Sebaiknya industri galangan kapal rakyat UD. Semangat Untung didukung dengan kemampuan manajerial yang baik sehingga dapat mempermudah galangan tersebut untuk memperoleh bantuan dan dukungan dari pemerintah baik dari segi permodalan maupun teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Askabul. 1984. Konstruksi Kapal Ikan Serba Guna di Galangan Kapal Kayu CV. Tarsis Bagansiapiapi, Riau [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 5-12.
Ayuningsari, D. 2007. Tekno Ekonomi Pembangunan Kapal Kayu Galangan Kapal Rakyat di Desa Gebang, Cirebon, Jawa Barat [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
[BKI] Biro Klasifikasi Indonesia. 1989. Peraturan Konstruksi Kapal Kayu. Jakarta: Biro Klasifikasi Indonesia. 112 hal.
Chindhambaram, K. 1960. Topographical Factors in Fishing Boat Design. Fishing Boat of The World II. London: Fishing News Books. Ltd.
Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. Farnham, Surrey, England: Fishing News Books Ltd. Hal 21-118.
Iskandar, BH. 1990. Studi Tentang Desain dan Konstruksi Kapal Gillnet di Indramayu. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 153 hal.
Iskandar, BH. dan Pujiati, S. 1995. Keragaan Teknis Kapal Perikanan di Beberapa Wilayah Indonesia [Laporan Penelitian]. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 11-42
Kalyana, LA. 2008. Tekno Ekonomi Kapal Gillnet di Kalibaru dan Muara Angke Jakarta Utara [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 6-10.
Mandang, IY dan pandit, IKN. 1997. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Bogor: Yayasan Prosea dan Pusat Diklat Pegawai dan SDM Kelautan. 62 hal.
Munir, R. 2003. Metode Numerik. Bandung: Penerbit Informatika Bandung. Nomura, M and Yamazaki, T. 1977. Fishing Techniques I. Tokyo: Japan
International Cooperation Agency. Hal 175-206
Pasaribu, BP. 1985. Keadaan Umum Kapal Ikan di Indonesia. Prosiding Seminar Kapal Ikan di Indonesia dalam Rangka Implementasi Wawasan Nusantara. Institut Pertanian Bogor. 106 hal.
Pasaribu, BP. 1987. Material Kayu Utuh dan Kayu Sambungan untuk Konstruksi Kapal Penangkap Ikan. Buletin PSP Volume I No.2. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 30-46.
55
Purba, RFB. 2004. Kajian Tekno-ekonomi Kapal Gillnet Material Kayu di Karangantu, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. [Skripsi] (tidak
dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 9-10. Rouf, ARA. 2004. Bentuk Kasko Kapal dan Pengaruhnya Terhadap Tahanan
Kasko Kapal Ikan [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 3-9.
Sinaga, T. 1998. Studi Tentang Desain dan Konstruksi Kapal Purse Seine di Bancar, Jawa Timur [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 5-9.
Soegiono. 2006. Kamus Teknik Perkapalan Edisi Keempat. Surabaya: Airlangga University Press.
Soekarsono, N.A. 1994. Pengantar Bangunan Kapal dan Ilmu Kemaritiman. Jakarta: Pamator Pressindo. Hal 99-136.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Baru. Cetakan ke-10. Jakarta: Balai Pustaka. 1208 hal.
Umar, H. 2005. Metode Penelitian: untuk Skripsi dan Tesis Bisnis Edisi 7. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Yatnaningsih. 1998. Studi Tentang Desain dan Konstruksi Kapal Dogol di Bancar, Kab. Tuban, Jawa Timur [Skripsi]. (tidak dipublikasikan). Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 34.
56
57
Lampiran 1 Jenis, sifat, kegunaan dan daerah penyebaran beberapa kayu untuk industri perkapalan di Indonesia
No Jenis kayu Sifat kayu Kegunaan Daerah penyebaran
1 Balam seminai (Palaquium ridleyi K) KA II, KK I, BJ 1.04 (0.90-1.12), keras, sukar digergaji Dek
Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur 3 Bangkirai (Shorea laevifolia Endert) KA I-III, KK I-II, BJ 0.91 (0.60-1.16), sangat keras, sukar digergaji Bagian- bagian keras (utama) kapal Seluruh Kalimantan 4 Bayur (Pterospermun spp) KA IV-V, KK III-IV, BJ 0.44-0.53, lunak sampai agak keras, mudah dikerjakan
Kano
Seluruh Sumatera, Jawa dan Sulawesi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Nusa Tenggara 5 Bedaru (Cantleya carniculata Howard) KA I, KK I, BJ 1.04 (0.84-1.15), keras, mudah retak Bagian- bagian keras (utama) kapal
Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan
6 Belangeran (Shorea balangeran Burck)
KA II-(I-III), KK II-(I), BJ 0.86 (0.73-0.98), keras, mudah retak
Lunas
Sumatera Selatan (Bangka dan Belitung), Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tenggara 7 Benuang (Octomeles sumatrana Mig) KA V, KK IV-V, BJ 0.33 (0.16-0.48), lunak dan rapuh, mudah dikerjakan
Perahu, kano
Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku 8 Bintangur (Calophyllum spp) KA II-IV, KK II-III, BJ 0.54-0.77, agak keras sampai keras, Calophyllum inophyllum sukar dikerjakan, tetapi jenis yang lain umumnya mudah
Gading, tiang layar, dayung
Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Palembang, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur 9 Bungur (Lagerstroemia speciosa Pers) KA II-III, KK II-III, BJ 0.69 (0.58-0.81), agak keras, mudah dikerjakan
Gading, badan kapal
Jambi, Sumatera Selatan (Palembang), Lampung, Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur 10 Cengal (Hopea sangal
Korth)
KA II-III, KK II-III, BJ 0.84 (0.51-0.89), agak keras, mudah dikerjakan
Perahu
Seluruh Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur 11 Dungun (Heritiera littoralis Dryand) KA I-II, KK I, BJ 0.98 (0.88-1.23), keras, sukar dikerjakan Bagian- bagian keras (utama) kapal
Hampir di seluruh Indonesia terutama di daerah pantai yang berawa
12 Durian (Durio spp)
KA IV-V, KK II-III, BJ 0.57-0.61, lunak atau agak lunak, mudah dikerjakan Konstruksi ringan setelah diawetkan Seluruh Indonesia 13 Gerunggang (Cratoxylon arborescens Bl) KA IV, KK III-IV, BJ 0.47 (0.36-0.71), lunak, mudah dikerjakan Konstruksi ringan
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur
58
Lampiran 1 Lanjutan
No Jenis kayu Sifat kayu Kegunaan Daerah penyebaran
14 Gia (Homalium foetidum Renth) KA I-II, KK I-II, BJ 0.91 (0.77-1.06), keras, sukar dikerjakan Bagian- bagian (utama) kapal
Seluruh Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya
16 Gisok (Shorea guiso Bl) KA II-III, KK I-II, BJ 0.83 (0.73-0.97), keras, mudah dikerjakan Kerangka kapal, tiang layar
Sumatera Utara, Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur 19 Kapur (Dryobalanops spp) KA II-IV, KK I-III, BJ 0.59-0.84, keras, sukar dikerjakan Semua bagian kapal
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, seluruh
Kalimantan
21 Keruing (Dipterocarpus spp)
KA III-IV, KK I-III, BJ 0.66-0.92, keras sampai
sangat keras, sifat pengerjaan tegantung pada kadar silika dan damar yang dikandung
Dek, badan kapal
Seluruh Sumatera, Jawa dan Kalimantan
22 Kuku (Pericopsis mooniana Thw)
KA II, KKI II, BJ 0.87, sangat keras, agak sukar
dikerjakan
Dek
Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Selatan, Sulawesi
Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Irian Jaya 24 Lara (Metrosideros
spp)
KA I, KK I, BJ 1.15-1.20, sangat keras, sukar
dikerjakan
Tiang kemudi jangkar
Seluruh Sulawesi, Maluku, Irian Jaya 25 Mahoni (Swietenia spp) KA III, KK II-III, BJ 1.15-1.20, agak keras, mudah dikerjakan Bagunan tambahan, dek, lapisan kedap air, badan kapal Seluruh Jawa 26 Matoa (Pametia spp) KA III-IV, KK I-III, BJ 0.77-0.80, agak keras
sampai keras, mudah dikerjakan
Dek, badan kapal
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh
Sulawesi, Nusa Tenggara Timur
27 spp, Podocarpus spp, Melur (Dacrydium Phyllocaldus spp)
KA IV, KK II-IV, BJ 0.52-0.62, agak lunak sampai agak keras,
mudah dikerjakan
Dek, dayung
Seluruh Sumatera kecuali Lampung, seluruh Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya 28 (Dactylocladus Mentibu
stenestachys Oliv)
KA IV-V, KK III, BJ 0.53 (0.41-0.57), lunak
sampai agak keras, mudah dikerjakan
Dek, dayung Seluruh Kalimantan
29 Merawan (Hopen spp) KA II-III, KK II-III, BJ 0.66-0.72, agak keras, mudah dikerjakan
Semua bagian kapal
Seluruh Sumatera, Jawa Barat, seluruh Kalimantan, Maluku,
Irian Jaya 31 Mersawa (Anisoptera spp) KA IV, KK II-III, BJ 0.61-0.73, agak keras, sukar dikerjakan Dayung, badan kapal
Seluruh Sumatera kecuali Bengkulu, Jawa Barat, seluruh Kalimantan, Sulawesi, Maluku,
59
Lampiran 1 Lanjutan
No Jenis kayu Sifat kayu Kegunaan Daerah penyebaran
32 Nyateh (Ganua spp, Palaquium spp, Payane spp) KA II-IV, KK II-III, BJ 0.56-0.87, lunak sampai agak keras, umumnya mudah dikerjakan
Dayung kano,
dek kapal Seluruh Indonesia
33 Palapi (Heritiera spp)
KA II-IV, KK I-IV, BJ 0.74-0.75, agak keras, agak sukar dikerjakan
Badan kapal
Seluruh Sumatera kecuali Jambi, Jawa Barat, seluruh Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, Irian Jaya 34 Petanang (Dryobalanors oblongitolia Oyer) KA III, KK II, BJ 0.75 (0.62-0.91), agak keras sampai keras, sukar dikerjakan
Dek, gading, badan kapal
Riau, Jambi, Sumatera Selatan (Palembang) 35 Puspa (Schima wallichii Korth) KA III, KK II, J 0.67 (0.56-0.82), agak keras, mudah dikerjakan Dek, gading
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, seluruh Jawa, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur
36 Rengas (Gluta spp, Mellanorrhoea spp)
KA II, KK II, BJ 0.66- 0.69, agak keras sampai sangat keras, agak mudah dikerjakan
Lunas Seluruh Sumatera kecuali Bengkulu, Jawa, Kalimantan
37 Resak (Vatica spp)
KA II-III, KK I-III, BJ 0.60-0.86, keras sampai sangat keras, agak sukar dikerjakan
Lunas, gading
Seluruh Sumatera kecuali Lampung, seluruh Kalimantan dan Sulawesi, Jawa Barat, Maluku, Irian Jaya 38 Tembesu (Fargraea
spp)
KA I-III, KK I-III, BJ 0.66-0.81, agak keras sampai keras, mudah dikerjakan
Semua bagian kapal
Seluruh Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, Jawa Barat, Maluku, Irian Jaya 39 Tempinis (Sloetia elongate Kds) KA I, KK I, BJ 1.10 (0.92-1.20), sangat keras, sukar dikerjakan Lunas, gading
Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi
Keterangan: KA=Kelas Awet; KK=Kelas Kuat; BJ=Berat Jenis (Sumber : Pasaribu, 1985 dalam Ayuningsari, 2007)
60
Lampiran 2 Kuesioner penelitian KUESIONER
TINGKAT KEAKURATAN KONSTRUKSI GADING-GADING KAPAL KAYU GALANGAN KAPAL UD. SEMANGAT UNTUNG DI DESA
TANAH BERU, BULUKUMBA, SULAWESI SELATAN
Nama Responden: Tanggal : ………
………..
Pekerjaan: Pewawancara : .………..
……….
61
1. IDENTITAS RESPONDEN
1.1 Nama Responden : ………. 1.2 Jenis Kelamin : Pria/ Wanita
1.3 Umur : ……. tahun
1.4 Pendidikan Terakhir : SD/ SLTP/ SLTA/ SM/ S1 ; Tamat/ Tidak 1.5 Asal Daerah : ……….
1.6 Status Nelayan : 1). Pemilik Galangan 2). Pembuat Kapal
1.7 Status Pekerjaan : Penuh/ Sambilan Utama/ Sambilan Tambahan
2. GALANGAN KAPAL 2.1 Keadaan Umum Lokasi
1). Letak: 2). Kelurahan: 3). Kecamatan: 4). Kota: 5). Kondisi: 2.2 Identitas Galangan
1). Nama usaha/ Nama galangan: 2). Tahun berdiri:
3). Jenis usaha: 4). Kondisi galangan: 5). Kepemilikan lahan: 6). Ukuran kapal yang dibuat:
7). Jenis kapal yang dibuat berdasarkan mesin: 8). Jenis kapal berdasarkan bahan atau material: 9). Bentuk/ Status Usaha : 1). Perseorangan
2). Badan Hukum Usaha (CV, PT, BUMN) 3). Koperasi
62
2.3 Tenaga kerja
1). Jumlah tenaga kerja:
Tenaga kerja tetap: Tenaga kerja tidak tetap:
2). Pendidikan terakhir tenaga kerja: Tenaga kerja tetap: Tenaga kerja tidak tetap:
3). Apakah ada pembagian kerja secara khusus kepada setiap tenaga kerja : (Ya/ Tidak). Jika Ya, sebutkan:
4). Apakah ada keahlian lain atau pekerjaan lain selain pembuat kapal : (Ya/ Tidak). Jika Ya, sebutkan:
5). Bagaimana prosedur pemberian upah kepada tenaga kerja (perhari/ perminggu):
Tenaga kerja tetap: Tenaga kerja tidak tetap:
6). Berapa upah yang diterima tenaga kerja: Tenaga kerja tetap:
Tenaga kerja tidak tetap:
7). Kesejahteraan tenaga kerja: Tenaga kerja tetap:
63
2.4Teknologi
1). Berdasarkan apa ukuran dimensi utama kapal ditetapkan: Perhitungan pengrajin kapal/ kepala tukang: Permintaan pemesanan:
Lainnya, sebutkan:
2). Dimensi utama kapal:
GT : LOA : LPP : LWL : B : D : d :
Jenis mesin (inboard/ outboard): Kekuatan mesin:
3). Apakah pembangunan kapal dilengkapi dengan gambar perencanaan (Ya/Tidak):
Rancangan umum (Ya/Tidak) Lines plan (Ya/Tidak)
Detail konstruksi (Ya/Tidak) Perhitungan kapal (Ya/Tidak)
Data fisik (gambar dan dokumentasi) perencanaan pembangunan kapal (Blue print lines plan)
4). Jika dilengkapi perencanaan, siapa yang membuat:
64
6). Bagaimana tahapan pembangunan kapal tersebut:
7). Ukuran konstruksi kapal ditetapkan berdasarkan apa: Peraturan
Kebiasaan/pengalaman Lainnya, sebutkan:
8). Berapa jumlah gading-gading kapal:
9). Bagaimana cara pembuatan setiap gading-gading: Dari satu kayu
Dari dua kayu Lainnya:
10). Bagaimana teknik pemotongan setiap gading-gading: Searah serat
Memotong arah serat Tidak ada aturan
11). Bagaimana cara membuat lengkungan gading-gading:
Gambar lengkung gading-gading dicetak ke batang kayu kemudian di potong
Batang kayu langsung dipotong sesuai ukuran yang diinginkan Lainnya:
12). Alat-alat apa saja yang digunakan dalam pembangunan kapal secara keseluruhan:
65
13). Alat-alat apa yang digunakan untuk membuat gading-gading:
14). Cara penyambungan bagian gading-gading, apakah menggunakan: Lem :
Baut : Paku : Pasak :
Lainnya, sebutkan:
(Jawaban dapat lebih dari satu)
15). Metode yang digunakan untuk membengkokkan/ melengkungkan kayu pada pembuatan gading-gading kapal:
Pemanasan:
Penjepitan dengan klep besi atau clamp: Lainnya, sebutkan:
16). Apakah pernah terjadi kesalahan ketika pemotongan gading-gading dilakukan : (Ya/Tidak). Jika Ya, sebutkan jenis kesalahannya:
Potongan terlalu lengkung Potongan terlalu pendek Lainnya:
17). Jika terjadi kesalahan seperti pada no. 12, tindakan apa yang dilakukan: Mengganti dengan kayu yang baru
Menambah potongan dengan potongan kayu lainnya Lainnya:
66
18). Cara membuat kelengkungan gading-gading baik menggunakan busur, klep, pemanasan, atau alat bantu lainnya:
19). Berapa panjang lunas kapal:
20). Cara penyambungan gading-gading ke lunas yang dilakukan, apakah menggunakan: Lem : Baut : Paku : Pasak : Lainnya, sebutkan: (Jawa dapat lebih dari satu)
21). Apakah terdapat perbedaan ukuran antara konstruksi gading-gading yang direncanakan dengan yang telah dibuat (Ya/Tidak):
Jika Ya, sebutkan bagian yang mana saja : Lebar gading-gading Tinggi gading-gading
22). Perbedaan apa yang terjadi antara konstruksi jadi dengan yang konstruksi direncanakan (lebih besar/kecil), berapa cm perbedaannya:
Lebar: Tinggi: Lainnya:
23). Jika terjadi ketidaksesuaian ukuran gading-gading, apa yang dilakukan: Pemakalan
67
Penambalan atau penyusupan Lainnya, sebutkan:
24). Jika terjadi kelebihan ukuran pada gading-gading terhadap gading-gading lainnya, tindakan apa yang dilakukan:
25). Jika terjadi kekurangan atau ukuran gading-gading lebih kecil dari yang sebenarnya, tindakan apa yang dilakukan:
26). Apakah pernah terjadi kesalahan pada saat pemasangan gading-gading pada lunas: (Ya/tidak). Jika Ya, sebutkan jenis kesalahannya:
27). Apa tindakan yang dilakukan ketika terjadi kesalahan seperti pada no. 26: Membongkar gading-gading kemudian memasang kembali Gading-gading dipaksa miring sesuai yang dikehendaki Gading-gading bawah tetap, hanya gading-gaing atas yang
dibongkar lalu dipasang kembali Lainnya:
28). Bagaimana pengaruh perbedaan ukuran konstruksi gading-gading berdasarkan gambar rencana dengan bentuk jadinya terhadap kekuatan konstruksi kapal:
68
29). Data konstruksi gading-gading:
No. Posisi gading- gading
Dimensi utama
Lebar Tebal Jarak antar gading-gading
Rencana Terpasang Rencana Terpasang Jarak antar gading- gading bersisian
Jarak antar gading-gading berhadapan
Rencana Terpasang Rencana Terpasang
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Dst. 68
69
Lampiran 3 Alat yang digunakan dalam pembangunan kapal di UD. Semangat Untung
a) Kapak
b) Gergaji kayu
c) Gergaji besi d) Pahat
70
Lampiran 3 Lanjutan
g) P
h) Golok i) Alat ukur
i)G
j) Singkolo k) Bacci
75
Lampiran 4 Kayu yang digunakan untuk membuat gading-gading di galangan yang diteliti
a) Kayu untuk gading-gading bentuk V
b) Kayu untuk gading-gading bentuk V, round dan U
76
Lampiran 5 Pengertian dari dimensi-dimensi kapal
1) LOA (length over all).
LOA adalah panjang kapal yang diukur dari ujung haluan sampai ujung buritan.
2) LWL (length water line)
LWL adalah panjang garis air yang diukur antara titik perpotongan Lwl pada badan kapal bagian haluan dan buritan
3) LPP (length between perpendicular)
LPP adalah panjang kapal yang diukur dari fore perpendicular (FP) sampai after perpendicular (AP). FP adalah garis tegak lurus pada perpotongan antara Lwl dan badan kapal pada bagian haluan. AP adalah garis tegak lurus pada perpotongan antara Lwl pada bagian buritan kapal
4) B (breadth)
Breadth adalah lebar maksimum kapal yang diukur antara sisi lambung kapal pada bagian terlebar.
5) D (depth)
Depth adalah dalam kapal yang diukur secara vertikal dari dasar (base line) sampai deck freeboard pada penampang melintang tengah kapal.
6) d (draugth)
Draugth adalah dalam benam kapal (sarat) yang diukur dari base line sampai load water line.
76
Lampiran 6 Foto pencetakan mal besi ke batang kayu lengkung pada proses pembuatan gading-gading
Lampiran 7 Foto-foto konstruksi gading-gading
a) Konstuksi gading-gading bagian haluan kapal
b) Konstruksi gading-gading bagian tengah kapal Gading-gading
Gading-gading
Lampiran 7 Lanjutan
c) Konstruksi gading-gading bagian buritan kapal Gading-gading
Lampiran 8 Kulit kayu (barru)yang digunakan sebahai bahan pakal pada kapal yang dibuat di galangan UD. Semangat Untung
Lampiran 9 Contoh perhitungan tingkat keakuratan dan persentase selisih a) Tingkat keakuratan lebar penampang gading-gading
Posisi gading-gading 1, bentuk U bottom Lebar rencana = 8 cm ; lebar terpasang = 8 cm
Dimensi gading-gading terpasang
Tingkat keakuratan = x 100% Dimensi gading-gading rencana
8 cm
= x 100% 8 cm
= 100% (Tingkat keakuraian = 100%).
b) Persentase selisih lebar penampang gading-gading
Posisi gading-gading 1, bentuk U bottom Lebar rencana = 8 cm ; lebar terpasang = 8 cm
Gading-gading rencana – Gading-gading terpasang
Persentase selisih = x 100% Gading-gading rencana 8 cm – 8 cm = x 100% 8 cm = 0%
(Persentase selisih akurat, berada pada zona A (0% < x < 25%).