BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini :
1. bagi pihak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, perlu dilakukan penambahan
waktu monitoring peresepan dan penggunaan obat alergi oleh apoteker di
Bangsal Rawat Inap Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta supaya
program Pharmaceutical Care dan Patient Safety dapat terwujud.
2. bagi pihak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, perlu kerjasama yang baik
antara dokter, apoteker, dan perawat dalam merencanakan dan melaksanakan
program terapi pasien.
3. bagi peneliti selanjutnya, perlu komunikasi yang baik antara peneliti dengan
dokter, apoteker, perawat, dan pasien selama melakukan penelitian secara
prospektif untuk menggali informasi yang lebih baik.
Anonim, 2007, MIMS Petunjuk Konsultasi, Edisi VII, 93, 161-168, 364-372, PT
Info Master, Jakarta Selatan, Indonesia
Cohen, M.R., 1999, Causes of Medication Error, in Cohen, M.R., (Ed.),
Medication Error, Part 1, 1.1, American Pharmaceutical Association,
Washington, D.C
Davies, R., 2003, Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada ALERGI, 7-21, Dian
Rakyat, Jakarta
Dwiprahasto, Kristin, 2008, Bagian Farmakologi dan Toksikologi/Clinical
Epidemiology & Biostatistics Unit, Fak. Kedokteran UGM/RS. Dr.
Sardjito Yogyakarta, Masalah dan Pencegahan Medication Error,
http://www.dkkbpp.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&i
d=132, diakses tanggal 15 Mei 2008.
KepMenKes Nomor 1207/MENKES/SK/IX/2004, Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta
Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug
Information Handbook, 14
thed., 442-444, 650, 1039-1040, 1347-1348,
Lexi-comp, Ohio.McGraw-Hill Co., New York
Mansjoer, S., 2003, Mekanisme Kerja Obat Antiradang, Fakultas Kedokteran
Bagian Farmasi Universitas Sumatera Utara,
http://library.usu.ac.id/download/fk/farmasi-soewarni.pdf, diakses pada
tanggal 9 Januari 2009
NCCMERP, 1998, Taxonomy of Medication Errors,
http://www.NCCMERP/pdf/taxo2001-07-31, diakses tanggal 15 Mei
2008.
Pratiknya, A.W., 1986, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan, CV Rajawali, Jakarta
Rovers, J.P., Currie, J.D., Hagel, H.P., McDonough, R.P., and Sobotka, J.L., 2003,
A Practical Guide to Pharmaceutical Care, 2
nded., American
Pharmaceutical Association, Washington
Strand, L.M., Morley, P.C., and Cipolle, R.J., 1998, Pharmaceutical Care
Practice, 82-83, McGraw-Hill Co., New York
Strand, L.M., Morley, P.C., and Cipolle, R.J., 2004, Pharmaceutical Care
Practice : The Clinican’s Guidep, 2
nded., 173-178, Mc Graw Hill, Inc.,
London
Suhadi R., Patramurti C., Widayati A., Linawati Y., 2007, Evaluasi Patient Safety
Terapi dengan Sediaan Racikan pada Pasien di Bangsal Anak RS
Bethesda Juli-Agustus 2007 (Kajian Farmasetik, Kimia Analitik,
Farmasi Klinik), Laporan Penelitian, Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.
Tatro, D.S. (Ed), 2001, Drug Interaction Facts, 376, Facts&Comparison, Wolters
Kluwer, St. Louis.
Tietze, K.J., 2004, Clinical Skills for Pharmacists, A Patient-Focused Approach,
2
nded., Mosby, St. Louis
Rangkuman Hasil Wawancara Apoteker Rawat Inap Bangsal Kelas III
RS Bethesda Yogyakarta
No. Pertanyaan Jawaban
1
Seberapaa pentingkah issue medication error bagi Anda sebagai apoteker?
Penting, terapi dengan obat memerlukan ketelitian. Issue ME sebagai perhatian yang penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat terapi
2
Bagaimana pendapat Anda selaku seorang apoteker jika apoteker terlibat dalam memonitor penggunaan obat?
Diperlukan
3
Apakah Anda melakukan monitoring terhadap penggunaan obat pasien? Jika iya, sejauh mana monitoring yang Anda lakukan?
Ya.
4
Apakah Anda memperhatikan adanya :
• interaksi obat
• dosis (besar, lama dan
frekuensi pemberian, obat harus habis atau tidak habis) • kontraindikasi
• efek samping
dari obat yang diresepkan oleh dokter selama obat digunakan oleh pasien (di bangsal)?
Ya.
5
Kepada siapa informasi tentang penggunaan obat untuk pasien yang dirawat di bangsal rawat inap? Apa saja informasi yang diberikan?
Ya, bila memungkinkan kepada pasien dan keluarganya, atau kepada yang menunggu pasien setiap hari di RS. Nama obat dan indikasi, cara pakai/aturan minum, frekuensi, penyimpanan, efek samping yang mungkin timbul atau hal-hal lain yang diperlukan
6
Bagaimana sistem/cara penyaluran obat hingga obat sampai kepada pasien?
Resep diterima farmasi, interpretasi resep, validasi, negosiasi harga/ kemampuan pasien, etiket, koreksi, penyerahan, konseling.
Rangkuman Hasil Wawancara Dokter Rawat Inap Bangsal Kelas III
RS Bethesda Yogyakarta
Jawaban No. Pertanyaan
Dokter A Dokter B Dokter C
1 Seberapa pentingkah issue medication error bagi Anda sebagai dokter? Berikan alasan anda. Sangat penting, karena : Banyak terjadi di RS, dan merupakan bagian dari risiko pelayanan dari prescribing hingga dispensing sehingga akan mudah terjadi kesalahan.
Penting sekali. Tugas dari dokter adalah mendiagnosa, yang kemudian terkait dengan terapi. Medication error merupakan bagian dari terapi, dimana terapi berhubungan langsung dengan pasien. Sangat penting, karena harus 7 tepat ( indikasi, pasien, dosis obat, waspada efek samping, cara, dan harga)
2 Bagaimana pendapat dokter jika apoteker terlibat dalam memonitor penggunaan obat? Sangat berterimakasih dan setuju. Error terjadi karena tulisan yang tidak jelas dan kurangnya informasi. Bukti farmasi klinis jika ada apoteker maka error akan turun.
Setuju, karena mereka lebih belajar lebih rinci mengenai obat Harus seperti memonitoring obat (PMO = pengawas minum obat) 3 Apakah Anda memperhatikan adanya interaksi obat, dosis (besar, lama dan frekuensi pemberian, obat harus habis atau tidak habis) dan kontraindikasi selama obat digunakan oleh pasien (di bangsal) pada saat melakukan monitoring terhadap pasien? Dipertimbangkan, tetapi tidak tahu interaksi obat ( tidak hafal ) hanya tau yang umum-umum saja.
Rangkuman Hasil Wawancara Perawat Rawat Inap Bangsal Kelas III
RS Bethesda Yogyakarta
1. Seberapa pentingkah issue medication error bagi Anda sebagai perawat?
Perawat Jawaban
Perawat A
Sangat penting, karena berkaitan dengan nyawa pasien. Kalau obat salah, perawat maupun farmsis kena imbasnya. Jika pasien menuntut urusan panjang.
Perawat B
Penting sekali. Ada kaitan dengan patient safety, memberikan obat : memberikan racun. Pemberian obat juga harus sesuai dengan prinsip 10 benar.
Perawat C Penting. Karena pengobatan merupakan salah satu faktor penunjang kesembuhan pasien. Perawat D Penting sekali, karena dampaknya pada pasien sangat besar, efeknya berat. Perawat E Penting sekali, demi keamanan pasien, karena dapat membahayakan pasien jika keliru. Perawat F Penting, karena berhubungan kepada pasien, kita harus tahu tujuan dan alasan biar kita tidak salah kepada pasien. Perawat G Penting. Agar lebih hati-hati dan lebih teliti dalam memberikan obat kepada klien. Perawat H Sangat penting untuk meningkatkan ketelitian.
Perawat I
Sangat penting, karena bila terjadi akan berakibat fatal atau bisa
memperlambat kesembuhan pasien sehingga akan memperpanjang waktu rawat inap.
Perawat J Penting, karena issue ME bisa menyebabkan atau merugikan pasien bahkan bisa fatal.
Perawat K Penting karena berpengaruh pada kesehatan pasien.
Perawat L Sangat penting. Menyangkut nyawa pasien, harus mematuhi 5B /6B. Perawat M Sangat penting. Karena kita bisa tau bahayanya, bisa lebih bertindak
hati-hati.
Perawat N Penting sekali. Karena akibatnya fatal kalau ada kesalahan
2. Bagaimana pandangan perawat jika apoteker terlibat dalam memonitor penggunaan obat?
Perawat Jawaban
Perawat A
Bagus, karena dapat mengurangi beban perawat. Untuk obat-obatan apoteker lebih tahu mengenai efek samping obat, waktu penggunaan, jam pemberian, indikasi, interaksi obat, dll.
Perawat B
Sangat setuju.Karena ada fungsi kontrol dalam tindakan keperawatan khususnya pemberian obat, sehingga dapat saling mengingatkan. Dalam prakteknya masih banyak kesalahan dalam pemberian obat oleh perawat sehingga dibutuhkan fungsi kontrol satu-sama lain baik apoteker maupun perawat.
Perawat C
Setuju.Hal itu bisa untuk mementau pemberian obat dari dokter kepada pasien, sehingga akan benar-benar tahu obat yang diberikan kepada pasien. Antara dokter dan apoteker ada komunikasi terkait obat yang
diberikan.Disamping itu apoteker juga bisa menjadi sarana untuk ngomong masalah pengobatan kepada dokter.
Perawat D
Pekerjaan perawat menjadi lebih ringan karena obat-obatan mudah tercover (meminimalisir kesalahan). Kalau perawat ngurusi obat selain repot juga kurang menguasai (apoteker lebih mengetahui mengenai konraindikasi, interaksi, dll).
Perawat E
Bagus lebih bisa mencek obat, asal tahu batasan-batasan pekerjaannya agar tidak mengganggu perawat.
Perawat F
Bagus dan sangat mendukung, karena meminimalkan kesalahan-kesalahan dan pemberian obat bias maksimal sesuai dengan kapasitasnya.
Perawat G
Setuju. Meringankan aktivitas perawat di ruangan, seperti dalam membagi dan mengecek obat.
Perawat H Sangat bagus
Perawat I
Setuju, dengan adanya keterlibatan apoteker maka penggunaan obat benar-benar termonitoring, di samping itu pekerjaan perawat yang multifungsi jadi bisa terbantu dalam monitoring obat.
Perawat J Setuju Perawat K Sangat setuju
Perawat L Bagus, sangat bagus (kalau dikelas iya). Karena apoteker memang yang tau tentang obat.
Perawat M Lebih senang. Karena apoteker ikut mengawasi dan membantu melihat obat (tidak Cuma melihat FIO saja). Apoteker membagi-bagi obat lebih baik. Perawat N Lebih baik. Farmasis bisa mengontrol obat-obat, dimana letak
kesalahannya, monitor efek samping obat.
3. Informasi apa sajakah yang Anda dapatkan dari apoteker pada saat pengambilan obat? (pada saat rawat inap)
Perawat Jawaban
Perawat A Kadang-kadang mengenai penyimpanan di kulkas, dietiket sesudah ayau sebelum makan. Perawat B Hanya klarifikasi jumlah obat, cek nama obat.
Perawat C Cara penyimpanan, aturan pakai.
Perawat D Aturan pakai tapi tidak pernh mendetail, karena ada tertulis di kemasa (untuk secara lisan tidak ada). Perawat E
Jarang dijelaskan, karena dianggap sudah tahu (perawat), namun kalau obat-obat tertentu misalnya kemoterapi baru dijelaskan.
Perawat G
Kadang tidak ada, karena sudah sering di berikan dan umum digunakan. Kalau adapun berupa informasi obat misalnya aturan pemakaian dan efek samping
Perawat H Pemakaian dengan dosis yang tepat, cara pemakaian obat, waktu pemberian obat. Perawat I 0
Perawat J Jarang ketemu.
Perawat K Cara pemakaian / pemberian obat. Perawat L
Jarang ada (lebih banak jarangnya). Kadang-kadang hanya sitostatika. Perawat M Tidak ada informasi.
Perawat N Kadang-kadang. Dalam penyimpanan, pemakaian.
4. Apakah Anda memberikan informasi penggunaan obat terhadap pasien? Jika iya, informasi apa saja yang Anda berikan?
Perawat Jawaban
Perawat A Ya, Informasi mengenai indikasi, nama obat, waktu minum obat.
Perawat B
ya,Informasi yang diberikan berupa dosis, cara minum obat (sblum atau setelah makan), sebelum tidur/malam hari, car penggunaan (mis sublingual, tidak boleh digerus).
Perawat C
Waktu penggunaan (sebelum/setelah makan), obat-obatan yang bila perlu, obat-obat antibiotik yang aturan minumnya per berapa jam (mis tiap 8 jam, dll).
Perawat D Ya, informasi yang diberikan sesuai dengan aturan obat (misalnya obat diberikan 1 jam sebelum makan), interaksi obat (tapi yang sederhana saja). Perawat E Iya. Efek samping, cara minum, harus dihabiskan (untuk AB), serta harus sesuai aturan pakai. Perawat F Iya. Aturan pakai, cara pemberian (sebelum atau sesudah makan) dan jika obat habis segera kontrol.
Perawat G
Iya. Fungsi obat, aturan minum, cara minum, kalau meminum obat harus memakai air putih, jika obat habis harus kontrol dan harus rutin
mengkonsumsinya dan tidak boleh ada selah (untuk OAT). Perawat H Ya, waktu kapan obat diminum, cara pemakaian obatnya. Perawat I Tidak, tetapi kadang-kadang iya.
Perawat J Dosis pemberian obat, cara pemakaian, cara minum obat (sebelum/sesudah/saat makan ), reaksi setelah minum obat. Perawat K Ya. Cara minum obat, efek samping minum obat, guna obat.
Perawat L Ya. Sebelum/sesudah makan, indikasi obat, ½ jam sebelum makan untuk obat muntah.
Perawat M Iya. Indikasi obatnya.
5. Apakah Anda mengecek ulang trlebih dahulu obat untuk pasien sebelum menyerahkannya?
Perawat Jawaban
Perawat A Ya
Perawat B Selalu dicek dulu. Setiap ganti shift pasti dicek, setelah dicek sudah enar jumlah dan pasiennya maka langsung diberikan. Perawat C Ya, dicek melalui DPO, dicek obatnya juga, semua obat. Pagi, cek untuk
pagi dan siang. Sore, cek sambil membagikan. Perawat D Ya, lihat dari FIO/DPO, disesuaikan/dicocokkan. Perawat E Iya. Perawat F Iya. Perawat G Iya. Perawat H Iya. Perawat I Iya. Perawat J Iya. Perawat K Iya. Perawat L Iya.
Perawat M Iya. Nama pasien, nama obat. Perawat N Ya. Nama obat, aturan pakai, dosis.
6. Apabila terdapat pasien yang tidak memenuhi aturan pakai obat, apa yang Anda lakukan?
Perawat Jawaban
Perawat A Merayu/membujuk pasien supaya mau minum obat.
Perawat B Beri edukasi tentang pemberian obat. Jika pasien ada kendala, ber tahu apotekernya.
Perawat C Beri tahu cara pemakaian obat lagi.
Perawat D Memberi tahu bahwa obat tersebut harus diminum, jika tidak diminum akan menghambat proses penyembuhan, dan akan menjadi tidak efektif (menegur).
Perawat E Ditegur, kemudian dilbilangin tentang efek obat dan akan sulit sembuh. Perawat F Dikasih tahu kembali aturan pakai obat. Kalau pasien merasa tidak dapat
mengkonsumsi sendiri, perawat dapat membantu dan ditungguin sampai diminum.
Perawat G Menegur, kemudian diterangkan lagi tentang manfaat dan khasiat obat. Perawat H Kita berikan sendiri atau diberi pengarahan.
Perawat I Tidak ada.
Perawat J Memberikan informasi akibat-akibat bila tidak memenuhi aturan pakai dan menganjurkan untuk minum obat yang benar.
Perawat K Memberi tahu kalau kepatuhan minum obat adalah untuk kepentingan pasien (kesembuhan).
Perawat L Dinasehati. Dievaluasi mengapa tidak mematuhi aturan pakainya Perawat M Terserah mereka, yang penting sudah memberi tahu.
7. Pada saat Anda memberikan obat kepada pasien, apakah Anda menunggu/melihat hingga pasien menggunakan semua obatnya?
Perawat Jawaban
Perawat A Kadang-kadang menunggu. Meminumkan jika pasien tidak bisa minum, kalau bisa minum sendiri, obat diminum sendiri. Perawat B Tidak selalu. Klo obatnya digerus maka ditunggui.
Perawat C
Sering disaat pasien tidak ada keluarga yang menunggu. Jika ada yang menunggu, keluarga yang dipasrahi dalam memastikan obat sudah diminum oleh pasien.
Perawat D Menuggu, kadang-kadang semua diminumkan.
Perawat E Iya, ditungguin atau bahkan diminumkan, kecuali jika pasien tidak mau ditungguin, maka perawat akan meninggalkan ruangan. Perawat F Ditungguin hingga terminum.
Perawat G
Iya ditungguin, bahkan kalau bisa diminumkan. Namun terkadang pasien bilang ke perawat bahwa dia akan meminum obat sebentar lagi sehingga perawat tidak memantau penggunaan obat tersebut.
Perawat H Kadang ya, kadang tidak. Perawat I Ya.
Perawat J Ya.
Perawat K Kadang-kadang ya
Perawat L Tergantung situasi dan tenaganya. Kalau pasien banyak, ditinggal saja, soalnya ramai.
Perawat M Ya. Langsung diminumkan. Perawat N Diminumkan.
8. Apakah Anda sering menemukan obat pasien yang ketinggalan di bangsal? Kalau iya, apa yang Anda lakukan?
Perawat Jawaban
Perawat A
Kadang-kadang (terutama jika obat yang sudah distop). Ditelepon kalau masih digunakan oleh pasien. Dijadikan 1 dengan obat-obat stok (untuk obat yang telah distop).
Perawat B Ada pernah tapi jarang.
Perawat C Pernah, menelpon pasien tetapi juga tergantung dari jumlah obat, misalnya tertinggal ½ tablet, tidak usah ditelpon/disusulkan. Perawat D Pernah tapi tidak terlalu sering. Menghubungi pasien/keluarga sedapat
mungkin.
Perawat E Iya terutama sirup. Dihubungi jika ada telp dan kalau tidak bisa mengambilnya maka perawat akan mengantar ke rumah.
Perawat F Sering ketinggalan di kotak obat, kalau di ruangan jarang. Kalau ada nomor telepon perawat telepon, jika tidak ada perawat antar ke rumah.
Perawat G
Kadang-kadang. Menghbungi pasien atau keluarga untuk mengambil obat, kalau pasien tidak bisa datang, perawat yang akan membawa kerumah. Kebanyakan obat yang ketinggalan disebabkan karena proses lama di farmasi, sehingga pasien tidak betah untuk menunggu.
Perawat H
Tidak sering, bahkan sangat jarang, tapi pernah ada yang ketinggalan biasanya kalau alamatnya ada dan mudah dijangkau kita akan antar ke rumah klien.
Perawat I Tidak.
Perawat J Ya, pernah dulu saya telpon humas lalu minta antar ambulance diantar sampai rumah. Pernah juga menelpon keluarganya untuk ambil ke ruangan. Perawat K Jarang.
Perawat L Jarang. Perawat M Tidak.
Perawat N Sering. Ditunggu kalau kontrol lagi Kalau rumahnya dekat, diantar atau ditelepon.
9. Apakah Anda pernah menjumpai obat yang kemungkinan sengaja dibuang atau
disembunyikan oleh pasien? Jika iya, apa yang Anda lakukan?
Perawat Jawaban
Perawat A Tidak.
Perawat B Belum pernah lihat. Perawat C Belum pernah.
Perawat D Ada, ditegur (jika ada keluarganya diberi tahu).Kadang-kadang ada yang disembunyikan keluarganya juga.
Perawat E
Tidak, karena diminumkan. Kecuali obat syrup (OBH), dimana efek sampingnya malah membuat batuk, hal ini yang menyebabkan pasien jarang meminum sesuai aturan.
Perawat F Belum pernah. Perawat G
Ada, namun perbandingannya jarang. Jika pasien masih di rawat di bangsal, maka perawat akan menegur dan menerangkan kembali fungsi obat.
Perawat H Tidak pernah (di RS jiwa sering).
Perawat I Ya, bila memberikan obat langsung diminum kan supaya pasien tidak menyembunyikan atau membuang.
Perawat J Ya, memberi informasi akibat bila tidak memenuhi aturan pakai dan menganjurkan untuk minum obat yang benar.
Perawat K Tidak.
Perawat L Sering. Dinasehati.
Perawat M Banyak. Sengaja ditaruh dilaci. Tidak melakukan apa-apa. Perawat N Jarang, karena diminumkan langsung, hampir tidak pernah ada.
Daftar Nama Obat Alergi di Bangsal Rawat Inap Kelas III RS Bethesda
Yogyakarta Periode Agustus – September 2008
Golongan Nama Generik Nama Paten
terfenadine Rhinofed® loratadine Claritin® cetirizine diHCl Histrine® Antihistamin fexofenadine HCl Telfast® OD Somerol® Medixon® methylprednisolone Hexilon® Kortikosteroid dexamethasone Kalmethasone®
Subyektif, Obyektif, Penatalaksanaan, Penilaian, dan Rekomendasi Pasien
Rawat Inap Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan
Obat Alergi Periode Agustus – September 2008
Kasus 1
Subyektif
Bapak B, nomor RM 00-63-84-46, usia 57 tahun, dirawat di RS selama 10 hari karena keluhan 1 bulan sesak nafas (sakit untuk bernafas).
Diagnosa sementara : obstruksi dyspnea → kanker paru. Diagnosa utama : tumor paru kanan.
Obyektif
Pemeriksaan tanggal 7/8
Pengukuran Hasil Keterangan Nilai normal
Lekosit (ribu/mmk) 10,42 4.10 - 10.90 Eosinofil (%) 1,1 0 - 5.0 Basofil (%) 0,4 0 - 2.0 Segmen (%) 80,0 47.0 - 80.0 Limfosit (%) 11,2 Rendah 13.0 – 40.0 Monosit (%) 7,3 2.0 – 11.0 SGOT (u/l) 26 0 – 37.0 SGPT (u/l) 17 0 – 41.0 Suhu (0C) Sekitar 36,5
Tekanan darah (mm Hg) Sekitar 130/80
Nadi (kali/menit) Sekitar 100
Respirasi (kali/menit) Sekitar 24
Penatalaksanaan
Terapi nonparenteral : AP caps (3x1), DMP (3x1), Lasix (1x1), Aspar K (2x1), Adona F (3x1), Ofloxacin 400 mg (2x1).
Terapi parenteral : Somerol 125 mg (2x125 mg) selama 12 hari.
Penilaian
Penggunaan methylprednisolone untuk kasus sesak nafas (inflamasi) menurut literatur adalah 10 – 40 mg dalam beberapa menit dan diulang pada interval tertentu tergantung pada respon. Pada kasus ini, penggunaan methylprednisolone (Somerol®) sekali injeksi adalah 125 mg. hal ini menyebabkan dosis yang terlalu tinggi. Pemberian selama 12 hari untuk kasus sesak nafas akan menimbulkan akumulasi obat karena terapi jangka panjang. DTP yang riil terjadi : dosis terlalu tinggi.
Rekomendasi
Penggunaan methylprednisolone (Somerol®) secara parenteral untuk kasus sesak nafas (inflamasi) perlu diturunkan dalam range 10 – 40 mg dan frekuensinya ditingkatkan. Durasi terapi dengan methylprednisolone perlu dibatasi.
Kasus 2
Subyektif
Bapak DS, nomor RM -96-03-58, usia 78 tahun, dirawat di RS selama 12 hari karena keluhan sudah 4 hari sesak nafas dan batuk (dahak tidak bisa keluar).
Diagnosa sementara : COPD, pneumonia. Diagnosa utama : COPD, bronchopneumonia.
Obyektif
Pemeriksaan tanggal 13 Agustus 2008
Pengukuran Hasil Keterangan Nilai normal
Lekosit (ribu/mmk) 13,9 Tinggi 4.10 - 10.90
Suhu (0C) Sekitar 37
Tekanan darah (mm Hg) Sekitar 110-180/70-110
Nadi (kali/menit) Sekitar 100
Respirasi (kali/menit) Sekitar 24
Pemeriksaan tanggal 18, 21, 23 Agustus 2008 Hasil Pengukuran 18/8 21/8 23/8 Nilai normal Lekosit (ribu/mmk) 14,8 (Tinggi) 18,4 (Tinggi) 13,8 (Tinggi) 4.10 - 10.90 Penatalaksanaan
Terapi nonparenteral : Bisolvon (3x2 cth), Accolate (2x1), Meptin 0,05 mg (3x ¼), Enzyplex (2x1), Prosogan (1x1), Somerol 4 mg (2x1) selama 2 hari, Cetirizine 10 mg (1x1) selama 1 hari.
Terapi parenteral : Ceftriaxon (2x1), Sopiron (2x1 gram), Somerol 125 mg (4x125 mg) selama 2 hari, Somerol 125 mg (3x125 mg) selama 4 hari, Somerol 125 mg (2x125 mg) selama 2 hari.
Terapi inhalasi : Combivent dan Flixotide 4x sehari.
Penilaian
• Penggunaan methylprednisolone (Somerol®) 4 mg (2x1) secara oral selama 2 hari sudah sesuai dengan aturan pemakaian yang lazim yaitu 4 – 48 mg per hari.
• Penggunaan cetirizine 10 mg (1x1) selama 1 hari sudah sesuai dengan aturan pemakaian yang lazim yaitu 1 tablet 1 kali per hari.
• Penggunaan methylprednisolone untuk kasus sesak nafas (inflamasi) menurut literatur adalah 10 – 40 mg dalam beberapa menit dan diulang pada interval tertentu tergantung pada respon. Pada kasus ini, penggunaan methylprednisolone (Somerol®) sekali injeksi adalah 125 mg. Hal ini menyebabkan dosis yang terlalu tinggi. Pemberian selama 8 hari untuk kasus sesak nafas akan menimbulkan akumulasi obat karena terapi jangka panjang.
DTP yang riil terjadi : dosis terlalu tinggi.
Rekomendasi
Penggunaan methylprednisolone (Somerol®) secara parenteral untuk kasus sesak nafas (inflamasi) perlu diturunkan dalam range 10 – 40 mg dan frekuensinya ditingkatkan. Durasi terapi dengan methylprednisolone perlu dibatasi.
Kasus 3
Subyektif
Bapak H, nomor RM 00-91-30-88, usia 73 tahun, dirawat di RS selama 9 hari karena keluhan sesak nafas, pusing dan badan terasa panas. Pernah dirawat pada tahun 2004. Riwayat alergi terhadap udara dingin, debu, asap.
Diagnosa sementara : - Diagnosa utama : COPD.
Obyektif
Pemeriksaan tanggal 3 Agustus 2008
Pengukuran Hasil Ket Nilai normal
Lekosit (ribu/mmk) 26,9 Tinggi 4.10 - 10.90
Basofil (%) 0,3 0 - 2.0
SGOT (u/l) 32,7 0 – 37.0
SGPT (u/l) 28,4 0 – 41.0
Suhu (0C) Sekitar 36,5
Tekanan darah (mm Hg) Sekitar 140/90
Nadi (kali/menit) Sekitar 90
Respirasi (kali/menit) Sekitar 24 Pemeriksaan tanggal 6, 7 Agustus 2008
Hasil Pengukuran 6/8 7/8 Nilai normal Lekosit (ribu/mmk) 28,20 (Tinggi) 19,90 (Tinggi) 4.10 - 10.90 Penatalaksanaan
Terapi nonparenteral : Parasetamol 500 mg (3x1), Avelox 400 mg (1x1), Mucopect (3x1 cth), Dekstromethorphan (3x1), Neurobion 5000 (1x1), Methycobal 250 (3x1).
Terapi parenteral : Rantin 50 mg/2 ml (2x1), Ceftazidime (2x1 gram), Somerol 125 mg (2x125 mg) selama 7 hari.
Terapi inhalasi : Combivent dan Flixotide 3x4 sehari.
Penilaian
Penggunaan methylprednisolone untuk kasus sesak nafas (inflamasi) menurut literatur adalah 10 – 40 mg dalam beberapa menit dan diulang pada interval tertentu tergantung pada respon. Pada kasus ini, penggunaan methylprednisolone (Somerol®) sekali injeksi adalah 125 mg. Hal ini menyebabkan dosis yang terlalu tinggi. Pemberian selama 7 hari untuk kasus sesak nafas akan menimbulkan akumulasi obat karena terapi jangka panjang.
DTP yang riil terjadi : dosis terlalu tinggi.
Rekomendasi
Penggunaan methylprednisolone (Somerol®) secara parenteral untuk kasus sesak nafas (inflamasi) perlu diturunkan dalam range 10 – 40 mg dan frekuensinya ditingkatkan. Durasi terapi dengan methylprednisolone perlu dibatasi.
Kasus 4
Subyektif
Bapak P, nomor RM 00-49-33-80, usia 85 tahun, dirawat di RS selama 4 hari karena keluhan terjadi mimisan dan belum sembuh.
Diagnosa sementara : Epistaxis dan hipertensi.
Diagnosa utama : Epistaksis, rhinitis kronis, hipertensi.
Obyektif
Pemeriksaan tanggal 23 Agustus 2008
Pengukuran Hasil Ket Nilai normal
Lekosit (ribu/mmk) 1,2 Rendah 4.10 – 10.90
Eosinofil (%) 7,0 Tinggi 0 – 5.0 Basofil (%) 1,4 0 – 2.0 Segmen (%) 56,2 47.0 – 80.0 Limfosit (%) 27,7 13.0 – 40.0 Monosit (%) 7,7 2.0 – 11.0 SGOT (u/l) 21,9 0 – 37.0 SGPT (u/l) 11,2 0 – 41.0 Suhu (0C) Sekitar 36,5
Tekanan darah (mm Hg) Sekitar 110-130/60-100
Nadi (kali/menit) Sekitar 88
Respirasi (kali/menit) Sekitar 22
Penatalaksanaan
Terapi nonparenteral : Captopril (2x1), Kalnex (3x1), Amdixal (3x1), Lapimox (3x1), Climadan (3x1), Rhinofed (3x1 ) selama 4 hari, Histrine 10 mg (1x1) selama 3 hari. Terapi parenteral : Kalnex (3x500), Dycinon (2x1), Adona (50 mg/infus).
Penilaian
Penggunaan Rhinofed (3x1) selama 4 hari sudah sesuai dengan aturan pemakaian yang lazim yaitu 1 -2 tablet 3 kali per hari.
Pemakaian Histrine 10 mg (1x1) selama 3 hari sudah sesuai dengan aturan pemakaian yang lazim yaitu 1 tablet per hari.
Rekomendasi
Kasus 5
Subyektif
Bapak S, nomor RM 01-92-03-50, usia 66 tahun, dirawat di RS selama 6 hari karena