• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran-saran

Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut :

Lembaga sensor film yang merupakan satu-satunya lembaga/institusi yang

memberikan status edar perfilman baik itu film impor maupun produksi dalam

negeri perlu adanya koordinasi atau sosialisasi dengan Production House atau

sineas untuk mengarahkan bagaimana membuat perfilman yang sesuai dengan

dasar, arah dan tujuan perfilman Indonesia yang sesuai dengan undang-undang

perfilman sehingga apabila film tersebut pada tahap launching/pemutaran tidak

akan menuai pro dan kontra di masyarakat dan tidak merugikan industri

perfilman.

Anggota sensor film yang terdiri dari perwakilan organisasi-organisasi

masyarakat/departemen pemerintah, Institusi non Pemerintah, dan tenaga

ahli/professional harus mengakomodasi aspirasi-aspirasi masyarakat pedesaan

terlebih saat ini setiap daerah memiliki stasiun televisi lokal dikarenakan LSF itu

sendiri hanya ada satu dan berada di pusat yaitu di ibu kota Jakarta.

Keberadaan lembaga sensor film terhadap produksi film, sinetron, CD dan

lembaga atau committee monitoring of Indonesia yang mengawasi program acara

stasiun televisi swasta dan lokal baik live dan non live sehingga terwujudnya

DAFTAR PUSTAKA

A`la, Abul, Maududy, Islamic way of live, terjemahan Osman Raliby, Bulan Bintang : Jakarta, 1967

Abd. Rauf, Abdul Kadir Sayid, Dirasah Fid Dakwah Al-Islamiyah, Kairo; Dar El-Tiba`ah Al-Mahmadiyah, Cet.I, 1987.

Abdul, As-Sahid, Kadir Audah, Islam Dan Perundang-Undangan,

Internasional Islamic federation of student organizations, 1970.

Abdurrahman, dan Soejono, Metodologi Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan., Jakarta : Rineka Cipta, 2005

Arifin, Anwar, Strategi Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas, Bandung :CVAmico 1984

Bachtiar, Wardi, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos : Ciputat, 1997.

Boggs, Joseph M, The Art of Watching Film, Terj Asrul Sani. Jakarta : Yayasan Citra Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, 1986

Dahlan, Al Barry M, dan Partanto, A Pius, Kamus Ilmiah Populer, Arkola Surabaya, 1994.

Departemen Pendidikan dan Kebudyaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia., Jakarta : Balai Pustaka, Edisi Ke-2, 1996.

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, Cet. Ke-3, 2002.

Dokumentasi LSF, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 32.

Effendy, Onong Uchjana, Ilmu,Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2003

Faridl, Miftah, Dakwah Kontemporer Pola Alternatif Dakwah Melalui Televisi, Bandung ; Pusdai Press, 2000.

Film, dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989.

Gerungan, W. A , Psikologi Sosial., Bandung : PT. Eresso, 1998. Gunadi, YS, Himpunan Istilah Komunikasi, Jakarta : PT Grasindo, 1998. Hoed, B.H., “Dampak Komunikasi Periklanan: sebuah ancangan dari segi semiotik”, Jakarta : Balai Pustaka, 2001.

Kusnawan, Aep, Komunikasi & Penyiaran Islam ; Mengembangkan Tabligh melalui Media mimbar, Media cetak, Radio, Televisi, Film dan Media Digital, Benang Merah Press: Bandung 2004.

Mafri, Anwar, M.Ag, Etika Komunikasi Massa : Dalam Pandangan Islam,

Jakarta : Logos, Cet-II., 1999

Mansur, Mustafa, Jalan Dakwah. Jakarta : Pustaka Ilmiah, 1994

MC Eachern, A.W. and Grass, N W S, Masson and Explorations Rote Analysis dalam David Berry, Pokok-Pokok Pikiran Dalam Sosiologi., Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995.

Pranajaya, Adi. Film dan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman, 1993.

Prakoso, Gatot, film pinggiran-Antologi film pendek ; eksperimental & Dokumenter, FFTV – IKJ dengan YLP, Fatma Press : 1997

Prisgunanto, Ilham, Praktik Ilmu Komunikasi Dalam Kehidupan Sehari- hari. 2004.

Rakhmat, Jalaluddin M.Sc., Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet.-21, 1986

Rosyad, Abd, Shaleh, Manajemen Dakwah Islam., Jakarta, Bulan Bintang, Cet. Ke-3. 1993

Salman, Ismah., “Strategi Da`wah di era millenium” Jurnal Kajian da`wah, komunikasi & budaya, vol. VI. No. 1, 2004.

Soemarno, Marselli, Apresiasi Film : Suatu Pengantar, Jakarta: pustaka Yayasan Citra, Tanpa Tahun Terbit.

Syukir, Asmuni, “Dasar-Dasar Strategi Dakwah’’ Surabaya : Al-ikhlas, 1993.

Warson, Ahmad, Munawir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia Lengkap, Pustaka Progressif : Jakarta, 1984

Ya`kub, Hamzah, “Publisistik Islam Teknik dan Dakwah Leadership”.,

Bandung : CV Diponogoro, Cet ke-4.1992.

Dokumentasi

Dokumentasi Lembaga Sensor Film.

Dokumentasi Production House Indika Entertainment., film “ML” dan “Cintaku Selamanya”.

Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1994 pasal 4 ayat 1 Fungsi Lembaga Sensor Film.

Peraturan Pemerintah. NO.1 Tahun 2002 Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Lembaga Sensor Film.

Peraturan Menteri Budaya dan Pariwisata NO. PM. 31/UM.001/MKP/05. PP.NO. 7 Tahun 1994 Lembaga Sensor Film.

UU No. 8 Tahun 1992 Tentang Perfilman.

Wawancara pribadi dengan Djamalul Abidin, Ass. Anggota LSF, Wakil Ketua Komisi B.,Jakarta, 13/08/2008.

Website

www. hitamputih-geliatfilmindonesia.htm di akses tanggal 5 maret 2008.

http://id.wikipedia.org/wiki/perfilmanIndonesia, diakses 10 Mei 2008.

http://kunci.co.id/teks/victor I. Mambor, Victor C, Satu Abad “Gambar Idoep” Di Indonesia. diakses 14 maret 2008.

www.hitamputih-geliat.filmindonesia.htm. artikel ini diakses 20 maret 2008. http://letuce.blogs.friendster.com/adianindya/2007/06/dampakfilm.html. diakses 10 april 2008.

Wawancara dengan Anggota Lembaga Sensor Film

Nama : Djamalul Abidin Ass

Jabatan : Anggota Lembaga Sensor Film dan Wakil Ketua Komisi B

Tempat : Lembaga Sensor Film, Jl. MT. Haryono kavling 47-48 Jakarta selatan

Hari/tanggal : Rabu, 13/08/2008

Hasil wawancara :

1. Apakah untuk saat ini sensor film dapat diserahkan ke khalayak publik ? Jawab : Di Indonesia dengan kondisi sosial-ekonomi yang sekarang ayah dan ibunya sibuk membanting tulang hal ini yang tidak mungkin orang tuanya untuk mengkontrol anaknya dalam menyaring tontonan film, terlebih dengan media yang berkembang dengan pesat melalui media internet atau online.

Seorang anak dapat mengakses situs pornografi begitu pula dengan perkembangan teknologi komunikasi (ICT) melalui handphone sudah beredar gambar-gambar porno apakah orang tuanya dapat mengkontrol anaknya? mungkin nanti setelah tingkat pendidikan sudah tinggi dan kondisi ekonomi sudah bagus dan di banyak negara masih terdapat sensor terlebih di negara-negara ASEAN yang tingkat sosial-ekonominya lebih maju bahkan lebih keras lagi dalam penyensoran contoh kasus kecil ketika film ML begitu heboh banyak protes dari kalangan akademis itu pun masih di potong atau di sensor oleh lembaga sensor bagaimana kalau lolos begitu saja tanpa sensor.

2. Bagaimana lembaga sensor film menanggapi reaksi dari masyarakat perfilman Indonesia (MFI) yang mengatakan sensor menghambat kreativitas dalam berekspresi ?

Jawab : Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 dari a sampai i mengenai hak-hak sedangkan yang J mengenai kewajiban-kewajiban warga Negara untuk menghormati hak azasi orang lain, itu diatur oleh UUD 45 bahwa hak itu ada kewajiban juga ada, jadi kalau menggangu orang lain tidak bisa yang menjadi alasan dari para sineas adalah memasung kreativitas, menjegal hak untuk menyampaikan informasi, menghalangi dalam mengkomunikasikan pesan-pesan kepada orang lain, tidak semua pesan dapat disampaikan kepada publik.

Lain halnya jika menyampaikan atau mengkomunikasikan pesan-pesan secara perorangan itu tidak masalah akan tetapi tidak bisa kalau menyangkut ranah publik, (public area) sedangkan kita diamanatkan oleh masyarakat untuk melindungi dari dampak negatif perfilman.

3. Bagaimana proses penyensoran yang dilakukan LSF ?

Jawab: Dalam proses penyensoran anggota lembaga sensor film mengikuti Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1994 pasal 17, dan 18 ayat 1 tentang pedoman dan kriteria penyensoran misalnya ciuman mana yang boleh dan ciuman mana yang tidak boleh kemudian adegan senggama, adegan, gerakan atau suara persenggamaan atau memberikan kesan persenggamaan tidak boleh tetapi kita juga memperhatikan alur cerita dari perfilman tersebut.

Jangan karena kita memotong adegan ciuman kita tidak tahu kesinambungan cerita tersebut apabila film bioskop akan di putar di stasiun televisi juga harus di sensor lagi karena film bioskop terbatas penontonnya sedangkan film yang diputar di televisi siapa pun dapat menontonnya.

4. Bagaimana pelayanan administrasi penyensoran film di LSF ?

Jawab : misalnya Fadli punya film mau disensorkan itu harus di daftarkan di Direktorat Film yang berada di DEBUDPAR untuk di cek keabsahanya, kebenaran kepemilikan film begitu pula dengan film impor apakah film tersebut legal untuk masuk di Indonesia, apabila sudah terpenuhi persyaratan- persyaratanya maka diklarifikasi untuk dikirim ke sekretariat LSF kemudian sekretariat LSF inilah yang mengurus penyensorannya untuk di ukur panjang

meternya untuk VCD berapa lama menit atau detiknya untuk kemudian dibuatkan berita acaranya disertai sinopsisnya kemudian kelompok penyensor yang akan menyensor dan memutuskan apakah lulus sensor, lulus sensor dengan potongan dan atau di tolak seutuhnya.

5. Bagaimana Lembaga Sensor Film menjembatani keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia ?

Pornogarfi di suatu daerah belum tentu porno didaerah lain seperti porno di daerah Bali, Irian, dan Kalimantan begitu pula dengan keadaan di daerah Aceh, Padang dan lainnya mungkin bisa saja dianggap porno akan tetapi kita tetap mengacu kepada peraturan pemerintah mengenai kriteria dan pedoman penyensoran, keberagaman tidak sepenuhnya diberikan kebebasan sepanjang itu tidak dijadikan produk nasional. Kalau di daerah tidak menjadi soal akan tetapi jika menyangkut lingkup skala nasional kita berlakukan sensor.

6. Apakah untuk keanggotaan lembaga sensor film itu sendiri berasal dari kalangan pemerintah ?

Jawab : Lembaga Sensor Film merupakan lembaga bersifat non struktural yang terdiri wakil pemerintah, wakil masyarakat, wakil organisasi dan professional, lembaga sensor film terdiri dari 45 anggota antara lain 16 orang wakil dari instansi/ departemen/ lembaga non departemen, tujuh orang wakil dari organisasi keagamaan, 14 orang wakil dari tenaga ahli dan delapan orang wakil dari cendikiawan atau budayawan.

7. Apa saja yang menjadi wewenang Lembaga Sensor Film ?

Jawab : Lembaga sensor film hanya menyensor yang bersifat hiburan seperti film-film baik itu film bioskop, sinetron, VCD, DVD, Poster dan lain-lain lembaga sensor film tidak menyensor ranah jurnalistik, news, siaran langsung adapun news atau yang menyangkut jurnalistik domain itu adalah wewenang PWI mengenai siaran langsung itu berkaitan dengan penyiaran dan merupakan wewenang Komisi Penyiaran Indonesia KPI ).

8. Banyak orang atau masyarakat perfilman yang merasa sensor film itu bersifat radikal, dan otoriter menurut bapak sebagai anggota sensor film bagaimana menanggapinya ?

Jawab : karena orang trauma dengan kata sensor sehingga sensor seolah-olah konotasinya kekerasan, otoriter padahal dalam undang-undang perfilman sensor film adalah penelitian dan penilaian terhadap film dan reklame film dapat atau tidak dipertunjukkan dan atau ditayangkan kepada umum.

9. Hal apa saja yang menjadi pendukung dan hambatan bagi lembaga sensor film ?

Jawab : yang menjadi pendukung lembaga sensor film karena kita di dukung oleh peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, peraturan menteri DEBUDPAR, dan anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk honor-honor kita. Sedangkan kendala atau hambatan lembaga sensor film adalah tidak adanya perpanjangan di daerah-daerah, pada tahun 2008 saja terdapat 325 proses perijinan stasiun pertelevesian baik di daerah dan di Jakarta. Nah untuk program acara stasiun televisi di daerah siapa yang menyensor, sehingga untuk Production House (PH) yang berada di daerah harus menyensorkannya ke lembaga sensor film yang ada di Jakarta.

10. Bagaimana untuk mengetahui bahwa film, VCD, dan DVD yang akan di putar di bioskop ataupun televisi telah lulus sensor film ?

Jawab: untuk mengetahui film, VCD, DVD dan VHS yang telah lulus sensor bersamaan dengan keluarnya surat lulus sensor (SLS) adapun untuk kategori film bioskop SLS warna merah dengan garis kuning di atas kategori dewasa, SLS warna biru dengan garis kuning di atas kategori remaja, SLS warna hijau dengan garis kuning di atas kategori semua umur. Kategori (DVD, VCD, LD, BD) SLS warna merah dengan garis kuning atas/bawah kategori dewasa, SLS warna biru dengan garis kuning atas/bawah remaja, SLS warna hijau dengan garis kuning atas/bawah kategori semua umur. Kategori (VHS) untuk di tayangkan stasiun

televisi SLS warna merah dengan garis warna kuning atas dan warna unggu di bawah kategori dewasa, SLS warna biru dengan garis kuning atas dan warna unggu di bawah kategori remaja, SLS warna hijau dengan garis kuning atas dan warna unggu di bawah kategori semua umur.

11. Peranan lembaga sensor film terhadap perfilman pornografi dan kekerasan itu seperti apa ?

Jawab: lembaga sensor film selain menjadi garda budaya bangsa dalam menjembatani keanekaragaman budaya juga melindungi masyarakat dari dampak dan pengaruh negatif perfilman. Dampak negatif perfilman yaitu seperti film pornografi dan kekerasan dan apabila terdapat adegan-adegan yang tidak sesuai dengan pedoman dan kriteria penyensoran maka akan kita potong atau sensor sesuai dengan Peraturan Pemerintah pasal 18 dan 19 No. 7 Tahun 1994.

12. Apakah anggota sensor film dalam melaksanakan tugasnya dapat berjalan secara konsisten ?

Jawab: Anggota lembaga sensor film tetap konsisten karena berjalan sesuai dengan peraturan yang ada seperti Undang-undang perfilman No.8 Tahun 1992 peraturan pemerintah No.7 Tahun 1994 tentang lembaga sensor film serta peraturan menteri DEBUDPAR No.31 tahun 2005 mengenai tata kerja lembaga sensor film dan tata laksana penyensoran yang menjadi regulasi dalam operasional dan pedoman penyensoran.

Dokumen terkait