• Tidak ada hasil yang ditemukan

A.Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, diperoleh beberapa simpulan, yaitu:

1. Implementasi pembelajaran inkuiri laboratorium diketahui bahwa hampir seluruh kegiatan terlaksana, meskipun ada kegiatan yang masih belum terlaksana dengan baik, khususnya pada tahap melakukan percobaan dan menganalisis data, siswa masih mengalami kendala. Namun semuanya dapat diatasi melalui bimbingan guru dan membaca referensi.

2. Pembelajaran inkuiri laboratorium pada materi sifat koligatif larutan dapat meningkatkan kemampuan berinkuiri siswa (rata-rata N-Gain = 0,62) lebih baik dibandingkan siswa yang memperoleh pembelajaran laboratorium konvensional (rata-rata N-Gain = 0,51). Perbedaan yang signifikan terjadi pada kemampuan mengajukan pertanyaan, merancang percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data, serta kemampuan membuat simpulan.

3. Pembelajaran inkuiri laboratorium pada materi sifat koligatif larutan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa (rata-rata N-Gain = 0,68) lebih baik dibandingkan siswa yang memperoleh pembelajaran laboratorium konvensional (rata-rata N-Gain = 0,57). Perbedaan yang signifikan terjadi pada keterampilan berpikir orisinil dan keterampilan berpikir elaboratif. 4. Pembelajaran inkuiri laboratorium pada materi sifat koligatif larutan dapat

meningkatkan penguasaan konsep siswa (rata-rata N-Gain = 0,56) lebih baik dibandingkan siswa yang memperoleh pembelajaran laboratorium konvensional (rata-rata N-Gain = 0,45). Perbedaan yang signifikan terjadi

107

Ila Zakhiya Amalina, 2014

Dampak Pengembangan Pembelajaran Inkuiri Laboratorium Terhadap Kemampuan Inkuiri, Berpikir, Kreatif, dan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Sifat Koligatif Larutan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yaitu pada jenjang kognitif memahami (C2), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

B.Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, peneliti menyarankan hal-hal berikut:

1. Guru kimia hendaknya mengimplementasikan pembelajaran inkuiri laboratorium sehingga dapat melatih siswa mengembangkan kemampuan inkuiri dan berpikir kreatif.

2. Perlu penelitian lanjutan untuk mengembangkan pembelajaran inkuiri untuk topik sifat koligatif larutan lainnya, yaitu penurunan tekanan uap jenuh larutan dan tekanan osmotik, maupun topik kimia lainnya, baik melalui inkuiri praktikum maupun nonpraktikum.

3. Subyek penelitian yang diteliti lebih banyak (beberapa sekolah) yang dapat mewakili satu kabupaten.

Ila Zakhiya Amalina, 2014

Dampak Pengembangan Pembelajaran Inkuiri Laboratorium Terhadap Kemampuan Inkuiri, Berpikir, Kreatif, dan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Sifat Koligatif Larutan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Alberta Learning. (2004). Focus on inquiry: a teacher’s guide to implementing inquiry-based learning. Edmonton : Alberta.

Amalina, I.Z. (2012). Laporan studi kasus efektivitas sistem moving class di SMA

“KG” Lampung Tengah. (Tugas mata kuliah studi kasus kimia sekolah lanjut). Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. (2010). Kerangka landasan untuk

pembelajaran, pengajaran, dan asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ansar. (2009). Meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri Gangking melalui penggunaan approach to problem solving (Studi pada materi sifat koligatif larutan). Jurnal Chemica, 10 (1), hlm. 19-27.

Anwar, M. N. dkk. (2012). Relationship of creative thinking with the academic achievements of secondary school students. International Interdisciplinary

Journal of Education, 1 (3), hlm. 44-47.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2007). Standar isi untuk satuan pendidikan

dasar dan menengah. Jakarta: BSNP.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2007). Standar proses untuk satuan

pendidikan dasar dan menengah. Jakarta: BSNP.

Beetlestone, F. (2012). Creative learning: strategi pembelajaran untuk

melesatkan kreatifitas siswa. Bandung: Nusa Media.

Bilgin, I. (2009). The effects of guided inquiry instruction incorporating a cooperative learning approach on university students’ achievement of acid and bases concepts and attitude toward guided inquiry instruction. Scientific

Research and Essay, 4 (10), hlm. 1038-1046.

Buck, L.B., Bretz, S.L., & Towns, M.H. (2008). Research and teaching: characterizing the level of inquiry in the undergraduate laboratory. Journal

of College Science Teaching, 38 (1), hlm. 52-58.

Cacciatore, K.L dan Sevian, H. (2009). Incrementally approaching an inquiry lab curriculum: can changing a single laboratory experiment improve student performance in general chemistry?. Journal of Chemical Education, 86 (4), hlm. 498-505.

109

Chatterjee, S. dkk. (2009). Surveying students’ attitudes and perceptions toward guided-inquiry and open-inquiry laboratories. Journal of Chemical

Education, 86 (12), hlm. 1427-1432.

Dahar, R. W. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga.

Dahar, R. W. (2011). Teori-teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Dkeidek, I., Naaman, R.M., & Hofstein, A. (2011). Effect of culture on

high-school students’ question-asking ability resulting from an inquiry-oriented

chemistry laboratory. International Journal of Science and Mathematics

Education, 9 (6), hlm. 1305-1331.

Eggen, P., dan Kauchak, D. (1996). Strategies and models for teachers teaching

content and thinking skills. Boston: Allyn & Bacon.

Fasko, D. (2000). Education and creativity. Creativity Research Journal, 13 (3), hlm. 317–327.

Firman, H. (2000). Penilaian hasil belajar dalam pengajaran kimia. Bandung: UPI.

Gaddis, B.A., dan Schoffstall, A.M. (2007). Incorporating guided-inquiry learning into the organic chemistry laboratory. Journal of Chemical Education, 84 (5), hlm. 848-851.

Hake, R.R. (1998). Interactive-engagement vs traditional methods: a six-thousand student survey of mechanics test data for introductory physics courses.

Journal American Association of Physics Teacher, 66 (1), hlm. 64-74.

Heryadi, D. (2012). Model pembelajaran inkuiri bebas yang dimodifikasi untuk

meningkatkan penguasaan konsep fluida statis dan berpikir kreatif siswa SMA. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Hofstein, A. dkk. (2005). Developing students’ ability to ask more and better questions resulting from inquiry-type chemistry laboratories. Journal of

Research In Science Teaching, 42 (7), hlm. 791–806.

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2009). Model of teaching. Boston: Pearson Education.

Kim, K. H. (2012). The creativity crisis: the decrease in creative thinking scores on the torrance tests of creative thinking. Creativity Research Journal, 23 (4), hlm. 285–295.

Liliasari. (2008). Peningkatan Kualitas Pendidikan Kimia dari Pemahaman

Konsep Kimia menjadi Berpikir Kimia. Keynote Speaker, Seminar Nasional

110

Marliani, N. (2013). Pembelajaran inkuiri reflektif untuk meningkatkan

pemahaman konsep termokimia dan keterampilan berpikir kreatif siswa SMA. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Meltzer, D.E. (2002). The relationship between mathematics preparation and conceptual learning grains in physics: a possible “hidden variable” in diagnostice pretest scores. American Journal Physics, 70 (12), hlm. 1259-1286.

Menteri Pendidikan Nasional. (2010). Petunjuk teknis pelaksanaan jabatan

fungsional guru dan angka kreditnya. Jakarta: Kementerian Pendidikan

Indonesia.

Munandar, S. C. U. (1985). Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah:

petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT. Gramedia.

Munandar, S. C. U. (2002). Kreativitas & keberbakatan: strategi mewujudkan

potensi kreatif & bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Putri, D. H. dan Sutarno, M. (2012). Model kegiatan laboratorium berbasis problem solving pada pembelajaran gelombang dan optik untuk meningkatkan keterampilan proses sains mahasiswa. Jurnal Exacta, 10 (2), hlm. 148-155.

Sagala, S. (2013). Konsep dan makna pembelajaran: untuk membantu

memecahkan problematika belajar dan mengajar. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, W. (2011). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses

pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Sesen, B.A. dan Tarhan, L. (2013). Inquiry-based laboratory activities in electrochemistry: high school students’ achievements and attitudes.

Research in Science Education, 1 (43), hlm. 413-435.

Sopamena, O. (2009). Model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk

meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains siswa SMK pada konsep hasil kali kelarutan. (Tesis). Sekolah Pascasarjana,

Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Sudijono, A. (2009). Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada. Sugiyono. (2011). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan: pendekatan kuantitatif,

kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sunarya, Y. (2003). Kimia dasar: prinsip-prinsip kimia terkini jilid 2. Bandung: Alkemi Grafisindo Press.

111

Trianto. (2010). Mendesain model pembelajaran inovativ-progresif. Jakarta: Prenada Media.

Trivic, D., Tomasevic, B., & Vukovic, I. (2012). Student creativity in chemistry classes. La Chimica Nella Scuola, 3 (34), hlm. 393-424.

Dokumen terkait