BAB III PERAN MARGA DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA
III.4. Marga Sebagai Media Menggiring Opini
Public Opinion dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan “pendapat umum“, dengan demikian public diterjemahkan dengan “umum“ sedangkan opinion dialih bahasakan dengan “pendapat“. Dalam Ilmu Komunikasi terdapat istilah lain yaitu public relations yang umumnya diterjemahkan dengan “hubungan masyarakat“, dalam hal ini public diterjemahkan dengan “masyarakat“, sedangkan relations diterjemahkan dengan “hubungan“.80F
81
Penggiringan opini dalam sebuah pemilihan sangat penting sebab dalam suatu publik yang menghadapi issue dapat timbul berbagai kondisi yang berbeda-beda, yaitu :
1. Mereka dapat setuju terhadap fakta yang ada atau mereka pun boleh tidak setuju.
2. Mereka dapat berbeda dalam perkiraan atau estimation, tetapi juga boleh tidak berbeda pandangan.
3. Perbedaan yang lain ialah bahwa mungkin mereka mempunyai sumber data yang berbeda-beda. 81F
82
Opini publik adalah pendapat sekelompok masyarakat atau sintesa dari pendapat seseorang dan diperoleh dari suatu diskusi sosial dari pihak-pihak yang memiliki kaitan kepentingan. Agregat dari sikap dan kepercayaan ini biasanya dianut oleh populasi orang dewasa. Dalam menentukan opini publik, yang dihitung bukanlah jumlah mayoritasnya (numerical majority) namun mayoritas
81
Nimmo, Dan ,Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media, Bandung : Remaja Rosdakarya,1993.,hal.17.
82
yang efektif (effective majority).Subyek opini publik adalah masalah baru yang kontroversial dimana unsur-unsur opini publik adalah: pernyataan yang kontroversial, mengenai suatu hal yang bertentangan, dan reaksi pertama / gagasan baru.
Pendekatan prinsip terhadap kajian opini publik dapat dibagi menjadi 4 kategori : pengukuran kuantitatif terhadap distribusi opini penelitian terhadap hubungan internal antara opini individu yang membentuk opini publik pada suatu permasalahan deskripsi tentang atau analisis terhadap peran publik dari opini publik kajian baik terhadap media komunikasi yang memunculkan gagasan yang menjadi dasar opini maupun terhadap penggunaan media oleh pelaku propaganda dan manipulasi.
Opini dapat pula dinyatakan melalui perilaku, bahasa tubuh, raut muka, simbol-simbol tertulis, pakaian yang dikenakan, dan oleh tanda-tanda lain yang tak terbilang jumlahnya, melalui referensi, nilai-nilai, pandangan, sikap, dan kesetiaan. Opini publik itu identik dengan pengertian kebebasan, keterbukaan dalam mengungkapkan ide-ide, pendapat, keinginan, keluhan, kritik yang membangun, dan kebebasan di dalam penulisan. Dengan kata lain, opini publik itu merupakan efek dari kebebasan dalam mengungkapkan ide-ide dan pendapat di masyarakat.82F
83
Laurensius Sianturi dalam hal ini telah melakukan pembentukan Marga di Desa Laumil dalam menggiring opini, Salah satunya saluran yang paling ampuh
2014, Pukul 12.34 Wib
dalam membentuk opini publik lewat Marga. Karena dengan opini publik sebenarnya mempunyai kekuatan dalam mengubah sistem politik yang ada yaitu dengan upaya membangunkan sikap dan tindakan khalayak mengenai sebuah masalah politik dan/atau actor politik di desa Laumil.
Hal ini dikuatkan oleh Bapak Tigor Siburian yang mengatakan :
“Dalam kerangka ini Laurensius Sianturi menyampaikan pembicaraan-pembicaraan politik kepada masyarakat di Desa Laumil. Bentuk pembicaraan politik tersebut di rumah-rumah dalam perkumpulan Marga.”83F
84
Penggiringan Opini tentang Marga oleh Laurensius Sianturi menempatkan citranya sebagai Calon Kepala Desa sebagai prioritas penting dalam mencari dukungan dan simpati di Desa Laumil. Hal ini juga dipicu oleh peran Marga di Desa Laumil yang telah sedemikian maju disbandingkan pada pemilihan Kepala Desa sebelumnya. Pengadopsian Marga dengan menggiring opini mengaharuskan Laurensius Sianturi bersaing ketat memperebutkan dukungan menjadi Kepala desa di Desa Laumil.. Pengiringan Opini Publik yang dilakukan Laurensius Sianturi dalam hal ini mempunyai fungsi sebagai keutuhan dalam kehidupan sosial dan politik di Desa Laumil.
Isu marga dalam pemilu atau pemilihan kepala desa bukan hal baru lagi terutama di Sumatera utara. Walaupun terkesan strategi politik klasik, nyatanya mengangkat isu Marga masih menjadi topik yang laku dijual dalam perhelatan pemilihan kepala desa di beberapa daerah di Sumatera Utara. Isu kesukuan, putra daerah, isu agama, bergaris keturunan raja, alih waris, selalu menjadi tema
84
Hasil Wawancara dengan Tim Sukses Laurensius Sianturi Bapak Tigor Siburian pada tanggal 27 Desember 2015 di Kediamannya di Desa Laumil, Pukul 14.00 Wib.
kampanye untuk meraup suara dari calon pemilih. Isu primodial memang tidak melanggar hukum selagi tidak mengandung fitnah terhadap lawan politik dan mengadudombakan rakyat. Lain dari itu, secara positif primodialisme itu sendiri merupakan suatu kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga eksistensinya dalam ruang lingkup Bhineka Tunggal Ika, asalkan tidak menggunakan isu tersebut sebagai alat untuk kepentingan segelintir orang yang punya ambisi kekuasaan.84F
85
Namun kenyataan praksis rupanya berbanding terbalik. Kebanyakan aktor politik justru menggunakan isu ini sebagai senjata ampuh untuk memenangkan pemilihan Kepala desa di Desa Laumil. Isu Marga tentunya menjadi sangat subur ketika dilemparkan dalam pemilih tradisional yang masih memilih berdasarkan emosional dan loyalitas di Desa Laumil. Realitas ini merupakan bentuk kejanggalan dalam demokrasi (dari, oleh dan untuk rakyat). Jika demokrasi itu oleh rakyat maka seharusnya penentuan tipikal pemimpin, berdasarkan pertimbangan pribadi rakyat bukannya dimainkan oleh segelintir elit. Rakyat bawah selalu dijadikan obyek isu para elit pragmatis. Rakyat berada pada posisi pasif yang siap menerima segala gempuran isu, sementara elit politik berpangku tangan melihat reaksinya.
Isu Marga memang bukan hal baru proses demokrasi di level lokal di Desa Laumil oleh Laurensius Sianturi ketika mengalihkan perhatian masyarakat pemilih dari penilaian sesungguhnya atas seorang calon, baik kecerdasan, kebijakan, jiwa kepemimpinan serta ide-ide briliant yang seharusnya lebih ditonjolkan untuk kemajuan daerahnya. Dari sudut integritas bangsa, kampanye
85
dengan mengangkat isu Marga berpotensi bahaya laten terhadap kesatuan dan persatuan bangsa. Dengan menonjolkan aspek agama dan suku tertentu berarti menganaktirikan agama dan suku lainnya. 85F
86
Hal ini diperkuat oleh bapak Gunsar Sianturi yang mengatakan :
“ Marga merupakan bagian dari fakta sejarah di sumatera Utara khususnya Masyarakat Batak. Indonesia lahir dari rahim kebhinnekaan, di mana Marga dalam masyarakat batak merupakan salah satu bagian terpenting dari komponen kemajemukan sebuah bangunandalam masyarakat batak.”86F
87
Sejalan dengan proses demokratisasi di Indonesia sering timbul gejala-gejala negatif seperti ekses-ekses yang mementingkan kelompok dan marga sendiri (sukuisme), adanya kecenderungan untuk menggunakan nilai-nilai kelompok. Isu Marga berkaitan dengan lahirnya demokrasi di Sumatera Utara.
Maraknya proses demokrasi yang sejalan dengan politik desentralisasi dimana pemerintah pusat memberikan hak kepada pemerintah daerah untuk memperoleh kebebasan dan pengakuan politik dalam pemilihan kepala daerah sendiri. kesukuan yang menjadi ikatan yang sangat emosional dan mendalam telah melahirkan perjuangan kelompok Marga tertentu dari dominasi etnis mayoritas di Desa Laumil.
Menggunakan Marga sebagai penggiringan Opini berkaitan pula dengan kebudayaan masing-masing yang memiliki ciri khas dari kelompok etnis batak, dalam kelompok tersebut terjadi keterikatan antara orang-orang dalam kelompok tersebut atau dikenal sebagai primordialisme. Sehingga tidak jarang keterikatan
86
Ibid,,Faturochman.,Hal.20 87
Wawancara dengan Wakil Kepala Desa Bapak Gunsar Sianturi di kediamaanya di Desa Laumil pada tanggal 29 Desember 2015, Pukul 12.05 Wib
Marga ini dimanipulasi dan dijadikan alat atau kendaraan oleh kelompok elite dalam memperebutkan sumber kekuasaan, terutama di desa yang penduduknya
Pemilihan Kepala Desa di desa Laumil merupakan salah satu bentuk pelaksanaan demokrasi yang bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan pemerintahan desa yang bersih, akuntabel dan demokratis di ruang lingkup desa. Pemilihan Kepala Desa di Desa Laumil yang karena konsekuensi dari otonomi daerah yang mana sejak jaman orde lama pemilihan ini sudah bersifat langsung, yaitu Pemilihan Kepala Desa di desa Laumil dengan melibatkan seluruh rakyat di desa yang memiliki hak pilih. Karenanya Pemilihan Kepala Desa kini menjadi arena pertarungan elit di desa yang ingin berkuasa.
Dalam masyarakat yang multietnik di desa, dinamika politik senantiasa memiliki situasi yang lebih tinggi dibandingkan pada desa yang relatif homogen. Hal tersebut dapat kita lihat pada kontestasi politik di tingkat lokal pada beberapa Pemilihan Kepala Desa di seluruh Indonesia. Aspek etnis tidak boleh dilupakan perannya dalam Pemilihan Kepala Desa di Indonesia. Mobilisasi pemilih dapat dilakukan dengan mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan etnisitas, baik etnis, agama dan sebutan penduduk asli atau pendatang. 87F
88
Hal ini diperkuat oleh Bapak Tigor Siburian yang mengatakan :
“Latar belakang Marga kandidat di Desa laumil sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih di Desa laumil. Ini terutama terjadi di wilayah-wilayah yang mempunyai perimbangan Marga dimana ada dua atau lebih Marga dominan di wilayah tersebut. Meski gambaran
88
posisi Marga agak berbeda antara suatu daerah dengan daerah lainnya.”88F
89
Beragamnya etnis yang mendiami Desa Laumil telah menyebabkan suburnya politik identitas etnis. Mobilisasi dukungan dengan isu penggiringan opini Marga oleh Laurensius Sianturi digunakan dengan memanfaatkan komunikasi politik dengan pesan utama, putra daerah dan Marga lainnya. Wacana tersebut juga menguat dalam penentuan kepala desa di Desa Laumil. Mereka berlomba melobi dukungan, Marga menjadi hal yang sangat menentukan di Desa Laumil. bagaimana dan mengapa nilai-nilai dalam Marga yang transenden begitu merasuk dalam politik lokal di desa Laumil manakala berbagai aturan formal tetap bersifat sekuler.
89
Hasil Wawancara dengan Tim Sukses Laurensius Sianturi Bapak Tigor Siburian pada tanggal 27 Desember 2015 di Kediamannya di Desa Laumil, Pukul 14.00 Wib.
BAB IV
PENUTUP
IV.1. KesimpulanBerdasarkan uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Dukungan Marga sangat kuat pemilihan terhadap Calon Kepala Desa Laumil, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi Tahun 2012. Untuk memberikan penjelasan atas penarikan kesimpulan tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipaparkan sebagai hasil penelitian bagaimana Pengaruh marga sangat kuat pemilihan terhadap Calon Kepala Desa Laumil, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi Tahun 2012.
Kita sering mendengar banyak Calon kepala desa di Sumatera Utara, khususnya masyarakat batak banyak menggunakan marganya sebagai satu pengaruh terhadap orang lain karena marga memiliki suatu pengaruh yang sangat kuat akibat dari dengan adanya sistem kekerabatan. Pengaruh marga sering sekali dijadikan suatu kekuatan perpolitikan di Indonesia.Sehingga banyak yang menyatakan marganya walaupun tanpa ada hubungan darah secara garis keturunan Batak Toba yaitu Patrilineal.Saat ini, marga dapat dimiliki seseorang karena dimaksudkan sebagai gelar kehormatan belaka.Marga dijadikan sebagai sarana dalam pendekatan terhadap suku Batak Toba.Bagi suku Batak Toba, marga memiliki nilai yang sangat tinggi di dalam masyarakat dibandingkan dengan harta kekayaan.Tanpa marga maka seseorang tersebut tidak memiliki nilai kedudukan dalam sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba.
Peran norma dalam perspektif identitas sosial sebagai dasar untuk sejumlah fenomena komunikatif yang nyata, menjelaskan bagaimana norma kelompok di Desa Laumil yang direpresentasikan sebagai kognitif tergantung pada konteks prototipe yang menangkap sifat khas kelompok ynag kemudian dimamfaatkan dalam kegiatan Pemilihan Kepala Desa. Proses yang sama yang mengatur arti-penting psikologis prototipe yang berbeda, dan dengan demikian menghasilkan perilaku kelompok normatif, dapat digunakan untuk memahami pembentukan, persepsi, dan difusi norma, dan juga bagai-mana beberapa anggota kelompok menjelang pemilihan kepala desa.
Kebersamaan di Desa Laumil juga berfungsi sebagai pedoman bagi masyarakat dalam bertingkah laku di masyarakat, mengormati orang yang lebih tua, dan orang lain, juga berfungsi sebagai pedoman dalam bertingkah laku, serta kehidupan sosial masyarakat. Sebagai alat untuk menangkal hal-hal yang dapat mengganggu stabilitas sosial masyarakat. Disetiap daerah tentunya memiliki cara dan sistem yang berbeda dalam menjaga kerukunan dalam mengikat persaudaraan. Begitupula dengan yang terjadi di Desa Laumil. Dimana etnis batak, Melayu dan Jawa hidup berdampingan dan terbentuk sikap toleransi, kekeluargaan dan persaudaraan sejak mereka berada di daerah tersebut. Hal tersebut berdampak positif bagi kerukunan kehidupan bermasyarakat di Desa Laumil.
Penduduk Desa Laumil berjumlah 2.418 jiwa dimana 2390 jiwa (98,84%) adalah bersuku batak, kemudian disusul oleh suku karo berjumlah 32 orang, suku pak-pak 22 jiwa dan yang paling sedikit 2 jiwa. Artinya dominasi etnis batak
terhadap perpolitikan di desa tersebut sangatlah dominan. Hampir setiap kegiatan berdasarkan marga dalam batak.
Guna mencapai hal ini, marga memenuhi hal seperti memiliki kemampuan keorganisasian untuk mengendalikan sumber-sumber dukungan yang tersedia secara permanen seperti Marga Sianturi, sinaga dan sihombing yang memiliki kemampuan keorganisasian yang responsif dan adaptif terhadap situasi yang berkembang didesa Laumil. perkembangan situasi eksternal tanpa harus mengganggu stabilitas internalnya. Pada situasi. Tingkat fanatisme marga yang tinggi merupakan kondisi atau persyaratan politik yang harus ada jika suku-suku tertentu ingin melanggengkan eksistensinya Pola mobilisasi politik yang dipilih masyarakat untuk menggalang dukungan pemilih di Desa laumil.
Konsep kepemimpinan berbasis pelayanan menjadi sangat penting di desa Laumil, sebagai konsekuensi logis dalam sistem demokrasi, dimana rakyat atau masyarakat adalah yang berkuasa. Dalam konsep demokrasi, masyarakat bukan didudukan sebagai obyek kekuasaan tetapi sebagai subyek dan sekaligus obyek penyelenggaraan pemerintahan negara. Hal ini bermakna sumber kekuasaan berada di tangan masyarakat. Kepemimpinan dalam sistem politik demokratis, hakikat-nya adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan partisipatif, kecerdasan multikultural dan sosial dan bahkan kecerdasan spiritual.
Kemampuan partisipatif Laurensius Sianturi dalam memanfatkan marga sebagai mobilisasi dimaknai, sebagai sikap kepemimpinan yang selalu mendengar keluhan dan kebutuhan masyarakat dan bukan hanya mau didengar saja.
Kecerdasan tersebut sebagai konsep dasar kepemimpinan yang memnfaatkan sumberdaya marga, dengan asumsi dasar bahwa kepemimpinan Laurensius Sianturi akan berhasil jika kepemimpinan yang mengenal, memahami, mendalami dan menghargai nilai-nilai marga yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat desa Laumil.
Selama ini pola-pola yang dilakukan Laurensius Sianturi lebih kepada pendekatan melalui Marga, Serikat Tolong Menolong dan arisan bulanan. Dalam setiap acara tersebut tidak hanya berbicara mengenai agama dan kebudayaan saja tetapi bagaimana kelompok mereka masuk kedalam kekuasaan juga. Karena dengan masuk kedalam struktur pemerintahan berarti ikut dalam pembangunan kelompok tersebut.
Pengaruh isu yang ditawarkan Laurensius Sianturi mislanya kesukuan bersifat situasional terkait erat dengan peristiwa-peristiwa sosial, ekonomi, politik, hukum, dan keamanan khususnya yang kontekstual dan dramatis yang menyangkut Marga di Desa Laumil.
Pemilihan Kepala Desa di desa Laumil merupakan salah satu bentuk pelaksanaan demokrasi yang bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan pemerintahan desa yang bersih, akuntabel dan demokratis di ruang lingkup desa. Pemilihan Kepala Desa di Desa Laumil yang karena konsekuensi dari otonomi daerah yang mana sejak jaman orde lama pemilihan ini sudah bersifat langsung, yaitu Pemilihan Kepala Desa di desa Laumil dengan melibatkan seluruh rakyat di
desa yang memiliki hak pilih. Karenanya Pemilihan Kepala Desa kini menjadi arena pertarungan elit di desa yang ingin berkuasa.
IV.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka yang menjadi saran penulis adalah sebagai berikut:
1. Marga merupakan komponen yang sangat penting dalma setiap pemilihan kepala desa di Sumatera Utara, khusunya masyarakat batak untuk itu kedepannya isu ini tidak di naikkan jelang pemilihan saja tetapi untuk kesejahteraan desa.
2. Maka secara konkret diperlukan perubahan mendasar terhadap cara calon kepala desa di Sumatera Utara kedepannya untuk memberikan setidaknya pendidikan politik dan cara komunikasi yang membangun untuk kehidupan berpolitik yang lebih baik terutama berhubungan dengan pemanfaatan etnisitas dalam kompetisi politik.
3. Secara empirik, Etnisitas kedepannya tidak hanya berbicara kekuasaan tetapi juga bagaimana membangun desa untuk kesejahteraan rakyat.
BAB II
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
II.1. KONDISI FISIK DAERAH PENELITIAN
Pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, sejarah mencatat bahwa Raja Sisisngamangaraja XII semasa hidupnya cukup lama berjuang di Daerah Dairi, karena wilayah Bakkara dan wilayah Toba pada umumnya telah dibakar habis dan dikuasai oleh Belanda. Kondisi tersebut tidak memungkinkan lagi untuk bertahan dan meneruskan perjuangannya, sehingga beliau hijrah ke Dairi, beliau wafat pada tanggal 17 Juni 1907 di Ambalo Sienem Koden yang ditembak atas perintah komandan Batalion Marsuse Belanda, Kapten Cristofel.31 F
32
Pada masa penjajahan Belanda yang terkenal dengan politik Devide Et Impera, maka nilai-nilai, pola dan struktur Pemerintahan di Dairi mengalami perubahan yang sangat cepat dengan mengacu pada system dan pembagian wilayah Kerajaan Belanda, maka Dairi saat ini ditetapkan pada suatu Onder Afdeling yang dipimpin seorang Cotroleur berkebangsaan Belanda dan dibantu oleh seorang Demang dari penduduk Pribumi/Bumi Putra. Kedua pejabat tersebut dinamai Controleur Der Dairi Landen dan Demang Der Dairi Landen.32F
33
Pemerintah Dairi landen adalah sebagian dari wilayah Pemerintahan Afdeling Batak Landen yang dipimpin Asisten Residen Batak Landen yang berpusat di Tarutung.Sistem ini berlaku sejak dimulainya perjuangan pahlawan Raja Sisingamangaraja XII dan berlaku juga sampai penyerahan Belanda atas
32
Kabupaten Dairi. Dairi Regency in figure 2012. Dairi: BPS Dairi, Hal.23. 33
penduduk Nippon (Jepang) pada tahun 1942. Pada masa itu pemerintahan Jepang di Dairi memerintah cukup kejam dengan menerapkan kerja paksa membuka jalan Sidikalang sepanjang lebih kurang 65 km, membayar upeti dan para pemuda dipaksa masuk Heiho dan Giugun untuk bertempur melawan Militer Sekutu.
Setelah kemerdekaan diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, maka pasal 18 UUD 1945 menghendaki dibentuknya Undang-Undang yang mengatur tentang Pemerintahan Daerah, sehingga sebelum Undang-Undang tersebut dibentuk oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dalam rapatnya tanggal 19 Agustus 1945 menetapkan Daerah Republik Indonesia untuk sementara dibagi atas 8 (delapan) Propinsi yang masing-masing dikepalai oleh seorang Gubernur. Daerah Propinsi dibagi dalam Keresidenan yang dikepalai seorang Residen.Gubernur dan Residen dibantu ileh Komite Nasional Daerah.33F
34
Pada masa Agresi Militer I, Belanda berhasil menduduki wilayah Sumatera Timur yakni Sidikalang, Sumbul, Kerajaan, Salak, Tigalingga, dan Tanah Pinem.Disamping itu terjadi juga perjuangan pembentukan daerah otonom yang mengakibatkan Dairi terdiri dari beberapa kecamatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi, yang berlaku surat mulai tanggal 1 Januari 1964, maka wilayah Kabupaten Dairi pada saat pembentukannya terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan yaitu:
1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang; 2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul;
34
3. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga; 4. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh; 5. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak;
6. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukarame;
7. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil; 8. Kecamatan Siempat Nempu.34F
35
1. Letak Dan Luas
Desa Laumil merupakan salah satu desa diantara 14 desa yang ada di wilayah kecamatan Tiggalingga selain Desa Lau Pak-Pak, Desa Lau Mogap, Desa Brtungen Julu, Desa Sukandebi, Desa lau Simere, Desa Tigalingga, Desa lau Bagot, Desa Palding, Desa Palding Jaya, Desa Sarintonu, Desa Ujung Teran, Desa Sumbul Tengah dan Desa Juma Gerat. Desa Laumil terletak pada 2 ° 42’ LU dan 98°16’BT-98°19’ dengan luas wilayah lebih kurang 400 Ha.
Secara Geografis Desa Leumil berbatasan dengan :35F
36
a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Batugungun.
b. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Sukadebi
c. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Batugunun
d. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Lau Sireme
35
Badan Pusat statistik Dairi. 36
Desa Laumil memiliki 4 dusun :
1. Dusun Laumil Sialaman.
2. Dusun Laumil Gereja.
3. Dusun Laumil Mil Tombak.
4. Dusun Laumil Gadong.36F
37
2. Keadaan Alam
2.1.Iklim
Desa Laumil berhawa dingin. Desa Laumil yang berjarak hanya sekitar 45 Km dari Kota Sidikalang memiliki kesamaan iklim yang dingin. Desa Laumil mengalami dua kali pertukaran musim sepanjang tahun yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari bulan September sampai dengan bulan Maret, sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan April sampai bulan Agustus.
2.2.Keadaan Tanah
Desa Laumil berada pada ketinggian 500 sampai dengan 700 m diatas permukaan laut. Pada umumnya penggunaan tanah yang ada di Desa Laumil ini adalah tanah kering. Dari 14 desa yang ada di Kecamatan Tigalingga umumnya memilih penggunaan tanah kering dibandingkan dengan tanah sawah, atau
37
penggunaan sebagai bangunan. Adapun luas wilayah menurut jenis penggunaan tanah dan Desa Laumil dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel.1. penggunaan lahan di desa Laumil tahun 2011
No Uraian Luas/Ha Persentase
1 Tegal/Ladang 300 Ha 75%
2 Pemukiman 10 Ha 2,50 %
3 Tanah Perkebunan Rakyat 88 Ha 22 %
4 Tanah Khas desa 0,15 Ha 0,03 %
5 Tanah Lainnya 1,85 Ha 0,46 %
Jumlah 400 Ha 100%
Sumber : kantor Kepala Desa Laumil, 2011
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang terluas di desa Laumil adalah pengggunaan lahan Tegal/Ladang 300 Ha. Atau 75% dam penggunaan lahan yang paling sedikit adalah tanah khas desa (0,03%).37F
38
A. Keadaan Non-Fisik
Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, dapatmerupakan kawasan perkotaan dan perdesaan, berfungsi sebagai lingkungan