BAB 2 TINJAUAN UMUM SUKU DINAS KESEHATAN KOTA
5.2 Saran
a. Kegiatan-kegiatan binwasdal perlu ditingkatkan dalam rangka sosialisasi informasi dan peraturan baik mengenai sarana maupun tenaga kesehatan. b. Perlu adanya peningkatan alokasi anggaran dan sumber daya manusia yang
60 Universitas Indonesia
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. (2003). Keputusan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK.00.05.5.1640 Tentang Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta: Hal. 4-10.
Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2006). Pedoman Pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Jakarta : 3-7.
Departemen Kesehatan RI. (1992). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
922/MENKES/PER/X/1993 pasal 5. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2009). Peraturan Pemerintah RI No. 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.
Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2002). Keputusan Gubernur No. 58 Tahun 2002
tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta.
Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta No.4 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Jakarta: 4-5.
Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1331/MenKes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 167/KAP/B.VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat.
Jakarta: Pasal 2, 4.
Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1332/Menkes/SK/ X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi Daerah
Khusus Ibu Jakarta No.150 Tahun 2009. Jakarta.
Sub Dinas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. (2002).
Pedoman Perizinan Sarana Farmasi Makanan dan Minuman Propinsi DKI Jakarta. Jakarta: 4-12 ; 19-97
61
Universitas Indonesia
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2010a). Pedoman Mutu Suku Dinas
Kesehatan Jakarta Utara. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta Utara.
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2010b). Dokumen Tupoksi dan Kompetensi
Seksi Sumber Daya Kesehatan Sudin Kesehatan Jakarta Utara. Jakarta : Dinas
Kesehatan Jakarta Utara.
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2011). Prosedur Pengelola Obat dan
Perbekalan Kesehatan. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta Utara.
Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Utara. (2011). Prosedur Binwasdal
Kesehatan Farmasi Makanan Minuman. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta
Lampiran 1. Alur Pedoman Pemberian Izin yang Diterbitkan oleh Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara
63
65
67
69
71
73
75
77
79
Lampiran 14. Lembar Berita Acara Pemeriksaan Sarana Produksi Perusahaan Pangan Industri Rumah Tangga
81
Lampiran 16. Formulir Permohonan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK)
83
Lampiran 18. Permohonan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)/ Surat Izin Kerja (SIK)
85
iii Universitas Indonesia UNIVERSITAS INDONESIA
PERSYARATAN LINGKUNGAN SERTA FASILITAS DAN BANGUNAN INDUSTRI PANGAN RUMAH TANGGA SESUAI DENGAN CARA
PEMBUATAN PANGAN YANG BAIK
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
NUR MARSETYO PUTRO NOTO NEGORO, S. Farm. 1306343990
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK 2014
ii Universitas Indonesia
DAFTAR ISI ... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Pangan dan Keamanan Pangan ... 3 2.1.1 Pangan ... 3 2.1.2 Keamanan Pangan ... 3 2.2 Industri Rumah Tangga ... 4 2.3 Cara Pembuatan Pangan yang Baik ... 7 2.3.1 Pendahuluan ... 7 2.3.1.1 Tujuan CPPB ... 7 2.3.1.2 Ruang Lingkup ... 8 2.3.2 CPPB-IRT ... 9 2.3.2.1 Lokasi dan Lingkungan Produksi ... 9 2.3.2.2 Bangunan dan Fasilitas ... 10 BAB 3. METODE PENULISAN ... 16 3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ... 16 3.2 Cara Kerja ... 16
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 17 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 22 5.1 Kesimpulan ... 22 5.2 Saran ... 22 DAFTAR ACUAN ... 23
iii Universitas Indonesia DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Berita acara pemeriksaan sarana produksi pangan industri rumah tangga ... 24 Lampiran 2. Format SPP-IRT yang ditentukan oleh BPOM ... 30 Lampiran 3. SPP-IRT yang dikeluarkan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara ... 31 Lampiran 4. Formulir rincian laporan ketidaksesuaian ... 32 Lampiran 5. Formulir laporan tindakan koreksi dan status ... 33
1 Universitas Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Makanan yang bermutu dan aman merupakan kebutuhan penting setiap manusia. Salah satu makanan yang paling sering dikonsumsi adalah makanan hasil pengolahan dan produksi industri rumah tangga. Berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2009, pasal 111 ayat 1, makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar, persyaratan kesehatan, dan / atau membahayakan kesehatan dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dicabut izin edar dan disita untuk dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Keamanan pangan menurut UU Nomor 18 Tahun 2012 adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Keamanan pangan industri rumah tangga tentunya dapat dimonitoring secara berkala melalui program pengawasan mutu makanan yang merupakan kewenangan Sub Dinas Kesehatan setempat melalui serangkaian pelaksanaan yang dilakukan oleh Sub Seksi Farmasi Makanan dan Minuman dalam program BINWASDAL (Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian).
Pemerintah juga berkewajiban untuk meningkatkan daya saing Industri Rumah Tangga (IRT) atau yang sering dikenal dengan Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) dan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan yang dihasilkan IRTP serta menumbuhkan kesadaran dan motivasi produsen dan karyawan tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis dan tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen. Mengingat hal tersebut maka ditetapkan Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga yang sesuai dengan kondisi saat ini sebagai panduan bagi berbagai pihak yang terkait dengan bidang keamanan pangan IRTP. Lingkungan, fasilitas dan bangunan dari industri rumah tangga juga mempengaruhi mutu dari makanan yang dihasilkan. Ketiga komponen
2
Universitas Indonesia
tersebut juga diatur dalam CPPB-IRT guna kelangsungan hidup industri pangan baik yang berskala kecil, sedang, maupun berskala besar. Para produsen sebaiknya memenuhi persyaratan yang telah tertulis di Cara Pembuatan Pangan yang Baik Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT). Produk pangan yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan industri pangan yang bersangkutan akan berkembang pesat. Industri pangan yang memenuhi persyaratan CPPB-IRT dapat menghasilkan pangan bermutu dan aman untuk dikonsumsi, sehingga masyarakat terlindung dari penyimpangan mutu pangan dan bahaya yang mengancam kesehatan.
1.2 Tujuan
Tugas khusus ini dimaksudkan agar peserta PKPA mampu menjelaskan prinsip-prinsip dasar keamanan pangan bagi IRTP dalam menerapkan CPPB-IRT khususnya terkait lingkunan, fasilitas, dan bangunan agar dapat menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu sesuai dengan tuntutan konsumen.
3 Universitas Indonesia BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pangan dan Keamanan Pangan
2.1.1 Pangan
Berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang dimaksud dengan pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman
2.1.2 Keamanan Pangan
Dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 dijelaskan mengenai definisi dari aman untuk dikonsumsi adalah pangan tersebut tidak mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan manusia misalnya bahan yang dapat menimbulkan penyakit atau keracunan. Selain aman dikonsumsi suatu pangan juga harus layak untuk dikonsumsi. Layak untuk dikonsumsi adalah pangan yang diproduksi dalam kondisi normal dan tidak mengalami kerusakan, berbau busuk, menjijikkan, kotor, tercemar atau terurai, sehingga dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.
Kondisi aman dan layak untuk dikonsumsi berhubungan dengan kemanan pangan. Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan fisik yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Persyaratan keamanan pangan adalah standar dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi untuk mencegah pangan dari kemungkinan adanya bahaya, baik karena cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
4
Universitas Indonesia
2.2. Industri Rumah Tangga
Industri rumah tangga atau biasa disingkat IRT adalah perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis. Untuk keperluan operasional disebut Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP).
Produk yang dihasilkan industri rumah tangga biasa disebut sebagai pangan IRT. Pangan IRT adalah pangan olahan hasil produksi Industri Rumah Tangga (IRT) yang diedarkan dalam kemasan eceran dan berlabel, sedangkan pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan. Kegiatan yang dilakukan oleh IRT adalah kegiatan produksi pangan. Produksi pangan tidak hanya berupa mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 juga dijelaskan yang dimaksud dengan kegiatan produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentuk Pangan.
Industri rumah tangga berhak mengajukan sertifikasi dari produk pangan yang dihasilkan. Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh Bupati/Walikota cq. Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten/Kota terhadap pangan IRT di wilayah kerjanya yang telah memenuhi persyaratan pemberian SPP-IRT dalam rangka peredaran pangan IRT. Umumnya beberapa pelaku industri rumah tangga melakukan sertifikasi untuk mendapatkan izin edar di beberapa target pasar seperti supermarket dan dalam
scope atau jangkauan yang lebih luas.
Berdasarkan Lampiran 6 Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.03.12.2205 Tahun 2012 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Rumah Tangga, jenis pangan yang dapat diajukan SPP-IRT antara lain sebagai berikut :
a. Kode 01 untuk hasil olahan daging kering, meliputi abon daging, dendeng goreng, paru goreng kering, kerupuk kulit, rendang daging/paru.
b. Kode 02 untuk hasil olahan ikan kering, meliputi abon, cumi kering, ikan asin, ikan asap/ikan salai/ikan kayu, kerupuk/kemplang/amplang ikan, udang kering
Universitas Indonesia
(ebi), pasta ikan, petis, terasi, empek-empek kering, ikan goreng, dendeng ikan, rendang ikan/belut, serundeng ikan, bekicot olahan, presto ikan.
c. Kode 03 untuk hasil olahan unggas kering, meliputi abon unggas, usus goreng, ceker goreng, kulit unggas goreng, dendeng, telur asin, presto unggas, rendang telur.
d. Kode 04 untuk sayur asin dan sayur kering, meliputi acar, asinan/manisan sayur, jamur asin/kering, sayur asin kering, sayur kering, keripik/criping sayur, emping melinjo/labu, manisan rumput laut.
e. Kode 05 untuk hasil olahan kelapa, meliputi kelapa parut kering, nata de coco, geplak.
f. Kode 06 untuk tepung dan hasil olahnya, meliputi bihun, biskuit, bagelen/bagelan, dodol/jenang/galamai, kerupuk, kue brem, kue kering, makaroni, mie kering, tapioka, tepung aren, tepung arcis, tepung beras/ketan, tepung gandum (bukan tepung terigu yang wajib SNI), tepung hunkwee, tepung kedele, tepung kelapa, tepung kentang, tepung pisang, tepung sagu, roti/bluder, rempeyek/peyek, sohun, bakpao, bakpia/pia, bika ambon, cakue, cendol, cimol, cone/wadah es krim yang dapat dimakan (edible), kulit lumpia/pangsit, moci, molen/bolen, mutiara/pacar cina, pilus, yangko.
g. Kode 07 untuk minyak dan lemak, meliputi minyak jagung, minyak kacang, minyak kedele, minyak kelapa, minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak sawit, minyak/lemak ayam, minyak/lemak sapi.
h. Kode 08 untuk selai, jeli dan sejenisnya, meliputi jem/selai, jeli buah, jeli agar, jeli bubuk rasa buah, jeli rumput laut, jeli lidah buaya, marmalad, serikaya/srikaya/kayakaya, cincau.
i. Kode 09 untuk gula, kembang gula dan madu, meliputi gula aren, gula kelapa, gula pasir (bukan gula pasir yang dirafinasi), gula semut, kembang gula/permen, kembang gula/permen susu, kembang gula/permen karet, kembang gula coklat, madu, sirop, manisan/aromanis buah (buah/rimpang), enting-enting/kipang kacang/ampyang/noga,
j. Kode 10 untuk kopi, teh, coklat kering/campurannya, meliputi kopi biji kering/bubuk, teh/teh hijau, teh rosela, coklat (tidak termasuk coklat bubuk), kopi campur.
6
Universitas Indonesia
k. Kode 11 untuk bumbu, meliputi aneka bumbu masakan, bawang goreng, cuka makan seperti cuka buah apel/anggur, kecap asin/manis, saos cabe, saos tomat, saos ikan, saos kacang, tauco, sambal , bumbu kacang/pecel.
l. Kode 12 untuk rempah-rempah, meliputi bawang merah kering/pasta/bubuk, bawang putih kering/pasta/bubuk, cabe kering/pasta/bubuk, cengkeh kering/pasta/bubuk, jahe kering/pasta/bubuk, jintan, kayu manis, kapulaga, ketumbar, kunyit kering/pasta/bubuk, lada putih/hitam, pala/bunga pala, wijen. m. Kode 13 untuk minuman ringan, minuman serbuk, meliputi minuman beraroma, minuman gula asam, minuman buah, minuman sayur, minuman kacang kedele/sari kedele, minuman kopi/campur, minuman kunyit asam, minuman lidah buaya, minuman rumput laut, minuman sari madu, minuman sari tebu, minuman sari jagung, minuman sari bekatul, minuman sari kurma, minuman teh, minuman bandrex, limun, minuman jeli, minuman rempah, minuman rosela, cincau/minuman cincau, minuman sari tape, minuman serbuk, minuman bubuk kedele.
n. Kode 14 untuk hasil olahan buah, meliputi keripik/criping buah (sukun/salak/nangka/mangga/pisang, dll), buah kering, lempok buah (durian, dll), asinan buah, buah kering, manisan buah, buah dalam sirop, pisang sale. o. Kode 15 untuk hasil olahan biji-bijian dan umbi, meliputi ketan,
jawadah/jadah/uli, keripik kentang, keripik kentang balado, keripik ketela/singkong, keripik/tortilla jagung, keripik talas, intip, keripik ubi jalar, rangginang/batiah, bekatul, bingka ubi, carang mas/kue keremes ubi jalar/ ceker ayam, jipang/kipang beras ketan, berondong jagung, berondong beras ketan, marning jagung, emping jagung/singkong, keripik/criping umbi-umbian, getuk goreng, kacang atom/bawang/goreng/kulit/mete/telur/tolo/koro/ kapri/salut/tumbuk, kwaci, opak/gropak singkong/ubi/beras, singkong presto, lanting, abon oncom, tape ketan, tape singkong, tiwul, wingko babat, wajik/wajit ketan, wajik/wajit buah.
p. Kode 16 untuk lain-lain es, meliputi es stik/es lilin, es goyang/es loly, es puter, es mambo, es hunkue.
Universitas Indonesia
Beberapa pangan yang tidak diperbolehkan untuk diproduksi dalam skala industri rumah tangga adalah sebagai berikut :
a. Susu dan hasil olahannya
b. Daging, ikan, unggas, dan hasil olahan yang memerlukan proses dan/atau penyimpanan beku
c. Pangan kaleng d. Pangan bayi
e. Minuman beralkohol f. Air minum dalam kemasan
g. Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI)
h. Pangan lain yang ditetapkan oleh BPOM
2.3 Cara Pembuatan Pangan yang Baik
2.3.1 Pendahuluan
Pemerintah berkewajiban untuk meningkatkan daya saing Industri Rumah Tangga dan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan yang dihasilkan IRTP serta menumbuhkan kesadaran dan motivasi produsen dan karyawan tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis dan tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen. Mengingat hal itu ditetapkanlah Cara Produksi Pangan yang Baik Untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) . Cara Produksi Pangan Yang Baik (CPPB) adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaimana memproduksi pangan agar aman, bermutu, dan layak untuk dikonsumsi.
2.3.1.1 Tujuan CPPB
Tujuan dibuatnya CPPB dimaksudkan untuk :
a. memberikan prinsip-prinsip dasar keamanan pangan bagi IRTP dalam menerapkan CPPB-IRT agar dapat menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu sesuai dengan tuntutan konsumen baik konsumen domestik maupun internasional.
b. memberikan panduan bagi penyelenggara SPP-IRT guna memperlancar operasional pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kewenangan
8
Universitas Indonesia
minimal yang wajib dilaksanakan oleh Bupati/Walikota cq. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota khususnya dalam menilai persyaratan CPPB-IRT.
c. memberikan panduan bagi tenaga Penyuluh Keamanan Pangan (PKP) dan Pengawas Pangan Kabupaten / Kota (District Food Inspector / DFI) dalam melakukan pembinaan dan pengawasan IRTP agar pangan IRT yang beredar memenuhi persyaratan kemanan dan mutu sesuai dengan peryaratan keamanan pangan dan tuntutan masyarakat konsumen.
2.3.1.2 Ruang Lingkup
CPPB digunakan oleh Bupati/Walikota cq. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota untuk menilai persyaratan CPPB-IRT dalam rangka penerbitan SPP-IRT. CPPB-IRT juga menjelaskan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi tentang penanganan pangan di seluruh mata rantai produksi mulai dari bahan baku sampai produk akhir yang mencakup :
a. Lokasi dan Lingkungan Produksi; b. Bangunan dan Fasilitas;
c. Peralatan Produksi;
d. Suplai Air atau Sarana Penyediaan Air; e. Fasilitas dan Kegiatan Higiene dan Sanitasi; f. Kesehatan dan Higiene Karyawan;
g. Pemeliharaan dan Program Higiene Sanitasi Karyawan; h. Penyimpanan;
i. Pengendalian Proses; j. Pelabelan Pangan;
k. Pengawasan Oleh Penanggungjawab; l. Penarikan Produk;
m. Pencatatan dan Dokumentasi; n. Pelatihan Karyawan
Persyaratan CPPB-IRT terdiri atas 4 (empat) tingkatan, yaitu "harus" (shall) sebaiknya dan "dapat" (can), yang diberlakukan terhadap semua lingkup yang
Universitas Indonesia
terkait dengan proses produksi, pengemasan, penyimpanan dan atau pengangkutan pangan IRT dengan rincian sebagai berikut:
a. persyaratan “harus” b. persyaratan “seharusnya” c. persyaratan “sebaiknya”; atau d. persyaratan “dapat”.
Persyaratan "harus" adalah persyaratan yang mengindikasikan apabila tidak dipenuhi akan mempengaruhi keamanan produk secara langsung dan/atau merupakan persyaratan yang wajib dipenuhi, dan dalam inspeksi dinyatakan sebagai ketidaksesuaian kritis.
Sedangkan persyaratan "seharusnya" adalah persyaratan yang mengindikasikan apabila tidak dipenuhi mempunyai potensi mempengaruhi keamanan produk, dan dalam inspeksi dinyatakan sebagai ketidaksesuaian serius. Persyaratan "sebaiknya" adalah persyaratan yang mengindikasikan apabila tidak dipenuhi mempunyai potensi mempengaruhi efisiensi pengendalian keamanan produk, dan dalam inspeksi dinyatakan sebagai ketidaksesuaian mayor.
Persyaratan "dapat" adalah persyaratan yang mengindikasikan apabila tidak dipenuhi mempunyai potensi mempengaruhi mutu (wholesomeness) produk, dan dalam inspeksi dinyatakan sebagai ketidaksesuaian minor.
2.3.2 CPPB-IRT
2.3.2.1 Lokasi dan Lingkungan Produksi
Untuk menetapkan lokasi IRTP perlu mempertimbangkan keadaan dan kondisi lingkungan yang mungkin dapat merupakan sumber pencemaran potensial dan telah mempertimbangkan berbagai tindakan pencegahan yang mungkin dapat dilakukan untuk melindungi pangan yang diproduksinya.
a. Lokasi IRTP
Lokasi IRTP seharusnya dijaga tetap bersih, bebas dari sampah, bau, asap, kotoran, dan debu.
10
Universitas Indonesia
b. Lingkungan
Lingkungan seharusnya selalu dipertahankan dalam keadaan bersih dengan cara-cara yaitu sampah dibuang dan tidak menumpuk; tempat sampah selalu tertutup, dan jalan dipelihara supaya tidak berdebu dan selokannya berfungsi dengan baik
2.3.2.2 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas IRTP seharusnya menjamin bahwa pangan tidak tercemar oleh bahaya fisik, biologis, dan kimia selama dalam proses produksi serta mudah dibersihkan dan disanitasi.
a. Bangunan Ruang Produksi 1. Desain dan Tata Letak
Ruang produksi sebaiknya cukup luas dan mudah dibersihkan.
a) Ruang produksi sebaiknya tidak digunakan untuk memproduksi produk lain selain pangan
b) Konstruksi Ruangan :
i. sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan lama
ii. seharusnya mudah dipelihara dan dibersihkan atau didesinfeksi, serta meliputi: lantai, dinding atau pemisah ruangan, atap dan langit-langit, pintu, jendela, lubang angin atau ventilasi dan permukaan tempat kerja serta penggunaan bahan gelas, dengan persyaratan sebagai berikut : 2. Lantai
a) Lantai sebaiknya dibuat dari bahan kedap air, rata, halus tetapi tidak licin, kuat, memudahkan pembuangan atau pengaliran air, air tidak tergenang, memudahkan pembuangan atau pengaliran air, air tidak tergenang.
b) Lantai seharusnya selalu dalam keadaan bersih dari debu, lendir, dan kotoran lainnya serta mudah dibersihkan
3. Dinding atau Pemisah Ruangan
a) Dinding atau pemisah ruangan sebaiknya dibuat dari bahan kedap air, rata, halus, berwarna terang, tahan lama, tidak mudah mengelupas, dan kuat, b) Dinding atau pemisah ruangan seharusnya selalu dalam keadaan bersih dari
debu, lendir, dan kotoran lainnya
Universitas Indonesia
4. Langit-langit
a) Langit-langit sebaiknya dibuat dari bahan yang tahan lama, tahan terhadap air, tidak mudah bocor, tidak mudah terkelupas atau terkikis,
b) Permukaan langit-langit sebaiknya rata, berwarna terang dan jika di ruang produksi menggunakan atau menimbulkan uap air sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak menyerap air dan dilapisi cat tahan panas,
c) Konstruksi langit-langit sebaiknya didisain dengan baik untuk mencegah penumpukan debu, pertumbuhan jamur, pengelupasan, bersarangnya hama, memperkeil terjadinya kondensasi,
d) Langit-langit seharusnya selalu dalam keadaan bersih dari debu, sarang labah-labah.
5. Pintu Ruangan
a) Pintu sebaiknya dibuat dari bahan tahan lama, kuat, tidak mudah pecah atau rusak, rata, halus, berwarna terang,
b) Pintu seharusnya dilengkapi dengan pintu kasa yang dapat dilepas untuk memudahkan pembersihan dan perawatan.
c) Pintu ruangan produksi seharusnya didisain membuka ke luar / ke samping sehingga debu atau kotoran dari luar tidak terbawa masuk melalui udara ke dalam ruangan pengolahan.
d) Pintu ruangan, termasuk pintu kasa dan tirai udara seharusnya mudah ditutup dengan baik dan selalu dalam keadaan tertutup.
6. Jendela
a) Jendela sebaiknya dibuat dari bahan tahan lama, kuat, tidak mudah pecah