• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti,

peneliti memberikan saran dengan harapan dapat bermanfaat bagi pembaca

sebagai berikut:

1. Bagi kebanyakan peserta didik, mata pelajaran matematika adalah mata

pelajaran yang sulit karena bagi mereka matematika identik dengan

angka-angka dan rumus-rumus. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai acuan bagi

pendidik maupun calon pendidik ketika mengajar mata pelajaran

matematika di kelas agar menggunakan metode, model, dan strategi

pembelajaran yang disesuaikan dengan tipe tiap kelas yang diampu agar

dapat menekankan pendidikan karakter selama pembelajaran.

2. Pada dasarnya peserta didik dan pendidik adalah makhluk sosial, sehingga

dalam mendidik peserta didik, pendidik dan calon pendidik diharapkan

untuk memahami karakteristik matematika dan pendidikan karakter.

Ketika guru memahami keduanya, maka akan mempermudah guru dalam

mengaitkan pendidikan matematika dengan dunia sosial masyarakat,

dengan begitu peserta didik menyadari peranan pendidikan matematika

3. Dalam mendidik siswa, pendidik diharapkan mampu membimbing peserta

didik untuk berpikir kritis dan berkarakter baik agar tujuan dari

pendidikan karakter yang ditekankan dalam kurikulum 2013 mampu

memberikan sumbangan yang baik bagi pembangunan karakter manusia

84

DAFTAR PUSTAKA

Albertus, Doni Koesoema. 2012. Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius.

Hengki K. Ateng. 2013. Pengertian Pendidikan Karakter Secara Umum. http://hengkikristiantoateng.blogspot.com/2013/10/pengertian-pendidikan-karakter-secara-umum.html. Diakses tanggal 8 Juni 2014.

Johnson, Donovan A. 1972. Guidlines For Teaching Mathematics. Belmont: Wodsworth Publishing Co.

Listyarti, Retno. 2012.Pendidikan Karakter Dalam Metode Aktif, Inovatif, dan Kreatif. Yogyakarta: Erlangga.

Marpaung, Y. 2014. Moral Character. Yogyakarta:Dikumpulkan Dari Internet.

Martini. 2011. Pembelajaran Standar Proses Berkarakter. Jakarta: Prenada.

Mimin Aminah. 2012. Kecerdasan Emosional Membentuk Karakter.

http://makassar.tribunnews.com/2012/12/10/kecerdasan-emosional-membentuk-karakter-peserta-didik. Diakses tanggal 8 Juni 2014.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mu’in, Fatchul. 2013. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoretik dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Pengertian Ahli. 2014. Pengertian Kecerdasan. http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-kecerdasan-dan-jenis.html. Diakses tanggal 29 April 2014.

Stephen R. Covey. 1977. The Seven Habits of Highly Effective People.

https://www.google.com/search?q=the+seven+habits+of+highly+ef fective+people. Diakses tanggal 7 Juni 2014.

Sugiyono. 2012.Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfa Beta.

Tatang Herman. 2006. Membangun Pengetahuan Siswa Melalui

Pembelajaran Berbasis Masalah.

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIK A/196210111991011-TATANG_HERMAN/Artikel/mkalah2-taher.pdf. Diakses tanggal 8 Juni 2014.

Tim Penyusun Buku Panduan PPKM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2011. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Tohirin. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Depok: PT. Raja Grafindo Persada.

1. Transkrip Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Matematika

Ir. Elfi Ulfiati Sufaeroh, Perempuan, 47 tahun, Guru Matematika, SMA N 1 Parakan Temanggung.

Wawancara mendalam tentang sejauh mana Peran Pendidikan Matematika dalam Pembangunan Karakter Manusia Indonesia untuk peserta didik kelas XI IPA 4 di SMA N 1 Parakan Temanggung.

Keterangan:

P: Peneliti

G: Guru

Transkrip Wawancara

Wawancara Kamis, 14 Agustus 2014 pukul 11.00-12.00 WIB. P:“Selamat siang, Ibu. Sudah lama sekali tidak bertemu, Ibu apa kabar?”

G: Selamat siang mbak Susi. Saya kabar baik, sekarang dimana kok jarang ada kabar main ke sekolah?”

P: Saya melanjutkan ke Pendidikan Matematika di Sanata Dharma Jogja, Bu. Jadi kedatangan saya kesini, mau menindak lanjuti permohonan ijin saya melalui SMS kemarin untuk penelitian disini, Bu.”

G:“Oh iya, jadi mau meneliti tentang apa?”

P:“Sebenarnya sudah tidak asing untuk saat ini karena ada kaitan dengan kurikulum terbaru yang dipakai sekarang, tetapi saya fokus kepada pendidikan karakternya, Bu. Menindak lanjuti rasa penasaran saya mengenai pendidikan karakter di pendidikan matematika.”

G: Jadi mbak Susi nanti tidak mengajar di kelas? Saya pikir mau mengajar seperti yang biasanya dilakukan mahasiswa yang mau penelitian.”

P: Tidak, Bu. Mencoba sesuatu yang baru. Ibu, bagaimana pembelajaran matematika di sekolah ini selama ini?”

G:“Untuk yang sekarang ini agak berbeda dengan dulu jamannya kalian. Anak-anak jaman sekarang ini kok kurang gregetnya. Beda sama jaman kalian, kalau jamannya kalian kan kalau pelajaran meskipun sering bergurau tapi saat belajar matematika ya mau konsentrasi. Kalau sekarang itu, kalau belum disuruh belum mau mengerjakan.”

P:“Menurut Ibu penyebabnya apa, kira-kira?”

G:“Saya kok merasa mungkin karena pola pergaulan jaman sekarang. Mereka sudah mulai terkontaminasi sama alat-alat elektronik, informasi-informasi di media-media yang kurang bertanggung jawab dan sebagainya itu.”

P:“Bukannya di sekolah ini dilarang membawa alat komunikasi ya, Bu? Jaman saya dulu kan gitu.

G: Ya masih berlaku aturan itu. Tetapi kalau dirumah kan kita sebagai guru di sekolah tidak mengetahui bagaimana mereka menggunakan alat-alat itu, apakah bertanggungjawab atau tidak. Yang bisa kelihatan ya kalau di kelas, masih seneng asyik sendiri kalau dijelaskan.”

P: Apa mungkin metode, model, dan strategi pembelajaran di kelas yang membuat mereka kurang nyaman? Pernah terpikir begitu, Bu?”

G: Kalau saya sudah menggunakan model pembelajaran yang bagus itu, kadang-kadang tidak tahu namanya, karena ada banyak itu, salah satunya yang saya ingat yang kooperatif itu. Itu yang saya pakai. Saya rasa itu efektif untuk mereka.”

P: Pertimbangan menggunakan model kooperatif itu disesuaikan dengan respon siswa yang cenderung pasif, kurang bertanggung jawab ketika pembelajaran atau karena ada pertimbangan lainnya?”

G:“Kebanyakan guru disini menggunakan model kooperatif (berkelompok) tersebut guna membangun karakter anak seperti toleransi, jujur, kreatif, peduli sosial, dan bersahabat. Dengan berkelompok selama pembelajaran guru bisa melatih anak untuk bertanggung jawab dengan meminta anak mengerjakan hasil pekerjaan kelompoknya di depan kelas. Hal tersebut juga dilakukan untuk melatih anak percaya diri.”

P:“Ada hasilnya, Bu?”

G: Ada beberapa yang sudah tercapai, tapi sulit sekali membuat mereka mau maju ke depan kelas. Rasa percaya dirinya mereka masih kurang sekali. Saya curiganya begini, mungkin karena faktor lingkungan.”

P: Hanya itu saja, Bu yang belum tercapai dari keseluruhan karakter yang sudah disebutkan?”

P: “Ibu tadi curiga faktor lingkungan, maksudnya bagaimana, Bu?”

G: “Maksudnya begini, kami ini kan berada di kawasan pegunungan. Biasanya kalau orang dari desa seperti ini agak kurang pede kan? Mereka cenderung malu meskipun sudah dirangsang dengan kata-kata penguatan misalnya ‘gak papa maju saja, salah tidak apa-apa’,tapi tetap tidak mau maju ke depan kelas.”

P: “Mungkin tidak mau maju ke depan karena tidak yakin dengan jawaban mereka?” G: “Wong mereka itu sebenarnya pintar kok, nilai mereka bagus-bagus kalau ulangan. Ketika mereka ikut lomba juga hasilnya jarang mengecewakan, kan saya juga kebetulan yang selalu ditunjuk mendampingi anak kalau mau olimpiade dan sebagainya itu.”

P: “Apakah mungkin faktor kebiasaan mereka ketika di rumah atau di lingkungan kali ya, Bu?”

G: “Sepertinya begitu. Terbukti kan, misalnya seperti mbak Susi melanjutkan ke luar kota, pasti kelihatan kurang pede dibandingkan yang dari kota besar, mereka lebih

pedekan?”

P: “Iya juga, Bu. Saya juga ketika awal-awal kuliah minder juga. Kalau di luar kelas bagaimana, Bu?”

G: “Tingkah polah mereka ketika di luar kelas, sepengamatan saya ya begitu, santun, mencerminkan tingkah orang desa.”

P: “Karakter-karakter yang dikembangkan guru di kelas ada hasilnya, Bu?” G: “Kalau menurut saya, sudah.”

P: “Untuk kali ini sepertinya cukup dulu wawancaranya, Bu. Saya lanjutkan besok ya, Bu. Nanti saya kabari seperti biasa.”

G: “Iya, mbak. Kabari saja.”

Wawancara Sabtu, 16 Agustus 2014 pukul 11.50-13.00 WIB

P: “Selamat siang Ibu, kemarin sudh dibicarakan mengenai pembangunan karakter pada peserta didik, nah misal dari sana saya menyimpulkan bahwa metode, model, dan strategi pembelajaran itu selain berpengaruh pada hasil pencapaian nilai peserta didik juga berpengaruh pada kebiasaan hidup peserta didik pada kehidupan sosialnya. Iya atau tidak, Ibu ?”

G: “Iya, ya jelas kalau dalam pembelajaran, kita membiasakan anak saling bekerja sama kemudian bisa tampil di depan umum, terus bisa saling berbagi, ya to, untuk anak-anak yang pandai bisa menularkan ilmu pada temannya, terus anak yang kuran pintar juga mau bertanya kepada yang lebih pandai ya. Kemudian kalau yang pintar tadi sudah menguasai semua saya arahkan ke dia untuk mencari soal-soal sendiri, nanti kalau ada soal-soal yang dirasa sulit bisa ditanyakan kepada gurunya, jadi sebetulnya seperti pengayaan bagi yang sudah pintar ya bisa lebih dari yang lain gitu. Boleh misalnya peserta didik yang sudah menguasai bab-bab tertentu mempelajari bab-bab selanjutnya itu kalau sama saya gak apa-apa, maksud saya supaya mereka yang sudah pintar itu supaya jangan sama dengan yang standar-standar saja.”

P: “Kalau hal tersebut, berarti melatih mereka untuk mandiri ya, Bu?” G: “Iya.”

P: “Mencoba sesuatu yang baru secara mandiri ya, Bu?”

G: “Jaman dulu kala ada to yang semester satu malah sudah rampung materi semester dua.”

P: ”Disini ada program akselerasi, Bu?”

G: “Tidak ada. Tapi ada yang anak kelas satu sudah mempelajari pelajaran kelas dua, itu ada. Mereka sering nanya bagaimana caranya menyelesaikan soal yang kelas dua itu, saya senang kalau seperti itu. Jadi mereka sudah bisa lanjut terus tidak perlu mundur ke materi sebelumnya. Kalau jaman dulu-dulu itu bisa, tetapi sekarang ini kok belum ada yang seperti itu lagi.”

P: “Yang seperti itu angkatan tahun berapa, Bu?”

G: “Angkatan berapa ya, yang ada Eri Badriyah, itu mereka bisa jalan sistem seperti itu.”

P: ‘Oh itu angkatan kakak kelas saya, Bu. Dua tahun diatas saya.” G: “Untuk yang sekarang ini kok gak bisa ya seperti itu lagi.”

P: “Oh kalau setahu saya Bu, mbak Eri Badriyah itu kan les di luar sama Ibu Siti Fauzanah yang memang sistemnya ngebut seperti itu. Oh iya Bu, kemarin sudah disampaikan mengenai kecenderungan peserta didik di lingkungan yang seperti ini, di pedesaan seperti ini, itu kan mempengaruhi minat belajar peserta didik, seperti tidak percaya diri, apakah hal tersebut mempengaruhi tingkat pemahaman mereka dalam pembelajaran matematika?”

G; “Bukan tidak percaya diri, hanya belum percaya diri. Kalau dalam pemahaman tidak mempengaruhi. Mereka cenderung bisa sebenarnya, hanya saja untuk melatih

kemandiriannya itu yang kurang, misalnya seperti mencari soal-soal di luar dari yang saya sampaikan, itu yang susah. Hanya mengerjakan PR dari saya saja, tidak mengeksplor dari perpustakaan dan sebagainya.”

P: “Oh berarti kurang eksplorasi dan kurang ada greget dari dalam diri sendiri ya, Bu? Atau mungkin karena sistem pembelajarannya, Bu? Mungkin perlu merubah strategi?”

G: “Strateginya saya sejauh ini, sebetulnya sudah saya tekankan, kalau sudah merasa bisa dan sudah menguasai, mengerjakan PR itu kan sebetulnya hanya pengayaan, nah saya suruh mereka kalau sudah menguasai itu semua kalau bisa carilah sumber yang lain di internet atau di buko soal-soal yang lain. Sebetulnya sudah saya tekankan itu, tetapi kok belum jalan ya. Malah bertanya di kelas saja tidak seperti dulu, kalau dulu kan sering, kadang-kadang saya dicegat di luar kelas dan ditanya soal ini cara mengerjakannya bagaimana itu saya senang dan tidak masalah walaupun di luar jam pelajaran.”

P:“Kalau sekarang tidak terjadi lagi hal seperti itu?” G: “Iya, belum ada lagi.”

P: ‘Ada rencana untuk menekankan itu lagi, Bu?”

G: “Iya, iya, ada. Saya itu sampai bilang kalau gak bisa itu mbok tolong tanya saya, dimanapun saya ditanya saya mau. Maksud saya mereka yang bertanya, bukan saya yang meminta mereka gitu. Soalnya kalau saya yang minta berarti bukan inisiatif

mereka sendiri.”

P: “Lalu dalam pembelajaran di dalam kelas, kebiasaan apa saja yang diajarkan selain mandiri, kerjasama, dan sebagainya kemarin itu?”

G: “Kejujuran yang jelas. Misalnya kalau pas ulangan harian yang bentuknya uraian kan jarang sekali yang bisa nyontek, kalaupun nyontek pasti ketahuan. Kelihatan pada jawaban yang sama persis.”

P: “Ulangannya dalam bentukclosed bookya, Bu?” G: “Iyaclosed book, jarangopen book.”

P: “Kenapaclosed book, Bu?”

G: “Dengan closed book itu berarti saya bisa mengetahui pemahamannya sudah sampai sejauh mana gitu to. Saya belum menerapkan yangopen book, soalnya kalau

closed book kan soalnya hanya mengulangi yang sudah pernah diberikan. Sekarang ini hanya sebatas itu saja, apa yang saya sampaikan di kelas, ya itu yang saya jadikan bahan ulangan. Kalau dulu saya pernah berekspansi, jarang yang sudah saya

sampaikan kemudian saya keluarkan ketika ulangan, kalau dulu saya pasti pakai soal yang lain lagi. Ya kan? Untuk yang sesulit itu sudah saya turunkan grade-nya untuk saat ini.”

P: “Masih menggunakan lembaran-lembaran ringkasan seperti dulu yang Ibu ringkas sendiri itu, Bu?”

G: “Kadang masih saya pakai, soalnya saya bisa meringkas dari banyak materi pada banyak pertemuan, jadi dari banyak pertemuan bisa diringkas menjadi sedikit pertemuan. Mempertimbangkan waktunya saja, memungkinkan atau tidak.”

P: “Terus kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti itu, Bu, menurut Ibu itu efektif atau tidak terhadap peserta didik?”

G: “Sangat efektif, soalnya dengan misalnya kita menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang selanjutnya, kan istilahnya ada kesinambungan antara pelajaran yang kemarin dengan selanjutnya itu, istilahnya anak jadi tidak lupa. Misalnya ada satu soal bisa dikerjakan dengan A, B, C, D kan sudah terangkum semua. Hari ini menggunakan cara A, besoknya cara B kan kalau anak-anak susah memahami kalau sepotong-sepotong.”

P: “Lalu mengenai pendidikan karakter yang sekarang sedang dikembangkan pada kurikulum 2013 ini, menurut Ibu efektif atau tidak jika diterapkan pada pembelajaran matematika?”

G: “Ya, efektif.”

P: “Benar-benar berkembang atau tidak nilai-nilai pendidikan karakter itu?”

G: “Berkembang kok, karena ya kembali ke dunia sosial tadi, kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain, nah dari pembelajaran matematika di kelas itu kita bisa belajar karakter itu, karena anak-anak jaman sekarang itu kan cenderung individualis ya. Ketika di rumah berdiam diri di kamar, mainan handphone dan game, dan sebagainya itu, bahkan mungkin ada yang sama orang tua saja tidak dekat, apalagi sama sesama teman gitu. Nah dari situ kalau pas pembelajaran matematika dibuat berkelompok itu anak-anak menjadi biasanya gak langsung pulang malah mengerjakan tugas bersama di kelas.”

P: “Berarti itu terlihat di luar kelas pembelajaran matematika juga ya, Bu?” G: “Iya, he’em terlihat ketika di luar kelas.”

P: “Sejauh ini seberapa penting pendidikan karakter dalam pendidikan matematika menurut Ibu?”

G: “Oh ya sangat penting, matematika tanpa ada pembentukan karakter, biasanya kan anak-anak IPA, eh kok anak IPA, anak-anak yang oh ya yang biasa ke jurusan IPA ya yang matematikanya banyak itu, bisa dilihat kan anak-anaknya gak neko-neko. Misalnya tadinya mau anak yang bersangkutan mau ke arah yang tidak baik, gitu ya, saya lihat kok ternyata gak jadi nakal gitu lo. Mereka sudah mulai ikut konsentrasi, ikut memperhatikan pelajaran, ketika sama sesama teman pun mereka lalu merasa malu kalau hanya dia sendiri kok kurang bisa atau kurang pintar, ada kecenderungan malu gitu lo.”

P: “Jadi pengetahuan eksakta itu mempengaruhi mereka?”

G: “Iya, karena pikiran mereka menjadi logis. Mereka menjadi tidak bertele-tele, istilahnya ya berpikirnya menjadi logis.”

P: “Ketika pembelajaran di kelas, Ibu disini sebagai pembimbing, bagaimana Ibu menempatkan diri dalam membantu mereka mengembangkan karakter mereka selama pembelajarn matematika?”

G: “Eemm untuk anak-anak yang sudah bisa, eem istilahnya mengerti pelajaran matematika, misalnya anak-anak pinter justru tidak saya suruh maju, biasanya kan kalau kita lihat banyak kejadian di kelas yang ditunjuk cuma itu-itu saja, saya justru menghindari itu. Saya dulu pernah pertama kali masuk kesini diberi tahu sama guru yang saya gantikan itu anak-anak mana saja yang pintar, istilahnya kalau yang pinter yang mau disuruh maju gitu lo, kalau saya justru saya balik. Anak-anak yang pintar justru saya suruh mengajari anak-anak yang tidak pintar, jadi semuanya berpeluang untuk pandai. Tidak ada istilah anak bodoh, saya selalu menekankan tidak ada anak bodoh yang ada adalah anak kurang berminat atau kurang motivasinya gitu saja. Justru anak-anak itu saya berdayakan agar bisa aktif, kerap kali saya tunjuk maju. Apalagi anak-anak yang istilahnya benar-benar kearah mau nakal, mesti saya prioritaskan untuk aktif. Dengan begitu otomatis mereka terus malu kan, meskipun ketika maju saya tidak menghakimi, hanya mendampingi sejauh mana dia bisa menulis di depan, bilang ke mereka untuk pede saja di depan, sebisanya saja nanti kalau ada kesulitan baru saya ajari. Kendati begitu, semua anak berkesempatan untuk maju. Jadi setiap pelajaran di kelas selalu mesti ada giliran maju. Nah malah yang pintar-pintar itu nanti-nanti kalau misalnya tidak ada yang bisa sama sekali baru dia maju.”

P: “Ibu sebagai pembimbing, bukan sebagai hakim, begitu ya?”

G: “Oh iya jangan sampai begitu. Terus saya juga ngajari anak tidak pernah menerangkan dari awal sampai ke akhir, paling tidak saya hanya mengarahkan misalnya separuh atau sepertiga saja saya jelaskan dan selalu melibatkan pendapat anak. Dari situ, kalu kira-kira anak sudah paham maksudnya ya sudah saya selesaikan. Tapi tidak pernah dari awal sampai akhir hanya saya yang menuliskan

penjelasan. Dulu pernah ada yang protes, kok ibu hanya menerangkan separuh saja, lalu saya jawab biar kalian tahu prosesnya bagaimana sampai bawah atau sampai hasil akhirnya. Tetapi yang penting kan pengarahannya sudah ada. Maksudnya biar anak tahu alur dan garis besarnya gitu. Tidak terima jadi.”

P: “Mengajarkan kepada mereka agar mengerti proses ya, Bu, tidak hanya terima hasilnya saja?”

G: “Iya, begitu.”

P: “Yang nyantol di mereka kan jadinya caranya bukan hanya hasilnya ya?”

G: “Iya, caranya bukan hanya hasilnya. Jadi dengan begitu mereka bisa berpikir kritis. Saya selalu bilang ke mereka, kalau kalian hanya nyalin catatan berarti kalin tidak ada bedanya dengan anak SD, mereka kalau Cuma nyatat saja mampu. Ya kan?”

P: “Iya, Bu.”

G: “Kalau hal ini berkembang, kan vitaminnya otak itu kan dengan berpikir.”

P: “Ibu kemarin sempat bilang kalau masih ragu melakukan sesuatu agar mereka aktif?”

G: “Sebetulnya saya sudah melakukan berbagai cara. Setiap kelas kan lain. Ada yang aktif dengan cara berkelompok, seluruh kelompok maju bareng-bareng supaya tidak malu, kalau sudah mulai pede, baru saya imbau untuk maju satu-satu, baru teman kelompoknya ikut maju membenarkan kalau ada kesalahan saja. Lama kelamaan saya suruh anak maju sendiri dan tanpa membawa catatan kalau sudah benar-benar pede. Saya latih sedikit demi sedikit, jadi anak-anak benar-benar paham.”

P: “Saya kira cukup, Bu pembicaraan kita, mungkin Ibu berkenan membaca Bab 2 skripsi saya barangkali bermanfaat. Mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya, terimakasih.”

2. Transkrip Wawancara dengan Peserta Didik SMA N 1 Parakan Kelas XI IPA 4

Keterangan:

P : Peneliti

SISWA1 : Rindang Puspito Retno

SISWA2 : Muhammad Musa Abdurrohim

SISWA3 : Naufal Fais Maulidin

SISWA4 : Fauzi Danu Nugroho

Transkrip Wawancara

P: “Selamat siang, hari ini kita diskusi santai saja ya, saya sebagai penanya lalu sampaikan jawaban kalian sebaik mungkin. Ini diskusi mengenai pendapat kalian mengenai pembelajaran matematika yang selama ini kalian dapatkan selama di kelas ini.”

SISWA1: “Kok direkam mbak? Mau dilaporkan ke Bu Elfi, ya?”

P: “Bukan, ini saya pakai sebagai catatan hasil wawancara biar nanti bisa saya pelajari kembali. Seluruh pembicaraan ini tidak saya laporkan ke Bu Elfi, santai saja.”

SISWA3: “Jangan bilang ke Bu Elfi, mbak biar kita curhatnya bebas di sini.”

P: “Oke, gak kok. Tapi tiap pertanyaan dijawab serius ya.”

SISWA2: “Iya, mbak. Tapi santai ya biar gak tegang udah sore ini.” P: “Siap, nah kembali ke topik utama, matematika sulit gak buat kalian?”

SISWA1: “Ya tergantung orangnya kalau dasare seneng pasti kan awale harus seneng sama pelajarannya dulu to, mbak.“

SISWA2: “Tergantung orangnya, mbak. Kalau orangnya mau belajar ya gak sulit, kalau gak mau belajar ya sulit.”

SISWA3: “Kalau saya, ini masuk kurikulum baru jadinya sulit, mbak. Masalhanya jaman dahulu kala pas KTSP kan dijejel catatan saja, kalau sekarang harus mandiri, ya jadinya sulit dimengerti, susah nyari referensi, “

P: “Kalau matematika itu sulit sedangkan kalian kan masuk di jurusan IPA, itu

Dokumen terkait