V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Status hara K dapat dipertukarkan pada tanah sawah di Pulau Jawa di 23 lokasi contoh yang diambil bervariasi mulai dari rendah hingga tinggi. Menurut kriteria Puslittanak (1992), dari 23 lokasi contoh yang diambil terdapat 9 lokasi berstatus Kdd rendah, 8 lokasi berstatus Kdd sedang, dan 6 lokasi berstatus Kdd
tinggi. Di Jawa Barat dari 7 lokasi terdapat 2 lokasi berstatus Kdd rendah, 3 lokasi berstatus Kdd sedang, dan 2 lokasi berstatus Kdd tinggi. Di Jawa Tengah dari 11 lokasi terdapat 4 lokasi berstatus Kdd rendah, 4 lokasi berstatus Kdd sedang, dan 3 lokasi berstatus Kdd tinggi. Di Jawa Timur dari 5 lokasi terdapat 3 lokasi berstatus Kdd rendah, 1 lokasi berstatus Kdd sedang, dan 1 lokasi berstatus Kdd tinggi.
Berdasarkan nilai rata-rata pada setiap provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berstatus Kdd sedang.
Kadar Kdd, Ktdd, dan Kt pada setiap lokasi dan jenis tanah tidak berbeda nyata. Jawa Tengah memiliki nilai rata-rata kadar Kdd dan Ktdd tertinggi secara berturut-turut adalah 0.50 cmol+ kg-1 dan 0.83 cmol+ kg-1. Jawa Barat memiliki nilai rata-rata kadar Kt tertinggi sebesar 0.26%. Jawa Timur memiliki nilai rata-rata kadar Kdd, Ktdd, dan Kt terendah secara berturut-turut adalah 0.30 cmol+ kg-1, 0.32 cmol+ kg-1, dan 0.08%. Inceptisols memiliki nilai rata-rata kadar Kdd dan Kt
tertinggi sementara Vertisols memiliki nilai rata-rata kadar Ktdd tertinggi sedangkan Ultisols memiliki nilai rata-rata kadar Kdd, Ktdd, dan Kt terendah.
Pemupukan K di Pulau Jawa bervariasi yang dapat dilihat dari standar deviasinya yang tinggi pada hasil analisis kadar K-dapat dipertukarkan, K-tidak dapat dipertukarkan, dan K-total. Hasil menunjukkan bahwa kadar K-dapat dipertukarkan, K-tidak dapat dipertukarkan, dan K-total relatif sangat bervariasi untuk itu manajemen pemupukan K yang berbeda pada setiap provinsi harus diimplementasikan.
5.2. Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut respon tanaman terhadap pemupukan K dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk memverifikasi data status hara K
29
tanah sawah pada penelitian ini. Untuk penelitian selanjutnya, pengambilan contoh tanah sawah diharapkan diambil dalam jumlah yang sama atau hampir sama pada setiap provinsi.
Hara K dalam tanaman padi lebih banyak terdapat dalam jerami padi, Sekitar 80% K yang diserap tanaman berada dalam jerami. Jerami padi berpotensi sebagai pengganti pupuk anorganik K. Oleh karena itu, pengembalian jerami padi hasil panen harus dikembalikan ke dalam lahan sawah untuk meningkatkan efisiensi pemupukan K terutama pada lahan sawah yang mempunyai status K rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih JS. 1984. Beberapa faktor terhadap penyediaan kalium tanah sawah daerah Sukabumi dan Bogor [disertasi]. Bogor: Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Arifin, HF Perkin, dan KH Tan. 1973. Potassium fixation and reconstitution of micaceous structures in soils. Soil Sci 116: 31-35.
Balai Penelitian Tanah. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Barus J dan Andarias. 2007. Status hara fosfor dan kalium lahan sawah Kabupaten Lampung Tengah. J Tanah dan Lingk 9(1): 16-19.
Brady NC. 1990. The Nature and Properties of Soils. 10th ed. New York:
Macmillan Publishing Company.
Dobermann A dan T Fairhurst. 2000. Rice: Nutrient Disorders and Nutrient Management. Canada: IRRI-PPI-PPIC.
[FAO]. 1998. Word reference base for soil resourch. World Soil Resources Report 84. Rome: FAO.
[FDALR] Federal Departement of Agriculture Land Resources. 2004. Soil tested based fertilizer recommendation for extension workers national: Special Programme for Food Security. J Abuja Nigeria 22-23.
Goulding KWT. 1987. Potassium fixation and release. Prosiding Of the Colloquium of the International Potash Institute 20: 137-154.
Hardjowigeno S, H Subagyo, ML Rayes. 2004. Morfologi dan klasifikasi tanah sawah. Hlm. 1 dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.
Havlin JL, JD Beaton, SL Tisdale, WL Nelson. 1999. Soil Fertility and Fertilizers. An Introduction to Nutrient Management. 6th ed. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.
Janke W. 1992. Role of potash toward yield of food crops in Asia countries.
Hlm. 163-180 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan. Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.
Karama AS, Sri Adiningsih, M Supartini, M Sediarso, A Kasno, T Prihatini.
1992. Peranan pupuk kalium dalam peningkatan produktivitas lahan pertanian di Indonesia. Hlm. 9-48 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan.
Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.
31
Kirkman JH, A Basker, A Surapaneni, AA Macgregor. 1994. Potassium in the soils of New Zealand a review. New Zealand Journal of Agricultural Research 37: 207-227.
Leiwakabessy FM, UM Wahjudin, Suwarno. 2003. Kesuburan Tanah.
Bogor: Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
[LPT] Lembaga Penelitian Tanah. 1977. Peta status kadar K tanah sawah Jawa Madura Skala 1 : 1.000.000. Soil Sci 149: 44-51.
Metson AJ. 1980. Potassium in New Zealand soils. Departement of Scientific and Research. New Zealand Soil Bureau report 38: 61.
Nurwadjedi. 2011. Indeks keberlanjutan lahan sawah untuk mendukung penataan ruang: studi kasus di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor:
Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Odjak M. 1992. Effect of potassium fertilizer in increasing quality and quantity of crop yield. Hlm. 94-104 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan.
Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.
Oviasogie PO dan AE Aghimien. 2011. Fractionation of potassium in soil cultivated to the oil palm (Eleais guineensis jacq). Nig. J.Life Sc. 1 1: 74-78.
Partohardjo S, M Ismunadji, G Soepardi. 1977. Penentuan areal persawahan di Jawa yang memerlukan pupuk kalium. Simposium I. Peranan Hasil Penelitian Padi dan Palawija dalam Pembangunan Pertanian Maros, 26-29 September 1977. Lembaga Pusat Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
[Puslittanak] Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1992. Status kalium dan peningkatan efisiensi pemupukan KCl pada tanah sawah di Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam Setyorini, JS Adiningsih, Rochayati S. 2003. Uji Tanah Sebagai Dasar Penyusunan Rekomendasi Pemupukan. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Rachim A. 1995. Pembinaan Uji Tanah Hara Makro N, P, K, S, Ca, Mg.
Bahan Penelitian Pembinaan Uji Tanah dan Analisis Tanaman.
Bogor.
Ravoniarijaona M. 2009. Aplikasi asam oksalat dan Fe pada Vertisol dan Alfisol terhadap pertumbuhan dan serapan K tanaman jagung [tesis].
Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Rayes ML. 2000. Karakteristik, genesis, dan klasifikasi tanah sawah berasal dari bahan volkan merapi [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
32 Schroeder D. 1974. Relationship between soil potassium and the K nutrition of the plant. Prosiding The Congress of The International Potash Institute 10: 53-63.
Situmorang R dan Untung S. 2001. Bahan Kuliah Tanah Sawah. Bogor:
Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Soepardi G dan M Ismunadji. 1987. Harkat kalium tanah dan pemakaian pupuk kalium di Indonesia dalam Diagnosis dan Perbaikan Kahat Kalium Pada Tanaman Utama. Hlm. 53-59. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Sofyan A, Nurjaya, A Kasno. 2004. Status hara tanah sawah untuk rekomendasi. Hlm. 83 dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.
Sudjadi M, JS Adiningsih, DW Gill. 1985. Potassium availability in soils of Indonesia. In 19th. Coll of the Int’l. Potash Inst.: 157-168 dalam Diagnosis dan Perbaikan Kahat Kalium Pada Tanaman Utama.
Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Suwardi dan H Wiranegara. 2000. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Bogor:
Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Tisdale SL, WL Nelson, JD Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizer. 10th ed. New York: Macmillan.
[USDA] United States Departement of Agriculture. 2010. Keys to Soil Taxonomy. 10th ed. Natural Resources Conservation Service.
LAMPIRAN
34 Tabel Lampiran 1. Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di
Pulau Jawa
Nama Lokasi Lokasi Elevasi
(m) S E Karawang 06°16' 25.0" 107°17' 08.7" 31 Jatisari 06°21' 26.4" 107°32' 36.9" 45 Pamanukan 06°16' 43.4" 107°50' 39.2" 22 Indramayu 06°24' 57.7" 108°16' 33.2" 23 Palimanan 06°40' 52.3" 108°25' 32.6" 28 Cicalengka 07°06' 07.3" 108°06' 09.6" 785 Cikarawang 06°33' 05.1" 106°44' 22.4" 195 Brebes 06°52' 32.5" 109°03' 46.6" 19 Suradadi 06°52' 24.2" 109°15' 02.0" 23 Batang 06°58' 39.3" 109°53' 39.1" 178 Kendal 06°56' 29.5" 110°14' 36.1" 19 Demak 06°55' 46.7" 110°32' 38.7" 16 Jekulo 06°48' 07.8" 110°56' 02.7" 29 Jogjakarta 07°49' 49.3" 110°27' 21.4" 103 Borobudur 07°34' 39.0" 110°15' 01.8" 318 Kutoarjo 07°43' 26.4" 109°52' 20.5" 23 Karanganyar 07°37' 36.1" 109°33' 55.4" 22 Buntu 07°35' 24.2" 109°15' 07.3" 18 Bojonegoro 07°08' 14.3" 111°48' 47.9" 40 Tambak Rejo 07°15' 54.7" 111°35' 10.9" 79 Nganjuk 07°33' 56.7" 111°50' 34.3" 74 Jombang 07°31' 48.1" 112°15' 24.8" 39 Ponorogo 07°51' 53.2" 111°27' 17.3" 112
35
Tabel Lampiran 2. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai Penelitian Tanah (2009)
Parameter Tanah
Nilai sangat
rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi
Tabel Lampiran 3. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kdd Pada Setiap Lokasi Sumber
Perlakuan 2 0.140 0.070 0.39 0.682
Galat 20 3.582 0.179
Total 22 3.722
Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.4232
Tabel Lampiran 4. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ktdd Pada Setiap Lokasi Sumber
Perlakuan 2 1.266 0.633 1.60 0.227
Galat 20 7.913 0.396
Total 22 9.178
Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.6290
36 Tabel Lampiran 5. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kt Pada Setiap Lokasi Sumber Standar Deviasi (SD) : 4.083
Tabel Lampiran 6. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kdd Pada Setiap Jenis Tanah
Perlakuan 2 0.391 0.195 0.17 0.330
Galat 20 3.331 0.167
Total 22 3.722
Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.4081
Tabel Lampiran 7. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ktdd Pada Setiap Jenis Tanah
Perlakuan 2 1.079 0.539 1.33 0.286
Galat 20 8.100 0.405
Total 22 9.178
Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.6364
37
Tabel Lampiran 8. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kt Pada Setiap Jenis Tanah
Sumber Keragaman
Derajat Bebas
Jumlah Kuadrat
Kuadrat
Tengah F Hitung P
Perlakuan 2 0.1397 0.0699 2.93 0.077
Galat 20 0.4770 0.0238
Total 22 0.6167
Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.1544
38 Gambar Lampiran 1. Peta Tanah Pulau Jawa Skala 1:1.000.000 (Sumber: BSDLP, Departemen Pertanian, Indonesia)
39
Gambar Lampiran 2. Sebaran Status Hara Kalium Pada Tanah Sawah di Pulau Jawa (Puslittanak 1992)
40 Gambar Lampiran 3. Sebaran Status Hara Kalium Pada Tanah Sawah di Pulau Jawa (FDALR 2004)