BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
a. Penyelenggaraan PKPA di Kementerian Kesehatan RI khususnya Direktorat Bina Pelayanan Kefamasian sebaiknya dilaksanakan dalam waktu yang lebih lama, agar calon Apoteker mendapat bekal pengetahuan yang lebih merata dari tiap Sub Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian baik mengenai tugas, fungsi serta implementasinya secara langsung.
b. Perlunya Program kerja yang lebih ditekankan tentang advokasi ke perguruan tinggi mengenai pemerataan tenaga Apoteker. Karena saat ini, semakin banyak media yang menyampaikan berita kurangnya tenaga Apoteker di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas khususnya di daerah terpencil.
34 Universitas Indonesia
Direktorat Bina Pelayanan kefarmasian. (2013). Pengumuman Seminar Prospek Puskesmas dan Fungsi Strategis Apoteker dalam Pelayanan Kesehatan pada Era SJSN. Fakultas farmasi UGM. Yogyakarta. sumber :
http://apoteker.farmasi.ugm.ac.id/berita-159-penggumuman-seminar.html diakses 19 November 2013, pukul 15.00 wib.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2005). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 021/MENKES/SK/I/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Profile Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Modul Penggerakan Penggunaan Obat Rasional. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan. (2013). Majalah Kesehatan Obat Indonesia, Kabar Aiphss, Edisi III. Kementerian Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Presiden RI No. 47 tahun 2009 nomor 144 tentang pembentukan dan organisasi kementerian negara, Jakarta.
PT. Askes. (2010). DPHO : Pelayanan Obat Terbaik Bagi Peserta dalam Info Askes. Jakarta : PT. Media Citra Solusi Komunikasi.
Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sumber : Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010
Un ive rsitas Ind o n es ia 3
Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Un ive rsitas Ind o
Lampiran 3. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian 3 7 Un ive rsitas Ind o n es
AIPHSS :Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
APBN-P : Anggaran pendapatan dan belanja negara-perubahan BPJS : Badan penyelengara jaminan sosial
BPPSDM : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia BUK : Bina Upaya Kesehatan
CBIA : Cara belajar insan aktif
GKIA : Gizi dan Kesehatan ibu dan Anak HTA : Health Technology Assessment ICU : Intensive care unit
ISPA : Infeksi saluran pernapasan atas JKN :Jaminan Kesehatan Nasional KKN : Korupsi, kolusi dan nepotisme
LKPP : Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah NSPK : Norma, standar, prosedur dan kriteria
PBS : Pharmaceutical Benefits Scheme PIO : Pelayanan informasi obat
PKRT : Peralatan kesehatan rumah tangga POR : Penggunaan obat rasional
Universitas Indonesia
PPOR : Penggerakan Penggunaan Obat Rasional
P2PL : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan SDM : Sumber Daya Manusia
SJSN : Sistem jaminan sosial nasional TOT : Training of trainer
TTK : Tenaga teknis kefarmasian PJJ : Pendidikan Jarak Jauh
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
DENGAN METODE DDD
DI GEDUNG TERATAI LANTAI 3 RSUP FATMAWATI
PERIODE BULAN JUNI 2012
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
MALIHATUR ROSYIDAH, S.Farm
1206329796
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
ii
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4 2.1 Definisi Evaluasi Penggunaan Obat ... 4 2.2 Tujuan Evaluasi Penggunaan Obat ... 4 2.3 Klasifikasi Evaluasi Penggunaan Obat ... 5 2.4 Peran Lintas Terkait dalam Pelayanan Farmasi Rumah Sakit ... 8 2.5 Langkah-langkah Evaluasi Penggunaan Obat berdasarkan WHO 12 2.6 Evaluasi Penggunaan Antibiotik ... 17 BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN ... 22 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 22 3.2 Metode Pengkaijan ... 22 BAB 4 PEMBAHASAN ... 23 BAB 5 PENUTUP ... 29 5.1 Kesimpulan ... 29 5.2 Saran ... 29 DAFTAR ACUAN ... 31 LAMPIRAN ... 33
Gambar 4.1 Grafik Persentase Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ... 25 Gambar 4.2 Grafik Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Jenis Kelamin ... 25 Gambar 4.3 Grafik Rute Pemberian Antibiotik ... 26 Gambar 4.4 Grafik Penggunaan Antibiotika Berdasarkan DDD (100 Pasien-hari) 27
iv
Lampiran1. Defined Daily Dose (DDD) of some common medicines ... ..33 Lampiran 2. Data pasien IRNA-A Lantai 3 Teratai RSUP Fatmawati Juni 2012...34 Lampiran 3. Rekapitulasi Jumlah DDD Pemakaian Antibiotika di Gedung Teratai
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk mencapai kesehatan nasional maka perlu dilakukan suatu upaya kesehatan yang merupakan setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Dalam upaya kesehatan tersebut, obat merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009).
Salah satu masalah penting yang dihadapi unit pelayanaan kesehatan adalah rasionalitas penggunaan obat. Pemakaian obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria sesuai dengan indikasi penyakit, tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau, diberikan dengan dosis yang tepat, cara pemberian dengan interval waktu yang tepat serta obat yang diberikan harus efektif dengan mutu yang terjamin dan aman (World Health Organization, 2012). Penggunaan obat rasional membutuhkan pendekatan individual pada pasien. Keberhasilan terapi obat tergantung pada kemampuan dokter dalam mendiagnosis masalah kesehatan utama, memilih dosis yang tepat, bentuk sediaan dan rute administrasi yang tepat. Keberhasilan tersebut didukung dengan kemampuan apoteker dalam menyiapkan obat dengan mengidentifikasi kemungkinan efek samping yang merugikan dan interaksi obat, mencegah terapi duplikasi serta peran petugas kesehatan lainnya seperti perawat dalam memberikan obat kepada pasien (Moore, T, A., et al, 1997).
Universitas Indonesia
Saat ini, penyakit infeksi di Indonesia masih termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak. Peresepan antibiotik yang cukup tinggi dan kurang bijak akan meningkatkan resistensi. Dampak resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatknya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Di rumah sakit, penggunaan antibiotik yang tidak perlu atau berlebihan mendorong berkembangnya resistensi dan multiple resisten terhadap bakteri tertentu (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Salah satu mekanisme untuk menjamin ketepatan peresepan dan penggunaan obat adalah melalui program drug utilization review (DUR) atau evaluasi penggunaan obat (Moore, T, A., et al, 1997).
Evaluasi penggunaan obat harus direncanakan dengan hati-hati oleh staf medis untuk menyertai obat- obat yang paling menimbulkan masalah bila tidak digunakan dengan tepat. Program ini dilakukan dengan membandingkan penggunaan obat dengan standar atau pedoman pengobatan (Moore, T, A., et al, 1997). Untuk peningkatan terapi optimal pada pasien maka segenap personil yang terlibat dalam proses pengobatan harus menjadi bagian dalam mengevaluasi tindakan termasuk pengobatan yang diberikan. Salah satu fasilitas kesehatan yang melakukan evaluasi penggunaan obat yaitu Rumah Sakit. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang mempunyai misi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, juga sebagai tempat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan serta tempat penelitian dan pengembangan kesehatan (Siregar, Charles J.P, 2003). Oleh sebab itu, maka laporan ini disusun sebagai informasi mengenai hal-hal terkait dengan evaluasi penggunaan obat yang dilakukan sebagai bagian dari upaya optimalisasi pelayanan kesehatan di sarana fasilitas kesehatan, salah satunya yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan laporan evaluasi penggunaan obat ini adalah sebagai berikut :
a. Memahami konsep evaluasi penggunaan obat berdasarkan World Health Organization (WHO) dan literatur pendukung lainnya.
b. Memahami proses implementasi dan penyelenggaraan salah satu evaluasi penggunaan obat yaitu secara Defined Daily Dose (DDD) untuk meningkatkan kualitas terapi antibiotik di RSUP Fatmawati.
4 Universitas Indonesia
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Evaluasi Penggunaan Obat
MenurutWorld Health Organization, evaluasi penggunaan obat (Drug Use Evaluation/DUE atau Drug utility review/DUR) adalah suatu sistem yang berkelanjutan, tersistematis berdasarkan kriteria evaluasi penggunaan obat yang akan memastikan ketepatan penggunaan obat. Jika terapi dianggap tidak sesuai, maka diperlukan keterlibatan dari penyedia layanan dan pasien agar terapi obat menjadi optimal. Evaluasi penggunaan obat merupakan suatu proses penilaian terhadap obat atau penyakit spesifik yang meliputi peresepan, penyiapan dan pemberian obat (indikasi, dosis, interaksi obat dan lain-lain).
Evaluasi pengobatan (Medication use evaluation/ MUE) mirip dengan DUE tetapi menekankan pada peningkatan hasil terapi dan kualitas hidup pasien, oleh karena itu, diperlukan keterlibatan dari berbagai tenaga profesional yang terkait dengan terapi obat. Evaluasi pengobatan akan menilai hasil klinis (sembuhnya infeksi, penurunan kadar lipid, dan lain-lain) (World Health Organization, 2003).
Menurut Kementerian Kesehatan RI, Pengkajian penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau pada pasien (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.2 Tujuan Evaluasi Penggunaan Obat
Tujuan dari evaluasi penggunaan obat atau evaluasi pengobatan adalah untuk meningkatkan terapi obat yang optimal dan memastikan bahwa terapi obat memenuhi standar saat perawatan. Tujuan lainnya diantaranya :
a. membuat pedoman (kriteria) untuk penggunaan obat yang tepat b. mengevaluasi efektivitas terapi obat
d. mengendalikan harga obat
e. mencegah masalah-masalah terkait obat, misalnya efek samping obat, kegagalan pengobatan, dosis obat yang salah (penggunaan obat dengan dosis yang berlebihan, penggunaan obat dengan dosis dibawah dosis terapi), dan penggunaan obat-obatan diluar formularium.
f. mengidentifikasi bidang-bidang informasi dan pendidikan lebih lanjut yang diperlukan oleh penyedia layanan kesehatan.
Sebuah sistem evaluasi penggunaan obat dapat dibentuk relatif cepat setelah masalah-masalah penting diidentifikasi (dari kumpulan data, indikator fasilitas kesehatan, penelitian kualitatif, penelitian efek samping obat lainnya, atau bahkan rekomendasi dari anggota komite farmasi dan terapi) (World Health Organization, 2003).
2.3 Klasifikasi Evaluasi Penggunaan Obat
Klasifikasi evaluasi penggunaan obat menurut World Health Organization, Academy of managed Care Pharmacy dan Russia Rational Pharmaceutical Management Project adalah sebagai berikut :
a. Evaluasi Penggunaan Obat Prospektif (Prospective)
Tinjauan Prospektif yaitu mengevaluasi terapi obat yang direncanakan pada pasien sebelum obat tersebut diserahkan. Proses ini memungkinkan apoteker untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah sebelum pasien menerima obat. Apoteker secara rutin melakukan tinjauan prospektif dalam praktek sehari-hari dengan menilai dosis obat dan arah resep saat meninjau informasi pasien untuk kemungkinan terjadinya interaksi obat atau terapi ganda. Keuntungan utamanya adalah potensial dalam pencegahan,dan perlu digunakan bila ketidakpatuhan pada kriteria akan menghasilkan dampakserius. Dampak dari DUR ini bersifat langsung, berbagai masalah penggunaan obat dapat terdeteksi dan dicegah :
1) Penyalahgunaan atau penggunaan klinik yang tidak tepat 2) Dosisyangtidak tepat
3) Bentuk sediaan atau rute administrasi yang tidak tepat 4) Durasi terapi yang tidak tepat
Universitas Indonesia
5) Interaksi obat-obat 6) Duplikasi terapi
7) Kontraindikasi obat-penyakit
8) Kondisi khusus pasien (misalnya umur, jenis kelamin, kehamilan, alergi obat dan efek sampinglain)
9) Biaya Contoh :
Identifikasi interaksi obat-obat merupakan hasil yang umum dilakukannya evaluasi penggunaan obat secara prospective. Misalnya, seorang pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan warfarin untuk mencegah penggumpalan darah kemudian mendapatkan obat baru yang diresepkan oleh dokter spesialis lain untuk mengobati radang sendi (arthritis). Jika kedua obat tersebut digunakan bersamaan, maka pasien akan mengalami pendarahan internal. Setelah meninjau resep tersebut, maka apoteker mencatat interaksi obat yang potensial dan menghubungi dokter penulis resep untuk mengingatkannya mengenai permasalahan ini.
b. Evaluasi Penggunaan Obat Konkuren(Concurrent)
Tinjauan konkuren dilakukan selama pengobatan dan melibatkan pemantauan terapi obat pasien untuk mendorong hasil yang positif. Apoteker diberikan kesempatan untuk mengingatkan dokter penulis resep mengenai masalah potensial dan intervensi dalam bidang-bidang seperti interaksi obat-obat, terapiganda, kelebihan atau kurangnya penggunaan dan dosis yang berlebihan atau tidak cukup. Tinjauan ini memungkinkan terapi bagi pasien untuk diubah jika diperlukan. Evaluasi penggunaan obat konkuren (Concurrent), membandingkan penggunaan obat dengan kriteria selama terapi, seperti pada Evaluasi Penggunaan Obat Prospektif (Prospective). Bedanya, pada concurrent monitoring, intervensi bersifat koreksi.
Masalah umum yang dapat di tunjukkan dalam evaluasi ini diantaranya : 1) Interaksi obat – penyakit
2) Interaksi obat – obat 3) Modifikasi dosis obat
4) Obat-Kondisi khusus pasien (misalnya umur, jenis kelamin, kehamilan, dan lain-lain)
5) Kurangnya penggunaan atau penggunaan yang berlebihan 6) Perubahan terapi
Contoh :
Evaluasi obat concurrent sering terjadi saat awal pengobatan dimana pasien sering mendapat beberapa macam obat. Dengan peninjauan secara berkala terhadap rekam medik pasien maka apoteker akan dapat melihat apakah terjadi interaksi antar obat-obat yang diberikan ataupun interaksi yang berpotensi untuk terjadi serta melihat adanya kemungkinan terjadi terapi ganda (misalnya obat dengan indikasi yang sama). Hal ini juga merupakan pertanda bagi apoteker untuk melakukan perubahan dalam pengobatan, seperti antibiotik, atau penyesuaian dosis berdasarkan hasil uji laboratorium.Dokter juga perlu diberi perhatian terhadap situasi yang terjadi sehingga dapat diambil tindakan koreksi.
c. Evaluasi Penggunaan Obat Retrospektif(Retrospective)
Tinjauan retrospektif dilakukan setelah pasien menerima obat. Tujuannya untuk mendeteksi pola peresepan, penyiapan atau penyerahan obat-obatan. Berdasarkan pola penggunaan obat, standar prospektif dan target intervensi dapat dikembangkan untuk mencegah terulangnyapenggunaan obat yang tidak tepat atau penyalahgunaan obat. Hasil dari tinjauan ini dapat membantu dokter penulis resep dalam meningkatkan perawatan pasien, baik pada target individu maupun dalam populasi tertentu (misalnya, pasien diabetes, asma, atau tekanan darah tinggi). Intervensi tidak dapat dilakukan untuk memperbaiki penggunaan obat pada pasien yang dievaluasi. Tapi dapat digunakan untuk memonitor aspek yang sama seperti pada evaluasi penggunaan obat prospective,misalnya:
1) Evaluasi indikasi
2) Identikasi frekuensi peresepan obat tunggal atau kelompok obat 3) Membandingkan peresepan antardokter
Universitas Indonesia
5) Monitoring penggunaan terapi obat dengan biaya tinggi 6) Biaya pasien
7) Reaksi efek samping obat yang merugikan 8) Interaksi obat
Contoh :
Contoh dari evaluasi penggunaan obat retrospektif yaitu identifikasi suatu kelompok pasien yang mana terapinya diluar dari pedoman terapi yang disetujui.misalnya, seorang apoteker dapat mengidentifikasi pasien yang menderita asma, yang menurut riwayat diagnosis dan pengobatan, sebaiknya diberi steroid oral secara inhalasi (dihirup). Dengan menggunakan informasi ini, apoteker kemudian dapat menganjurkan dokter untuk meresepkan obat yang dimaksud.
2.4 Peran Lintas Terkait dalam Pelayanan Farmasi Rumah Sakit 2.4.1 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
Panitia Farmasi dan terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari Farmasi Rumah Sakit, serta tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dibentuknya PFT diantaranya :
a. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta mengevaluasinya.
b. Melengkapi staf professional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan.
Susunan kepanitiaan Panitia Farmasi dan Terapi serta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit setempat.Panitia Farmasi dan terapi harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 orang yaitu Dokter, Apoteker dan Perawat.Untuk rumah sakit yang besar tenaga dokter bisa lebih dari 3 orang yang mewakili semua staf medis fungsional yang ada.Ketua Panitia Farmasi dan Terapi dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik,
maka sebagai ketua adalah Farmakologi.Sekretarisnya adalah Apoteker dari instalasi farmasi atau apoteker yang dirujuk.
Panitia Farmasi dan Terapi harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 bulan sekali dan untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali.Rapat Panitia Farmasi dan terapi dapat mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat memberikan masukan bagi pengelolaan Panitia Farmasi dan Terapi.Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT diatur oleh sekretaris, termasuk persiapan dari hasil-hasil rapat.Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang sasarannya berhubungan dengan penggunaan obat (Menteri Kesehatan RI, 2004).
2.4.1.1 Peran Apoteker Dalam Panitia/Komite Farmasi Terapi (KFT )
Apoteker terlibat aktif dalam kegiatan KFT khususnya terkait pengendalian penggunaan antibiotik, melalui:
a. Pemilihan jenis antibiotik yang akan dimasukkan dalam pedoman penggunaan antibiotik, formularium, dan yang diuji kepekaan.
b. Analisis hasil evaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif maupun kualitatif.
c. Pembuatan kebijakan penggunaan antibiotik di rumah sakit.
d. Analisis cost effective, Drug Use Evaluation (DUE), dan evaluasi kepatuhan terhadap pedoman penggunaan antibiotik maupun kebijakan terkait yang telah ditetapkan
e. Analisis dan pelaporan Efek Samping Obat (ESO)/Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD).Berikut ini adalah beberapa tambahan ketentuan yang dapat menjadi bagian dari kebijakan antibiotik di rumah sakit:
1) Pengelolaan antibiotik harus dilakukan oleh instalasi farmasi melalui sistem satu pintu
2) Pedoman Terapi Empiris 3) Pedoman Terapi Definitif 4) Pedoman Profilaksis Bedah
Universitas Indonesia
6) Daftar Antibiotik Yang Dibatasi/Restriksi 7) Daftar Antibiotik Yang di “Saving” 8) Pedoman Terapi Antibiotik Injeksi (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.4.2 Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit
Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit adalah organisasi yang terdiri dari staf medis, apoteker yang mewakili farmasi rumah sakit dan tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan :
a. Menunjang pembuatan pedoman pencegahan infeksi.
b. Memberikan informasi untuk menetapkan disinfektan yang akan digunakan di rumah sakit.
c. Melaksanakan pendidikan tentang pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit.
d. Melaksanakan penelitian (surveillans) infeksi nosokomial di rumah sakit. (Menteri Kesehatan RI, 2004).
2.4.2.1 Peran Apoteker Sebagai Anggota Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (KPPI-RS)
Apoteker berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi pada pasien dan tenaga kesehatan terkait pengendalian penggunaan antibiotik, melalui:
a. Penetapan kebijakan dan prosedur internal Instalasi Farmasi dalam penyiapan sediaan steril. Misalnya penetapan kebijakan pencampuran dalam laminar air flow cabinet oleh tenaga yang terlatih.
b. Penetapan kebijakan penggunaan sediaan antibiotik steril sekali pakai (single-dose package) dan penggunaan sediaan steril dosis ganda (multiple-dose container).
c. Penandaan yang benar termasuk pencantuman tanggal dan jam kadaluwarsa serta kondisi penyimpanan sediaan antibiotik.
d. Peningkatan kepatuhan terhadap kewaspadaan baku (standard precaution) oleh tenaga kesehatan, pasien dan petugas lain yang terlibat dalam perawatan pasien.
e. Kolaborasi dalam penyusunan pedoman penilaian risiko paparan, pengobatan dan pemantauan terhadap pasien dan tenaga kesehatan yang pernah kontak dengan pasien penyakit infeksi.
f. Penyusunan pedoman penggunaan antiseptik dan disinfektan.
g. Penurunan kejadian infeksi nosokomial dengan cara menjamin ketersediaan alat kesehatan sekali pakai, antiseptik dan disinfektan.
(Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.4.3 Tim Pengendalian Resistensi Antibiotik
Pengendalian resistensi antibiotik memerlukan kolaborasi berbagai profesi kesehatan antara lain Dokter, Ahli Mikrobiologi, Perawat dan Apoteker. Program pengendalian resistensi antibiotikbertujuan :
a. Menekan resistensi antibiotik.
b. Mencegah toksisitas akibat penggunaan antibiotik.
c. Menurunkan biaya akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak. d. Menurunkan risiko infeksi nosokomial.
Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan tujuan tercapainya hasil terapi yang optimal pada pasien dengan penyakit infeksi dan menurunkan risiko transmisi infeksi pada pasien lain atau tenaga kesehatan.
2.4.3.1 Peran Apoteker Sebagai Anggota Pengendalian Resistensi Antibiotik
Peran penting apoteker yang terlatih dalam penyakit infeksi untuk mengendalikan resistensi antibiotik dapat dilakukan melalui:
a. Upaya mendorong penggunaan antibiotik secara bijak
1) Meningkatkan kerjasama multidisiplin untuk menjamin bahwa penggunaan antibiotik profilaksis, empiris dan definitif memberikan
Universitas Indonesia
hasil terapi yang optimal. Kegiatan ini mencakup penyusunan kebijakan dan prosedur, misalnya restriksi penggunaan antibiotik, saving penggunaan antibiotik, penggantian terapi antibiotik, pedoman penggunaan antibiotik maupun kegiatan selama perawatan pasien penyakit infeksi. Kegiatan terkait perawatan pasien penyakit infeksi misalnya pemilihan antibiotik yang tepat, mempertimbangkan pola kuman setempat, optimalisasi dosis, pemberian antibiotik sedini mungkin pada pasien dengan indikasi infeksi, de-eskalasi, pemantauan terapi antibiotik.
2) Terlibat aktif dalam Komite Farmasi dan Terapi
b. Menurunkan transmisi infeksi melalui keterlibatan aktif dalam Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
c. Memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan, pasien dan masyarakat tentang penyakit infeksi dan penggunaan antibiotik yang bijak.
(Kementerian Kesehatan RI, 2011).
2.5 Langkah – langkah Evaluasi Penggunaan Obat berdasarkan World
Health Organization
a. Menetapkan tanggung jawab
Evaluasi penggunaan obat adalah tanggung jawab komite farmasi dan terapi untuk membuat prosedur dalam pelaksanaan program evaluasi penggunaan obat, termasuk menunjuk anggota yang bertanggung jawab dari komite evaluasi dan terapi atau subkomite untuk memantau dan mengawasi proses evaluasi penggunaan obat di rumah sakit atau klinik. Idealnya komite farmasi dan terapiharus menetapkan rencana tahunan, menguraikan obat-obatan atau kondisi klinis yang akan menjadi bagian dari proses evaluasi penggunaan obat.
b. Mengembangkan ruang lingkup kegiatan dan menentukan tujuan
Komite farmasi dan terapi harus memutuskan tujuan dari evaluasi penggunaan obat dan lingkup kegiatan yang diperlukan. Ruang lingkup dapat
sangat luas atau dapat fokus pada satu aspek terapi obat dan akan tergantung pada jenis masalah yang diidentifikasi, misalnya:
1) Terlalu sering menggunakan dari obat yang lebih mahal ketika suatu obat ekuivalen yang lebih murah tersedia, sebagaimana terungkap dalam