BAB V PENUTUP
C. Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas dapat disajikan beberapa saran
sebagai berikut.
1. Guru di sekolah lain dapat menggunakan metode sugesti imajinasi berbantuan
media audio visual dalam pembelajaran menulis narasi sugestif karena sudah
teruji efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis narasi sugestif.
2. Sekolah dapat menggunakan penelitian ini untuk memberikan kontribusi dalam
penggunaan metode pembelajaran menulis khususnya menulis narasi sugestif
DAFTAR PUSTAKA
Alwanny, Herza. 2013. “Pengaruh Metode Sugesti Imajinasi Terhadap Kemampuan Menulis Puisi Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tanjung Morawa”. Skripsi S1. Medan: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNIMED.
Akhadiah, Sabarti dkk. 2000. Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Depdiknas, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke Empat. Jakarta: Balai Pustaka.
Isroyati. 2013. “Penerapan Metode Sugesti Imajinasi dengan Menggunakan Media Gambar Fotografi untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi”. Thesis S2. Bandung: Pendidikan Bahasa indonesia Pascasarjana, UPI.
Jabrohim, dkk. 2009. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kumoro, Bawono. 2013. Membangun Bangsa Unggul Melalui Buku. http://banjarmasin.tribunnews.com, diakses pada tanggal 23 Mei 2013.
Nurgiyantoro, Burhan, dkk. 2009. Statistik Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE.
Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Semi, M. Atar. 1993. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya Padang.
Suriamiharja, Agus,dkk. 1996. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
___________________. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tim. 2012. Panduan Tugas Akhir. Yogyakarta: FBS, UNY.
Trimantara, Petrus. 2005. “Metode Sugesti-Imajinasi dalam Pembelajaran Menulis dengan Media Lagu”. Jurnal Pendidikan Penabur, 05, IV, hlm 1- 14.
LAMPIRAN 1
A. Instrumen Tes Awal
Tes Awal
1. Tulislah nama, kelas dan nomor presensi pada pojok kanan atas lembar jawaban!
2. Buatlah karangan narasi sugestif dengan tema bebas!
3. Buatlah karangan narasi sugestif minimal dan berilah judul yang menarik! 4. Buatlah karangan narasi sugestif yang berbeda dari teman Kalian!
5. Perhatikan kalimat, ejaan, dan tanda baca! 6. Waktu mengerjakan 60 menit!
7. Kumpulkan hasil tulisan di meja guru!
B. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen
(Perlakuan 1)
Sekolah : SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul
Kelas/ Semester : X/ Ganjil
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Alokasi Waktu : 2x45 Menit.
A. Standar Kompetensi
4. Mengungkapkan informasi dalam berbagi bentuk paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif).
B. Kompetensi Dasar
4.1 Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif.
C. Indikator
1. Mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Mengidentifikasi karangan narasi sugestif.
3. Mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
4. Menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5.Menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan memperhatikan EYD.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Siswa mampu mengidentifikasi karangan narasi sugestif.
3. Siswa mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
4. Siswa menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5. Siswa mampu menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan memperhatikan EYD.
E. Materi Pembelajaran
Menurut Keraf (2007:136-138) jenis narasi yang sering digunakan dalam menulis narasi ekspositoris dan narasi sugestif.
1. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio yang berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi, mengenai berlangsungnya suatu peristiwa. Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap-tahap kejadian, rangkaian-rangkaian peristiwa kepada para pembaca atau pendengar.
2. Narasi Sugestif
Narasi sugestif pertama-pertama berkaitan dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkai, kejadian itu berlangsung dalam satu kesatuan waktu. Akan tetapi, tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan, melainkan berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu. Sedangkan narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal. Berikut ini adalah tabel perbedaan narasi ekspositoris dan narasi sugestif menurut Keraf (2007: 138).
Tabel 1: Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Narasi Sugestif
Narasi Ekspositoris Narasi Sugestif
Memperluas pengetahuan. Menyampaikan suatu makna atau suatu
amanat yang tersirat. Menyampaikan informasi mengenai
suatu kejadian.
Menimbulkan daya khayal.
Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional.
Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar. Bahasanya lebih condong ke bahasa
informatif dengan titik berat pada penggunaan kata-kata denotatif.
Bahasanya lebih condong ke bahasa
figuratif dengan menitikberatkan
penggunaan kata-kata konotatif.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa narasi ekspositoris adalah narasi yang mengisahkan serangkaian peristiwa yang benar-benar nyata dan terjadi. Dalam narasi ekspositoris, logika merupakan hal yang penting. Sasaran utamanya adalah rasio. Isinya menyampaikan informasi untuk memperluas
pengetahuan pembaca. Disebut juga narasi nonfiksi. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi riwayat perjalanan. Sedangkan narasi sugestif yaitu narasi yang mengisahkan suatu hasil rekaan, khayalan, atau imajinasi pengarang, bersifat fiktif. Narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal karena sasaran yang ingin dicapai adalah kesan terhadap peristiwa itu. Narasi sugestif disebut juga narasi fiksi. Berikut ini contoh paragraf narasi ekspositoris dan narasi sugestif yang dikembangkan dari topik yang sama.
Narasi ekspositoris
Saat ini Ali sedang menghadapi ulangan matematika. Ia merasa sangat kesulitan. Dalam hati ia menyesal, karena semalam tidak belajar. Tak satu pun soal dapat terjawab. Ia lalu bepikir untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun, ia ragu. Ia takut kalau perbuatannya diketahui oleh pengawas.
Narasi sugestif
Saat ini Ali sedang duduk menatap soal matematika yang ada di depannya. Ia terpaku karena tak bisa mengerjakan soal-soal itu. Dalam hati ia menyesal karena semalam ia menghabiskan waktu dengan bermain game. Tak satu pun soal yang dapat terpecahkan, meskipun seluruh kekuatan otaknya sudah dikerahkan. Terlintas dalam pikirannya untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun,ketakutan merayapi perasaannya, mengingat mata pengawas selalu berkeliaran di seluruh penjuru ruang kelas.
F. Metode Pembelajaran
Metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
G. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan awal
a. Guru menyiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran. b. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
c. Guru bertanya jawab dengan siswa mengenai contoh-contoh peristiwa sebagai stimulus dalam pembelajaran menulis narasi sugestif.
2. Kegiatan inti
a. Guru dan siswa berdiskusi mengenai karangan narasi sugestif dan unsur pembangunnya.
b. Siswa membaca contoh-contoh narasi sugestif yang diberikankan oleh guru. c. Siswa berkelompok dansetiap kelompok terdiri dari lima sampai enam siswa. d. Guru memaparkan enam peristiwa yang ada disekitar siswa.
e. Siswa berdiskusi mengenai peristiwa yang disampaikan oleh guru.
f. Siswa secara berkelompok memilih salah satu peristiwa berkaitan dengan kejadian yang ada di sekitar.
g. Guru memutarkan sebuah tayangan yang berkaitan dengan peristiwa yang dipilih oleh siswa.
h. Siswa diminta untuk merenungkan hasil simakan dan berimajinasi terhadap tayangan yang telah diputarkan oleh guru.
i. Siswa membuat kerangka narasi sugestif sesuai tayangan tersebut.
j. Siswa diberikan tugas mengembangkan kerangka karangan dan desesuaikan dengan tema tayangan tersebut.
k. Siswa diarahkan untuk memilih diksi narasi sugestif yang sesuai dengan tema. l. Siswa diminta membaca kembali hasil karangan yang telah dibuat.
m. Siswa menukarkan hasil karangan dengan teman satu kelompok.
n. Siswa menyunting karangan milik siswa lain, setelah selesai menyunting karangan dikembalikan kepada pemiliknya.
o. Siswa memperbaiki karangan yang telah disunting oleh siswa lain. p. Salah satu siswa membacakan hasil karangan di depan kelas. q. Siswa mengumpulkan karangan kepada guru untuk diberikan skor.
3. Penutup
a. Guru dan siswa sama-sama menyimpulkan inti dari pembelajaran.
b. Guru dan siswa bersama-sama mengungkapkan manfaat dari menulis narasi sugestif dalam kehidupan sehari-hari.
H. Sumber Belajar
Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Suryanto, Alex dan Agus Haryanta. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas X. Tangerang. ESIS.
I. Media Belajar
1. Power Point. 2. LCD
3. Laptop
J. Penilaian
Teknik : Penilaian hasil
Bentuk : Tes uraian
Tes uraian :
1. Tulislah nama, kelas dan nomor presensi pada pojok kanan atas lembar jawaban!
2. Buatlah karangan narasi sugestif yang menarik sesuai dengan tema tayangan tersebut (kasih sayang)!
3. Buatlah karangan narasi sugestif dan berilah judul yang menarik! 4. Buatlah karangan narasi sugestif yang berbeda dari teman Kalian! 5. Perhatikan kalimat, ejaan, dan tanda baca!
6. Waktu mengerjakan 60 menit!
Tabel 2: Penilaian Menulis Narasi Sugestif
Profil Penilaian Narasi Sugestif Nama:
Judul:
Aspek Kriteria Kategori Skor
I S I a. Kreativitas dalam pengembangan cerita BAIK
Cerita dikembangkan dengan kreatif tanpa harus keluar dari tema.
14-15 SEDANG
Kreativitas ada tetapi pengembangan cerita kurang.
12-13 KURANG
Pengembangan tidak ada dan kreativitas sangat kurang.
10-11
b. Kepadatan informasi BAIK
Informasi yang diberikankan padat.
14-15 SEDANG
Informasi yang diberikankan cukup padat.
12-13 KURANG
Informasi yang diberikankan sangat terbatas.
10-11 O R G A N I S A S I
a. Penyajian urutan cerita BAIK
Urutan cerita logis, runtut, komunikatif, lengkap, dan tidak terpotong-potong.
9-10 SEDANG
Urutan cerita logis, terlihat ide utama namun tidak lengkap dan terpotong-potong.
7-8 KURANG
Gagasan kacau, tidak logis, tidak runtut, dan terpotong-potong.
5-6
b. Kejelasan pengungkapan BAIK
Peristiwa jelas dan disertai contoh untuk memperkuat penjelasan.
9-10 SEDANG
Peristiwa jelas namun tidak disertai contoh sebagai penguat cerita.
7-8 KURANG
Peristiwa tidak jelas dan tidak disertai cerita.
5-6
c. Kelengkapan struktur
narasi
BAIK
Struktur perbuatan, latar, sudut pandang, alur, dan penokohan terangkai baik sehingga menghasilkan cerita padu.
9-10
SEDANG
Struktur perbuatan, latar, sudut pandang. alur, dan penokohan kurang terangkai baik sehingga cerita yang dihasilkan kurang padu.
7-8
KURANG
Strukur perbuatan, latar, sudut pandang, alur, dan penokohan tidak saling mendukung sehingga cerita yang dihasilkan tidak padu.
5-6 B A H A S A
a. Penggunaan kata dan
kalimat secara tepat
BAIK
Penggunaan kata dan kalimat tepat dan efektif. 9-10
SEDANG
Penggunaan kata dan kalimat kurang tepat dan kurang efektif.
7-8 KURANG
Penggunaan kata dan kalimat tidak tepat dan tidak efektif.
5-6
b. Informatif BAIK
Menggunakan bahasa konotatif.
9-10 SEDANG
Menggunakan bahasa konotatif tetatpi masih banyak ditemukan bahasa denotatif. 7-8 KURANG
Tidak ditemukan bahasa konotatif.
5-6 M E K A N I K
a. Penulisan ejaan pada kata BAIK
Menguasai aturan penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
9-10 SEDANG
Kurang menguasai penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
7-8 KURANG
Tidak menguasai penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
5-6 b. Penulisan ejaan pada tanda
baca
BAIK
Menguasai aturan penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
9-10 SEDANG
Kurang menguasai penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
7-8 KURANG
Tidak menguasai penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
5-6 Penilai:
Jumlah Skor: Komentar:
Banguntapan, 2014
Mengetahui,
Guru Pembimbing, Peneliti,
Drs. Moch. Surachmad Kusuma Wardani
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen
(Perlakuan 2)
Sekolah : SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul
Kelas/ Semester : X/ Ganjil
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Alokasi Waktu : 2x45 Menit.
A. Standar Kompetensi
4. Mengungkapkan informasi dalam berbagi bentuk paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)
B. Kompetensi Dasar
4.1 Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif.
C. Indikator
1. Mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Mengidentifikasi karangan narasi sugestif.
3. Mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual
4. Menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5. Menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan memperhatikan EYD.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Siswa mampu mengidentifikasi karangan narasi sugestif.
3. Siswa mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visua.
4. Siswa menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5. Siswa mampu menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan memperhatikan EYD.
E. Materi Pembelajaran
Menurut Keraf (2007:136-138) jenis narasi yang sering digunakan dalam menulis narasi ekspositoris dan narasi sugestif.
1. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio yang berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi, mengenai berlangsungnya suatu peristiwa. Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap-tahap kejadian, rangkaian-rangkaian peristiwa kepada para pembaca atau pendengar.
2. Narasi Sugestif
Narasi sugestif pertama-pertama berkaitan dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkai, kejadian itu berlangsung dalam satu kesatuan waktu. Akan tetapi, tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan, melainkan berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu. Sedangkan narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal.
Berikut ini adalah tabel perbedaan narasi ekspositoris dan narasi sugestif menurut Keraf (2007: 138).
Tabel 1: Perbedaan Narasi Ekspositoris dan Narasi Sugestif
Narasi Ekspositoris Narasi Sugestif
Memperluas pengetahuan. Menyampaikan suatu makna atau suatu
amanat yang tersirat. Menyampaikan informasi mengenai
suatu kejadian.
Menimbulkan daya khayal.
Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional.
Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar. Bahasanya lebih condong ke bahasa
informatif dengan titik berat pada penggunaan kata-kata denotatif.
Bahasanya lebih condong ke bahasa
figuratif dengan menitikberatkan
penggunaan kata-kata konotatif.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa narasi ekspositoris adalah narasi yang mengisahkan serangkaian peristiwa yang benar-benar nyata dan terjadi. Dalam narasi ekspositoris, logika merupakan hal yang penting. Sasaran
utamanya adalah rasio. Isinya menyampaikan informasi untuk memperluas pengetahuan pembaca. Disebut juga narasi nonfiksi. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, dan riwayat perjalanan. Sedangkan narasi sugestif yaitu narasi yang mengisahkan suatu hasil rekaan, khayalan, atau imajinasi pengarang, bersifat fiktif. Narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal karena sasaran yang ingin dicapai adalah kesan terhadap peristiwa itu. Narasi sugestif disebut juga narasi fiksi. Berikut ini contoh paragraf narasi ekspositoris dan narasi sugestif yang dikembangkan dari topik yang sama.
Narasi ekspositoris
Saat ini Ali sedang menghadapi ulangan matematika. Ia merasa sangat kesulitan. Dalam hati ia menyesal, karena semalam tidak belajar. Tak satu pun soal dapat terjawab. Ia lalu bepikir untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun, ia ragu. Ia takut kalau perbuatannya diketahui oleh pengawas.
Narasi sugestif
Saat ini Ali sedang duduk menatap soal matematika yang ada di depannya. Ia terpaku karena tak bisa mengerjakan soal-soal itu. Dalam hati ia menyesal karena semalam ia menghabiskan waktu dengan bermain game. Tak satu pun soal yang dapat terpecahkan, meskipun seluruh kekuatan otaknya sudah dikerahkan. Terlintas dalam pikirannya untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun,ketakutan merayapi perasaannya, mengingat mata pengawas selalu berkeliaran di seluruh penjuru ruang kelas.
F. Metode Pembelajaran
Metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
G. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan awal
a. Guru menyiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran. b. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
c. Guru bertanya jawab dengan siswa mengenai contoh-contoh peristiwa sebagai stimulus dalam pembelajaran menulis narasi sugestif.
2. Kegiatan inti
a. Guru dan siswa berdiskusi mengenai karangan narasi sugestif dan unsur pembangunnya.
b. Siswa membaca contoh-contoh narasi sugestif yang diberikankan oleh guru. c. Siswa berkelompok dansetiap kelompok terdiri dari lima sampai enam siswa. d. Guru memaparkan enam peristiwa yang ada disekitar siswa.
e. Siswa berdiskusi mengenai peristiwa yang disampaikan oleh guru.
f. Siswa secara berkelompok memilih salah satu peristiwa berkaitan dengan kejadian yang ada di sekitar.
g. Guru memutarkan sebuah tayangan yang berkaitan dengan peristiwa yang dipilih oleh siswa.
h. Siswa diminta untuk merenungkan hasil simakan dan berimajinasi terhadap tayangan yang telah diputarkan oleh guru.
i. Siswa membuat kerangka narasi sugestif sesuai tayangan tersebut.
j. Siswa diberikan tugas mengembangkan kerangka karangan dan desesuaikan dengan tema tayangan tersebut.
k. Siswa diarahkan untuk memilih diksi narasi sugestif yang sesuai dengan tema. l. Siswa diminta membaca kembali hasil karangan yang telah dibuat.
m. Siswa menukarkan hasil karangan dengan teman satu kelompok.
n. Siswa menyunting karangan milik siswa lain, setelah selesai menyunting karangan dikembalikan kepada pemiliknya.
o. Siswa memperbaiki karangan yang telah disunting oleh siswa lain. p. Salah satu siswa membacakan hasil karanganya di depan kelas. q. Siswa mengumpulkan karangan kepada guru untuk diberikan skor.
3. Penutup
a. Guru dan siswa sama-sama menyimpulkan inti dari pembelajaran.
b. Guru dan siswa bersama-sama mengungkapkan manfaat dari menulis narasi sugestif dalam kehidupan sehari-hari.
H. Sumber Belajar
Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Suryanto, Alex dan Agus Haryanta. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas X. Tangerang. ESIS.
I. Media Belajar
1. Power Point. 2. LCD
3. Laptop
J. Penilaian
Teknik : Penilaian hasil
Bentuk : Tes uraian
Tes uraian :
1. Tulislah nama, kelas dan nomor presensi pada pojok kanan atas lembar jawaban!
2. Buatlah karangan narasi sugestif yang menarik sesuai dengan tema tayangan tersebut (persahabatan)!
3. Buatlah karangan narasi sugestif dan berilah judul yang menarik! 4. Buatlah karangan narasi sugestif yang berbeda dari teman Kalian! 5. Perhatikan kalimat, ejaan, dan tanda baca!
6. Waktu mengerjakan 60 menit!
Tabel 2: Penilaian Menulis Narasi Sugestif
Profil Penilaian Narasi Sugestif Nama:
Judul:
Aspek Kriteria Kategori Skor
I S I a. Kreativitas dalam pengembangan cerita BAIK
Cerita dikembangkan dengan kreatif tanpa harus keluar dari tema.
14-15 SEDANG
Kreativitas ada tetapi pengembangan cerita kurang.
12-13 KURANG
Pengembangan tidak ada dan kreativitas sangat kurang.
10-11
b. Kepadatan informasi BAIK
Informasi yang diberikankan padat.
14-15 SEDANG
Informasi yang diberikankan cukup padat.
12-13 KURANG
Informasi yang diberikankan sangat terbatas.
10-11 O R G A N I S A S I
a. Penyajian urutan cerita BAIK
Urutan cerita logis, runtut, komunikatif, lengkap, dan tidak terpotong-potong.
9-10 SEDANG
Urutan cerita logis, terlihat ide utama namun tidak lengkap dan terpotong-potong.
7-8 KURANG
Gagasan kacau, tidak logis, tidak runtut, dan terpotong-potong.
5-6
b. Kejelasan pengungkapan BAIK
Peristiwa jelas dan disertai contoh untuk memperkuat penjelasan.
9-10 SEDANG
Peristiwa jelas namun tidak disertai contoh sebagai penguat cerita.
7-8 KURANG
Peristiwa tidak jelas dan tidak disertai cerita.
5-6
c. Kelengkapan struktur
narasi
BAIK
Struktur perbuatan, latar, sudut pandang, alur, dan penokohan terangkai baik sehingga menghasilkan cerita padu.
9-10
SEDANG
Struktur perbuatan, latar, sudut pandang. alur, dan penokohan kurang terangkai baik sehingga cerita yang dihasilkan kurang padu.
7-8
KURANG
Strukur perbuatan, latar, sudut pandang, alur, dan penokohan tidak saling mendukung sehingga cerita yang dihasilkan tidak padu.
5-6 B A H A S A
a. Penggunaan kata dan
kalimat secara tepat
BAIK
Penggunaan kata dan kalimat tepat dan efektif. 9-10
SEDANG
Penggunaan kata dan kalimat kurang tepat dan kurang efektif.
7-8 KURANG
Penggunaan kata dan kalimat tidak tepat dan tidak efektif.
5-6
b. Informatif BAIK
Menggunakan bahasa konotatif.
9-10 SEDANG
Menggunakan bahasa konotatif tetatpi masih banyak ditemukan bahasa denotatif. 7-8 KURANG
Tidak ditemukan bahasa konotatif.
5-6 M E K A N I K
a. Penulisan ejaan pada kata BAIK
Menguasai aturan penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
9-10 SEDANG
Kurang menguasai penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
7-8 KURANG
Tidak menguasai penulisan kata yang sesuai dengan EYD.
5-6 b. Penulisan ejaan pada tanda
baca
BAIK
Menguasai aturan penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
9-10 SEDANG
Kurang menguasai penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
7-8 KURANG
Tidak menguasai penulisan tanda baca yang sesuai dengan EYD.
5-6 Penilai:
Jumlah Skor: Komentar:
Banguntapan, 2014
Mengetahui,
Guru Pembimbing, Peneliti,
Drs. Moch. Surachmad Kusuma Wardani
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen
(Perlakuan 3)
Sekolah : SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul
Kelas/ Semester : X/ Ganjil
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Alokasi Waktu : 2x45 Menit.
A. Standar Kompetensi
4. Mengungkapkan informasi dalam berbagi bentuk paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)
B. Kompetensi Dasar
4.1 Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif.
C. Indikator
1. Mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Mengidentifikasi karangan narasi sugestif.
3. Mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
4. Menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5. Menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan
memperhatikan EYD.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu mengidentifikasi paragraf naratif.
2. Siswa mampu mengidentifikasi paragraf narasi ekspositoris dan narasi sugestif. 3. Siswa mampu mengembangkan ide menulis narasi sugestif dengan metode
sugesti imajinasi berbantuan media audio visual.
4. Siswa menulis karangan narasi sugestif dengan pola urutan waktu.
5. Siswa mampu menyunting karangan narasi sugestif yang ditulis teman dengan memperhatikan EYD.
E. Materi Pembelajaran
Menurut Keraf (2007: 136-138) jenis narasi yang sering digunakan dalam menulis narasi ekspositoris dan narasi sugestif.
1. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio yang berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi, mengenai berlangsungnya suatu peristiwa. Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap-tahap kejadian,