BAB IV SEMIOTIKA TRAGEDI MINA PADA MEDIA ONLINE
B. Saran
Berdasarkan penelitian ini peneliti mempunyai masukan untuk jurusan Jurnalistik, agar memperbanyak kajian perihal interpretasi yang dilakukan oleh media melalui produk jurnalistik. Hal ini menjadi penting karena dalam menyampaikan peristiwa melalui berita, terdapat fakta lain yang mengelilingi peristiwa utama. Berita yang menghadirkan fakta yang terjadi disekeliling peristiwa utama adalah indepthnews. Sehingga dengan melakukan tinjauan mengenai berita indepthnews ini, dapat menambah pengetahuan peneliti maupun pembaca dalam jurusan Jurnalistik, tentang bagaimana menghadirkan suatu peristiwa berikut fakta-fakta yang membentuknya.
Peneliti dalam hal ini memberikan saran terhadap Detik.com mengenai foto terkait Tragedi Mina. Peneliti menemukan bahwa dalam majalah Detik.com terdapat dua foto yang bersumber dari kantor berita asing AFP dan Reuters, yang menampakkan kondisi wajah jenazah yang tidak diburamkan. Pihak Detik.com diketahui berlangganan dengan kedua kantor berita tersebut, sehingga informasi maupun foto terkait Tragedi Mina yang bersumber dari dua kantor tersebut dapat dipergunakan. Mekanisme penyuntingan foto yang berasal dari kantor berita asing, hanya dari segi bahasa caption yang diubah ke dalam bahasa Indonesia.
Menurut peneliti, penyuntingan foto tidak hanya dilakukan dari segi bahasa caption namun juga dari segi konten jika perlu diburamkan. Seperti foto jenazah korban misalnya, sekalipun tidak terlihat luka namun wajah jenazah
secara etika tidak pantas untuk diperlihatkan. Apalagi dalam salah satu foto memperlihatkan mulut korban yang terbuka. Meskipun menggunakan foto dari kantor berita asing yang terpercaya, namun dalam pemakaiannya harus berhati-hati atau hal yang lebih aman menggunakan foto lainnya.
Penulis memahami jika foto merupakan bentuk visualisasi dari representasi peristiwa, namun dalam menempatkan foto hindari bagian wajah jenazah. Kemudian saran berikutnya tentang foto dalam pemberitaan Tragedi Mina adalah kurangi pemakaian foto yang sama dalam berita, minimal satu foto digunakan untuk dua berita. Kesamaan foto dalam jumlah yang banyak mengakibatkan kejenuhan pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
A. Samovar, Larry, dkk. Komunikasi Lintas Budaya: Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
Budiman, Kris. Semiotika Visual: Kosep, Isu, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra, 2011.
Christiastuti, Novi. “Saat Tragedi Mina Semakin Memicu Ketegangan Iran dan Arab
Saudi”. Artikel diakses pada 13 April 2016 dari
http://news.detik.com/internasional/3028460/saat-tragedi-mina-semakin-memicu-ketegangan-iran-dan-arab-saudi
Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra, 2012.
Herdiansyah, Haris. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika, 2012.
Hutangalung, Inge. Teori-Teori Komunikasi dalam Pengaruh Psikologi. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media, 2015.
Hutapea, Rita Uli. “Kepala Organisasi Haji Iran Sebut Penutupan 2 Jalan Picu Tragedi
Mina”. Artikel diakses pada 13 April 2016 dari
http://news.detik.com/internasional/3028274/kepala-organisasi-haji-iran-sebut-penutupan-2-jalan-picu-tragedi-mina
Hutapea, Rita Uli. “Media Arab Saudi: Stop Mengkritik, Menangani Haji Tugas
Raksasa”. Artikel diakses pada 13 April 2016 dari
http://search.detik.com/search?query=Media+Arab+Saudi%3A+Stop+Meng kritik%2C+Menangani+Haji+Tugas+Raksasa&source=dcnav&siteid=2 Kriyantono, Rachmat. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2008.
Kriyantono, Rachmat dkk. Potret Media Massa di Indonesia. Malang: Universitas Brawijaya Press, 2013.
Liliweri, Alo. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2005.
Morissan. Teori Komunikasi : Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014.
Muyana, Dedy dan Solatun. Metode Penelitian Komunikasi, Contoh-contoh Penelitian Kualitatif dengan pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
Romli, Asep Syamsul M. Jurnalistik Online: Panduan Praktis Mengelola Media Online. Bandung: Nuansa Cendekia, 2012.
Salim, Agus. Teori dan Paradigma: Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009. Sobur, Alex. Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
Sejarah Berdirinya Situs Berita Detik.com, Artikel diakses “27 Februari 2016”dari
http://digilib.unila.ac.id/247/11/BAB%20IV.pdf
Suryawati, Indah. Jurnalistik Suatu Pengantar Teori dan Praktik. Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.
Vera, Nawiroh. Semiotika Dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.
Wibowo, Indiawan Seto Wahyu. Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013.
Wijoseno, Gagah. “Duka Mina Salah Siapa”. Majalah Detik, 28 September 2015. Wawancara Pribadi dengan Nanang Supriyatna. Jakarta, 31 Maret 2016.
LAMPIRAN
PERTANYAAN TEKNIS KE DETIK.COM
A. Bagian Manajemen PT
Nama Narasumber : Nanang Supriyatna
Jabatan di Detik.com : Human Capital
1. Perjalanan Detik.com itu sendiri seperti apa?
Jawab : Nama perusahaannya sebenarnya PT Agranet Multicitra Sibercom. Perusahaan ini lahir pada tahun 1995. Perusahaan ini bergerak pada bidang website fisis, tukang bikin web. Client kami misalnya Yellow Pages, Click BCA, Kompas.com. Kemudian seiring berjalannya waktu, karena 3 dari 4 pendiri detik.com tadinya adalah wartawan, ada yang dari tabloid detik, ada yang dari Tempo, kemudian akhirnya memutuskan untuk membuat media online pada saat itu. Media online dirasa sangat perlu karena melihat kebutuhan orang akan informasi semakin banyak. Kemudian media online yang ada hanya memindahkan versi cetak ke online. Jadi sebenarnya detik.com bukan yang pertama, dulu sudah ada Republika.co.id, kompas.co.id, kemudian tempo dan sebagainya. Karena pernah menjadi wartawan akhirnya tercetus untuk membuat sebuah website media online yang berbeda. Bukan hanya memindahkan versi cetak ke online, akan tetapi ingin mendirikan media online yang sifatnya breakingnews dan update terus. Akhirnya dibuatlah media online Detik.com. Detik.com lahir pada 9 Juli 1998, kemudian terus berkembang hingga akhirnya pada 3
Juli 2011, sahamnya 100 persen dimiliki oleh CT Corporate, Chaerul Tandjung. Mulai sejak itu kami bagian dari Trans media, bersama Transtv, Trans7, CNNIndonesia, CNNIndonesia.com, Transvision, Bank Mega dan TransMart.
2. Seperti yang diketahui bahwa nilai dari detik.com antara lain Cepat dan akurat, kreatif dan inovatif, integritas, kerjasama, dan independen terkait dengan proses rekruitmen karyawan khususnya reporter di detik.com, bagaimana cara membentuk kelima nilai tersebut dalam diri seorang reporter?
Jawab : Semua orang selalu dinilai dari kelima nilai detik.com itu, proses rekruitmen kita usahakan untuk menggali bahwa orang itu punya nilai-nilai itu. Kehidupannya terpengaruh oleh nilai-nilai itu. Orang itu harus cepat akurat tanggap, kreatif dan inovatif. Banyak tools yang kita lakukan dalam proses rekutiment pencarian reporter, kita menggunakan tes psikologi kita melihat rekam jejak dari CV apakah dia punya pengalaman. Kemudian kita melakuan interview behavior kita menggali benarkah dia orang yang cepat sekaligus akurat, benarkah dia kreatif yang terpenting adalah benarkah dia punya integritas atau tidak. Itu penting karena kami ingin media ini menjadi media independen, semua orang yang bekerja di dalamnya punya integritas terhadap profesinya dan tidak gampang disuap.
3. Dari misi detik.com sendiri terlihat adanya kesinambungan seperti
halnya memberikan kepuasan pelanggan, memberikan
kesejahteraan kepada karyawan dan memberikan hasil optimal yang berkesinambungan bagi pemegang saham. Dari segi pihak managemen detik.com sendiri, bagaimana menyeimbangkan ketiga misi itu sendiri?
Jawab : Intinya bisnis ini harus tetap grow harus tumbuh, target dari pihak managemen harus terpenuhi. Dalam organisasi berjalan efektif dan efisien tentunya kalo bisnis ini tetap tumbuh pasti dampaknya ada dua. Ada untuk managemen dan karyawan. Tentunya kalo bisnis ini tetap tumbuh yang didapatkan oleh karyawa bentuknya kenaikan gaji dan bonus. Dampak yang selanjutnya adalah pelanggan. Bagaimana cara kita mendekati pelanggan agar mereka tetap loyal membaca detik.com. bentuk mendekatkan diri ke pelanggan ada banyak, contohnya rutin menggelar rapat meeting sales yang sedang berlangsung saat ini dan melahirkan rubrik solusi UKM. Jadi para UKM bisa memasang iklan di detik.com, memasarkan produknya di detik.com, inovasi seperti ini yang kami lakukan. Kita mendekatkan, semua orang bisa baca, semua orang bisa pasang iklan di detik.com.
4. Hubungan antara visi lembaga dengan kerja jurnalistik di detik.com sendiri seperti apa?
Jawab : Kami percaya bahwa detik.com itu bebas kepentingan dan kami harus meyakinkan managemen bahwa kepentingan managemen adalah kepentingan bisnis. Mereka kepingin ada duitnya terus gitu ya, dan independensi temen-temen wartawan untuk memproduksi sebuah berita tidak terpengaruhi oleh pihak luar dan bukan bagian dari bisnis. Kepercayaan adalah justru bagian dari bisnis dan pembaca merupakan cara untuk membesarkan perusahaan ini. Tentunya kepentingan masyarakat adalah bagian dari bisnis ini. Kalo semua orang percaya tentang berita detik.com, semua orang mengakses detik.com itu imbasnya terhadap bisnis ini. Makin banyak orang terus membaca pemasang iklan makin banyak, karena berita detik.com dipercaya dan bebas kepentingan. Tidak ada kata lain bahwa kepercayaan pembaca adalah bagian dari bisnis.
5. Kaitan dengan ketiga misi detik.com tentunya akan bermuara kepada dua hal yakni reporter dan berita. Bagaimana mengelola reporter dalam menghasilkan berita yang dapat memberikan kepuasan terhadap semua pihak?
Jawab : Apa yang kami kerjakan di HRD, pertama pastinya the right man the right ways ya orang yang tepat akan menduduki posisi yang tepat. Dimana wartawan harus yang punya kopentensi untuk menjadi seorang wartawan. Begitu kami rekrut, tugas kami adalah agar dia tetep bisa berkembang kita melakukan training secara terus menerus terhadap wartawan kami. Wartawan kami dibekali oleh
pengetahuan-pengetahuan tentang journalism, wartawan kami dibekali tentang kode etik jurnalistik, kemudian kita terus melakukan pengembangan melalui training. Setahun sekali ada outing, ada jalan-jalan, kemudian ada yang namanya kenaikan gaji. Itu adalah bagian dari kita dalam me-mantains temen-temen agar tetap semangat bekerja untuk detik.com.
6. Tentunya dalam berita, hal yang dapat “menjual” yakni dari jumlah viewerserta tranding topic. Detik.com selalu mencitrakan
breaking news dalam beritanya, sehingga dapat menarik jumlah
viewer dan berita yang tranding topic. Apakah hal ini juga menjadi
hal yang ditanamkan pada setiap rekruitmen reporter?
Jawab : Hal yang selalu ditanamkan setiap rekruitmen itu nilai2 perusahaan, kemudian kami percaya bahwa proses belajar yang tepat adalah seperti orang belajar berenang. Yang diceburin dulu kemudian diajarkan bagaimana caranya menggerakan tangan dan kaki. Bukan dimasukan dikelas dan diajari bagaimana cara menggerakan tangan tapi dia belum pernah nyebur ke kolam renang. Semua wartawan kami adalah pertama kita ceburin dulu mereka bertandom dulu dengan wartawan senior yang ada di lapangan. Kemudian bergabung dengan wartawan kami misalnya yang ada di KPK, DPR, dan segala macem selama 3-5 hari atau semiggu mereka ada di lapangan dulu supaya tahu medan juga sekaligus diarahkan oleh wartawan senior. Itu bagian dari kami dalam memprosesnya.
7. Pihak manajemen tentunya mempunyai aturan tersendiri dalam
memanage para reporter dalam pengemasan berita, sesuai dengan
nilai dari detik.com sendiri. Bentuk aturan tersebut seperti apa?
Jawab : Bentuk aturan di detik.com adalah semua orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan, kami mempunyai prinsip MBO Managemen By Objektif. Wartawan itu tidak perlu dateng ke kantor, wartawan itu mendapat arahan dari koordinator liputan langsung ke TKP jadi tidak perlu ke kantor. Begitu selesai mereka juga tidak perlu ke kantor. Ke kantor saat ada meeting, atau ada arahan baru, selain itu tidak perlu. Dan semua orang bertanggung jawab MBO. Semua orang bertanggung jawab pada pekerjaannya, itu yang kami tekankan pada mereka. Kita tidak peduli orang pake sendal jepit atau kaos atau pake seragam. Buat kami yang penting mereka bisa bekerja mereka komit dengan pekerjaannya. Kami tidak mengurusi hal-hal yang remeh temeh, termasuk absensi. Buat kami absensi tidak penting, jadi lebih fleksible.
8. Seperti yang diketahui salah satu nilai dari detik.com adalah kerjasama. Bagaimana siasat dari pihak manajemen dalam membentuk sebuah kerjasama yang baik antar sesama reporter? Jawab : Untuk menanamkan kerjasama antar sesama reporter dan karyawan setiap setahun sekali dilaksanakan outing. Outing adalah bagian dari membangun kerjasama lintas divisi. Kami sering ngobrol diruang meeting, ruang-ruang ini adalah ruangan tempat kami saling bekerjasama di lintas divisi. Kami rasa bahwa semua bagian semua
departemen semua orang punya kontribusi yang besar terhadap detik.com, tidak ada wartawan doang yang berkontribusi. Semua orang punya kontribusi disini. Semua orang harus bisa bekerjasama.
9. Perihal keredaksian apakah pihak managemen juga mempunyai andil dapat mengatur kegiatannya, misalnya saat menugaskan reporter untuk meliput?
Jawab : Semua yang menyangkut keredaksian itu tanggung jawab redaksi. Tapi redaksi kami itu penuh warna, tidak semua anak jurnalistik. Beberapa anak eksak, dan kalo misalnya kami ada sastra jerman, ketika dulu adapiala eropa di jerman kita kirim mereka yang dai sastra jerman kesana. Kemudian berita soal teknik misalnya anak anak yang dari background teknik yang kita incsh disana, anak2 sospol banyak di DPR, tapi tidak melulu.
B. Bagian keredaksian (Redaktur/ editor)
Nama Narasumber : Gagah Wijoseno
Jabatan di Detik.com : Redaktur Detiktv, sebelumnya Detiknews
sebagai koordinator Liputan
1. Bagaimana cara kerja redaktur dalam Detik.com?
Jawab : Cara kerja redaktur di Detik.com, kalo reporter tugas dilapangan, kalo redaktur juga bisa dilapangan. Intinya redaktur di news itu job
desknya mencari bahan materi, mencari isu yang akan digarap hari ini, karena berita itu banyak berita itu bertebaran dimana mana nah kita pilih kenapa ini kenapa yang itu, yang ini menarik yang ini engga, ini yang penting yang ini tidak. Kerja redaktur juga sekaligus ngedit tulisan jadi ada yang salah tulisan typo, salah logika, maupun salah data, menempatkan foto dalam artikel berita, serta memposting berita ke website, hal tersebut merupakan tugas redaktur secara garis besar.
2. Apakah kerja redaktur di Detik.com sama seperti di media konvensional lainnya?
Jawab : Saya rasa itu sama ya menentukan apa yang mau diberitakan hari ini. Teknisnya itu misalnya kumpul bareng dengan redaktur-redaktur lainnya gak hanya sendiri. Kalo sudah dapat kepastiannya baru di drive ke reporter.
3. Bagaimana Detik.com menyeimbangkan antara kecepatan
sekaliguskeakuratan dengan waktu terbit yang singkat?
Jawab : Bagaimana menyeimbangkan akurasi dan kecepatan waktu terbit. Memang kita masih akuin, online itu yang masih diangkat adalah akurasi. Terkadang ada kesalahan, salahnya itu banyak, misalnya typo, itu memang kita tidak bisa pungkiri bahwa konsekuensinya pengen cepat. Tapi memang itu bukan alasan lagi, kita masih sering salah misalnya typo. Tapi sebisa mungkin kita jangan salah logika, salah data, pokonya berita itu sebisa mungkin jangan salah. Itu makanya tugas redaktur.
4. Bagaimana redaktur dalam mengawasi berita yang dibuat oleh para reporter?
Jawab : Reporter tidak serta merta langsung mengirim berita, itu ada cek dari redaktur, di cek apakah ada salah typo atau segala macem. Ketika udah oke maka naik. Jadi kita menerapkan kroscek. Dari lapangan ngirim kemudian dicek sama penulisnya, penulisnya keudian dicek lagi sama klarifikator, abis itu baru naik, kita ngeceknya berkali-kali, agar meminimalisir kesalahan tetapi juga harus cepat.
5. Di Detik.com terkadang ada “berita ralat”. Lantas bagaimana
sebenarnya pengawasan dari redaktur/ editor sendiri dalam mengklarifikasi berita? Termasuk pengawasan afterby accident atau
before by accident?
Jawab : Ada berita ralat di Detik.com, semua media itu pasti ada berita ralat karena tidak mungkin terlepas dari kesalahan. Tapi kita coba seringnya tidak disengaja, karena mungkin banyak faktor. Tapi kaya berita ralat update itu ada. Kita ada beberapa ralat update. Kalo update itu misalnya kalo ada perkembangan-perkembangan dari suatu peristiwa.dan disini bukan salah kita, karena itu sumber perkembangan informasinya dari orang kredible seperti Polri. Kalo ralat biasanya salah nama, salah logika, salah penulisan.
6. Apakah ada redaktur khusus yang membidangi foto? Jika ya, bagaimana pembagiannya di Detik.com?
Jawab : Ada redaktur sendiri yang membidangi foto, karena ada namanya rubrik detikfoto. Kita punya fotografer sendiri. Kita mewajibkan setiap reporter untu bisa memoto, karena kalo mengandalkan fotografer kurang efisien waktu, dengan teknologi handphone yang berkamera canggih bisa lebih cepat dalam mengirim foto daripada pake dslr. Kalo ada kiriman foto dari reporter, maka langsung masuknya ke redaktur berita bukan redaktur foto. Jadi langsung dipilah-pilah.
7. Sumber foto yang digunakan oleh reporter dalam berita Tragedi Mina, ada sejumlah foto yang berasal dari kantor berita. Apakah terdapat penyeleksian atau pengeditan ulang foto sebelum dipublikasikan?
Jawab : Terkait dengan sumber foto tragedi Mina yang menggunakan foto dari kantor berita asing seperti Reuter, AFP itu kita langganan jadi kita pake. Itu kita ambil seperlunya, kalo aslinya pake bahasa Inggris kita edit pake bahasa Indonesia. Karena dia tidak membahas Indonesia saja tapi kejadian secara umum. Kita jadi ganti disini loh tempat kejadian yang ada orang Indonesianya selama retuter kira2 seperti itu. Kalo kalo selain reuter itu kita selalu tulis sumbernya darimana. Kalo BBC itu kita patner, jadi kalo kita pake gambar BBC dia malah seneng. Karena antara bbc
dengan detik partner makanya berita-berita di BBC bisa dipake langsung ngelink ke laman dia. Reuter itu beli kalo BBC partner.
8. Detik.com sebagai media online yang mencitrakan breaking
newsdalam penyampaian berita, hal apa yang membedakan dengan media online lainnya? Dalam hal memberitakan Tragedi Mina misalnya.
Jawab : Kita berusaha berhati-hati dalam memberitakan soal nyawa, apalagi soal haji. Itu haji sama kaya bensin ketemu api, heboh kasian keluarga mereka cemas. Ketika ada kabar dari Bandung misalnya dari PERSIS dia udah jumpa pers disini, kita yang di Arab pun belum ada kepastian, karena belum ada data fix melihat wujudnya, melihat gelangnya. Tapi tetep layak berita ketika jumpa pers, karena PERSIS salah satu ormas tertua. Kenapa PERSIS berani? Karena mereka berdasarkan kesaksian-kesaksian. Karena berita kan banyak sumbernya, kalo kita langsung dari kementrian agama disanasoal informasi korban, apalagi soal nama. Kalo yang disini ada jumpa pers PERSIS mau gak mau keluar juga nama. Kita liat ini belum ada nama ini, kita selalu berkata-kata dalam
penulisannya “ini versi PERSIS” , kalo sudah ada datanya fixnya baru kita
beritakan. Mungkin kalo media lain dihantam, kalo kita hati-hati seperti
“ini 25 korban versi PERSIS” bukan “ini 25 korban Mina”. Jadi sebutkan
sumbernya, kalo kementrian agama sudah ngomong baru.
9. Ada sejumlah kesamaan foto di sejumlah berita terkait dengan Tragedi Mina. Mengapa tidak menaruh foto yang berbeda pada setiap berita yang dipublikasikan?
Jawab : Perihal kesamaan foto, kita mungkin karena keterbatasan foto, apalagi masih kejadian awal pada waktu itu kita belum ada tim buat ilustrasi. Kan kalo ilustrasi butuh effort ya istilahnya gambar Mekkah atau Kabah, daripada tidak ada foto atau kita memasukan foro kabah di tragedi Mina kan ngaco. Daripada presepsi aneh-aneh, seiring berita banyak, kita langganan Reuter AFP untuk stok foto.
10.Bagaimana proses pemilihan dan penetapan suatu foto? Adakah kriteria khusus?
Jawab : Kriteria foto itu punya peran yang vital buat artikel. Kalo orang baca artikel, seperti makan yang gak lengkap seperti ada yang hilang.itu juga jadi menarik, orang males kalo berita doang tanpa foto jadi tidak lengkap. yang jelas foto itu mendukung berita atau memang foto itu menggambarkan berita itu.
11.Bagaimana pandangan Detik.com terhadap fototragedi Mina yang dimuat? Apakah sebagai pelengkap sajian berita atau sebagai penjelas berita Tragedi Mina?
Jawab : Foto itu mendukung berita dan memang foto itu menggambarkan berita itu. Kaya misalnya Mina berita apa yang mau dipake, orang mau
lempar jumroh, gak bisa sembarangan orang bisa menilai itu mungkin korbannya. Oke itu iustrasi tapi bahaya. Yang mungkin aman adalah gambar peta. Yaitu tugas redaktur foto dan berita. Atau mending dikosongin aja. Atau sekarang kan kita punya ilustrator. Dalam memberi foto jangan membuat hiasan yang kacau. Foto itu jadinya penguat dan penjelas berita.
Nama Narasumber : Gagah Wijoseno
Jabatan di Detik.com : Redaktur Detiktv, sebelumnya Detiknews
sebagai koordinator Liputan Reporter (menulis Tragedi Mina).
1. Bagaimana cara bekerja reporter di Detik.com?
Jawab : Cara kerja reporter di Detik.com reporter cari lapangan di dalem dan diluar. Cari berita asing juga adalah bagian dari reporter di dalem juga.