• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka saran yang dapat peneliti rekomendasikan terkait proses pengasuhan dan mendidik anak adalah sebagai berikut :

1. Orangtua hendaknya lebih meningkatkan dan memaksimalkan lagi pengontrolan dan pengawasan serta pengasuhan pada anak.

2. Orangtua sangat perlu memikirkan dasar-dasar pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai fondasi dalam membantu keberhasilan pendidikan anak.

3. Orangtua dalam mendidik dan mengasuh anak cenderung menggunakan pola pengasuhan yang kurang tepat, sehingga diharapkan kepada orangtua menerapkan pola pengasuhan yang sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan dari anak.

94

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. (2007). Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Aindah. (2010). Pola Asuh Orang Tua. Diakses dari https://aindah.wordpress.com/2010/07/03/pola-asuh-orang-tua/ pada tanggal 19 Juli 2015, jam 21:12 WIB.

Anwar dan Arsyad Ahmad. (2007). Pendidikan Anak Usia Dini: Panduan Praktis Bagi Ibu dan Calon Ibu. Bandung: Alfabeta.

Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah. (2003). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Ditjen PDM, Depdiknas.

Dwi Siswoyo, dkk. (2011). Ilmu Pendidikan.Yogyakarta: UNY press.

Hurlock, Elizabeth B. (1999). Perkembangan Anak. Edisi VI. Jakarta: Erlangga. Fuad Ihsan. (2008). Dasar-Dasar Kependidikan. Cetakan V. Jakarta: Rineka

Cipta.

Hasbullah. (2012). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Jeri Utomo. (2013). Dinamika Pengasuan Anak Pada Keluarga Orang Tua Tunggal. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Ki Hajar Dewantara. (2009). Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Grafina Mediacipta.

Moleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

M. Sukardjo dan Ukim K. (2012). Landasan Pendidikan Konsep & Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

Neza Irma Nurbahria R. (2013). Pola Pendidikan Anak Usia 6-12 Tahun yang Ditinggal Merantau Orang Tua. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan, Unversitas Negeri Semarang.

Nilam Widyarini. (2003). Relasi Orang Tua dan Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

95

Nur Dian Oktafiany, dkk. (2013). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kecerdasan Emosional Siswa di SMP Diponegoro 1 Jakarta. Jurnal PPKN UNJ. 1 (II). Hlm. 4.

Redja Mudyahardjo. (2010). Pengantar Pendidikan. Cetakan VI. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Risa Dwi Jayanti. (2012). Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua dengan Kematangan Emosi Pada Siswa SMA Theresiana Salatiga. Skripsi. Salatiga: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unversitas Kristen Satya Wacana.

Sam M. Chan dan Tuti T. Sam. (2011). Analisis SWOT: Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta. Rajawali Pers.

Sanapiah dan Abdillah. Naskah Akademik Pendidikan Informal. Diakses dari

http://id.scribd.com/doc/76979153/Naskah-Akademik-Pendidikan-Informal#scribdpada tanggal 05 Januari 2015, jam 22.24 wib. Santrock, J.W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta:Erlangga.

Sidiknas. (2015). Kemendikbud Bentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan

Keluarga. Diakses dari

http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/node/4131, pada tanggal 08 Mei 2015, jam 12:23 WIB.

Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, R&D. Cetakan III. Bandung: Alfabeta.

Sumitro, dkk. (2006). Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:UNY press.

Tarsis Tarmuji. (2001). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Agresifitas

Remaja. Diakses dari

http://http//www.pdk.go.id/jurnal/37/hub.%20polaasuhorangtua, pada tanggal 6 Januari 2015, jam 20:12 WIB.

Tim Pengembang FIP-UPI. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT. IMTIMA.

Yusuf Margani. (2012). Kontribusi Pola Asuh Demokratis Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V SD Gugus I Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi : Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan, Unversitas Negeri Yogyakarta.

96

LAMPIRAN

Pedoman Observasi, Pedoman Wawancara, Catatan Lapangan, Reduksi Data, Hasil Observasi,

Transkip Wawancara, Dokumentasi, Surat Izin Penelitian.

97 Lampiran1. Pedoman Observasi

PEDOMAN OBSERVASI

Pola Pendidikan Anak Pada Keluarga Buruh Amplas Daerah Industri Ukir (Di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara)

1. Lokasi dan keadaan tempat penelitian 2. Keadaan keluarga (subyek penelitian) 3. Proses pengasuhan anak dalam keluarga

4. Interaksi dan komunikasi antar angota keluarga 5. Pemberian pendidikan orangtua terhadap anak

98 Lampiran 2. Pedoman Wawancara

PEDOMAN WAWANCARA

Pola Pendidikan Anak Pada Keluarga Buruh Amplas Daerah Industri Ukir (Di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara)

Instrument Daftar Pertanyaan Kepada Orangtua A. Proses Mendidik dan Pola Pendidikan Anak

1. Bagaimana anda mendidik anak?

2. Siapa yang berperan dan bertanggungjawab dalam mendidik anak? 3. Siapa yang mengontrol kegiatan anak, ketika anda sedang bekerja? 4. Bagaimana anda memberikan perhatian kepada anak?

5. Bagaimana hubungan orangtua dengan anak?

6. Pola pengasuhan seperti apa yang anda pilih dalam mengasuh anak, apakah dengan keras, membebaskan anak, atau membiarkan anak?

7. Manfaat apa yang anda rasakan dengan mengasuh anak seperti itu? 8. Hambatan apa yang anda rasakan dalam mengasuh dan mendidik anak? 9. Apakah anda memberikan kebebasan kepada anak untuk bergaul dengan

teman-teman atau orang lain?

10.Apakah anak harus ijin ketika ingin keluar rumah atau bermain? 11.Ketika anak berbuat salah, apakah anda memberi hukuman?

12.Apakah anak harus patuh dengan kehendak orang tua, meskipun itu bukan keinginannya?

13.Apakah anak diberi kepercayaan sepenuhnya dalam kegiatan sehari-hari? 14.Bagaimana anda mengontrol dan mengawasi anak, ketika anak melakukan

kegiatan di dalam rumah maupun diluar rumah? 15.Adakah peraturan di dalam keluarga?

16.Apa saja peraturan tersebut?

17.Apakah anak harus mematuhi peraturan tersebut? 18.Seberapa sering orang tua mengobrol dengan anak?

99

B. Peran Pengasuhan Orangtua dalam Pendidikan Anak 19. Bagaimana kegiatan sekolah anak saat ini?

20. Bagaimana dengan nilai maupun prestasi anak? 21. Apakah orangtua mendampingi ketika anak belajar?

22. Apaka orangtua mengajari, ketika anak merasakan kesulitan dalam belajarnya?

23. Apakah ada waktu khusus untuk belajar? 24. Apakah anak belajar dengan rutin?

25. Fasilitas apa yang diberikan pada anak untuk mendukung sekolah anak? 26. Adakah pendidikan tambahan untuk anak selain sekolah (formal)?

27. Bagaimana anda mendukung anak dalam menuntut ilmu, dukungan apa yang anda berikan?

28. Apakah anak harus jadi juara?

29. Apakah anak pernah mengikuti perlombaan di sekolah atau diluar sekolah?

30. Jika anak mendapatkan nilai baik, apakah mendapat reward (hadiah)? 31. Apakah orangtua selalu mengecek pekerjaan atau tugas-tugas anak? 32. Apakah orangtua mengajarkan anak untuk mengulang pelajaran yang

diberikan atau di dapat dari sekolah?

33. Usaha apa yang anda lakukan untuk meningkatkan prestasi anak?

34. Apa yang anda lakukan jika anak mengalami kesulitan dengan sekolahnya?

35. Apa harapan orangtua untuk pendidikan anak?

Instrument Daftar Pertanyaan Kepada Anak 1. Siapa yang mengurus kamu di rumah?

2. Ketika di rumah, kamu lebih dekat dengan siapa? 3. Bagaimana hubungan kamu dengan orangtua?

4. Apakah kamu diberi kebebasan untuk bermain atau bergaul dengan teman-teman?

100

5. Apakah kamu selalu ijin kepada orangtua, ketika pergi keluar rumah atau bermain?

6. Ketika kamu salah, apakah orangtua memberi hukuman? 7. Adakah peraturan yang orangtua buat untuk kamu? 8. Apa saja peraturan yang dibuat orangtua?

9. Apakah kamu selalu mematuhi peraturan tersebut? 10. Seberapa sering kamu mengobrol dengan orangtua? 11. Bagaimana dengan sekolah kamu?

12. Bagaimana dengan nilai-nilai atau prestasi kamu? 13. Apakah orangtua menemani kamu belajar?

14. Siapa yang mengajari, ketika kamu mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah?

15. Apakah kamu selalu mengulang pelajaran yang diberikan atau di dapat dari sekolah?

16. Apakah kamu belajar setiap hari?

17. Fasilitas apa yang diberikan orangtua untuk sekolah kamu?

18. Pendidikan apa yang kamu ikuti selain sekolah (pendidikan formal)? 19. Apakah orangtua mengharuskan kamu menjadi juara?

20. Pernakah kamu ikut perlombaan di sekolah atau diluar sekolah?

101 Lampiran 3. Catatan Lapangan I

CATATAN LAPANGAN I

Tanggal : 18 Maret 2015 Waktu : 08.00 s/d 11.00 WIB

Tempat : Kantor Kelurahan Desa Krapyak dan Rumah ketua RW Tema/Kegiatan : Observasi awal

Pada hari rabu 18 Maret 2015 peneliti datang ke kantor kelurahan desa Krapyak, tujuan peneliti adalah untuk meminta dan mengumpulkan informasi mengenai data-data tentang keadaan desa dan penduduk desa krapyak. Data yang dicari lebih rincinya adalah mengenai jumlah penduduk, jumlah dan jenis pekerjaan penduduk terutama. Selain itu peneliti mencoba bertanya-tanya kepada petugas kelurahan mengenai orangtua yang bekerja sebagai buruh amplas dan masih mempunyai anak usia 6-12 tahun yang masih mengampu pendidikan sekolah dasar. Informasi yang peneliti peroleh tidak selengkap yang peneliti inginkan, namun peneliti mendapat informasi dimana saja daerah di desa krapyak yang banyak warganya menjadi seorang buruh amplas. Setelah peneliti mendapatkan data yang cukup, peneliti berpamitan untuk pulang. Setelah dari kantor kelurahan, peneliti beranjak ke tempat ketua RW 05 untuk membicarakan maksud dan tujuan sekaligus meminta ijin bahwa ingin melakukan penelitian di daerah setempat. Peneliti melakukan perbincangan dengan ketua RW setelah mendapatkan ijin, peneliti berpamitan untuk pulang.

102 Lampiran4. Catatan Lapangan II

CATATAN LAPANGAN II

Tanggal : 20-24 Maret 2015 Waktu : 16.00 s/d 17.30 WIB

Tempat : Rumah Keluarga Buruh Amplas Tema/Kegiatan : Meminta ijin untuk penelitian

Selama kurun waktu tanggal 20-24 Maret 2015 setiap sore pukul 16.00 peneliti pergi untuk berkunjung ke rumah masing-masing keluarga buruh amplas yang akan peneliti jadikan sebagai informan dalam penelitian. Peneliti memilih datang sore hari karena informan berada di rumah sehabis bekerja pada sore hari. Setelah sampai di rumah infoman, peneliti bertemu dengan masing-masing informan. Kemudian peneliti menyampaikan maksud dari kedatangan. Peneliti menjelaskan bahwa ingin menjadikan ibu tersebut sebagai salah satu narasumber atau informan dalam penelitian, dan ingin bertanya-tanya lebih lanjut mengenai pendidikan dan pengasuhan yang ada dalam keluarga. Setelah paham dengan maksud dan tujuan peneliti, informan memberikan ijin dan menyanggupi untuk dijadikan narasumber, kemudian peneliti bertanya kapan bisa melakukan wawancara dan informan yang menentukan mengingat informan yang sehari-harinya harus bekerja. Peneliti menyanggupi waktu yang telah ditentukan untuk melakukan penelitian. Setelah itu peneliti berpamitan pulang dan minta ijin buat datang kembali guna melakukan wawancara dan mendapatkan data.

103 Lampiran 5. Catatan Lapangan III

CATATAN LAPANGAN III

Tanggal : 25 Maret s/d 5 Mei 2015 Waktu : 09.00 s/d 21.00 WIB

Tempat : Rumah Keluarga Buruh Amplas Desa Krapyak

Tema/Kegiatan : Pengamatan dan wawancara dengan informan penelitian

Pada hari rabu, 25 Maret 2015 peneliti mulai terjun melakukan penelitian dengan pengamatan dan wawancara untuk mencari informasi dan data. Di tempat informan peneliti mengutarakan kembali maksud dan tujuan kedatangan peneliti ketempat para informan. Peneliti disambut dengan baik oleh masing-masing keluarga. Dalam proses penelitian atau wawancara peneliti berusaha untuk berbaur dan akrab dengan keluarga, seperti peneliti menawarkan diri ikut serta dalam kegiatan sehari-hari informan, bermain dengan anak-anak informan. Proses wawancara berjalan dengan lancar dan cukup santai dengan diselingi senda gurau antara peneliti dengan informan. Setelah data dan informasi yang peneliti butuhkan sudah terpenuhi, peneliti pun berpamitan kepada masing-masing informan. Dan pamitan terakhir peneliti lakukan pada informan atau keluarga terakhir tanggal 5 Mei 2015. Peneliti berterima kasih kepada masing-masing informan atau keluarga karena sudah mengijinkan peneliti menjadikan beliau sebagai sumber dalam pencarian data dalam penelitian dan sudah menerima peneliti dengan baik serta memberikan pengalaman yang bisa peneliti ambil.

104

Lampiran 6. Display, Reduksi Data, Penyajian data, Kesimpulan

Display, Reduksi Data, Penyajian data, Kesimpulan Hasil Wawancara Pola Pendidikan Anak Pada Keluarga Buruh Amplas Daerah Industri Ukir

(Di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara ) Tabel 7. Display, Reduksi Data, Penyajian data, Kesimpulan

Display Reduksi Data Penyajian Data Kesimpulan Ya seperti orang

tua lainnya yang juga mendidik anak-anak mereka, ya ngajari anak, ngurus anak, memenuhi kebutuhan sama memberi contoh yang baik pada anak mbak. Mendidik anak dengan mengajari, mengurus, memenuhi kebutuhan dan memberikan contoh yang baik.

Seperti orang tua yang lain dalam mendidik anak, mengajari, mengurus, memenuhi kebutuhan dan memberikan contoh yang baik pada anak. Beberapa upaya dalam mendidik anak adalah mengajari, mengurus, memenuhi kebutuhan dan memberikan contoh yang baik kepada anak.

Biasanya ibu saya, kalau dirumah sepi anak saya pasti main ketempat ibu saya jadi yang

mengawasi, mengontrol. Rumah saya sama ibu saya juga berdekatan jadi saya nggak khawatir kalau anak dirumah sendirian, trus juga ada anak saya yang gedhe jadi bisa

mengawasi adiknya juga. Pulang kerja saya selalu tanya

Mengawasi dan mengontrol anak dengan meminta bantuan kepada orang dekat ataupun orang yang lebih dewasa.

Biasanya ibu, jika rumah sepi anak saya ketempat ibu, jadi beliau yang mengawasi, mengontrol.

Rumah kami saling berdekatan,

sehingga saya tidak khawatir dengan anak, selain itu ada anak saya yang besar juga bisa mengawasi adeknya. Setelah pulang kerja saya selalu bertanya kepada anak, apa yang dilakukan selama sehari. Pengawasan dan kontrol bisa dilakukan dengan sendiri ataupun dengan meminta bantuan orang terdekat.

105 ke anak

melakukan apa saja seharian. Perhatiannya ya mengurus dia itu mbak sehari-harinya, kalau waktunya makan ya disuruh makan, diingatkan kalau main nggak boleh jauh-jauh kayak gitu. Perhatian kepada anak yaitu mengurus anak sehari-hari. Perhatiannya yaitu mengurus anak sehari-hari, jika waktu makan anak disuruh untuk makan, diingatkan untuk tidak main terlalu jauh.

Salah satu bentuk perhatian pada anak adalah dengan mengurus anak dalam sehari-hari.

Hubungannya baik mbak, anak saya yang perempuan itu dekat sama saya. Kalau beli apa-apa kayak baju, sandal itu aja minta kembaran sama saya. Mungkin karena anak cewek ya mbak jadi gitu sama ibu nya, beda sama anak yang cowok, cuek banget sama orang tuanya, mungkin dia udah gedhe jadi udah lepas dari ibunya.

Hubungan anak dengan ibu baik, anak perempuan identik dengan ibunya, dan cenderung lebih dekat daripada anak laki-laki. Hubungannya baik, anak perempuan dekat dengan ibu, apabila membeli barang anak minta untuk kembar dengan ibu. Mungkin karena anak perempuan, beda dengan anak laki-laki yang cuek dengan orang tua, mungkin karena sudah besar sehingga sudah bisa mandiri. Hubungan yang terjalin antara orang tua dengan anak baik.

Saya memberi kebebasan sama anak, kalau anak pingin melakukan apa ya silahkan, tapi tetep ada aturannya soalnya kalau terlalu Orang tua memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan apa saja, namun tetap dengan aturan agar anak tidak semena-mena dengan kebebasan

Saya memberikan kebebasan kepada anak, jika anak ingin melakukan sesuatu yang diinginkan, orang tua mempersilahkan, namun tetap dengan aturan, jika

Orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak, orang tua juga memberikan peraturan kepada anak agar anak tidak semena-mena dengan kebebasan yang

106 dibebaskan

nggak ada aturan nanti malah anak kurang ajar sama orang tua.

Apalagi anak yang cewek kan rawan, kalau yang cowok sih udah gedhe dia pasti tau mana yang baik dan nggak baik buat dia. yang diberikan orang tua. tidak anak dikhawatirkan semena-mena dengan kebebasan tersebut. diberikan. Apa ya mbak, ya anak jadi dekat dan terbuka sama saya soalnya mau ngapain aja boleh, nggak dibatesi. Kadang kan ada anak yang di larang ini itu malah dia jadi nggak terbuka sama orang tua. Kebebasan yang diberikan menjadikan anak dekat dan terbuka dengan orang tua. Banyak anak yang kurang terbuka karena sering dilarang ketika ingin melakukan sesuatu. Anak menjadi dekat dengan saya, karena anak dibolehkan untuk melakukan sesuatu yan anak inginkan. Kadang terdapat anak yang dilarang akan menjadi tidak terbuka dengan orang tua.

Kebebasan yang diberikan orang tua dapat membuat anak menjadi terbuka dengan orang tua.

Hambatannya ya paling itu saya harus bekerja, harus ngurus anak-anak, jadi waktu saya terbagi-bagi antara ngurusin anak sama kerja. Kadang saya merasa capek karena memikul beban yang berat selain ngurus anak juga harus kerja supaya punya penghasilan,

Hambatannya orang tua bekerja, sehingga waktu antara mengurus anak dan bekerja terbagi.

Hambatannya yaitu saya bekerja, harus mengurus anak-anak, jadi waktu saya terbagi antara mengurus anak dengan bekerja. Kadang saya merasa lelah karena menanggung beban ini. Selain mengurus anak saya juga harus bekerja agar mempunyai penghasilan, karena hanya saya

Hambatan yang dialami orang tua adalah harus membagi waktu antara mengurus anak dengan bekerja.

107 siapa lagi kalau

bukan saya yang mencari uang mbak. Menjadi orang tua tunggal itu ya berat mbak sebenarnya.

yang mencari uang. Menjadi orang tua tunggal tidak lah mudah.

Iya mbak, saya pesan sama anak “kalau mau main ngomong dulu dek”. Biasanya sih kalau pas saya dirumah dia ijin sama saya, tapi kalau tidak ada saya dia ngomong sama ibu saya. Tapi ya kadang cuma main pergi aja mbak

Orang tua berpesan kepada anak untuk pamit terlebih dahulu ketika ingin pergi bermain.

Saya berpesan pada anak “jika ingin bermain pamit dahulu”. Biasanya anak pamit dengan saya, tapi kalau saya tidak dirumah, pamit sama ibu saya. Tapi terkadang anak langsung bermain tanpa pamit. Orang tua mengajarkan kepada anak untuk berpamitan jika pergi keluar rumah seperti bermain.

Tidak mbak, saya nasehati, saya beri

pengertian kalau dia salah atau nakal

Jika anak nakal atau salah, diberikan nasehat dan pengertian. Tidak. Saya menasehati, memberikan pengertian apabila anak melakukan kesalahan atau kenakalan. Orang tua menasehati dan memberikan pengertian kepada anak jika berbuat kesalahan. Kalau saya pinginnya anak-anak nurut dengan saya namanya juga orang tua pingin punya anak yang berbakti, nurut tapi ya tidak saya paksa mbak, biarkan saja anak mau bagaimana, asal tidak kelewatan.

Orang tua ingin anak menurut dan berbakti, namun orang tua juga tidak memaksa.

Kalau saya pingin anak-anak menurut dengan saya, pingin mempunyai anak yang berbakti, tapi saya tidak memaksa, terserah pinginnya anak, asalkan tidak melewati batas.

Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang menurut dan berbakti dengan orang tua.

Tidak sepenuhnya,

Orang tua tidak bisa sepenuhnya

Tidak penuh, jika saya dirumah tetap

Orang tua tetap memberikan

108 kalau saya pas

dirumah ya tetap saya awasi, kadang saya kalau libur kerja anak pergi kemana saya temani. Kalau saya kerja, saya minta ke ibu saya buat mengawasi anak saya. mengawasi anak setiap saat, pengawasan juga ditanggungkan kepada keluarga dekat untuk membantu mengawasi anak. saya mengawasi, kadang jika libur kerja saya menemani anak. Jika sedang bekerja, saya meminta kepada ibu untuk mengawasi anak saya. pengawasan kepada anak ketika sedang sibuk berada diluar rumah (bekerja). Orang tua meminta bantuan kepada keluarga dekat untuk mengawasi anak. Kalau dirumah nggak usah di awasi toh dirumah sendiri mbak, kalau diluar rumah paling saya tanya mbak ke anak, “darimana terus ngapain aja tadi”. Saya juga dibantu sama ibu saya buat ngawasi anak-anak. Orang tua menanyakan kegiatan anak ketika diluar rumah.

Jika dirumah tidak perlu pengawasan karena dirumah sendiri, jika diluar rumah saya bertanya ke anak “darimana, melakukan apa”. Saya juga dibantu ibu untuk

mengawasi anak.

Orang tua selalu ingin tahu

mengenai kegiatan yang dilakukan oleh anak ketika diluar rumah. Cara yang di gunakan orang tua adalah dengan bertanya mengenai kegiatan anak. Ada peraturan. Seperti kalau waktunya makan anak harus makan, kalau main ijin dulu, nggak boleh pulang terlalu sore, waktunya sekolah harus sekolah Peraturan yang dibuat seperti, makan tepat waktu, pamit ketika pergi bermain, tidak diperbolekan pulang terlalu sore, disiplin dalam sekolah. Ada peraturan, seperti makan tepat waktu, jika

bermain harus pamit dahulu, tidak boleh pulang terlalu sore, jika waktunya sekolah harus sekolah. Orang tua membuat peraturan untuk mendisiplinkan anak, seperti peraturan untuk makan, bermain, pulang, dan sekolah. Sering mbak, pas nonton tv kami sering bincang-bincang. Anak suka cerita kalau disekolah Orang tua berkomunikasi dengan anak ketika sedang bersantai. Sering, ketika menonton tv kami sering mengobrol. Anak bercerita tentang apa yang terjadi disekolah.

Komunikasi sangat penting dilakukan oleh orang tua dengan anak.

109 temannya jahil

sama dia. Alhamdulillah lancar mbak, tiap hari anak berangkat

sekolah.

Nilainya cukup lah mbak, yang terpenting anak bisa naik kelas

Setiap hari anak berangkat sekolah, nilai yang didapatkan cukup dan terpenting anak bisa naik kelas.

Alhamdulillah lancar, anak berangkat sekolah setiap hari. Nilai yang di dapatkan cukup, yang terpenting anak bisa naik kelas.

Yang terpenting bagi orang tua anak bisa naik kelas.

Iya saya temani ketika anak belajar, tapi kadang kalau saya sudah capek ya anak belajar sendiri. Kalau saya bisa ya saya ajari, tapi kalau saya nggak bisa anak saya suruh bertanya sama kakaknya. Orang tua menemani anak dalam kegiatan belajar, namun tidak setiap hari orang tua melakukannya.

Saya menemani anak belajar, namun kadang saya sudah lelah sehingga anak belajar sendiri. Saya mengajari jika bisa, kalau tidak saya menuruh anak untuk

bertanya pada kakaknya.

Orang tua berusaha untuk ikut serta dalam

Dokumen terkait