• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis terhadap masalah yang telah penulis paparkan, maka dapatlah disampaikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Pengadilan Agama merupakan lembaga pertama yang menjadi tempat putusnya perceraian diharapkan dapat menjaga dan menjalankan tugasnya secara baik dan diharapkan dapat mengantisipasi adanya berbagai penyalahgunaan kewajiban serta hak-hak dalam perceraian, sehingga hak isteri dapat terlindungi dengan baik.

2. Suami adalah kepala rumah tangga, yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga. Apabila terjadi perpecahan dalam rumah tangga sehingga menyebabkan putusnya perkawinan, maka bekas suami harus memenuhi akibat amar putusan yang dijatuhkan kepadanya.

3. Perlu adanya kajian lebih lanjut terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak mantan istri terutama pada cerai gugat. Banyak kasus cerai gugat dimana posisi istri justru dirugikan, sebab itu perlu adanya hal-hal yang dapat lebih mengakomodasi perempuan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Slamet dan H. Aminuddin, Fiqih Munakahat, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999)

Ahmed, Leila, “Women and Gender in Islam : Historical Roots of modern

Debate”, diterjemah Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiyah al ‘alamah Syaikh

Ibrahim al Bajuri, jilid 2, (Beirut: Dar ibn ‘a Shaashah, 2005)

Al-Husaini, Imam Taqiyudin Abi Bakr Ibn Muhammad. Kifayah Al-Akhyar. Beirut: Dar Al-Fikr, 1994.

Ali, Achmad, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta: Penerbit Toko Gunung Agung, 2002)

Ali, H. Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia. (Jakarta: Sinar Grafika, 2009)

Ali, Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006) Al-Ramli, Syihabuddin, Nihayat al Muhtaj ila Syarh al minhaj, Juz 6, (Beirut: Dar

al Kutub al Ilmiyah, 1993)

Apeldoorn, L..J. Van, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta, Pradnya Paramita, cetakan kedua puluh enam, 1996)

Azzam, Abdul Aziz, & Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Fiqh Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak). (Jakarta: Amzah, 2009)

Bisri, Moh. Adib,. Terjemah Al Faraidul Bahiyyah. (Kudus: Menara Kudus, 1997)

Bukhari, Shahih Bukhari bi Hasyiyah al Sindi, Juz III, (Indonesia: Dar Ihya‟ al Kutub al ‘arabiyah, t.th.)

Dahlan, Abdul Aziz, et. al, (ed), Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 4, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997)

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemah, (Surabaya: Duta Ilmu, 2005) Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996) Djamal, Abdoel. Pengantar Hukum di Indonesia. (Jakarta: Raja Grafindo, 2000).

Dzuhayatin, Siti Ruhainah “Gender dalam Perspektif Islam” dalam Mansour

Fakih (ed), Membincang Feminisme Diskursus Gender perspektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 2000)

Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2003,)

Karim, Khalil Abdul, Syari’ah, Sejarah Perkelahian Makna, trj, Kamran As‟ad

(Yoyakarta: Lkiss, 2000)

Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Edisi Kedua, jilid I, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000)

Faiz, Pan Mohamad, Teori Keadilan John Rawls. dalam Jurnal Konstitusi, Volue 6 Nomor 1 (April 2009)

Friedrich, Carl Joachim, Filsafat Hukum Perspektif Historis, (Bandung: Nuansa dan Nusamedia, 2004)

Ghandur, Ahmad, al Thalaq fi al-syari’ah al-islamiyah wa al-qanun, (Mesir: Dar

al-Ma‟rif, 1967)

Harahap, Yahya, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Pengadilan Agama, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003)

Hasan, Mustofa, Pengantar Hukum Keluarga, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011) Hoerudin, Ahrum, Pengadilan Agama (Bahasan Tentang Pengertian, Pengajuan Perkara, dan Kewenangan Pengadilan Agama Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama). (Bandung: PT. Aditya Bakti, 1999)

Huijbers, Theo, Filsafat Hukum dalam lintasan sejarah, cet VIII, (Yogyakarta: kanisius, 2005)

Jamal, Abdoel, Pengantar Hukum di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000) Kansil, C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. (Jakarta: Balai

Pustaka. 2009)

Karim, Khalil Abdul, Syari’ah, Sejarah Perkelahian Makna, trj, Kamran As‟ad

(Yoyakarta: Lkiss, 2000)

Kelsen, Hans, General Theory of Law and State, diterjemahkan oleh Rasisul Muttaqien, (Bandung, Nusa Media, 2011)

Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Edisi Kedua, jilid I, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000)

Lunis, Suhrawardi K., Etika Profesi Hukum, Cetakan Kedua, (Jakarta, Sinar Grafika, 2000)

Mahfud, Moh. MD. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta,2003)

Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008)

Marzuki, Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakata: Kencana, 2008) Masyhur, Kahar, Membina Moral dan Akhlak. (Jakarta: Kalam Mulia, 2005) Mufidah Ch, Psikologi Keluarga Islam, Berwawasan Gender, (Malang: UIN

Press, 2008)

Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Maz|hab, (Jakarta: Lentera, Cet. VII, 2008)

Mustabsyirah Dkk. Tafsir, (Aceh: Bandar Publishing, 2009)

Nasrullah, MS, “Perempuan Dan Gender Dalam Islam” (Jakarta: Lentera, 2000)

Nur, Djamaan, Fiqh Munakahat, (Semarang: CV. Toha Putra, cet. I, 1993)

Nuruddin, Amir dan Azhari A.T, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI), (Jakarta: Kencana, 2006)

Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto, Renungan Tentang Filsafat Hukum, (Jakarta: Rajawali, 2002)

Qalyubi dan ‘Umairah, Hasyiyatani Qalyubi wa ‘Umairah, Juz III, (Beirut: Dar-

al Fikr, 1995)

Qudamah, Ibn, al Kafi fi fiqh al Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 3, (Beirut: Dar al Fikr, t.th)

Rahardjo, Sajipto. Ilmu Hukum. (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006) Rasjid, H. Sulaiman, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010)

Rasyidah Dkk, Potret kesetaraan Gender di Kampus, (Aceh: PSW Ar-Raniry, 2008)

Rato, Dominikus, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2010)

Rawls, John, A Theory of Justice, diterjemahkan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Teori Keadilan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2006)

Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid, Juz 2, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007)

Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009 ), Cet. Ke-1, Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2002) Sastroatmodjo, Aryo, Hukum Perkawianan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981) Shant, Dellyana. Konsep Penegakan Hukum. (Yogyakarta: Liberty, 2008)

Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2006) Simorangkir dkk, Kamus Hukum. (Jakarta: Sinar Grafika, , 2008)

Soekanto, Soerjono. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegeakan Hukum Cetakan Kelima. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004)

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata. (Jakarta: PT. Intermasa, 2003) Sumbullah, Umi dkk. Spektrum Gender, (Malang: UIN Press, 2008)

Syahrani, Riduan, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti, 1999)

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqih Munakahat dan UU Perkawinan), (Jakarta: Prenada Media, 2007)

Tim Redaksi FOKUSMEDIA, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Kompilasi Hukum Islam. (Bandung: Fokusmedia, 2005)

Turmudzi, Sunan Turmudzi, Juz 5, (Beirut: Daar el Fikr, t.t.)

Undang-Undang RI No. 1 Thaun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam Serta Perpu Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Ibadah haji. (Surabaya: Kesindo Utama, 2012)

Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al Islam wa Adilatuhu Juz IX, (Beirut: Dar al Fikr, 2006)

INTERNET

http://boyyendratamin.blogspot.com/2011/08/positivisme-hukum-di-indonesia-dan. html?m=1,

http://hukum.kompasiana.com. “Keadilan dari Dimensi Sistem Hukum”

(02/04/2011). http://musri-nauli.blogspot.com/2012/04/bismar-siregar-sang-pengadil-yang.html?m =1 http://www.surabayapagi.com/index.php?3bca0a43b79bdfd9f9305b812982962e5 ebad017dee37f007e56da92eb74d56, http://yancearizona.wordpress.com/2008/04/13/apa-itu-kepastian-hukum/,

1. Menurut Bapak, apa perbedaan antara perkara Cerai Thalak dengan perkara Cerai Gugat ?

2. Apa saja persyaratan administratif yang harus dipenuhi bagi permohonan Cerai Thalak dan Cerai Gugat ?

3. Menurut Bapak apa perbedaan antara nafkah ‘iddah dengan nafkah

mut‟ah ?

4. Dalam perkara Nomor 1445/Pdt.G/2010/PA.JS apa pertimbangan hakim dalam mengabulkan perkara Penggugat ?

5. Menurut pendapat Bapak, apakah nafkah ‘iddah bagi Penggugat

merupakan hak yang harus diterimanya dari Tergugat ?

6. Menurut Bapak, dalam kondisi apa saja Tergugat dinyatakan tidak berhak

atas nafkah ‘iddah dari Tergugat ?

7. Menurut Bapak, apabila dalam permohonan gugatan Penggugat tidak

mengajukan nafkah ‘iddah kepada Tergugat, apakah hakim dalam amar

putusannya tetap akan mewajibkan Tergugat untuk memberikan nafkah

‘iddah kepada Penggugat ?

8. Menurut Bapak, apakah nafkah ‘iddah yang harus diberikan kepada

Penggugat oleh Tergugat harus dibayarkan sekaligus atau dicicil ?

9. Apabila Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya memberikan nafkah

‘iddah kepada Penggugat sesuai amar putusan, apakah sanksi yang akan

diterima oleh Tergugat ?

10.Siapakah yang berhak memberikan sanksi atas pelanggaran Tergugat terhadap amar putusan yang diputuskan oleh hakim ?

1. Menurut Bapak, apa perbedaan antara perkara Cerai Thalak dengan perkara Cerai Gugat ?

Jawab : Cerai thalak adalah permohonan perceraian yang diajukan oleh suami atau atas keinginan suami, sehingga suami disebut sebagai PEMOHON dan istri disebut TERMOHON. Sedangkan cerai gugat adalah perceraian atas keinginan istri atau yang dalam kitab Fiqih biasa disebut

dengan khulu‟ atau thalak tebus, sehingga istri yang mengajukan

permohonan perceraiannya kepada Pengadilan disebut PENGGUGAT dan suaminya disebut TERGUGAT.

2. Apa saja persyaratan administratif yang harus dipenuhi bagi permohonan Cerai Thalak dan Cerai Gugat ?

Jawab: Bagi permohonan cerai thalak dan cerai gugat ke Pengadilan persyaratannya sama, yaitu bahwa para pemohon atau penggugat harus membuat surat permohonan perceraian yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama, kemudian mendaftarkannya ke bagian administrasi. Sedangkan dokumen yang harus disiapkan oleh para pemohon atau penggugat diantaranya adalah Kartu Tanda Penduduk dan Kutipan Akta Nikah atau Buku Nikah.

3. Menurut Bapak apa perbedaan antara nafkah ‘iddah dengan nafkah

mut’ah ?

Jawab: Nafkah ‘iddah adalah nafkah yang diberikan oleh seorang suami

kepada mantan istrinya yang dithalak. Atau dengan kata lain, Nafkah iddah adalah nafkah yang diberikan suami pada waktu masa iddah atau pemberian biaya penghidupan yang diberikan oleh suami selama tiga bulan sepuluh hari berturut-turut kepada isteri yang diceraikan yang didasarkan atas kemampuan suami sebagai upaya pemenuhan kewajiban

yang telah ditetapkan oleh syari‟at Islam maupun keputusan Pengadilan

Agama. Sedangkan nafkah mut‟ah adalah pemberian seorang suami kepada isterinya yang diceraikan, baik itu berupa uang, pakaian atau pembekalan apa saja sebagai bantuan dan penghormatan kepada isterinya itu serta menghindari dari kekejaman thalak yang dijatuhkannya itu. Atau dengan kata lain bahwa tujuan pemberian Mut‟ah seorang suami terhadap Isteri yang telah diceraikannya adalah dengan adanya pemberian tersebut diharapkan dapat menghibur atau menyenangkan hati isteri yang telah diceraikan dan dapat menjadi bekal hidup bagi mantan Isteri tersebut, dan

Jawab: Pertimbangan hakim dalam putusan PA Jakarta Selatan Nomor : 1445/Pdt.G/2010/PA.JS didasarkan dengan putusan Mahkamah Agung RI nomor 137/K/AG/2007 tanggal 19 September 2007. Mahkamah Agung RI nomor 137/K/AG/2007 pemberian nafkah iddah didasarkan pada Pasal 41 huruf (c) UU No. 1 Tahun 1974 Jo. Pasal 149 KHI. Hakim MA memutuskan memberi nafkah karena pertimbangan bahwa istri harus menjalani iddah sehingga membebankan nafkah juga. Diberikan nafkah iddah karena adanya kepentingan bekas suami untuk mengetahui kebersihan rahim dan menjamin kebutuhan bekas istri selama iddah. Kemudian yang patut diperhatikan dalam salinan putusan Nomor : 1445/Pdt.G/2010/PA.JS ini bahwa tindakan penggugat oleh majelis hakim tidak dianggap nusyuz. Dan majelis hakim tetap memutuskan adanya nafkah iddah dan mut’ah sesuai dengan Pasal 41 huruf (c) UU No. 1 Tahun 1974 Jo. Pasal 149 huruf (a) dan (b) KHI tentang akibat putusnya perkawinan karena talak. Selain dari yurisprudensi putusan MA nomor 137/K/AG/2007 tanggal 19 September 2007, hakim memberikan mut’ah

dan nafkah iddah kepada bekas istri dengan memperhatikan 5 (lima) dasar pertimbangan yaitu: (a) Adanya rasa keadilan bagi kedua belah pihak, (b) Adanya ketertiban hukum, (c) Menempatkan harkat perempuan pada proporsinya, (d) Adanya kemampuan bekas suami untuk memberikan nafkah iddah dan mut’ah kepada bekas istri, dan (e) Adanya kelayakan bekas istri untuk menerima nafkah iddah dan mut’ah dari bekas suami.

5. Menurut pendapat Bapak, apakah nafkah ‘iddah bagi Penggugat

merupakan hak yang harus diterimanya dari Tergugat ?

Jawab: Tergantung pada pokok perkaranya. Jika si suami memang tidak

nusyuz, maka tidak ada salahnya jika ia juga diberikan nafkah ‘iddah.

Apalagi pada beberapa kasus banyak dijumpai para wanita yang mengajukan perceraian karena terpaksa dikarenakan suaminya sudah tidak lagi bertanggung jawab terhadap keluarga. Oleh karenanya dalam hal ini, hakim akan mempertimbangkan kronologis terjadinya perceraian dan akan memutuskan sesuai dengan kesaksian suami istri tersebut.

6. Menurut Bapak, dalam kondisi apa saja Tergugat dinyatakan tidak berhak

atas nafkah ‘iddah dari Tergugat ?

Jawab: Salah satunya adalah pada thalak ba‟in dan istri berbuat nusyuz, atau melanggar ketentuan syari‟at agama.

Jawab: Tergantung hasil pemeriksaan. Jika hasil pemeriksaan ternyata

memang si bekas istri layak untuk mendapatkan nafkah ‘iddah, maka hakim dapat mewajibkan mantan suami untuk memberikan nafkah ‘iddah

tersebut kepada mantan istrinya, walaupun sang istri tidak mencantumkan permohonan tersebut dalam surat permohonannya. Jadi itu semua tergantung kepada hasil pemeriksaan dalam sidang.

8. Menurut Bapak, apakah nafkah ‘iddah yang harus diberikan kepada

Penggugat oleh Tergugat harus dibayarkan sekaligus atau dicicil ?

Jawab: Pada beberapa kejadian, banyak diantara mantan suami yang

mengabaikan putusan pengadilan untuk memberikan nafkah ‘iddah atau

mut‟ah kepada mantan istrinya. Maka atas dasar itu, banyak hakim yang

mewajibkan kepada mantan suami untuk memberikan nafkah ‘iddah

kepada mantan istrinya secara sekaligus tidak dicicil. Hal ini dikhawatirkan si mantan suami mangkir untuk memberikannya kepada mantan istri. Tapi jika si mantan suami amanah, maka hakim dapat memberikan keputusan yang berbda.

9. Apabila Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya memberikan nafkah

‘iddah kepada Penggugat sesuai amar putusan, apakah sanksi yang akan

diterima oleh Tergugat ?

Jawab: Apabila terjadi hal demikian, maka si istri dapat melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Pengadilan. Setelah Pengadilan menerima laporan maka pengadilan akan melakukan eksekusi terhadap terhadap harta yang dimiliki oleh mantan suami, mungkin dengan cara lelang atau cara lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

10.Siapakah yang berhak memberikan sanksi atas pelanggaran Tergugat terhadap amar putusan yang diputuskan oleh hakim ?

Jawab: Karena masalah ini termasuk masalah perdata, maka pertama kali yang akan dilakukan adalah eksekusi oleh Pengadilan. Jika terjadi pelanggaran atau pembangkangan terhadap eksekusi tersebut, maka masalah tersebut dapat saja dilaporkan kepada pihak kepolisian dan kasus gtersebut bisa berubah menjadi kasus pidana.

Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang memeriksa dan mengadili perkara Gugatan Cerai pada tingkat pertama dalam persidangan Majelis telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara:

Penggugat, agama Islam, pekerjaan Karyawati, bertempat tinggal di Jalan Duku Nomor 6, RT: 005/RW: 06, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, dalam hal ini memberikan kuasa kepada H. Feizal Syahmenan, SH., MH. dan Sigit Handoyo Subagiono, SH., MH.,

Advokat dan Konsultan Hukum yang berdomisili di Jalan Sisingamangaraja Nomor 63, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 28 Mei 2010 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan register nomor 516/Pdt.G/VII/2010 tanggal 06 Juli 2010, selanjutnya disebut sebagai Penggugat;

melawan

Tergugat, agama Islam, pekerjaan Pegawai Bank Agro, bertempat tinggal di Jalan Al-Mubarok 1/8, RT: 012/RW: 06, Kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dalam hal ini memberikan kuasa kepada

Arianto Soeparto, SH., Marisa Johar Ayugati, SH., dan M. Ekhsandi Haznam, SH., Advokat dan Konsultan Hukum yang berdomisili di Jalan Kalibata Tengah Nomor 23, RT/RW: 006/07, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 28 Mei 2010 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan register nomor 572/Pdt.G/VII/2010 tanggal 26 Juli 2010, selanjutnya disebut sebagai sebagai Tergugat;

Pengadilan Agama tersebut;

Setelah membaca dan mempelajari berkas perkara;

Setelah mendengar keterangan Penggugat, dan para saksi;

TENTANG DUDUK PERKARANYA

Menimbang, bahwa Penggugat dengan surat Gugatannya tertanggal 06 Juli 2010 yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 1145/Pdt.G/2010/PA JS mengemukakan hal-hal yang pada pokoknya sebagai berikut:

Adapun hal-hal yang menjadi dasar gugatan Penggugat adalah sebagai berikut:

11 Maret 1996, sehingga antara Penggugat dan Tergugat terdapat hubungan hukum perkawinan yang sah sebagai suami isteri.

2. Bahwa, dengan demikian, perkawinan antara Penggugat dan Tergugat sebagaimana tersebut diatas adalah sah karena dilakukan sesuai dengan hukum dan agama nya yaitu Agama Islam, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat I Undang-undang No. l Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) yang menyatakan sebagai berikut:

"Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."

3. Bahwa, dari perkawinan tersebut Penggugat dan Tergugat memiliki 3 (tiga) orang anak yaitu:

1. anak yang lahir pada tanggal 26 Mei 1997 sebagaimana terbukti dari Kutipan Akta Kelahiran Nomor 12994/U/JS/1997 tertanggal 07 Juli 1997, pada saat Gugatan didaftarkan berumur 13 (tiga belas) tahun kurang 5 (lima) hari;

2. Muhamad Rizky Firmansyah yang lahir pada tanggal 19 Oktober 2003 sebagaimana terbukti dari Kutipan Akta Kelahiran Nomor 2919/T/JS/2007/2003 tanggal 12 JuIi 2007 , pada saat Gugatan didaftarkan berumur 7 (tujuh) tahun; dan

3. anak yang lahir pada tanggal 19 Oklober 2003 sebagaimana terbukti dari Kutipan Akta Kelahiran Nomor 2920/T/JS/2007/2003 tertanggal 12 Juli 2007, pada saat Gugatan didaftarkan berumur 7 (tujuh) tahun. (Untuk

selanjutnya disebut (“Anak-Anak") ;

4. Bahwa, dari perkawinan tersebut diperoleh Harta Bersama berupa, Tanah dan Bangunan yang terletak di Jalan Permata Pamulang Blok G 16 No.28, Rt.10/Rw.05, Desa Bakti Jaya, Kelurahan Setu, Kabupaten Tangerang Selatan, Propinsi Banten, yatg tercatat atas nama Penggugat;

5. Bahwa, selama Perkawinan antara Penggugat dan Tergugat seringkali terjadi perselisihan dan pertengkaran yang sulit didamaikan, sehingga tidak ada harapan dapat hidup rukun lagi dalam sebuah rumah tangga; 6. Bahwa awalnya rumah tangga Penggugat dan Tergugat baik-baik saja,

namun masa-masa indah itu tidak berlangsung lama karena setelah lahirnya anak pertama ternyata perbedaan pendapat antara Penggugat dan Tergugat sering terjadi dan bermuara dengan perselisihan dan pertengkaran yang tak ada habisnya;

7. Bahwa, pertengkaran-pertengkaran tersebut seringkali terjadi di hadapan Anak-anak, bahkan pembantu dan keluarga besar, sehingga kehidupan rumah tangga Penggugat dan Tergugat amat tidak nyaman, bahkan Tergugat pun seringkali meninggalkan kediaman bersama;

8. Bahwa. dengan keadaan rumah tangga yang bagai neraka seperti itu. Penggugat sama sekali tidak ridho dan tidak ingin mempertahankan rumah tangga lebih lama lagi bersama Tergugat, sehingga memutuskan lebih baik

Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan juncto Kompilasi Hukum Islam untuk diakhiri saja mengingat terpenuhinya alasan-alasan bagi perceraian sesuai Pasal 39 ayat 2 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan juancto Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum lslam;

9. Bahwa, mengingat hubungan Penggugat dengan Anak-anak sebagai ibu dan adanya anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 12 (dua belas) tahun, maka berdasarkan Pasal 105 huruf a Kompilasi Hukum Islam, maka hadhanah adalah berada di Penggugat Pasal 105 huruf a Kompilasi Hukum Islam: Dalam hal terjadinya perceraian: “Pemeliharaan anak yang belum

mumayyiz atau belum 12 tahun adalah hak ibunya.”

10. Bahwa, namun demikian baik Tergugat maupun Penggugat tetap berkewajiban untuk memelihara dan mendidik Anak bersama-sama, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 41 ayat {1) huruf a UU Perkawinan. Pasal 41 ayat (1) huruf a UU Perkawinan: Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah: “baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memeliharaa

dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak: bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak Pengadialan memberikan keputusannya.”

11. Bahwa berdasarkan pasal 41 hnruf b UU perkawinan jo. pasal 105 huruf c jo. pasal 156 huruf d Kompilasi Hukum Islam, Tergugat selaku ayah dari Anak tetap dibebani kewajiban untuk menanggung biaya pemeliharaan dan pendidikan Anak, yang termasuk namun tidak terbatas pada biaya kesehatan, biaya pendidikan formal dan biaya pendidikan informal

12. Bahwa untuk memenuhi kewajibannya sebagairnana tersabst pada angka 11 diatas, maka Tergugat harus memasukkan Anak-anak dalam Asuransi Kesehatan atas biaya Tergugat sepenuhnya, Tergugat diwajibkan pula untuk menanggung segala biaya pendidikan formal maupun non formal yang dibayarkan Tergugat langsung ke masing-masing lembaga pendidikan Anak-anak sampai pada pendidikan formal setinggi-tingginya tingkat Strata 2 (dua), dan Tergugat juga harus memberikan biaya pemeliiraraan Anak-anak dengan dengan jumlah Rp. 1.500.000.- (satu juta lima ratus ribu rupiah) setiap bulannya hingga anak-anak berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau menikah sebelun usia tersebut yang wajib, dibayarkan Tergugat kepada Penggugat secara tunai setiap tanggal 1 (satu) selama pemegang Hadlhonah atas Anak-anak (jumlah mana setiap tahun disesuaikan dengan setiap tahun disesuaikan dengan besaran inflasi sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dengan tidak mengurangi kewajiban Tergugat selaku Ayah dari Anak-anak untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan kepentingan Anak-anak.

memberikan nafkah kepada Penggugat selama berlangsungnya persidangan ini sebesar Rp Rp.1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu Rupiah) per bulan sampai dengan putusan perkawinan.

14. Bahwa, setelah putusnya perkawinan, Tergugat juga diwajibkan untuk memberikan nafkah iddah kepada Penggugat sebesar Rp. 750.000.00 (tujuh ratus ribu rupiah) setiap bulannya, selama 3 (tiga) bulan 10 (sepuluh) hari setelah putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap.

15. Bahwa, mengenai pembagian Harta Kekayaan Dalam Perkawinan, Penggugat meminta Tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Permata Pamulang Blok G 16 No. 28 Rt.10/Rw.05, Desa Bakti Jaya, Kelurahan Setu, Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten yang kini tercatat atas nama Penggugat untuk ditetapkan sebagai milik Anak-anak dan Penggugat menguasainya selama Anak-anak belum dewasa

16. Bahwa, akhirnya Penggugat menyatakan sanggup untuk memberikan iwadl sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Penggugat memohon agar Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan berkenan memeriksa dan mengadili perkara ini serta selanjutnya memberikan putusan sebagai berikut :

1. Mengabulkan Gugatan Penggugat seluruhnya;

2. Menetapkan jatuh Talak Satu dari Tergugat kepada Penggugat dengan Iwadl sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)

3. Menyatakan Putusan Perkawinan antara Penggugat dan Tergugat karena perceraian;

4. Menyatakan bahwa Hadhonah atas Anak-anak, yang bernarna anak I dan anak II berada pada Penggugat sebagai Ibunya

5. Memerintahkan Tergugat untuk (a) memasukkan Anak-anak dalam Asuransi Kesehatan atas biaya Tergugat sepenuhnya; (b) untuk menanggung segala biaya pendidikan formal maupun non formal yang dibayarakan Tergugat langsung ke kemasing-masing lembaga pendidikan Anak-anak sampai setinggi-tingginya pada pendidikan formal Strata 2 (dua) (c) dan untuk memberikan biaya pemeliharaan Anak-anak dengan jumlah Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu Rupiah) setiap bulannya hingga Anak-anak berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau menikah sebelum usia tersebut yang wajib dibayarkan Targugat kepada Penggugat secara tunai setiap tanggal 1 (satu)

Dokumen terkait