• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Penggunaan katalis lainnya dalam reaksi transesterifikasi trigliserida dengan alkohol bercabang perlu dikaji lebih lanjut mengingat waktu reaksi bila menggunakan katalis asam sangat lama. Hal lainnya yang dapat lebih lanjut diteliti adalah kemungkinan

pencampuran 2-Butil ester dari RBDPO dan minyak jarak pagar dengan bahan bakar solar atau bahan lainnya untuk menurunkan viskositas 2-butil ester tersebut. Dapat juga dilakukan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan angka setana yang diperoleh bila digunakan propanol dan butanol dibandingkan dengan isopropanol dan 2-butanol untuk mendapatkan data yang lebih lengkap berkaitan dengan pengaruh percabangan terhadap angka setana alkil ester. Uji kompatibilitas alkil ester yang dicampur dengan petrodiesel serta sifat korosif yang ditimbulkannya dapat juga menjadi topik penelitian lebih lanjut.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonim 1, 2011, Indonesia Hasilkan 47 Persen Minyak Kelapa Sawit Dunia, http://www.antaranews.com/berita/1289201810/indonesia-hasilkan-47- persen-minyak-kelapa-sawit-dunia. Diakses tanggal 12 Januari 2011.

Anonim 2, 2007, Specification for Biodiesel, http://www.biodiesel.org/pdf_files/fuelfactsheets/BDSpec_07b.pdf.

Diakses tanggal 12 Mei 2008.

Anonim 3, 2007, Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit, Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian, Jakarta.

Azam, M.M., A. Waris dan N.M. Nahar, 2005, Prospect and potential of fatty acid methyl esters of some non-traditional seed oils for use as biodiesel in India, Biomass & Bioenergy, 29, 293 – 302.

Bangboye, A.I. dan A.C. Hansen, 2008, Prediction of cetane number of biodiesel fuel from the fatty acid methyl ester (FAME) composition, Int. Agrophysics, 22, 21 – 29.

Becker, K. dan H.P.S. Makkar, 2008, Jatropha curcas: A potential source for tomorrow’s oil and biodiesel, Lipid Technology, 20, 5, 104 – 107.

Boedoyo, M.S., 2006, Teknologi Proses Pencampuran Biodiesel dan Minyak Solar di Indonesia, dalam Prospek Pengembangan Biofuel Sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak, Pusat Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Konversi Dan Konservasi Energi Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi, BPPT – Jakarta.

Brahmana, H.R., 1998, Pemanfaatan Asam Lemak Bebas Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit Dalam Pembuatan Nilon 9,9 dan Ester Sorbitol Asam Lemak, Laporan Riset Unggulan Terpadu III Bidang Ilmu Kimia dan Proses, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset Nasional. Chongkong, S., C. Tongurai, P. Chetpattananondh dan C. Bunyakan, 2007, Biodiesel

production by esterification of palm fatty acid distillate, Biomass and Bioenergy, 31, 563 – 568.

Fan, X., X. Wang, F. Chen, D.P. Geller dan P.J. Wan, 2008, Engine Performance Test of Cottonseed Oil Biodiesel, The Open Energy and Fuels Journal, 1, 40 – 45.

Foon, C.S., C.Y. May, Y.C. Liang, M.A. Ngan dan Y. Basiron, 2006, Palm Biodiesel: Gearing Towards Malaysian Biodiesel Standards, Palm Oil Development, Malaysian Palm Oil Board, Malaysia.

Forero, C.L.B., 2005, Biodiesel from Castor Oil: A Promising Fuel for Cold Weather, International Conference On Renewable Energies and Power Quality (ICREPQ), Zaragoza.

Fukuda, H., A. Kondo, dan H. Noda, 2001, Review: Biodiesel Fuel Production by Transesterification of Oils, J. Biosci. Bioeng., 92, 5, 405 – 416.

Geller, D.P. dan Goodrum J.W., 2004, Effects of specific fatty acid methyl esters on diesel fuel lubricity, Fuel, 83, 2351 – 2356.

Goosen, R., K. Vora, dan C. Vona, 2007, Establishment of the Guidelines for the Development of Biodiesel Standards in the APEC Region, Hart Energy Consulting, Asia Pacific Economic Cooperation.

Indartono, Y.S., 2006, Mengenal Biodiesel: Karakteristik, Produksi, hingga Performansi Mesin (3), www.beritaiptek.com, diakses tanggal 12 Mei 2008

Ketaren, S, 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, UI Press, Jakarta. Knothe, G., A.C. Matheaus, dan T.W. Ryan III, 2003, Cetane numbers of branched

and straight-chain fatty esters determined in an ignition quality tester, Fuel, 82, 971 – 975.

Knothe, G., 2005, Dependence of biodiesel fuel properties on the structure of fatty acid alkyl esters, Fuel Processing Technology, 86, 1059 – 1070.

Knothe, G., dan K.R. Steidley, 2005, Kinematic viscosity of biodiesel fuel components and related compounds. Influence of compound structure and comparison to petrodiesel fuel components, Fuel, 84, 1059 – 1065.

Krisnangkura, K., 1986, A Simple Method Estimation of Cetane Index of Vegetable Oil Methyl Esters, JAOCS, 63, 4, 552 – 553.

Lang, X., A.K. Dalai, N.N. Bakhshi, M.J. Reaney dan P.B. Hertz, 2001, Preparation and characterization of bio-diesels from various bio-oils, Bioresource Technology, 80, 53 – 62.

Lee, I., L.A. Johnson dan E.G. Hammond, 1995, Use of Branched-Chain Esters to Reduce the Crystallization Temperature of Biodiesel, JAOCS, 72, 10, 1155 – 1160.

Lee, I., L.A. Johnson dan E.G. Hammond, 1996, Reducing the Crystallization Temperature of Biodiesel by Winterizing Methyl Soyate, JAOCS, 73, 5, 631 – 636.

Leung, D.Y.C., Xuan Wu, M.K.H. Leung, 2010, A review on biodiesel production using catalyzed transesterification, Applied Energy, 87, 1083 – 1095. Lepper, H. dan L. Friesenhagen, 1987, Process for the production of fatty acid alkyl

esters, US Patent No. 4.652.406.

Ma, F., dan M.A. Hanna, 1999, Biodiesel production: a review, Bioresource Technology, 70, 1 – 15.

May, C.Y., Y.C. Liang, C.S. Foon, M.A. Ngan, C.C. Hook dan Y. Basiron, 2005, Key fuel properties of palm oil alkyl esters, Fuel, 84, 1717 – 1720.

Moser, B.R., 2008, Influence of Blending Canola, Palm, Soybean and Sunflower Oil Methyl Esters on Fuel Properties of Biodiesel, Energy & Fuels, 22, 4301 – 4306.

Nasikin, M., Sukirno dan W. Nurhayanti, 2004, Penggunaan Metode Netralisasi dan Pre-esterifikasi untuk Mengurangi Asam Lemak Bebas pada CPO (Crude Palm Oil) dan Pengaruhnya terhadap Yield Metilester, Jurnal Teknologi, 18, 24 – 31.

Pinto, A.C., L.L.N. Guarieiro, M.J.C. Rezende, N.M. Ribeiro, E.A. Torres, W.A. Lopes, P.A. de P. Pereira dan J.B. de Andrade, 2005, Biodiesel: An Overview, J. Braz. Chem. Soc., 16, 6B, 1313 – 1330.

Sanli, H. dan M. Canacki, 2008, Effects of Different Alcohol and Catalyst Usage on Biodiesel Production from Different Vegetable Oils, Energy & Fuels, 22, 2713 – 2719.

Siochi, E.J., Anmar L.J.S., William T.Y., Antonio C.S. dan Tarek A.F., 2010, Method For Purifying Biodiesel, US Patent No. 0212219 A1.

Silverstein, Bassler dan Morril, 1981, Spectrometric Identification of Organic Compounds, Edisi Keempat, John Wiley & Sons, New York.

Srivastava, A. dan R. Prasad, 2000, Triglyceride-based diesel fuel, Renewable & Sustainable Energy Reviews, 4, 111 – 133.

Strong, C., C. Erickson dan D. Shukla, 2004, Evaluation of Biodiesel Fuel: Literature Review, Western Transportation Institute, College of Engineering, Montana State University – Bozeman.

Tariq, M., Saqib Ali, Fiaz Ahmad, M. Ahmad, M. Zafar, Nasir Khalid dan Mir Ajab Khan, 2011, Identification, FT-IR, NMR (1H and 13C) and GC/MS studies of fatty acid methyl esters in biodiesel from rocket seed oil, Fuel ProcessingTechnology, 92, 336 – 341.

Tiwari, A.K., A. Kumar dan H. Raheman, 2007, Biodiesel production from jathropa oil (Jatropha curcas) with high free fatty acids: An optimized process, Biomass & Bioenergy, 31, 569 – 575.

Tomasevica, A.V. dan S.S. Siler-Marinkovic, 2003, Methanolysis of used frying oil, Fuel Processing Technology, 81, 1 – 6.

Tyson, K.S., 2006, Biodiesel: Handling and Use Guidelines, Edisi Ketiga, DOE/GO- 102006-2358, Oak Ridge, United State Departement of Energy.

Vyasa, A.P., N. Subrahmanyama dan Payal A. Pate, Production of Biodiesel through transesterification of Jatropha oil using KNO3 / Al2O3 solid catalyst, Fuel,

88, 4, 625 – 628.

Wang, W.G., D.W. Lyons, N.N. Clark dan M. Gautam, 2000, Emissions from Nine Heavy Trucks Fueled by Diesel and Biodiesel Blend without Engine Modification, Environ. Sci. Technol., 34, 933 – 939.

Wang, P.S., M.E. Tat dan J. Van Gerpen, 2005, The Production of Fatty Acid Isopropyl Esters and Their Use as a Diesel Engine Fuel, JAOCS, 82, 11, 845 – 849.

Yan, S., C. DiMaggio, S. Mohan, M. Kim, S.O. Salley, dan K.Y. Simon Ng, 2010, Advancements in Heterogeneous Catalysis for Biodiesel Synthesis, Top Catal., 53, 721 – 736.

Lampiran A. Kromatogram Metil Ester RBDPO dan Minyak Jarak Pagar C12:0 C14:0 C16:0 C18:0 C18:1 C18:2 C20:0

C12:0 C14:0 C16:0 C18:0 C18:1 C18:2

Lampiran B. Prosedur Penentuan Bilangan Iodium dan Bilangan Penyabunan

Prosedur Penentuan Bilangan Iodium

1. Pembuatan Larutan Wijs

Larutan Wijs dibuat dari 13 gram Iod yang dilarutkan dalam 1000 ml asam asetat glasial, kemudian dialiri gas klor sampai terlihat perubahan warna dari coklat tua menjadi coklat kekuning-kuningan yang menunjukkan bahwa jumlah gas klor yang dimasukkan sudah cukup. Pembuatan larutan agak sukar dan bersifat tidak tahan lama. Larutan Wijs sangat peka terhadap cahaya dan panas serta udara sehingga harus disimpan ditempat yang gelap, sejuk dan tertutup rapat (Ketaren, 1986),

2. Pembuatan Larutan KI 15%

- Ditimbang dengan tepat 7,5 gram kristal KI kemudian dimasukkan kedalam beaker glass dan dilarutkan dengan sedikit air.

- Larutan KI tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam labu takar volume 50 ml dan ditambahkan aquadest sampai garis tanda kemudian diaduk supaya homogen.

3. Pembuatan Larutan Na2S2O3 0,1 N

- Ditimbang dengan tepat 24,8 gram Na2S2O3 kemudian dimasukkan kedalam beaker glass dan dilarutkan dengan sedikit aquadest.

- Larutan Na2S2O3 tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam labu takar volume 1000 ml dan ditambahkan aquadest sampai garis tanda kemudian diaduk supaya homogen.

4. Pembuatan Indikator Amilum 1%.

- Ditimbang dengan tepat 1 gram bubuk amilum kemudian dimasukkan kedalam beaker glass dan dilarutkan dengan aquadest hingga volume 150 ml.

- Larutan diuapkan sambil diaduk dengan pengaduk magnetik hingga volumenya menjadi 100 ml dan kemudian dipindahkan kedalam botol tertutup.

5. Standarisasi Larutan Na2S2O3 0,1 N

- Ditimbang 0,16 – 0,22 gram K2Cr2O7 yang sudah dihaluskan dan dikeringkan (pada suhu 1100C) kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 500 ml dan dilarutkan dengan 25 ml aquadest.

- Ditambahkan 20 ml larutan KI 15% dan 5 ml larutan HCl pekat kemudian dikocok dan didiamkan selama 5 menit.

- Campuran larutan dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai terjadi warna kuning larutan hampir hliang kemudian ditambahkan 2 - 3 ml larutan amilum 1%.

- Titrasi dilanjutkan dengan larutan Na2S2O3 sampai warna biru hilang dan dicatat volume larutan Na2S2O3 yang digunakan.

- Normalitas larutan Na2S2O3 diketahui melalui perhitungan dibawah ini: 20,394 x m N1 = --- V Dimana: N = Normalitas Na2S2O3 M = Berat K2Cr2O7 (mg) V = Volume Na2S2O3 6. Penentuan Bilangan Iodin

- Ditimbang dengan tepat 0,4 gram sampel kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan dengan 15 ml campuran larutan sikloheksana dan asam asetat (perbandingan 1:1) serta 25 ml larutan Wijs kemudian diaduk.

- Campuran disimpan dalam tempat gelap selama 60 menit kemudian ditambahkan 20 ml larutan KI 15% dan 40 ml aquadest.

- Dititrasi dengan larutan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga warna kuning hampir hilang kemudian ditambahkan 1 – 2 ml indikator amilum 1% (warna larutan menjadi biru tua).

- Dititrasi kembali hingga warna biru hilang dan lapisan sikloheksana berwarna merah muda.

- Dilakukan penetapan blanko.

12,69 x N x (V0 – V1)

Bilangan Iodin = ---

m

Dimana: N = Normalitas larutan Na2S2O3

V0 = Volume Na2S2O3 untuk titrasi blanko (ml) V1 = Volume Na2S2O3 untuk titasi sampel (ml) m = Berat sampel (gram)

Prosedur Penentuan Bilangan Penyabunan

1. Pembuatan Larutan HCl 0,5 N

Kedalam labu takar volume 1 liter dimasukkan 44,5 ml HCl (35 – 37%) dan ditambahkan aquadest sampai garis tanda.

2. Standarisasi Larutan HCl 0,5 N

- Ditimbang dengan tepat 0,75 gram boraks kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml dan dilarutkan dengan aquadest.

- Larutan ditambahkan 3 tetes indikator merah metil 1% (1 gram dalam 100 ml etanol 70%) dan di titrasi dengan larutan HCl 0,5 N yang akan distandarisasi hingga larutan menjadi merah muda.

- Normalitas larutan HCl diketahui melalui perhitungan dibawah ini: m

N = --- 190,6 x V

Dimana: N = Normalitas larutan HCl (mol eq/L) m = Berat boraks (mg)

V = Volume HCl yang digunakan (ml)

190,6 = Konstanta yang menyatakan berat molekul boraks. 3. Pembuatan Larutan Alkohol - KOH

- Kedalam labu reaksi ukuran 1500 ml yang telah berisi 1,2 liter alkohol 95% dimasukkan 10 gram KOH dan 6 gram butiran alumunium (alumunium foil).

- Campuran reaksi direfluks selama 30 menit kemudian didestilasi sampai diperoleh alkoholnya sebanyak 1 liter setelah dibuang 50 ml destilat pertama.

- Larutkan 40 gram KOH kedalam 1 liter alkohol hasil destilasi (dilakukan pada suhu < 150C) kemudian disimpan pada botol coklat kering bertutup karet.

- Dihaluskan 40 gram KOH dalam lumpang porselein 185 mm kemudian ditambahkan 45 gram butiran CaO, diaduk dan digerus hingga menjadi tepung. Dari 1 liter alkohol diambil 100 ml dan dimasukkan kedalam lumpang kemudian tuangkan kedalam labu takar.

- Bilas lumpang beberapa kali dan tuangkan sisa alkohol kedalam labu ukur, dikocok beberapa kali selama 5 menit setiap pengocokan kemudian dibiarkan semalam, disaring dan dimasukkan kedalam botol coklat yang kering.

4. Penentuan Bilangan Penyabunan

- Ditimbang dengan tepat 5 gram sampel kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml yang telah dilengkapi dengan pendingin bola dan penangas air.

- Ditambahkan 50 ml larutan alkohol – KOH dan beberapa butir batu didih.

- Campuran reaksi direfluks selama 1 jam sampai selesai penyabunan (harus terlihat jernih dan homogen serta tidak mengalami perubahan bila diencerkan dengan air).

- Bilas alat pendingin bola dengan sedikit aquadest, larutan didinginkan kemudian ditambahkan 1 ml indikator PP dan dititrasi dengan larutan HCl 0,5 N sampai warna indikator berubah menjadi tidak berwarna. - Dilakukan penetapan blanko

- Untuk menghitung bilangan penyabunan digunakan rumus perhitungan berikut:

56,1 x N x (V0 – V1) Bilangan Penyabunan = ---

m

Dimana: N = Normalitas KOH

V0 = Volume HCl 0,5 N untuk titrasi blanko (ml) V1 = Volume HCl 0,5 N untuk titasi sampel (ml) m = Berat sampel (gram)

Lampiran C. Spektrum FT-IR Biodiesel

Spektrum FT-IR RBDPO

Spektrum FT – IR Etil Ester RBDPO

Spektrum FT – IR Isopropil Ester RBDPO

Spektrum FT – IR 2-Butil Ester RBDPO

Lampiran D. Keputusan Direktur Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Nomor: 13A83 K/24/Djm/2006 Tentang Standar Dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Biodiesel Sebagai Bahan Bakar Lain yang Dipasarkan Di Dalam Negeri

NO. KARAKTERISTIK SATUAN NILAI METODE UJI

1 Mass jenis (400C) Kg/m3 850 – 890 ASTM D 1298

2 Viskositas kinematik (400C) mm2/s 2,3 – 6,0 ASTM D 445

3 Angka setana Min. 51 ASTM D 613

4 Titik nyala (mangkok tertutup) 0C Min. 100 ASTM D 93

5 Titik kabut 0C Maks. 18 ASTM D 2500

6 Korosi lempeng tembaga (3

jam pada 500C) Maks. No. 3 ASTM D 130

7 Residu karbon – dalam contoh asli, atau – dalam 10% ampas distilasi

% massa Maks. 0,05

Maks. 0,30 ASTM D 4530 8 Air dan sedimen

% vol Maks. 0,05 ASTM D 2709 atau ASTM D 1796 9 Temperatur distilasi 90% 0C Maks. 360 ASTM D 1160

10 Abu tersulfatkan % massa Maks. 0,02 ASTM D 874

11 Belereng

mg/kg Maks. 100 ASTM D 5453 atau ASTM D 1266

12 Fosfor mg/kg Maks. 10 AOCSCa 12-55

13 Angka asam mg

KOH/g Maks. 0,8

AOCS Cd. 3D-63 atau ASTM D 664

14 Gliserol bebas % massa

Maks. 0,02 AOCSCa. 14-56 atau ASTM D 6584

15 Gliserol total % massa

Maks. 0,24 AOCSCa. 14-56 atau ASTM D 6584

16 Kadar ester alkil % massa Min. 96,5 Dihitung

17 Angka iodium % massa Maks. 115 AOCS Cd. 1-25

Lampiran E. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3675 K/24/DJM/2006, tanggal 17 Maret 2006 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar 48

BATASAN NO KARAKTERISTIK SATUAN Min. Maks. METODE UJI 1 Bilangan Cetana

- Angka Cetana atau - Indeks Cetana - - 48 45 - - D 613 – 95 D 4737 – 96a 2 Berat Jenis (pada suhu 150C) kg/m3 815 870 D 1298 atau D

4052 - 96 3 Viskositas (pada suhu 400C) mm2/s 2,0 5,0 D 445 – 97

4 Kandungan Sulfur %m/m - 0,35 D 2622 – 98

5 Distilasi:

- T 95 0C - 370 D 85 – 99a

6 Titik Nyala 0C 60 - D 93 – 99a

7 Titik Tuang 0C - 18 D 97

8 Residu Karbon %m/m 0,1 D 4530 – 93

9 Kandungan Air mg/kg - 500 D 1744 – 92

10 Biological Growth - Nihil

11 Kandungan FAME %v/v - 10

12 Kandungan Metanol dan Etanol %v/v Tak Terdeteksi D 4815 13 Korosi Bilah Tembaga mant - Kelas 1 D 130 – 94

14 Kandungan Abu %m/m - 0,01 D 482 – 95

15 Kandungan Sedimen %m/m - 0,01 D 473

16 Bilangan Asam Kuat mg KOH/g - 0 D 664

17 Bilangan Asam Total mg KOH/g - 0,6 D 664

18 Partikulat mg/l - - D 2276 – 99

19 Penampilan Visual - Jernih dan Terang

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar 51 BATASAN NO KARAKTERISTIK SATUAN Min. Maks. METODE UJI 1 Bilangan Cetana

- Angka Cetana atau - Indeks Cetana - - 51 48 - - D 613 – 95 D 4737 – 96a 2 Berat Jenis (pada suhu 150C) kg/m3 820 860 D 4052 - 96 3 Viskositas (pada suhu 400C) mm2/s 2,0 4,5 D 445 – 97

4 Kandungan Sulfur %m/m - 0,05 D 2622 – 98

5 Distilasi: - T 90 - T 95

- Titik Didih Akhir

0 C 0 C 0 C - 340 360 370 D 85 – 99a

6 Titik Nyala 0C 55 - D 93 – 99a

7 Titik Tuang 0C - 18 D 97

8 Residu Karbon %m/m 0,30 D 4530 – 93

9 Kandungan Air mg/kg - 500 D 1744 – 92

10 Stabilisasi Oksidasi g/m3 - 25 D 2274 – 94

11 Biological Growth - Nihil

12 Kandungan FAME %v/v - 10

13 Kandungan Metanol dan Etanol %v/v Tak Terdeteksi D 4815 14 Korosi Bilah Tembaga mant - Kelas 1 D 130 – 94

15 Kandungan Abu %m/m - 0,01 D 482 – 95

16 Kandungan Sedimen %m/m - 0,01 D 473

17 Bilangan Asam Kuat mg KOH/g - 0 D 664

18 Bilangan Asam Total mg KOH/g - 0,3 D 664

19 Partikulat mg/l - 10 D 2276 – 99

20 Lubrisitas (HFFR wear scar dia @ 600C

mikron - 460 D 6079 – 99 21 Penampilan Visual - Jernih dan Terang

Lampiran F. Standar Biodiesel di Eropa, Amerika Serikat dan Oceania

UNI EROPA AMERIKA

SERIKAT AUSTRALIA SELANDIA BARU KARAKTERISTIK EN 14214:2003 ASTM D6751-07b Fuel Quality Standards Act 2000 NZS 7500:2005

Cetane Number, min 51 47 51 51

Ester Content, wt%, min 96.5 - 96.5 96.5

Sulfur, ppm, max 10 15 / 500 10 50 or 10

Density at 150C, kg/m3, min-max 860 – 900 - 860 – 890 860 – 900

Viscosity at 400C, cSt, min-max 3.5 – 5.0 1.9 – 6.0 3.5 – 5.0 2.0 – 6.0

Flash point, 0C, min 120 93 120 100

CCR, 100%, wt%, max - 0.050 0.05 0.05

CCR, 10%, wt%, max 0.3 - 0.3 0.3

Water and sediment, vol%, max - 0.050 0.05 -

Water, ppm, max 500 - - 500

Ash, wt%, max 0.02 0.020020 0.02 0.02

Total contamination, ppm 24 - 24 24

Cooper corrosion (3hr at 500C), max

Class 1 No. 3 Class 1 Class 1

Acid value, mg KOH/g, max 0.5 0.50 0.8 0.5

Methanol, wt%, max 0.2 0.2 vol% 0.2 0.2

Monoglycerides, wt%, max 0.8 - - 0.8

Diglycerides, wt%, max 0.2 - - -

Triglycerides, wt%, max 0.2 - - -

Free glycerol, wt%, max 0.02 0.020 0.02 0.02

Total glycerol, wt%, max 0.25 0.240 0.25 0.24

Linolenic acid methyl ester, wt%, max

12 - - 12

Polyunsaturated methyl ester, wt%, max

1 - - -

Iodine number, max 120 - - 120

Phosphorus, ppm, max 10 10 10 10

Alkali, (Na+K), ppm, max 5 5 5 5

Metals, (Ca+Mg), ppm, max 5 5 5 5

Distilation T90, 0C, max - 360 360 -

CFPP, 0C, max +5 to -44 - - -

Oxidation stability at 1100C, hr, min

6 3 6 6

Cloud point, 0C - Report - -

Sumber: Hart Energy Consulting, 2007, Establishment of the Guidelines for the Development of Biodiesel Standards in the APEC Region, Final Report Presented to Asia Pacific Economic Cooperation: Energy Working Group.

Dokumen terkait