sediaan yang mirip sirup untuk obat yang dimaksudkan untuk digunakan oleh pasien diabetes dan pasien lain yang dietnya harus dikontrol dan dibatasi untuk zat nonglikogenetik. Karakteristik sediaan dengan sukrosa dan agen alternatif berusaha untuk mengahasilkan sirup dengan viskositas yang tepat. Sirup dengan viskositas yang tepat, bersama dengan tambahan pemanis dan perasa, menghasilkan sediaan farmasi yang dapat menutupi rasa bahan aktif yang tidak enak.
Kebanyakan sirup mengandung proporsi sukrosa yang tinggi, biasanya 60% sampai 80%, bukan hanya karena rasa manis yang diinginkan dan kekentalan larutan saja, tetapi juga karena stabilitas sediaan yang pekat berbeda dengan larutan sukrosa yang encer. Larutan gula sukrosa yang encer merupakan media nutrien yang efisien untuk pertumbuhan mikroorganisme, khususnya ragi dan jamur. Di sisi lain, larutan gula terkonsentrasi cukup (pekat) tahan terhadap
pertumbuhan mikroba karena tidak tersedianya air yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Namun, jika sirup benar-benar jenuh dengan sukrosa, dalam penyimpanan di tempat dingin dan sejuk, sebagian sukrosa mungkin mengkristal dari larutan.
Seperti disebutkan sebelumnya, sirup berbasis sukrosa bisa diganti secara keseluruhan atau sebagian oleh agen-agen lain dalam pembuatan sirup mengandung obat. Suatu larutan poliol, seperti sorbitol, atau campuran poliol, seperti sorbitol dan gliserin, umum digunakan.
2.3.2 Pengawet mikroba
Besarnya pengawet yang diperlukan untuk melindungi sirup terhadap pertumbuhan mikroba bervariasi tergantung proporsi air yang tersedia untuk pertumbuhan, sifat dan aktivitas pengawet dari beberapa bahan dalam formulasi (misalnya, beberapa flavoring oil bersifat steril dan memiliki aktivitas antimikroba), dan kemampuan pengawet itu sendiri. Di antara bahan pengawet yang umum digunakan dalam sirup dengan konsentrasi efektif biasanya adalah asam benzoat 0,1% sampai 0.2%, natrium benzoat 0,1% sampai 0.2%, dan berbagai kombinasi metillparaben, propilparaben, dan butilparaben berjumlah sekitar 0,1%.
2.3.3 Perasa (flavoring)
Kebanyakan sirup yang diberi rasa dengan perasa sintetis atau dengan bahan alami, seperti minyak atsiri (misalnya, minyak jeruk), vanili, dan lain-lain, menghasilkan sirup dengan rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair, perasa ini harus larut dalam air. Namun, terkadang sejumlah kecil alkohol ditambahkan ke sirup untuk memastikan perasa larut.
2.3.4 Pewarna
Untuk meningkatkan daya tarik sirup, digunakan zat pewarna yang sesuai dengan perasa yang digunakan (yaitu, hijau dengan mint, cokelat dengan cokelat, dll). Umumnya, pewarna yang larut dalam air, tidak bereaksi dengan komponen
lain dalam sirup, dan warnanya stabil pada kisaran pH dan di bawah intensitas cahaya yang mungkin ditemui selama penyimpanan.
2.4 Pembuatan sirup
Sirup dibuat tergantung pada sifat kimia dan fisika bahan-bahan. Secara umum, cara pembuatan sirup adalah:
2.4.1 Larutan yang dibuat dengan bantuan panas
Sirup dibuat dengan cara ini bila dibutuhkan untuk dibuat sirup secepat mungkin dan bila komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas. Pada cara ini gula umumnya ditambahkan ke air, dan panas digunakan sampai larutan terbentuk. Kemudian komponen-komponen lain yang tidak tahan panas ditambahkan ke sirup panas, campuran dibiarkan dingin, dan volumennya disesuaikan sampai jumlah yang tepat dengan penambahan air.
Dalam keadaan dimana zat-zat tidak tahan panas atau senyawa menguap, seperti misalnya minyak mudah menguap penambah rasa dan alkohol akan ditambahkan, maka biasanya ditambahkan ke sirup sesudah larutan gula terbentuk oleh pemanasan, dan larutan cepat-cepat didinginkan sampai temperatur ruang. Penggunaan panas membantu melarutnya gula dengan cepat juga komponen tertentu lainnya dari sirup. Namun bila sirup dipanaskan sangat berlebihan, maka akan menjadi bewarna kuning coklat karena pembentukan caramel dari sukrosa. Sirup-sirup yang dibuat dengan melarutkan dengan bantuan panas yaitu sirup akasia, sirup coklat, dan sirup pembawa obat.
2.4.2 Larutan yang dibuat tanpa bantuan panas
Untuk menghindari panas yang merangsang invers sukrosa, sirup dapat dibuat tanpa pemanasan dengan pengadukan. Pada skala kecil, sukrosa dari zat formula lain dapat dilarutkan dalam air dengan menempatkan bahan-bahan dalam botol yang kapasitasnya lebih besar daripada volume sirup yang akan dibuat, dengan demikian memungkinkan pengadukan campuran dengan seksama. Proses ini memakan waktu lebih lama daripada yang dibutuhkan panas untuk memudahkan melarutnya sukrosa, tetapi produk mempunyai kestabilan yang maksimal. Tangki besar dari stainless steel atau tangki yang dilapisi gelas
dilengkapi dengan pengadukan mekanik atau pemutar digunakan dalam pembuatan sediaan sirup skala besar.
Kadang-kadang sirup sederhana atau beberapa sirup bukan obat yang lain, lebih baik daripada sukrosa, digunakan sebagai zat pemanis dan pembawa. Dalam keadaan ini, cairan-cairan lain yang larut dalam sirup atau bercampur dengannya mungkin ditambahkan dan dicampur seksama untuk membentuk produk yang merata. Bila bahan padat akan ditambahakan ke sirup, senyawa umumnya dilarutkan pelan-pelan karena sifat kental sirup tidak memungkinkan senyawa padat tersebar cepat ke seluruh sirup untuk pelarut yang tersedia dan juga karena terbatasnya air yang tersedia dalam sirup pekat.
2.5 Morfin Sulfat
Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai trombosis koroner; neoplasma; kolik renal atau kolik empedu; oklusio akut pembuluh daraf perifer, pulmonal atau koroner; perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan; dan nyeri akibat trauma maupun nyeri hebat lainnya seperti kanker (Katzung, B. G., 2002).
Morfin sulfat merupakan bentuk garam dari morfin. Gugus OH fenolik bebas pada morfin mencerminkan adanya efek analgesik, hipnotik, depresi napas dan obstipasi. Gugus OH alkoholik bebas merupakan lawan efek gugusan OH fenolik, adanya kedua gugusan OH bebas disertai efek konvulsif dan efek emetik yang tidak begitu kuat (Katzung, B. G., 2002).
3.1. Komponen Produk Obat
3.1.1 Zat Aktif
Formula mengandung morfin sulfat merupakan analgetik golongan opiat, efek farmakodinamik yang ditimbulkan morfin terhadap susunan saraf pusat menyebabkan reaksi analgesia, sedasi, euforia, deprsei napas dan efek sentral lain. 3.1.1.1. Aspek Farmakologi Zat Aktif
Farmakokinetik (Croom, Curran, Karen, & Caroline, 2004; Charles. L, 2000). - Absorbsi: Morfin terabsorbsi baik dari tempat subkutis dan intramuskular
maupun dari permukaan mukosa hidung dan gastrointestinalis. Analgesik opioid dengan gugusan hidroksil bebas seperti morfin biasanya dimetablosime oleh konjugasi dengan asam glukuronat. Karena jumlah enzim yang bertanggung jawab bagi reaksi ini bervariasi besar dalam individu berbeda, maka efek dosis oral khusus suatu senyawa yang akan dimetabloisme dengan konjugasi sukar diramalkan.
- Distribusi: Ambilan opiat oleh berbagai organ dan jaringan merupakan fungsi faktor fisiologik dan kimia. Walaupun semua analgesik narkotika terikat ke protein plasma dengan berbagai tingkat afinitas setelah absorbsi, senyawa ini cepat meninggalkan darah dan terlokalisasi dalam konsentrasi tertinggi di dalam jaringan parenkimatosa seperti paru, hati, ginjal, dan limpa.
- Metabolisme: Senyawa yang mempunyai gugusan hidroksil bebas mudah dikonjugasi dengan asam glukuronat. orfin cepat dihidrolisis oleh esterase jaringan yang umum.
- Eksresi: Metabolit polar opiat terutama dieksresikan ke dalam urin. Sejumlah kecil obat yang tak berubah bisa juga dieksresikan ke dalam urin.
3.1.1.2. Farmakodinamik dan Mekanisme Kerja (Katzung, B. G., 2002)
Morfin bergabung secara selektif pada banyak tempat yang telah dikenal di seluruh tubuh untuk menghasilkan efek farmakologi. Lokus otak yang terlibat dalam hantaran nyeri dan dalam perubahan reaktivitas rangsangan nosiseptif (nyeri) terlihat sebagai temoat kerja utama opiat efek analgesik morfin sangat
selektif dan tidak disertai oleh hilangnya fungsi sensorik lain seperti rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan, dan pendengaran; bahkan persepsi stimulasi nyeri pun tidak selaluhilang setelah pemberian morfin dosis terapi. Yang terjadi adalah suatu perubahan reaksi terhadap stimulasi nyeri itu, penderita sering mengatakan bahwa nyeri masih ada tetapi tidak menderita lagi.
Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 faktor antara lain adalah morfin meninggikan ambang rangsang nyeri. Faktor ini berperan penting jika morfin diberikan sebelum terjadinya rangsangan atau stimulasi nyeri; morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri dari talamus. Setelah pemberian morfin morfin penderita masih tetap merasakan nyeri, tetapi reaksi terhadap nyeri misalnya rasa khawatir, takut, reaksi menarik diri (withdrawal) tidak timbul; morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.
3.1.1.3.Indikasi (Katzung, B. G., 2002)
Morfin diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-narkotik. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan.
Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai trombosis koroner; neoplasma; kolik renal atau kolik empedu; oklusio akut pembuluh daraf perifer, pulmonal atau koroner; perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan; dan nyeri akibat trauma maupun nyeri hebat lainnya seperti kanker. Sebagai medikasi preanestetik, morfin sebaiknya hanya diberikan pada penderita yang sedang menderita nyeri. Bila tidak ada nyeri dan obat pranastestik hanya dimaksudkan untuk menimbulkan ketenangan atau tidur.
3.1.1.4.Dosis (Katzung, B. G., 2002) Dewasa:
- 10 – 20 mg mg tiap 4 jam Anak-anak:
- 6 – 12 tahun: 5 – 10 mg tiap 4 jam - 1 – 5 tahun : 5 mg tiap 4 jam
3.1.1.5.Efek Samping (Katzung, B. G., 2002)
Efek samping yang paling sering terjadi adalah konstipasi, nausea dan muntah, kemerahan, retensi urin, sedasi, depresi sirkulasi dan respiratori, dan