• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Pada akhir penulisan ini penulis memberikan saran yang mungkin dapat membantu dan bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan orang lain:

1. Hendaknya masyarakat tetap melestarikan warisan budaya nenek moyang. Selama warisan budaya tersebut bernilai positif dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar daerah tersebut.

2. Hendaknya para ulama dan mubaligh meluruskan persepsi

67

perayaan tradisi tersebut untuk sarana pelestarian budaya, namun kini sudah disalah persepsikan oleh masyarakat sebagai sarana untuk mencari keberkahan.

3. Saran peneliti kepada Dinas Pariwisata dan pemerintah yang terkait agar memperhatikan tradisi tersebut agar mampu menjadi salah satu tempat tujuan wisata.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi. 1987. Ilmu Pendidikan Islam. Salatiga: Fakultas Tarbiyah IAIN

Walisongo salatiga.

_________. 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu pendidikan. Yogyakarta: Aditya

Media.

Ahid, Nur. 2010. Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Amin, Darori. 2002. Islam dan kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Azra, Azumardi. 1999. Esei-esei intelektual Muslim dan Pendidikan Islam.

Jakarta: Logos wacana Ilmu.

Darmadi, Hamid. 2009. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta.

Kementrian Agama RI. 2003. Al-Qur`an Al-Karim Tajwid dan Terjemah.

Surabaya: Halim.

Krisna Bayu Adji, dkk. 2013. Majapahit Menguak Majapahit Berdasarkan Fakta

Sejarah. Yogyakarta: Araska.

Koentjoningrat, dkk. 2003. Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Progres. Khazin,

Muhyiddin. 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta: Buana

Langgulung, Hasan. 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka

Al-Husna.

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja

Rosdakarya.

________. Lexy. J. 2002, MetodologiPenelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

Nawawi, Hadari. 1993. Pendidikan dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

Nawawi, Haidari, dan Nini Martini, 1996, Penelitian Terapan, Yogyakarta:

Gajahmada University Press

Karkono Kamjaya Partokusumo. 1995. Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan

Islam. Yogyakarta: IKAPI DIY.

Roqib, Moh. 2009. Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Lkis Printing Cemerlang

Sagala, Syaiful. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat. Jakarta:

Nimas Multima.

Sholikhin, Muhammad. 2010. Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa.

Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Sjarkawi. 2009. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara.

Subyantoro, Arif. FX. Suwarto. 2006. Metode dan Teknik Penelitian Sosial.

Sudirman Dkk. 1991. Ilmu Pendidikan. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.

Surayin. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Yrama Widya.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta:

Pusat Bahasa.

Wahyana Giri. 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Zuriah, Nurul. 2007. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi

Aksara.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Janggala diunduh tanggal 18Agustus 2015 pukul 15.00

https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit diunduh tanggal 18Agustus 2015 pukul 15.30

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rudi Triyo Bowo

TTL : Temanggung, 11 Desember 1991

Alamat : Jlamprang Rt. 02 Rw III Desa Mojosari, Kec. Bansari, Kab. Temanggung

Riwayat Pendidikan

TK : TK PKK Mojosari Lulus Tahun 1997

SD : MI Mojosari Lulus Tahun 2003

SMP : MTs Negeri Parakan Lulus Tahun 2006

DAFTARSATUAN KREDIT KEGIATAN

Nama : Rudi Triyo Bowo

NIM : 11111082

Fakultas : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)

Progdi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Dosen PA : Prof.,Dr. Mansur, M.Ag.

No Nama Kegiatan Pelaksanaan Keterangan Nilai

1 OPAK (Orientasi

Pengenalan Akademik dan Kemehasiswaan) 20-22 Agustus 2011 Peserta 3 2 AMT (Achievement Motivation Training) 23 Agustus 2011 Peserta 2

3 ODK (Orientasi Dasar

Keislaman) 24 Agustus 2011 Peserta 2 4 Seminar Entrepreneurship dan Koperasi 25 Agustus 2011 Peserta 2 5 User Education Perpustakaan 20 September 2011 Peserta 2 6 Diklat Manajemen Kearsipan dan Perpustakaan 09 Oktober 2011 Peserta 2

7 Seminar Nasional “Rahasia

Kaya Ilmu, Kaya Hati,

Sehat dan Kaya Raya” dan

Penguasaan Bahasa Inggris (50 Grammar) Tanpa Menghafal dan Menulis

10 Oktober 2011 Peserta 8

8 Masa Penerimaan Anggota

Baru (MAPABA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

23 Oktober 2011 Peserta 2

9 Surat Keputusan Kepala

Kekolah SD Negeri Mranggen Kidul sebagai Guru Wiyata Bakti (GWB) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

16 Juli 2012 Pengajar 4

10 Surat Keputusan Pengasuh

Pondok Nurul Asna

08 Agustus 2012 Pengurus 4

11 Surat keputusan Kepala sekolah SD Negeri Mranggen Kidul sebagai Guru Wiyata Bakti (GWB) Mata Pelajaran Muatan Lokal Kab. Pendalaman Kitab Suci (PKS)

12 Surat Keputusan Kepala Sekolah SD Negeri Mranggen Kidul sebagai Guru Wiyata Bakti (GWB) pembina Pramuka 28 Agustus 2012 Pengajar 4 13 Bersih Kota “ TEMANGGUNG BERSIH TEMANGGUNG BERSENYUM “ 22 Desember 2012 Peserta 2

14 BAKTI SOSIAL ke-VI

“Membuka Diri Dengan

Rendah Hati Menuju

Pribadi Suci” 25-28 Oktober 2012 Panitia 3 15 SEMINAR NASIONAL KEBANGSAAN “Menggagas Menasionalismekan Ber-Agama; Upaya Membingkai Perbedaan Keberagamaan Dalam Ke-Indonesiaan”

27 Desember 2012 Peserta 2

16 Penyuluhan Bank Sampah 12 Januari 2013 Panitia 3

17 Bersih Kota “ MARI JAGA KEBERSIHAN DAN BERSAMA KITA

NIKMATI KESEHATAN

07 April 2013 Panitia 3

18 Surat Keputusan Kepala Sekolah SD Negeri Mranggen Kidul Panitia Lomba Mata Pelajaran Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) 7 April 2013 Panitia 3 19 Seminar Regional “Selamatkan Temanggung dari Lingkungan HIV/AID” 20 April 2013 Peserta 2

20 Surat Keputusan Ketua Yayasan Taman Pendidikan Al-Qur‟an

(TPA) Mambaul Huda

11 Juni 2013 Pengajar 4

21 Buka Bersama “SUCIKAN

HATI DIBULAN SUCI

DENGAN RIDHO ILAHI”

27 Juli 2013 Panitia 3

22 Surat Keputusan Pengasuh

Pondok Nurul Asna

02 Agustus 2013 Pengurus 4

23 Malam Keakraban Keluarga Baru (MAKRABKEB)

“Satukan Tujuan”

07-08 Oktober

2013

24 Piagam Penghargaan Pembina Siswa pada Lomba Cerita Islami pada Lomba MAPSI

10 September 2013 Pembina 4

25 Piagam Penghargaan

Pembina Siswa pada Lomba Khitobah pada Lomba MAPSI

10 September 2013 Pembina 4

26 Piagam Penghargaan Pembina Siswa pada Lomba PAI, Pks dan Sholat pada Lomba MAPSI

10 September 2013 Pembina 4

27 BAKTI SOSIAL ke-VII “Ikut

Serta Menumbuhkan Kecintaan Masyarakat Terhadap Pendidikan” 13-16 Oktober 2013 Panitia 3 28 “TANAM 1000 POHON”

yang diselenggaraka Forum Mahasiswa temanggung di Salatiga (FORMATAS)

21 November 2013 Panitia 3

29 Bersih Kota “ KITA SEHAT & SADAR LINGKUNGAN YANG BERSIH “ 12 Januari 2014 Panitia 3 30 Penyuluhan Pengelolaan Sampah “Pemanfaatan Kemabli Samapah

Organic, Non Organic dan Penyikapan Samapah

Residu”

16 Maret 2014 Panitia 3

31 Buka Bersama “INDAHNYA

KEBERSAMAAN DI BULAN

RAMADHAN“

13 Juli 2014. Panitia 3

32 Praktikum Baca Tulis

Al-Qur‟an (BTQ) 22 Juli 2014 Peserta 2

33 Sertifikat Pengajar di FUNTASTIC COURSE

26 Juli 2014 Pengajar 4

34 Surat Keputusan Pengasuh

Pondok Nurul Asna

07 Agustus 2014 Pengurus 4

35 Malam Keakraban

Keluarga Baru (MAKRABKEB)

“Bersama Membuka Pintu

Ilmu Dalam Satu Wadah

Keluarga”

14-15 September

2014

Panitia 3

36 Pelatihan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Fermentasi

DOKUMENTASI

Sendang Sidukun Traji

Sesaji yang Digunakan dalam Prosesi Ritual

Bapak dan Ibu Kepala Desa yang Berpakaian Pengantin

Gunungan Saat Dikirap

Kaur Keagamaan Memimpin Do`a di Mkam Adam Muhamad

Pagelaran Wayang Kulit

Sendang Petilasan Pangeran Singonegoro (Jumprit)

LAMPIRAN WAWANCARA

Nama : mbah Suwari

Alamat : Traji

Lokasi : Rumah Bapak mbah Suwari

Hari/Tanggal : Senin 13 Juli 2015

Waktu : 16.30 – selesai

Keterangan : mbah Suwari adalah juru kunci sendang Sidhukun

Daftar Pertanyaan

1. Apa yang arti malam satu suro menurut anda ?

2. Sejak kapan tradisi peringatan satu suro tersebut dilakukan warga Dusun Traji? Adakah sejarah yang melatar-belakanginya?

3. Siapa dalang dalam pertunjukan wayang kulit? Apa saja lakonnya? Jawaban

1. Mas, Deso Traji ki Masyarakate okeh. Trus terdiri dari berbagai macam pekerjaan, agama lan keyakinan. Pas acara suran kabeh masyarakat kumpul dadi siji. Dadi peringatan kuwi iso gawe sarana pemersatu masyarakan. Liyane kuwi okeh seng percoyo nek dewe nglakoni peringatan kuwe biso berkahi nek ora yok kadang kejadian-kejadian seng elek teko misale gagal panen, kecelakaan lan liane. Dadi masyarakat desa Traji kene nyengkuyung bareng kompak lan gayeng memperingati suran kuwi.

2. Nek pastine kapan ora ono seng ngerti tapi wes ono ket kulo cilek mas. Dadi sejarahe ngono

Adanya nama Desa Traji terjadi dari tiga cerita. Dari Kerajaan Jenggala manik putra sang raja Yang bernama Pangeran Jaya Negara beliau Linggar dari kerajaan. Linggarnya beliau hingga sampai di suatu desa. Beliau singgah dan tinggal di desa tersebut sampai beberapa lama. Karena yang menempati dianggap merupakan orang yang punya trah

kerajaan/Keluarga kerajaan maka tempat singgah sang Pangeran tersebut diberi nama TRAH ADJI, yaitu tempat singgah orang yang punya kesaktian/trah kerajaan.

Cerita yang kedua cerita dari kerajaan Majapahit. Runtuhnya Majapahit, punggawa kerajaan banyak yang meninggalkan kerajaan. Seperti nujumnya kerajaan menyelamatkan diri lari ke lereng Sindoro dan singgah disuatu desa yang berada ujung barat wilayah Temanggung. Yaitu Desa Tegalrejo Di situ ada suatu tempat peninggalan sejarah dimasa berakhirnya kerajaan Majapahit yang sekarang terkenal dengan nama JUMPRIT/JUMPAIT,Yang berasal dari kata Nujum Majapahit Yaitu seorang Nujum Kerajaan Majapahit yang lari menyelamatkan diri kearah utara hingga bersinggah didesa Tegalrejo sampai beliaunya Mangkat kehadapan Yang Maha Kuasa, Dan sampai sekarang tempat tersebut sangat terkenal dengan nama JUMPRIT, Ketenaranya tidak hanya diwilayah Temanggung saja namun terkenal sampai manca negara karena sumber mata airnya, yang terkenal dengan AIR SUCI JUMPRIT, Ada yang bertempat tinggal didesa Traji sini, yaitu Dikun Kesuma Beliau tinggal disuatu tempat dekat Pohon Beringin dekat Mata Air disebelah utara dari Situlis, Sekarang Traji Pulirno. Tempat tersebut adalah sebuah sendang/kolam yang sangat bening dan jernih airnya. Konon yang tinggal ditempat itu adalah sepasang suami istri yaitu Ki Dikun Kesuma dan Nyai Dikun Kesuma. Dan sampai sekarang tempat dan peninggalan tersebut masih ada yang terkenal dengan nama SENDANG SIDUKUN Yang berasal dari nama Kyai dan Nyai Dikun Kesuma tersebut,Yang juga masih darah kerajaan atau TRAH ADJI.

Cerita yang ketiga berasal dari batu tulis, yang terrletak disebelah utara kali Situlis kampung Situlis sebelah timur Dusun Grogol (sekarang). Menurut cerita konon ada seseorang Punggawa Kerajaan disuruh memelihara Batu Tulis yang terletak disebelah dusun dan Candi Ngawen yang terletak di daerah Muntilan. Berhubung yang memelihara sangat tekun dan patuh, maka ia diberi hadiah seorang putri Kerajaan oleh sang raja, maka seseorang tersebut juga masih andahan kerajaan yang juga termasuk jugaTrah wong Aji (TRAH ADJI).

LEGENDA ASAL-USUL ADANYA SUMBER AIR SENDANG SIDUKUN Cerita dari kanjeng Sunan Lepen (Sunan Kali Jaga), Beliau pada perjalanannya menyebarkan Agama Islam singgah disuatu tempat yang sepi, Beliau akan menjalankan Ibadah Sholat. Akan tetapi disitu tidak ada air buat berwudhu. Karena Dia adalah termasuk orang yang sakti juga merupakan Wali Nabi maka dengan kesaktiannya Oleh ALLAH diberikan

Mukjiat yaitu dengan menancapkan teken/tongkatnya ketanah, dan seketika itu munculah air jernih dari bawah tongkat tersebut, lalu digunakan untuk berwudhu. Konon Karena Tempat tersebut merupakan tempat keramat dan ajaib maka sumber mata air tersebut sampai sekarang masih sering digunakan oleh warga sebagai sarana mencari berkah dari Allah misal untuk Minta kesembuhan, mencari jodoh, tambahan diberi Rezeki, dan untuk pengairan warga sekitar. Menurut cerita dari orang tua dulu tempat tersebut sangat rimbun dan dalam karena berada dibawah tebing dan pohon Beringin yang sangat besar dan Tinggi sehingga jarang dijamah orang maka airnya sangat jernih, dan sering diambil airnya untuk berbagai keperluan. Karena tempat tersebut dulu sangat sulit karena hanya jalan setapak yang dirimbuni oleh pohon dan rumput sehingga jarang dijamah orang, Baru kemudian tahun berganti tahun selaras dengan perkembangan kehidupan manusia dan peradapan alam tempat tersebut dibuat semacam kolam kecil, yang lama makin lama dibangulah sebuah kolam permanen dengan panjang kurang lebih 25m x 7 m yang dinamakan sendang SIDUKUN, dengan sumber mata air AJAIB dan Pohon beringin yang besar, peninggalan SUNAN LEPEN. Keajaiban sumber mata air tersebut sampai sekarang masih dipercaya masyarakat yang mempercayainya untuk sebagai sarana minta berkah pada yang Maha Kuasa, misal untuk kesembuhan dari suatu penyakit, minta kelancaran rezeki, minta segera mendapatkan jodoh dan lain-lain. Dan pohon Beringin yang berdiri kokoh diatas mata air tersebut juga merupakan simbul yang keajaiban dan kebesaran Allah, karena kadang bisa sebagai pertanda atau wangsit. Keajaiban pohon beringin tersebut konon jika ada suatu peristiwa didesa Traji sering memberikan pertanda. Misal Saat pergantian Kepala Desa waktu pergantian dari bapak Munjiat diganti Bapak Sudayat tahun 1984 Ranting yang besarnya sepanggul/diameter 50 cm patah tanpa ada angin ataupun hujan dan ranting tersebut masih kuat dan masih hidup bersama daun hijaunya dan anehnya bangunan yang ada dibawahnya tidak rusak sedikitpun itulah satu diantara keanehan dari Pohon beringin Keramat peninggalan Sunan Lepen.

Dari tempat yang dianggap keramat tersebut, sehingga sebagaian orang yang memperpercayai apabila punya khajat ataupun panyuwunan sering mendatangi tempat tersebut, maka tidak heran jika pada hari tertentu sering dijumpai orang minta berkah terutama setiap malam Selasa Kliwon Dan Jumat Kliwon, apalagi setiap tanggal 1 Syuro adalah Peristiwa sakral yang sangat ditunggu karena beribu ribu orang pengunjung datang entah sekedar menyaksikan acara sesaji ataupun minta berkah dan

tirakat. Yang jelas dari sumber mata air tersebut orang mempercayai sebagai air berkah (Tentunya itu adalah Mukjiat dari ALLAH Yang Maha Kuasa)

Asal mula diadakanya upacara tradisi 1 syuro

Konon dulu ditempat tersebut yaitu Sendang Sidukun tempat Kyai dan Nyai Dikun Kesuma sedang punya khajat yaitu mantu dan dalam acara tersebut naggap wayang tepat tanggal 1 Syuro, waktu itu konon diadakan acara ritual yang dihadiri banyak tamu sehingga tempat tersebut ramai seperti pasar malam. Sehabis mengadakan upacara sesaji dilanjutkan dengan tanggapan Wayang Kulit Oleh Dalang yang waktu itu yang dipercaya medar wayang yaitu Ki Dalang GARU yang berasal dari Dusun Bringin daerah sekitar Traji (Dia merupakan saksi hidup dan pelaku dari peristiwa tanggapan wayang malam itu), Menurut pengakuan beliau, Beliau merasa ada yang mengundang untuk melaksanakan pementasan wayang kulit dalam acara khajatan didesa Traji tanggal 1 suro, sehingga beliau memenuhi apa yang menjadi permintaan nya waktu datang tidak curiga, karena seperti dialam nyata, disitu juga banyak pedagang yang menjual daganganya bangunan panggungnya juga sangat bagus bahkan sebelum pentas dia juga ikut dalam prosesi sesaji para pengunjung dan tamu berpakaian kejawen Surjan dan blankon layaknya punggawa kerajaan. Dan setelah selesai sesaji dilanjutkan pentas/tanggapan wayang tersebut. Tapi pada kenyataannya malam itu didesa Traji Sunyi tidak ada tanggapan wayang tersebut, Hanya dari luar desa Traji konon malam itu terdengar suara gamelan antal anatalan, mengiringi pementasan wayang sehingga banyak penggemar/penonton memastikan arah suara gamelan tersebut namun tidak dijumpainya, kalau didengar dari arah selatan seperti diutara, kalau didengar dari arah timur seperti diarah barat tetapi sumber suara adalah dari Desa Traji disekitar Sendang Sidukun.

Dan pagi harinya ada seseorang yang tidak lain adalah Ki Dalang Garu sowan ke pak Lurah dan menceritakan apa yang dialami semalam, Bahwa ia semalam ditanggap oleh sesepuh desa Traji yang lagi punya khajat disuruh pentas wayang semalam suntuk akan tetapi waktu bubar pentas waktu yang punya khajat memberikan upah bukan berupa uang akan tetapi berupa Kunir satu irik dan daun 3 helai, maka beliau hanya mengambil Kunir tersebut 3 remang/3 nyari, akan tetapi diberi pesen oleh yang punya khajat untuk tidak menoleh kebelakang sebelum 7 langkah. Apa yang terjadi begitu ki Garu melangkah setelah 7 langkah iapun menoleh kebelakang ternyata dia hanya melihat pohon beringin dan sendang dengan air yang tenang dan sejuk, bahkan ia menoleh kaarah pucuk pohon ternyata lampu blencong ki Garu yang tertinggal

menggantung diatas pohon tersebut,dan Kunir dan daun yang tadi diberikan berubah menjadi emas dan uang, beliau terkejut dan melaporkan kejadian yang dialaminya kepada kepala desa kemudian oleh kepala desa kejadian tersebut nalurikan untuk diteruskan sampai sekarang dan Kidalang Garu disuruh menetap tinggal di sebuah kampung kauman sebelah selatan yang diberi nama Garon yang berasal dari Garu, tempatnyapun masih ada hingga sekarang, dan Tradisi 1 Syuro masih dinalurikan sampai sekarang.

Maksud diadakan Ritual 1 Syuro antara lain

a. Meneruskan Tradisi apa yang dilakukan nenek moyang sesepuh Desa Traji seperti yang dikisahkan Ki dalang Garu.

b. Melestarikan budaya peninggalan nenek moyang yang adi luhung. c. Sebagai bersih desa/merti desa agar desa ini diselamatkan dari

segala bahaya.

d. Sebagai alat pemersatu diantara warga Desa Traji, dan sekitarnya.

e. Untuk memohon doa kepada ALLAH Supaya diberi keselamatan, ketentraman lahir batin dijauhkan dari mala petaka.

3. Untuk pementasan harus dengan dalang Kasepuhan artinya dalang yang sudah benar benar menguasai kemahiran batin dan berilmu kebatinan tinggi , Nanging seng mesti lakon pasti ki lakon nambak soale intine ki nasehat kanggo masyarakat khususe deso traji ben iso nambak utawa mbendong hawa nafsune. Nek liyane terserah permintaan masyarakat. Seperti yang dikisahkan oleh Ki dalang Garu dan setelah Dalang garu ada lagi dalang yang Winasis selanjutnya yaitu Ki Timbul Hadi Prayitno yang berasal dari daerah Bantul Jogjakarta. Beliau adalah dalang penerus dalang Garu Selanjutnya, Ia juga ada kisah yang menarik yaitu Sebelum hari pementasan ada wakil dari desa Traji yang datang mencari beliau Ki Timbul Hadi Prayitno. Dia waktu itu belum setenar tahun belakangan ini dia masih sebagai orang biasa petani waktu ada utusan ia sedang membajak sawah lalu utusan itu menghampirinya dan tanya alamat yang dimaksud yaitu Pak Timbul yang pernah mendalang di RRI Jogja dan ternyata Ia sendiri yang saat itu belum mengaku kalau dirinya yang bernama timbul baru setelah ia mengajak tamunya mampir kerumahnya baru beliau mengaku kalau ia yang bernama Timbul Hadi Prayitno dan setelah berbincang bincang utusan dari Traji itu mengutarakan kedatanganya ke pak timbul yang intinya diminta untuk pentas wayang pada acara sadranan 1 syuro tapi pak timbul mengatakan katanya minggu kemarin juga sudah ada utusan dai Traji yang sama minta untuk mementaskan wayang pada acara sadranan 1 Syuro

orangnya sama dan karena pak timbul tahu kebatinan maka iapun segera menyanggupinya ternyata yang datang dulu adalah utusan dari pepunden desa Traji/atau Kyai danyang Desa Traji yang menyerupai seperti utusan dari Pemerintahan Desa dan berapa upah yang disepakati waktu itu yaitu Rp15.00. (sumber berita ini adalah Ngendika dari Pak Timbul sendiri yang pernah cerita kepada rombongan kami saat sowan ke pak timbul dirumahnya jalan ParangTritis Km 25 Patalan Bantul)

Selanjutnya mengenai tokoh atau lakon wayang kadang sering ada kesamaan kejadian yang dialami warga desa Traji. Tahun 1964 saat pemerintahan desa dipimpin oleh Bpk Adi Surasa ,beliau mengambil

lakon“Tambak Bontelan” kisah dari lakon ini Perang Brotoyudo yaitu

ngalengko melawan pancawati yang menimbulkan banyak korban dan banyak banten maka dicocokkan dengan kejadian desa Traji waktu itu mirip karena setelah itu timbul peristiwa G.30.S.PKI/GESTAPU Warga Traji juga banyak yang jadi korban.

Tahun 1965–1980, Saat pemerintahan Bpk Munjiat Harmo Atmojo HS, Mengambil lakon KRESNA DUTA, Beliau adalah seorang kartikelir yang menjalankan tugas, maka mirip dengan Lakon Kresna Duta sang tokoh duta adalah beliau bpk Munjiat, yang menjalankan sebagai pimpinan Desa karena kepala desa berhalangan tugas karena ikut menjadi korban G 30 S PKI.

Tahun 1981–1989 Pemerintahan bapak Sudayat waktu akan berakhirnya mengambil lakon GONDOMONO LUWENG Yang mengandung makna berakhirnya Raja Gandamana.

Tahun 1990–1998 masa pemerintahan bpk Tunung Supriyono mengambil cerita BEDAHING LOKAPALA Beliau banyak berjuang bagi pemerintahan tetapi mengesampingkan terhadap pepunden desa Traji maka diakhir pemerintahan berdampak tidak baik terkena dampak reformasi pemerintahan secara perekonomian juga hancur.

Tahun 1999–2007 mengambil lakon PECAHING TOPENG WOJO, Yang mengandung arti saat pemerintahan dia banyak peristiwa yang mirip dengan lakon dan berakhir dengan pecahing topeng oleh Gatutkoco. Pada akhir masa pemerintahan bpk Arianto lengser iapun memandito melaksanakan ibadah Haji.

Tahun 2008–2013 mengambil lakon RAMA RATU, Yaitu lakon yang menggambarkan sosok pemimpin bijak dimasa pemerintahan dan berakhir dengan Satrio pinandito maka belaiu memandito dengan melaksanakan ibadah Haji.

Nama : Jupriyono

Alamat : Traji

Lokasi : Rumah Bapak Jupriyono

Hari/tanggal : Seni 6 Juli 2015

Waktu : 19.30 – selesai

Keterangan : Bapak Jupriyono adalah salah satu panitia yang bertugas langsung sebagai cucuk lampah

Daftar Pertanyaan

4. Apa saja Ritual dalam peringatan satu suro dan apa artinya ? serta Apa saja tahapan pelaksanaan kegiatan peringatan satu suro? Jelaskan secara berurutan?

Jawaban

1. Prosesi Acara Ritual 1 Suro

a. Sebulan sebelum peringatan Pemerintahan desa membentuk panitia

Suro yang dihadiri warga ketua RT Dan RW Juga tokoh masyarakat

yang membahas masalah pelaksanaan dari rencana ritual biaya

penyelenggaraan sampai pelaksanaan.

b. Rapat kedua mengumpulkan hasil persiapan kumpulan pertama dan

laporan seksi seksi termasuk laporan mencari dalang dan anggaran

belanja kosumsi. Dan pembuatan panggung. Sekarang ditambah

laporan perizinan keramaian dari kepolisian dan perijinan DPU

Dokumen terkait