BAB V PENUTUP
5.3 Saran
Peneliti juga memberikan saran kepada peneliti selanjutnya agar memperbanyak informasi misalnya dengan cara memperbanyak buku referensi untuk memperbanyak informasi dan lebih responsif lagi terhadap partisipan dalam mendapakan informasi.
70
DAFTAR PUSTAKA
Aditomo, Anindito. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya: Buku Teks Utama dalam Kelas Psikologi Lintas Budaya Tingkat Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arjmandnia, Ali Akbar dan Keivan Kakabaraee. (2011). “The Investigation of Parents‟Attitude Toward Inclusive Education for Slow Learners” International Journal on New Trends in Education and Their ImplicationsOctober, November, December 2011 Volume: 2 Issue: 4. Hlm. 88-95. Artikel disampaikan dalam The 2nd International Conference on New Trends in Education and their Implications – ICONTE, 27- 29 April 2011, Antalya – TURKEY. Dipulikasikan www.ijonte.org.
Bambang Warsito. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan & aplikasinya. J jakarta: Rineka Cipta
Chatib, M dan Said, A. (2012). Sekolah Anak-Anak Juara. Bandung: Kaifa Atiek, Rugaiyah. (2011). Profesi kependidikan. Bogor: Ghalia Indonesia. Fadhli, A. (2010). Buku Pintar Kesehatan Anak. Yogyakarta: Pustaka Anggrek. Frey, Barbara A., dan Susan W. Alman. 2003. Formative Evalution Online Focus
Groups in Developing Faculty to Use Technology. Bolton: Anker Publishing Company.
Isjoni. 2011. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Bandung: PT. Refika Aditama.
Lay Kekeh Marthan Marentek, dkk. (2007). Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
M. Atwi Suparman. (2012). Desain Instruksional Modern: Panduan Para Pengajar dan Inovator Pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif. (2012). Effect of Academic Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners. Pakistan Journal of Psychological Research 2012,
Moleong, Lexy. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moleong.(2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Munawir Yusuf. (2005). Pendidikan Bagi Anak dengan Problema Belajar. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
Mufarokah, Anissatul. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Penerbit Teras.
Nani Triani dan Amir. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar(Slow Learner). Jakarta: Luxima.
Oemar Hamalik. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta Bumi Aksara.
Prastowo, Andi. (2014). Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta: Perpustakaan Nasional.
Pribadi, Beny. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
Rimang.2011.Meraih Predikat Guru dan Dosen Paripurna.Bandung: Alfabetha. Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada.
Sudjana, Nana. 2008. Penilaiaan Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Shaw, Steven R. (2010). Rescuing Students from the Slow Learner Trap. Principal Leadership February 2010, 12-16. Canada: National Association of Secondary School Principal. Diterbitkan Online www.nasponline.org/resources/principals.
Suharsimi Arikuntoro. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suyanto dan Asep Jihad. (2013). Menjadi Guru Profesional (Strategi
Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global). Jakarta: Esensi.
Sudiono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:Alfabeta.
Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Sunaryo. (2013). Psikologi Untuk Keperawatan, Ed.2. Jakarta: Kedokteran EGC. Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi Offest. Wijaya, C. (2010). PENDIDIKAN REMIDIAL: Sarana Pengembangan Mutu
Sumber Daya Manusia. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Winarsih. (2013). Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi
Pendamping (Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat). Jakarta: Kementerian dan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Yamin, Martinis. 2007. Desain Pembelajaran Berbasis KTSP. Jakarta: Gaung Persada Pers.
Lampiran 1
Teks Anekdot
Nama : AB Usia : 10 tahun
Lokasi : SD Tunas Bangsa Observer : Puguh Wismadi
Peneliti melakukan penelitian observasi terhadap AB serta kegiatan pembelajaran di kelas V yang dilakukan sebanyak dua kali. Sebelum melakukan observasi, peneliti terlebih dahulu meminta ijin kepada kepala sekolah dan juga wali kelas V untuk mengobservasi anak lamban belajar berinisial AB serta kegiatan pembelajaran. Setelah mendapatkan ijin, wali kelas V menunjukkan anak lamban belajar dan mempersilahkan peneliti untuk mengobservasi kegiatan pembelajaran di kelas V yang terdapat anak lamban belajar tersebut. Proses perizinan dan observasi pertamakali dilakukan pada tanggal 19 November 2015. Peneliti mendapat kesempatan untuk melakukan observasi di kelas V pada pukul 09.30 hingga pukul 10.50 wib. Observasi yang pertama dilakukan pada saat pembelajaran mata pelajaran matematika. Pada awal kegiatan pembelajaran, guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan apersepsi menyapa seluruh siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara lisan kepada siswa mengenai bangun ruang. Guru mengajak siswa untuk mengingat bentuk bangun ruang yang ada di sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Guru tersebut menyampaikan materi secara lisan di depan kelas dan juga menggunakan papan tulis. Pada saat menyampaikan
materi, sesekali guru memberikan pertanyaan singkat pada siswa dan seluruh siswa antusias untuk menjawab. Namun berbeda dengan AB yang hanya terlihat diam saja dan seperti kurang konsentrasi. Mengetahui hal itu, guru tersebut menyapa AB untuk tetap fokus dan memprjhatikan. Guru tersebut memberikan pertanyaan untuk pada AB mengenai materi yang baru saja dibahas. Pada awalnya AB terlihat diam saja dan hanya melihat kanan kirinya. Guru mencoba mendekati AB untuk mengulang pertanyaan dengan jelas serta membantu AB untuk dapat menjawab, dan dengan bantuan guru tersebutI, AB mampu menjawab pertanyaan yang diberikan walau jawabannya kurang tepat dan seperti masih ragu. Pada pertengahan pelajaran, guru mengajak seluruh siswa untuk mengerjakan soal yang ada pada buku. Seluruh siswa mengerjakan soal yang ada pada buku, selanjutnya setelah siswa selesai mengerjakan dan mengumpulkan pekerjaannya, AB terlihat masih mengerjakan soal. Guru mendekati AB dan terlihat memberikan bmbingan dan pada akhirnya AB mengumpulkan pekerjaannya walau paling terahir sendiri mengerjakan. Pada akhir kegiatan pembelajaran, guru I mencoba bertanya pada seluh siswanya dan menanyakan bagian mana yang belum jelas. Setelah dirasa waktu pelajaran selesai, guru menyudahi kegiatan matematika tersebut. Pada observasi yang dilakukan oleh peneliti melihat langsung kondisi secara fisik AB sama dengan anak yang lainnya, tidak ada ciri fisik yang menunjukkan bahwa AB adalah anak yang mengalami lamban belajar.
Selanjutnya adalah observasi kedua yang berlangsung pada tanggal 23 November 2015. Peneliti mendapat kesempatan observasi yang kedua pukul 09.30 sampai pukul 10.40 wib yang pada saat itu sedang berlangsung pelajaran IPA.
Observasi yang kedua ini mengarah pada anak lamban belajar serta pembelajaran di kelas V yang terdapat anak lamban belajar. Pada awal pelajaran, guru membuka pelajaran dengan menyapa seluruh siswa. Guru menyampaikan mengenai materi baru yang akan dipelajari yaitu tentang perkembangbiakan mahluk hidup. Guru tersebut mencoba menerangkan materi dengan berceramah dan juga menyuruh siswa untuk membuka buku paket. Guru tersebut membahas materi dengan mengkaitkan pada kehidupan sehari-hari. Pada saat menerangkan materi, terlihat AB seperti kurang konsentrasi, dan sesekali guru menyapa AB untuk tetap fokus terhadap pelajaran. Setelah menyampaikan materi kepada siswanya, guru tersebut menyuruh seluruh siswa untuk mengerjakan soal. seluruh siswa mulai mengerjakan soal yang ada di buku paket termasuk AB anak yang mengalami lamban belajar tersebut. Pada saat siswa mengerjakan soal, guru berkeliling dan mencoba mengecek siswanya dan membantu serta mengarahkan. Pada saat itu peneliti melihat AB mengerjakan soal, namun ada yang terlihat berbeda dengan AB seperti terlihat kebingungan dan banyak menggaruk-garuk kepala dan seperti banyak bergumam. Melihat hal itu, guru menghampiri AB dan mencoba mengarahkan. Setelah yang lain selesai mengerjakan, AB terlihat masih belum selesai mengerjakan dan guru memberikan waktu pada AB. Setelah menunggu beberapa waktu dan AB selesai mengerjakan, guru mulai membahas soal yang telah dikerjakan tersebut. Guru menyuruh siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru termasuk AB, terlihat AB awalnya hanya diam saja dan melihat kanan kirinya serta bergumam. Namun setelah guru tersebut mengulangi
pertanyaannya dengan pelan dan mencoba diperjelas serta membimbingnya, AB mampu menjawab walau masih ragu dan kurang tepat.
Pada kegiatan akhir, guru menanyakan kepada siswa bagian yang belum jelas. Terdapat siswa yang bertanya dan guru menjelaskan. Setelah dirasa waktu selesai, guru menyudahi pelajaran dengan berdoa dan menyuruh AB untuk memimpin doa untuk mengahiri pelajaran dan pulang.
Lampiran 2
TABEL HASIL TRIANGULASI
Persepsi Partisipan I Bu Ay Partisipan II Bu M Partisipan III Bu Dw Lamban belajar ”Lamban belajar itu hmm... anak yang preatasinya itu rata-ratanya rendah” “kalau ..hmm .. anak lamban belajar itu ya anak yang lamban dan prestasinya rendah dibandingkan teman-temannya.” “Kalau anak lamban belajar itu ya adalah anak yang pengetahuannya itu rendah ... sering terlambat kalau mengerjakan apa-apa itu.” Pembe-lajaran “Pembelajaran itu hmm adalah suatu proses kegiatan belajar antara guru dan siswa, guru itu yang menjadi pengajar serta siswa sebagai pembelajar.”
“Pembelajaran menurut saya itu yaa adalah aktifitas belajar yang disitu ada guru dan ada siswa. Kira-kira begitu ya mas.” Bu Ay“Pembelajar an itu ya ....seperti suatu usaha atau kegiatan belajar untuk membelajarkan siswa, hmm begitu kira-kira.
Tujuan “Tujuan itu ya adalah suatu yang ingin dicapai dalam proses kegiatan pembelajaran.” “Tujuan itu ya merupakan seseuatu yang ingin dicapai pada kegiatam pembelajaran”. “ Tujuan itu ya adalah target atau hasil yang ingin diharapkan dari suatu kegiatan pembelajaran.” Materi “Materi pembelajaran merupakan sesuatu topik yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.” “Materi itu aaaa..aa.. ya sesuatu bahan yang akan disampaikan atau bahan bahasan untuk dipelajari siswa dalam pembelajaran.” “Materi pembelajaran itu klo menurut saya ya adalah bahan yang akan disampaikan dan dipelajari dalam kegiatan pembelajaran.” Metode “Metode pembelajaran itu ya cara mas,.. hmm ... cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pada kegiatan pembelajaran.” M “motede pembelajaran hmm.. adalah cara yang digunakan guru pada kegiatan pembelajaran.” Dw “Hmm ... metode pembelajaran kalau menurut saya itu ya adalah cara.... cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam
pembelajaran.”
Evaluasi “Evaluasi itu ya adalah suatu proses menentukan sesuatu yang telah dilakukan.” “Evaluasi adalah suatu tindakan menilai kembali mengenai hal yang telah dilakukan.” “Evaluasi itu ya adalah ya mengumpulkan informasi sejauhmana kegiatan yang telah dilakukan sudah mencapai tujuan atau belum yang nantinya itu ya akan di evaluasi.”
Lampiran 3
Pemetaan
Guru
Matematika Guru IPA
Guru pendamping khusus (GPK) PEMBELAJARAN TUJUAN PEMBELAJA RAN
Lampiran 4
Memo Tertulis
Penelitian ini melibatkan empat partisipan. Namun karena peneliti ingin mengetahui persepsi guru terhadap pembelajaran anak lamban belajar, maka peneliti tidak melakukan waawncara kepada AB dan hanya melakukan wawancara kepada guru matematika, Guru IPA, Guru pendamping khusus. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti melihat adanya persepsi guru terhadap anak lamban belajar. Mereka berpendapat bahwa anak lamban belajar adalah anak yang lamban dalam segala hal dan mempunyai prestasi belajar rendah dibandingkan dengan anak pada umumnya. Persepsi mereka terbentuk berdasarkan apa yang mereka amati dari perilaku AB.
Setelah mengetahui persepsi dari beberapa partisipan tentang anak lamban belajar, peneliti dapat mengetahui persepsi terhadap pembelajaran pada anak yang mengalami lamban belajar AB terkait mengenai pembelajaran. AB Anak yang mengalami lamban belajar di SD N Tunas bangsa belajar bersama-sama dalam satu kelas dengan yang lainnya, hal tersebut menimbulkan sebuah persepsi yang sama dari ketiga guru yaitu bahwa penempatan anak yang mengalami lamban belajar akan mempunyai pengaruh positif baik itu untuk anak lamban belajar sendiri ataupun anak yang lainnya. Selain itu, pembelajaran anak lamban belajar menggunakan RPP yang sama dengan yang digunakan anak yang lainnya. PPI untuk anak lamban belajar di SD N Tunas Bangsa tidak dibuat dikarenakan faktor
kesibukan guru. Sehingga terkait mengenai komponen pembelajaran seperti tujuan, materi, metode, dan evaluasi untuk anak lamban belajar sama dengan yang ditempuh oleh anak lainnya.. Hal tersebut menimbulkan persepsi yang sama dari beberapa guru bahwa AB anak yang mengalami lamban belajar dirasa masih mampu mengikuti pembelajaran seperti anak yang lainnya.
Lampiran 5
Hasil wawancara peneliti dengan partisipan (Bu Ay)
Peneliti : “Selamat siang bu ayuk” Bu Ay : “Ya mas selamat siang mas ..”,
Peneliti :“ ini...hmm ingin melakukan wawancara dengan ibu... ”
Bu Ay :“Owh ya .. monggo silahkan mas ,.. di samping saja ruang tamu itu ... silahkan mari”
Peneliti :“iya bu....terimakasih”
Bu Ay: “ Silahkan mengenai apa mas ?
Peneliti : Ini bu mengenai anak lamban belajar bu, hmm yang kemarin kebetulan sudah bertemu dengan ibu kepala sekolah dan beliau menyarankan untuk bertemu dengan ibu kalau yang berkaitan mengenai anak lamban belajar di kelas V bu....” Bu Ay :” ohh begitu, Iya mas ...di kelas V ini ada yang mengalami lamban belajar. kebetulan saya adalah wali kelasnya. ada 1 anak itu... namnya AB.”
Peneliti : “Menurut ibu sendiri apa itu bu lamban belajar itu? ...”
Bu Ay : ”Lamban belajar itu hmm... anak yang preatasinya itu rata-ratanya rendah”
Peneliti : untuk mata pelajaran apa bu ?
Bu Ay : Kalau AB itu ya apa ya , ya klo untuk nilainya itu yang paling terlihat ya pada pelajaran matematika ini yang saya ajar di kelas V.
Peneliti : Langkah yang dilakukan ibu bagaimana untuk mengatasi hal itu bu? Bu Ay : Hmm... ya tetap sama sih mas, seperti anak lainnya belajar. tp hmm karna disini ada guru pembimbing khusus itu, terkadang saya berkoordinasi dengan beliau karna dia yang biasa menangani anak berkebutuhan khusus, untuk di kelas V ini juga. Tapi ya, kadang ya saya ajar, namun klo tidak memungkinkan ya saya minta bantuan Bu DW itu untuk membimbingnya di kelas ini, kadang ya di ruang khusus juga. Lha daripada ketinggalan kan kasian juga anaknya.
Peneliti : “Kira-kira kalau dilihat secara fisik itu bagaimana to bu anak lamban belajar itu? apa ada yang beda ?”
Bu Ay : “ kalau dilihat secara fisik itu ... ya ...sama aja ya mas seperti anak normal yang lainnya ”.
Peneliti :” Kalau menurut ibu,.... hmm ciri-cirinya itu apa lagi bu , klo pas pada saat kegiatan pembelajaran dikelas itu bu ?”
Bu Ay : “anak lamban belajar itu hmm... kurang dapat mengikuti aa .... pelajaran dengan baik, kurang konsentrasi dan hmm..., nilainya itu juga rendah dibandingkan dengan yang lain,.. dan juga, selalu terahir dalam mengerjakan soal bahkan tidak selesai.“anak lamban belajar itu saya rasa lamban dalam mengikuti pelajaran ..aa....dan juga saya rasa sedikit sulit menangkap materi,... “
Peneliti : kalau menurut ibu sendiri itu, pembelajaran yang tepat untuk anak lamban belajar itu bagaimana bu, terkait dengan komponen-komponen pembelajaran seperti ada tujuan pembelajaran, materi, metode, evaluasi itu bu? Bu Ay : “Hmm , Iya itu mas ...hmm komponen komponen tersebut ya memang harus dilaksanakan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.”
Peneliti : “ Seperti apa langkah-langkahnya dalam penyampaian tujuan pembelajaran bu ?”
Bu Ay : “Hmm ... itu ya seperti saat pembelajaran berlangsung dikelas, biasanya saya sampaikan di awal pelajaran bersamaan dengan apersepsi, jadinya biar anak itu lebih mengerti sebelum masuk ke materi ada gambarannya dulu, ya lebih baiknya ya itu dengan ilustrasi kehidupan sehari-hari.”
Peneliti : “Hmm ...terus itu bu .. hmm bagaimana langkah-langkah ibu dalam menyampaikan materi? Khususnya pada kelas yang didalamnya terdapat anak lamban beljar tersebut ?”
Bu Ay : “Untuk materi iu kan ya sudah jelas ada standarnya, ada acuannya misal pada kurikulum silabus .. rpp itu .... klo anak lamban belajar, materinya itu ya masih sama disisni. Kalau anak ABK lainnya kan menggunakan PPI ya. Tp kalau lamban belajar itu ya saya rasa masih bisa seperti yang lainnya.
Peneliti : “Kalau menurut ibu sendiri metode apa yang tepat yang dilakukan ibu menggunakan metode apa bu ?”
Bu Ay : “Kalau untuk metode yang saya lakukan itu ya ....yaa ... ya kalau untuk pelajaran matematika itu ya metode ceramah dan nanti ya saya terangkan di papan tulis juga saya gambar begitu. Kadang ya dibuat kelompok, ya metodenya variasi” Peneliti : kalau evaluasinya seperti apa bu yang ibu lakukan?
Bu Ay : “Hmm .. yang saja lakukan sejauh ini dalam evaluasi yaaa.... anak-anak itu saya tanya sudah dong apa belum . misal kalau sudah ya sudah lanjut ke materi berikutnya. Tapi klo masih belum dong atau belum paham , ya saya tanya dibagian mana , terus saya ulangi lagi sedikit. Dan itu tadi kalau memang dirasa tidak memungkinkan ya saya koordinasi dengan bu Dw itu untuk pendampingan khusus begitu.kan dalam materi matematika itu kadang ada yang gampang, tapi kan ada yang rumit. Untuk anal LB kan kalau rumit-rumit itu kadang tidak dong “. Peneliti : “Oww begitu, selanjutnya Kalau menurut ibu, definisi mengenai komponen-komponen pembelajaran tadi itu apa menurut ibu seperti tujuan pembelajaran, materi, metode serta evaluasi ?
Bu Ay : “Tujuan adalah mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan dan ditempuh siswa dalam pembelajaran . yang nantinya akan di ukur berhasil atau tidaknya dalam proses pembelajaran tersebut itu ...”.
Bu Ay : “Materi pembelajarannya itu ya seperti apa ya, ... hmm ya yang akan diajarkan itu adalah materi mas., jadi bisa dikatakan bahwa materi itu adalah bahan untuk diajarkan.”
Bu Ay : “Metode itu ya ... apa y... moetode itu ya seperti langkah-langkah atau bisa juga cara dalam penyampaian materi. Misalnya itu spserti metode ceramah, metode diskusi dan lain-lain .”
Bu Ay : “Evaluasi itu ya adalah komponen untuk pengukuran .. hmm bisa jadi dikatakan ,, hmm untuk mengetahui siswa itu paham atau mengerti atau belum, yang nantinya akan dilanjutkan dengan langkah selanjutnya.”
Peneliti : “Hmm ... selain tentang lamban belajar ini bu, kalau menurut ibu tentang pembelajaran hmm .. pembelajaran itu apa menurut ibu?”
Bu Ay : “Pembelajaran itu ya .... adalah proses kegiatan belajar antara guru dan siswa di kelas.”
Peneliti : “Terkait pembelajaran pada anak lamban belajar. bagaimana tanggapan ibu tentang pembelajaran anak lamban belajar itu bu ?”
Bu Ay : “hmm ... gimana y ..mas .. aaa ...Pembelajaran anak lamban belajar itu ya harus dilaksanakan sesuai dengan karakteristik anak lamban belajar tersebut. Namanya juga lamban , jadi ya beda dengan anak normal lainnya , misalnya dalam penyampaian materi, dalam memberi waktu dan lain-lain itu harus dibedakan dengan anak normal , misalkan harus pelan-pelan penyampaian materinya agar anak itu mudah mengikutinya, dan waktu untuk mengerjakan itu ditambah.”
Peneliti : “Jadi menurut ibu pembelajaran anak lamban belajar itu harus menngerti dulu karakteristik siswanya , begitu bu ?”
Bu Ay : “Iya mas ... begitu kira-kira .... jadi dengan menyesuaikan karakteristik siswa itu kan nantinya guru dapat tau langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh . dengan begitu sebelum melaksanakan pembelajaran itu guru sudah mempunyai pandangan tentang yang akan dilakukanya.”
Peneliti : “ehmm ... mungkin ini dulu bu , saya rasa sudah cukup ,, terimakasih, matur nuwun bu ayuk ..hhe.”
Bu Ay : “ ya mas ... sama-sama mas puguh.”.
Hasil Wawancara peneliti dengan partisipan (Bu M)
Peneliti : “ Siang Bu M, maaf mengganggu waktunya. Saya ingin melakukan wawancara dengan ibu klo ibu ada waktu .. hee. “
Bu M : “Ya mas, Monggo silakan ...”
Peneliti : “ya bu terimakasih, hmmm ... ini bu nantinya itu untuk melengkapi tugas akhir saya bu ...hehe.”
Bu M : “oalah bgitu ... akan saya bantu sebisa saya mas puguh.”
Peneliti : “terimakasih bu , hmm ini terkait tentang anak lamban belajar . Menurut ibu sendiri apa to itu bu lamban belajar itu?”
Bu M : “aaa.. lamban belajar itu , yaa. Anak yang lamban dalam mengikuti pelajaran mas,.. kemampuannya dibawah anak normal . kira-kira begitu.” Kalau disini ya seperti ab itu
Peneliti : “dilihat secara fisik , menurut ibu, Ab itu bagaimana ? kondisi fisiknya bu apa ada yang beda?”
Bu M : “ hm.. kalau dilihat secara fisik itu ya sama aja mas . tidak ada yang beda.... ya sama seperti anak normal lainnya.”
Peneliti : “Kalau menurut ibu,.... hmm ciri-ciri apalagi yang lebih spesifik pada anak lamban belajar itu bu?”
Bu M :” hmm .. yang jelas itu ya lambat itu tadi , terus kepandaiannya itu dibawah rata-rata pada umumnya, kalau pas mengikuti pelajaran itu terlihat seperti kurang konsentrasi.”
Peneliti : “Seperti yang sudah diketahui bahwa .. hmm ... pembelajaran itu ada beberapa komponen didalamnya seperti tujuan, materi,metode,dan evaluasi. Itu bagaimana menurut ibu ?”
Bu M : “bagaimana apanya mas maksudnya ? hehehe...”
Peneliti : “bagaima langkah-langkah ibu dalam menyampaikan tujuan pembelajaran tersebut ?”
Bu M : “Tujuan pembelajaran itu biasanya saya sisipkan di awal kegiatan