BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat disarankan sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan boraks pada kurma dengan menggunakan metode atau instrument yang lain.
43 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, Riana. 2012, 26 Juli. Balai Besar POM Temukan Makanan Berformalin di Pasar Benhil. Koran Kompas.
Aji Nara Kusuma, Mochamad. 2009. Metabolisme Sari kurma pada Pasien Demam Berdarah Dengue: Studi Hematologis. Skripsi Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Biokimia Institut Pertanian Bogor.
Basset, J., Denny.R.C, Et.al,. 1994. Vogel- kimia Analisis kuantitatif anorganik. ed.IV. Jakarta: EGC, 809.
Biglari, Foroogh. 2009. Assessment Of Antioxidant Potential Of Date (Phoenix Dactylifera) Fruits From Iran, Effect Of Cold Storage And Addition To Minced Chicken Meat. Tesis Sekolah Industri Teknologi dan Sains Universiti Sains Malaysia.
Cahyadi, Wisnu. 2008. Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, ed.II. Jakarta: Sinar Grafika Offset, 5- 12, 253.
Day, Jr/ Al.Underwood. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif.Ed. IV. Jakarta: Penertbit Erlangga,383.
Departemen Kesehatan RI. 1999. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1168/MENKES/PER/X/1999. Tentang Bahan Tambahan Makanan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 49-50, 427-428.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 1061-1063.
Des Rosier, N. W,. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan , edisi III. Jakarta: UI Press, 76- 77.
Dreisbach, R.H. 1972. Handbook of Poisoning, 8th ed. Lange Medical Publication, Los Altos, California, 314- 315.
Elmatris ,Asterina, dan Endrinaldi. 2006. Identifikasi dan Penetapan Kadar Boraks pada Mie Basah yang Beredar di Beberapa Pasar di Kota Padang. Ringkasan Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Padang dan Labor Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
FAO. 1991. Manuals of Food Quality Control 1980,14/ 2 page 27/ Pearsons Composition and Analysis of Food 9th edn. Page 82.
Flanaga, R.J., Braithwaite, R.A. Brown,S.S., Widdop, B.,de Wolff, F.A. 1995. Basic AnalyticalToxicology, World Healt Organization. Geneval, 85.
FSSAI. 2012. Manual of Methods of Analysis of Food- Food Additives. Food Safety and Standards Authority of India Ministry of Health and Family Welfare Government of India, New Delhi. Page 48.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,463- 464.
Goodman, LS., Gilman,A. 1975. The Pharmacological Basis of Therapeutic 5th ed. Macmillan Publishing Co., Inc,NY , 994- 995.
Gossellin, R.E., Smith, Robert P., Hodge, H.C., Clinical Toxicology of Commercial Products, 5th ed London, 66- 68.
Haddad, L.M., Winchester, J.F. 1990. Borats on Clinical Management of Poisoning and Drug Overdose. WB Saunders Co. Philadelphia- London- Monueal- Toronto- Sydney- Tokyo; 1447- 1449.
Harmita. 2006. Analisis Kuatitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi. Jakarta: Departemen Farmasi FMIPA-Universitas Indonesia.
Nasution , Anisyah. 2009. Analisa Kandungan Boraks Pada Lontong di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan Tahun 2009. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.
Panjaitan, Labora. 2010. Pemeriksaan dan Penetapan Kadar Boraks dalam Bakso di Kota Madya Medan. Artikel Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 1168/Menkes/Per/X/1999 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.
Roth, H.J. 1979. Pharmaeutische Analytic. George thime Verlag. Sutgart. 22-23.
Rusli, Raisani. 2009. Penetapan Kadar Boraks pada Mie Basah yang Beredar di Pasar Ciputat dengan Metode Spektrofotometer UV- Vis Menggunakan Pereaksi Kurkumin. Skripsi Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta.
Sa’adah, Lailatus. 2006. Identifikasi Boraks dan Asam Borat pada Beberapa Jenis Mie yang Diperoleh dari Pasar Depok. Skripsi Penelitian FMIPA Departemen Farmasi Program Ekstensi Universitas Indonesia, Depok.
45
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiono, L., Pudjaatmaka, A.H. 1985. Vogel, Buku Teks Analisa Anorhanik Kualitatif Makro dan Semimakro dan Semimakro, ed. V. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka, 368.
Smith, Arthur H. 1916. Boric Acid Occurring Naturally in Some Foods. The Ohio Journal of Science. v17 n2, 66- 68. The Ohio State University's institutional repository.
Sunanringsasi, H. 2005. Kertas Celup Curcumin Suatu Cara yang Mudah dan Sederhana untuk Mendeteksi Boron dalam Makanan. Skripsi Farmasi FMIPA UI. 29- 30, 36.
Stankovik, Ivan. 2004. Curcumin Chemical and Techical Asesment (CTA). FAO, 61st JECFA.
Svehla,G. 1985. Vogel Analisis Anorganik Kualitatif ed.V. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.
Tafti, Golshan., dan M.H. Fooladi. 2006. A Study on the Physico-Chemical Properties of Iranian Shamsaei Date at Different Stages of Maturity. Agricultural Research Center of Kerman, Iran.
Triastutui, Endang., dkk. 2013. Analisa Boraks pada Tahu yang Diproduksi di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi Unsrat Vol.2 no.01. Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado.
USDA, Forest Service. 2006. Human Health and Ecological Risk Assessment for Borax. US Department of Agriculture.
Watson, David. 2007. Analisis Farmasi: Buku Ajar untuk Mahasiswa Farmasi Dan Praktisi Kimia Farmasi. Jakarta: EGC, 314-315.
Winarno, F.G. 1988. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Press, 224- 225.
Winarno, F.G. Sulistyowati, Titi. 1994. Bahan Tambahan untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 6-10, 104- 105, 108.
Yiu, Pang- Hung. 2008. Boric Acid Levels in Fresh Noodles and Fish Ball. American Journal of Agricultural and Biological Sciences 3 (2): 476-481, 2008 ISSN 1557-4989. Sarawak, Malaysia.
Lampiran 1. Sampel uji yang diperoleh dari pasar tanah abang yang bercirikan dan diduga mengandung boraks
Lampiran 2. Hasil uji kualitatif dengan uji warna nyala api
Uji nyala api serbuk boraks yang dibakar berwarna hijau.
a) b)
Uji nyala api pada larutan boraks a)1000 ppm dan b)100
47
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Uji nyala api pada salah satu
sampel kurma
Lampiran 4. Hasil identifikasi boraks dengan menggunakan kertas kurkumin
Uji warna dengan menggunakan kertas kurkumin pada kurma kontrol negatif.
Uji warna dengan menggunakan kertas kurkumin pada sampel kurma yang di sentrifuge
Uji warna dengan menggunakan kertas kurkumin pada sampel kurma yang diabukan.
49
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Lampiran 5. Nilai Absorbansi dan kurva kalibrasi larutan deret standard boraks yang diperoleh menggunakan spektrofotometer UV-Vis
Nilai absorbansi larutan deret standard boraks
Konsentrasi akhir (µg/ml)(x) Absorbansi (y)
0,2 0,121 0,4 0,192 0,6 0,246 0,8 0,318 1,0 0,397 1,2 0,444 1,6 0,585
Persamaan regresi linear: y= 0,0553 + 0,33x Dengan nilai koefisien korelasi (r)= 0,9991
Berikut adalah kurva kalibrasi larutan deret standard boraks Kurva kalibrasi larutan deret standar boraks
y = 0,3303x + 0,0553 R² = 0,9982 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0 0,5 1 1,5 2
Absorbansi
absorbansi Linear (absorbansi)Lampiran 6.Perhitungan nilai LOD dan LOQ dari deret standard boraks dengan y=0,0553+0,33x
Konsentrasi akhir
(µg/ml)(x) Absorbansi (y) y’ (y-y’)
2 0,2 0,121 0,121 0,009 x 10-5 0,4 0,192 0,187 2,209 x 10-5 0,6 0,246 0,253 5,329 x 10-5 0,8 0,318 0,319 1,690 x 10-5 1,0 0,397 0,385 14800 x 10-5 1,2 0,444 0,451 5,329 x 10-5 1,6 0,585 0,583 0,289 x 10-5 ∑ = 0,14813 Sb = = 0,172 LOD = = 1, 565 µg/ml LOQ = = 5,212 µg/ml
51
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Lampiran 7. Skema Pencampuran larutan boraks ke dalam kurma
Ditimbang tiap-tiap kurma sebanyak 5-gram sampel kurma yang bebas dari boraks
Diaduk hingga tercampur rata, lalu didiamkan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan pada suhu ruangan ± selama 24 jam
Ditambahkan minyak kelapa secukupnya untuk membantu melumuri boraks
0,5 mg boraks untuk 0,1 µg/mL
2,0 mg boraks untuk 0,4 µg/mL
4,0mg boraks untuk 0,8 µg/mL
5,0 mg boraks untuk 1,0 µg/mL
8,0 mg boraks untuk 1,6 µg/mL
0 boraks sebagai blangko Ditambahkan boraks (sesuai perhitungan)
pada masing- masing 5-gram sampel, sehingga didapatkan deret boraks dalam kurma
Lampiran 8. Absorbansi yang diperoleh dari simulasi kurma berboraks dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis
Konsentrasi (µg/ mL) Serapan (A)
0,1 0,107
0,4 0,197
0,8 0,329
1,0 0,382
1,6 0,572
Lampiran 9. Presentasi perolehan kembali simulasi kurma berboraks
Konsentrasi kurma
simulasi (µg/ mL) Serapan (A)
Konsentrasi yang diperoleh berdasarkan regresi linear
(µg/ mL) % UPK 0,1 0,107 0,156 156,67 % 0,4 0,197 0,430 107,35 % 0,8 0,329 0,830 103,67 % 1,0 0,382 0,990 99,00 % 1,6 0,572 1,566 97,86 %
Contoh perhitungan konsentrasi yang diperoleh berdasarkan regresi linear: Nilai serapan dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear y=0,0553+0,33x Serapan pada 0,4 µg/ml= 0,197
0,197 = 0,0553+0,33x X =
= 0,430
Maka nilai %UPK nya adalah %UPK =
%UPK =
53
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Lampiran 10. Perhitungan nilai LOD dan LOQ dari kurva kalibrasi yang menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis
Konsentrasi (x) Serapan (y) Y’ (y-y’)2
0,1 0,107 0,1064 3,6 x 10-7 0,4 0,197 0,1994 57,6 x 10-7 0,8 0,329 0,3234 313,6 x 10-7 1,0 0,382 0,3854 115,6 x 10-7 1,6 0,572 0,5710 3,6 x 10-7 ∑= 494 x 10-7 S (y/x)2 = ∑ = = 1,6467 10-5 S (y/x) = √ = LOD = = = 0,0392 µg/ mL LOQ = = = 0,1309 µg/ mL
Lampiran 5. Perhitungan presisi dan akurasi kurma simulasi Konsentrasi Sebenarnya (µg/ mL) Absorbansi (A) Konsentrasi berdasarkan pers.regresi (µg/ mL) UPK (%) (x) ̅ UPK (%) (x- ̅ ∑(x- ̅ 2 SD (%) KV (%) 0,4 0,197 0,392 98,00 97,51 0,2401 0,3753 0,4322 0,444 0,196 0,389 97,25 0,0676 0,196 0,389 97,25 0,0676 1,0 0,381 0,986 98,60 98,50 0,0100 0,06000 0,173 0,177 0,381 0,986 98,60 0,0100 0,380 0,983 98,30 0,0400 1,6 0,556 1,551 96,94 97,18 0,0576 0,0864 0,208 0,213 0,558 1,557 97,30 0,0144 0,558 1,557 97,30 0,0144 Rata-rata 97,73 0,271 0,278
55
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Cara perhitungan akurasi % UPK :
Persamaan garis regresi; Y= 0,0754 + 0,310x
Pada konsentrasi 0,4 µg/ml , diperoleh absorbansi sebesar 0,197 A Y = 0,0754 + 0,310x 0,197 = 0,0754 + 0,310x X = 0,392 µg/ml %UPK = Contoh pada 0,4 µg/ml =
Cara perhitungan presisi %SD dan %KV:
SD = √ ∑
KV = x100%
Contoh pada 0,4 µg/ml diperoleh ∑(x- ̅ 2
= 0,3753 SD= √ ∑ = = 0,4322 Maka, KV = = x 100% = 0,444
Lampiran 12. Absorbansi sampel kurma menggunakan spektrofotometer UV-Vis Sampel Absorbansi (y) Kadar µg/ml (x) Kadar rata-rata µg/ml Kadar µg/gram A 0,500 1,370 1,370 278,95 0,500 1,370 C 0,499 1,367 1,367 273,30 0,499 1,367 D 0,206 0,421 0,421 84,25 0,206 0,421 F 0,250 0,563 0,568 113,60 0,253 0,573 G 0,332 0,828 0,831 116,20 0,334 0,834 H 0,480 1,305 1,303 260,70 0,479 1,302 J 0,256 0,583 0,581 116,25 0,255 0,579 K 0,522 1,441 1,441 288,15 0,522 1,441 L 0,943 2,799 2,796 559,10 0,941 2,792
Perhitung kadar dari µg/ml ke µg/gram: =
=
57
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Lampiran 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1168/Menkes/Per/X/1999 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1168/Menkes/Per/X/1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Kesehatan No.722/Menkes/
Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.
BAHAN TAMBAHAN YANG DILARANG DIGUNAKAN DALAM MAKANAN
1. Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya
2. Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt) 3. Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC)
4. Dulsin (Dulcin)
5. Kalium Klorat (Potassium Chlorate) 6. Kloramfenikol (Chloramphenicol)
7. Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils) 8. Nitrofurazon (Nitrofurazone)
9. Formalin (Formaldehyde)
10. Kalium Bromat (Potassium Bromate)
MENTERI KESEHATAN,