• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

C. Saran

Dalam usaha harus tersedia segala sarana dan fasilitas yang diperlukan guna mendukung kemajuan dan keberhasilan usaha.

d) Produksi

Barang yang diproduksi harus bermutu tinggi dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

xl

Hal ini harus meliputi seluruh masyarakat seluas mungkin. Semakin banyak masyarakat yang memakai produk dari usaha maka semakin banyak keuntungan yang dicapai.

f) Keuangan

Keuangan berhubungan terhadap penambahan modal, keuntungan, kerugian sehingga orang yang mengatur harus benar – benar menguasai tentang keuntungan.

g) Sumber daya manusia ( pemilik maupun tenaga kerja )

Semakin baik sumber daya yang dimiliki maka semakin baik pula hasil yang dicapai karena mempunyai tujuan yang sama untuk keberhasilan usaha.

2) Faktor dari luar lingkungan ( eksternal ) meliputi : a) Pemasok ( supplier )

Hubungan antara perusahaan dengan pemasok dapat memhubungan i tingkat pertumbuhan usaha. Pemasok berkepentingan dalam menyediakan bahan baku yang berkualitas dan cukup jumlahnya.

b) Fasilitator

Fasilitator adalah badan – badan pemerintah, badan – badan usaha dan perorangan yang memberikan kemudahan bagi usaha. Adapun kemudahan itu antara lain seperti : jasa perkreditan, jasa pelayanan angkutan, jasa pelayanan telekomunikasi.

c) Pelanggan, pembeli, pemakai

Pelanggan, pembeli, dan pemakai merupakan lingkungan yang sangat berhubungan karena dapat mengiformasikan usaha konsumen yang kecewa misalnya akibat mutu, akan mendorong untuk keberhasilan kepada pemilik usaha lain.

xli

Guna memanfaatkan peluang yang ada, maka perusahaan perlu mengenai kedudukan dalam persaingan, siapa - siapa yang menjadi pesaing, bentuk – bentuk persaingan yang dihadapi.

Faktor – Faktor tersebut sangat berhubungan pada kelangsungan dan pada usaha. Jadi seorang wiraswasta harus selalu memperhatikan segala perubahan yang terjadi dilingkungan usaha agar semua berjalan lancar, tidak terhambat, cepat mencapai tujuan dan sasaran.

d. Unsur Wiraswasta dan Kemampuan Wiraswasta 1) Unsur Wiraswasta

Selain mempunyai beberapa ciri yang dapat menunjukkan bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai wiraswasta, ada beberapa unsur penting yang tercakup dalam wiraswasta, Menurut pendapat Soesarsono Wijandi secara inci ( 1988 : 24 ) yaitu : a) Unsur Pengetahuan

Unsur pengetahuan yaitu tingkat kemampuan berfikir seseorang yang pada umumnya ditentukan oleh tingkat pendidikannya, baik pendidikan formal, informal, maupun non formal. Selain itu juga dapat berkembang dan hasil belajar sendiri. Bekal yang diperlukan untuk dapat menjadi wiraswasta diperlukan pengetahuan yang luas. Artinya bahwa bidang pengetahuan yang dimiliki tidak hanya terbatas satu bidang saja. Dengan pengetahuan yang luas tersebut memungkinkan seseorang untuk dapat menerapkan dan mengembangkan kewiraswastaanya.

b) Unsur Ketrampilan

Unsur ketrampilan lebih mengarah pada kerja fisik anggota badan, untuk bekerja dan berkarya. Unsur ini umumnya banyak diperoleh melalui latihan dan pengalaman nyata. Seorang wiraswasta tentu perlu menguasai

xlii

satu atau beberapa ketrampilan untuk memudahkan dan memperlancar berbagai tugas yang harus dijalani dan diselesaikannya.

c) Unsur Sikap mental

Sikap mental menggambarkan reaksi atau tanggapan sikap dan mental seseorang jika yang bersangkutan menghadapi suatu situasi.Tanggapan atau tingkah laku yang ditunjukkan seseorang dalam menghadapi situasi atau pekerjaan tersebut dapat digambarkan dalam besarnya tanggung jawab , kejujuran, ketegasan, keberanian untuk mengambil tindakkan, inisiatif, dan berbagai tindakan lainnya.

d) Unsur Kewaspadaan

Unsur kewaspdaan merupakan paduan antara unsure pengetahuan dan sikap mental terhadap sesuatu yang akan datang, yaitu tentang pemikiran atau rencana tindakkan seseorang terhadap sesuatu yang mungkin akan dialaminya.

e) Unsur Kemandirian

Seseorang yang mempunyai unsur kemandirian dalam dirinya tidak akan selalu mempunyai ketergantungan kepada orang lain, bahkan diharapkan dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi oarng lain disekitarnya.

2) Kemampuan Wiraswasta

Kemampuan wiraswasta atau wirausaha diartikan sebagai kesanggupan melaksanakan kegiatan wiraswasta dengan menciptakan kesempatan dan peluang kerja untuk menghasilkan sesuatu yang bermutu sehingga dia dapat menolong dirinya sendiri dan kemudian menolong orang lain.

Adapun wujud kemampuan berwiraswasta menurut Wasty Soemanto (1992:57) dapat dikelompokkan sebagai berikut :

xliii 1) Berkemauan keras

2) Berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi, meliputi pengenalan diri, kepercayaan pada diri sendiri, dan pemahaman tujuan dan kebutuhan. 3) Kejujuran dan berangguang jawab, meliputi moral yang tinggi dan

disiplin diri sendiri.

4) Ketahanan fisik dan mental, meliputi kesehatan jasmani dan rohani, kesabaran, dan ketabahan.

5) Ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras 6) Pemikiran yang kreatif

b) Kemampuan dalam bidang perbuatan 1) Kemampuan berfikir kreatif

Seorang wiraswasta harus memiliki cara-cara berfikir yang kreatif untuk menemukan ide dan inovasi baru dalam usahanya.

2) Kemampuan dalam membuat keputusan

Seseorang wiraswasta harus mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mengdapi berbagai persoalan yang ada.

3) Kemampuan dalam kepemimpinan

Seseorang wiraswasta harus mampu memimpin dirinya sendiri yaitu membina kepribadian yang kuat dan memimpin orang lain agar mereka bertingkah laku dan bergerak untuk mencapai tujuan bersama. 4) Kemampuan manajerial

Wiraswasta harus mampu dalam hal perencanaan, pengorganisasian. Pengawasan, dan penilaian usaha untuk mencapai kesuksesan usaha. 5) Kemampuan dalam bergaul antar manusia

Wiraswasta harus membiasakan diri dalam bergaul dengan orang lain agar terjalin kerjasama yang baik.

Suparman Sumahamijaya (1995 :23) mengemukakan ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki seorang wirausaha yaitu :

xliv

a) Self knowledge, yaitu memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan dan ditekuninya.

b) Imagination, yaitu memiliki imajinasi, ide, dan perspektif serta tidak mengandalkan sukses pada sukses dimasa lalu.

c) Practical knowledge, yaitu memiliki pengetahuan praktis, misalnya pembukuan, administrasi, dan keuangan.

d) Search skill, yaitu kemampuan untuk menemukan, berkreasi, dan berimajinasi.

e) Foresight, yaitu kemampuan memprediksi keadaan masa yang akan datang. f) Communication skill, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul, dan

berhubungan dengan orang lain.

Berdasarkan uraian tersebut diatas motivasi berwiraswasta merupakan dorongan yang ada pada setiap individu untuk melakukan kegiatan wiraswasta. Jika seseorang ingin berhasil dalam melakukan wiraswasta, setidaknya seseorang tersebut memiliki motivasi yang berfungsi sebagai pemberi dorongan untuk terus maju dalam berwiraswasta.

3) Hubungan Pembelajaran Ketrampilan terhadap Motivasi Berwiraswasta Terdapat hubungan yang jelas dari variabel Pembelajaran Ketrampilan dengan Motivasi Berwiraswasta. Sebab dengan lebih memaksimalkan sistem pembelajaran ketrampilan yang ada hal tersebut akan menumbuhkan motivasi yang tinggi pada dalam diri siswa.

B. Kerangka Berfikir

Kerangka pemikiran merupakan inti sari atau pokok pemikiran yang merupakan kesimpulan dari sejumlah uraian dari pembatasan masalah.

Motivasi berwiraswasta meningkat Kemampuan ketrampilan Pembelajaran ketrampilan

xlv

1. Pembelajaran ketrampilan yang baik akan berhubungan terhadap kemampuan ketrampilan anak.

2. Kemampuan ketrampilan anak yang bagus, atau penguasaan ketrampilan yang baik menimbulkan motivasi untuk berwiraswasta meningkat.

C Hipotesis

Pada dasanya hipotesis merupakan pendapat atau jawaban yang sifatnya masih sementara dan perlu pembuktian kebenarannya.

Menurut Sutrisno Hadi (1987:98) yang dimaksud dengan hipotesis adalah “ Dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah “.

Adapun dalam penelitian ini penulis akan mengajukan hipotesis : Ada hubungan antara Pembelajaran Ketrampilan dengan Motivasi Berwiraswasta Siswa Siswi SLB-B YRTRW Surakarta.

xlvi BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Memilih lokasi atau tempat penelitian harus sesuai dengan tujuan penelitian dan pokok permasalahan yang dirumuskan, selain itu tempat penelitian harus dapat memberikan data – data yang diperlukan.

Adapun Penelitian ini dilakukan di SLB-B YRTRW Surakarta yang beralamat di Jl. Gumunggung RT 01/02 Gilingan Surakarta dengan alasan : a. Tersedia data untuk menjawab permasalahan penelitian

b. Lokasi penelitian dapat ditempuh dengan cepat serta transportasi yang mudah sehingga mempercepat dan memperlancar proses penelitian.

xlvii

Penelitian ini direncanakan selama enam bulan dari bulan februari sampai dengan bulan juli tahun 2008. Dan dibagi menjadi beberapa tahap yaitu :

a) Tahap Persiapan

1. Melakukan observasi untuk menentukan sekolah yang dijadikan tempat penelitian dan try out.

2. Pengajuan judul 3. Penyusunan proposal b) Tahap Penelitian

1. Penyusunan instrument 2. Revisi instrument penelitian 3. Pelaksanaan try out

4. Proses pengambilan data dengan angket

c) Tahap Penyelesaian 1. Penyajian data 2. Analisis data

3. Penyusunan laporan dan perbanyakan

B. Metode Penelitian

1. Pengertian Metode Penelitian

Metode didalam penelitian memegang peranan yang sangat penting, karena merupakan tata cara dalam menentukan langkah – langkah penelitian, memberikan batas – batas yang tegas dalam menentukan obyek penelitian, subyek penelitian, macam data, cara pengambilan data, serta menganalisa data untuk mencapai suatu tujuan penelitian. Menurut Imam Barnadib (1983:124)

xlviii

berpendapat bahwa “ Metode Penelitian adalah suatu cara untuk melakukan penelitian.”

Pendapat lain juga diungkapkan oleh Kartini Kartono (1990:2) mengungkapkan bahwa “ Metodologi penelitian adalah cara – cara berfikir dan berbuat yang dipersiapkan dengan baik untuk mengadakan penelitian dalam mencapai tujuan.”

Suharsimi Arikunto (1996:150) “ Metode penelitian adalah cara yang dipergunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya.” Sedangkan menurut Winarno Surakhmad (1994:131) berpendapat bahwa “ metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis, dengan mempergunakan teknik serta alat – alat tertentu. Sejalan dengan pendapat Mardalis (2002:24) memberi definisi metode diartikan sebagai suatu cara atau teknik yang dilakukan dalam proses penelitian.

Jadi yang dimaksud dengan metode penelitian adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang metode ilmiah yang bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan teknik atau alat tertentu.

Metode penelitian berfungsi sebagai pedoman dan tuntunan untuk memperoleh data yang tepat. Untuk menetapkan metode yang digunakan dalam penelitian, terlebih harus mengetahui klasifikasi metode penelitian menurut sifat dan fungsinya dalam dimensi waktu. Menurut Hadari Nawawi (1995:62-82), pengklasifikasian tersebut dikelompokkan menjadi empat yaitu:

1. Metode Filosofis 2. Metoe Deskriptif 3. Metode Historis 4. Metode Eksperimen

xlix

Metode filosofis adalah prosedur pemecahan masalah yang diteliti secara rasional melalui perenungan atau pemikiran yang terarah, mendalam, dan mendasar tentang hakekat suatu yang ada dan mungkin ada, baik dengan mempergunakan pola berpikir aliran filsafat tertentu maupun dalam bentuk analisis sistematik berdasarkan pola berfikir induktif, deduktif, fenomenologi, dan lain – lain dan dengan memperhatikan hukum – hukum berfikir ( logika ).

3. Metode Deskriptif

Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian ( seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain – lain ) pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang tampak atau sebagaimana adanya

4. Metode Historis

Metode penelitian historis adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu atau peninggalan – peninggalan, baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu terlepas dari keadaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan sekarang dalam hubungan dengan kejadian atau keadaan masa lalu. Selanjutnya kerap kali juga hasilnya dapat dipergunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang.

5. Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah prosedur penelitian yang dilakukan untuk mengungkap hubungan sebab akibat dua variable atau lebih dengan mengendalikan hubungan variabel lain.

Berdasarkan uraian diatas dan sesuai dengan tujuan dan permasalahan penelitian, maka penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penyelidikan yang menitik beratkan pengumpulan data yang

l

dikuantifikasikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek pada saat sekarang berdasarkan fakta yang ada.

Lebih lanjut diberikan penjelasan mengenai metode deskriptif sebagai berikut : Pendekatan deskriptif menurut Winarno surakhmat, ( 1994 :139-140 ) adalah pendekatan yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Pelaksanaan metode tersebut tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data itu. Karena itulah maka dapat terjadi sebuah penyelidikan deskriptif membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu lalu mengambil bentuk studi komparatif, atau mengukur suatu dimensi seperti dalam berbagai bentuk studi kuantitatif, angket, tes, interviu dan lain- lain, atau mengadakan klasifikasi, ataupun mengadakan penilaian, menetapkan standart (“normatif”), menetapkan hubungan dan kedudukan (status) satu unsur dengan unsur lain.

Penulis memilih menggunakan metode deskriptif dengan alasan sebagai

berikut :

1. Dalam penelitian deskriptif lebih memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada saat sekarang dan lebih aktual.

2. Dalam penelitian deskriptif, pengumpulan data menggunakan metode angket sebagai metode pokok.

3. Dalam penelitian deskriptif, prosedur yang penulis lalukan adalah mengumpulkan data, menyusun data, kemudian data tersebut dianalisis dan di interpretasikan.

4. Dalam penelitian deskriptif, data yang terkumpul mula – mula disusun, dijelaskan kemudian dianalisa untuk menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi, serta mendapatkan makna – makna dan implikasi masalah yang diselidiki.

li

Sehubungan dengan metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian maka dapat diuraikan ciri – ciri penelitian deskriptif menurut Hadari Nawawi, (1995:64) sebagai berikut :

1. Memusatkan perhatian pada masalah – masalah yang ada pada penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah – masalah yang bersifat aktual.

2. Menggambarkan fakta- fakta tentang masalah – masalah yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional.

Adapun ciri – ciri metode deskriptif menurut Winarno Surahmad ( 1989 : 140 ) adalah :

1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah – masalah aktual.

2. Data yang dikumpulkan mula – mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa ( karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik ).

Dari pendapat diatas penulis simpulkan bahwa metode deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendapat gambaran tentang suatu keadaan tertentu melalui penuturan, menganalisa dan penafsiran data kemudian dicari hubungannya untuk mengetahui seberapa besar hubungannya dengan variabel dependen. Sehingga tujuan menggunakan metode deskriptif kuantitatif ini adalah untuk mendeskripsikan situasi riil dan mencari hubungan atau keterikatan antara pembelajaran ketrampilan dengan motivasi berwiraswasta di SLB B YRTRW Surakarta melalui data kuantitatif.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian, Suharsimi Arikunto (2002:115).” Bagian dari obyek maka dalam pelaksanaan eksperimen akan

lii

diberikan treatment atau perlakuan.” Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1997:70) “ Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.”

Dari pengertian populasi di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah : jumlah keseluruhan dari objek yang diberikan treatment atau pelakuan dalam perlakuan dalam pelaksanaan eksperimen

Dalam penelitian ini semua populasi dijadikan sampel. Adapun rencana populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SLB-B YRTRW Surakarta yang berjumlah 6 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto 1998 : 117). Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1987:70) yang dimaksud dengan sampel adalah : sebagian individu yang diselidiki.

Dari pengertian sampel di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah : sebagian individu atau wakil dari populasi yang diteliti.

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah seluruh individu di dalam populasi yang berjumlah 6 dijadikan subjek penelitian.

3. Sampling

Menurut S. Nasution ( 2003:86) mengemukakan “ Memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi disebut sampling.” Sedangkan menurut Kartini Kartono (1990:113) sampling adalah “ Sifat – sifat dan penyebaran populasi “.

Dari kedua pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sampling adalah cara atau tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data atau pengambilan sampel.

Karena penelitian ini termasuk penelitian populasi, maka tidak ada pengambilan sampling yang artinya semua individu didalam populasi yang berjumlah 6 orang dijadikan subyek penelitian.

liii

D. Tehnik Pengumpulan Data

Salah satu langkah dalam penelitian adalah mengumpulkan data. Kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpulan data. Oleh karena itu alat pengumpulan data harus benar – benar valid dan realibel. “ Untuk memperoleh data yang diperlukan harus menggunakan metode dengan beberapa macam tehnik pengumpulan data, baik berbentuk tes maupun non test.” Suharsimi Arikunto (1998:138)

Dalam penelitian ini digunakan tehnik pengumpulan data, yaitu : dokumentasi dan angket.

1. Dokumentasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:206).” Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, notulen rapat, ledger, agenda dan sebagainya”.

Sedangkan menurut Haradi Nawawi (1995:133) Tehnik dokumentasi adalah “ Cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip – arsip termasuk juga buku tentang pendapat, teori,dalil. Atau hukun-hukum dan lain- lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan.

Dokumentasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk memperoleh keterangan yang berupa data catatan penting atau dokumen – dokumen yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti dari orang orang yang berperan dalam penelitian.

Dalam penelitian ini teknik dokumentasi dipergunakan untuk mendapatkan data tentang identitas anak, nilai semester ganjil siswa kelas 2 SMP SLB B YRTRW Surakarta tahun ajaran 2008/2009.

2. Angket

liv

Menurut Suharsimi Arikunto ( 2002 : 128 ) “ Kuesioner adalah sejumlah pertayaan tertulis yang dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui”. Menurut Hadari Hanawi ( 1987 : 83 ) angket adalah “ usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis oleh responden “.

“ Angket adalah sebagai suatu alat pengumpul data daftar pertanyaan secara tertulis yang ditunjukkan kepada subyek atau responden penelitian.” (Sanapiah Faisal, 2001:122).

Jadi yang dimaksud angket dalam penelitian adalah pengumpulan data melalui daftar pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk dijawab oleh responden.

b. Jenis Angket

Menurut Suharsimi Arikunto ( 2002 : 128 ) angket atau kuesioner secara garis besar dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandang :

1) Dipandang dari cara menjawabnya, maka ada :

a) Kuesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.

b) Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.

2) Dipandang dari jawabannya yang diberikan ada :

a) Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya. b) Kuesioner tidak langsung, yaitu jika responden menjawab tentang

orang lain.

3) Dipandang dari bentuknya, maka ada :

a) Kuesioner pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup.

lv

c) Chek List, sebuah daftar dimana responden tinggal membutuhkan tanda chek pada kolom yang sesuai.

d) Kolom – kolom yang Rating Scale ( skala bertingkat ), yaitu sebuah pertanyaan yang diikuti dengan menunjukkan tingkatan – tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju.

Dalam penelitian ini, angket yang digunakan adalah jenis angket langsung tertutup. Menggunakan teknik angket langsung tertutup untuk memperoleh informasi dari responden yang bersangkutan dengan alternatif jawaban yang dianggap sesuai dengan dirinya. Angket langsung diberikan kepada responden karena masalah yang akan diteliti berkaitan langsung dengan responden, dengan demikian peneliti dapat mengetahui permasalahan yang akan diteliti langsung dari responden sebagai subjek penelitian. Sehingga data yang diperoleh lebih akurat., alasan lain angket langsung digunakan karena respondennya berkemampuan untuk membaca dan mencerna maksud dari pertanyaan angket, sedangkan digunakan angket tertutup agar lebih mudah dalam mengadakan penilaian.

Instrumen yang disusun dalam penelitian ini untuk mengungkap motivasi berwiraswasta. Sedangkan untuk pembelajaran ketrampilan diperoleh dari nilai prestasi belajar siswa disekolah.

c. Keuntungan & Kelemahan Penggunaan Angket 1) Keuntungan Penggunaan Angket

a) Tidak memerlukan hadirnya penulis

b) Angket dapat dibagikan serentak kepada responden.

c) Angket dapat dibuat anonym sehingga responden dapat bebas menjawab

d) Angket dapat dijawab sesuai dengan situasi dan kondisi dari responden.

e) Semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama. 2) Kelemahan Penggunaan Angket

lvi

a) Dalam menjawab responden banyak dibubuhi dan dihubungan i oleh sikap dan harapan-harapan pribadi sehingga sulit dicari validitasnya. b) Kadang – kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban

yang tidak betul atau tidak jujur walaupun dibuat anonym.

c) Sangat sulit merumuskan pertanyaan – pertanyaan secara tetap dalam kata daftar pertanyaan kuesioner dengan penggunaan bahasa yang sederhana, jelas, dan tidak ambisius.

d. Langkah – langkah Dalam Penyusunan Angket

Instrumen merupakan suatu yang sangat penting dalam penelitian. Oleh karena itu dalam menyusun instrumen harus berhati – hati. Menurut Sutrisno Hadi (1991:7-11) “Apabila terpaksa harus menyusun sendiri instrumen, ada tiga langkah pokok yang perlu diperhatikan yaitu : 1) mendefinisikan konstruksi, 2) menyidik faktor – faktor atau indikator, 3) menyusun butir – butir pertanyaan.

Mendefinisikan konstruksi berarti mendefinisikan apa sebenarnya yang akan di ukur. Definisi ini biasa diperoleh dari teori – teori tentang apa sebenarnya yang akan di ukur. Menyidik faktor atau indikator adalah menetapkan indikator dari instrumen. Indikator diperoleh dengan membaca, merekam hasil bacaan, membanding – bandingkan kedalaman dan keluasan setiap konsep yang direkam dan akhirnya mengambil keputusan untuk menetapkan faktor – faktor atau indikator yang relevan dengan sasaran penelitian yang telah lebih dahulu.

Menyusun butir – butir pertanyaan adalah mengembangkan kedalam pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Dalam menyusun butir pertanyaan harus berbicara hanya mengenai indikator yang telah ditetapkan saja, tidak membicarakan hal yang lain.

Pendapat lain dalam menyusun angket dikemukakan Sanapiah Faisal ( 1981:30-39), yaitu :

lvii 1) Spesikasi data dan sumbernya. 2) Menyusun Angket.

3) Uji coba angket.

Dari pendapat tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut : 1) Spesikasi data dan sumbernya

Spesifikasi data dan sumbernya merupakan langkah awal yang mendahului penyusunan angket, yang akan langsung menentukan apa-apa yang akan ditanyakan dalam angket sesuai dengan lingkup masalah dan tujuan penelitian dan ditegaskan sumber pula atau responden dari masing – masing data yang diperlukan tersebut.

2) Menyusun Angket

Menyusun angket berarti membuat item item pertanyaan atau pernyataan membuat pedoman atau petunjuk pengisian dan membuat surat pengantar, sehubungan dengan hal ini maka prosedur yang ditempuh adalah :

a. Merencanakan dan menetapkan jumlah item angket b. Merumuskan dan membuat item

c. Membuat pedoman atau petunjuk pengisian d. Membuat surat pengantar

3) Uji coba angket / Try Out

Menurut Suharsimi Arikunto (1997:76) “ Sebelum angket digunakan

Dokumen terkait