• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

7. Saran Ke Depan dan Rencana dari Peneliti Selanjutnya

Model pembelajaran telling story akan lebih baik lagi untuk diterapkan secara terus menerus di dalam proses belajar mengajar PKn karena untuk menyesuaikan tujuan dari materi PKn, yaitu untuk membentuk peserta didik agar menjadi warga yang lebih baik lagi (good citizenship) akan lebih sesuai lagi bagi peserta didik yang lagi mempunyai permasalahan, seperti mereka terlibat dengan kenakalan dan terlibat aksi perkelahian tawuran.

Yang paling terpenting sebagai pelajar bahwa penerapan nilai-nilai toleransi penem-patannya harus tepat sesuai dengan permasalahannya, mana yang berhak untuk ditolong dan yang mana yang harus dibantu dan dengan syarat pertolongan itu harus dipikirkan terlebih dahulu seperti apa bentuk bantuannya. Dan berupa apa bentuk pemberian dari pertolongannya, karena memberikan bantuan akan lebih berharga, berupa solusi, ara-han, dan bimbingan dari pada memberikan pertolongan dalam bentuk benda atau dalam bentuk bantuan uang.

Untuk sekolah yang bertikai hilangkanlah rasa curiga kalau saja ada orang yang menanyakan tentang perkelahian tawuran bagi peserta didiknya dengan cara ter-buka dan tidak ada prosedur yang harus ditempuh sehingga peneliti harus berkali- kali untuk bisa menemuinya. Dan akan lebih baik lagi apabila mempermudah untuk bisa terjawabkan. Karena siapa tahu dengan cara saling tukar pikiran paling tidak dapat

menguraikan permasalahan peserta didik kita sehingga dapat menekan jumlah angka kasus berbagai macam kenakalan dikalangan pelajar yang ada sekarang ini seperti keterbukaan dengan cara tidak ada yang ditutup- tutupi karena permasalahan peserta didik adalah masalah kita semua mengingat peserta didik adalah sebagai generasi penerus bangsa yang akan mengagantikan dan melajutkan pembangunan dengan memajukan sesama agar dapat sejajar dengan sesama negara lainnya.

Beberapa Kelemahan Model Telling Story

Proses belajar mengajarnya melalui penerapan model telling story pelajaran PKn, ada kelemahannya karena biasanya peserta didik pada awal permulaannya pen-erapannya, mereka merasa malu dan takut untuk membicarakan Permasalahan yang ada pada dirinya kepada guru PKn karena mereka beranggapan kalau saja berterus terang bahwa diri ada persengketaan sehingga berkelahi kemudian tawuran nantinya akan mendapatkan sangsi atau dikeluarkan dari sekolahnya. Oleh karena itu, sebagai alterna-titif terbaiknnya mereka berbuat tidak jujur untuk tidak membicarakan secara terus ter-ang kepada gurunya bahwa mereka telah terlibat pertikaian dengan cara berkelahi kemudian melakukan tawuran. Di saat posisi seperti ini seorang guru PKn harus pandai untuk bisa memancing permasalahan peserta didik agar bisa berterus terang untuk dapat membicarakan permasalahan diri dari segala persoalan (interpersonal conllict) sehing-ga mensehing-gakibatkan konflik identitasnya sebasehing-gai bagian dari kepemilikan status kewar-ganegaranya. Misalnya saja seorang guru PKn pandai mengarang.

Ada berita dari temanmu katanya kemarin kamu gelisah karena telah terbentur masalah dengan temanmu dengan sekolah lain, sehingga kamu menjadi murung dan suka melamun, coba kemukakan persoalannya agar Ibu dapat membantu untuk proses penyelesaiannya” akan lebih baik lagi guru PKNnya mengemukakan _esam bahasan lagi dengan tema “Keterbukaan untuk Musyawarah”.pada pelajaran Pknnya dan lebih diarahkan agar peserta didik dapat menerapkan dan mempertahankan keberlangsun-gannya di dalam aktivitas kesehariannya melalui sesama temannya disekolah atau ak-tifitas kesharian dilingkungan masyarakat dimana mereka telah berada.

Selanjutnya, ketika proses belajar mengajar berlangsung, kemudian guru mengarahkan melalui pertanyaan yang sifatnya mendesak agar peserta didik mau berterus terang dan berkata jujur bahwa dirirnya sedang terlibat pertikaian dengan te-man sekolah lain, kemudian guru bertanya lagi melalui penugasan, Sehingga pada akhirnya peserta didik mau berterus terang bahwa dirinya telah terlibat peselisihan yang berkepanjangan dengan teman sekolah lain.

*Rencana Kedepan Peneliti Selanjutnya

Sebagai peneliti, Insya Allah kalau Tuhan mengijinkan ada keinginan dapat bekerja sama untuk ke depannya dengan kelompok MGMP (Musyawarah guru mata pelajaran) khususnya untuk pelajaran PKn dengan maksud untuk bisa saling memberi atau berbagi pengalaman tentang permasalahan pelajaran, metode dan model atau me-dia pembelajaran yang dipakai di dalam kelompoknya. Dengan maksud peneliti men-cari informasi permasalahan pendidikan secara langsung dari guru- guru dan kelompok belajar MGPM pun menerima informasi sekitar perkemnangan PKn dari peneliti ketika peneliti menempuh pendidikan di Sekolah Pasca UPI Bandung. Atau bisa dikatakan berbagi ilmu dan pengalaman. Apalagi di saat terjadi kasus yang berhubungan dengan kenakalan peserta didik sehingga mengundang banyak perhatian dan telah banyak diekpos oleh berbagai media dan masyarakatpun mendapatkan dampak kerugian kare-na fasilitas yang dimilikinya menjadi rusak, dirinya sendiri menjadi tidak tentram dan terganggu aktifitas hidupnya karena takut akan amukan masa yang semakin berani dan brutal sehingga mereka mendapat imbasnya dari apa yang mereka lakukan.

Mengingat peneliti adalah sebagai bagian dari pendidik merasa tergugah untuk ingin mengetahui lebih jauh dan mencari motif dari faktor penyebabnya. Jika perlu memberikan solusi terbaiknya dan menangani dengan cara berkeinginan untuk bekerja sama dengan aparat pemerintah sebatas masalahnya bisa ditoleransi dan dapat diu-raikan. Permasalah kenakalan peserta didik adalah bagian dari tugas para pendidik un-tuk bisa kita tangani secara bersama. Dalam arti pejabat pemerintahnya, masyarakat, orang tua, tokoh agama dan para praktisi penelitinya karena ilmu pengetahuan tidak

akan habis apabila diberikan ke orang lain, bahkan akan muncul berbagai pendapat yang baru dari dalam diri sendiri.sehingga ilmu pengetahuan akan bertambah banyak lagi dengan sendirinya.

Al Qur’an. 2010.Surat Nahl dan Surat A’ Nissa ayat : 16 dan ayat 4, Madinah, Jakarta; Andrie. 2009. Faktor Penyebab Konflik dan Strategi Penyelesaian Konflik. [Online].

Tersedia: http://andrie07.wordpress.com/2009/11/25/faktor-penyebab-konflik-dan-strategi-penyelesaian-konflik/ [25 Desember 2012];

Budimansyah. D. 2009.Pengukukuhan Pidato Guru Besar. UPI Bandung;

Budimansyah, D. 2011. “Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan untuk Membangun

Karakter Bangsa”, dalam Budimansyah, D dan Komalasari, K (ed). Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.;

Bungin. M. B. 2008.Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lain.Kencana Prenada Media Group:Jakarta;

Buwono X, S. H. 2002.Merajut Kembali ke Indonesia Kita. Gramedia. Jakarta;

Creswell, J.W.2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar;

Daradjat. Z. 2000 Remaja harapan dan tantangan, Ruhama Jakarta;

Djahiri, A. K. 1990.Teori Keterampilan Belajar Mengajar Menuju Guru Inkuiri Yang Reaktif. Lab. IKIP Bandung;

Djahiri, A Kosasih (1996) Menelusuri Dunia Afektif Pendidikannili & Moral. Lab IKIP Bndung;

Djahiri, A Kosasih (1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai Moral Lab. IKIP Bandung;

Ganeswara, M.G dan Wilodati. 2011. Panduan Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Bandung: Maulana Media Grafika;

Gulo, W. 2005. Stategi Belajar Mengajar, Jakarta : Grasindo;

Hopkins, David 1993 A Teacher”s Guide to Class room Research ed Phila Delpia: open university Press;

Husen, A. dkk. 2010. Model Pendidikan Karakter Bangsa. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta;

Horton, Paul dan Hunt chester L (1993) Sociologi, Erlangga;

Huntington Samuel P 2007, Benturan antar Peradaban dan Masa depan Politik dunia, Penerbit Qalam;

Haryanto 2008, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta;

Ftitah.(2011).Makalah Tawuran Pelajar [online] Tersedia: http//

iftitahuj.blogspot.com/2011/06/makalah tawuran pelajar html [04 januari 2013];

John.j. Cogan and Ray Derricott (1988), Citizenship Education For the 21, Century: Setting the Context, Londen: Kogan Page;

Juliani. 2011. Makalah Toleransi Antar Umat Beragama. [Online]. Tersedia:

http://juliani-vj.blogspot.com/2011/11/makalah-toleransi-antar-umat-beragama.html [04 Januari 2013];

Kalidjernih. F. K. 2009.Puspa Ragam Konsep & Isu Kewarganegaraan. Widya Aksara Press: Bandung;

Kartono. K.1980.Mental Hygiene atau Kesehatan Mental. Alumni: Bandung; Koentjaraningrat, 2004, Manusia dan kebudayaan, Djambatan, Jakarta;

Krisnater (2014), Tawuran kegelisan jiwa muda [online]

Tersedia:http://.blogspot.com/2011/07/22/15021752/Tawuran- Kegelisahan-jiwa-muda.html;

Kalidjernih, F.K. 2010. Kamus Studi Kewarganegaraan Perspektif Sosiologikal dan Politik Widya Aksara Press

Kalidjernih,F.K. 2010, Penulisan Akademik. Widya Aksara Press.

Lazuardibirru. 2012. Membentuk Sikap Toleransi Siswa Melalui Pendidikan Berbasis Karakter.

[Online].Tersedia:http://www.lazuardibirru.org/gurupencerah/beritagurupencerah /membentuk-sikap-toleransi-siswamelalui-pendidikan-berbasis-karakter/[05 Januari 2013];

Lubis. Y. 2008.Anatomi Bibliografi, Inovasi Pembelajaran PKN. Pascasarjana: UPI Bandung;

Lickoma T (2012) Mendidik untuk membentuk karakter, PT Bumi Aksara. Maftuh. B.(2008).Pendidikan Resolusi Konflik. Pascasarjana: UPI Bandung.

Mas’oed M dan Andrews C M (1978) Perbandingan sistim politik, Gajah mada University Press.;

Moleong. Lexy J.(2010) Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Refisi . PT Remaja Rosdakarya;

Megapolitan kompas. (2014) Masalah tawuran, masalah akhlak [Online] Tersedia

http://.com/read/2011/07/22/15021752/Masalah Tawuran. Masalah akhlak;

Margaret M. Poloma (2007) Sosiologi Kontemporer,PT Raja Grafindo Persada Jakarta Narwoto D dan Suyanto B (2013) Sociologi Teks Pengantar dan Terapan, Kencana

Pramadi Media Group;

Pangesti, R.L. (2012). Internalisasi, Belajar dan Spesialisasi. [Online]. Tersedia: http://ilmusosialdasar-lintang.blogspot.com/2012/10/internalisasi-belajar-dan-spesialisasi.html [04 Januari 2013];

Pusat Kurikulum. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pengajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitan dan Pengembangan Pusat Kurikulum; Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI ( 2013 ) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Bandung.

Poloma, M (2007) Sociologi Kontenporer, PT Raja Grafindo Persada;

Plummer, Ken dan Nanang. M, Sisworo (2011), Sosiologi the Basics, Jakarta, Rajawali Pers.;

Poerwadarminta,W.J.S, (2001) Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke tiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasinal.;

Rusman. 2010.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionlisme Guru. Raja Grafindo Persada;

Samani, M dan Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya;

Sapriya. 2007.Presfektif Pemikiran Pakar Tentang PKN Dalam Pembangunan Karakter Bangsa.Disertasi pada SPsUPI Bandung;

Somantri, M. N.2001.Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Rosda Karya: Bandung;

Sudarsono. 2012.Kenakalan Remaja prevensi, rehabilitasi dan resosialisasi Jakarta: PT Rineka Cipta;

Sudjana. 2005.Metode Statistika. Tarsito: Bandung.

Sugiyono. 2011.Metode Penelitian Kualitatif ,Kuantitaf dan R& D. Alfabeta: Bandung.

Suyatno. 2010. “Peran Pendidikan Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa“. Jakarta: Makalah Saresehan Nasional.;

Suryadi, A dan Budimansyah, D (2009) Paradigma Pembangunan Pendidikan Nasional Konsep Teori dan Aplikasi dalam Analisis Kebijakan Publik, Widya Aksara Press;

Tasdik, M. (2011). Teori Konflik dan Fungsional. [Online].

Tersedia:http://muhammadtasdik.blogspot.com/2012/02/vbehaviorurldefaultvmlo .html [25 Desember 2012];

Tim Redaksi (2001) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Bahasa.

Wahab. A. A dan Sapriya. (2008). Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. UPI Press: Bandung;

Wahab.A.A (2008:52). Metode dan Model- Model Mengajar IPS, Alfabeta Bandung. Winataputra. U.S dan Budimansyah. D.2007.Civic Education:Konteks Landasan

Bahan Ajar dan kultur Kelas.SPs UPI PKn: Bandung;

Winataputra, U.S. 2010. Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Karakter (Konsep, Kebijakan, dan Kerangka Programatik). Jakarta: Makalah;

Yaakub R. 2009.Seminar UPI Bandung-Malaysia. Power point/ Seminar Makalah; Yamin, Mohamad (2009) Menggugat Pendidikan Inndonesia, Belajar dari Paulo

Dokumen terkait