• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

Bagi penulis sendiri yang sering mendatang kota Pekanbaru maka penulis rasa sangat perlu untuk memberikan saran-saran yang terkait dengan permasalahan Pekerja Seks Komersial, yaitu:

1. Perlu adanya peningkatan kualitas dari pihak Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru untuk memaksimalkan seluruh sumber dayanya dalam menanggulangi Pekerja Seks Komersial

2. Perlu adanya kerja sama yang lebih dari pihak Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru dengan seluruh lapisan masyarakat untuk memudahkan jalannya operasional dalam upaya menanggulangi Pekerja Seks Komersial

3. Harus sering diadakan pembinaan dan penyuluhan oleh Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru kepada masyarakat dalam menanggulangi Pekerja Seks komersial, seperti:

a. Dengan pembinaan keluarga dan rumah tangga

b. Pembinaan dan perkembanganyang sehat jasmani dan rohani

c. Pembinaan mental dan rohani secara teratur baik aparat pemerintah, masyrakat maupun Pekerja Seks Komersial. Agar mereka lebih memahami agama

DAFTAR PUSTAKA

Abduh Malik DR. H. Muhammad, Perilaku Zuna Pandangan Hukum Islam dan KUHP, Jakarta: Bulan Bintang, 2003

Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Bulan Bintang, 1992

Anggraini YS Nurul, Menyikap Sisi Samping Liku-Liku Pelacuran, Jakarta: PT. Golden, 1996

Arikunto,Suharsimi Managemen Penelitian, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka

Depatemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Semarang, PT Karya Toha Putra, 1995

Fuad al-Baqi Muhammad, Al-lu’lu’ waa-marjan, jilid 1, t.k: Dar al-fikr, t.t

Hantzah Andi, KUHP & KUHAP, Jakrta: PT. Raja Grafindo Cipto, 2002

Kartono Kartini, Patologi Sosial, Jilid II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Koetjaraningrat, Pedoman Penelitian, Jakarta: Rajawali Press, 1985

Masland, Jr, Robert P. Estridge David, Apa Yang Ingin Diketahui Remaja Tentang Seks, Jakarta: Bumi Aksara

Muh. Bin ‘Ilan as-Siddiqi asy-Syafi’I al-Asy,ari al-Makki, Dalil al-Falihin

Muqsit Qhozali Abdul, Tubuh Seksualitas dan kedaulatan perempuan, Yogyakarta: Lkis, 2002

Nata H. Abuddin, Masail Al-Fiqhiyah, UIN Jakarta Press

Pemda kota Pekan Baru, Perda No. 05 Tahun 2002, Tentang Ketertiban Umum

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1987

Rahamat Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: Rosda, 2000

Singaribun Masri, Effendi Sofian, Metode Penelitian Survai, Edisi revisi Jakarta: LP3ES, 1989

Sarlto Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosisal, Jakarta: Balai Pustaka, 1997

Soedjono S. SH, Pelacuran Ditinjau dari Hukum dan Kenyataan Dalam Masyrakat, Bandung: Karya Nusantara, 1977

Sabiq Sayyid, Fiqih Sunnah, Jilid 9, Terjemahan: Moh. Nabhan Husein, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1995

Sedyaningsih Ending, Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999

Umar Hasan M. Ali, kejahatan Seks dan Kehamilan di Luar Nikah Dalam

PERTANYAAN WAWANCARA

DENGAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU

1. Bagaimana bentuk serta jenis Pekerja Seks Kokersial Kota Pekanbaru dalam melakukan kegiatannya?

2. Apa yang menjadi latar belakang sehingga mereka mereka menjadi Pekerja Seks komersial?

3. Bagaimana upaya Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menangani serta menanggulangi Pekerja Seks Komersial ?

4. Apakah upaya yang dilakukan sudah dapat mengurangi Pekerja Seks Komersial diwilayah Kota Pekanbaru?

5. Apakah Perda No 05 tahun 2002 bedasarkan hukum Islam?

6. Bagaimana epektivitas Perda No 05 tahun 2002 dalam menanggulangi Pekerja Seks Komersial?

Wawancara langsung penulis dengan bapak Yuliasman. S.H kepala bagian hukum Pemerintah kota Pekanbaru. Maret 2008

PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN PSK KOTA PEKANBARU

1. Dalam menjalankan propesi sebagai Pekerja Seks komersial, biasanya mbak keluar jam berapa dan sampai jam berapa?

2. Selain menjadi Pekerja Seks Komersial apakah mbak punya aktivitas lain? 3. Kenapa mbak memilih menjadi PSK?

4. Biasanya mbak dapat penghasilan dalam semalam itu berapa?

Wawancara langsung penulis dengan Sisil (nama samara) Pekerja Seks Komersial yang mangkal di Teleju (Pekanbaru) Maret 2008

HASIL WAWANCARA

DENGAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU

Dalam menjalankan aktivitasnya para Pekerja Seks komersial melakukan transaksi seksnya dengan berbagai cara, salah satunya mereka yang sudah mendapatkan pelanggannya mereka langsung membawanya kepenginapan yang mereka anggap aman untuk melakukan hubungan seksusal. Tidak hanya seperti itu mereka juga ada yang melakukan pekerjaannya tergantung kepada laki-laki hidung belang yang mencari kepuasan sesaat.

Para pekerja seks komersial yang berada di kota Pekanbaru pada umumnya mereka adalah pendatang, jadi mereka banyak menjadikan alasan ekonomi sebagai alasan mereka memilih menjadi pekerja seks komersial.

Pemerintah sekarang ini memandang para pekerja seks komersial sebagai sampah masyarakat, makanya sekarang pemerintah sekarang sangat serius dalam menanggilangi para pekerja seks komersial dengan mengundangkan Perda No 05 tahun 2002 tentang Ketertiban Umum. Selain itu pemerintah juga melakukan penertiban yang dilakukan oleh instansi terkait seperti SATPOL PP.

Jika kita melihat beberapa tahun kebelakang para pekerja seks komersial yang berada di wilayah kota pekanbaru sangat banyak berkeliaran, seperti di jalan Arengka, jalan Paus dan Jalan Ponegoro. Tapi untuk saat ini setelah seringnya

pertiban yang dilakukan oleh SATPOL PP dan dibantu oleh Polisi Alhamdulillah sudah jarang terlihat di jalan-jalan kota.

Untuk mengeluarkan satu undang-undang kita tidak hanya melihat satu kepentingan umat beragama, penduduk kota pekanbaru memang banyak yang beragama Islam tapi yang memeluk agama selain Islam juga ada dan mereka harus terikat juga dengan satu undang-undang, jadi jika kita lihat Perda No 05 tahun 2002 memang tidak berdasarkan hukum Islam, tapi jika memandang lebih luas semua agama yang dianut di Indonesia memandang perbutan zina adalah perbutan yang salah.

Tentang epektivitas Perda, untuk saat sekarang perda yang ada sangat epektiv sekali, karena berdasarkan perda tersebu para SATPOL PP sangat berani melakukan operasional ketempat-tempat hiburan yang ada di Pekanbaru.

Wawancara langsung penulis dengan bapak Yuliasman. S.H kepala bagian hukum Pemerintah kota Pekanbaru. Maret 2008

HASIL WAWANCARA DENGAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL

Saya biasanya keluar jam 21 malam, dan kebanyakan teman-taeman saya yang yang juga keluar pada jam 21 juga. Tapi biasanya saya pulang ke tempat penginapan jam 3 pagi kadang tergantung dari tamu, kalau seandainya saya dibawa nnginap terpaksa saya pulangnya siang.

Untuk saat sekarang saya memang tidak ada punya pekerjaan Cuma inilah yang saya lakukan setiap malam, saya tidak tahu sampai kapan saya menjalankan pekerjaan seperti ini.

Banyak dari teman-teman saya yang memberikan alasan kenapa mereka menjadi pelacur itu karena faktor ekonomi, tapi untuk saya pribadi itu Cuma alas an semata karena saya saya memilih jadi pelacur bukan Cuma karena ekonomi saja. Mungkin saya mlihat dunia in terkalu sempit karena itu saya memilih menjadi pelacur.

Penghasilan saya kadang-kadang tidak menentu, kalau tamu saya banyak ya saya dapat kadang 500 ribu semalam tapi kalau tamunya sedikit paling Cuma 100 ribu, kadang saya malah tidak ada mendapat uang dalam semalam namun apa boleh buat pekerjaan saya juga banyak yang tidak melarang.

Wawancara langsung penulis dengan Sisil (nama samara) Pekerja Seks Komersial yang mangkal di Teleju (Pekanbaru) Maret 2008

Dokumen terkait