BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
1) Bagi Praktek Keperawatan
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa perlunya mempertahankan mutu asuhan keperawatan dalam pelaksanaan ECT sesuai dengan prosedur dan standar tindakan pelayanan keperawatan.
2) Bagi Pendidikan
Agar meningkatkan pendidikan mahasiswa mengenai peran perawat dalam pelaksanaan ECT dan menyediakan fasilitas peralatan yang mendukung pelaksanaan saat pembelajaran praktikum ECT.
3) Bagi Penelitian Keperawatan
Pada penelitian ini menggambarkan bahwa peran perawat terlaksana sebagai pemberi asuhan keperawatan sebelum dan sesudah ECT, diharapkan perlu dilanjutkan dengan melakukan penelitian yang berhubungan dengan peran perawat dalam pelaksanaan ECT dengan cara observasi agar penelitian ini lebih sempurna dan lebih baik. Karena pada saat penelitian ini peneliti memiliki keterbatasan dalam waktu penelitian dan keterbatasan dalam penyebaran alat pengumpulan data yang harus didampingi oleh petugas rumah sakit.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perawat
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Hidayat, 2004).
Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati (Bagolz, 2010).
2.2 Peran
Peran perawat adalah merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kependudukan dalam system, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawat maupun dari luar profesi keperawatan yang bersifat konstan (Hidayat, 2007).
Menurut Barbara (1995) peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu (Lailia, 2009).
2.2.1 Peran Perawat
Peran perawat menurut konsorsium ilmu ilmu kesehatan tahun 1989 dalam Hidayat (2007) terdiri dari:
1. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar dapat direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
2. Peran sebagai advokat.
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberian pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya. Hak atas
privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Peran edukator.
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien sesudah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Peran koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
5. Peran kolaborator
Peran perawat disini dilakukan kerana perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
6. Peran konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informais tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
7. Peran pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
2.3 Electro Convulsive Terapy (ECT)
2.3.1 Definisi
ECT (Electro Confulsive Terapy) adalah tindakan dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik (Sujono, 2009). Sedangkan menurut Tomb (2004) Electro Convulsive Therapy adalah sah meskipun keburukan ECT tidak dapat dibenarkan. Walaupun mekanisme terapi lain atau pada keadaan yang tidak diobati: 0,01 – 0,03% dari pasien yang diterapi, terbanyak akibat serangan jantung.
Terapi elektrokonvulsif menginduksi kejang grand mal secara buatan dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau kedua pelipis (Stuart, 2007). Dan menurut Townsend (1998) Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup untuk menimbulkan kejang gran mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik tercapai.
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik yaitu bentuk terapi
pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall (Riyadi, 2009).
Terapi Kejang Listrik adalah suatu terapi dalam ilmu psikiatri yang dilakukan dengan cara mengalirkan listrik melalui suatu elekktroda yang ditempelkan di kepala penerita sehingga menimbulkan serangan kejang umum(Mursalin, 2009).
Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik tercapai (Taufik, 2010).
Terapi kejang listrik merupakan alat elektrokonvulsi yang mengeluarkan listrik sinusoid dan ada yang meniadakan satu fase dari aliran sinusoid itu sehingga pasien menerima aliran listrik (Maramis, 2004).
2.3.2 Indikasi
1. Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak berespon terhadap antidepresan atau yang tidak dapat meminum obat (Stuard, 2007). Menurut Tomb (2004) gangguan afek yang berat: pasien dengan gangguan bipolar, atau depresi menunjukkan respons yang baik dengan ECT. Pasien dengan gejala vegetatif yang jelas cukup berespon. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk pasien depresi dengan gejala psikotik. Mania juja memberikan respon yang baik pada ECT, terutama jika litium karbonat gagal untuk mengontrol fase akut.
2. Pasien dengan bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima pengobatan untuk mencapai efek terapeutik (Stuard, 2007). Menurut Tomb (2004), pasien bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu antidepresan bekerja. 3. Ketika efek samping Electro Convulsive Therapy yang diantisipasi kurang
dari efek samping yang berhubungan dengan blok jantung, dan selama kehamilan (Stuard, 2007).
4. Gangguan skizofrenia: skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited memberikan respons yang baik dengan ECT. Cobalah antipsikotik terlebih dahulu, tetapi jika kondisinya mengancam kehidupan (delyrium hyperexcited), segera lakukan ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe skizoaktif) yang tidak berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan ECT, tetapi pada sebagian besar skizofrenia (kronis), ECT tidak terlalu berguna (Tomb, 2004).
2.3.3 Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi yang mutlak. Pertimbangkan resiko prosedur dengan bahaya yang akan terjadi jika pasien tidak diterapi. Penyakit neurologik bukan suatu kontraindikasi
1. Resiko sangat tinggi:
a) Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi sistem saraf pusat), ECT dengan singkat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi tentorium.
terdapat kerusakan otot jantung, tunggu hingga enzim dan EKG stabil. 2. Resiko sedang:
a) Osteoatritis berat, osteoporosis, atau fraktur yang baru, siapkan selama terapi (pelemas otot) dan ablasio retina.
b) Penyakit kardiovaskuler (misalnya hipertensi, angina, aneurisma, aritmia), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya ada disana.
c) Infeksi berat, cedera serebrovaskular, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptik akut, feokromasitoma (Tomb, 2004).
2.3.4 Efek Samping ECT
1. Kematian, angka kematian yang disebabkan ECT adalah bervariasi antara 1-1.000 dan 1-10.000 pasien. Resiko ini sama dengan resiko karena pemberian anastesi umum. Kematian biasanya karena komplikasi kardiovaskuler.
2. Efek sistemik, pada pasien dengan gangguan jantung, dapat terjadi arritmia jantung sementara. Arritmia ini terjadi karena bradikardia post ictal yang sementara dan dapat dicegah dengan peningkatan dosis premedikasi anti
kolinerjik. Arritmia dapat juga terjadi karena hiperaktifitas simpathetik
sewaktu kejang atau saat pasien sadar kembali. Dilaporkan pula adanya reaksi toksis dan allergi terhadap obat yang digunakan untuk prosedur ECT
3. Efek cerebral, pada pemberian ECT bilateral dapat terjadi amnesia dan acute
confusion. Fungsi memori akan membaik kembali 1-6 bulan setelah ECT,
tetapi ada pasien yang melaporkan tetap mengalami gangguan memori (Tomb, 2004).
2.3.5 Peran Perawat dalam Pelaksanaan ECT
2.3.5.1 Peran perawat dalam persiapan klien sebelum tindakan ECT
1. Anjurkan pasien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang akan dilakukan.
2. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT.
3. Siapkan surat persetujuan tindakan.
4. Klien dipuasakan 4-6 jam sebelum tindakan.
5. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau jepit rambut yang mungkin dipakai klien.
6. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi.
7. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT.
8. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif hipnotik, dan antikonvulsan, harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan beberapa hari sebelumnya karena beresiko organik.
9. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropin) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal (Riyadi, 2009).
2.3.5.2 Persiapan alat
1. Perlengkapan dan peralatan terapi, termasuk pasta dan gel elektroda, bantalan kasa, alkohol, saling,elektroda elektroensefalogram (EEG), dan kertas grafik. 2. Peralatan untuk memantau, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan elektroda
EKG.
3. Manset tekanan darah, stimulator saraf perifer, dan oksimeter denyut nadi. 4. Stetoskop.
5. Palu reflex.
6. Peralatan intravena.
7. Penahan gigitan dengan wadah individu.
8. Pelbet dengan kasur yang keras dan bersisi pengaman serta dapat
meninggikan bagian kepala dan kaki. 9. Peralatan penghisap lender.
10. Peralatan ventilasi, termasuk slang, masker, ambu bag, peralatan jalan nafas oral, dan peralatan intubasi dengan sistem pemberian oksigen yang dapat memberikan tekanan oksigen positif. Obat untuk keadaan darurat dan obat lain sesuai rekomendasi staf anastesi (Stuart, 2007).
2.3.5.3 Prosedur pelaksanaan
Menurut pendapat Stuart (2007) berikut prosedur pelaksanaan terapi kejang listrik:
1. Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur. 2. Dapatkan persetujan tindakan.
3. Pastikan status puasa pasien setelah tengah malam.
4. Minta pasien untuk melepaskan perhiasan, jepit rambut, kaca mata, dan alat bantu pendengaran. Semua gigi palsu dilepaskan, tambahan gigi parsial dipertahankan.
5. Pakaikan baju yang longgar dan nyaman. 6. Kosongkan kandung kemih pasien. 7. Berikan obat praterapi.
8. Pastikan obat dan peralatan yang diperlakukan tersedia dan siap pakai. 9. Bantu pelaksanaan ECT.
a. Tenangkan pasien.
b. Dokter atau ahli anastesi memberikan oksigen untuk menyiapkan pasien bila terjadi apnea karena relaksan otot.
c. Berikan obat.
d. Pasang spatel lidah yang diberi bantalan untuk melindungi gigi pasien. e. Pasang elektroda. Kemudian berikan syok.
2.3.5.4Peran perawat setelah ECT
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah dimodifikasi dari pendapat Stuart (2007) dan Townsen (1998). Menurut pendapat Stuart (2007) memantau klien dalam masa pemulihan yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan. 2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien sampai sadar. Pertahankan jalan napas paten.
4. Jika pasien berespon, orientasikan pasien.
5. Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya hipotensi postural.
6. Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya. 7. Berikan makanan ringan.
8. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan pasien sesuai kebutuhan.
9. Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.
Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan kekacauan mental sementara yang merupakan efek samping ECT yang paling umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar supaya dapat mengurangi ketakutan-ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. Implementasi keperawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori tersebut hanya sementara.
2. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi. 3. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.
4. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.
5. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitas-aktivitas rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penderita gangguan skizifrenia di seluruh dunia ada 24 juta jiwa dengan angka kejadian 7 per 1000 penduduk (pada wanita dan pria sama ). Diperkirakan terdapat 4 – 10 % resiko kejadian bunuh diri sepanjang rentang kehidupan penderita skizofrenia dan 40 % angka percobaan bunuh diri. Studi yang dilakukan WHO melaporkan bahwa angka kematian tertinggi pada kasus skizofrenia disebabkan karena bunuh diri. Faktor resiko bunuh diri pada pasien skizofrenia terdapat gejala gejala positif terdapat ko – morbilitas depresi, kurangnya terapi, penurunan tingkat perawatan, sakit kronis, tingkat pendidikan tinggi dan pengharapan akan tampilan kerja yang tinggi biasanya terjadi pada fase awal dari perjalanan penyakitnya (Widiodiningrat , 2009).
Diperkirakan penduduk Indonesia yang menderita gangguan jiwa sebesar 2-3% jiwa setiap tahun. Zaman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung, dirantai, atau diikat, lalu ditempatkan di rumah atau hutan jika gangguan jiwa berat. Tetapi bila pasien tersebut tidak berbahaya, dibiarkan berkeliaran di desa, sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat. Terapi dalam gangguan jiwa bukan hanya meliputi pengobatan dengan farmakologi tetapi juga dengan psikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit pasien yang akan mendukung penyembuhan pasien jiwa. Pada terapi
modalitas tersebut perlu adanya dukungan keluarga dan dukungan sosial yang akan memberikan peningkatan penyembuhan karena pasien akan merasa berguna dalam masyarakat dan tidak merasa diasingkan dengan penyakit yang dialaminya (Kusumawati, 2010).
Terapi kejang listrik merupakan salah satu terapi dalam kelompok terapi total. Terapi ini berupa terapi fisik dengan pasien-pasien psikiatri dengan indikasi dan cara tertentu. Terapi kejang listrik adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang
grand mal secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektroda yang
dipasang pada satu atau dua ‘’temples’’(Stuard,2007).
Pada pelaksanaan pengobatan ECT, mekanismenya sebenarnya tidak diketahui, tapi diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan biokimia dalam otak. Suatu peningkatan kadar norefinefrin dan serotonin, mirip efek obat antidepresan. Kehilangan memori dan kekacauan mental sementara merupakan efek samping yang paling umum dimana perawat merupakan hal yang penting hadir pada saat pasien sadar setelah ECT, supaya dapat mengurangi ketakutan-ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori (Erlinafsiah, 2010).
Di Sumatera Utara dari data yang diambil dari Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara sebanyak 3097 kali dalam tahun 2010, Electro Convulsif Terapy diberikan kepada pasien- pasien depresi, halusinasi, waham, pasien dengan perilaku kekerasan, dan yang mencakup skizofrenia. Peran perawat dalam pelaksanaan ECT ini sangat penting karena adanya efek samping yang harus segera ditindak lanjuti.
Peran perawat kesehatan jiwa menurut Weiss (1947) yang dikutip Stuart Sundeen dalam Principles and Practice of Psychiatric Nursing Care (1995) dalam (Kusumawati, 2010) bahwa peran perawat adalah sebagai Attitude Therapy, yaitu mengobservasi perubahan, baik perubahan kecil atau menetap yang terjadi pada klien, mendemonstrasikan penerimaan, respek, memahami klien dan mempromosikan ketertarikan klien dan berpartisipasi dalam interaksi. Sedangkan menurut Clinton dan Nelson perawat jiwa harus berusaha menemukan dan memenuhi kebutuhan dasar klien yang terganggu seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan disayangi, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Klien gangguan jiwa umumnya mengalami gangguan selain fisiologis sebagai keluhan utama, tetapi selanjutnya seluruh kebutuhan menjadi terganggu sebagai dampak terganggunya kebutuhan psikologis. Oleh karena itu, perawat harus berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan menjalin rasa percaya dan berusaha memahami apa yang dirasakan oleh klien.
Berdasarkan latar belakang diatas karena pentingnya peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap gangguan jiwa yang mendapat terapi ECT penulis tertarik melakukan penelitian tentang Peran Perawat Dalam Pelaksanaan Sebelum Dan Sesudah ECT (Electro Convulsive Terapy) di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah penelitian ini adalah: bagaimana peran perawat sebelum dan sesudah ECT (Electro
Convulsive Terapy) di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. 1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penelitian ini adalah: mengidentifikasi peran perawat sebelum dan sesudah ECT (Electro Convulsive Terapy) di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi peran perawat sebelum ECT. 2. Untuk mengidentifikasi peran perawat sesudah ECT.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi praktek keperawatan.
Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan menjadi masukan dalam melakukan intervensi pada klien yang mendapat terapi ECT sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sebelum dan sesudah ECT.
2. Manfaat bagi pendidikan keperawatan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pentingnya
peran perawat mengenai ECT sebelum praktek di rumah sakit jiwa untuk dapat memberikan asuhan keperawatan.
3. Manfaat bagi penelitian keperawatan.
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan atau sumber data peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut dalam ruang lingkup yang sama.
Judul : Peran Perawat Sebelum dan Sesudah ECT Di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Medan.
Peneliti : Azizah Ummiyana
Program : Sarjana Keperawatan Ekstensi Tahun Akademik : 2011 – 2012
ABSTRAK
Terapi kejang listrik merupakan salah satu terapi dalam kelompok terapi total. Terapi ini berupa terapi fisik dengan pasien-pasien psikiatri dengan indikasi dan cara tertentu. Kehilangan memori dan kekacauan mental sementara merupakan efek samping yang paling umum dimana perawat merupakan hal yang penting hadir pada saat pasien sadar setelah ECT, supaya dapat mengurangi ketakutan-ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran perawat sebelum dan sesudah ECT (Electro Convulsive
Terapy) di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Desain penelitian
ini menggunakan desain deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 124 orang dan sampel dimabil dengan tehnik purposive sampling yaitu tehnik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai yang dikehendaki peneliti yaitu sebanyak 31 orang. Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini manunjukkan semua reponden (100%) perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan terlaksana. Hal ini didukung oleh umur responden yang rata-rata 37 tahun yang merupakan usia produktif dalam bekerja, selain itu didukung pendidikan responden mayoritas D3 Keperawatan sebanyak 67,74%. Hasil penelitian yang diperoleh disimpulkan bahwa peran perawat sebelum dan sesudah ECT terlaksana. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa perlunya mempertahankan mutu asuhan keperawatan dalam pelaksanaan ECT sesuai dengan prosedur dan standar tindakan pelayanan keperawatan dan diharapkan penelitian ini dilanjutkan dengan melakukan penelitian yang berhubungan dengan peran perawat dalam pelaksanaan ECT dengan cara observasi agar penelitian ini lebih sempurna dan lebih baik.
PERAN PERAWAT SEBELUM DAN SESUDAH ECT DI RUMAH SAKIT JIWA PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA
MEDAN
AZIZAH UMMIYANA
SKRIPSI
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ” Peran Perawat Sebelum Dan Sesudah ECT Di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Medan”.
Skripsi ini terlaksana karena arahan, masukan, dukungan, dan koreksi dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Erniyati S.Kp, MNS, pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Wardiyah Daulay S. Kep, Ns, M. Kep selaku dosen pembimbing skripsi. 4. Ibu Cholina Trisa Siregar S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.KMB dan ibu Mahnum
Lailan Nasution S. Kep, Ns, M. Kep selaku dosen penguji.
5. Seluruh dosen dan staf pengajar serta civitas akademika S-1 Keperawatan USU yang telah memberikan bimbingan selama perkuliahan.
6. Terima kasih kepada Ayahanda Gozali Nasution, Ibunda Yuna Syaroh, adik-adikku Dede, Yuli, Fiqie, Kinah, Alwi dan Salsabilah seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Teman-teman sejawat Fakultas keperawatan-B USU 2010, terima kasih atas bantuan dan semangatnya selama ini.
Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan dan pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis sangat mengharapkan adanya saran yang bersifat membangun untuk perbaikan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Medan, Februari 2012
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v ABSTRAK ... vii BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian... 3 1.3.1 Tujuan Umum ... 4 1.3.2 Tujuan Khusus ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Perawat ... 6
2.2 Peran ... 6
2.2.1 Peran Perawat ... 7
2.3 Electro Convulsive Terapy (ECT) ... 9
2.3.1 Defenisi ... 9
2.3.2 Indikasi ... 10
2.3.3 Kontraindikasi ... 11
2.3.4 Efek Samping ... 12
2.3.5 Peran Perawat Dalam ECT...12
2.3.5.1 Peran Perawat dalam Persiapan Klien Sebelum Tindakan ECT .... 12