BAB IV: PENUTUP
4.2 Saran
Dalam penelitian ini, analisis drama Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah difokuskan pada konflik kelas dengan perspektif Marx dan Dahrendorf. Perbedaan antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah dalam drama ini sangat kontras, dan terlihat bahwa ada permainan uang dan kekuasaan di dalamnya. Akan tetapi, masih cukup banyak aspek yang dapat diteliti dalam drama ini, seperti sosok perempuan yang dalam MNdBT selalu menjadi pihak marjinal, atau proses perjuangan kelas
73
para masyarakat kelas bawah untuk dapat mencapai kesejahteraan. Selain itu, menarik pula untuk menyinggung naskah ini berdasarkan sisi historis yang melatarbelakangi penulisan drama, yaitu terkait dengan Marsinah dan isu buruh di Indonesia pada masa Orde Baru.
74
DAFTAR PUSTAKA
Adji, S.E. Peni. 2005. “Gender Dalam Drama Indonesia”. Jurnal Ilmiah Kebudayaan Sintesis. Vol. 3, No. 4, April 2005: Hlm. 95-103.
Adji, S.E. Peni. tanpa tahun. Modul Mata Kuliah Kajian Drama Indonesia. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Altenbernd, Lynn dan Lesli L. Lewis. 1989. A Handbook for The Study of Drama. New York: University Press of America.
Atika, Clara. 2013. “Drama Marsinah, Nyanyian dari Bawah Tanah Karya Ratna Sarumpaet: Analisis Struktur dan Tekstur”. Skripsi. Yogyakarta: Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Bajeber, Zain H., Abdul Rachman Saleh, Tuty Hutagalung. 1982. Tanya-Jawab Masalah Perburuhan. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, Anggota IKAPI, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.
Dahrendorf, Ralf. 1959. Class and Class Conflict in Industrial Society. California: Stanford University Press.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.
Dewojati, Cahyaning. 2010. Drama: Sejarah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Diharja, Prapta J. 2011. “Dari Marxis ke Komunis Sampai Lekra: Pemikiran Kritis” dalam Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia dalam Jebakan Kapitalisme. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Hlm. 152-170
Effendi, S. 1967. “Belajar Memahami Drama” dalam Bahasa dan Kesusastraan Indonesia Sebagai Tjermin Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung. Hlm. 173-187
Faruk. 2012. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-modernisme (Edisi Revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hamzah, A. Adjib. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: CV Rosda. Harymawan, RMA. 1986. Dramaturgi. Bandung: CV Rosda.
Hook. 1980. Marxisme dalam Percakapan dengan Sidney Hook Tentang 4 Masalah Filsafat. Jakarta: Djambatan.
75
Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Mohammad, Hery, Taufik Abriyansah. 2000. “Kasus Marsinah: Babak Baru yang Pesimistis”. Gatra. 26 Februari 2000: Hlm. 84-85
Mustopa. 2002. “Mencari Kembali Pembunuh Marsinah”. Forum Keadilan. No. 2, 28 April 2002: Hlm. 29.
Noor, Rusdian. 2004. “Kelas Sosial, Kepentingan Kelas, dan Konflik Kelas dalam Novel Saman: Sebuah Tinjauan Sosiologis”. Wacana Akademika. Vol. II, No. 5, Janunari 2004: Hlm. 61-72.
Novri, Susan. 2010. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana.
Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Okulu, ElmadağPolisMeslekYüksek. 2014. “Karl Marx and Ralf Dahrendorf: A Comparative Perspective on Class Formation and Conflict”. Eskişehir Osmangazi Üniversitesi İİBF Dergisi. Agustus 2014, Vol. 9 No. 2: Hlm. 151-167.
Rahardjo, M. Dawan. 1982. “Kritik Terhadap Marxisme dan Marxisme Sebagai Kritik Terhadap Pembangunan Kapitalis”. Prisma. 1 Januari 1982: Hlm. 75-91
Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rumbiak, Novalin Donna Ekawati. 2010. “Nilai Marxisme dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer”. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-Daerah, Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra: Sebuah Pemahaman Awal. Malang: UMM Press
Sarumpaet, Ratna. 1997. Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah. Yogyakarta: Bentang.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali. Sujarwadi, Andreas Teguh. 2007. “Perjuangan Kelas Penambang Pasir dalam Novel
76
Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Wibawanto, Agung, Imam Baskara, Jirnadara. 1998. Seri Perburuhan: Siasat Buruh di Bawah Represi. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.
Yasanti. 1995. Lika-Liku Kehidupan Buruh Perempuan: Hasil Penelitian Kehidupan Buruh Perempuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
77 LAMPIRAN 1
SINOPSIS
DRAMA MARSINAH: NYANYIAN DARI BAWAH TANAH KARYA RATNA SARUMPAET
Drama ini menceritakan mengenai Tokoh, seorang roh yang berada di Alam Kematian. Ia tidak dapat beristirahat dengan tenang karena selalu mendengar suara-suara menyayat yang seperti jeritan dan tangisan. Tidak satupun roh di Alam Kematian yang tahu siapa pemilik suara itu. Yang jelas, pemilik suara itu adalah seorang perempuan.
Ibu, salah seorang roh lain yang mendiami Alam Kematian, muncul mengisahkan kesedihannya karena anak-anaknya yang dicuri oleh kekuasaan dan ketamakan. Karena anak-anaknya melawan para manusia penguasa, mereka hilang. Sementara itu, di Alam Kehidupan, di sebuah pabrik, ada para buruh yang baru saja selesai bekerja. Di tengah-tengah kerumunan para pekerja itu, terdapat Corong, seorang kepala ruang para buruh yang meneriaki mereka untuk bergerak pulang. Akan tetapi, Kuneng, salah seorang buruh, tampak sakit dan berjalan lesu dan lambat. Teman-temannya, Nining dan Itut, berusaha membantu dan menyemangatinya, tetapi diusir oleh Corong, meninggalkan Kuneng dan Corong berdua saja. Akhirnya, diketahui bahwa Corong ternyata melakukan pelecehan seksual kepada Kuneng. Ia mengancam Kuneng dengan kekerasan bila Kuneng tidak mau melayaninya. Pada akhirnya, ditolong oleh teman-temannya, Kuneng bisa kabur dari situasi tersebut, meski pertolongan itu sempat tercekal oleh seorang Kepala Petugas yang lebih membela Corong.
Menyaksikan kejadian tersebut dari Alam Kematian, Tokoh merasa marah dan sedih karena tidak ada satu pun para penguasa yang membela mereka (para buruh). Mereka selalu menjadi pihak yang dipersalahkan, bahkan termasuk juga masyarakat kecil lainnya. Ia sendiri marah kepada Hakim, salah seorang roh lain di Alam Kematian, yang hanya bisa menyayangkan kejadian itu dan tidak berbuat
apa-78
apa. Ia merasa bahwa Hakim seseorang yang tidak memiliki hati nurani. Sebaliknya, Hakim tidak ingin dipersalahkan, terutama karena ia merasa bahwa kesalahan tidak bisa ditimpikan hanya padanya. Ia menganggap bahwa bentuk penegakan keadilan apapun yang ada di pengadilan, akan tetap ada kekuatan lain yang mengendalikannya.
Kemudian, di Alam Manusia, diketahui bahwa ternyata Kuneng meninggal bunuh diri. Latar belakangnya adalah tekanan hidup yang dialaminya. Rumahnya akan digusur, upah kerjanya kecil, padahal ia harus menghidupi keluarganya dan sekolah anak-anaknya, dan suaminya sendiri seorang pengangguran.
Melihat hal tersebut, Tokoh bertambah marah dan sedih, karena Kuneng menjadi bukti bahwa masyarakat kecil sebagai korban para penguasa yang korup. Akan tetapi, Hakim merasa bahwa Tokoh seharusnya tidak terus-menerus menyalahkan penguasa, karena mereka telah menentukan kebijakan-kebijakan untuk membangun bangsa dan negara. Tokoh menepis pernyataan itu karena kebijakan-kebijakan itu tidak pernah memihak masyarakat kecil.
Karena kebenciannya terhadap para penguasa, kebijakan-kebijakan yang mereka buat, dan kesewenang-wenangan kekuasaan mereka itulah Tokoh tidak ingin menemui Lelaki III, salah seorang roh lain di Alam Kematian yang pada saat hidup adalah seorang penguasa. Lelaki III terutama adalah seorang penguasa yang korup dan memerintah dengan otoriter. Hakim sendiri merasa bahwa Lelaki III bukanlah tokoh yang perlu ditentang. Hal tersebutlah yang membuat kemarahan Tokoh semakin menjadi-jadi.
Dengan kemarahan Tokoh itu, satu per satu roh lain di Alam Kematian pergi dan meninggalkannya sendirian. Ibu, roh yang masih ada di Alam Kematian itu berusaha menenangkan kemarahan Tokoh, membujuknya untuk melepaskan penyesalannya agar dapat beristirahat dengan tenang. Akan tetapi Tokoh menolaknya. Kemudian, datanglah Suara Dari Langit yang akhirnya membuat Tokoh berpasrah dengan kematiannya dan beristirahat dengan tenang.
79 LAMPIRAN 2
81
PROFIL PENULIS
Gabriela Melati Putri lahir di Jakarta pada 23 Agustus 1994. Pada tahun 2000-2006, ia menempuh pendidikan SD di SD Notre Dame. Pada tahun 2006-2009, ia menempuh pendidikan SMP di SMP Notre Dame. Pada tahun 2009-2012, ia menempuh pendidikan SMA di SMA Notre Dame. Kemudian, ada tahun 2012 ia memulai studi S1-nya di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Ia menjadi anggota aktif Teater Seriboe Djendela dari tahun 2012-2015 dan menjadi pengurus Rumah Tangga dan Kepustakaan Teater Seriboe Djendela periode 2013-2015. Selama masa aktifnya, ia telah terlibat dalam beberapa pementasan teater, baik sebagai aktor, tim penulis naskah, tim artistik, maupun tim produksi. Selain itu, ia juga terlibat dalam kegiatan workshop artisitik yang diadakan oleh Bengkel Sastra sebagai tim publikasi.
Pada tahun 2016, ia mengakhiri masa studinya dengan penelitian untuk tugas akhirnya yang berjudul “Konflik Kelas dalam Drama Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah Karya Ratna Sarumpaet: Tinjauan Sosiologi Sastra”.