BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN
C. Saran
1. Bagi para guru agar selalu memotivasi dan menumbuhkan minat siswa
dalam belajar, hal ini perlu dilakukan oleh guru supaya siswa lebih
memusatkan perhatian pada mata pelajaran ekonomi akuntansi, mengingat
mata pelajaran ini berpengaruh terhadap penentuan kelulusan siswa.
2. Bagi para siswa SMA Pangudi Luhur Sedayu supaya lebih disiplin dalam
belajar atau mengubah cara-cara kebiasaan belajar dengan sistim kebut
semalam atau belajar hanya saat akan ujian akhir semester. Karena
cara-cara belajar demikian tidak efektif. Siswa dapat
mempelajari/mempersiapkan dahulu materi sebelum diajarkan oleh guru
dengan cara membaca. Dan setelah pulang ke rumah, materi yang baru
diajarkan oleh guru di sekolah diulangi/ dipelajari kembali. Jika siswa
guru atau kepada teman. Dengan cara-cara demikian prestasi belajar siswa
dalam mata pelajaran ekonomi akuntansi dapat ditingkatkan.
3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengungkap pengaruh interaksi
belajar mengajar terhadap prestasi belajar siswa dengan mengkhususkan
pada unsur-unsur seperti variasi gaya mengajar guru, disiplin belajar, atau
BAB V
DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Pada bagian ini akan disajikan deskripsi data tentang interaksi belajar
mengajar, motivasi belajar, lingkungan belajar di keluarga, dan lingkungan
belajar di sekolah dengan prestasi belajar akuntansi. Deskripsi data ini
dinyatakan dalam bentuk daftar tabulasi distribusi frekuensi dengan berdasar
pada Pedoman Acuan Patokan Tipe II (PAP II). Berikut disajikan uraiannya.
1. Variabel Interaksi Belajar Mengajar
Berdasarkan data tentang interaksi belajar mengajar diketahui bahwa skor
jawaban tertinggi adalah 48 dan skor jawaban terendah adalah 32. Nilai
mean dari data tersebut adalah 40,50; nilai median 40; nilai modus 40; dan
standar deviasinya 3,581. Berikut ini disajikan tabel interpretasi interaksi
belajar mengajar (lihat lampiran 7, hal 117).
Tabel 15
Deskripsi variabel interaksi belajar mengajar
No. Interval skor Frekuensi Prosentase Kategori
1. 41-48 32 47,59% Sangat tinggi 2. 36-40 33 48,53% Tinggi 3. 32-35 3 4,41% Cukup 4. 29-31 0 0% Rendah 5. < 29 0 0% Sangat rendah Jumlah 68 100%
Tabel diatas menunjukkan bahwa 32 siswa (47,59%) menyatakan interaksi
belajar mengajar tinggi, 3 siswa (4,41%) menyatakan interaksi belajar
mengajar cukup. Sedangkan untuk kategori rendah dan sangat rendah
adalah 0%. Dengan demikian hampir sebagian besar siswa memiliki
interaksi belajar mengajar yang tinggi dengan guru dalam kegiatan belajar
mengajar. Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean
40,50; nilai median 40 dan nilai modus 40 yang terletak pada kategori
tinggi.
2. Variabel Motivasi Belajar
Berdasarkan data tentang motivasi belajar diketahui bahwa skor jawaban
tertinggi adalah 40 dan skor jawaban terendah adalah 21. Nilai mean dari
data tersebut adalah 29,99; nilai median 30; nilai modus 30; dan standar
deviasinya 3,779. Berikut ini disajikan tabel interpretasi motivasi belajar
(lihat lampiran 7, hal 118).
Tabel 16
Deskripsi variabel motivasi belajar
No. Interval skor Frekuensi Prosentase Kategori
1. 34-40 10 14,71% Sangat tinggi 2. 30-33 32 47,06% Tinggi 3. 27-29 12 17,65% Cukup 4. 24-26 10 14,71% Rendah 5. < 24 4 5,88% Sangat rendah Jumlah 68 100%
Tabel diatas menunjukkan bahwa 10 siswa (14,71%) memiliki motivasi
belajar sangat tinggi, 32 siswa (47,06%) memiliki motivasi belajar tinggi,
12 siswa (17,65%) memiliki motivasi belajar cukup, 10 siswa (14,71%)
memiliki motivasi belajar sangat rendah. Dengan demikian sebagian besar
siswa memiliki motivasi belajar tinggi dalam kegiatan belajar mengajar.
Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean 29,99; nilai
median 30 dan nilai modus 30 yang terletak pada kategori tinggi.
3. Variabel Lingkungan Belajar di Keluarga
Berdasarkan data tentang lingkungan belajar di keluarga diketahui bahwa
skor jawaban tertinggi adalah 40 dan skor jawaban terendah adalah 21.
Nilai mean dari data tersebut adalah 32,91; nilai median 33; nilai modus
30; dan standar deviasinya 4,505. Berikut ini disajikan tabel interpretasi
lingkungan belajar di keluarga (lihat lampiran 7, hal 118).
Tabel 17
Deskripsi variabel lingkungan belajar di keluarga
No. Interval skor Frekuensi Prosentase Kategori
1. 34-40 29 42,65% Sangat tinggi 2. 30-33 25 36,76% Tinggi 3. 27-29 9 13,24% Cukup 4. 24-26 4 5,88% Rendah 5. < 24 1 1,47% Sangat rendah Jumlah 68 100%
Tabel diatas menunjukkan bahwa 29 siswa (42,65%) menyatakan
lingkungan belajar di keluarga sangat tinggi, 25 siswa (36,76%)
menyatakan lingkungan belajar di keluarga tinggi, 9 siswa (13,24%)
menyatakan lingkungan belajar di keluarga cukup, 4 siswa (5,88%)
menyatakan lingkungan belajar di keluarga rendah dan sebanyak 1 siswa
(1,47%) menyatakan lingkungan belajar di keluarga sangat rendah.
keluarga sangat tinggi. Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan
nilai mean 32,91; nilai median 33 dan nilai modus 30 yang terletak pada
kategori tinggi.
4. Variabel Lingkungan Belajar di Sekolah
Berdasarkan data tentang lingkungan belajar di sekolah diketahui bahwa
skor jawaban tertinggi adalah 24 dan skor jawaban terendah adalah 16.
Nilai mean dari data tersebut adalah 20,65; nilai median 20,50; nilai
modus 24; dan standar deviasinya 2,596. Berikut ini disajikan tabel
interpretasi lingkungan belajar di sekolah (lihat lampiran 7, hal 119).
Tabel 18
Deskripsi variabel lingkungan belajar di sekolah
No. Interval skor Frekuensi Prosentase Kategori
1. 21-24 34 50% Sangat tinggi 2. 18-20 25 36,76% Tinggi 3. 16-17 9 13,24% Cukup 4. 14-15 0 0% Rendah 5. < 14 0 0% Sangat rendah Jumlah 68 100%
Tabel diatas menunjukkan bahwa 34 siswa (50%) menyatakan lingkungan
belajar di sekolah sangat tinggi, 25 siswa (36,76%) menyatakan
lingkungan belajar di sekolah tinggi, 9 siswa (13,24%) menyatakan
lingkungan belajar di sekolah cukup. Sedangkan untuk kategori rendah
dan sangat rendah adalah 0%. Dengan demikian sebagian besar siswa
menyatakan lingkungan belajar di sekolah sangat tinggi. Kesimpulan ini
didukung oleh hasil perhitungan nilai mean 20,65; nilai median 20,50 dan
5. Variabel Prestasi Belajar Ekonomi Akuntansi
Dari data penelitian variabel prestasi belajar diperoleh skor tertinggi 76
dan skor terendah 53. Data tersebut diperoleh dari nilai raport mata
pelajaran ekonomi akuntansi. Dari data tersebut diperoleh mean 63,18;
nilai median 62; nilai modus 60 dan standar deviasi sebesar 4,810. Berikut
ini disajikan tabel interpretasi prestasi belajar ekonomi akuntansi (lihat
lampiran 7, hal 120).
Tabel 19
Deskripsi variabel prestasi belajar ekonomi akuntansi
No. Interval skor Frekuensi Prosentase Kategori
1. 81-100 0 0% Sangat tinggi 2. 66-80 21 30,88% Tinggi 3. 56-65 44 64,71% Cukup 4. 46-55 3 4,41% Rendah 5. < 46 0 0% Sangat rendah Jumlah 68 100%
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar prestasi
belajar siswa kelas II IPS SMA Pangudi Luhur Sedayu dalam mata
pelajaran ekonomi akuntansi tergolong dalam kategori cukup. Kesimpulan
ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean 63,18; nilai median 62 dan
nilai modus 60 yang terletak pada kategori cukup.
B. Pengujian Prasyarat Analisis
1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas distribusi data dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan rumus One Sample Kolmogorov-Smirnov dan dikerjakan dengan program SPSS (output dapat dilihat pada lampiran 3, hal.95).
Rangkuman hasil pengujian normalitas distribusi data disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 20
Rangkuman hasil pengujian normalitas
No. Variabel Probabilitas Taraf
sig. Kesimpulan
1. Interaksi belajar mengajar 0,711 0,05 Normal
2. Motivasi belajar 0,289 0,05 Normal
3. Lingkungan belajar di
keluarga 0,787 0,05 Normal
4. Lingkungan belajar di
sekolah 0,077 0,05 Normal
5. Prestasi belajar ekonomi
akuntansi 0,062 0,05 Normal
Tabel 20 menunjukkan bahwa hasil pengujian normalitas untuk variabel
interaksi belajar mengajar (X1) diperoleh probabilitas hitung ()= 0,711. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data interaksi belajar mengajar (X1) adalah normal. Hasil
pengujian normalitas untuk variabel motivasi belajar (X2) diperoleh
probabilitas hitung ()= 0,289. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data motivasi belajar (X2) adalah normal. Hasil pengujian normalitas untuk variabel lingkungan
belajar di keluarga (X3) diperoleh probabilitas hitung ()= 0,787. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data lingkungan belajar di keluarga (X3) adalah normal. Hasil
pengujian normalitas untuk variabel lingkungan belajar di sekolah (X4)
diperoleh probabilitas hitung ()= 0,077. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data lingkungan
belajar di sekolah (X4) adalah normal. Hasil pengujian normalitas untuk
variabel prestasi belajar ekonomi akuntansi (Y) diperoleh probabilitas
hitung ()= 0,062. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data prestasi belajar ekonomi
akuntansi (Y) adalah normal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
data interaksi belajar mengajar (X1), motivasi belajar (X2), lingkungan
belajar di keluarga (X3), lingkungan belajar di rumah (X4) dengan prestasi
belajar ekonomi akuntansi (Y) adalah normal.
2. Uji Linieritas
Pengujian linieritas dimaksudkan untuk mengetahui apakah
masing-masing variabel bebas yaitu interaksi belajar mengajar (X1), motivasi
belajar (X2), lingkungan belajar di keluarga (X3), lingkungan belajar di
sekolah (X4) memiliki korelasi yang linier dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi (Y). Pengujian linieritas dalam penelitian ini dilakukan
berdasarkan uji F dan dikerjakan dengan bantuan program SPSS (output
dapat dilihat pada lampiran 3, hal 95-99). Rangkuman hasil pengujian
linieritas disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 21
Rangkuman Hasil Pengujian Linieritas
No. Variabel Fhitung Ftabel Df Kesimpulan
1. X1dengan Y 1,732 1,887 14;52 Linier
2. X2dengan Y 1,294 1,910 13;53 Linier
3. X3dengan Y 0,973 1,850 16;50 Linier
Tabel 21 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel interaksi belajar
mengajar (X1) dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi (Y) pada taraf
signifikansi 5% dan derajat kebebasan (db) pembilang 14 dan derajat
kebebasan penyebut 52 adalah linier (Fhitung= 1,732 < Ftabel= 1,887).
Hubungan antara variabel motivasi belajar (X2) dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi (Y) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan
(db) pembilang 13 dan derajat kebebasan penyebut 53 adalah linier
(Fhitung=1,294 < Ftabel= 1,910). Hubungan antara variabel lingkungan
belajar di keluarga (X3) dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi (Y)
pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan (db) pembilang 16 dan
derajat kebebasan penyebut 50 adalah linier (Fhitung= 0,973 < Ftabel=
1,850). Hubungan antara variabel lingkungan belajar di sekolah (X4)
dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi (Y) pada taraf signifikansi 5%
dan derajat kebebasan (db) pembilang 7 dan derajat kebebasan penyebut
59 adalah linier (Fhitung= 1,101 < Ftabel= 2,169). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa data interaksi belajar mengajar (X1), motivasi belajar
(X2), lingkungan belajar di keluarga (X3), lingkungan belajar di rumah
(X4) memiliki hubungan yang linier dengan prestasi belajar ekonomi
akuntansi (Y).
C. Pengujian Hipotesis Penelitian
1. Pengujian Hipotesis I
Ho = Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara interaksi
belajar mengajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Ha = Ada hubungan yang positif dan signifikan antara interaksi
belajar mengajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil analisis data diketahui nilai koefisien korelasi (rhitung) variabel
interaksi belajar mengajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi
adalah 0,192 (lampiran 4, hal.100). Nilai koefisien korelasi tersebut
menunjukkan bahwa hubungan antara interaksi belajar mengajar
dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah positif dan
terkategorikan sangat rendah. Sementara hasil pengujian signifikansi
menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi 5% besarnya nilai t
(thitung)= 1,593 < ttabel = 1,668, maka dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan positif,
dan signifikan antara interaksi belajar mengajar dengan prestasi
belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi akuntansi.
2. Pengujian Hipotesis II
a. Rumusan Hipotesis
Ho = Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Ha = Ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil analisis data diketahui nilai koefisien korelasi (rhitung) variabel
motivasi belajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah
0,242 (lampiran 4, hal.100). Nilai koefisien korelasi tersebut
menunjukkan bahwa hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi
belajar ekonomi akuntansi adalah positif dan terkategorikan rendah.
Sementara hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa pada taraf
signifikansi 5% besarnya nilai t (thitung)= 2,030 > ttabel = 1,668, maka
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti
ada hubungan positif, rendah, dan signifikan antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi
akuntansi.
3. Pengujian Hipotesis III
a. Rumusan Hipotesis
Ho = Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara
lingkungan belajar di keluarga dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi.
Ha = Ada hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan
belajar di keluarga dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil analisis data diketahui nilai koefisien korelasi (rhitung) variabel
lingkungan belajar di keluarga dengan prestasi belajar ekonomi
tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara lingkungan belajar di
keluarga dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah positif dan
terkategorikan sangat rendah. Sementara hasil pengujian signifikansi
menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi 5% besarnya nilai t
(thitung)= 1,491 < ttabel = 1,668, maka dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan positif,
dan signifikan antara lingkungan belajar di keluarga dengan prestasi
belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi akuntansi.
4. Pengujian Hipotesis IV
a. Rumusan Hipotesis
Ho = Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara
lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar ekonomi
akuntansi.
Ha = Ada hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan
belajar di sekolah dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil analisis data diketahui nilai koefisien korelasi (rhitung) variabel
lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar ekonomi
akuntansi adalah 0,148 (lampiran 4, hal.100). Nilai koefisien korelasi
tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara lingkungan belajar di
sekolah dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah positif dan
menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi 5% besarnya nilai t
(thitung)= 1,463 < ttabel = 1,668, maka dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan positif,
dan signifikan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi
belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi akuntansi.
5. Pengujian Hipotesis V
a. Rumusan Hipotesis
Ho = Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara interaksi
belajar mengajar, motivasi belajar, lingkungan belajar di
keluarga, dan lingkungan belajar di sekolah secara
bersama-sama dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Ha = Ada hubungan yang positif dan signifikan antara interaksi belajar
mengajar, motivasi belajar, lingkungan belajar di keluarga, dan
lingkungan belajar di sekolah secara bersama-sama dengan
prestasi belajar ekonomi akuntansi.
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil analisis data diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (Rhitung)
variabel interaksi belajar mengajar (X1), motivasi belajar (X2),
lingkungan belajar di keluarga (X3), lingkungan belajar di sekolah (X4)
dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah sebesar 0,254 dan
koefisien korelasi ganda tersebut digunakan statistik uji F. Berikut ini
disajikan tabel hasil pengujian signifikansi.
Tabel 22
Hasil Pengujian Signifikansi F
Variabel Db JK RK Fhitung Ftabel
Regresi 4 104.894 26.223 1.143 2,518
Residu 63 1444.988 22.936
Total 67 1549.882
Dari tabel diatas diperoleh harga Fhitung= 1,143 dan Ftabel= 2,518 pada
taraf signifikansi 5% dengan db pembilang 4 dan penyebut 63. Hal ini
menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel. Ini berarti Ho diterima dan Ha
ditolak atau tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara
interaksi belajar mengajar, motivasi belajar, lingkungan belajar di
keluarga, dan lingkungan belajar di sekolah secara bersama-sama
dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Pada penentuan bobot sumbangan relatif dan sumbangan efektif
dilakukan secara manual. Perhitungan sumbangan relatif dan
sumbangan efektif ini dilakukan untuk mengetahui sumbangan setiap
variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
a. Sumbangan Relatif
Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil bahwa prestasi belajar
ekonomi akuntansi dipengaruhi oleh interaksi belajar mengajar
(X1) sebesar 8,52%; motivasi belajar (X2) sebesar 67,94%;
lingkungan belajar di sekolah (X4) sebesar 0,003% (lampiran 5, hal
105-106).
b. Sumbangan Efektif
Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil bahwa prestasi belajar
ekonomi akuntansi dipengaruhi oleh interaksi belajar mengajar
(X1) sebesar 0,576%, motivasi belajar (X2) sebesar 4,598%;
lingkungan belajar di keluarga (X3) sebesar 1,593% dan
lingkungan belajar di sekolah (X4) sebesar 0,0002% (lampiran 5,
hal 106-107). Jumlah sumbangan efektif adalah 6,7672%,artinya
sebesar 93,2328% perubahan prestasi belajar ekonomi akuntansi
ditentukan oleh faktor lain di luar penelitian ini.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Hubungan antara interaksi belajar mengajar dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi.
Dari analisis korelasi diketahuai ada hubungan antara interaksi
belajar mengajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi. Hal ini dapat
ditunjukkan dari perhitungan statistik yang menunjukkan bahwa koefisien
korelasi (rhitung)= 0,192. Nilai rhitung= 0,192 menunjukkan terdapat
hubungan antara interaksi belajar mengajar dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi, karena rhitung= 0,192 melebihi nilai 0,00 maka, nilai
rhitung= 0,192 tersebut menunjukkan nilai positif (+) yang berarti
belajar mengajar semakin tinggi pula prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Meskipun memiliki hubungan yang positif, tetapi hubungan antara
interaksi belajar mengajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi
sangat rendah/lemah. Hal ini terbukti dengan rhitung= 0,192 terletak pada
interval koefisien 0,000-0,199. Pada pengujian taraf signifikansi diketahui
bahwa thitung= 1,593 < ttabel = 1,668. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara interaksi belajar mengajar dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi. Dengan demikian interaksi belajar mengajar tidak
dapat digunakan untuk memprediksi prestasi belajar ekonomi akuntansi.
Maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki tingkat interaksi
tinggi belum tentu nilai mata pelajaran akuntansinya tinggi dan siswa yang
tingkat interaksi belajarnya rendah belum tentu prestasi belajar ekonomi
akuntansinya rendah.
Peneliti menduga faktor yang bersumber dari siswa (tidak memiliki
tujuan belajar yang jelas) yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar
ekonomi akuntansi. Siswa yang menganggap dirinya masuk ke sekolah
hanya sekedar untuk memperoleh uang jajan dari orang tua atau sekedar
menyenangkan orang tua, sudah jelas tidak memiliki target tujuan belajar
yang akan mendorong kemajuan studinya. Hal ini tentunya tidak sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Antonius Cipto(1998) yang
menyatakan bahwa jika siswa memiliki interaksi belajar yang tinggi maka
2. Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar ekonomi
akuntansi.
Dari hasil analisis product moment diketahui bahwa koefisien korelasi hitung (rhitung) adalah sebesar 0,242. Dari rhitung= 0,242 yang
diperoleh dapat diketahui terdapat hubungan antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi. Karena rhitung= 0,242 melebihi
nilai 0,00 maka, nilai rhitung= 0,242 tersebut menunjukkan nilai positif (+)
yang berarti semakin tinggi motivasi belajar siswa semakin tinggi prestasi
belajar ekonomi akuntansi. Hubungan antara motivasi belajar dengan
prestasi belajar ekonomi akuntansi tergolong rendah. Terbukti bahwa
rhitung= 0,242 terletak pada interval koefisien 0,200 – 0,399. Pada taraf
pengujian signifikansi diketahui bahwa thitung=2,030 > ttabel = 1,668. Hal
tersebut menunjukkan bahwa hubungan motivasi belajar dengan prestasi
belajar ekonomi akuntansi adalah positif dan signifikan, yang berarti
kesimpulan dapat digeneralisasikan untuk populasi.
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara
motivasi belajar dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi adalah positif
dan signifikan. Hal ini berarti semakin tinggi motivasi belajar siswa
semakin tinggi prestasi belajar ekonomi akuntasi. Dari hasil pengisian
kuesioner dapat dilihat bahwa sebenarnya siswa memiliki motivasi belajar
yang tinggi. Tetapi dalam penelitian ini tingginya motivasi belajar siswa
tidak berpengaruh terhadap tingginya prestasi belajar ekonomi akuntansi,
menduga kebiasaan belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi
akuntansi yang tidak teratur menyebabkan rendahnya prestasi belajar
siswa. Kebiasaan-kebiasaan siswa yang sering menunda belajar atau
mempelajari kembali materi yang baru saja diberikan guru, kebiasaan
siswa yang hanya belajar saat menjelang atau akan ujian akhir semester
dapat menghambat studi, karena dalam mata pelajaran ekonomi akuntansi
yang dibutuhkan tidak sekedar menghafal materi, tetapi juga pemahaman
dan latihan. Meskipun siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi (selalu
tertib masuk sekolah, tertib mencatat, tertib mengerjakan tugas), tetapi jika
kebiasaan-kebiasaan buruk dalam belajar tersebut tidak dihilangkan maka
akan menyebabkan prestasi belajar yang kurang maksimal.
3. Hubungan antara lingkungan belajar di keluarga dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi.
Dari hasil analisis product moment diketahui bahwa koefisien korelasi hitung (rhitung) adalah sebesar 0,181. Nilai rhitung= 0,181 tersebut
melebihi nilai 0,00 maka, nilai rhitung= 0,181 tersebut menunjukkan nilai
positif (+) yang berarti menunjukkan hubungan yang searah, artinya
semakin tinggi/baik lingkungan belajar di keluarga semakin tinggi prestasi
belajar ekonomi akuntansi. Meskipun memiliki arah hubungan yang positif
(+) tetapi hubungan atara lingkungan belajar di keluarga dengan prestasi
belajar ekonomi akuntansi sangat rendah. Terbukti bahwa nilai rhitung=
0,181 berada pada interval koefisien 0,000 – 0,199. Dari hasil pengujian
tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lingkungan
belajar di keluarga dengan prestasi belajar ekonomi akuntansi. Dengan
demikian lingkungan belajar di keluarga tidak dapat digunakan untuk
memprediksi prestasi belajar ekonomi akuntansi. Maka dapat disimpulkan
bahwa siswa dengan lingkungan belajar di keluarga baik belum tentu nilai
mata pelajaran ekonomi akuntansinya baik dan siswa dengan lingkungan
belajar di keluarga kurang mendukung belum tentu nilai ekonomi
akuntansinya rendah.
Peneliti menduga faktor kedisiplin belajar siswa, motivasi belajar
siswa berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Misalnya siswa dengan
fasilitas belajar yang lengkap (tersedianya buku paket sendiri, komputer,
alat-alat tulis) belum tentu prestasi belajarnya baik jika siswa tersebut
tidak memiliki kedisiplinan dan motivasi belajar. Kurangnya kedisiplinan
belajar siswa (belajar hanya saat akan ujian akhir semester/ sistem kebut semalam) dapat mengakibatkan hambatan dalam pencapaian prestasi belajar, karena cara belajar yang demikian kurang begitu efektif. Tetapi
jika siswa memiliki disiplin belajar dan motivasi belajar tinggi, walaupun
ia tidak memiliki fasilitas belajar yang lengkap atau kondisi perekonomian
keluarga pas-pasan, siswa akan tetap mempelajari kembali materi yang
4. Hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi.
Dari hasil analisis product moment diketahui bahwa koefisien korelasi hitung (rhitung) adalah sebesar 0,177. Nilai rhitung= 0,177 tersebut
melebihi nilai 0,000 sehingga rhitung= 0,177 menunjukkan nilai positif (+)
yang berarti menunjukkan hubungan yang searah, artinya semakin
tinggi/baik lingkungan belajar di sekolah semakin tinggi prestasi belajar
ekonomi akuntansi. Walaupun memiliki hubungan yang positif (+) tetapi
hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar
ekonomi akuntansi sangat rendah. Terbukti nilai rhitung= 0,177 berada pada
interval koefisien 0,000 – 0,199. Dari hasil pengujian signifikansi
diketahui bahwa thitung= 1,463 < ttabel = 1,668. Hal tersebut menunjukkan
tidak ada hubungan antara variabel lingkungan belajar di sekolah dengan
prestasi belajar ekonomi akuntansi. Dengan demikian lingkungan belajar
di sekolah tidak dapat digunakan untuk memprediksi prestasi belajar