Bab 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.9 Fisiologi Kehamilan
2.9.1 Uterus
Selama kehamilan, pembesaran uterus terjadi akibat peregangan dan hipertrofi mencolok sel-sel otot, sementara produksi miosit baru terbatas. Peningkatan ukuran sel otot, ini diiringi oleha kumulasi jaringan fibrosa, terutama di lapisan otot eksternal, dan peningkatan bermakna jaringan elastik. Anyaman yang berbentuk ikut memperkuat dinding uterus (Cunningham at al, 2012).
Sejak awal kehamilan uterus sudah mengalami kontraksi ireguler yang secara normal tidak menyebabkan nyeri. Selama trimester kedua, kontraksi dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Karena fenomena ini pertama kali diungkapkan oleh J.Braxton Hicks pada tahun 1872 maka kontraksi ini dinamakan kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi ini muncul tanpa dapat diduga dan secara sporadis serta biasanya tidak berirama. Intensitasnya bervariasi antara sekitar 5 dan 25 mm Hg (Alvares dan Caldeyro Barcia, 1950). Sampai beberapa minggu menjelang akhir kehamilan, kontraksi ini jarang terjadi, tetapi meningkat selama satu atau dua minggu terakhir kehamilan. Pada saat ini, kontraksi dapat sesering setiap 10 sampai 20 menit dan juga, sedikit banyak, mungkin berirama (Cunningham at al, 2012).
2.9.2 Penambahan Berat
Sebagian besar dari penambahan berat selama kehamilan disebabkan oleh uterus dan isinya, payudara, dan peningkatan volume darah serta cairan ekstrasel ekstravaskulear. Sebagian kecil dari peningkatan ini dihasilkan oleh perubahan metabolik yang menyebabkan peningkatan air sel dan pengendapan lemak dan protein baru apa yang disebut sebagai cadangan ibu ( maternal reserves ). Hytten ( 1991 ) melaporkan bahwa penambahan berat rerata selama kehamilan adalah sekitar 12,5 kg atau 27,5 kg.
2.9.3 Payudara
Pada minggu-minggu awal kehamilan, wanita sering merasakan parestesia dan nyeri payudara. Setelah bulan kedua, payudara membesar dan memperlihatkan vena-vena halus dibawah kulit. Puting menjadi jauh lebih besar, berwarna lebih gelap, dan lebih tegak. Setelah beberapa bulan pertama, pemijatan lembut pada puting sering menyebabkan keluarnya cairan kental kekuningan-kolustrum. Selama beberapa bulan tersebut, areola menjadi lebih lebar dan lebih gelap. 2.9.4 Curah Jantung
Selama kehamilan normal, tekanan arteri rerata dan resistemsi vaskuler menurun, sementara volume darah dan laju metabolik basal meningkat. Akibatnya, pada awal kehamilan curah jantung saat istirahat, jika diukur dalam posisi berbaring lateral, meningkat secara
meningkat dan tetap meninggi selama sisa kehamilan.
Selama kehamilan tahap lanjut dalam wanita dalam posisi terlentang, uterus yang besar secara konsisten menekan aliran balik vena dari tubuh bagian bawah. Uterus juga dapat menekan aorta (bienarz, dkk., 1968). Akibatnya adalah pengisian jantung mungkin berkurang disertai penurunan curah jantung. Secara spesifik, Bamber dan Dresner (2003) mendapatkan curah jantung pada aterm meningkat 1,2 L/mnt-hampir 20 persen-jika seorang wanita berpisah dari posisi terlentang menjadi penyamping. Selain itu, pada posisi terlentang, aliran darah uterus hamil diperkirakan berkurang sepertiganya berdasarkan velosimetri Doppler (Jeffreys, dkk., 2006). Yang perlu dicata, Simpson dan James (2005) mendapatkan bahwa saturasi oksigen janin lebih tinggi sekitar 10 persen ketika wanita melahirkan berada dalam posisi berbaring lateral dibandingkan dengan terlentang. Saat berdiri, curah jantung turun dengan tingkatan serupa pada wanita tak hamil (Easterling, dkk., 1988).
2.9.5 Tekanan Darah
Kehamilan normal tidak banyak berpengaruh pada tekanan darah. Walaupun pada kehamilan terjadi peningkatan curah jantung dan peningkatan resistensi vaskular, tekanan sistolik tidak banyak berubah. Namun, tekanan darah diastolik lebih rendah pada dua semester pertama dan kembali ke tinggkat sebelum hamil pada trimester ketiga. Pembentukan jaringan vaskuler baru dan relaksasi tonus perifer akibat
pengaruh progesteron menyebabkan penurunan resistensi terhadap aliran darah.
Peningkatan perbedaan antar tekanan darah diastolik dan sistolik berarti selama hampir sepanjang kehamilan, tekanan nadi meningkat. Hipotensi, terutama pada awal kehamilan, dikaitkan dengan rasa lelah, nyeri kepala, dan pusing, yang dialami oleh banyak wanita.
Pada wanita normotensif, tekanan darah pada kehamilan dipengaruhi oleh postur (Wichman, Ryden, & Wichman, 1984). Tekanan darah lebih tinggi saat mereka duduk dan turun saat berbaring, terutama berbaring di satu sisi.
Berbaring telentang menyebabkan uterus dan isisnya menekan pembuluh besar, terutama vena iliaka dan vena kava inferior yang berdinding tipis sehingga aliran balik vena berkurang. Sebagian besar wanita mengalami penurunan tekanan darah lebih dari 10% saat mereka berbaring, bagi sebagian wanita penurunan ini menjadi ekstrem dan mencapai hampir 50%. Efek posisi litotomi pada persalinan adalah mengurangi curah jantung secara bermakna (Carbonne et al, 1996).
Pada akhir kehamilan, sebagian besar wanita mengalami edema di tungkai bawah. Edema lebih parah pada wanita hipertensif, minum air pada wanita hamil tampaknya menyebabkan peningkatan volume tungkai bawah dan diuresis tertunda sampai ia berbaring sehingga terjadi nokturia.
2.9.6 Sistem Pencernaan
a) Mengidam dan menghindari makanan tertentu
Dua-pertiga wanita hamil memperlihatkan preferensi makanan yang mencolok berupa mengidam atau tidak menyukai makanan tertentu. Diperkirakan sensitivitas papil pengecap menumpul selama kehamilan (Bowen, 1992).
Sensasi kecap mungkin menumpul selama kehamilan sehingga ambang untuk semua sensasi kecap meningkat. Sensasi penciuman mungkin meningkat, wanita hamil biasanya sangat peka terhadap bau yang mengganggu, misalnya nikotin dan kopi. Perubahan pada pengecapan dan penciuman ini tampaknya mencerminkan sekresi hCG.
b) Mual dan muntah pada kehamilan
Antara 50% dan 90% wanita hamil mengalami mual dan muntah pada kehamilan (MMK). Biasanya pada trimester pertama walaupun 20% mengalami MMK selama gestasi. Mual dan muntah mungkin merupakan manifestasi fisik pertama adanya kehamilan. MMK lebih sering pada populasi perkotaan yang telah mengalami Westernisasi dan dipengaruhi oleh etnis, status pekerjaan, dan usia ibu. Puncak MMK biasanya pada usia gestasi 8-12 minggu, gejala biasanya mereda pada pertengahan kehamilan. Walaupun sekitar 50% wanita dengan MMK lebih sering mengalami pada pagi hari, sebagian mengalami mual dan muntah pada malam hari, dengan pola bifasik, atau sepanjang hari.
MMK biasanya diterapi secara konservatif dengan istirahat dan pemberian keyakinan serta nasihat untuk mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat yang mudah dicerna dan rendah lemak dalam jumlah kecil, tetapi sering. Daging dan bau yang keras dapat memperparah MMK. Walawpun mungkin menimbulkan dampak sosioekonomi, MMK dianggap sebagai tanda prognostik yang baik dan berkaitan dengan hasil akhir kehamilan yang positif.
Mual dan muntah berlebihan yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan metabolik, dan defesiensi gizi dikenal sebagai hiperemesis gravidarum.
2.9.7 Tidur
Pada kehamilan, pola tidur berubah. Telah diamati adanya peningkatan keinginan tidur dan tidur siang pada trimester pertama (Brunner et al, 1994). Diperkirakan progesteron memengaruhi aktivitas neuron di otak sehingga kadar neurotransmiter eksitatorik menurun (Semith, 1991). Estrogen memperkuat efek ini dengan meningkatkan jumlah reseptor untuk progesteron. Julah tidur rapid eye movement (REM) meningkat dari 25 minggu, memuncak pada 33-36 minggu. Tidur non-REM stadium 4 (tidur dalam) berkurang. Keadaan inilah yang tampaknya penting untuk perbaikan jaringan dan pemulihan dari kelelahan. Pada paruh kedua kehamilan, wanita cendrung tidur lebih sedikit karena mereka sering terganggu oleh nokturia, dispnea, nyeri uluhati, hidung tersumbat, nyeri otot, stres, dan rasa cemas, serta
aktivitas janin.