• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan diatas maka penulis m enuliskan saran sebagai sebagai berikut.

1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa efektivitas manajemen perparkiaran di Kota Makassar harus di tingkatkan, dengan memasukan semua titik parkir kedalam daptara PD. Parkir Makassar Raya. Hal ini sangat penting dalam menujang retribusi parkir.

2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa untuk perencanan yang setiap harinya dilakukan oleh PD parkir, terutam kolektor yang menagi agar lebih gesit dalam menagih setoran dari juru parkir.

3. Dalam pelaksanan tugas terutama oleh kabag. Produksi agar lebih maksimal lagi dalam menjalankan pungsinya, menjalankan tugas pengawasan dan mengontrol lebih lagi kolektor, dan juru parkir.

4. Sedangkan untuk pengawasan oleh PD. Parkir terhadap kolektor, juru parkir, dan pegawai yang terlibat langsung dalam pengelolaan parkir, agar lebih lagi dalam memberikan arahan-arahan dari dirktur atau dari atasan kebawahanya, ini penting agar terjaling komunikasi yang baik.

DAFTAR FUSTAKA

Badrudin . 2013. Dasar-dasar manajemen , Alfabeta,Bandung,

Hasibuan Melayu S.P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta

Idrus, Muhammad, 2007. Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PendekaKualitatif

dan Kuantitatif). UII Press, Yogyakarta

Ismail, Tjip . 2007. Pengantar Pajak Daerah Di Indonesia, yellow printin, Jakarta.

Makmur, patologi serta terapinya dalam ilmu administrasi dan organisasi, Aditama, Jakarta. 2007

Rahmawati, ike, kusdayah, 2008. Manajemen Sumberdaya Manusia. Yokyakarta. Andi

Sembiring, Sentosa, 2009. Himpunan Lengkap Undang-undang Tentang Pemerintah Daerah. Nuansa Aulia, Bandung.

Soetopo, hendyat, 2012. Perilaku organisasi. Bandung. Rosda.

Sugiyono, 2014, Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif. Alfabeta. Bandung Simamora, Henry. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:

SIE.YKPN.

Wibowo,Tri .2011 Publik Policy, Pengantar Teori Dan Praktik Analisis Kebijakan. Kencana, Jakarta.

Aturan Undang-Undang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, perubahan kedua dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Perubahan kedua dari Undang-Undang RepublikIndonesia Nomor 18 Tahun 1997 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah

Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor 935 Tahun 2006 tentang Sistem Perparkiran Tepi Jalan Umum

Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 13 Tahun 2002 Tentang Pajak Parkir Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan

Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar Media.

www. Kompas.com www. Tribun Timur.com

RIWAYAT HIDUP

Akhmad Muarief. Lahir pada tanggal 11 November 1991 di Takalar. Penulis merupakan putra kedua dari pasangan Muh. Arief dan Hamida. Penulis yang yang menempuh pendidikan mulai dari TK. Di Takalar pada tahun 1999 dan melanjutakan pendidikan di SD Takalar, kemudian pindah sekolah pada tahun 2001 ke SDN 1 Segeri kabupaten Pangkep dan tammat SD pada tahun 2006.

Kemudian lanjut di SMP N 1 Segeri, dan tamat pada tahun 2008, putra kedua dari pasangan Muh Arief dan hamida ini kemudian melanjutkan studinya di SMA N 1 Segeri dan selesai dibangku SMA pada tahun 2011. Penulis dengan isim orang tua melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dengan masuk Ke Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Folitik, dengan Mengambil Program Studi Ilmu Administrasi Negara.

“Untuk perencanaan dalam menjalankan tugas pastinya harus dijalankan oleh petugas lapangan, petugas atau kolektor harus merencanakan kemana dan berapa target yang harus dicapai. Lanjutanya lagi dalam hal ini penetuan target setiap tahunya itu sangat penting untuk menambah pendapatan retribusi parkir, dan juga menjadi tolak ukur untuk tahun kedepanya”

(Wawancara SFR. September 2015)

Sementara disisi lain, target penerimaan merupakan tolak ukur realisasi penerimaan tahunan yang seharusnya harus dicapai dalam realisasi penerimaan retribusi parkir di Kota Makassar. Kemudian menurut keterangan Kaba. Produksi bahwa :

“Penentuan target pertahun didasarkan pada penentuan dan perluasan titik-titik kawasan yang dapat dijadikan sebagai lahan parkir dan dengan melihat realisasi yang dapat dicapai tiap tahunnya serta menambah presentase jenis penerimaan yang memungkinkan untuk dicapai itulah yang menjadi acuan kami untuk menetapkan target penerimaan retribusi parkir pertahun. disetiap kawasan perparkiran, penentuan target pertahun juga ditinjau dari peningkatan efisiensi biaya operasional dan biaya-biaya tak terduga lainny, jadi pada intinya penetuan target itu dilakukan dalam setahun saja”

(Wawancara SRF. September 2015) Lebih lanjut menerangkan bahwa :

“Persoalan mendasar kami dalam penentuan target pertahunnya adalah masih ada kawasan perparkiran yang tersebar di hampir semua titik di Kota Makassar yang tidak masuk dalam pendataan di PD Parkir sehingga terjadi perbedaan antara target yang ditetapkan dengan realisasinya pada tahun sebelumya sampai tahun 2014. Pendataan yang kurang akurat menghambat penentuan terget retribusi parkir pertahun”

(Wawancara SRF. September 2015)

Pernyataan lain yang ungkapkan oleh Hamsah kaba. Pengelolaan PD Parkir bahwa:

“Dalam menentukan target pertahunya kami juga melihat kondisi perkembangan kota yang dari tahun ketahun semakin siknipikan. Sehingga penentuan target retribusi parkir lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya dengan melihat potensi-potensi yang ada sesuai dengan perkembangan kota Makassar bebrapa tahun terakhir, seperti halnya perkembangan pusat bisnis atau pusat industry dapat kita jadikan sebagai titik parkir”.

hari, target yang telah ditentukan oleh setiap kolektor namung target tersebut berbeda-beda disetiap titik parkir yang telah ditentukan, itu dikarnakan pendapatan setiap titik parkir berbeda-beda antara titik lain seperti halnya dijalan pengayoman dengan jalan di alauddin, pada intinya setiap titik parkir itu memiliki potensial sendiri, banyak titik parkir di makassar ini iuranya cukup tinggi”

(wawancara NSM. September 2015)

Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa perencanaan dalam hal penentuan target senantiasa mengacu kepada jumlah titik-titik kawasan perparkiran

1.2. Pelaksanaan

Sesuai hasil wawancara dari tukan parkir sendiri muali dari jalan sultan alauddin, jalan pengayoman, jalan perintis dan jalan-jalan lain di Kota Makassar.

Menurut tukan parkir dijalan saat ditemui di tempat parkir mereka.

“untuk pelaksanaan jasa pungutan parkir di tempat saya, saya setiap hari turung kelapangan guna memungut retribusi parkir kesemua pengendara yang parkir ditempat saya dipengayoman, dan setiap kendaraan saya menerik sesuai atura Rp 2000 permotornya

(wawancara UD. Agustus 2015)

Lanjut dari pada itu menurut tukang parkir lain yang ada di jalan Sangratulangi mengatakan: “Untuk parkir sendiri pungutan disetiap pengunjung yang menitip motornya diarea pengayoama, pendapatan diarea saya kususnya di pengayoman cukup lumayang setiap harinya target yang telah ditentukan bisa kami dapatkan seperepat hari saja, dan hasil seterusnya kami ambil”

(Wawancara AGS. Agustus 2015)

Lanjutan dari pada itu untuk aktifitas pungutan parkir tidak lagi mengunakan karcis menurut tukan parkir dijalan cendrawasi mengatakan:

“ untuk jasa pungutan parkir, kami tidak lagi mengunakan karcis sebagai alat untuk menitif kendaraan penguna jasa parkir, untuk saat ini, setiap pungutan tidak lagi mengunakan karcis, kami sekarang diberikan target berapa yang harus kami bayar tiap hari”

(wawancara MAT. Agustus 2015)

“ untuk pungutan parkir sendiri kami sudah dibagi-bagi disetiap wilayah, ada 945 titik parkir di kota Makassar dan ada 1263 tukan parkir. Disetiap wilayah kami

kami saat diwawancar:

“Untuk masalah berapa jumlah atau berapa retribusi disetiap titik parkir itu tergantung berapa besar pendapatan disana, biasanya setiap titip parkir antara Rp 40.000-100.000 sedangkan target di untuk titik yang saya tangani yakni sebanyak 1 juta lebih. Itupun berbeda-benda antara senin dan hari-hari lain”

(wawancara DNL. Agustus 2015)

Sedangkan untuk juru parkir yang malas membayar retribusi akan diberi peringatan berikut hasil wawancara dengan kabag. Produksi :

“ untuk masalah juru parkir yang malas membayar uang kepada kolektor, kolektor mudah saja kolektor melaporkan juru parkir yang bersangkutan kepada pengawas yang setiap 3 kali dalam semiggu mengawasi titik parkir. Maka juru parkir tersebut akan mendapat teguran apabila masih berlanjut maka akan diberi tegurang keras dengan cara menandatangani surat pernyataan, ini dilakuakan agar juru parkir tidak mengulang lagi hal tersebut”

(wawancara SRF. September 2015)

Dari berbagai wawancara sedangkan menurut kabad. Penagihan mengatakan tentang pelaksanaan pelaksanaan pungutan

“ petugas penagi, atau kolektor itu setiap harinya menjalankan kegiatanya dengan cara turung langsung ke juru parkir menagih disetiap titik parkir sehingga juru parkir tidak usah lagi datang ke Pd untuk untuk membayar seteronya. Parkir, hal ini sudah berlangsung sudah lama”

(wawancara HL. September 2015)

Sedang kan dalam pelaksanaan pungutan parkir yang dilakukan oleh Agus kolektor mengatakan:

“dalam menjalankan tugasnya, kolektor itu dibagi-bagi tugasnya ada di daerah 1 dan ada di daerah lain. Setiap daerah itu kita tempatkan dua kolektor, kita lakukan hal demikian guna mendukung atau mempermudah dari seorang kolektor, namung jumlah kolektor di PD.parkir masihlah kurang”

(wawancara AGS. September 2015) .

Berikut tanggapan Kabag. Produksi dari hasil wawancara dilapangan :

“pada pungutan retribusi parkir para kolektor dibuatkan suatu standar kerja yaitu dalam sehari harus melakukan penagihan terhadap juru parkir yang ada disetiap titik parkir, semuanya titik parkir harus ditagih tampa terkecuali guna menunjang pendapatan retribusi parkir, waktu penagihan yakni disiang hari dan apabila jumlah tagihan belum memenuhi target maka keesokan harinya harus dipenuhi sehingga tidak ada waktu yang kosong”

(Wawancara SRF. September 2015)

Sedangkan menurut Nursalim Kasi. Pelataran mengatakan:

“untuk masalah penggunaan karcis, kami tidak mengunakan karcis lagi karna banyak sekali hal-hal yang tidak jelas dalam pengunaan karcis, seperti karcis yang susah habis, tetapi tempat parkir ramai akan kendaraan, itu merupakan permainan dari kolektor atau tukan parkir yang sengaja tidak member karcisi kepada orang yang parkir ditempatnya, makanya kami sekarang memberikan target saja berapa setiap harinya”

(wawancara NSM. September 2015)

Berikut tanggapan direktur utama PD. Parkir Makassar raya.

“untuk masalah pengelolan retribusi parkir sudah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Namung kita mengakui bahwa dibagian kasi. Penagihan kami masih mengalami kendalah dengan jumlah penagih, atau kolektor yang masih kurang, sehingga pungutan yang dilakukan oleh kolektor masih belum berjalan dengan efisien. Tapi itu bukanlah suatu masalah karna kedepanya kita akan menambah jumlah kolektor sehingga retribusi parkir dapat berjalan dengan baik.

(Wawancara ARD. september 2015)

Sedamgkan menurut direktur oprasional PD. Parkir Makassar Raya mengatakan tentan hal yang dapat menunjang pendapatan retribusi parkir diantaranya.

“sarana dan prasaran sangat penting dalam menjalankan tugas karna kolektor menjalankan tugasnya dengan berkeliling mengelilingi kota Makassar tak heran jika kolektor lebih sering mengunakan kendaraan pribadi dari pada kendaraan oprasional, kendaran oprasional sangat penting sebagai penunjang untuk menghantar kolektor menagih setoran disetiap titik parkir”

(wawancara SRF. September 2015)

1.3 Pengawasan .

a. Pengawasan Langsung

“Setiap 3 kali atau bahkan lebih dalam seminggu saya turun kelapangan untuk mengecek kolektor, apakah sudah melaksanakan tugasnya sesuai dengan prosedur serta memastikan bahwa semua pungutan retribusi parkir sudah disetor kepada para kolektor yang bertugas.

(Wawancara SRF. September 2015) Selain itu ia menambahkan bahwa :

“Pengawasan ini tidak hanya mengawasi tentan juru parkir tetapi juga mengawasih tentan letak parkir agar dalam penempatan parkir, tidak menghambat jalur lalulintas. Untuk karcis, kami tidak lagi mengawasinya karna kami sudah memberikan target retibusi disetiap titik parkir. hal ini dilakukan agar bisa mengetahui kolektor mana yang melakukan kelalaian yang hanya memikirkan pendapatan dari pada yang lainya seperti lajur lalulintas”

(wawancara SRF. September 2015)

Hasil wawancara diatas dibenarkan oleh juru parkir bapak puding yang mengjelakan bahwa : “Pihak PD Parkir melakukan pengecekan setiap 3 kali dalam seminggu untuk memastikan bahwa kami memberikan setoran pungutan retribusi parkir kepada para kolektor dan dipotong sesuai dengan yang telah ditentukan. Mereka juga mengecek keadaan titik parkir yang sesuai dengan ketentuan dan tidak melanggar atau memperlebar titik parkir sehingga tidak menghambat lalu lintas serta sedangkan karcis tidak kami gunkan lagi karna kami sekarang ini ditarget perharinya berapa setoran yang harus kami berikan kepada kolektor”

(wawancara PUD. September 2015)

Adapun bentuk sanksi yang diberikan kepada para kolektor yang lalai dalam melaksanakan tugasnya serta para juru parkir yang melewati titik batas parkir sesuai dengan penjelasan Kabag. Produksi bahwa :

“Untuk para kolektor yang melakukan kesalahan kecil kami hanya memberikan pengarahan agar kolektor tersebut tidak mengulangi kesalahannya dan lebih bertanggungjawab pada tugas yang diberikan, namun kami tidak segan-segan memberikan sanksi yang tegas pada kolektor yang selalu mengulangi kelalaiannya”

agar tidak mengulangi kesalahannya” (wawancara RM. September 2015)

. Sesuai yang diungkapkan direktur Utama PD. Parkir Aryanto Dammar sebagai berikut : “Banyak juru parkir yang tidak mendapat legalitas dari PD Parkir tetapi memungut retribusi parkir, padahal juru parkir yang resmi terdaftar adalah mereka yang mendapatkan baju seragam dan mendapatkan karcis serta tanda pengenal”

(Wawancara ARD. September 2015)

Berkaitan dengan hal tersebut Kabang.produksi menambahkan bahwa :

“Pihak PD Parkir raya bersama instansi terkait melakukan patroli untuk menertibkan juru parkir liar dan melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat yang tidak seharusnya dijadikan tempat parkir tetapi dijadikan lahan parkir dan tidak terdaftar di PD Parkir Makassar, bukan hanya melakukan patroli tetapi penertiban data petugas juru parkir salah satu cara untuk meminimalisasi petugas parkir liar”

(wawancara SRF. September 2015)

Senada dengan yang diterangkan oleh pihak PD Parkir diatas, Juru parkir liar yang wawancarai menegaskan bahwa :

“dalam seminggu petugas turung langsung mengawasi titik parkir liar, dia cuma menertipkan kami dengan cara turung dengan menggunakan kendaraan mereka. Kami tidak diberi sangsi sehingga kami masi bisa beroprasi jika mereka sudah pergi”

(Wawancara MAT September 2015)

2. Pengawasan Tidak Langsung

Aryanto Dammar selaku Dirut Utama PD Parkir Makassar Raya bahwa :

“kami melakukan pengawasan dengan meminta laporan-laporan penerimaan retribusi kepada Kabag.keuangan perbulannya dan melakukan evaluasi pertahunya guna melihat letak kekurangan dalam proses penerimaan pemungutan retribusi parkir.” (Wawancara ARD. September 2015)

Pelaksanaan kegiatan pengawasan pada dasarnya diupayakan untuk meningkatkan penerimaan daerah khususnya pada retribusi parkir, sehingga dengan upaya mengefektifkan kegiatan pengawasan terhadap mekanisme pelaksanaan pemungutan retribusi parkir dan

parkir/kolektor terhadap para juru parkir kemudian di setor ke Kasir. Kasir dan selanjutnya disetor kepada Kabag. Keuangan PD Parkir Makassar Raya.

2. Kabag keuangan membuat laporan penerimaan retribusi parkir kedalam buku pendataan dan dicatat sebagai buku penerimaan pada buku kas umum dari hasil retribusi parkir setiap hari kemudian laporan tersebut dikelola oleh Kasie.Pendataan setelah itu diajukan kepada Dirut Utama PD Parkir Makassar Raya untuk ditanda tangani dan disahkan. Selanjutnya setiap akhir bulan Kabag. Keuangan menjumlahkan dalam buku kas umum kemudian membuat laporan realisasi penerimaan kemudian disetorkan kepada Dirut Utama PD Parkir untuk disetujui dan Badan Pengawas, setelah itu dibuatkan proposal untuk disetujui oleh Walikota sebagai Pejabat Pemerintah Daerah yang menaungi PD Parkir Makassar Raya.

Dokumen terkait