BAB VIII STRATEGI MENCIPTAKAN KONTROL BERBASIS
9.2. Saran
Keberhasilan dalam pelaksanaan sistem kontrol berbasis komunitas dalam pelaksanaan program Raskin, dapat ditetapkan beberapa rekomendasi yang dapat kemukakan sebagai berikut:
1. Pihak Sub Divisi Regional Bulog Kota Pekanbaru, perlu melakukan tindakan evaluasi dalam melaksanakan tugas, terutama dalam kontrol kualitas beras yang diterima dan menetapkan kebijakan yang dapat mengikat seluruh stakeholder yang terlibat dalam penyaluran beras raskin. Artinya Sub Divisi Regional Bulog Kota Pekanbaru, tidak hanya sebagai fungsi penampung dan menyalurkan, akan tetapi juga berfungsi sebagai kontrol dalam pelaksanaan program Raskin di wilayah kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru.
2. Tim Koordinasi Raskin kota Pekanbaru, perlu melakukan kontrol yang melibatkan kelembagaan sosial masyarakat seperti komunitas jemaah masjid yang merupakan representasi dari komunitas-komunitas yang ada di Kelurahan Rejosari. Bentuk sinergitas ini diharapkan dapat mengefektifkan sistem kontrol berbasis komunitas dalam mekanisme pelaksanaan program raskin.
3. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat juga bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk bekerjasama dalam pendampingan kumunitas bagi penguatan kelembagaan sosial yang dipakai sebagai alat kontrol dalam mekanisme pelaksanaan program raskin.
Arikunto, Suharsini. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Bina Aksara
Bryant, Coralie dan Loise G. White. 1987. Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang. LP3ES . Jakarta.
Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Chambers, Robert. 1988. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. LP3ES. Jakarta.
Dunn, William N. 2003. Analisis Kebijaksanaan Publik. Yogyakarta : PT. Hanindita Graha Widya.
Drucker, Peter R. 1995. The Engenering Theory of Manufacturing.. New York : Herper & Row terjemahan Johar Maturadi. Jakarta : Divisi PJM.
Huraeroh, Abu. 2003. Isu Kesejahteraan Sosial : Ditengah Ketidakpastian Indonesia. Bandung : CEPLAS.
Jamasy, Owin. 2004. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan.
Jakarta : Blantika.
Koentjoroningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia.
Mardinah, Nuning. 2003. Otonomi dan Pembangunan Desa. Dalam Paulus Wirutomo. 2003. Paradigma Pembangunan di Era Otonomi Daerah. Bandung : Cipruy.
Moleong, Lexy J. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Mubyarto. 1994. Keswadayaan Masyarakat Desa Tertinggal, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Aditya Media.
Nazir. Moh, 1999. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia
Santoso, Amir. 1986. Analisis Kebijakan Publik; Suatu pengantar. Jakarta : PT. Gramedia
Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo. 1995. Sosiologi Pedesaan; Kumpulan, Bacaan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Salim, Emil. 1993. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. LP3ES. Jakarta.
Steers, M. Richard. 1985. Efektifitas Organisasi. Jakarta : Erlangga.
Subarsono AB. 2006. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Aditama.
Soekanto, Soerjono. 1993. Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sunggono, Bambang. 1994. Hukum dan Kebijakan Publik. Jakarta : Sinar Grafika
The Liang Gie. 1999. Administrasi Perkantoran Modern. Yogyakarta : Liberty.
Tabor, Steven R. dan M. Husein Sawit. 2006. Program Bantuan Natura Raskin dan OPK: Penilaian Makro. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perum Bulog
Tjokroamidjojo, Bintaro. 1977. Perencanaan Pembangunan. Jakarta : Gunung Agung.
, 1983. Teori dan Strategi Pembangunan. Jakarta : Gunung Agung.
Tonny, Fredian Nasdian dan Dharmawan Arya Hadi, 2006. Sosiologi Untuk Pengembangan Masyarakat. Modul Kuliah Magister Profesional Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia IPB. Bogor
Topatimasang, Roem. 2000. Merubah Kebijakan Publik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Prijono, Onny S dan Pranarka. 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan dan Implementasi. Jakarta : CSIS.
Wahab Solichin Abdul. 1990. Pengantar Analisis Kebijakan Negara. Jakarta : Rineka Cipta
Wibawa, Samodra, dkk. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Departemen Dalam Negeri & Bulog (2006) Pedoman Umum Program Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin) Tahun 2007. Jakarta: Depdagri & Bulog
Universitas Brawijaya (2006) Studi Pelaksanaan Program Raskin Propinsi Jatim 2006. Malang: Universitas Brawijaya
Lampiran 1.
KUISIONER
Peningkatan Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Program Raskin (Studi Kasus Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan
Raya Kota Pekanbaru) I. Identitas responden A. Nama : ……… B. Umur : ……… Tahun C. Pendidikan Terakhir : ………. D. Alamat : ……….………. II.Penjelasan;
A. Jawablah pertanyaan berikut dengan memberikan tanda ceklis (√) pada
kolam yang anda anggap tepat atau benar, kemudian beri alasan saudara terhadap pilihan jawaban yang ditetapkan.
B. Jawaban yang Saudara kemukakan adalah untuk kepentingan ilmiah,
bukan untuk kepentingan lainnya.
C. Partisipasi anda dalam memberikan jawaban sangat diperlukan oleh
penulis, dan penulis ucapkan terima kasih sebelumnya. Daftar Pertanyaan;
No. Pernyataan Pilihan Jawaban
Baik Cukup Baik Kurang Baik
1. Bagaimana menurut saudara
Program Beras untuk Masyarakat Miskin di Kelurahan Rejosari yang sudah dilaksanakan selama.
Alasan; ... ... ...
2. Menurut saudara, Bagaimana
kontrol yang dilakukan oleh pihak Bulog Sub Divisi Regional Kota Pekanbaru dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari.
Alasan; ... ... ...
3. Bagaimana menurut saudara
kontrol Raskin Kelurahan
Rejosari, yang dilakukan oleh pihak Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru
Alasan; ... ... ...
4. Bagaimana menurut saudara
kontrol pelaksanaan Program Raskin ditingkat Kelurahan Rejosari.
Alasan; ... ... ...
5. Bagaimana menurut saudara
Pengawasan yang dilakukan dalam pelaksanaan program Raskin ditingkat RW dan RT di Kelurahan Rejosari.
Alasan; ... ... ...
6. Bagaimana menurut saudara
tentang partisipasi masyarakat Kelurahan Rejosari dalam kontrol berbasis komunitas Program Raskin
Alasan; ... ... ...
7. Menurut saudara, bagaimana
pelaksanaan kontrol berbasis
komunitas yang dilakukan oleh seluruh elemen yang terlibat dalam pelaksanaan program Raskin selama ini di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.
Alasan; ... ...
8. Bagaimana menurut saudara, apakah program Raskin di Kelurahan Rejosari sudah tepat sasaran bagi keluarga miskin
Alasan; ... ... ...
9. Bagaimana menurut sauadara,
jumlah Raskin yang disalurkan di Kelurahan Rejosari sudah tepat jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari
Alasan; ... ... ...
10. Menurut saudara bagaimana tentang harga jual Raskin di Kelurahan Rejosari, apakah sudah sesuai dengan ketenutuan dari pemerintah.
Alasan; ... ... ...
11. Menurut saudara bagaiamana waktu penyaluran raskin atau dengann kata lain apakah waktu pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari sudah tepat waktu. Alasan; ... ... ... ,... ...
12. Bagaimana menurut saudara
pelaksanaan administrasi dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari, sudah tepat sesuai dengan pendataan yang dilakukan selama ini.
Alasan; ... ... ...
13. Bagaimana menurut saudara
apakah pengawasan yang berbasis komunitas sudah efektif dilaksanakan dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari
Alasan; ... ... ...
14. Menurut saudara tentang
pengawasan terhadap mutu atau kualitas Raskin yang disalurkan di Kelurahan Rejosari
Alasan; ... ... ...
15. Menurut saudara, apakah pembagian askin di Kelurahan Rejosari, sudah mewujudkan azas pemerataan.
Alasan; ... ... ...
16. Bagaimana menurut saudara
pelaksanaan kontrol yang
dilakukan oleh Satker Raskin Pemerintah Kota Pekanbaru, dalam pelaksanaan program raskin ditingkat Kelurahan Rejosari.
Alasan; ... ... ...
17. Bagaimana menurut saudara tentang pelaksanaan program raskin selama ini di Kelurahan Rejosari dan kedepannnya, apakah masih perlu dilaksanakan atau tidak.
Alasan; ... ... ...
Berikut ini merupakan saran saudara;
Saran Saudara untuk efektifitas control berbasis komunitas dalam pelaksanaan program Raskin di Kelurahan Rejosari … … … …… ……… …… … …… ……… … ……… ……….. ……….. ……….. ……….. ………. ……….. ………. ……… ……… ……… ………. ………
MOHD. ROEM. Synergy Space Control as a Tool Against Raskin (Community- Based Control System Effectiveness Against the Village Rejosasri Raskin, District Tenayan Raya Pekanbaru City). Supervised by Saharuddin as Chairman, Winati Wigna as a member of the supervising committee.
The distribution of subsidized rice for the poor, aiming to reduce the expenditure burden of Poor Households. In addition, the Raskin program is intended to improve access of the poor in meeting basic food needs as one of the basic rights of the community. This is one of the destination countries, namely to promote the general welfare, which means providing welfare for society, especially people who live below the poverty line.
This study aims to determine the community-based control system. Explaining the effectiveness of community-based controls that are executed during this in Rejosari Village, District Tenayan Raya. Studying the implementation of the evaluation of community-based control conducted so far, and to formulate the draft program, strategy and action plan towards community- based control in the distribution of raskin.
The study shows, there is still lack of control about the mechanism of program implementation by the officers raskin distribution, which encourages a lack of effective implementation raskin programs implemented so far. To reach the effectivity level of community-based control, local potentials such as institutional, can be developed as a means of community-based control, among other groups of social gathering, meetings, study groups and lectures Assembly mosque congregation. Institutional is very strong in implementing social values as based on religion. These values have been developed into a cultural community such as shame culture, mutual cooperation, exchange and mutual help. It - it can be used as a tool of the community in controlling the various government programs. The government program in this case is a national program, which is a rice procurement program for the poor (raskin). This synergy of space is expected to provide enhanced community role in controlling the distribution of technical implementation raskin covered in 6 T (the right target, right price, right amount, on time, right quality and right administration).
Preparation of community-based programs to plan for short-term programs directed at community-based control system for the design of long-term activities directed at strengthening the social institutions of society (group of pilgrims to the mosque), in an effort to empower the community as a control mechanism on the implementation of development programs, whether conducted by government as well as those implemented by communities themselves, such as economic empowerment programs and business community.
MOHD. ROEM. Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin (Sistem Kontrol Berbasis Komunitas Terhadap Efektifitas Raskin di Kelurahan Rejosasri, Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru). Dibimbing
oleh Saharuddin sebagai Ketua, Winati Wigna sebagai anggota komisi
pembimbing.
Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin. Disamping itu, program Raskin dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokoknya sebagai salah satu hak dasar masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, yang berarti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, teutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sistem kontrol berbasis komunitas. Menjelaskan efektifitas kontrol berbasis komunitas yang dijalankan selama ini di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya. Mempelajari pelaksanaan evaluasi terhadap kontrol berbasis komunitas yang dilakukan selama ini, serta merumuskan rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin
Hasil kajian menunjukan, masih lemahnya kontrol mengenai mekanisme pelaksanaan program raskin oleh petugas pendistribusian raskin, yang mendorong kurang efektifnya pelaksanaan program raskin yang dilaksanakan selama ini. Untuk mencapai tingkat efektitas dalam kontrol berbasis komunitas, potensi- potensi lokal seperti kelembagaan, dapat dikembangkan sebagai alat kontrol berbasis komunitas, antara lain kelompok arisan, pertemuan, pengajian Majelis Ta’lim dan jemaah masjid. Kelembagaan ini sangat kuat dalam menerapkan nilai- nilai sosial karena berlandaskan agama. Nilai nilai ini telah berkembang menjadi budaya masyarakat seperti shame culture, kegotongroyongan, saling memberi dan saling menolong. Hal – hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat komunitas dalam mengontrol berbagai program pemerintah. Program pemerintah tersebut dalam hal ini adalah program nasional, yaitu suatu program pengadaan beras untuk masyarakat miskin (raskin). Ruang sinergitas ini diharapkan dapat memberikan peningkatan peran masyarakat dalam mengontrol teknis pelaksanaan pendistribusian raskin yang tercakup pada 6 T (tepat sasaran, tepat harga, tepat jumlah, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi).
Penyusunan program berbasis komunitas untuk rencana program jangka pendek diarahkan pada sistem kontrol berbasis komunitas Untuk rancangan kegiatan jangka panjang diarahkan kepada penguatan kelembagaan sosial masyarakat (kelompok jemaah masjid), dalam upaya pemberdayaan masyarakat seperti mekanisme kontrol pada pelaksanaan kegiatan program pembangunan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan oleh masyarakat sendiri, seperti program penguatan ekonomi dan usaha masyarakat.
1.1.Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia, masih menghadapi masalah kemiskinan dan kerawanan pangan yang harus ditanggulangi bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Masalah ini menjadi perhatian nasional dan penanganannya perlu dilakukan secara terpadu dan melibatkan berbagai sektor, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Masalah kemiskinan muncul dipicu oleh kenaikan berbagai bahan kebutuhan pokok dan hilangnya berbagai sumber pendapatan masyarakat, akibat adanya pemutusan hubungan kerja dan berbagai bencana yang terjadi dibeberapa daerah.
Upaya pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan, dengan melaksanakan program bantuan pangan yang dikemas dalam bentuk Operasi Pasar Khusus (OPK), yang sasarannya adalah untuk masyarakat miskin. Pembentukan OPK, untuk menselaraskan dengan program pemerintah lainnya yakni, Jaringan Pengaman Sosial (JPS). OPK menjual produk-produk sembako terutama beras, hal ini dikarenakan beras merupakan pangan pokok mayoritas penduduk, dan porsi pengeluaran untuk beras bagi masyarakat miskin relatif cukup tinggi.
Pelaksanaan kegiatan OPK selalu mendapat berbagai kendala dan hambatan, sehingga dilakukan evaluasi kegiatan tersebut untuk penyempurnaan program pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat miskin. Pada tahun 2002 program OPK berubah menjadi program beras untuk masyarakat miskin yang dikenal dengan istilah Raskin, dengan tujuan agar program ini lebih tepat guna dan berdaya guna. Dengan merubah nama program dari OPK kepada program Raskin, diharapkan masyarakat yang tidak termasuk dalam kelompok keluarga tidak miskin diharapakan memiliki rasa malu terhadap program Raskin tersebut, sehingga sasaran dari Raskin betul-betul dapat dialokasikan bagi rumah tangga miskin.
Pelaksanaan berbagai program yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi kemiskinan dan kerawanan pangan, telah dicantumkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009 pada prioritas I yaitu, peningkatan
pelayanan dasar dan pembangunan pedesaan, program Beras Miskin (Raskin). Program Raskin menjadi fokus utama pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dan penyempurnaan system perlindungan sosial, khususnya bagi masyarakat yang hidup dalam kategori masyarakat miskin.
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan, menginstruksikan Menteri dan Kepala Pemerintahan Non Departemen tertentu, serta Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, ketahanan pangan, pengembangan ekonomi pedesaan dan stabilitas ekonomi nasional. Secara khusus instruksi tersebut ditujukan kepada Perum Bulog untuk menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan, yang penyediaannya mengutamakan pengadaan beras dari gabah petani dalam negeri.
Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin. Disamping itu, program Raskin dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokoknya sebagai salah satu hak dasar masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, yang berarti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, teutama masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Dasar pelaksanaan program Raskin adalah, masih terdapatnya keluarga miskin di Indonesia yang mencapai 18,5 juta Rumah Tangga Miskin (BPS, 2009). Berdasarkan data tersebut Pemerintah menetapkan kebijakan pendistribusian beras bersubsidi atau Raskin sebanyak 15 Kilogram bagi setiap rumah tangga miskin perbulan., selama 12 bulan dengan harga tebus Rp. 1.600 per Kg netto ditempat penyerahan yang disepakati.
Penyaluran Raskin disetiap provinsi di Indonesia, khususnya Provinsi Riau sejalan dan selaras dengan kebijakan pembangunan oleh Pemerintah Provinsi Riau yakni pelaksanaan program Pengentasan Kemiskinan, Kebodohan dan pembangunan Infrastruktur (K2I). Jumlah rumah tangga miskin yang ada di Provinsi Riau berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau berjumlah 293.707 Kepala Keluarga. Penyaluran program Raskin di Provinsi Riau
kepada masyarakat belum terpenuhi secara keseluruhan, dimana jumlah rumah tangga miskin yang belum memperoleh program Raskin masih tersisa 35.932 KK, kondisi ini perlu dilakukan pendataan yang lebih baik, sehingga program raskin tersebut lebih tepat sasaran.
Penyaluran Raskin di Provinsi Riau tahun 2007 dilakukan dengan cara, menyalurkan 20 Kg per rumah tangga miskin dengan durasi penyalurannya sekali dalam 6 bulan. Namun pada tahun 2008 penyaluran Raskin dilakukan perubahan yakni jumlah yang diterima oleh rumah tangga miskin sebanyak 10 Kg per KK dengan durasi sekali dua bulan. Dengan adanya program Raskin ini diharapkan dapat membantu masyarakat miskin untuk mengurangi pengeluaran mereka terhadap kebutuhan beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Salah satu kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau adalah, Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru merupakan Ibukota dari provinsi Riau yang terdiri dari dua belas kecamatan yakni;
1) Kecamatan Tampan; 2) Kecamatan Payung Sekaki; 3) Kecamatan Bukit Raya; 4) Kecamatan Marpoyan Damai; 5) Kecamatan Tenayan Raya; 6) Kecamatan Lima Puluh; 7) Kecamatan Sail;
8) Kecamatan Pekanbaru Kota; 9) Kecamatan Suka Jadi; 10) Kecamatan Senapelan; 11) Kecamatan Rumbai; dan 12) Kecamatan Rumbai Pesisir.
Salah satu dari kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru adalah Kecamatan Tenayan Raya. Kecamatan Tenayan Raya merupakan kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan induknya yakni Kecamatan Bukit Raya. Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru terdiri dari empat kelurahan yakni, Kelurahan Kulim, Kelurahan Tangkerang Timur, Kelurahan Rejosari dan Kelurahan Sail. Mengingat luasnya wilayah Kecamatan Tenayan Raya, maka difokuskan pada
satu kelurahan dalam mengalokasikan program Raskin, yakni Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.
Alasan Pemilihan Kelurahan Rejosari dipilih sebagai lokasi kajian disebabkan jumlah masyarakat miskin cukup besar, mata pencaharian pokok masyarakat buruh pembuat batu bata. Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya memiliki jumlah penduduk sebanyak 30.453 Jiwa dan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 6.807 KK, dengan jumlah 26 Rukun Warga (RW) dan sebanyak 99 Rukun Tetangga (RT). Jumlah masyarakat miskin yang menerima program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya sebanyak 625 Rumah Tangga Miskin. Penyeluran program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, belum mendapatkan kontrol yang berbasis komunitas sehingga masih ada KK yang tidak tergolong keluarga miskin menerima beras tersebut, serta adanya pungutan yang dibebankan kepada masyarakat miskin dengan menaikan harga diluar harga yang ditetapkan secara nasional.
Pra survey yang dilakukan peneliti pada Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, juga diketahui bahwa penetapan masyarakat miskin atau rumah tangga sasaran penerimaan manfaat raskin oleh pihak Kelurahan Rejosari yang disahkan oleh Camat Tenayan Raya, terdapat berbagai ketimpangan dalam penetapan tersebut. Lurah Rejosari hanya menerima laporan dari pihak RW, sehingga dalam penetapan ini tidak ada kontrol atau pengawasan dalam menentukan keluarga miskin yang berhak menerima program beras bagi masyarakat miskin tersebut.
Berdasarkan gejala tersebut diatas, terhadap kontrol yang berbasis komunitas dalam pengalokasian program Raskin, maka permasalahannya adalah “Bagaimana Strategi Ruang Sinergitas Sebagai Alat Kontrol Terhadap Program Raskin”
1.2.Perumusan Masalah
Pengawasan atau kontrol yang dilakukan terhadap kebijakan pemerintah, perlu adanya kontrol yang berbasis komunitas, untuk menghasilkan evaluasi kinerja dari kebijakan yang telah ditetapkan. Kondisi ini juga berlaku dalam
melaksanakan kebijakan pemerintah terhadap penanggulangan kerawanan pangan, khususnya beras bagi masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat miskin. Lemahnya kontrol mengenai mekanisme pelaksanaan program raskin oleh petugas pendistribusian raskin, telah mendorong kurang efektifnya pelaksanaan program raskin yang dilaksanakan selama ini. Berdasarkan fenomena tersebut, maka ditetapkan perumusan masalah dalam penelitian ini. Adapun perumusan masalah yang ditetapkan peneliti dalam penelitian tentang kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran beras untuk masyarakat miskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya, adalah sebagai berikut;
1. Bagaimana sistem yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.?
2. Bagaimana efektifitas sistem kontrol program ?
3. Sampai sejauh mana kontrol terhadap program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya?
4. Bagaimana rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru ?
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk;
1. Mengetahui sistem kontrol berbasis komunitas yang telah dilaksanakan dalam pengalokasian program Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
2. Menjelaskan efektifitas kontrol berbasis komunitas yang dijalankan selama ini dalam pengalokasian Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya sesuai dengan tujuan program raskin tersebut.
3. Mempelajari pelaksanaan evaluasi terhadap kontrol berbasis komunitas yang dilakukan selama ini, dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya.
4. Merumuskan rancangan program, strategi dan rencana tindak lanjut terhadap kontrol berbasis komunitas dalam penyaluran Raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.
1.4.Manfaat Penelitian
Kajian tentang peningkatan sistem kontrol berbasis komunitas terhadap efektifitas program raskin di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program raskin, diantaranya adalah sebagai;
1. Sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berwenang seperti Bulog, Pemerintah Kota Pekanbaru, Kecamatan Tenayan Raya dan Kelurahan Rejosari dalam pelaksanaan kontrol pengalokasian beras raskin yang telah dilaksanakan selama ini.
2. Informasi lanjutan bagi peneliti lainnya, khususnya yang memiliki relevansi dengan kontrol berbasis komunitas terhadap pelaksanaan program Raskin bagi rumah tangga miskin.