IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.2 Saran
Saran unt uk pe nelitian selanjut nya yaitu dilakukannya perhitungan proksimat dan kualitas air ketika puncak kepadatan populasi.
21
DAFTAR PUSTAKA
Ali, S.K., Saleh A.M. 2012. Spirulina – An Overview. Academic Sciences. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science 4: 9-15.
APHA. 2005. Standard Methods For The Examination of Water and Wastewater 21st
Belay, A. 2008. Spirulina ( Spirulina sp.) : Prod uction and Quality Assurance. Di dalam: Gershwin M.E. dan Belay A. (Eds.), Spirulina in Human Nutrition and Health. California: CRC Press 2-26.
Edition. Washingt on : American Public Health Assoc iation.
Borchers, A.T., Belay, A., Keen, C.L., Gershwin, M.E. 2008. Spirulina and Immunity. Di dalam: Gershwin M.E dan A. Belay. (Eds.), Spirulina in Human Nutrition and Health. California: CRC Press 177-226
Borowitzka, M.A., Borowitzka, L.J. 1988. Micro-alga Biotechnology. Cambridge University Press. England.
Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi Edisi Kelima- Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Ciferri, O. 1983. Spirulina, The Edible Microorganism. America Society for Microbiology. Microbiological 4: 551-578.
FAO. 2008. A Review On Culture, Production And Use of Spirulina as Food for Humans and Feeds for Domestic Animals And Fish. Rome, Italy.
Fatimah. 2007. Simulasi Model Transpor Fosfor pada Aliran Sungai Menggunakan Persamaan Diferensial Orde Satu. Jurnal Teknologi Proses 6(1): 10-16.
Fogg, G.E. 1975. Algal Culture and Phytoplankton Ecology. London: The University of Winsconsin Press.
Henrikson, R. 2009. Earth Food Spirulina. Hana, Maui, Hawaii : Ronore Enterpr ise, I nc.
Henson, R., Kozlenko, R. 2009. New Research Reveals Health Benefits : Phycocyanin Enhances The Immune System. Di dalam: Henrikson R.(Eds.), Earth Food Spirulina. Hana, Maui, Hawaii : Ronore Enterprise, Inc.
Hu, Q. 2004. Industrial Production of Microalgal Cell- mass and Secondary Products- Major Industrial Species: Arthrospira (Spirulina) platensis. Di dalam: Richmond A.E. (Eds.), Handbook of Microalgal Culture, Biotechnology and Applied Phycology. Iowa: Blackwell Publishing 264-272. Korbee, N., Figueroa, F.L., Aguilera, J. 2005. Effect of Light Quality on The
22
Amino Acids in The Red Alga Porphyra leucosticta (Bangiales,
Rhodophyta). Elsevier. Jour nal of Photoc hemistry and Photob iology B: Biology 80:71-78.
Lee, Y.K. dan Shen, H. 2004. Basic Culturing Techniques. Di dalam: Richmond A.E. (Eds.), Handbook of Microalgal Culture, Biotechnology and Applied Phycology. Iowa: Blackwell Publishing 40-56.
Pambudi, L.T. 2001. Pengaruh Sinar Merah dengan Panjang Gelombang yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Kultur Murni Chlorella. [Skripsi]. Bogor: Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Park, K.H., Lee, C.G. 2000. Optimization of Alga l Photobioreactors Using Flashing Lights. J. Biotechnol. Bioprocess Eng 5: 186-190.
Rafiqul, I.M., Jalal, K.C.A., Alam, M.Z. 2005. Environmental Factors for Optimalization of Spirulina Biomass in Laboratory Culture. Asian Network for Scientific Information. Biotechnology 4(1): 19-22.
Reinehr, C.O., Costa, J.A.V. 2006. Repeated Batch Cultivation of The Microalga Spirulina platensis. J. Microbiol. & Biotech 22: 937-943.
Sasmita, P.G., Wenten, I.G., Suantika, G. 2004. Pengemba ngan Teknologi Ultrafiltrasi untuk Pemekatan Mikroalga. Prosiding. Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2004. Semarang: Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.
Takeuchi, T. 1988. Laboratory Work Chemical Evaluation of Dietary Nutriens. Di dalam: Watanabe T, (Eds.), Fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Bioscience. Tokyo University if Fisheries. JICA 179-226.
Vonshak, A. 1997. Spirulina: Growth, Physiology and Biochemistry. Di dalam: Vonshak A. (Eds.), Spirulina platensis (Arthrospira): Physiology, Cell-biology and Biotechnology. USA: Taylor and Francis Ltd, Bristol 46-47. Vonshak, A., Tomaselli, L. 2000. Spirulina sp. (Spirulina): Systematics and
Ecophysiology. Di dalam: Whitton B. A dan M. Potts. (Eds.), The Ecology of Cyanoba cteria: Their Diversity in Time and Space. Boston: Academic Publishing 505-522.
Winarti. 2003. Pertumbuhan Spirulina platensis yang Dikultur de ngan Pupuk Komersil (Urea, TSP dan ZA) dan Kotoran Ayam. [Skripsi]. Bogor: Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
23 Lampiran 1. Tata letak akuarium penelitian
Keterangan :
= Akuarium perlakuan berdimensi 25 cm x 25 cm x 45 cm = Perlakuan pe ncahayaan Biru-Merah
= Perlakuan pe ncahayaan Merah = Perlakuan pe ncahayaan Biru = Perlakuan pe ncahayaan Putih
24 Lampiran 2. Komposisi pupuk Zarrouk modifikasi untuk kultur Spirulina
fusiformis skala laboratorium 1 liter dan 16 liter
Nama Bahan Dos is
NaNO3 0,5 g/l K2SO4 1,0 g/l NaCl 1,0 g/l MgSO4 7H2O 0,2 g/l CaCl2 7 H2O 0,04 g/l FeSO4 7H2O 0,01 g/l EDTA 0,08 g/l CO(NH2)2 0,02 g/l
DAP (diammonium phospat) 1,25 g/l
KCl 0,898 g/l
Larutan mikronutrien (A5)* 1 ml/l
Bahan pembuat larutan mikronutrien (A5)*
Nama Bahan Dosis(mg/ l)
H3BO3 2,86
MnCl2.4H2O 1,81
ZnSO4.7H2O 0,222
((Na2Mo4 atau ((NH4)6Mo7)24.4H2O 0,0177
25 Lampiran 3. Komposisi pupuk Zarrouk modifikasi untuk kultur Spirulina
fusiformis skala intermediet 20 liter
Nama Bahan Jumlah (gram/liter)
NaHCO3 (soda kue) 8
NaCl 6,15
KCl 1,47
NaNO3 1,68
MgSO4. 7 H2O 0,16
DAP (diammonium phosphate) 0,008
Urea atau CO(NH2)2 0,015
FeSO4. 7H2O 0,005
26 Lampiran 4. Analisis statistik kepadatan puncak kultur Spirulina fusiformis
Deskripsi
Ulangan Perlakuan (10
4 sel/ml)
Putih Biru Merah Biru-Merah
1 6,75 4,00 14,00 9,75 2 6,75 3,75 16,00 7,00 3 6,50 3,75 14,50 9,25 Rata-rata 6,67 3,83 14,83 8,67 Simpangan baku 0,14 0,14 1,04 1,46 ANOVA Sumber keragaman Jumlah kuadrat db Kuadrat tengah F-hitung P Perlakuan 195,83 3 65,28 79,83 0,00 Galat 6,54 8 0,82 Total 202,38 11 Uji Tuke y Perlakuan N Subset a b c Biru 3 3,8333 Putih 3 6,6667 Biru-Merah 3 8,6667 Merah 3 14,8333 P 1,000 0,100 1,000
ABSTRAK
AHMAD FAUZAN. Teknologi produksi Spirulina fusiformis secara intensif
dengan pencahayaan monospektrum. Dibimbing oleh TATAG BUDIARDI da n
NUR BAMBANG PRIYO UTOMO.
Spirulina sp. merupakan jenis mikroalga yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri pa ngan dan pakan karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, asam lemak, vitamin, dan antioksidan yang tinggi. Spirulina sp. bersifat fotoautotrof yang melakukan proses fotosintesis untuk memperoleh berbagai senyawa yang diperlukan dalam metabolisme. Penelitian ini dilakukan untuk menentuka n efektivitas penggunaan lampu monospektrum 1500 lux sebagai sumber spektrum fotosintesis pada produksi biomassa Spirulina fusiformis yang dikultur secara intensif dengan menggunakan spektrum putih, merah, biru dan biru- merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya pada kultur
Spirulina fusiformis mempengaruhi puncak kepadatan, biomassa, kadar protein dan klorofil. Kepadatan puncak pada perlakuan merah, biru- merah, putih da n biru terjadi saat 18 hari kultivasi dengan masing- masing kepadatan 14,83 x 104 sel/ml; 8,67 x 104 sel/ml; 6,67 x 104 sel/ml dan 3,89 x 104 sel/ml. Spirulina fusiformis
yang dikultur menggunakan sumber pencahayaan monospektrum merah mencapai produksi terbaik dengan biomassa panen 5,075 mg/ml, kadar protein sebesar 65,77% dan kadar klorofil sebesar 1,605 mg/l.
ABSTRACT
AHMAD FAUZAN. Technology of Spirulina fusiformis production intensively
with monospectrum lighting. Supervised by TATAG BUDIARDI dan NUR
BAMBANG PRIYO UTOMO.
Spirulina sp. is important for food and feed ind ustry. Spirulina sp. contains high nutrients levels such as protein, fatty acids, vitamins and antioxidants. Spirulina
sp. is photoautotroph that can do process of photosynthesis to obtain the necessary range of compounds in metabolism. The obj ective of study to was compare the effective of the use of monospectrum lighting 1500 lux as source photosynthesis spectrum to biomass production. Spirulina fusiformis was intensively cultured using sources white, red, blue and blue-red spectrum. The results showed that treatment of light for culture Spirulina fusiformis influenced the top population level, biomass, proteins and chlorophyll content. The top of density on red, blue-red, white and blue at 18 day of cultivation with each de nsity was 14,83 x 104 cells/ml; 8,67 x 104 cells/ml; 6,67 x 104 cells/ml and 3,89 x 104 cells/ml. The
Spirulina fusiformis was cultured using sources red monospectrum lighting achieved the best production with biomass harvesting was 5,075 mg/ml, proteins content 65,77% and chlorophyll content 1,605 mg/l.
I. PENDAHULUAN
Mikroalga adalah kelompok alga berukuran ukuran 2-20 µm yang memiliki klorofil sehingga mampu melakukan fotosintesis. Mikroalga bereproduksi secara aseksual melalui pembelahan sel. Mikroalga terdiri dari banyak spesies yang
hampir semuanya merupakan organisme akuatik (Sasmita et al., 2004).
Mikroorganisme tersebut banyak digunakan dalam industri akuakultur, kesehatan, dan maka nan. Salah satu jenis mikroalga yang banyak digunakan da lam ind ustri tersebut adalah Spirulina sp. karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, asam lemak, vitamin dan antioksidan yang tinggi.
Industri akuakultur menggunakan spirulina sebagai bahan baku pembuatan pakan karena dapat meningkatkan nafsu makan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada larva ika n da n udang, serta dapat meningkatkan kualitas kulit, warna dan pemampilan pada ikan koi (Henrikson, 2009). Berba gai industri di bidang kesehatan khususnya bagi manusia, spirulina digunakan sebagai bahan baku produk yang akan dihasilkan seperti suplemen berbentuk tablet, cair ataupun dijadikan makanan siap saji seperti roti dan selai. Hal ini karena dapat meningkatkan fungsi imun tubuh (Borchers et al., 2008), mengurangi risiko kanker, merangsang kekebalan tubuh da n meningkatkan aktivitas limfosit (Henson da n Kozlenko, 2009).
Selain digunakan dalam dunia industri, Spirulina sp. juga dapat dikonsumsi langsung oleh manusia, seperti oleh penduduk yang tinggal di sekitar Danau Chad, Republik Chad, Afrika dan di Danau Texcoco, Meksiko yang menjadikannya sebagai makanan tambahan atau suplemen maupun sebagai makanan tradisional (Belay, 2008).
Semakin berkembangnya pengetahuan pada berbagai manfaat dari spirulina mengakibatkan peningkatan permintaan produk spirulina dari berbagai kalangan seperti perusahaan makanan, pakan maupun ind ustri lainnya. Peningkatan produksi terjadi di Cina dengan memproduksi 19.080 ton pada tahun 2003 menjadi 41.570 ton pada tahun 2004 atau setara dengan nilai transaksi sebesar 7,6 juta US$ tahun 2003 menjadi 16,6 US$ tahun 2004 (FAO, 2008). Meskipun demikian, permintaan yang besar ternyata belum diimbangi dengan peningkatan
2 produksi spirulina. Kondisi tersebut terjadi akibat produksi dari budidaya spirulina masih rendah. Solusi permasalahan tersebut adalah melalui pengembangan teknik kul tur agar produktivitas dan kualitas kultur spirulina dapat ditingkatkan.
Berbagai penelitian dan pengembangan telah dilakukan untuk memproduksi biomassa Spirulina sp. yang meliputi teknik kultur dalam berbagai skala produksi, optimasi kondisi lingkungan kultur, dan uji galur Spirulina sp. (Vonshak dan Tomaselli, 2000; Reinehr dan Costa, 2006). Optimasi kondisi lingkungan kultur dapat dilakukan dengan cara memanipulasi nutrisi media, suhu, pH dan perlakuan pencahayaan. Jenis Spirulina sp. yang umum dibudidaya di Indonesia yaitu
S. platensis da n S. fusiformis. Perbedaan dari kedua jenis tersebut terdapat pada kondisi lingkungan hidupnya. S. platensis hidup di perairan laut, sedangkan
S. fusiformis hidup di perairan tawar. Perbedaan tersebut mengakibatkan harus adanya segmentasi dalam pengembangan produksi berdasarkan jenis perairan
seperti perairan tawar, payau dan laut, sehingga jenis Spirulina yang akan
dikembangan di perairan tawar adalah S. fusiformis.
S. fusiformis merupakan organisme fotoautotrof yang melakukan proses fotosintesis untuk memperoleh berbagai senyawa yang diperlukan dalam metabolisme. Faktor utama yang berpengaruh dalam fotosintesis adalah cahaya. Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan S. fusiformis yang tidak dapat disimpan dalam fotobioreaktor, hal ini menyebabka n caha ya harus disuplai secara terus- menerus. Mengacu kepada efisiensi pemanfaatan cahaya oleh klorofil mikroalga, diketahui bahwa alga menyerap semua cahaya yang diterima walaupun tidak semua foton yang diterima dapat dimanfaatkan (Park dan Lee, 2000).
Secara alami cahaya yang berperan dalam proses fotosintesis adalah cahaya tampak yang berasal dari matahari. Sementara dalam kultur intensif, cahaya yang
digunakan umumnya berasal dari lampu tabung (tube lamp, TL) putih. Cahaya
yang be rasal dari matahari dan lampu TL merupakan cahaya polikromatik yang terdiri atas beberapa komponen cahaya monokromatik, yaitu caha ya merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu. Menurut Campbell et al. (2002), spektrum cahaya yang pa ling efektif diserap oleh klorofil sebagai sumber energi dalam reaksi terang adalah spektrum merah dan biru. Rekayasa pencahayaan dengan menggunakan cahaya monokromatik merah dan biru dapat meningkatkan efisiensi
3 dalam kegiatan produksi. Hal ini disebabkan keseluruhan energi yang digunakan untuk sumber cahaya dapat dikonversi menjadi gelombang merah (630-700 nm) dan biru (400-480 nm) yang paling bermanfaat dalam fotosintesis. Oleh karena itu, penelitian tentang efektivitas dan efisiensi penggunaan pencahayaan monospektrum dalam produksi spirulina di lingkungan yang terkontrol perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan dalam menghasilkan produk berkualitas baik, yaitu
food grade harus memiliki kriteria dari ISO 9001 yang di antaranya adalah kualitas premium nutrisi dan kualitas kontrol lingkungan (Henrikson, 2009). Tujuan da ri penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan TL monospektrum sebagai sumber pencahayaan fotosintesis terhadap produksi biomassa Spirulina fusiformis yang dikultur melalui kajian kepadatan sel, laju pertumbuhan spesifik dan kandungan nutrisinya.
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Prosedur Penelitian 2.1.1 Perlak uan Uji
Penelitian ini dilakukan dengan mengkultur spirulina Spirulina fusiformis
dalam skala laboratorium (1 liter) dengan pencahayaan menggunakan lampu TL putih selama 24 jam dengan intensitas berkisar antara 1500-2000 lux dan melakukan pengamatan kepadatan harian untuk mengetahui kurva pertumbuhan spirulina. Penelitian dilanjutkan dengan kultur skala intermediet (20 liter) menggunakan media Zarrouk yang dimodifikasi. Perlakuan yang diberika n berupa sumber cahaya yang berbeda yaitu lampu TL putih 36 watt dan lampu TL monospektrum 40 watt selama 24 jam sebagai berikut:
1) Perlakuan A (P): Sumber pe ncahayaan lampu TL putih.
2) Perlakuan B (100M): Sumber pe ncahayaan lampu TL merah.
3) Perlakuan C (100 B): Sumber pe ncahayaan lampu TL biru.
4) Perlakuan D (50B50M): Sumber pencahayaan lampu TL biru 50% dan TL
merah 50% .
2.1.2 Persiapan Alat dan Bahan
Pada tahap pertama persiapan, terlebih dahulu dilakukan pemasangan lampu TL dengan spektrum putih, spektrum merah, spektrum biru, spektrum merah-biru (50%-50%), dan sistem aerasi. Selanjutnya, alat-alat yang akan digunakan sebagai wadah kultur terlebih dahulu disterilisasi dengan cara dicuci menggunakan sabun hingga bersih, kemudian dibilas menggunakan air bersih dan dikeringkan. Setelah itu, peralatan disemprot dengan menggunakan larutan alkohol 70%.
Air yang digunakan sebagai media kultur terlebih dahulu disterilisasi menggunakan larutan klorin 30 µl/l dan diaerasi kuat selama 24 jam. Titik aerasi pada setiap akuarium dipasang sebanyak 2 titik. Setelah itu, air media diberi natrium tiosulfat 15 mg/l (50% dari dosis klorin yang digunakan) sebagai penetralisir residu larutan klorin.
5
2.1.3 Kultur Skala Laboratorium
Kultur dilakukan secara bertingkat yaitu dengan dilakukannya kultur skala laboratorium dengan volume 1 liter, ke mudian dibiakan menjadi 16 liter dan dilanjutka n dengan kultur intermediet bervolume 20 liter. Kultur tahap pertama dilakukan dalam skala kultur 1 liter. Kultur dilakukan menggunakan botol plastik transparan bervolume 1,5 liter. Wadah kultur diisi air mineral yang telah disiapkan terlebih dahul u da n ke mudian ditamba hka n larutan Zarrouk yang dimodifikasi sebagai nutrisi biakannya (Lampiran 2). Kompo sisi pupuk dilarutka n de ngan cara menambahkan air panas ke dalam pupuk agar dapat larut dengan baik. Setelah pengisian air dan zat hara sebagai media selesai, selanjutnya dilakukan inokulasi
Spirulina sp. ke dalam media. Hasil kultur skala ini kemudian dibiakan menjadi 16 liter menggunakan wadah berupa galon transpa ran. Selanjut nya hasil biakan tersebut digunakan untuk inokulan pada perlakuan yaitu skala intermediet bervolume 20 liter.
2.1.4 Kultur Skala Intermediet
Kegiatan kultur skala intermediet dilakukan dengan menggunakan akuarium berdimens i 25 cm x 25 cm x 45 cm. Inokulan yang digunakan untuk kultur ini ada lah kultur Spirulina ska la 16 liter. Pertama akuarium diisi dengan air yang telah disterilisasi sebanyak 17 liter. Kemudian dimasukka n larutan Zarrouk yang dimodifikasi (Lampiran 3) ke dalam akuarium hingga larut sempurna. Setelah media kultur siap, inokulan yang berasal dari skala laboratorium ditambahkan ke da lam media sebanyak 3 liter atau 15% dari total kultur per akuarium. Setiap akuarium diberikan sumber cahaya sesuai perlakuan dengan lama pencahayaan 24 jam. Kultur dilakukan selama 23 hari.
2.1.5 Pemanenan
Pemanenan Spirulina dilakukan pada saat kultur telah mencapai puncak
populasi. Puncak populasi dapat diketahui dari perubahan warna pada media kultur dan jumlah populasi berdasarkan pola pertumbuhan yang telah dihitung setiap harinya. Kegiatan ini dilakukan pukul 08.00 WIB dengan menggunakan
6 dipanen dengan terlebih dahulu mematikan aerasi dan kemudian spirulina disaring dengan plankton net. Spirulina yang tersaring dipindahkan ke dalam botol film dan selanjutnya digunakan untuk uji prosimat.
2.2 Parameter Penelitian 2.2.1 Biomassa Panen
Pada penelitian ini, biomassa yang dihasilkan pada setiap perlakuan dihitung berdasarkan bobot kering setiap harinya. Pengambilan sampel dilakukan pada jam 08.00 sampai 09.00 WIB. Tahapa n pertama yang dilakuka n yaitu air media diambil sebanyak 15 ml setiap perlakuan. Titik pengambilan sampel berada di bagian tengah akuarium dengan kedalaman 20 cm dari permukaan dan selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas saring yang sebelumnya telah dioven dan ditimbang terlebih dahulu. Spirulina yang tersaring dioven selama 4 jam serta didesikator selama 20 menit. Selanjutnya ditimbang sebagai bobot akhir. Nilai biomassa diperoleh dari selisih antara bobot akhir dan bobot awal kertas saring.
2.2.2 Kepadatan Populas i
Kepadatan populasi spirulina yang dihasilka n dihitung de ngan ba ntua n
hemositometer dan mikroskop. Pengambilan sampel dilakukan pada semua ulangan dan perlakuan pukul 08.00 hingga 09.00 WIB. Titik pengambilan sampel berada di bagian tengah dengan kedalaman 20 cm dari permukaan sebanyak 1 ml. Pengamatan sel pada hemositometer dilakukan 4 kali ulangan pada setiap bidang pandang hemositometer. Sel spirulina yang dihitung merupakan sel spirulina yang utuh dengan rumus seba gai berikut :
N = (C x 104) / (A x D) Keterangan :
N = Kepadatan sel spirulina (sel/ml) C = Jumlah sel yang dihitung A = Luas lapang pandang (mm2) D = Kedalaman lapang pandang (mm)
7
2.2.3 Laju Pertumbuhan Spesifik
Laju pertumbuhan spesifik dihitung menggunakan rumus (Vonshak, 1997): µ = (ln Nt – ln N0) / t
Keterangan :
µ = Laju pertumbuhan spesifik (hari-1) N0 = Kepadatan sel spirulinaawal (sel/ml) Nt = Kepadatan sel spirulinaakhir (sel/ml) t = Selang waktu dari N0 ke Nt
Analisis ka ndungan klorofil dilakukan pada akhir kultivasi skala intermediet. Sampel kultur diambil sebanyak 100 ml setiap perlakuan dan dimasukkan ke dalam botol PE. Sampel ditambahkan MgCO
(hari)
2.2.4 Waktu Penggandaan
Wakt u penggandaan merupaka n lama waktu sel untuk menggandakan menjadi dua kali lipatnya. Pengukuran waktu penggandaan dihitung dengan rumus (Vonshak, 1997):
G = ln 2 / µ = 0,693 / µ Keterangan :
G = Waktu penggandaan (hari)
µ = Laju pertumbuhan spesifik (pembelahan/hari)
2.2.5 Analisis Proksimat
Hasil kultur skala intermediet yang suda h dipa nen selanj utnya ditimbang dan dianalisis proksimat. Analisis proks imat dilakuka n unt uk menganalisis kandungan nut risi yang meliputi lemak menggunakan metode Folch, protein menggunakan metode Kjeldahl, kadar abu dan air menggunakan metode gravimetri dan serat kasar (Takeuchi, 1988).
2.2.6 Analisis Klorofil
3 1% sebanyak 10 ml/liter. Membran filter jenis cellulose nitrate 0,45 UM berdiameter 47 mm, vakum listrik dan filtering apparatus Nalgen dan selanjutnya sampel disaring. Membran filter diambil dengan tidak menyentuh bagian permukaan atas atau
8 sampel. Kemudian dilipat menjadi 2 bagian sama besar dan dilipat kembali menjadi 2 bagian lebih kecil. Membran filter tersebut dibungkus denga n alumunium foil dan dimasukka n kedalam plastik klip yang telah memiliki label. Selanjutnya sampel disimpan dalam kotak pendingin (cool box) dengan suhu 4 0C dan tidak terkena cahaya.
Sampel ditempatkan di alat penggiling jaringan dan dimasukkan 2 hingga 3 ml larutan aseton 90% selanjutnya dikocok dengan 500 rpm selama 1 menit. Pindahkan sampel ke tabung sentrifus (sentrifuge tube) dan membilasnya dengan larutan aseton 90% hingga menjadi volume 10 ml. Selama pengekstrasian klorofil, aseton 90% disiapkan sebagai blanko dengan jumlah yang sama dengan jumlah yang ditambahkan ke sampel. Setelah semalam, sampel didiamkan selama 15 menit di suhu kamar dan disentrifus selama 20 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Kemudian supernatan yang terbentuk diambil untuk diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang sebesar 630, 647 dan 664 nm. Hasil akhir dihitung dengan persamaan berikut (APHA, 2005) :
Keterangan :
OD664 = Nilai spektrofotometer pada panjang gelombang 664 OD647 = Nilai spektrofotometer pada panjang gelombang 647 OD630 = Nilai spektrofotometer pada panjang gelombang 630
2.2.7 Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini ada lah pe ngukuran setiap hari pukul 09.00 WIB (suhu, pH dan DO), serta pengukuran awal dan akhir penelitian (intensitas cahaya, total ammonium nitrogen (TAN), kadar nitrit, kadar nitrat dan kadar fosfat). Alat yang digunakan berupa DO-meter, thermometer, pH-meter, lux meter serta spektrofotometer.
9
2.3 Analisis Statistik
Penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan masing- masing diulang tiga kali. Data yang diperoleh berupa parameter kepadatan sel dianalisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika terdapat perbedaan yang nyata, maka analisis dilanjutkan dengan uji Tuke y. Hasil biomassa panen, laju pertumbuhan spesifik (LPS), waktu penggandaan (G), analisis proksimat, klorofil dan kualitas air dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan gambar dan tabel.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Kepadatan Sel
Kepadatan sel Spirulina fusiformis yang dikultivasi selama 23 hari dengan berbagai perlakuan cahaya menunjukkan bahwa kepadatan sel tertinggi terdapat pada perlakuan cahaya merah (p<0,05) (Gambar 1). Kepadatan puncak perlakuan tersebut terjadi pada hari ke-18 kultivasi sebesar 14,83 x 104 sel/ml. Kepadatan puncak pada perlakuan biru-merah, ko ntrol da n biru juga terjadi saat 18 hari kultivasi dengan masing- masing jumlah kepadatan 8,67 x 104 sel/ml; 6,67 x 104 sel/ml dan 3,89 x 104 sel/ml.
Gambar 1. Kepadatan sel Spirulina fusiformis selama kultivasi dengan perlakua n cahaya putih ( P), cahaya biru ( B), cahaya merah ( M) dan cahaya biru merah ( BM).
Gambar 2. Kepadatan sel Spirulina fusiformis pada saat puncak populasi dengan perlakuan cahaya putih (P), cahaya biru (B), cahaya merah (M) dan cahaya biru merah (BM).
11 Selanjutnya, pengaruh perlakuan terhadap pencapaian kepadatan populasi maksimal dianalisis melalui kepadatan sel pada saat puncak populasi yaitu hari ke-18 masa kultivasi. Gambar 2 menunjukkan bahwa populasi pada perlakuan merah memiliki kepadatan sel tertinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol, biru dan biru- merah. Hal tersebut bahwa perlakuan cahaya merah dan biru memberikan pengaruh yang nyata terhadap puncak kepadatan populasi (p<0,05). Akan tetapi, perlakuan cahaya putih tidak berbeda nyata dengan biru- merah.
3.1.2 Biomassa
Biomassa merupakan bobot populasi spirulina yang ditimbang dalam keadaan kering. Hasil biomassa S. fusiformis selama 23 hari kultivasi dapat dilihat dari Gambar 3 yang menunjukkan hasil fluktuatif. Bobot kering tertinggi diperoleh pada perlakuan merah dengan biomassa sebanyak 5,075 mg/ml pada hari ke-18 kultivasi. Kemudian dilanjutkan dengan biomassa tertinggi hingga terenda h yaitu perlakua n biru-merah sebanyak 3,625 mg/ml, perlakuan kontrol sebanyak 2,303 mg/ml dan perlakuan biru 1,453 mg/ml pada hari ke-18 kultivasi.
Gambar 3. Biomassa Spirulina fusiformis kultivasi dengan perlakuan cahaya putih ( P), cahaya biru ( B), cahaya merah ( M) dan cahaya biru merah ( BM).
12 Selain itu, terdapat hubungan antara kepadatan dan bobot kering. Semakin bertambahnya kepadatan sel maka berkecenderungan semakin bertambah pula