• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik spektra fluoresens pada daging ayam, kambing serta tikus.

72

“Halaman ini sengaja dikosongkan”

73

DAFTAR PUSTAKA

AAK.1995. Practical Guide of Cattle Farming. Kanisius, Yogyakarta.

Adams, K. A. dan Lawrence, E. K. 2015. Research Methods, Statistics and Applications. SAGE Publications Inc., California.

Al-Kahtani, H.A., Ismail, E.A., Asif Ahmed, M., 2017. Pork Detection in Binary Meat Mixtures and Some Commercial Food Products Using Conventional and Real-Time PCR Techniques. Food Chem. 219, 54–60.

Blakely, J., dan Bade, D. H. 1998. Ilmu Peternakan Edisi Keempat. Penerjemah : Srigandono, B. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Chamdi, A. N. 2005. Karakteristik Sumberdaya Genetik Ternak Sapi Bali (Bos-bibos) Banteng dan Alternatif Pola Konservasinya. Biodiversitas. 6, 70-75.

Day, R. A. , J. dan A.L.U., 2002. Analisis Kimia Kuantitatif.

Erlangga, Jakarta.

Duarte, R.T., Carvalho Simões, M.C., Sgarbieri, V.C., 1999.

Bovine Blood Components: Fractionation, Composition, and Nutritive Value. J. Agric. Food Chem. 47, 231–236.

Fajardo, V., González, I., Rojas, M., García, T., dan Martín, R.

2010. A Review of Current PCR-Based Methodologies for The Authentication of Meats from Game Animal Species.

Trends in Food Science and Technology. 21, 408-421.

FAO (Food and Agriculture Organization). 2007. Composition of

Meat. Tersedia pada

http://www.fao.org/ag/againfo/themes/en/meat/backgr_comp osition.html

Gesa, E.Y.E., Kurniawan, F., 2016. Spektra Fluorosens Darah Golongan A dan B dalam Pelarut Metanol dan Etanol. J.

Sains Dan Seni ITS 5.

74

Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta : Kanisius.

Howell, N. K., dan Lawrie, R. A. 1983. Functional Aspects of Blood Plasma Proteins. I. Separation and Characterization. J.

Food Technol. 18, 747-762.

News.detik.com, diakses pada 21 Maret 2018, pukul 11.40 WIB.

Khopkar, S. M. dan Saptorahardjo, A., 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.

Komariah R. S. dan Sarjito. 2009. Sifat Fisik Daging Sapi, Kerbau, dan Domba pada Lama Postmortem yang Berbeda.

Buletin Peternakan. 33, 183-189.

Kriger, O. V. 2014. Advantages of Porcine Blood Plasma as A Component of Functional Drinks. Foods and Raw Materials.

2, 26-32.

Kuswandi, B., Gani, A.A., Ahmad, M., 2017. Immuno Strip Test for Detection of Pork Adulteration in Cooked Meatballs.

Food Biosci. 19, 1–6.

Lawrie, R. A. 2003. Ilmu Daging Edisi Kelima Terjemahan Aminuddin Parakkasi. UI Press, Jakarta.

Lynch, S., Mullen, A., O’Neill, E., Garcia, C. 2017. Harnessing the Potential of Blood Protein as Blood Protein as Functional Ingredient : A Review of the State of the Arti n Blood Processing. Food Science and Food Safety. 16, 331-344.

Mayasari, N. 2007. Memilih Makanan Halal. Qultum Media,

Appl. Phys. Res. 5. doi:10.5539/apr.v5n1p1

Qordhowi, Yusuf. 2007. Halal dan Haram dalam Islam, Diterjemahkan oleh Tim Kuadran dari Halal wal Haram fil Islam. 67-68.

75

Rastogi, S. C. 2007. Essential Of Animal Physiology Edisi 4.

New Age International (p) Limited Publishers, New Delhi . Salasia, S. I., dan Hariono, B. 2010. Patologi Klinik Veteriner.

Samudra Biru, Yogyakarta.

Seu, K.J., Pandey, A.P., Haque, F., Proctor, E.A., Ribbe, A.E., Hovis, J.S. 2007. Effect of Surface Treatment on Diffusion and Domain Formation in Supported Lipid Bilayers.

Biophys. J. 92, 2445–2450.

Skoog, D. A., West, D. M., Holler, F. J. dan Crounch, S. R. 2013.

Fundamentals of Analytical Chemistry, Ninth Edition.

Brook/Cole, USA.

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Soeprapto, H., dan Abidin, Z. 2006. Cara Cepat Penggemukan Sapi Potong. PT. Agromedia Pustaka.

Syahputra, M. Y., dan Kurniawan, F. 2017. Karakterisasi Flouresens Golongan Darah A+ (Rhesus Positif) dan A -(Rhesus Negatif). Skripsi Kimia ITS, Surabaya.

Walpole, R. E. dan Myers, R.H. 1990. Probability and Statistics for Engineers and Scientists. MacMillan Publishing Company, New York.

Wijaya, Yoga Permana. 2009. Fakta Ilmiah tentang Keharaman Babi. Jawa Barat. (http://duniadownload.com/ebook-gratis-

agama-religi/ebook-fakta-ilmiah-tentang-keharaman-babi.html)

Williams, L.J. dan Abdi, H., 2010. Fisher’s Least Significant Difference (LSD) Test. Encycl. Res. Des. 218, 840–853.

Wismer-Pedersen, J. 1979. Utilization of Animal Blood Meat Products. Food Techol. 33, 76-80.

Zoski, C. G. (2007). Handbook of Electrochemistry, Elsevier.

76

“Halaman ini sengaja dikosongkan”

77

Dicampurkan dengan perbandingan H2SO4 : H2O2 (3:1)

Dicuci

Dibilas dengan aqua DM Dikeringkan

LAMPIRAN

LAMPIRAN A. Skema Kerja Pencucian Peralatan Gelas

Larutan H2SO4 98% Larutan H2O2 30%

Larutan Piranha Peralatan Gelas

Peralatan gelas yang telah dicuci dengan larutan piranha

78 Preparasi Sampel Darah

-Diencerkan dalam labu ukur 100 mL

20 µL darah sapi Aqua DM

Larutan darah stok

- Diambil 5 µL

- Diencerkan dalam labu ukur 100 mL dengan aqua DM Larutan sampel encer

79 Preparasi Sampel Daging

-Diaduk 5 menit 10 g daging sapi 50 mL aqua DM

Daging sapi + aqua DM

- Disaring

Residu Filtrat

- Diambil 20 µL

- Diencerkan dalam labu ukur 100 mL dengan aqua DM

Larutan stok

- Diambil 5 µL

- Diencerkan dalam labu ukur 100 mL dengan aqua DM

Larutan sampel encer

80 Preparasi Sampel Daging Campuran

-Diaduk 5 menit

Daging sapi Daging babi

- Dipotong kecil-kecil - Dicampur

Daging campuran 50 mL aqua DM

Daging campuran + aqua DM

- Disaring

Residu Filtrat

- Diambil 20 µL

- Diencerkan dalam labu ukur 100 mL dengan aqua DM Larutan stok

- Diambil 5 µL

- Diencerkan dalam labu ukur 100 mL dengan aqua DM Larutan sampel encer

81 Keterangan

Variasi massa daging sapi dan babi : Daging Sapi

(g)

Daging Babi (g)

9,95 0,05

9,9 0.1

9 1

8 2

7 3

82

Pengujian Larutan Sampel Menggunakan Spektrofotometer Fluoresens

Keterangan :

Larutan Sampel = darah Sapi Bali, darah Babi Yorkshire,daging Sapi Bali, daging Babi Yorkshire dan daging campuran

- Diuji fluoresensi menggunakan spektrofotometer fluoresens

- Setiap sampel diukur sebanyak 5 kali Larutan sampel encer

Data

83

LAMPIRAN B. Data Jenis Kelamin Sapi dan Babi Sapi Bali :

Pengambilan pertama : jantan Pengambilan kedua : jantan Pengambilan pertama : jantan

Babi Yorkshire

Pengambilan pertama : betina Pengambilan kedua : betina Pengambilan ketiga : betina

84

LAMPIRAN C. Tabel Hasil Uji Anova dan Uji LSD

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi pertama darah Sapi Bali ke-1 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 1 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance Column 1 5 1500,5 300,1 0,05

Column 2 5 1501 300,2 0,08

Column 3 5 1500 300 0

ANOVA Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,1 2 0,05 1,2 0,3349 3,8853 Within

Groups 0,5 12 0,0417

Total 0,6 14

Pada Tabel C. 1 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-1.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

( )√

85 = 2,178 . √

= 0,2813

Tabel C. 2 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmax

puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-1.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi kedua darah Sapi Bali ke-1 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 3 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 3022 604,3 0,325

Column 2 5 3025 604,9 0,05

Column 3 5 3023 604,5 0,25

86 ANOVA

Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,9333 2 0,4667 2,24 0,1491 3,8853 Within

Groups 2,5 12 0,2083

Total 3,4333 14

PadaTabel C. 3 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-1.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

( )√

=.2,178 √

= 0,629

Tabel C. 4 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,6 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,4 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai

87

hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-1

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak eksitasi darah Sapi Bali ke-1 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 5 Uji Anova λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 1501 300,2 0,075

Column 2 5 1501 300,2 0,075

Column 3 5 1500,5 300,1 0,05

ANOVA Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,0333 2 0,0167 0,25 0,7828 3,8853 Within

Groups 0,8000 12 0,0667 Total 0,8333 14

PadaTabel C. 5 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-1.

Uji LSD λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

( )√

88

= 2,178 √

= 0,3558

Tabel C. 6 Selisih rata-rata λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada Selisih rata-rata λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-1.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi pertama darah Sapi Bali ke-2 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 7 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 1501 300,2 0,08

Column 2 5 1500,5 300,1 0,05 Column 3 5 1499,5 299,9 0,05

89 ANOVA

Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,233 2 0,1167 2 0,178 3,8853 Within

Groups 0,7 12 0,0583 Total 0,933 14

Pada Tabel C. 7 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-2.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

( )√

= 2,178 √

= 0,3328

Tabel C. 8 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,3 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai

90

hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-2

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi kedua darah Sapi Bali ke-2 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 9 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 3020 604 0,375

Column 2 5 3023 604,6 0,3

Column 3 5 3022 604,4 0,425

ANOVA Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,9333 2 0,4667 1,2727 0,3153 3,8853 Within

Groups 4,4 12 0,3667 Total 5,3333 14

Pada Tabel C. 9 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-2.

Uji LSD λmaks

91 ( )√

= 2,178 √

= 0,8344

Tabel C. 10 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,6 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,4 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-2

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak eksitasi darah Sapi Bali ke-2 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 11 Uji Anova λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 1501 300,2 0,075

Column 2 5 1500,5 300,1 0,05

Column 3 5 1501,5 300,3 0,075

92 ANOVA

Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,1 2 0,05 0,75 0,4933 3,8853 Within

Groups 0,8 12 0,0667

Total 0,9 14

PadaTabel C. 11 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-2 Uji LSD λmaks

( )√

=2,178 √

= 0,3558

Tabel C. 12 Selisih rata-rata λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-2

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-2

93

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi pertama darah Sapi Bali ke-3 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 13 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance Column 1 5 1499,5 299,9 0,05

Column 2 5 1500 300 0

Column 3 5 1500,5 300,1 0,05 ANOVA

Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit Between

Groups 0,1 2 0,05 1,5 0,2621 3,8853 Within

Groups 0,4 12 0,0333

Total 0,5 14

Pada Tabel C. 13 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-3

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

( )√

94

=2,178 √

= 0,2516

Tabel C. 14 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-3

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi kedua darah Sapi Bali ke-3 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 15 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 3025 605 0,375

Column 2 5 3023 604,5 0,375

Column 3 5 3023 604,5 0,125

95 ANOVA

Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,8333 2 0,4167 1,4286 0,2776 3,8853 Within

Groups 3,5 12 0,2917

Total 4,3333 14

Pada Tabel C. 15 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-3.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

( )√

=2,178 √

= 0,7442

Tabel C. 16 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-3

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,5 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,5 Tidak berbeda signifikan

96

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-3.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak eksitasi darah Sapi Bali ke-3 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 17 Uji Anova λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali Ke-3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 1501,5 300,3 0,075

Column 2 5 1501,5 300,3 0,075

Column 3 5 1500,5 300,1 0,05

ANOVA Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,1333 2 0,0667 1 0,3966 3,8853 Within

Groups 0,8 12 0,0667

Total 0,9333 14

Pada Tabel C. 17 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-3

97

Uji LSD λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali Ke-3

( )√

=2,178 √

= 0,3558

Tabel C. 18 Selisih rata-rata λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali Ke-3

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-3.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi pertama darah Sapi Bali ke-1,2 dan 3 yang terdapat pada Tabel D. 1

98

Tabel C. 19 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance Column 1 15 4501 300,0667 0,0667 Column 2 15 4501,5 300,1 0,0429

Column 3 15 4500 300 0,0357

ANOVA Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit Between

Groups 0,0778 2 0,0389 0,8033 0,4546 3,2199 Within

Groups 2,0333 42 0,0484 Total 2,1111 44

Pada Tabel C. 19 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

( )√

=2,018 √

= 0,1621

99

Tabel C. 20 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3 Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,0333 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,0667 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan, nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0

diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi kedua darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3 yang terdapat pada Tabel D. 1

Tabel C. 21 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance Column 1 15 9066,5 604,4333 0,4952 Column 2 15 9070 604,6667 0,2381 Column 3 15 9067 604,4667 0,2310 ANOVA

Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit Between

Groups 0,4778 2 0,2389 0,7432 0,48174 3,2199 Within

Groups 13,5 42 0,3214 Total 13,9778 44

100

Pada Tabel C. 21 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

( )√

=2,018 √

= 0,4178

Tabel C. 22 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,2333 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,0333 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi kedua spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak eksitasi darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3 yang terdapat pada Tabel D. 1

101

Tabel C. 23 Uji Anova λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance Column 1 15 4503,5 300,2333 0,0667

Column 2 15 4503 300,2 0,0643

Column 3 15 4502,5 300,1667 0,0595 ANOVA

Source of

Variation SS df MS F P-value F crit Between

Groups 0,0333 2 0,0167 0,2625 0,7704 3,2199 Within

Groups 2,6667 42 0,0635

Total 2,7 44

Pada Tabel C. 23 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3.

Uji LSD λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

( )√

=2,018 √

= 0,1857

102

Tabel C. 24 Selisih rata-rata λmaks Puncak Eksitasi Spektra Fluoresens Darah Sapi Bali ke-1, 2 dan 3

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,0333 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,0333 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,0667 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak eksitasi spektra fluoresens darah sapi bali ke-1, 2 dan 3.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi pertama daging Sapi Bali ke-1 yang terdapat pada Tabel D. 2

Tabel C. 25 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Daging Sapi Bali ke-1

ANOVA: Single Factor Summary

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 5 1501 300,2 0,075

Column 2 5 1500,5 300,1 0,05

Column 3 5 1500 300 0,125

103 ANOVA

Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit Between

Groups 0,1 2 0,05 0,6 0,5645 3,8853 Within

Groups 1 12 0,0833 Total 1,1 14

Pada Tabel C. 25 nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F kritis, sehingga H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan pada data λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens daging sapi bali ke-1.

Uji LSD λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Daging Sapi Bali ke-1

( )√

= 2,178 √

= 0,3978

Tabel C. 26 Selisih rata-rata λmaks Puncak Emisi Pertama Spektra Fluoresens Daging Sapi Bali ke-1

Perbandingan Selisih Rata-Rata

( 𝑋̅= ׀𝑋̅1 – 𝑋̅2׀) Kesimpulan Data 1 dan Data 2 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 2 dan Data 3 0,1 Tidak berbeda signifikan Data 1 dan Data 3 0,2 Tidak berbeda signifikan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Nilai 𝑋̅ pada semua perbandingan yang dihitung lebih kecil daripada nilai hitung LSD sehingga H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa tidak

104

terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata-rata λmaks puncak emisi pertama spektra fluoresens daging sapi bali ke-1.

Uji ANOVA dan LSD dilakukan pada data panjang gelombang puncak emisi kedua daging Sapi Bali ke-1 yang terdapat pada Tabel D. 2

Tabel C. 27 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra

Tabel C. 27 Uji Anova λmaks Puncak Emisi Kedua Spektra

Dokumen terkait