BAB V PENUTUP
B. Saran-saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut: 1. Kepada orang-orang tunanetra pada usia dewasa, hendaknya lebih
banyak bergaul dengan masyarakat yang tidak terbatas hanya pada komunitas tunanetra. Hal ini mengingat bahwa para informan mengaku minder saat harus bersosialisasi dengan masyarakat umum.
2. Adanya perhatian dari berbagai instansi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan untuk lebih memperhatikan keberadaan para penyandang tunanetra. Perhatian tersebut tidak harus berupa santunan maupun pemberian bantuan, tapi lebih kepada pemberdayaan para penyandang tunanetra agar dapat menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
57
DAFTAR PUSTAKA
Djamaluddin, Muhammad, Religiusitas dan Stress Kerja pada Polisi, Yogyakarta: UGM Press, 1995
Ilyas, Sidarta, Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata, Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2000, Cet. Ke-2, Jilid 2
Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, Bandung:Remaja Rosda Karya,2000 Meleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosda Karya, 1998 Pradopo, Sukini, Pendidikan Anak-anak Tunanetra, Bandung: CV MAsa, 1997,
Cet. Ke-1
Puspito, Hendro, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 2000, Cet. Ke-16
Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999
Razak, Yusron (ed.), Sosiologi Suatu Pengantar; Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam, Ciputat: Laboratorium Sosiologi Agama, 2008, Cet. Ke-1 Robertson, Roland, Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Jakarta: PT
Rajawali Press, 1988
Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1996
Sekretariat Negara RI, Peraturan Pemerintah 36/1980 tentang Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Penderita Cacat, penjelasan Pasal demi Pasal Soekanto, Soerjono, Kamus Sosiologi, Jakarta: CV. Rajawali Press, 1993
Sullivan, Thomas J. dan Kenrick S. Thompson, Sosicology; Concepts, Issues and Applications, New York: McMillan Publishing Company, 1986
Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi, Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 2004 Vredenberg, J., Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia,
1984
Widjadjatin, Anastasia dan Imanuel Hititew, Ortopedagogik Tunanetra Pertama, Jakarta: Depdikbud, 1995
Wawancara:
Wawancara pribadi dengan informan AS, Tangerang Kota, tanggal 19 April 2010 Wawancara pribadi dengan informan ARK, Yayaan Mitra Netra Lebak Bulus,
tanggal 28 Desember 2009
Wawancara pribadi dengan informan EM, Tangerang Selatan, tanggal 14 April 2010
Wawancara pribadi dengan informan NS, Tangerang Selatan, tanggal 15 April 2010
Website:
http://tangerangselatankota.go.id/compilation_pendidikan.php, diakses pada tanggal 28 Maret 2010
2. Bisa jelaskan lebih jauh bagaimana peran tersebut?
3. Bagaimana dengan teman-teman sebaya? Entah itu teman bermain, teman ngumpul, maupun teman semasa kecil.
4. Apakah saat anda berada di sekitar teman semasa kuliah/sekolah mendapatkan pengetahuan keagamaan?
5. Seandainya ya, bisa ceritakan bagaimana proses penyampaian tersebut?
6. Bagaimana dengan media massa? Adakah yang membuat anda semakin bertambah dalam hal pengetahuan agama? Media massa seperti tv, radio, internet, Koran, dan lain sebagainya
7. Di antara agen-agen social tersebut, manakah yang lebih dominan dalam menambah wawasan keagamaan anda?
8. Bagaimana kehidupan keagamaan anda sehari-hari? Maksudnya setelah anda mengalami ketunanetraan.
9. Apa yang membuat anda tetap semangat menjalani hidup?
10. Jika boleh tahu, adakah target dalam hidup anda? Bisa dijelaskan lebih jauh?
11. Saat anda sudah mengalami peningkatan dalam hal praktik keagamaan, apakah hal tersebut menambah semangat anda dalam menjalani hidup?
HASIL WAWANCARA DENGAN PARA INFORMAN
NUR SHOLEH
PURBALINGGAI 14 JULI 1980
SD di SDN 15 Cengkareng Timur, masuk pertengahan 1986 lulu 1992-1993. Masuk SMP N 248 Cengkareng lulus 1996, masuk SMK Pelayaran Riumata Jaya Kalideres, lulus 1999.
Ketika di SMP atau SMK pernah aktif di organisasi?
Di SMK pernah. Kalau di sana Korps Taruna, semacam OSIS. Saya pernah jadi danton komandan pleton. Waktu di pelayaran saya aktif di pramuka, ambalan. Saya ngajar pramuka di SDN 230 kalau nggak salah.
Saat mau masuk SMK apa motifnya?
Saya alhamdulilah di teirma di sma terbaik, 33 Cengkareng. Karena dari orang tua minta ke kejuruan aja karena langsung bisa kerja. Karen apertimbangan orang tua. Dari brosur yang ktia dapat di pelayaran langsung bisa kerja. Akhirnya saya masuk pelayaran.
Setelah lulus pelayaran ngapain?
Langsung kerja di laut. Tapi sebelumnya saya kerja di darat dulu selama 6 bulanan, di daerah pasar kemis, bagian enginering, mesin besar.
Bagian enginering di pasar kemis. Setelah itu saya berlayar saat terjadi kerusuhan di ambon. Saat bersandar di manado, saya terkena imbasnya. Setiap orang yang dari jawa dikeroyok, kemudian kami terlantar di sebuah masjid, dan pulang ke tanjung priok. Sebagai jaminan, buku dokumen yang kami bawa. Setelah saya pisah dari orang tua ternyata tidak baik. Sekitar tahun 2000.
Saya punya keahlian teknisi computer, elektronik, saya kerja di perusahaan elektronik di tangerang sebagai teknisi. Alhamdulillah, baru kerja 1-2 bulan, mata saya mulai ada gejala. Setelah mengantar barang ke konsumen, tiba-tiba mata saya buram.
Itu mulai terjadi penurunan penglihatan sejak kerja di situ tahun berapa? Pulang dari kapal, sekitar 2001.
Proses menurunnya bagaimana?
Sebenarnya sebelum kejadian itu, selepas dari kapal, saya sudah kambuh-kambuhan. Tiba-tiba gelap, lalu terang-terang. Ibu saya mulai ngelarang naik motor. Ketika di elektronik tadi, ada teman yang maksa saya nganter barang pake motor. Kalau saya naik motor, ngebut, tidak pakai kaca mata, lalu buram. Sejak itu berangsung-angsur jadi tunanetra total.
Jadi bertahap proses kebutaannya? Pernahkah mencoba berobat ke dokter? Kalau ke dokter medis, sudah lumayan bosan. Seperti di RSCM, sudah hamper setengah tahun. Tapi di sana malah jadi kelinci percobaan. Biasanya satu dokter menangani satu pasien. Tapi di sana banyak dokter menangani satu pasien.
Kapan itu?
Masih sekitar 2001-2002. Saya masih ingat 2003 saya mulai bangkit. Ke balai pengobatan mata, macam-macam. Mereka pendapatnya sama, kesempatan sembuhnya nihil, bahkan untuk dioperasi pun tidak bisa. Yang ada hanya bisa menahan tidak tambah buruk. Tapi nyatanya lebih buruk. Lalu saya beralih ke alternative. Tidak jauh beda, makin buruk.
Ketika berobat ke dokter medis, dokter mendiagnosa penyakit apa?
Saya termasuk kategori imunologi. Daya tahan tubuh saya, tidak bisa menerima benda asing. Mungkin ada benda asing yang masuk ke dalam tubuh saya. Saat ditanyakan benda apa itu, dokter tidak tahu.
Setelah mendapatkan penjelasan seperti itu, ada pikiran g kenapa bisa seperti itu?
Dokter lebih mengarahkan ke kejadian ke masa lalu. Ketika SD saya pernah dicakar sama kucing, mata sama muka kucing kurang lebih 2 cm, kucing lagi emosi banget. Mungkin kemasukan bulu atau apa, lewat cakarannya. Kejadian tersebut sudah lama sekali. Pikiran saya mungkin waktu di engineering saya belum pernah pegang las, mesin gede, pakai pelindung berlipat-lipat, bisa mabok las. Untuk pertama kali mata bakal bengkak, saya waktu itu dengan keyakinan penuh, insyaallah tidak karena pake pelindung penuh. Saya ngotot pake las besar. Setelah itu 3 hari tidak bisa merem amupun melek, bengkaknya besar sekali, sarafnya tidak karuan. Minum obat sudah berkali-kali. Sudah dikompres pake timun, tetap bengkak, tidak enak dibuat aktivitas. Tapi saya piker tidak mungkin, karena dikaitkand engan masukan dari pendapat, tidak ke sana.
Akhirnya jadi tunanetra netal sejak tahun berapa?
Tahun 2005-2006. Saya sempat drop, kurang lebih tiga tahun. Dan sempet kepikiran bunuh diri 3 kali. Tapi kemudian saya dapat hidayah, sekitar tahun 2003 saya mencoba untuk bangkit kembali, saya punya keinginan untuk memperdalam agama.
Dari 2002-2005 penurunan jarak pandang, bisa diceritakan tidak?
Kadang-kadang kalau sedang apa gitu blank, tiba-tiba kembali bisa melihat. Tadinya enam meter, tiba-tiba blank, kembali lagi jadi 5 meter. Setelah 5 meter, syarafnya ketarik, blank lagi, pas dapat melihat lagi, jarak pandangnya jadi 3 meter. Kejadian tersebut berulang-ulang, hingga akhirnya total.
Waktu sering blank, buram, diiringi dengan sakit yang luar biasa pada mata, bengkak, mata merah, setlah buta total tidak ada sakit lagi.
Saat 2003 ketika penglihatan menurun, sempat ada keinginan bunuh dan lain sebagainya. Proses mendapatkan hidayahnya gimana?
Sejak pelayaran saya jauh dari agama, karena backgroun jelek. Dari situ, pertama kali tuna netra saya bingung. Ilmu say atidak berguna saya sekali, dan saya blank, pegangan buat masa depan apa. Ditambah orang tua, saya tunanetra pertama, keluarga sangat khawatir. Jarak 5 meter pun diawasi banget. Saya merasa terkekang, membuat saya buat apa hidup, tidak bisa apa-apa. Di tahun 2003, saya lihat di TV anak kecil tunanetra dari lahir, bisa berumah tangga, berkeluarga normal, awas, bisa mencari penghasilan, bisa bekerja layak, mulai dari situlah saya termotivasi untukb isa belajar menambah keterampilan segala sesuatunya untuk mengahdapi masa depan.
Untuk masalah agama, saya termotivasi, ketika bolak balik ke alternatif, saya lihat di tv ada ustadz yang memang fokus, karena saya pencandu narkoba, saya insyaf saat mau lulus pelajaran. Ustadz itu fokus ke rehabilitasi narkoba, saya ke sana, dibentengi dengan ilmu agama yang luar biasa. Dari situlah saya termotivasi untuk memperdalam ilmu agama, keinginan bunuh diri hilang. Saya lebih optimis untuk menatap masa depan.
Kalau dari pihak keluarga, awal mengalami ketunanetraan ada yang memberimotivasi untuk membangkitkan semangat hidup?
Dari keluarga mereka memotivasi, berdoalah sama Allah. Cuma dari diri saya sendiri yang belum bisa membuka, karena kalau dinasehati orang tua itu dari kecil, kesannya sudah makanan sehari-hari. Tapi ketika diberi nasehat orang lain, benar-benar mengena, sampai sekarang teringat dan termotivasi dengan nasehat dari ustadz tadi.
Kalau nasehat dari keluarga, apa yang masih diingat?
Keluarga mencoba untuk memberikan motivasi agar selalu tegar. Untuk masalah peningkatan ibadah, belum ya. Keluarga saya dari islam yang lumayan, kakek ketua PBNU tingkat kecamatan. Jangan lupa shalat dan nasehat yang biasa saja. Kalau dari lingkungan, seperti tetangga, teman sekitar atau ngumpul ada tidak yang memberikan motivasi keagamaan atau umum?
Dari luar keluarga, hampir sama. Mereka bilang, sabar saja, mudah-mudahan ini cobaan sementara. Minta petunjuk saja sama Allah, hampir sama dengan keluarga, untuk shalat tahajud, shalat hajat. Lebih banyak dari keluarga sebenarnya.
Yang lebih mudah diterima, nasehat dari mana?
Dari keluarga, karena saya tahu latar belakagn keluarga saya, kakek saya kiai, agamanya lebih.
Setelah mengalami ketunanetraan, dari sisi ibadah, ada peningkatan sebelumnya atau gimana?
Meskipun saya ketemu ustadz tidak sering, tapi dari dia saya diberikan amalan, saya semakin merasa dekat sama Allah, dan ibadah saya semakin meningkat. Dulu hanya shalat ibadarnya senin kamis, semakin hari semakin baik. Amalan yang diberikan benar benar terlihat, tidak hanay pada diri saya, baik keluarga maupun orang di sekitar kita.
Ibadah apa yang dirasakan lebih rajin?
Shalat lima waktu, tadinya kadang-kadang suka nunda-nunda, sekarang insyaallah tidaklah. Kalau bisa ke depan shalat lebih awal. Shalat sunnah yang dulunya tidak dikerjakan, sekarang dikerjakan seperti shalat tahajud. Puasanya, senin kamis bisa dilakukan. Makin banyak ibadah yang bisa saya lakukan, terasa semakin tenang. Alhamdulillah, yang tadinya putus asa, sekarang berubah menjadi nikmat. Orang bilang tenang ya dapat musibah, saya bilang ini bukan musibah, ini nikmat kok, ini rizki saya. Kadang-kadang itu menjadi motivasi mereka.
Setelah tunanetra ada kecenderungan untuk menghadiri majlis taklim ga?
Keinginan ada, tapi suka bentrok. Saya pengen di mana ada majlis ilmu, saya ingin datang. Setiap majlis ilmunya beda, walaupun materi sama, belum tentu penjelasannya sama pula. Pasti dapat suatu ilmu yang baru. Tapi karena ada aktivitas lain, atau kendala.
Ketika sesudah.. kalau dulu jujur jarang banget.
Dalam ibadah, untuk kecenderungan shalat lebih senang jamaah di masjid atau mushalla atau sendiri di rumah?
Kalau masih baru-baru, lebih banyak di rumah. Kalau dulu 80% di rumah, sekarang berkurang, banyak di luar ke masjid.
ABDUL RAHMAN KURNIAWAN LAHIR DI JAKARTA 15 MARET 1983 Pendidikan formal gimana?
Tahun 1988 lulus SD, karena masuk SD 5 tahun. Tinggal di daerah mana?
SD kelas 1 awal masuk di Jakarta, Gambir. Lalu pindah ke sini nerusin di sini. Di sana Cuma 3 atau 6 bulan saya pindah ke sini.
Setelah lulus SD Pamulang Timur 2 melanjutkan ke mana?
Ke SMP, sekarang namanya SMP 1, dulu namanya SLTPN 2. Domisili di Pamulang.
Ketika duduk di bangkus SMP, pernah menjadi pengurus organisasi g? Tidak. Saya ikut, kelompok ilmiah remaja atau KIR. Kalau yang lain tidak. Lulus tahun?
1997
Masuk SMU mana?
SMU 1 Ciputat. Di dekat PG 56, belakang stadiun. Kemudian masuk ke universitas?
Angkatan 2000, saya paling mudah di ITI. Namanya FTT_TT ada penjurusan lagi setelah semester 6. Kita dibagi dua, industry pertanian dan bioteknologi, saya ngambil yang bioteknologi.
Berapa tahun kuliah? 2004 saya sakit, 7 semester. Selama 3,5
Saya tergaung dalam HMTTIT, saya kabid 2 membawahi mental dan spiritual, salah satu kegiatannya studi lingkungan. Rohani islam, keputrian, dan lain sebagainya. Kalau di MPM, utusan dari tiap-tiap himpunan jurusan.
Sudah sampai skripsi belum?
Belum, lagi kerja praktek atau KKN di salah satu perusahaan swasta di pulo gadung, perusahaan ban.
Kuliah berhenti karena sakit apa?
Saat kerja praktek, lokasinya panas, kawasan industry, debu banyak. Di sana mulai terasa seperti hilang keseimbangan, pusing, mual. Wah ini kecapean. Ini akumulasi, ditambah adik saya kena cacar. Saya belum pernah kena cacar, kena pas adik. Saya piker cacar saja. Cacar sembuh mual tidak hilang, saya piker jangan-jangan efek dari kawasan industry. Saya ke dokter, di vonis tumor otak, ada gumpalan di otak. Saya masuk rumah sakit tidak sadar, langsung dioperasi. Operasi pertama di RSCM, pemakaian selang. Treatmen awal memang seperti itu. Dari kepala sampai ke bawah perut, untuk mengalirkan cairan yang kumpul di otak.
Ketika itu belum ada tanda-tanda menjalar ke mata atau belum?
Belum. Menurut nalar saya, mata itu tidak buta karena seperti itu. Kalau kecelakaan mungkin, tapi kalau penyakit tidak seperti itu. Allah mendatangkannya perlahan. Ibrahnya banyak, iktibarnya banyak. Waktu itu saya digolongkan pasien akut, tumor otak stadium 2.
Masih di tahun 2004, bulan april. Saya dioperasi tanggal 24 april. Setelah operasi, dampak perubahaan fisik?
Semua syaraf terganggu, semua. Sebab gangguan ada di kepala, pusat syaraf. Penglihatan, hidung, pengecap/lidah, pendengaran, penciuman, bahkan peraba. Kelima indra semua terganggu. Lalu lambat laun tidak sampai 2 bulan, berangsur-angsur pulih yang lain, tinggal yang satu, mata. Tidak bisa ditolong. Ada yang bilang ini gejala normal, gejala setelah dioperasi semua badan tidak enak.
Ketika indra yang lain normal, tapi mata belum apa langkah yagn diambil?
Saya bersikeras, termasuk keluarga bahwa mata bisa sembuh. Saya balik ke rumah sakit di jakarta selatan. Di sana saya dirujuk ke dokter mata untuk lebih jelasnya. Meskipun dokter ahli syaraf tidak perlu, tapi bapak bersikeras mau tahu. Kata dokter mata, sudah tidak bisa ditolong lagi.
Saat dokter mata mendiagnosa dokter mendiagnosa apa?
Tumor otak, merambat yang ada di otak kecil yang menyebabkan cairan ke bawah. Nomarlnya tiap orang ada cairan 5 cc. Tapi karena saya ada tumornya, berlebih, produksi terus tapi distribusi tidak jalan. Cairan berkumpul di otak, menekan otak saya.
Saat tidak bisa melihat, apakah secara total atau menurun secar aperlahan? Dalam jangka 40 hari dari masuk rumah sakit sampai buta turun perlahan-lahan. Kejadiannya tepatnya?
April 2004. Kira-kira bulan Juni selesai.
Bagaimana perasaan anda setelah ada vonis dari dokter?
Wah ini kondisinya lucu. Keadaan terang ke gelap, saya merasa aneh, bingung, takut. Tidak biasa. Tapi satu yang saya anggap lucu. Kok gini ya rasanya, saya buka mata tapi tidak ada cahaya. Saya pegang sesuatu, merasakan teksturnya tapi tidak terlihat. Saya merasa yakin bisa sembuh.
Masih berobat ya?
Iya, tapi tidak ke dokter mata. Karena sudah bilang tidak ada obat untuk menyembuhkan lagi. Kalau ke rumah sakit, berobat untuk tumornya.
Bagaimana sikap keluarga, ada tidak yang memberikan motivasi dengan nasehat keagamaan atau yang lainnya?
Tidak keluarga aja sih, orang sekitar juga. Ini kehendak allah, berserah pada allah, berusaha menjadi manusia lebih baik.
Dari keluarga, siapa yang lebih sering ngasih motivasi? Orang tua.
Nasehat apa yang diingat? Sabar. Terus bersyukur,
EDI MARYADI
SAYA LAHIR DI JAKARTA, 15 MARET 1969
Di rumah di panggil adi, karena nama bapak saya ada edinya juga, biar ga bingung. Pendidikan pertama 1976 SDN 06 Menteng Dalam. Kurang lebih usia 7 tahun. Dulu kan harus 7 tahun baru bisa masuk SD. Kalau TK saya tidak, karena waktu itu TK hanya buat orang-orang kayaMasuk SMP 1983, saya agak lupa 145. Saat SMP pernah aktif di organisasi?
Di organisasi saya nggak pernah ikut. Sampai lanjutan di STM tidak ikut. Kecuali di rumah.
Lulus SMP 1987, setelah itu masuk masuk STM PGRI 2 Kebon Sereh, sakarang pisangan baru, jakarta timur dekat Jatinegara. Waktu itu pas seleksi fisik, kurang baik saya tidak diterima di negeri. Lulus 1990.
Setelah selasi STM?
Saya masuk IKIP rawamangun, dulu fakultas ada embe-embel fakultas pendidikan teknologi dan kejuruan, kayak pkk, tata boga tata busana, saya masuk jurusan teknik industri. Lulus 1998.
Saat di kampus pernah aktif di organisasi?
Waktu kecil-kecilan. Dulu namanya HIMA, HMJ. Saya paling jadi bagian anggota perlengkapan. Saya pernah di Senat, di bidang minat dan bakat. Pernah juga ikut organisasi peminat mahasiswa, pernah menjadi petugas perpustakaan, humas, pernah jadi ketuanya.
Pas tahun kedua saya kuliah aktif di HIMA, sekitar tahun 1992. Sebelumnya hanya sekedar jadi panitia, belum masuk organisasinya.
Kalau Senat tahun 1995.
Semua itu masuk organisasi intra kampus. Kalau HMI kan di luar, ekstra. setelah kuliah 1998, aktivitas apa yang dilakukan?
Itu puncak krisis, reformasi, saya waktu itu berpikir jangankan masuk kerja, kan banyak orang di PHK, ngapain juga ngelamar. Saya coba ternak ikan kecil-kecilan, wirausaha. Tapi tidak berjalan lama, sekitar 6 bulan. Waktu kuliah pun saya bisa photo, tingkatan 3 M (makasih, makasih, makasih), bantu teman saja. Waktu itu saya tidak punya peralatan, tidak bisa secara serius terjun. Kalau lagi ada teman yang suruh bantu, saya mulai ikut sama dia. Lama juga, sampai 1999. Saya mulai kerja di tempat yang marketing researt sebagai interviewer, 2 tahun. Sampai saya keserang mata. Karena persoalan mata, saya tidak bisa baca, saya tidak di sana lagi.
Kerja 1999 sampai 2001 untk formalnya, namanya? DK Marketing Research, sebagai pewancara.
Itu untuk research produk-produk, waktu itu lebih banyak produk univeler. Seperti sampo lifeboy. Kalau ada produk, bagiamana respon responden. Bagaimana pemakaian. Quisener. Kadang-kadang turun ke lapangan, atau ke daerah, balai desa atau apa, kita undang orang sekitarnya untuk dijadikan responden, kita kasih produk untuk dipakai terus ditanya.
Berhenti karena adalah masalah mata, bagaimana awal mulai kena mata? Waktu itu perlahan-lahan.
Proses awal tunanetra, mulai kerasanya kan tahun 2001 terus gimana?
Berobat ya aja. Awalnya keserang ke dokter mata. Itu pun sudah selang seminggu. Mata saya udah mulai enakan, tapi ada hitam di putih mata saya saya. Saya periksa itu, di kasih obat. Dianjurin ke rumah sakit ini ga, saya bilang saya ke sini karena ga kuat biayanya. Sebulan kemudian, keserang lagi, mulai sakit lagi. Seminggu kemudian sembuh, 2 minggu lagi keserang lagi. Waktunya tidak ketahuan. Lama-lama intensitas mata turun. Saya bilang dari mulai bisa berapa meter, sampai blank tahun 2003. Sebelumnya berobat jalan ke aini selama 4 bulan atas anjuran supervisor saya. Dikasih obatnya itu-itu saja, penghilatan tambah turun. Karena biaya sudah distop, stok obat masih banyak, ketika obat habis mulai keserang. Dengan pake biay ateman, saya ke aini, dirujuk ke RSCM, biaya murah,
biar mudah ke mana-mana. Sekitar 5 bulan dengan terapi sama, obat minum dan tetes. Tapi penghilangan terus menurun. Diagnosanya kekebalan tubuh saya menyerang ke mata, mata jadi keruh. 2003 awal saya sudah tidak ke dokter. Alternatif pernah nyoba tapi ga lama, itu juga ga bisa rutin.
Divonis tunanetra total tahun berapa?
Tidak ada dari dokter. Pindah rumah dari cibinong masih low vision, huruf kecil harus pake kaca pembesar, sampai jadi total.
Mengalami low vision dari tahunb erapa?
2001 sampai 2002 bulan april tahu-tahu drop, buram saat awal piala dunia korea jepang. Terakhir dari aini saya disuntik, mata saya pas final piala dunia masih lihat gambar tv walaupun tidak begitu jelas. 2002 akhir tambah buram, udah