• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3. Teori Pecking Order

2.1.7 Leverage Bersifat Procyclicality

mempunyai terlalu banyak pinjaman atau utang akan menyebabkan bank menjadi overleveraged karena bank tidak dapat memenuhi untuk membiayai neraca bank.

Menurut Adrian dan Shin (2010) hubungan antara leverage bank dan aset berkolerasi positif karena aktivitas manajemen neraca yang aktif dengan diikuti perubahan ekuitas. Ketika nilai ekuitas naik karena peningkatan harga di pasar keuangan, maka menyebabkan rasio leverage menurun. Jika manajemen neraca bank aktif dan meningkatnya kewajiban non ekuitas dalam proses perbankan akan meningkatkan kewajiban atau utang baru yang merupakan investasi kedalam aset yang baru.

2.1.7 Leverage Bersifat Procyclicality

Procyclical dalam teori bisnis dan keuangan adalah setiap kuantitas

ekonomi yang berkolerasi positif dengan keadaan ekonomi secara keseluruhan, artinya setiap kuantitas yang cenderung meningkat dalam ekspansi dan cenderung menurun dalam resesi perkembangan diklasifikasikan sebagai procyclical. Harga saham juga bersifat procyclical karena cenderung meningkat ketika ekonomi tumbuh dengan cepat.

Basel Committee memperkenalkan leverage ratio dengan definisi yang luas

dari total aset dan konservatif modal. Sebagai ukuran tambahan Basel II risk-besed framewrok (BCBS 2009). Manfaat diaplikasikan leverage ratio sebagai

tambahan alat prudensial. Penggunaan leverage ratio ini bertujuan untuk mikro dan makroprudensial sebagai batas pengukuran keuangan yang maksimum. Rasio ini merupakan indikator untuk memantau kerentanan atau pemicu untuk

28 meningkatkan pengawasan modal berdasarkan basel II sesuai dengan persyaratan modal. Peraturan mikroprudensial perlu dilengkapi oleh regulasi makroprudensial yang akan melancarkan siklus kredit (FSA:2009, Adritzkt,dkk:2009). Rasio leverage bersifat fleksibel untuk digunakan sebagai alat kebijakan makro atau

mikroprudensial dan sebagai instrumen countercyclical. perubahan harga aset di neraca akan meningkatkan ekuitas dari sistem keuangan, sebagai persentasi dari total aset. Bank yang memiliki manajemen neraca yang aktif akan menghasilkan leverage yang rendah. Sebaliknya apabila harga aset bank menurun dan ekuitas

bank akan jatuh maka leverage cenderung meningkat. Leverage bank akan naik ketika kondisi ekonomi booming dan leverage akan turun ketika kondisi ekonomi krisis. Dengan demikian leverage bersifat procyclical. Hal ini dikarenakan total ekuitas perbankan sangat sensitif terhadap harga aset.

Perbankan yang tergantung pada wholesale funding untuk mendanai kegiatan investasinya akan menyebabkan leverage bersifat procyclical. Procyclicality tidak berpengaruh pada bank-bank komersial yang tidak

menggunkan wholesale funding dalam sistem pendanaannya. Perubahan procyclical ini dapat terjadi pada likuditas bank dalam pendanaan jangka pendek.

Dimana likuiditas pasar diukur sebagai perubahan volume perdagangan repo dan volume commercialpaper. Khususnya penggunaan wholesale funding menyebabkan procyclicality yang tinggi ketika likuiditas pasar juga tinggi. Ketika pasar keuangan tidak likuid, bank yang menggunakan wholesale funding akan kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan leverage dengan cepat.

29 2.1.8 Wholesale Funding dan Retail Deposit

Wholesale funding digunakan untuk mempertahankan tingkat likuiditas dan

untuk menyediakan sumber dana yang berkomitmen untuk memungkinkan masyarakat memenuhi kewajibannya bahkan di dalam kondisi ekonomi yang sulit. Adanya wholesale funding untuk menyesuaikan aset yang likuid yang didanai. Wholesale funding merupakan sumber dana pihak kedua karena dana diperoleh

dari pasar uang antar bank melalui pasar modal dengan menerbitkan surat berharga jangka panjang. Sedangkan retail deposit adalah penyedia layanan oleh bank kepada nasabah. Layanan yang ditawarkan bank meliputi tabungan dan rekening transaksi, hipotik, pinjaman pribadi, kartu debit, dan kartu kredit. Retail deposit ini merupakan sumber dana pihak ketiga karena dana berasal dari

masyarakat.

Leverage yang bersifat procyclicality dapat juga dipengaruhi oleh wholesale

funding yang digunakan dalam manajemen keuangan bank. Dalam perbankan

terdapat dua sumber dana yaitu: wholesale funding dan retail deposit (Damar, dkk : 2013). Perbedaan bank yang menggunakan wholesale funding dan retail deposit dapat dijelaskan sebagai berikut, dimana bank A menggunakan wholesale funding sedangkan bank B menggunakan retail deposit.

Bank A Bank B

Assets Liabilities Assets Liabilities

Total Assets 220 Retail deposit 0 Wholesale Funding 200 Equity 20 Total Assets 220 Retail deposit 200 Wholesale Funding 0 Equity 20

Dari neraca di atas dapat diketahui leverage ratio setiap bank, leverage ratio tersebut dapat dihitung dengan L= A/E, dimana L: Leverage, A: Total Assets, dan

30 E: Equity. Maka leverage ratio kedua bank 220/20 = 11. Apabila kedua bank menaikan nilai aset dan ekuitasnya sebesar $10. Peningkatan aset dan ekuitas ini disebabkan oleh kenaikan harga sekuritas dipasar keuangan yang dapat dilihat dari ekuitas bank (Adrian dan Shin:2010). Maka perubahan neraca dapat dilihat,

Bank A Bank B

Assets Liabilities Assets Liabilities

Total Assets 230 Retail deposit 0 Wholesale Funding 200 Equity 30 Total Assets 230 Retail deposit 200 Wholesale Funding 0 Equity 30

Dari neraca diatas maka leverage ratio kedua bank tersebut sebesar 230/30 = 7,67. Bank menginginkan untuk mempunyai manajemen yang aktif untuk meningkatkan neraca perbankan dengan meningkatkan nilai investasinya. Dengan demikian bank yang menggunakan sumber dana dari wholesale funding merupakan bank yang mempunyai reputasi yang tinggi, serta bank lebih cepat dalam menyusuaikan leverage ratio. Bank yang menggunakan wholesale funding akan terbentuk leverage yang bersifat procyclicality yang tinggi. Misalkan bank A mengunakan sumber dana dari wholesale funding maka bank akan memperoleh kenaikan aset sebesar $100 dari pembelian aset atau surat berharga. Sedangkan bank B yang menggunakan sumber dana retail deposit hanya dapat mengumpulkan dana sebesar $80 dikarenakan bank yang menggunakan retaildeposit akan lebih lama dalam mengumpulkan dananya di bandingkan

dengan bank yang menggunkan wholesale funding. (Damar, dkk :2013)

Bank A Bank B

Assets Liabilities Assets Liabilities

Total Assets 330 Retail deposit 0 Wholesale Funding 300 Equity 30 Total Assets 310 Retail deposit 280 Wholesale Funding 0 Equity 30

31 Dari neraca terebut maka leverage ratio bank A sebesar 330/30 = 11, dan leverage ratio bank B sebesar 310/30 =10,33. Dari perhitungan leverage ratio antara kedua

bank tersebut dapat disimpulkan bahwa bank yang menggunakan wholesalefunding akan lebih cepat dalam menyesuaikan leverage ratio suatu bank

dikerenakan bank dapat memperoleh dana lebih cepat dan leverage bersifat procyclicality yang tinggi.

Dokumen terkait