BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.2. Saran
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab adanya kontaminasi bakteri yang ditemukan pada sashimi.
2. Bagi pihak restoran haruslah mengutamakan kebersihan dari makanan yang dijualnya melalui perilaku bersih, menjaga kebersihan peralatan yang digunakan, proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan makanan dan penyajian, serta lingkungan sekitar restoran.
3. Bagi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Kota Medan harus lebih memperhatikan dan mengadakan pengawasan terhadap produk makanan dan minuman yang dipasarkan di Kota Medan sehingga higienitasnya terjaga. BPOM juga perlu mengadakan penyuluhan tentang pentingnya kebersihan dan cara -cara menjaga kebersihan kepada pemilik restoran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Salmon
2.1.1 Pengenalan Salmon
Taksonomi Salmon adalah sebagai berikut:
Phylum :Choradata Subphylum :Vertebrata Class :Actinopterygii Order :Salmoniformes Family :Salmonidae Genus :Salmo Species :Salar
Gambar 2.1. Ikan salmon (FDA, 2014)
Salmon, trout,dan sejenis mereka adalah jenis ikan Salmonidae (salmon),
yaitu ikan ikonik dari belahan bumi utara. Karakteristik mereka berupa hidup di lautan dingin, sungai yang mengalir deras, dan danau dalam yang dingin. Mereka beradaptasiuntuk hidup di perairan yang dipengaruhi oleh gletser, gunung berapi, gempa bumi, dan iklim yang ekstrem. Salmon berkembang melalui mobilitas mereka seperti bergerak bebas melalui laut dansungai besar serta kemampuan mereka untuk beradaptasi dari perubahan lingkungan yang ekstrimdari gurun ke hujan hutan. Hal ini mengakibatkan beberapa spesies memproduksi
ratusangenetik yang berbeda, ras, dan subspesies yang banyak dengan warna,khas, dan atribut lainnya(CWS, 2008).
2.1.2 Kandungan Gizi yang Terdapat dalam Salmon
Semua jenis salmon menyediakan sumber protein baik berupa asam lemak 3 yang berkualitas tinggi dan membuat jantung sehat. Lemak dan omega-3 yang terkandung bervariasidari satu spesies ke spesies lain. Jumlah rentang kandungan lemak sekitar 4-11 gram per 3 ons dalam satu porsi. Asam lemak omega-3 mengandung 700-1.800 miligram asam lemak omega-3 per 3 ons sewaktu dimasak. Salmon jugasumber dari berbagai vitamin dan mineral. Salmon kalengan yang mengandungtulang juga merupakan sumber kalsium yang baik (SHF,2010).
2.2. Sashimi
2.2.1 Pengenalan Sashimi
Sushi dan sashimi merupakan makanan tradisional Jepang yang dalam beberapa tahun terakhir menarik sejumlah besar konsumen Eropa. Sushi awalnya diproduksi di Asia Tenggara sebagai metode untuk mengawetkan ikan. Sushi disiapkan dengan nasi dingin diasamkan dengan cuka dan dibentuk menjadi potongan seukuran gigitan dan atasnya dengan ikan mentah lalu dimasak atau dibentuk menjadi gulungan dengan ikan, telur atau sayuran, dan dibungkus rumput laut (nori). Sashimi menggunakan ikan dan kerang-keranganyang dipotong menjadi irisan tipis dan disajikan dengan beberapa saus (misalnya wasabi, kecap atau saus ponzu), dan disertai dengan akar lobak (Muscolino, 2014).
Tidak seperti anggapan orang, sushi memiliki arti “dengan nasi” dan bukan “ikan mentah.” Sashimimengacu kepada ikan mentah. Sashimi bisa menjadi bagian dari bahan isian sushi gulung dalam empat bentuk, yaitu futomaki (gulungan besar), hosomaki (gulungan tipis), temaki (gulungan sushi bentuk kerucut), uramaki(gulungan terbalik). Ada bahan lain yang dapat digunakan sebagai bahan isian sushi gulung.
Bahan dasar untuk membuat nasi sushi, antara lain lembaran rumput laut(nori sheet), beras bulir pendek, saus kedelai, pasta wasabi. Ikan mentah yang biasa digunakan sebagai bahan untuk sushi gulung, antara lain belut, makarel, salmon, kakap,tuna, ekor kuning.Sushi gulung sangat populer dan memiliki reputasi sebagai makanan yang aman. Meskipun demikian, ikan mentah membusuk dengan cepat dan setiap produk daging mentah mengandung bakteri patogen(Shewfelt, 2009).
2.2.2. Komposisi Sashimi
Sushi mengandung nasi dingin diasamkan dengan cuka yang dibentuk menjadi potongan seukuran gigitan dan atasnya dengan ikan mentah atau dimasak, atau dibentuk menjadi gulungan dengan ikan, telur atau sayuran dan dibungkus rumput laut. Dua jenis utama dari sushi yang dijual di Australia adalah:
• Nigiri, biasanya terdiri dari rumpun padi yang diasamkandengan bahan-bahan
seperti sepotong makanan laut atau telur dadar ditempatkan di atas.
• Maki, terdiri dari nasi yang diasamkan dan bahan-bahan seperti seafood,
daging, ayam, dan sayuran yang digulung dalam rumput laut, juga disebut nori gulungan (NSW Makanan , 2008).
Tabel 2.1 Kandungan sashimi yang bahan dasarnya ikan (Adawyah, 2011)
No Mineral Rata-rata mencukupi(mg%)
1 Potassium 300 2 Chloride 200 3 Phosphorus 200 4 Sulfur 200 5 Sodium 63 6 Magnesium 25 7 Calsium 15 8 Iron 1,5 9 Manganese 1 10 Zinc 1 11 Fluorine 0,5 12 Arsenic 0,4
2.2.3 Cara Pembuatan Sashimi
Potong ikan salmon atau tuna mentah. Lalu siapkan piring saji, kemudian susun ikan yang sudah dipotong beserta irisan lobak dan daun okba.Beri wasabi di sampingnya dan dicampur dengan air jeruk lemon, setelah itu aduk hingga rata. Sajikan dengan saus sashimi atau kecap asin (Leehans, 2013).
2.2.4 Higienitas sashimi
a. Semua bahan baku yang berpotensi berbahaya harus disimpan di dalam
pendinginan sampai digunakan, terutama ikan mentah.
b. Makanan beku harus dicairkan dalam chiller atau dengan menggunakan oven
microwave. Tidak boleh mencairkan makanan beku di bawah suhu kamar. Makanan beku dapat dicairkan di dalam air tapi harus dilindungi dari kontak dengan air dengan menempatkannya di dalam paket anti bocor.
c. Jangan membekukan ikan atau daging yang dicairkan.
d. Cuci semua bahan dan hiasan (misalnya, daun bambu, kerang, bunga, rumput
laut) di air secara menyeluruh sebelum digunakan.
e. Masak makanan secara menyeluruh dalam suhu internal minimal 75°C lebih
dari 1 menit, terutama ayam, daging, dan telur.
f. Cuci dan membersihkan tangan dan peralatan setiap kali mereka datang untuk
berkontak daging, ayam dan telur.
g. Siapkan makanan laut mentah (misalnya ikan dan udang) di tempat yang
terpisah dari ayam dan daging.
h. Siapkan makanan yang sudah siap saji (misalnya sashimi, salmon, timun) di
daerah yang terpisah dari makanan mentah lainnya.
i. Cuci beras sampai bersih sebelum dimasak sampai sisa-sisa airnya hilang.
Campur dengan cukup cuka dengan dengan pH dibawah 4,6. Beras dengan pH dibawah 4,6 dapat disimpan pada suhu kamar hingga 8 jam tapi harus dibuang pada akhir hari.
j. Setelah siap, sushi harus ditempatkan di dalam pendingin dibawah 5° C kecuali
k. Tidak boleh mempersiapkan sushi yang berlebihan sehingga sushi yang dijual menjadi tidak beku atau tidak terjual pada suhu kamar selama lebih dari 4jam(NEA 2012).
2.3 Keracunan Makanan (Foodborne Disease) 2.3.1 Penyakit Yang Ditularkan Melalui Makanan
Penyakit bawaan makanan (foodborne disease), biasanya bersifat toksik maupun infeksious, disebabkan oleh agen penyakit yang masuk kedalam tubuh melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi. Kadang-kadang penyakit ini disebut keracunan makanan (food poisoning) walaupun istilah ini tidak tepat. Penyakit bawaan makanan mencakup lingkup penyakit yang etiologinya bersifat kimiawi maupun biologis, termasuk penyakit kolera dan diare, sekaligus beberapa penyakit parasit (WHO, 2000).
Penyakit bawaan makanan merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang paling banyak dan paling membebani yang pernah dijumpai di zaman modern ini. Penyakit tersebut meminta banyak korban dalam kehidupan manusia dan menyebabkan sejumlah besar penderitaan, khususnya di kalangan bayi, anak, lansia, dan mereka yang kekebalan tubuhnya terganggu. Tingkat keparahan (besaran) dan konsekuensi penyakit bawaan makanan ini kerap kali diremehkan oleh pihak berwenang di bidang kesehatan masyarakat. Baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini saja sebagai akibat dari Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit bawaan makanan (misalnya listeriosis, salmonelosis, dan kolera) (WHO, 2000).
Negara berkembang diserang oleh beragam jenis penyakit bawaan makanan. Penyakit kolera, kampilobakteriosis, salmonelosis, shigelosis, demam tifoid, dan paratiroid, bruselosis, amoebiasis dan poliomielitis merupakan beberapa contoh saja (WHO, 2000).
2.3.2.1 Epidemiologi Keracunan Staphylococcus aureus
Bentuk keracunan makanan yang lazim ini disebabkan oleh multiplikasi S.aureuspembentuk toksin di dalam makanan sebelum disantap. Pencemaran makanan oleh jasad renik ini sering terjadi karena bakteri ini dapat tumbuh di tangan 50% orang. Pertumbuhan yang pesat kerap berlangsung pada celah-celah dan luka kecil pada kulit yang tampak tidak terinfeksi. S.aureusyang berasal dari manusia yang mencemari daging bertindak sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), tetapi hanya 10% ditularkan melalui air susu, umumnya ditularkan melalui sapi. Kondisi yang mendukung keracunan jenis ini adalah kontaminasi makanan yang cocok (banyak sekali makanan yang dapat menunjang pertumbuhanS.aureus) dan rentang waktu beberapa jam setelah makanan disiapkan (selama waktu tersebut, jasad renik mampu memperbanyak diri). Suasana seperti itu dapat terbentuk selama pendinginan lambat sesudah proses memasak, atau bila makanan dibiarkan terletak didalam suhu ruang dengan iklim sekitar yang panas. Pemanasan ulang, atau bahkan mendidihkan, tidak akan dapat mencegah penyakit, karena penyebab langsungnya adalah toksin yang tahan panas dan bukan S.aureus hidup yang terdapat di dalamnya (Arisman, 2008).
2.3.2.2 Patogenesis
Penelitian yang rinci mengenai enterotoksin yang dihasilkan oleh S.aureus agak tersendat karena banyak kendala teknis yang ditemukan. Galur yang membentuk enterotoksin hampir selalu bersifat koagulase positif. Namun sebaliknya, produksi enterotoksin tidak berkaitan dengan semua kegiatan metabolisme yang dapat diukur dengan mudah. Selain itu, penelitian tentang toksin ini terbatas karena ketiadaan tentang hewan percobaan yang cocok (kebanyakan peneliti menggunakan suntikan intraperitonium terhadap anak kucing sebagai sistem pengujian). Banyak kemajuan yang telah dibuat pada tahun-tahun terakhir ini. Terdapat perbedaan diantara 4 jenis antigen: enterotoksin A, B, C, dan D. Enterotoksin B telah diisolasi dalam bentuk relatif murni oleh Bergdoll dan kawan-kawan. Galur ini berantigen khas dan tidak bereaksi silang,
tetapi satu galur S.aureus dapat menghasilkan lebih dari satu macam antigen. Toksin tersebut (seperti ekstrak yang kasar) relatif tahan terhadap panas dan tripsin (Arisman, 2008).
2.3.2.3 Tanda Klinis
Rentang waktu antara makan dan timbulnya penyakit cukup pendek, yaitu sekitar satu sampai enam jam (kadang-kadang lebih singkat) dan ditandai dengan adanya nyeri perut (dengan kram) yang disertai muntah hebat yang berulang. Diare bervariasi, yaitu dapat sangat berat, sedang, atau derajat ringan. Meskipun seringkali ganas, keracunan makanan oleh S.aureusberlangsung sementara, biasanya segera mereda dalam 6 atau 8 jam, jarang sekali sampai melebihi 24 jam (Arisman, 2008).
2.3.2.4 Penanganan
Keracunan makanan ini terkadang mengancam jiwa bila menimpa penderita yang berusia lanjut atau mereka yang (meskipun tidak tua) sedang menderita sakit berat. Pasien mulai tampak sembuh saat bertemu dengan dokter untuk pertama kalinya, tetapi memerlukan suntikan 12½ mg proklorperazin atau 10 mg metoklopramid sebagai pengendali muntah. Pasien yang menunjukkan tanda kekurangan cairan membutuhkan pengobatan cairan intravena yang menggunakan NaCl isotonik yang ditambah kalium (Arisman, 2008).
2.3.2.5 Pencegahan
Langkah pencegahan yang paling penting adalah melatih para pengolah makanan dalam masalah kebersihan perorangan dan cara pendinginan cepat makanan yang tidak segera disantap. Enterotoksin tidak dihasilkan pada keadaan dengan temperatur lemari pendingin yang biasa digunakan di rumah tangga. Makanan selayaknya tidak dingin dengan begitu lambat, terutama dalam kemasan besar. Jika perlu, ambil dari lemari pendingin lalu dipanaskan kembali segera sebelum dihidangkan (Arisman, 2008).
Peneliti epidemiologi terhadap kejadian luar biasa keracunan makanan oleh S. aureusmencakup standar baku bacteriophage typing untuk mengidentifikasi sumber galur bakteri penyebab. Karena pemanasan akhir dapat membunuh jasad renik tanpa menginaktivasi enterotoksin, S.aureus tidak dapat tumbuh pada makanan yang dicurigai. Uji binatang untuk penentuan enterotoksin kini diganti dengan metode serologis (Arisman, 2008).
Tabel 2.2 Intoksifikasi Staphylococcus aureus pada produk pangan (Arisman, 2008)
Topik Intoksifikasi Akibat Staphylococus aureus Etiologi Toksin bakteri S.aureus (enterotoksin)
Inkubasi 2-6 jam
Gejala Terkadang timbul mendadak dan membahayakan (violen onset), seperti mual berat, kram, muntah, dan terkadang disertai diare.
Durasi Sekitar 2 hari
Sumber Manusia (kulit, hidung, dan tenggorok), sekitar 25-40% manusia sehat didiami oleh bakteri ini.
Cara penyebaran
dan contoh
makanan yang terlibat dalam KLB.
Menyantap makanan yang mengandung toksin. Jika kondisi tempat penyimpanan tidak baik, bakteri akan berkembang biak dan menghasilkan toksin. Contoh makanannya, yaitu ham, ayam, selada telur, bahan yang diisi krim, es krim, dan keju.
Pengawasan Meliburkan orang yang terinfeksi kulit, kebersihan perorangan diperhatikan, serta memasak makanan dengan waktu dan pemanasan yang adekuat.
Angka Kejadian Seluruh dunia. Angka kejadian1-100 orang per 100.000 penduduk, bergantung pada keadaan kebersihan makanan.
2.4 Staphylococcus aureus
Kingdom :Bacteria Phylum :Firmicutes Class :Cocci Ordo :Bacillales Family :Staphylococcaceae Genus :Staphylococcus
Spesies :Staphylococcus aureus
Gambar 2.3Staphylococcus aureushasil pewarnaan gram (sumber: Janardhanan, 2011)
Staphylococcus aureus merupakan salah satu dari tiga spesies yang paling sering dijumpai pada kelompok genus staphylococcus yang mempunyai kepentingan dalam klinis.S.aureus merupakan patogen utama untuk manusia. Hampir setiap orang akan mengalami beberapa jenis infeksi S.aureus sepanjang hidup dengan kisaran keparahan dari keracunan makanan atau infeksi kulit minor hingga infeksi berat yang mengancam jiwa. Stafilokokus koagulase negatif merupakan flora normal manusia dan kadang-kadang menyebabkan infeksi, sering berkaitan dengan alat implan, seperti protesis sendi, shunt, dan kateter intravaskular, terutama pada pasien-pasien yang berusia sangat muda, dan luluh imun. Sekitar 75% infeksi-infeksi ini disebabkan oleh stafilokokus koagulase negatif, yaitu S. epidermidis; infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus lugdunensis, Staphylococcus warneri, Staphylococcus hominis, dan spesies lain yang lebih jarang.S. saprophyticus relatif sering menyebabkan infeksi saluran
kemih pada wanita muda, meskipun jarang menyebabkan infeksi pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Spesies lainnya adalah penting pada kedokteran hewan (Jawetz, 2010).
S. aureus biasanya membentuk koloni berwarna abu-abu hingga kuning emas pekat. Koloni S. epidermidis biasanya berwarna abu-abu hingga putih pada isolasi primer.Banyak koloni menghasilkan pigmen hanya pada inkubasi yang berkepanjangan. Tidak ada pigmen yang terbentuk secara anaerob atau pada kaldu. Berbagai tingkat hemolisis ditimbulkan oleh S. aureus dan kadang-kadang oleh spesies lainnya.Peptostreptococcus dan Peptoniphilus spyang merupakan kokus anaerob, secara morfologi sering menyerupai S. aureus. Genus Staphylococcus terdiri dari dua subspesies, S.saccharolyticus dan S.aureus subsp. Anaerobius, yang pada mulanya hanya tumbuh pada kondisi anaerob, tetapi lebih menjadi lebih aerotoleran pada subkultur (Jawetz, 2010).
Gambar 2.4Sifat β-hemolisis S.aureus, tampak zona gelap mengelilingi koloni (sumber: Purnomo, 2006)
2.4.1 Morfologi
S. aureus adalah bakteri berbentuk bulat, bersifat gram positif, biasanya tersusun dalam rangkaian tidak beraturan seperti buah anggur. Beberapa diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia, menyebabkan penanahan, abses, berbagai infeksi piogen dan bahkan septikimia yang fatal (Jawetz, 2010).
S. aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologik dibawah suasana aerobik atau mikro-aerobik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur 37°C namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada temperatur kamar (20-35°C). Koloni pada media yang padat akan berbentuk bulat, halus, menonjol, dan berkilau-kilau, membentuk berbagai pigmen berwarna kuning keemasan (Jawetz, 2010).
Gambar 2.5 Pigmen kuning keemasan Staphylococcus aureus pada nutrient agar (sumber: Janarhanan, 2011)
2.4.3 Toksin dan Enzim 1.Eksotoksin
Toksin-α adalah protein heterogen yang bekerja pada spektrum luas membran sel eukariot. Toksin-α merupakan hemolisis poten. Toksin-β
mendegradasi sfingomielin dan karena itu bersifat toksik untuk banyak jenis sel, termasuk sel darah merah manusia. Toksin-β bersifat heterogen dan mengalami disosiasi menjadi subunit-subunit di dalam detergen nonionik. Toksin ini merusak membran biologi dan mungkin mempunyai peran pada penyakit diare S.aureus(Jawetz, 2010).
2.Leukosidin panton valentine
Toksin S. aureus ini mempunyai dua komponen. Toksin ini dapat membunuh sel darah putih manusia dan kelinci. Dua komponen yang disebut F dan S bekerja secara sinergis pada membran sel darah putih, seperti yang dijelaskan di atas untuk toksin- γ. Toksin ini merupakan faktor virulensi penting
dalam infeksi S. aureus yang resisten terhadap metisilin yang berhubungan dengan komunitas (Jawetz, 2010).
3. Toksin eksfoliatif
Toksin epidermolitik S.aureus ini adalah dua protein berbeda dengan berat molekul sama. Toksin A epidermolitik merupakan suatu produk gen kromosom dan bersifat stabil-panas (tahan pendidihan selama 20 menit). Toksin B epidermolitik diperantarai oleh plasmid dan labil-panas. Toksin epidermolitik menimbulkan deskuamasi generalisata pada sindom kulit lepuh stafilokok dengan cara melarutkan matriks mukopolisakarida epidermis. Toksin ini adalah antigen super (Jawetz, 2010).
4.Toksin sindrom syok toksin
Sebagian besar galur S.aureus yang diisolasi dari pasien dengan sindrom syok toksik menghasilkan toksin yang disebut toksin-1 sindrom syok toksik (toxic shock syndrome toxin-1, TSST-1), yang sama dengan enterotoksin F. TSST-1 adalah antigen super prototipe. TSST-1 terikat pada molekul MHC kelas II, menghasilkan stimulasi sel T, yang meningkatkan manifestasi yang berubah-ubah pada sindrom syok toksik. Toksin berkaitan dengan demam, syok, dan keterlibatan multi sistem, termasuk ruam kulit deskuamatif. Gen untuk TSST-1 ditemukan pada sekitar 20% isolat S.aureus, termasuk MRSA (Jawetz, 2010). 5.Enterotoksin
Terdapat banyak jenis enterotoksin (A-E, G-J, K-R danU,V). Sekitar 50% galur S.aureus dapat menghasilkan satu atau lebih jenis enterotoksin. Seperti TSST-1, enterotoksin merupakan antigen super. Enterotoksin bersifat stabil panas dan resisten terhadap kerja usus. Sebagai penyebab penting keracunan makanan, enterotoksin dihasilkan ketika S.aureus tumbuh pada makanan yang mengandung karbohidrat dan protein. Ingesti 25 µg enterotoksin B menimbulkan muntah dan diare. Efek muntah enterotoksin kemungkinan disebabkan oleh stimulasi sistem saraf pusat (pusat muntah) sesudah toksin bekerja pada reseptor saraf di usus (Jawetz, 2010).
S.aureus menghasilkan katalase yang mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Uji katalase membedakan stafilokokus yang positif, dari streptokokus yang negatif (Jawetz, 2010).
7. Koagulase
S.aureus menghasilkan koagulase, protein yang menyerupai enzim yang membekukan plasma beroksalat atau bersitrat. Koagulase terikat pada protrombin; yang bersama-sama secara enzimatis menjadi aktif dan memulai polimerisasi fibrin. Koagulase mungkin mendeposit fibrin pada permukaan S.aureus, mungkin mengubah ingestinya oleh sel fagosit atau destruksinya didalam sel seperti itu. Produksi koagulase dianggap sinonim dengan potensi patogenik invasif (Jawetz, 2010).
2.4.4 Patogenitas
S.aureus yang invasif dan patogenik menghasilkan koagulase dan cenderung menghasilkan pigmen kuning serta hemolitik. Kapasitas patogenik suatu galur S.aureus adalah efek kombinasi faktor ekstraseluler dan toksin bersama dengan sifat invasif galur itu. Di satu sisi spektrum penyakit adalah keracunan makanan oleh S.aureus, berkaitan secara eksklusif degan ingesti enterotoksin yang belum terbentuk; pada sisi lainnya adalah bakteremia stafilokok dan abses diseminata pada semua organ (Jawetz, 2010).
2.4.5 Diagnosa Laboratorium 1. Spesimen
Swab permukaan pus, darah, aspirat trakea, atau cairan spinal untuk kultur, tergantung dari lokasi proses, semuanya merupakan spesimen yang tepat untuk pengujian (Jawetz, 2010).
2. Apusan
S.aureus tipikal tampak sebagai kokus gram-positif berkelompok pada apusan pus atau sputum dengan perwarnaan Gram. Organisme saprofit (S. epidermidis) tidak mungkin dibedakan dengan patogen (S. aureus) pada apusan uji (Jawetz, 2010).
Spesimen yang ditanam pada cawan agar darah menghasilkan koloni tipikal dalam 18 jam pada 37°C, tetapi hemolisis dan produksi pigmen dapat tidak terjadi hingga beberapa hari kemudian dan optimal pada temperatur ruang. S.aureus memfermentasi manitol, sedangkan staphylococcus lainnya tidak. Spesimen yang terkontaminasidengan flora campuran dapat dikultur pada media yang mengandung NaCl 7,5%; garam ini menghambat sebagian besar flora normal lainnya, tetapi tidak menghambat S.aureus. Agar garam manitol atau media kromogen yang dijual bebas digunakan untuk menapis karier S.aureus nasal dan pasien dengan fibrosis kistik (Jawetz, 2010).
4. Uji katalase
Uji ini digunakan untuk mendeteksi adanya enzim sitokrom oksidase. Setetes larutan hidrogen peroksida 3% diteteskan pada kaca objek, dan sejumlah kecil pertumbuhan bakteri diletakkan pada larutan. Pembentukan gelembung (pelepasan oksigen) menunjukkan hasil tes positif (Jawetz, 2010).
5. Uji koagulase
Plasma kelinci (atau manusia) bersitrat yang diencerkan 1:5 dicampur dengan volume yang sama kultur kaldu atau pertumbuhan dari koloni pada agar dan diinkubasi pada 37°C. Tabung plasma yang dicampur dengan kaldu steril juga diinkubasi sebagai kontrol. Jika bekuan terbentuk dalam 1-4 jam, hasil tes positif (Jawetz, 2010).
Gambar 2.6Uji koagulase, S. aureus mampu menggumpalkan plasma darah klinci (bawah), kontrol negatif (atas) (sumber: Purnomo, 2006).
Stafilokokus koagulase-positif dianggap patogenik untuk manusia, tetapi stafilokokus koagulase positif pada anjing (Staphylococcus intermedius) dan lumba-lumba (staphylococcus delphini) jarang menimbulkan penyakit pada
manusia. Infeksi alat protesis dapat disebabkan oleh organisme grup S.epidermidis koagulase negatif (Jawetz, 2010).
6. Uji serologi dan penetuan tipe
Uji serologi untuk diagnosis infeksi S.aureus hanya punya sedikit nilai praktis. Pola kerentanan antibiotik membantu dalam melacak infeksi S.aureus dan dalam penentuan jika banyak isolat S.epidermidis dari kultur darah mencerminkan bakteremia karena galur yang sama, dibenihkan oleh suatu fokus infeksi. Teknik penentuan tipe molekular telah digunakan untuk mendokumentasi penyebaran klon S.aureus yang menimbulkan penyakit epidemis (Jawetz, 2010).
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan. Keracunan pangan atau foodborne disease (penyakit bawaan makanan), terutama yang disebabkan oleh bakteri patogen masih menjadi masalah yang serius di berbagai negara termasuk Indonesia. Foodborne disease (penyakit bawaan pangan) merupakan penyakit yang disebabkan oleh konsumsi pangan (makanan atau minuman) yang terkontaminasi oleh mikroorganisme atau bahan kimia (BPOM RI,2014).
Secara menyeluruh, diperkirakan ada sebanyak dua juta orang meninggal akibat diare pada tahun 2005; sekitar 70% dari penyakit diare tersebut disebabkan oleh penyakit bawaan makanan, 30% lagi disebabkan oleh kondisi lain. Diperkirakan bahwa sampai 30% dari populasi di beberapa negara industri menderita karena foodborne illnesses setiap tahun (WHO, 2011).
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2011, setiap tahun 48 juta orang Amerika terserang penyakit bawaan pangan; sebanyak 128.000 orang masuk rumah sakit dan 3.000 orang lagi meninggal.Di negara Australia diperkirakan terdapat 5,4 juta kasus foodborne illnesses setiap tahun yang menyebabkan 18.000 orang dirawat inap, 120 kematian, 21 juta mengalami kehilangan hari libur kerja, 1,2 juta orang konsultasi ke dokter, dan 300.000 resep untuk antibiotik (Ifenkwe, 2012).
Di Inggris setiap tahun terdapat satu juta orang menderita penyakit foodborne illnesses, dimana sekitar 20.000 orang menerima perawatan di rumah sakit karena keracunan makanan, dan 500 kematian yang disebabkan oleh foodborne illnesses dengan biaya mencapai 1,5 miliar pounds (FDS, 2011).
Di negara Indonesia data valid untuk kasusfoodborne disease tidak