• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

B. Saran-saran

Berdasarkan analisis dan kesimpulan peneliti diatas terkait Program PPMK dalam pelatihan membuat kue kering, maka saran-saran berikut perlu peneliti ajukan, yaitu:

1. PPMK dalam hal ini pelatihan membuat kue kering (tata boga) hendaknya tidak berhenti dengan berakhirnya pelatihan. Perlu diadakan pendampingan setelah pelatihan terhadap peserta tersebut untuk terus mengambangkan talenta mereka. Karena disamping tujuan pelatihan yang berupa peningkatan kemampuan masih ada yang perlu di selesaikan yaitu memberdayakan/meningkatkan ekonomi keluarga peserta secara kongkrit dengan memanfaatkan

71

kemampuan peserta tersebut yang diperoleh dari pelatihan ini.

2. Memberikan pinjaman modal secara bergulir kepada peserta untuk mengembangkan usaha sebagai akibat dari kelanjutan pelatihan ini. Tentunya dengan diadakan pendampingan secara profesional. Di samping itu harus dilakukan dengan mudah, efisien, efektif dan tepat sasaran. 3. Hendaknya pelatihan dilakukan secara berkala dan

bertingkat. Bahkan kalau perlu diadakan juga pelatihan wirausaha sebagai kemapuan tambahan untuk mengambangkan usaha peserta dengan modal kemampuan membuat kue kering dari pelatihan ini.

4. Pihak Keluarahan/dekel atau yang terkait khusus PPMK hendaknya mengadakan kerja sama atau membangun jaringan dengan pihak lain untuk mengadakan kerja sama mutualisme terkait pengembangan usaha dari pelatihan ini (kue kering).

5. Bisa juga pihak kelurahan mengadakan sebuah event khusus/pameran hasil-hasil pelatihan membuat kue kering. Dengan cara ini diharapkan hasil produksi peserta dikenal masyarakat luas. Bukankah dengan begitu pasar akan tercipta dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Amrullah. Strategi Dakwah Islam di Tengah Reformasi Manuju Indonesia Baru dalam Memasuki Abad ke-21. Bandung: Makalah pada Sarasehan Nasional SMF Dakwah IAIN, 1999.

Al-Assal, Ahmad Muhammad dan Fathi Ahmad Abdul Karim. Sistem Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 1999.

Anshori, Endang Syaifuddin. Wawasan Islam Pokok-pokok Pikiran Tentang Islam dan Ummatnya. Bandung: CV Pustaka Perpustakaan Salman ITB, 1983. Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rieneka Cipta, 1996.

_______________. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. Rieneka Cipta, 1993.

_______________. Penilaian Program Pendidikan, Jakarta: PT Bina Aksara, 1998.

Fachruddin, Muhammad Fuad. Ekonomi Islam. Jakarta: Penerbit Mutiara, 1982. Harahap, Syahril. Islam Konsep Implementasi Pemberdayaan. Yogyakarta: PT.

Tiara Wacana Yogya, 1999.

Irawan, Elly. Dkk. Pengembangan Masyarakat, Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka. 1995

Machendrawaty, Nanih dan Agus A. Syafe’ie. Pengembangan Masyarakat Islam: Dari Idiologi, strategi sampai tradisi. Bandung: Rosda Karya, 2001.

Mannan, Muhammad Abdul. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995.

Munis Mulkan, Abdul. Humanisasi Agama dan Dakwah, Yogyakarta: 1999. __________________. Teologi Kebudayaan dan Demokrasi Modernisasi.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

Murasa Sarkaniputra, Pengantar Ekonomi Islam. Bahan Pengajaran Ekonomi dan Perbankan Syariah di IAIN Syahid Jakarta. 1999

Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Laporan Tahunan 2008, Kelurahan Manggarai Selatan, 2008.

Petunjuk Teknis Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan. Jakarta: Badan Pemberdayaan Masyarakat Kotamadya Jakarta Selatan, 2008.

Rudito, Bambang (ed). Akses Peran Serta Masyarakat; Lebih Jauh Memahami Community Developmnet. Jakarta: ICDS, 2003.

Rukminto Adi, Isbandi. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis)

Edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2003.

___________________. Makalah tentang Pengembangan Masyarakat yang disampaikan pada Work Shop “Program Com-Dev Comite, Fakultas Dakwah dan Komunikasi tanggal 23 September 2003.

Sutiyoso. PPMK Manual Proyek Propinsi DKI Jakarta, 2001.

Soeharto, Edi. Metodologi Pengembangan Masyarakat: Jurnal Comdev. Jakarta: BEMJ PMI, 2004.

Srinivasan, Viji. Metode Evaluasi Partisipatoris, Dalam Walter Fernandes dan Rajesh Tandon (Editor). Risset Partisipatoris-Riset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Tim penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1995. Wiratmo, Maskur. Pengantar Ekonomi Makro, Seri Diktat Guna Darma. Jakarta:

Lampiran hasil wawancara

Hasil wawancara 1

Nama lengkap : Drs H Wahyuno Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat tanggal lahir : Yogyakarta, 12 juni 1945

Agama : Islam

Pendidikan : S1

Posisi Narasumber : Dekel/Pejabat kelurahan

Alamat : Jl. DR Sahardjo No.3A

Telpon : 08888609976

Pelaksanaan : 20 Oktober 2009

Apa tujuan diadakannya kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Tujuan utama dari pelatihan PPMK (membuat kue kering) itu sendiri adalah peningkatan ekonomi masyarakat terutama yang menjadi peserta pelatihan ini. Kami percaya akan ada peningkatan itu setelah peserta ikut pelatihan ini. Karena kemampuan yang mereka dapatkan dari pelatihan ini bisa digunakan sebagai sarana pemerolehan pendapatan tambahan.

Apa saja tujuan yang sudah dicapai oleh Dewan Kelurahan dalam hal PPMK dari kegiatan pelatihan membuat kue kering ini?

Pendapatan mereka bertambah. Memang tidak secara signifikan. Tetapi setidaknya telah ikut berkontribusi terhadap peningkatan itu. Lagipula program PPMK itu sendiri tidak hanya terbatas pada pelatihan membuat kue kering. Masih ada yang lainnya. Sehingga untuk mengukur tujuan yang sudah di capai PPMK kita tidak bisa hanya melihatnya dari pengaruh pelatihan membuat kue kering ini.

Menurut bapak pelatihan ini berhasil?

Ya. Berhasil

Apa bukti atau wujud keberhasilan itu?

Kemajuan, peningkatan. PPMK ini kan programnya Tribina yaitu sosial, fisik dan ekonomi. Pelatihan kue kering/tata boga ini masuk ke dalam program sosial. Selain pelatihan ini seperti yang sudah saya katakan, juga masih banyak.

Ada pelatihan satpam,latihan mengemudi mobil,salon,pelatihan kemamuan manajeman dan pelatihan computer. Khusus menyangkut pelatihan tata boga, peserta bisa terus mengembangkannya. Caranya dengan mengambil pinjaman bergulir. Hal ini bisa dilakukan karena ada bagian Tribina PPMK bina Ekonomi. Pada bagian ini, salah satunya kami menyediakan pinjaman bergulir selama satu tahun. Dengan begitu Insya Allah akan ada kemajuan terutama dalam hal ini dengan adanya peningkatan ekonomi.

Ekonomi yang meningkat itu seperti apa?

Peningkatan pendapatan yang berimbas pada kesejahteraan. Skub usahanya juga berkembang dengan baik. Misalnya, ada warga yang usaha awalnya kecil-kecilan lalu mulai dikembangkan skala usahanya. Dengan begini secara logika pendapatannya juga meningkat.

Indikatornya seperti apa pak?

Ada usaha sendiri. Pendapatannya mengalami peningkatan yang pada akhirnya mendorong kesejahteraan.

Berapa persenkah peserta kegiatan pelatihan membuat kue kering yang ekonominya berkembang?

Kalau hal itu datanya belum jelas. Tapi ada.

Kebutuhan individu mana yang sudah terpenuhi dari wujud kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Uang belanja. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti jajan anak-anak, biaya sekolah.

Seperti apa contoh atau bukti kebutuhan individu yang telah terpenuhi menurut bapak?

Ya, itu tadi. Dulu mungkin sulit memenuhi kebutuhan sekarang bisa.

Apa saja target jangka panjang yang ada pada kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Jangka panjangnya kami ingin ada usaha yang berkepanjangan dalam bentuk yang tidak hanya individual tetapi juga kelompok usaha.

Mereka membuka usaha secara mandiri dengan skub kecil sekali. Untuk membuka usaha yang lebih besar kelihatannya belum ada. Kendalanya fasilitas. Yang kedua usaha ini tidak digeluiti secara professional.

Namun secara umum, terkait pendapatan kami melihat adanya peningkatan. Ini juga merupakan jangka panjang yang kami harapkan terjadi secara berkesinambungan, berkelanjutan.

Apakah hal itu dirasakan oleh peserta atau hanya oleh Dewan Kelurahan PPMK?

Tentu saja oleh peserta. Dekel belum pernah karena tidak ada sosialisasi dari PPMK.

Hasil Wawancara 2

Nama lengkap : Bachri Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 28 Januari 1990

Agama : Islam

Pendidikan : SMP

Posisi Narasumber : TPK (Tim Perencana Kegiatan)

Alamat : Balimatraman, RT 005/06, Manggarai Selatan

Telpon : 021-83792374

Pelaksanaan : Jum’at 9 Oktober 2009 pukul 15.00 s.d 16 WIB

Tanya: Apa tujuan diadakannya kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Memberdayakan masyarakat dalam usaha, dagang, ya untuk meningkatkan ekonomi

Tanya: Apa saja tujuan yang sudah dicapai oleh Dewan Kelurahan dalam hal PPMK dari kegiatan pelatihan membuat kue kering ini?

Jawab: Ada hasilnya dalam kegiatan membuat kue kering Tanya: Apa bukti keberhasilan itu?

Tanya: Menurut Bapak ekonomi yang meningkat itu seperti apa? Jawab: Dibuka usaha, dagang, berkembang, menambah penghasilan Tanya: Kalau ciri peningkatan ekonomi masyarakat itu sendiri seperti apa? Jawab: Usaha maju, dagang dikembangkan

Tanya: Berapa persenkah peserta kegiatan pelatihan membuat kue kering yang ekonominya berkembang?

Jawab: Wah yang itu tanya aja ke peserta

Tanya: Kebutuhan individu mana yang sudah terpenuhi dari wujud kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Jawab: ……?

Tanya: Seperti apa contoh atau bukti kebutuhan individu yang telah terpenuhi menurut bapak?

Jawab: Meminjam uang dana PPMK untuk tambah usaha sehingga usahanya meningkat

Tanya: Apa saja target jangka panjang yang ada pada kegiatan pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Para peserta semoga bisa menjalankan usaha secara mandiri

Tanya: Apa saja program jangka panjang yang sudah tampak dari hasil kegiatan keterampilan membuat kue kering?

Jawab: ………..?

Tanya: Apakah hasil tersebut bisa dirasakan oleh peserta atau hanya oleh Dewan Kelurahan PPMK?

Jawab: Dirasakan oleh peserta aja, kalaupun kelurahan hanya laporan aja.

Hasil Wawancara 3

Nama lengkap : Emi Zulkarnain Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : 08 November 1957

Agama : Islam

Posisi Narasumber : Pelatih

Alamat : Jl. Sawo III RT 01/09

Telpon : 021-8351043

Pelaksanaan : Jum’at 9 Oktober 2009

Tanya: Apa standar keberhasilan dari pelaksanaan pelatihan membuat kue kering? Jawab: Kemampuan. Mereka mampu membuat kue dengan tata cara yang baik.

Tapi kalau sekali pelatihan memang tidak cukup. Perlu dilakukan berulang-ulang sampai mereka mahir.

Tanya: Apa ada tujuan yang sudah dicapai dari pelatihan membuat kue kering? Jawab: Oh ada. Ada peningkatan ekonomi keluarga.memang tidak terlalu tinggi.

Tapi ada lah.

Tanya: Tujuan apa saja yang belum tercapai?

Jawab: Kami belum bisa mengadakan kegiatan rutin dari pelatihan tersebut. Juga kami belum punya kelompok usaha bersama. Hanya home industri aja. Itu pun sifatnya mandiri.

Tanya: Menunurut ibu sendiri apakah pelatihan membuat kue kering ini berpengaruh terhadap ekonomi keluarga?

Jawab: Tentu saja ada. Setelah pelatihan ini mereka bisa produksi kue atau makanan sendiri. Hasilnya bisa dipasarkan ke perkantoran atau tetangga-tetangga. Biasanya moement tersebut ada ketika mau lebaran.

Tanya: Apa standar bahwa ekonomi keluarga peserta meningkat karena pengaruh dari pelatihan ini?

Jawab: Pendapatannya ada peningkatan.

Tanya: Kaitannya dengan pelatihan ini, bagaimana bu?

Jawab: Mereka yang sudah mengikuti pelatihan kan memiliki kemampuan untuk membuat kue. Nah, mereka bisa produksi sendiri untuk kemudian di jual. Hasil penjualan ini tentu saja memberikan pengaruh terhadap ekonomi keluarga. Artinya, pendapatan keluarga ini bertambah.

Tanya: Apa yang paling dominan terpengaruh oleh pelatihan ini? Jawab: Urusan dapur mungkin ya (tertawa)

Tanya: Apa yang dilakukan setelah peserta mengikuti pelatihan?

Jawab: Disamping mereka membuat kue sesuai dengan apa yang diajarkan pada waktu pelatihan, mereka juga ada yang mulai mengembangkannya sendiri dengan mencari resep-resep baru. Biasanya mereka juga kalau lebaran buat kue sendiri. Disamping buat konsumsi sendiri mereka juga menjualnya.

Tanya: Program jangka panjangnya bagaimana?

Jawab: Terus diadakan pelatihan dengan resep-resep berbeda. Tanya: Apakah hasil pelatihan ini dapat dirasakan oleh Peserta? Jawab: Ya.

Tanya: Apa saja hasil yang dirasakan itu?

Jawab: Tergantung pada niat awal mereka ikut pelatihan. Peserta itu ada yang ikut karena ingin tahu. Ada yang karena ingin menambah wawasan, ada juga yang ingin meningkatkan harga jual. Mereka bisa dapatkan itu setelah pelatihan yang mereka ikuti.

Hasil Wawancara 4

Nama lengkap : Yuyun S Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : Bandung, 16 Juli 1960

Agama : Islam

Pendidikan : SMEA

Posisi Narasumber : Pelatih dan Ketua PKK

Alamat : Jl. Balimatraman, RT 007/06 No.34

Telpon : 021-8356315

Pelaksanaan : Jum’at 9 Oktober 2009

Tanya: Apa standar keberhasilan dari pelaksanaan pelatihan membuat kue kering? Jawab: Mereka sudah bisa buat (kue) untuk diri sendiri. Itu standar minimal

Tanya: Apa ada tujuan yang sudah dicapai dari pelatihan membuat kue kering? Jawab: Ada, peserta sudah bisa membuat kue untuk pribadi dan bisa dipasarkan

keluar untuk memenuhi pendapatan ekonomi kelaurga Tanya: Contohnya?

Jawab: Nastar, Kastengele, Sagu keju, salju mede dan lain sebagainya. Nah kue-kue ini mereka bias buat sendiri setalah pelatihan. Diantara mereka ada yang membuat dan dipasarkan. Apalagi moment lebaran kemarin, kue-kue seperti itu banyak yang mesen.

Tanya: Tujuan apa saja yang belum tercapai?

Jawab: Inginnya punya kelompok usaha bersama untuk dipasarkan bersama. Tapi ibu-ibu nggak mau buat usaha bersama karena untungnya dibagi-bagi. Tanya: Menunurut ibu sendiri apakah pelatihan membuat kue kering ini

berpengaruh terhadap ekonomi keluarga?

Jawab: Sebagian ada. Ini berasal dari pemesanan orang. Keuntungannya mereka gunakan untuk jajan orang rumah. Saya sendiri (narasumber) punya pemasaran untuk City bank, bank Mandiri sampai 400 toples. Bahkan untuk untuk bank Bumi Putera sudah berjalan 6 tahun. Biasanya ini untuk musim lebaran. Sumber dana untuk usaha ini dari diri sendiri.

Tanya: Apa standar bahwa ekonomi keluarga peserta meningkat karena pengaruh dari pelatihan ini?

Jawab: Ya kalau dilihat penerimaan banyak. Bisa beli kulkas,TV dsb Tanya: Kaitannya dengan pelatihan ini, bagaimana bu?

Jawab: Begini. Untuk 4 toles kue modalnya kira-kira Rp 30.000. harga jualnya bias mencapai Rp 50.000,- Bayangkan kalau di kali 400 toples dengan keuntungan 30% . Pernah kita keluar modal 8 juta habis terjual sampai 16 juta.

Tanya: Apa yang paling dominan terpengaruh oleh pelatihan ini?

Jawab: Ibu-ibu itu antusias ya. Semangatnya dan keingintahuan mereka sangat besar.

Jawab: Sebagian ada yang selesai begitu saja. Sebagian ada yang masih terima pesanan.

Tanya: Program jangka panjangnya bagaimana?

Jawab: Ingin mengajari ibu-ibu membuat roty bakery, diberikan modal dan fasilitas, ingin mengajarkan masakan China, membuat Bakso pakai terigu Tanya: Apakah hasil pelatihan ini dapat dirasakan oleh Peserta?

Jawab: Tentu. Mereka jadi punya ilmu buat diri sendiri dan hal itu satu kebanggan buat pelatih

Tanya: Apa saja hasil yang dirasakan itu?

Jawab: Buat diri sendiri, menambah penghasilan keluarga.

Hasil Wawancara 5 Nama lengkap : Eha

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : Cikampek, 21 Juli 1954

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

Posisi Narasumber : Peserta

Alamat : Jl. Hanjuang RT 002/06 No.20, Manggarai Selatan

Telpon : 021-8353469

Pelaksanaan : Jum’at 9 Oktober 2009

Tanya: Setiap ibu mengikuti pelatihan membuat kue kering (Tata boga), apa ibu pernah meninggalkan sholat yang lima waktu?

Jawab: Tidak pernah lah. Masa sudah tua ninggalin sholat (ketawa) kan malu.

Tanya: Saat mengikuti pelatihan, kemudian waktu sholat dating, apa ibu mengajak peserta yang lainnya untuk sholat?

Jawab: Iya, Ibu yang mengingatkan. Bahkan acara di kelurahan pun kalau terdengar adzan dihentikan semetara. Maklum kelurahan kita kan bersebelahan dengan masjid.

Tanya: Dari peserta pelatihan ini, apa ada pengajian khusunya (khusus peserta)?

Jawab: Khusus peserta tidak ada. Tapi PKKnya ada setiap minggu. Format pengajiannnya sendiri seperti yasinan,ratib,maulid dan tausiyah. Tanya: Bagaimana hubungan silaturahmi antara ibu dengan peserta lainnya? Jawab: Akrab sekali. Sebelum ini kita juga sudah ada acara arisan. Jadi

sudah pada kenal.

Tanya: Setelah diadakan pelatihan membuat kue kering apa keterampilan ibu meningkat?

Jawab: Tentu saja

Tanya: Seperti apa?

Jawab: Setelah pelatihan ini saya banyak terima pesanan. Seperti kua Nastar, Kua Keju dan Kua Coklat.

Tanya: Keterampilan apa saja yang ibu dapat dari pelatihan ini?

Jawab: selain membuat kue-kue saya juga belajar Hiasan pengantin dan Hiasan bunga, bunga lilin.

Tanya: Bagaimana kondisi ekonomi kelauarga ibu saat ini?

Jawab: Masih stabil. Kalau ada pesanan ya ada peningkatan. Kalau gak ada biasa saja.

Tanya: Apakah kondisi ekonomi keluarga ibu ada perubahan setelah mengikuti pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Ada. Bisa membeli kebutuhan dari hasil penjualan kue kering Tanya: Apa usaha ibu sekarang?

Jawab: Ketua PAUD. Tapi kalau usaha, terima pesanan kue kering. Tanya: Apa ibu dapat membuka usaha dengan hasil keterampilan yang ia

peroleh dalam pelatihan membuat kue kering ini?

Jawab: Membuka usaha secara Nampak tidak. Tapi kalau terima pesanan iya.

Tanya: Apakah ibu menularkan kemampuan ibu dalam membuat kue kering kepada keluarga lain atau tetangga?

Hasil Wawancara 6

Nama lengkap : Tien Soedjono Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : Banjar Negara, 17 Juli 1947

Agama : Islam

Pendidikan : SLTA

Posisi Narasumber : Peserta

Alamat : Jl. Manggis II no.27 RT 006/04

Telpon : 021-8307228

Pelaksanaan : 16 Oktober 2009

Tanya: Setiap ibu mengikuti pelatihan membuat kue kering (Tata boga), apa ibu pernah meninggalkan sholat yang lima waktu?

Jawab: Tidak pernah

Tanya: Saat mengikuti pelatihan, kemudian waktu sholat datang, apa ibu mengajak peserta yang lainnya untuk sholat?

Jawab: (Tertawa)

Tanya: Dari peserta pelatihan ini, apa ada pengajian khusunya (khusus peserta)?

Jawab: Gak ada. Tapidi PKK ada.

Tanya: Bagaimana hubungan silaturahmi antara ibu dengan peserta lainnya? Jawab: Baik dan membaur

Tanya: Setelah diadakan pelatihan membuat kue kering apa keterampilan ibu meningkat?

Jawab: Jelas meningkat. Seperti resep baru, kualitas rasa, dan cara-cara membuatnya. (kue)

Tanya: Contohnya rilnya seperti apa?

Jawab: Masak ikan, capcay, buat kue kering seperti nastar, kue salju dll Tanya: Bagaimana kondisi ekonomi keluarga ibu saat ini?

Jawab: Baik-baik saja

Tanya: Apakah kondisi ekonomi keluarga ibu ada perubahan setelah mengikuti pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Lumayan ada. Ya buat tambah-tambah. Pernahkeuntungan itu saya gunakan untuk beli sound system.

Tanya: Apa usaha ibu sekarang?

Jawab: usaha sih tidak ada. Tapi saya aktif di keluarahan sampai wali kota. Termausk di PKK keluarahan dan mengurus lansia, anak yatim. Tanya: Apa ibu dapat membuka usaha dengan hasil keterampilan yang ibu

peroleh dalam pelatihan membuat kue kering ini?

Jawab: Pernah. Tapi jarang-jarang. Biasanya terima pesanan itu lebaran. Tanya: Apakah ibu menularkan kemampuan ibu dalam membuat kue kering

kepada keluarga lain atau tetangga? Jawab: Iya. Kepada anak-anak.

Hasil Wawancara 7

Nama lengkap : Sulistyani Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 15 Juli 1970

Agama : Islam

Pendidikan : S1

Posisi Narasumber : Peserta

Alamat : Jl. Sawo III No.08

Telpon : 021-8315923

Pelaksanaan : 17 Oktober 2009

Tanya: Setiap ibu mengikuti pelatihan membuat kue kering (Tata boga), apa ibu pernah meninggalkan sholat yang lima waktu?

Tanya: Saat mengikuti pelatihan, kemudian waktu sholat datang, apa ibu mengajak peserta yang lainnya untuk sholat?

Jawab: Break dulu. Tapi masing-masing aja

Tanya: Dari peserta pelatihan ini, apa ada pengajian khusunya (khusus peserta)?

Jawab: Tidak ada.

Tanya: Bagaimana hubungan silaturahmi antara ibu dengan peserta lainnya? Jawab: Silaturahminya baik-baik saja.

Tanya: Setelah diadakan pelatihan membuat kue kering apa keterampilan ibu meningkat?

Jawab: Pasti.

Tanya: Contohnya seperti apa?

Jawab: Buat kue dan tips agar kue enak. Seperti kue nastar, kue basah juga. Tanya: Bagaimana kondisi ekonomi keluarga ibu saat ini?

Jawab: Alhamdulillah. Cukup

Tanya: Apakah kondisi ekonomi keluarga ibu ada perubahan setelah mengikuti pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Tidak ada

Tanya: Apa usaha ibu sekarang? Jawab: Wiraswasta

Tanya: Apa ibu dapat membuka usaha dengan hasil keterampilan yang ia peroleh dalam pelatihan membuat kue kering ini?

Jawab: Belum. Sebatas di rumah saja, untuk keluarga sendiri.

Tanya: Apakah ibu menularkan kemampuan ibu dalam membuat kue kering kepada keluarga lain atau tetangga?

Jawab: Iya. Buat adik, kakak. Biasanya kalau mereka buat kue Tanya ke saya.

Hasil Wawancara 8

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 21 juli 1964

Agama : Islam

Pendidikan : SLA

Posisi Narasumber : Peserta

Alamat : Balimatraman Rt 007/06 No. 33

Telpon : 085885671940

Pelaksanaan : 21 Oktober 2009

Tanya: Setiap ibu mengikuti pelatihan membuat kue kering (Tata boga), apa ibu pernah meninggalkan sholat yang lima waktu?

Jawab: Gak pernah

Tanya: Saat mengikuti pelatihan, kemudian waktu sholat datang, apa ibu mengajak peserta yang lainnya untuk sholat?

Jawab: Iya. Kadang-kadang kita sama-sama saling ngingetin. Lagi pula waktunya sudah diatur.

Tanya: Dari peserta pelatihan ini, apa ada pengajian khusunya (khusus peserta)?

Jawab: Gak ada.

Tanya: Bagaimana hubungan silaturahmi antara ibu dengan peserta lainnya? Jawab: Oh alhamdulillah ya sejauh ini baik

Tanya: Setelah diadakan pelatihan membuat kue kering apa keterampilan ibu meningkat?

Jawab: Iya. Wawasan mengenai buat kue jadi bertambah. Tanya: Contohnya seperti apa?

Jawab: Buat kue kering, kue basah. Sus, black forest Tanya: Bagaimana kondisi ekonomi keluarga ibu saat ini? Jawab: Baik.

Tanya: Apakah kondisi ekonomi keluarga ibu ada perubahan setelah mengikuti pelatihan membuat kue kering?

Jawab: Tidak ada peningkatan. Karena saya kan tidak focus ke urusan kue ya. Biasa, Cuma iseng aja.

Tanya: Apa usaha ibu sekarang?

Jawab: Saya Ibu rumah tangga. Aktif juga di PKK. Kadang buat pesanan kue tapi jarang banget.

Tanya: Apa ibu dapat membuka usaha dengan hasil keterampilan yang ia

Dokumen terkait