Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena
keterbatasan pengetahuan dan kurangnya referensi tentang judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca mau memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penullis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah ini di kesempatan-kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hartati, Sarwono & Atik. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan
UU RI No. 40 th 1999 tentang pers Silabus Pkn kelas XII semester 2
http://cibengnews.blogspot.com/2012/11/pengertian-kode-etik-jurnalistik.html http://cibengnews.blogspot.com/2012/11/pelanggaran-pelanggaran-kode-etik.html http://wikipedia.com/kode-etik-jurnalistik/ http://infoaktual.net/kode-etik-wartawan-indonesia http://zainuddinjambi.wordpress.com/kode-etik-jurnalistik/ http://twentyo.blogspot.com/2012/01/upaya-pemerintah-dalam-mengendalikan.html http://hasbiahfuji.blogspot.com/2013/01/makalah-kode-etik-jurnalistik-dan_28.html
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1. RATIH BERLIANA : Paparazzi yang seringkali diam-diam meliput
berita. Apakah hal tersebut tidak melanggar kode etik pers?
Jawaban: Secara perjanjian internasional paparazzi yang
diam-diam meliput berita apabila wartawan dalam memperoleh berita
menggunakan cara yang tidak wajar. Hal ini tentu saja melanggar
kode etik, dan apabila berita yang disebarkan tidak benar, hal ini
juga adapat dikategorikan sebagai pelanggaran.
2. REZA BHAKTI F : Bagaimana pendapat anda tentang wartawan
yang dibunuh setelah memberitakan sebuah kejadian?
Jawaban: Hal ini harus diperiksa secara detail, kita tidak bisa
menentukan secara sepihak siapa yang membunuhnya tanpa
adda bukti yang jelas. Mungkin bisa dikatakan karena wartawan
itu sudah harus deadline. Ia melakukan berbagai cara untuk
mendapatkan berita yang hangat sampai-sampai membahayakan
hidupnya sendiri agar tidak kehilangan pekerjaannya. Itu
mungkin saja bisa terjadi apabila berita itu berisi sebuah fakta
yang dirahasiakan oleh pihak tertentu. Seharusnya wartawan
juga harus menghormati privasi orang lain. Walaupun secara
hukum pers, pihak pers mendapatkan perlindungan yang besar.
3. WIDHA P : Pada pemerintahan Soeharto, wartawan tidak
mempunyai kebebasan dalam meliput sebuah berita berita
tentang tata pemerintahan. Apakah pada waktu itu kaum
wartawan memang tidak mempunyai kebebasan? Bagaimana
menurut anda?
Jawaban: Pada zaman orde baru tidak ada kebebasan pers. Pers
di zaman itu dikendalikan oleh pemerintah untuk mendukung
pembangunan yang sedang dilakukan oleh pemerintah agar
rakyat bisa ikut mendukung. Akibat tingkah laku pemerrintah ini
banyak sekali pers terutama media massa yang tidak setuju
dengan hal ini, dengan cara menyebarkan berita tentang
keburukan tata pemerintahan mengenai demokrasi yang
samasekali tidak ada hak asasi yang dihormati. Hal ini, menurut
Soeharto dapat dilihat sebagai penurunan kepercayaan rakyat
terhadap pemerintah. Sehingga, seringkali pihak kementerian
penerangan mebredeli pers-pers tersebut. PWI yang sudaj
dibentuk pada waktu itu malah digunakan oleh pemerintah
sebagai pengontrol pers, bukan sebagai pembela hak-hak pers.
4. DEWI ZULIANA O : Bagaimana pendapat anda tentang berita
yang settingan? Apakah itu sesuai dengan kode etik?
Jawaban: Tentu saja berita settingan itu melanggar, apalgi berita
itu tidak memiliki sumber dan keterangan yang jelas. Pihak yang
dirugikan dapat melaporkan pihak terkait dengan menunjukkan
bukti-bukti yang dapat menjelaskan bahwa berita itu salah.
Bukan hanya kode etik saja yang dilanggar, tetapi wartawan yang
menyiarkan berita itu juga melanggar hukum. Dapat dipidana
dengan pasal mengenai pencemaran nama baik dan penipuan
publik.
http://ikanooraini.blogspot.com/2014/02/pers-yang-bebas-dan-bertanggung-jawab.html
Kode Etik Jurnalistik dan Pers yang
Bertanggung Jawab Materi Pkn Kelas
XII
A. Kode Etik Jurnalistik
Kode etik jurnalistik adalah asas atau norma yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai pedoman tingkah laku. Kode etik dimiliki oleh kelompok profesi. Kode etik memiliki ciri sebagai berikut :
a) Bersifat moral dan mengikat anggota kelompok profesi
b) Ruang lingkup kode etik hanya untuk kelompok profesi tertentu c) Dibuat dan disusun oleh lembaga / kelompok profesi tertentu
Kode etik jurnalistik dimiliki oleh para insan jurnalistik dan insan pers. Kode etik jurnalistik menjadi landasan moral atau etika bagi insan pers untuk menjamin
kebebasan pers dan pedoman operasional dalam menegakkan integritas serta profesionalitas pers.
a. Kode etik wartawan Indonesia
KEWI disusun di Bandung Tahun 1999, yaitu:
1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
2. Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis dalam memperoleh dan menyiarkan informasi dan memberikan identitas kepada sumber informasi.
3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga takbersalah, tidak mencampur adukkan fakta dengan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
4. Wartawan Indonesia tidak menyebarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban jejahatan susila.
5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
6. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargoinformasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan
7. Wartawan segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
b. Kode etik federasi wartawan internasional
Kode etik federasi wartawan internasional tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dalam melaksanakan kewajiban ini, wartawan harus membela prinsp-prinsip kebebasan dan pengumpulan publikasi berita secara jujur, dan hak atas komentar, serta kritik yang adil.
2. Wartawan sedapat mungkin meralat setiap pemberitaan yang telah dipublikasikan yang ternyata tidak benar dan merugikan orang lain.
3. Menghormati kebenaran dan hak-hak masyarakat akan kebenaran merupakan kewajiban utama seorang wartawan
4. Wartawan hendaknya sadar akan bahasa diskriminasi yang dikarenakan oleh media. Oleh karena itu, sedapat mungkin berusaha menghindari tindakan diskriminasi yang didasarkan pada ras, jenis kelamin, orientasi, asal usul, bahasa,
seksual, agama, pendapat politik, atau pendapat lainnya. Serta asal usul kebangsaan sosialnya.
5. Wartawan hendaknya memberi laporan yang sesuai dengan fakta yang diketahui sumbernya dan tidak menyembunyikan informasi yang penting atau memalsukan dokumen.
6. Wartawan hendaknya mengakui kerahasiaan professional kebenaran dengan sumber berita yang di dapatnya karena kepercayaan
7. Wartawan hendaknya menggunakan cara yang wajar / pantas untuk memperoleh berita, fotodan dokumen.
8. Seseorang yang berhak menyandang gelar wartawan hendaknya dengan setia menaati prinsip-prinsip tersebut di atas dalam menjalankan tugasnya.
B. Etika Pers
Etika pers adalah etika dari semua orang yang terlibat dalam kegiatan pers. Etika pers yaitu filsafat dibidang moral pers, mengenai kewajiban-kewajiban pers, baik
dan buruknya pers, pers yang benar, dan pers yang mengatur tingkah laku pers. Kegiatan pers yang dilandasi dengan etika pers yang baik maka masyarakat akan menerima kegiatan pers tersebut. Etika pers juga berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pers.
Adapun hal itu antara lain adalah:
1. Pers harus membuat dan menyiarkan berita yang akurat. Menguji setiap informasi yang ada dan terpercaya
2. Pers harus menghasilkan berita yang faktual. Wartawan harus mempunyai keahlian dalam mengolah mana opini dan mana fakta, serta merangkai keduanya secara tepat.
3. Wartawan tidak melakukan plagiat.
4. Wartawan harus dapat menunjukan identitas kepada narasumber, kecuali dalam kasus investigative.
Etika pers mempermasalahkan bagaimana seharusnya pers itu dilaksanakan agar dapat memenuhi fungsinya (pasal 3 UU No.40 Tahun 1999) dengan baik.
C. Pers yang Bebas dan Bertanggung Jawab
Kebebasan pers diartikan sebagai kebebasan untuk memiliki dan menyatakan pendapat di dunia pers. Kebebasan pers juga memiliki pengertian sebagai suatu kondisi yang memungkinkan para pekerja pers memilih, menentukan, dan mengerjakan tugasnya sesuai dengan keinginan pekerja pers.
Kebebasan pers yang dianut pers nasional adalah kebebasan pers yang sesuai dengan pers Pancasila. Pers pancasia adalah pers yang bebas dan bertanggung jawab. Salah satu prinsip utama pers pancasila adalah pentingnya kebebasan dan tanggung jawab. Sistem pers Pancasila menghendaki adanya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
Wartawan memiliki kebebasan dalam kegiatan pers, wartawan harus bertanggung jawab dalam beberapa hal, yaitu :
1. Tanggung jawab terhadap media tempat wartawan bekerja.
2. Tanggung jawab sosial yang berakibat adanya kewajiban melayani opini publik dan masyarakat secara keseluruhan.
3. Tanggung jawab dan kewajiban yang sesuai undang
–
undang.4. Tanggung jawab terhadap masyarakat internasional yang berhubungan dengan nilai universal.
Wartawan harus bertanggung jawab dalam pemberitaan dan berusaha menghindari pemberitaan yang dapat memicu pertentangan meskipun wartawan memiliki
kebebasan. Beberapa bentuk kebebasan pers yang diberikan oleh pemerintah masa kini adalah:
1. Memberikan kebebasan berekspresi terhadap pers.
2. Mempermudah pengurusan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers ( SIUPP ) sehingga bermunculan penerbitan pers baru.
3. Memberkan jaminan tidak akan ada lagi pembredelan pers.
Dengan pemberian kebebasan pers dari pemerintah maka sikap kita seharusnya melaksanakan kebebasan yang diberikan dengan penuh tanggung jawab. Beberapa sikap kita terhadap upaya pengendalian kebebasan pers yang dilakukan pemerintah, antara lain adalah
1. Dalam pemberitaannya, pers harus menyajikan pemberitaan yang benar, jujur, dan jelas.
2. Pihak
–
pihak yang ingin membuat penerbitan pers harus memperhatikan ketentuan yang berlaku, meskipun pemerintah mempermudah pengurusan SIUPP. 3. Pers harus memberitahukan hal–
hal yang tidak bertentangan dengan unsur sara. DAFTAR PUSTAKA http://fuadmje.wordpress.com/2011/11/06/kode-etik-jurnalistik/ http://blogmerko.blogspot.com/2013/01/makalah-pkn-tentang-kode-etik.html http://titismawar.blogspot.com/2013/11/kode-etik-jurnalistik-dan-pers-yang_2923.html Oleh ASM. RomliKode Etik Jurnalistik adalah etika profesi wartawan. Wartawan yang tidak menaati kode etik disebut wartawan tidak profesional , bahkan boleh disebut wartawan gadungan alias wartawan palsu.
WARTAWAN adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional, seperti halnya dokter, bidan, guru, atau pengacara yang punya kode etik . Sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki empat hal berikut, sebagaimana dikemukakan seorang sarjana India, Dr. Lakshamana Rao:
1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi.
2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu. 3. Harus ada keahlian (expertise ).
4. Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. (Assegaf, 1987).
Menurut saya, wartawan (Indonesia) sudah memenuhi keempat kriteria profesioal tersebut.
1. Wartawan memiliki kebebasan yang disebut kebebasan pers, yakni
kebebasan mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. UU No. 40/1999 tentang Pers menyebutkan, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, bahkan pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran (Pasal 4 ayat 1 dan 2). Pihak yang
mencoba menghalangi kemerdekaan pers dapat dipidana penjara maksimal dua tahun atau dena maksimal Rp 500 juta (Pasal 18 ayat 1).
Meskipun demikian, kebebasan di sini dibatasi dengan kewajiban menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah (Pasal 5 ayat 1).
Memang, sebagai tambahan, pada prakteknya, kebebasan pers sebagaimana dipelopori para penggagas Libertarian Press pada akhirnya lebih banyak
dinikmati oleh pemilik modal atauowner media massa. Akibatnya, para jurnalis dan penulisnya harus tunduk pada kepentingan pemilik atau setidaknya pada visi, misi, dan rubrikasi media tersebut. Sebuah koran di Bandungbahkan sering “mengebiri” kreativitas wartawannya sendiri selain mem-black list sejumlah
penulis yang tidak disukainya.
2. Jam kerja wartawan adalah 24 jam sehari karena peristiwa yang harus diliputnya sering tidak terduga dan bisa terjadi kapan saja. Sebagai seorang profesional, wartawan harus terjun ke lapangan meliputnya. Itulah panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan sebagai wartawan. Bahkan, wartawan
kadang-kadang harus bekerja dalam keadaan bahaya. Mereka ingin –dan harus begitu – menjadi orang pertama dalam mendapatkan berita dan mengenali para pemimpin dan orang-orang ternama.
3. Wartawan memiliki keahlian tertentu, yakni keahlian mencari, meliput, dan menulis berita, termasuk keahlian dalam berbahasa tulisan
dan Bahasa Jurnalistik.
4. Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik (Pasal 7 ayat (2) UU No. 40/1999 tentang Pers). Dalam penjelasan disebutkan, yang dimaksud
dengan Kode Etik Jurnalistik adalah Kode Etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers.
Kode Etik Jurnalistik PWI
KEJ pertama kali dikeluarkan dikeluarkan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). KEJ itu antara lain menetapkan.
1. Berita diperoleh dengan cara yang jujur.
2. Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkan (check and recheck ).
3. Sebisanya membedakan antara kejadian (fact ) dan pendapat (opinion ).
4. Menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak mau disebut namanya. Dalam hal ini, seorang wartawan tidak boleh memberi tahu di mana ia
mendapat beritanya jika orang yang memberikannya memintanya untuk merahasiakannya.
5. Tidak memberitakan keterangan yang diberikan secara off the record (for your eyes only ).
6. Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu suratkabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.
Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI)
Ketika Indonesia memasuki era reformasi dengan berakhirnya rezim Orde Baru, organisasi wartawan yang tadinya “tunggal”, yakni hanya PWI, menjadi banyak. Maka, KEJ pun hanya “berlaku” bagi wartawan yang menjadi anggota PWI.
Namun demikian, organisasi wartawan yang muncul selain PWI pun memandang penting adanya Kode Etik Wartawan. Pada 6 Agustus 1999, sebanyak 24 dari 26 organisasi wartawan berkumpul di Bandung dan menandatangani Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). Sebagian besar isinya mirip dengan KEJ PWI. KEWI berintikan tujuh hal sebagai berikut:
1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
2. Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber informasi. 3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak
mencampurkan fakta dengan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi. 6. Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan embargo,
informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan. 7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam
pemberitaan serta melayani Hak Jawab.
KEWI kemudian ditetapkan sebagai Kode Etik yang berlaku bagi seluruh wartawan Indonesia. Penetapan dilakukan Dewan Pers sebagaimana
diamanatkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers melalui SK Dewan Pers No. 1/SK-DP/2000 tanggal 20 Juni 2000.
Penetapan Kode Etik itu guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak-hak masyarakat. Kode Etik harus menjadi landasan moral
atau etika profesi yang bisa menjadi pedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas wartawan. Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang dibentuk untuk itu.
KEWI harus mendapat perhatian penuh dari semua wartawan. Hal itu jika memang benar-benar ingin menegakkan citra dan posisi wartawan sebagai “kaum profesional”. Paling tidak, KEWI itu diawasi secara internal oleh pemilik
atau manajemen redaksi masing-masing media massa.Wasalam. (www.romeltea.com).*
http://romeltea.com/kode-etik-jurnalistik-etika-profesi-wartawan/
KODE ETIK JURNALISTIK BAB I
PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Wartawan adalah sebuah profesi, Dengan kata lain, wartwan adalah
seorang profesional. Seperti halnya dokter, bidan, guru atau pengacara. Dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan harus dengan sadar menjalankan tugas, hak, kewajiban dan fungsinya yakni mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang profesional, seorang
wartawan harus turun ke lapangan untuk meliput suatu peristiwayang bisa terjadi kapan saja. Bahkan, wartawan kadangkala harus bekerja menghadapi bahaya untuk mendapatkan berita terbaru dan original. Selain itu wartawan harus mematuhi kode etik jurnalistik, misalnya
wartawan tidak menyebarkan berita yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan cabul serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
wartawan menghargai dan menghormati hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar, wartawan tidak dibenarkan
menjiplak, wartawan tidak diperkenankan menerima sogokan, dsb. Dalam melaksanakan kode etik junelistik tidak semudah membalikkan telapak tangan. banyak hambatan yang harus dilalui untuk menjadi wartawan yang profesional.
kode etik harus menjadi landasan moral atau etika profesi yang bisa menjadi operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas wartawan. Penetapan kode etik guna menjamin tegakanya kebebasan pers serta terpenuhinya hak – hak masyarakat.
Wartawan memiliki kebebasan pers yakni kebebasan mencari,
memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Meskipun demikian, kebebasan disini dibatasi dengan kewajiban menghormati norma norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat.
1.2 Tujuan
Suatu sistem pers di Indonesia bagaimana sebaiknya pers itu dapat melaksanakan kebebasan dan tanggung jawabnya. Pers dalam sejarah Indonesia memiliki peran yang efektif debagai jembatan komunikasi timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri.
Pers sebagai salah satu unsur media masa yang hadir ditengah
masyarakat bersama dengan lembaga masyarakat alinnya harus mampu menjadikan diri sebagai forum pertukaran fikiran, komenter, dan kritik yang bersifat menyeluruh dan tuntas, tidak membedakankelompok, golongan dan agama.
Pers dalam kehidupannya memiliki tanggung jawab yang harus dipikul dalam konteksnya sebagai media. Macam dan sifat tanggung jawab pers bersifat relatif di tiap negara namun pada dasarnya semua tanggung jawab tersebut berlandaskan pada Kode etik pers yang mana merupakan
dasar dari cara kerja pers. Dalam bekerja pers harus mempertanggung jawabkan pekerjaannya terhadap beberapa pihak yakni :
1.Tanggung jawab kepada media tempatnya bekerja
2.tanggung jawab sosial atas kewajibannya dalam menyampaikan informasi kepada publik secara keseluruhan
3.tanggung jawab dan kewajiban pada UU yang ada.
4.Tanggung jawab kepada masyarakat luas sehubungan dengan silai – nilai universal.
Makalah ini disusun dengan tujuan agar Pembaca mengerti terhadap kode etik yang ada pada tubuh pers, sehingga bagi mereka yang
memiliki cita –cita dalam bidang jurnalistik akan mengerti terhadap apa yang dimaksud dengan kode atik pers.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Setelah membaca dan mempelajari materi dari kode etik jurnalistik secara garis besar kami telah mendapatkan rumusan masalah dari makalah ini yang disusun secara sistematis yakni sebagai berikut :
1.Apa yang dimaksud dengan kode etik jurnalistik ? 2.bagaimana sistem pers di Indonesia ?
3.Jelaskan UU pers di Indonesia ! 4.Apa yang dimaksud Etika Pers ?
5.Bagaimanaah pers yang bebas dan bertanggung jawab ? 6.Apa yang dimaksud pers pancasila ?
7.Apa saja macam dan sifat tanggung jawab pers ?
8.Sebutkan dan jelaskan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan KEJ ! BAB III
PEMECAHAN MASALAH
Kode etik jurnalistik (KEJ) merupakan aturan mengenai perilaku dan
pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya. Kode Etik Jurnalistik pertama kali dikeluarkan oleh PWI
(Persatuan Wartawan Indonesia) yang antara lain : 1.Berita diperoleh dengan cara jujur
2.Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum disiarkan (check dan recheck).
3.Sebisanya membedakan yang nyata (fact) dan pendapat (opinion)
4.Menghargai dan melindungi kedudukan sumber yang tidak mau disebut namanya.
5.Tidak memberitakan berita yang diberikan secara off the record (four eyes only)
6.Dengan jujur menyebutkan sumber dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu surat kabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi Ketika Indonesia memasuki ere reformasi dengn berakhirnya rezim orde baru, organisasi wartawan yang awalnya tunggal yakni hanya PWI,
menjadi banyak. Maka KEJ pun hanya berlaku bagi wartawan anggota dari PWI. Namun demikian, organisasi jurnalistik lainnya pun merasa akan
pentingnya kode etik jurnalistik. Pada tanggal 6 Agustus 1999, sebanyak 24 dari 26 organisasi wartawan berkumpul di Bandung dan
Menandatangani Kode Etiik Wartawan Indonesia (KEWI). Sebagian besar isinya mirip dengan KEJ PWI. KEWI perintikan tujuh hal sebagai berikut. : 1.Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
2.Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis dalam memperoleh dan menyiarkan informasi dan memberikan identitas kepada sumber informasi.
3.Wartawan Indonesia menghormati asas praduga takbersalah, tidak
mencampur adukkan fakta dengan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
4.Wartawan Indonesia tidak menyebarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban jejahatan susila.
5.Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
6.Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan
embargoinformasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan . 7.Wartawan segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
KEWI kemudian ditetapkan sebagai Kode Etik yang berlaku bagi seluruh wartawan Indonesia. Penetapan dilakukan dewan pers sebagaimana
diamanatkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers melalui SK Dewan Pers No. 1/SK-DP/2000 tanggal 20 juni tahun 2000. Penerapak kode etik itu juga menjamin tegakknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak – hak
masyarakat. Kode Etik harus menjadi
masyarakat. Kode Etik harus menjadi sebagai landasan moral atau etikasebagai landasan moral atau etika
profesi yang bisa jadi pedoman profesionalitas wartawan. Pengawasan
profesi yang bisa jadi pedoman profesionalitas wartawan. Pengawasan
dan penetapan sanksi ata pelanggaran Kode
dan penetapan sanksi ata pelanggaran Kode Etik tersebut sepenuhnyaEtik tersebut sepenuhnya