BAB 5 KESIMPULAN
5.2 Saran
a. Untuk meningkatkan mutu pelayanan Apotek Kimia Farma, konseling obat kepada pasien sebaiknya dilaksanakan secara intensif dan untuk menunjang hal tersebut diperlukan ruang konseling bagi apoteker.
b. Kualitas petugas apotek sebagai drug informer perlu ditingkatkan, salah satunya dalam training (continuing education) yang dilakukan secara berkala sehingga pemberian informasi obat yang diberikan tidak hanya sebatas cara pakai namun juga efek samping obat dan hal- hal lain yang terkait dengan pasien. Dengan adanya hal ini diharapkan penjualan di apotek meningkat karena adanya kepuasan pelanggan
c. Untuk mencegah kekosongan barang yang meningkatkan resiko penolakan resep maka pengelolaan persediaan barang harus diutamakan dengan pengontrolan melalui kartu stok secara ketat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2009). Laporan tahunan 2008 annual report: Bersama Memacu
Prestasi. Jakarta: PT. Kalbe Farma Tbk.
Kalbe. (n.d.). Retrieved May 10, 2013, from http://www.kalbe.co.id
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan
No.28/Menkes/Per/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan
No.922 Tahun 1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri KesehatanNo.
1322/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (1976). Undang-Undang No. 9 tahun 1976 tentang
Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang No. 5 tahun 1997
tentangPsikotropika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009b). Undang-Undang No. 36 tahun 2009
Tentang Kesehatan. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009c). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Lampiran.14 Pembagian Kelompok Gerai Apotek Mitrasana yang Mengacu Sistem Cluster
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN GERAI APOTEK
MITRASANA TAMAN HARAPAN BARU (THB) PERIODE
JANUARI-FEBRUARI 2014
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK MITRASANA
TAMAN HARAPAN BARU
RUKO TAMAN HARAPAN BARU BLOK E7 NO. 9 BEKASI
PERIODE JANUARI– FEBRUARI 2014
CYNTIA WAHYUNINGRUM 1306434130
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM SARJANA FARMASI
DEPOK
JUNI 2014
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN GERAI APOTEK
MITRASANA TAMAN HARAPAN BARU (THB) PERIODE
JANUARI-FEBRUARI 2014
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK MITRASANA
TAMAN HARAPAN BARU
RUKO TAMAN HARAPAN BARU BLOK E7 NO. 9 BEKASI
PERIODE JANUARI– FEBRUARI 2014
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
CYNTIA WAHYUNINGRUM 1306434130
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM SARJANA FARMASI
HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI. ... vi DAFTAR GAMBAR ... vii DAFTAR GRAFIK ... viii DAFTAR TABEL ... ix BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2
BAB 2 TINJAUAN UMUM APOTEK ... 3
2.1 Pengertian Apotek ... 3 2.2 Definisi Pemasaran... 3 2.3 Manajemen Pemasaran... 4 2.4 Konsep Pemasaran ... 5 2.5 Sistem Pemasaran... 5 2.6 Pedoman dan Cara Pemasaran ... 6 2.7 Strategi Pemasaran ... 9 2.8 Kriteria Periklanan yang Efektif. ... 11 2.9 Fungsi-fungsi Salesman ... 12
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN... 15
3.1 Lokasi dan Waktu. ... 15 3.2 Responden ... 15 3.3 Teknik Sampling ... 15 3.4 Metode Pengumpulan Data ... 15 3.5 Cara Kerja ... 15
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 16 BAB 5 KESIMPULAN………... 23
5.1 Kesimpulan ... 23 5.2 Saran ... 23
Gambar 4.1 Grafik 4.1 Grafik yang menunjukkan keberadaan Gerai MSA THB di lingkungan masyarakat ... 17 Gambar 4.2 Grafik yang menunjukkan kesadaran konsumen terhadap
keberadaan klinik dokter dan laboratorium di Gerai MSA THB .. 19 Gambar 4.3 Neon Box yang terdapat di Gerai Apotek Mitrasana Taman
Harapan Baru ... 21 Gambar 4.4 Media Komunikasi yang digunakan sehingga mendapat
informasi keberadaan MSA THB... 20 Gambar 4.5 Grafik yang menunjukkan kritik dan saran untuk media
Tabel 4.1 Hasil Survey Marketing Communication Gerai Mitrasana
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Setiap orang berhak atas kesehatan. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, 2009).
Perkembangan tingkat ekonomi dan kemudahan mendapatkan informasi menjadikan masyarakat belakangan ini semakin kritis dalam menjaga kesehatan dirinya. Untuk itu, apotek sebagai sarana yang bergerak dibidang jasa pelayanan kesehatan harus mampu memberikan pelayanan kefarmasian secara tepat dan bermutu. Pada dasarnya pelayanan kefarmasian terfokus pada kesejahteraaan, pemeliharaan, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, dan kepedulian masyarakat dalam pengobatan terhadap penyakit yang diderita (swamedikasi). Selain itu pelayanan kefarmasian tidak lagi hanya memfokuskan diri terhadap pengelolaan obat sebagai komoditas (product oriented) namun juga harus mengedepankan pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (patient oriented).
Menurut Philip Kotler (1997), yang dimaksud dengan produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan. Produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu barang dan jasa. Barang merupakan produk yang berwujud fisik sehingga dapat bisa dilihat, disentuh, dirasa, dipegang, dan disimpan (Tjiptono, 1999). Sedangkan jasa merupakan setiap tindakan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain. Pada dasarnya jasa tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler, 1997).
Apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker tidak hanya menyediakan barang berupa sediaan farmasi kepada masyarakat melainkan juga sebagai fasilitas pelayanan kefarmasian yang menawarkan jasa kepada masyarakat baik berupa pelayanan informasi obat, konseling maupun sebagai sarana promosi dan edukasi guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Apotek Mitrasana Taman Harapan Baru yang berbasis one stop services – apotek – laboratorium – dokter keluarga merupakan apotek modern yang menyediakan layanan yang cukup lengkap sebagai peran sarana kesehatan. Selain menyediakan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memadai (healthmart), apotek ini dilengkapi jasa pemeriksaan laboratorium, dan praktek dokter umum, dokter gigi, maupun dokter kecantikan. Fasilitas-fasilitas ini bertujuan untuk mendukung pelayanan kesehatan lainnya di apotek. Meskipun apotek ini dapat dikatakan memiliki pelayanan kesehatan yang lengkap, akan tetapi untuk menunjang kedatangan costumer, diperlukan adanya strategi pemasaran yang tepat guna menarik masyarakat agar mereka mengetahui dan menyadari bahwa Apotek Mitrasana Taman Harapan Baru selain menyediakan sediaan farmasi dan alat kesehatan, juga terdapat pelayanan kesehatan lainnya.
Pada kesempatan ini Fakultas Farmasi Universitas Indonesia menyelenggarakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT. Millenia Dharma Insani (Mitrasana) dengan harapan agar calon Apoteker mengetahui
communication marketing strategy yang tepat untuk sebuat apotek yang memiliki
sarana penunjang kesehatan selain apotek itu sendiri dan menjadikan hal tersebut sebagai suatu pembelajaran agar ilmu yang didapat dapat diterapkan dalam dunia kerja nantinya. PKPA ini dimulai dari tanggal Januari hingga Februari 2014.
1.2. Tujuan
Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Mitrasana yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Indonesia bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi strategi pemasaran yang dilakukan oleh Gerai Mitrasana Taman Harapan Baru.
2.1. Pengertian Apotek
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.51 Tahun 2009, pekerjaan kefarmasian adalah perbuatan meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep Dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional (Presiden Republik Indonesia, 2009).
2.2. Definisi Pemasaran
Menurut Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management Analysis,
Planning, and Control mengartikan pemasaran adalah suatu proses sosial, dimana
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. (Kotler, 1997).
Definisi Pemasaran menurut William J. Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. (Stanton, 1978)
Dengan pemasaran perusahaan berusaha menghasilkan laba dari penjualan barang dan jasa yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pembeli. Disinilah peran manajer pemasaran dibutuhkan, dimana tugas dari manajer pemasaran adalah memilih dan melaksanakan kegiatan pemasaran yang dapat membantu dalam pencapaian tujuan organisasi.
Pemasaran berhubungan dengan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat. Definisi pemasaran menurut Asosiasi Pemasaran Amerika yaitu merupakan satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyerahkan nilai kepada
pelanggan dan mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan para pemilik sahamnya (Kotler 2008). Pemasaran sering dipandang sebagai salah satu fungsi bisnis yang dibutuhkan untuk merangsang permintaan terhadap produk dan jasa suatu perusahaan.
Jangkauan pemasaran ini sangat luas, berbagai tahapan kegiatan harus dilalui oleh jasa sebelum sampai ke tangan konsumen, sehingga ruang lingkup kegiatan yang luas itu disederhanakan menjadi tujuh kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing mix) atau 7P, yang terdiri dari tujuh komponen, yaitu product, price, place, promotion, people, physical
evidence, process. (Tjiptono, 2007).
2.3. Manajemen Pemasaran (Kotler, 1997).
Pada dasarnya manajemen itu terdiri atas perancangan dan pelaksanaan rencana-rencana. Dalam membuat suatu perencanaan, dibutuhkan kemampuan untuk membuat strategi dan rencana. Untuk rencana jangka panjang maka dibutuhkan waktu yang lebih banyak. Sedangkan untuk pelaksanaan rencana tersebut, dia harus mendelegasikan keputusan-keputusannya yang rutin dilakukan setiap hari kepada para bawahan
Secara umum manajemen mempunyai tiga tugas pokok, yaitu : a. Mempersiapkan rencana/strategi umum bagi perusahaan. b. Melaksanakan rencana tersebut.
c. Mengadakan evaluasi, menganalisa dan mengawasi rencana tersebut dalam pelaksanaannya. (untuk mengukur hasil dan penyimpangannya serta untuk mengendalikan aktivitas).
Menurut Philip Kotler manajemen pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program yang ditujukan untuk mengadakan pertukaran dengan pasar yang dituju untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk membuat suatu rencana, fungsi penganalisaan sangat penting agar rencana yang dibuat dapat lebih matang dan tepat. Penerapan merupakan kegiatan untuk menjalankan rencana. Fungsi pengawasan adalah untuk mengendalikan segala macam aktivitas agar tidak terjadi penyimpangan.
2.4. Konsep Pemasaran (Kotler, 1997)
Falsafah konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan pembeli/konsumen. Seluruh kegiatan dalam perusahaan yang menganut konsep pemasaran harus diarahkan untuk memenuhi tujuan tersebut. Meskipun orientasi pembeli ini dibatasi oleh tujuan laba dan pertumbuhan, tetapi konsep itu perlu dilaksanakan. Karena dapat meningkatkan penjualan dengan :
a. Membuat barang yang mudah penggunaannya. b. Mudah pembeliaannya.
c. Mudah pemeliharaannya.
Penggunaan konsep pemasaran bagi sebuah perusahaan dapat menunjang berhasilnya bisnis yang dilakukan. Konsep pemasaran disusun dengan memasukkan tiga elemen pokok, yaitu :
a. Orientasi konsumen / pasar / pembeli. b. Volume penjualan yang menguntungkan.
c. Koordinasi dan integrasi seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan. Pada dasarnya, perusahaan yang ingin mempraktekkan orientasi konsumen ini harus :
a. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan dilayani dan dipenuhi. b. Memilih kelompok pembeli tertentu sebagai sasaran dalam penjualannya. c. Menentukan produk dan program pemasarannya.
d. Mengadakan penelitian pada konsumen, untuk mengukur, menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta tingkah laku mereka.
e. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah menitik beratkan pada mutu yang tinggi, harga yang murah atau model yang menarik. Jadi, secara definitif dapat dikatakan bahwa konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan.
2.5. Sistem Pemasaran (Kotler, 1997)
Dalam sistem pemasaran terdapat beberapa faktor yang saling tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Organisasi yang melakukan tugas-tugas pemasaran. b. Sesuatu (barang, jasa, ide, orang) yang sedang dipasarkan. c. Pasar yang dituju.
d. Para perantara yang membantu dalam pertukaran (arus) antara organisasi pemasaran dan pasarnya. Antara lain pengecer, pedagang besar, agen pengangkutan, dan lain-lain.
e. Faktor-faktor lingkungan seperti faktor demografi, kondisi perekonomian, faktor sosial dan kebudayaan, teknologi dan persaingan.
Dari kelima faktor tersebut maka Sistem Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kumpulan lembaga-lembaga yang melakukan tugas pemasaran, barang, jasa, ide, orang dan faktor-faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh, dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya.
2.6. Pedoman dan Cara Pemasaran (Kotler, 1997)
Dalam memasarkan suatu barang perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Mengetahui kebutuhan terhadap produk yang akan dipasarkan dalam suatu daerah atau masyarakat tertentu.
b. Adanya pesaing di daerah pemasaran dimana produknya hendak dipasarkan. c. Memahami daya beli masyarakat.
d. Kesetiaan/loyalitas penyalur.
e. Mengetahui berapa jumlah barang yang dapat diserap oleh daerah atau masyarakat setempat.
f. Cara penyaluran/pengangkutan barang sampai ke konsumen.
g. Mengenalkan /mengiklankan/mempromosikan produk atau pelayanan apotek. h. Menggunakan cara kombinasi pemasaran yaitu 4P (Product, Price,
Promotion, Place).
i. Mengandalkan riset pemasaran.
Apotek harus mengetahui karakteristik dan perilaku pelanggan jika ingin menentukan strategi pemasaran yang tepat. Karakteristik dan perilaku pelanggan mencakup pola demografi (jenis kelamin, usia), tingkat sosial ekonomi (tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, latar belakang budaya), jarak tempat tinggal dan
kemudahan hubungan, persepsi dan perilaku tentang kesehatan dan apotek. Dengan memiliki pengetahuan tentang perilaku pelanggannya diharapkan apotek dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan untuk menjaga loyalitas pelanggan. Hal tersebut juga mempermudah pihak manajemen apotek untuk merumuskan kembali strategi pemasaran yang tepat sesuai kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain aspek desain ruangan serta tata letak, pelayanan yang efisien serta efektif untuk pelanggan, dari pihak apoteker maupun asistennya akan memberikan sentuhan personal yang membuat pelanggan “percaya” (trust) dengan sistem pelayanan apotek. Sifat kepercayaan ini akan menghasilkan loyalitas (loyalty) pelanggan terhadap apotek yang bersangkutan. Senyuman manis dan pelayanan ramah, serta penjelasan yang mudah untuk dipahami oleh pelanggan akan membuat pelanggan merasa “diterima” dengan baik, dan tentunya, dimanusiakan.
Dari segi marketing, apotek memiliki posisi, diferensiasi, dan apalagi bila memiliki brand kuat, bukan tidak mungkin apotek akan memiliki pelanggan loyal dalam komunitas tertentu. Jika menginginkan sebuah “benteng” bisnis yang kuat, metode pembuatan apotek “franchise” dengan menerapkan sistem jaringan seperti yang digunakan oleh sistem Mart, apotek akan jauh lebih kokoh serta responsif dengan pasar. Sebuah konsep “Drug Store” yang cerdas, lengkap, serta stok yang senantiasa mengalir cepat, tentunya adalah pilihan inovatif dalam kompetisi perapotekan yang terlihat dari grafik akan semakin ketat.
Intinya adalah bagaimana membuat sebuah wujud apotek yang humanis, bersih, ramah, serta memudahkan dan memanusiakan pelanggan lengkap beserta penjelasan yang komunikatif dan memudahkan pelanggan mengenai produk kesehatan. Pelayanan ini harus bersama dengan sistem bisnis yang kuat, responsif dengan pasar, serta memiliki strategi brilian untuk membangunkan potensi pasar saat masih tertidur dan bersaing dengan pemain lain manakala pelanggan telah tercerdaskan.
Dalam pembahasan ini, faktor dominan variabel dokter dalam pola pemasaran obat masuk dalam pertimbangan utama, disamping faktor lain yang tentunya memiliki pengaruh. Dimensi penilaian bisnis pelayanan (service business) yang ritel apotek masuk ke dalam kategori ini, meliputi lima hal, yaitu :
a. Responsiveness (tingkat ketanggapan)
Kecepatan pelayanan obat dan kecepatan pelayanan kasir adalah variabel pertama yang harus dapat dikuantifikasi dalam standar pelanggan Indonesia. b. Reliability (tingkat kehandalan)
Faktor ini merupakan faktor pemberian informasi obat oleh petugas apotek, dalam hal ini kejelasan informasi tentang fungsionalitas dan detail obat dalam pandangan pelanggan.
c. Assurance (jaminan)
Faktor ini meliputi ketersediaan stok dan harga komoditas obat bagi pelanggan. Aspek ini dapat diperluas ke dalam pelayanan purna jual dengan menggunakan basis data pelanggan (riwayat pelanggan).
d. Emphaty (empati)
Faktor ini berkaitan dengan model interaksi personal pihak pengelola apotek dengan pasien berupa metode pelayanan di tempat dan pembinaan hubungan jangka panjang, (asertif). Faktor ini akan sangat berpengaruh terhadap loyalitas yang ditunjang oleh unsur kepuasan emosional pelanggan.
e. Tangibles (bukti fisik)
Faktor fisik yang dapat dirasakan langsung oleh pasien berupa kenyamanan dan kebersihan ruang tunggu, tempat duduk, serta ketersediaan faktor rekreatif bagi pelanggan semacam TV, koran, atau hot spot internet.
Faktor-faktor tersebut membutuhkan pengaturan optimal untuk menghasilkan produktivitas pelayanan pelanggan terbaik dan profitabilitas jangka panjang untuk kesinambungan serta perkembangan bisnis apotek. Faktor yang harus dikendalikan untuk mendapatkan produktivitas dan profitabilitas yaitu internal bisnis dan layanan pelanggan dan pemeliharaan jaringan.
2.6.1 Internal Bisnis a. Manajemen Stok
Manajemen persediaan menjadi penting karena persediaan yang terlalu banyak menjadikan kelebihan kerja karena over-stock. Over-stock tersebut lama-kelamaan akan menjadi dead-stock karena rusak, kadaluwarsa, perubahan selera, atau sebab lainnya. Sementara persediaan yang terlalu sedikit justru mengakibatkan lost of
b. Manajemen Sumber Daya Manusia
Apotek memiliki waktu interaksi dengan pelanggan sebagai variabel penunjang produktivitas. Sikap dan budaya yang dibentuk kepada karyawan terhadap pelanggan akan sangat signifikan dapat mempengaruhi perilaku pelanggan terhadap apotek. Perilaku pelanggan ini berkorelasi terhadap loyalitas di luar faktor harga dan ketersediaan stok.
c. Manajemen Finansial
Keefektifan manajemen finansial akan sangat berpengaruh terhadap profitabilitas apotek.
2.6.2 Layanan Pelanggan dan Pemeliharaan Jaringan
a. Pemeliharaan Basis Data Pelanggan (Database Maintenance)
Manajemen apotek direkomendasikan untuk memiliki basis data meliputi: riwayat kesehatan, riwayat pembelian, serta alamat dan kontak pasien. Hai ini akan sangat membantu dalam melakukan tindak lanjut setiap pelayanan kelengkapan penjualan obat. Jika apotek dalam sebuah kompleks perumahan, bahkan bisa dijalankan pelayanan pengiriman obat langsung (delivery service). b. Pemeliharaan Jaringan (Network Maintenance)
Manajemen apotek jika memiliki target jangka panjang untuk mengembangkan unit distribusi solid, direkomendasikan untuk membangun jejaring apotek kawasan. Semakin besar dan solid jejaring ini, kemungkinan untuk terjadi peningkatan produktivitas dan profitabilitas akan semakin signifikan. Dari aspek produktivitas, manajemen stok akan menjadi lebih efisien karena terjadi aliran stok antar apotek dalam satu kawasan. Selain itu dari segi pelanggan juga akan lebih membantu kemudahan mendapatkan produk dengan disparitas harga tidak signifikan.
2.7. Strategi Pemasaran (Kotler, Armstrong, 1996)
Ada 5 konsep yang mendasari suatu strategi pemasaran yaitu segmentasi pasar, penentuan posisi pasar, strategi memasuki pasar, strategi marketing mix dan strategi penentuan waktu.
2.7.1 Segmentasi pasar
Merupakan dasar untuk mengetahui bahwa setiap pasar itu terdiri atas beberapa segmen yang berbeda-beda. Dalam setiap segmen terdapat pembeli-pembeli yang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda, pola pembeli-pembelian yang berbeda-beda, dan tanggapan yang berbeda-beda terhadap berbagai macam penawaran
2.7.2 Penentuan Posisi Pasar
Perusahaan berusaha memilih pola konsentrasi pasar khusus yang dapat memberikan kesempatan maksimum untuk mencapai tujuan sebagai pelopor. Perusahaan baru dapat beroperasi setelah memperoleh posisi tertentu di pasar. Untuk mencapai posisi yang kuat perusahaan harus dapat memasuki segmen pasar yang menghasilkan penjualan serta tingkat laba paling besar.
2.7.3 Strategi Memasuki Pasar
Adalah menentukan bagaimana memasuki segmen pasar yang dituju. Perusahaan dapat menempuh beberapa cara untuk memasuki segmen pasar yang dituju, yaitu membeli perusahaan lain, berkembang sendiri, dan mengadakan kerjasama dengan perusahaan lain
Masalah-masalah yang harus diperhatikan dalam memilih cara memasuki pasar adalah :
a. Membeli perusahaan lain yaitu perusahaan yang membeli tidak banyak mengetahui tentang pasar dari perusahaan yang dibeli; sangat menguntungkan untuk memasuki pasar dari perusahaan yang dibeli secepatnya
b. Berkembang Sendiri, yaitu memperoleh hak paten, skala produksi yang paling ekonomis, memperoleh saluran distribusi, menentukan supplier yang paling menguntungkan dan biaya promosi yang mahal
c. Kerjasama dengan perusahaan lain
Resiko ditanggung bersama-sama, jadi resiko masing-masing perusahaan menjadi berkurang; perusahaan dapat saling melengkapi atau menutupi kekurangan-kekurangan yang ada, karena mereka memiliki keahlian dan sumber sendiri-sendiri.
2.7.4 Strategi Marketing Mix
Marketing Mix adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang
merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yaitu : produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Variabel-variabel marketing mix ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil suatu strategi dalam usaha mendapatkan posisi yang kuat dipasar.
2.7.5 Strategi Penentuan Waktu
Perusahaan dapat mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan apabila bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat. Oleh karena itu masalah penentuan waktu yang tepat sangat penting bagi perusahaan untuk melaksanakan program pemasarannya.
2.8. Kriteria untuk Periklanan yang Efektif (Kotler, Armstrong, 1996)
Kenaikan yang terjadi pada permintaan primer dan permintaan selektif adalah berbeda-beda dari segi kategori produk dan merk-nya. Untuk merubah kesempatan periklanannya, manajer harus mengetahui faktor-faktor mana yang dapat memperkuat pengubahan tersebut. Dalam hal ini ada empat faktor yang paling penting, yaitu :
a. Trend permintaan primernya menguntungkan.
b. Pembedaan produk (product differentiation) telah dilakukan. c. Kualitas produk adalah penting bagi konsumen.