1.2 Petugas Lapangan dan Koordinasi
2.4.9.2 Saran untuk Penentuan Rumah Tangga Sasaran
- PMT adalah metode yang baik untuk diaplikasikan, terutama untuk membangun small
area statistics, dimana banyak indikator vital dari susenas seperti pengeluaran,
pendidikan, pengangguran, gizi, dll yang bisa diproksi datanya dengan metode PMT. - Permasalahan penentuan RTS yang muncul pada P2K08 dan PPLS08 hampir sama.
Pada PPLS08 hampir semua RTS tidak layak miskin adalah yang anggota rumah tangganya sedikit. Tidak ada RTS yang anggota rumah tangganya banyak menjadi tidak layak miskin. Kejadian ini terulang pada P2K08.
- Khusus untuk P2K08, ada yang kurang sesuai dalam penentuan RTS, sebagai contoh data berikut diambil dari Kecamatan Kahu desa Mattoanging. Kalau diperhatikan antara Rumah Tangga Tasmir dan M Nasir (yang ditampilkan hanya yang datanya berbeda) maka terlihat sangat jelas bahwa Tasmir jauh lebih mampu dibandingkan M. Nasir (indikator yang paling berbeda jauh adalah kepemilikan lahan, mobil dan motor). Tetapi hasil PMT menunjukkan bahwa Tasmir (rangking 15) lebih miskin dari pada M. Nasir (rangking 16). Alasan yang paling mungkin adalah bahwa jumlah anggota rumah tangga Tasmir jauh lebih banyak dibanding M. Nasir (7 dan 2) sehingga income perkapita M. Nasir menjadi lebih tinggi (Rp.602111) dibanding Tasmir (Rp.592264) (Lihat tabel isian kuesioner P2K08-ID pada Lampiran 2).
Namun alasan tersebut kurang tepat karena:
- Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan asset, demografi dan prasarana wilayah bukan pendekatan pengeluaran seperti pada susenas.
- Dari dua pendekatan yang berbeda tersebut, maka perlakuannya (menjadikan anggota rumah tangga sebagai pembagi total pengeluaran) juga seharusnya menjadi berbeda. Sebagai contoh asset, rumah tangga dapat memiliki asset (mobil, motor, sofa, hp dll) jika ada selisih antara pendapatan dan pengeluarannya (pengeluaran sendiri sudah dipengaruhi oleh jumlah anggota rumah tangga). Sehingga selisih pengeluaran tersebut (asset) seharusnya tidak ditimbang lagi dengan jumlah anggota rumah tangga atau kalaupun mau ditimbang maka
37
perlakuannya tidak akan sama dengan membagi total pengeluaran dengan jumlah anggota rumah tangga untuk menghasilkan pengeluaran perkapita.
2.4.10KABUPATENENREKANG
2.4.10.1 Permasalahan
Sebenarnya inti dari kegiatan ini adalah pengumuman RTS hasil Metode PMT maupun Hybrid dari pihak BPS, dan komunitas dari pihak Mitra Samya.
Setelah meneliti hasil pencetakan RTS baik Metode PMT maupun Hybrid, maka dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut:
- Ada kecenderung rumahtangga yang masuk dalam RTS adalah rumahtangga yang mempunyai anggota rumahtangga relative banyak, sebaliknya rumahtangga yang anggota rumahtangga sedikit cenderung tidak masuk dalam RTS.
- Keberadaan asset sepertinya kurang mempengaruhi dalam penentuan RTS.
- Ada beberapa wilayah yang kepala rumahtangga atau salah satu anggota rumahtangga adalah PNS masuk di RTS, kode lapangan usaha 9 (perdagangan dan jasa) dan status pekerjaan 4 (buruh/pegawai/karyawan) contoh kasus di Kelurahan Pusseren. Artinya kode sektor kurang mempengaruhi dalam penentuan RTS.
- Pemberian Rp 30.000 hanya untuk RTS rawan konflik. Ada salah satu wilayah yang masyarakat berebut untuk menjadi rangking 1 metode hybrid, dengan harapan akan mendapat uang Rp. 30.000. Namun setelah RTS diumumkan mereka tidak masuk didalamnya. Artinya kerja/andil dan keberadaan Ka SLS dan masyarakat kurang dihargai.
2.4.10.2 Saran
Dari permasalahan diatas saran yang dapat disampaikan adalah:
- Mungkin mengadopsi metode PMT nya PPLS08 tidak salah. Namun kita harus hati-hati, karena dalam PPLS08 populasinya adalah masyarakat miskin (homogen), sedangkan di P2K08 populasinya adalah semua masyarakat (heterogen). Metode PPLS08 yang bisa diadopsi adalah negative question yang ada di LS, sehingga PNS dan kepemilikan asset bisa terdeteksi dini (early warning system).
- Kegiatan ini pendekatan adalah rumahtangga, tapi alat yang dipakai adalah pendapatan perkapita. Kedepan disarankan jika pendekatan adalah rumahtangga maka alat yang dipakai juga rumahtangga. Demikian pula jika tujuannya adalah mencari penduduk miskin tentunya alat yang mungkin paling tepat adalah penduduk perkapita.
38
- Uang Rp 30.000 buat masyarakat sekarang sangat berarti. Jika alasannya untuk rasa terima kasih kenapa tidak dikasihkan kepada semua masyarakat yang terlibat. Atau pemberian bantuan uang tapi ditujukan untuk dana Kas SLS setempat. Sehingga ancaman konflik dapat diminimalkan.
2.4.11KABUPATENTANATORAJA
- Adanya permintaan dari masyarakat yang berada pada desa yang kebetulan SLS-nya tidak terkena sampel meminta untuk didata dengan P2K, artinya respon yang baik dari masyarakat mengenai kegiatan P2K.
- Para pencacah saat melaksanakan tugas di lapangan, pihak kepala desa dan ketua SLS ikut berperan dalam mengantar pencacah.
2.4.11.1 Permasalahan
- Adanya keterlambatan pihak mitra Mitra Samya dalam menyerahkan Form 7B, yang menyebabkan terlambatnya hasil pencacahan dan pengolahan di pihak BPS.
- Nama-nama kepala rumahtangga pada HB (Hybrid Method) masih terdapat perbedaan di lapangan, hal tersebut menyebabkan terganggunya kelancaran petugas pencacah BPS.
2.4.11.2 Saran
Setelah meneliti hasil pencetakan RTS baik Metode PMT maupun Hybrid, maka dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut:
- Keterlambatan pencacahan dan pengolahan oleh pihak BPS disebabkan karena terlambatnya penerimaan Form 7B dari petugas Mitra Samya, sehingga diharapkan ke depan antisipasi atas hal tersebut perlu perhatian untuk tidak terulang lagi untuk hal-hal yang terjadi pada kegiatan P2K ini.
- Banyak PNS yang termasuk RTS, kode lapangan usaha 9 (perdagangan dan jasa) dan status pekerjaan 4 (buruh/pegawai/karyawan).
2.4.12KOTAMAKASSAR
2.4.12.1 Permasalahan
- Pada saat petugas ke lapangan dan menginformasikan kepada ketua SLS, ternyata ketua SLS sebagian besar sudah mengetahui ada kegiatan P2K08. Khususnya di Kota
39
Makassar, untuk mencari rumah tangga tidak ada kesulitan. Hanya saja sebagian besar rumah tangga yang ada di daftar berada di luar SLS.
- Hasil listing yang telah dilakukan sebelumnya, ada nama-nama kepala rumah tangga yang sudah tidak berada di lokasi SLS tersebut masih terdata, padahal waktu pendataan listing dan pencacahan hanya berselang dua minggu.
- Sambutan masyarakat mengenai pendataan P2K08 baik, sebagian besar tidak ada penolakan, hanya responden yang berprofesi pejabat sulit untuk ditemui, demikian pula responden keturunan (Cina) biasanya sulit juga untuk diwawancarai.
- Konsistensi antar pertanyaan yang satu dengan yang lainnya sebagian besar sudah baik. Hanya saja pada blok III keterangan anggota rumah tangga yang seharusnya tidak ditanyakan masih ditanyakan.
- Petugas dari Mitra Samya sebaiknya menginformasikan terlebih dahulu ke kabupaten/kota bahwa ada pertemuan.
- Kerjasama dengan pihak Mitra Samya baik, hanya saja dalam penyelesaian dan penyerahan Form 7B agak terlambat. Sehingga penyelesaian metode hybrid mengalami keterlambatan.
Pada saat pencetakan Rumah Tangga Sasaran (RTS) baik Metode PMT maupun Hybrid, masih terdapat beberapa permasalahan diantaranya :
- Pada hasil pencetakan, yang masuk sebagai RTS cenderung rumah tangga yang anggota rumah tangganya banyak, sementara yang anggota rumah tangganya sedikit cenderung bukan RTS. Padahal kondisi dilapangan tidak seperti itu.
- Pegawai Negeri Sipil banyak yang terdaftar sebagai RTS. Padahal pada konsep tidak seperti itu. Sehingga banyak masyarakat yang protes, utamanya yang tingkat kesejahteraan rumah tangganya lebih rendah tetapi tidak digolongkan sebagai RTS. - Ada juga RTS yang terdaftar memiliki asset seperti motor, tabungan, emas dan
lain-lain. Setelah ditelusuri ternyata dimasukkan sebagai RTS, karena rumah tangga tersebut memiliki ART yang jumlahnya relatif banyak.
2.4.12.2 Saran
- Agar program entry maupun cetak RTS agar diperbaiki lagi sehingga RTS yang dihasilkan betul-betul yang sudah sesuai dengan kriteria telah yang ditentukan.
- Konsep keluarga seharusnya mengacu seperti yang biasa di survei-survei BPS lainya. Karena konsep famili lain yang lebih dari 2 adalah merupakan keluarga bisa multi
40
tafsir seperti contoh famili lain yang umurnya di bawah 15 tahun, kost-kostan yang isinya lebih dari 3 orang.
- BPS sudah melaksanakan kegiatan dengan sebaik-baiknya, namun ada kecenderungan pihak Mitra Samya menunda-nunda kegiatan ini. Implikasi di BPS adalah terganggunya manajemen kerja. Seperti diketahui kegiatan rutin dan khusus di BPS pada saat ini lumayan padat.
2.5PEMASANGAN DAFTAR RUMAH TANGGA SASARAN DAN DISTRIBUSI DANA
Pemasangan daftar rumah tangga sasaran dan distribusi dana, dilakukan pada bulan Februari 2009. Untuk kegiatan ini, KSK menghubungi fasilitator komunitas dari Mitra Samya untuk bersama-sama melakukan pemasangan daftar rumah tangga sasaran sekaligus mendistribusikan dana sebesar Rp. 30.000,- untuk setiap rumah tangga sasaran.
Pemasangan daftar dilakukan di tempat-tempat umum yang mudah dilihat oleh warga setempat, seperti: papan pengumuman RT, warung, rumah ketua RT, dan sebagainya. Pendistribusian dana dilaksanakan secara bijaksana dan transparan untuk tidak menimbulkan konflik di SLS setempat. Cara pendistribusian dana dilakukan dengan cara mengunjungi setiap rumah tangga sasaran dan atau dilakukan dengan cara mengumpulkan para rumah tangga sasaran di suatu tempat.
3.PENGOLAHAN
3.1PELAKSANAAN BAN BERJALAN
Untuk menjamin penyelesaian tepat waktu maka mekanisme pengolahan secara ban berjalan dilakukan, yaitu dokumen yang masuk segera diolah dengan tidak mengesampingkan kelengkapan dan keakuratan dokumen. Khusus untuk metode Hibrid pengolahan didahulukan untuk diambil sampel kemudian ditindaklanjuti dengan verifikasi di lapangan menggunakan Daftar P2K08-ID.
3.2PENCAPAIAN
Dengan menggunakan fasilitas komputer dan tenaga entri yang ada di masing-masing kantor BPS Kabupaten/Kota, pengolahan dokumen dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Data dalam bentuk softcopy dikirim ke BPS Pusat untuk selanjutnya dikompilasi dengan data kabupaten/kota lainnya dan diserahkan ke Bank Dunia.
41
3.3MASALAH TERKAIT DENGAN PENGOLAHAN DAN PENYELESAIANNYA
Masalah yang dihadapi terkait dengan program entry, antara lain:
- Program pengolahan tidak sempurna. Namun, BPS kabupaten/kota selalu berkonsultasi dengan BPS Pusat agar segera dilakukan penyempurnaan sehingga pengolahan dapat terus berjalan.
- Target/kuota untuk metode Hibrid berubah setiap program versi terbaru diterima, sehingga target sampel pusat tidak sama dengan yang dicacah karena tidak memungkinkan kembali ke lapangan dan proses pengolahan sudah selesai.
4.ADMINISTRASI
4.1MEKANISME PENGELOLAAN ANGGARAN
Anggaran P2K08 berasal dari World Bank, dengan rincian setiap kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
Propinsi Kabupaten/Kota Total Budget (Rp)
Pusat 523.201.250 Sumatera Utara 11.350.000 Humbang Hasundutan 55.030.000 Serdang Bedagai 135.702.500 Pematang Siantar 70.940.000 Jawa Tengah 15.850.000 Purbalingga 96.347.500 Wonogiri 60.345.000 Demak 69.522.500 Kendal 132.907.500 Semarang 78.160.000 Sulawesi Selatan 13.600.000 Bone 121.905.000 Enrekang 41.677.500 Tana Toraja 65.092.500 Makasar 72.665.000 Total 1.564.296.250
42
4.2MASALAH DAN PENYELESAIAN
Adanya perubahan kuota RTS pada Metode hibrida mengakibatkan terjadinya perbedaan realisasi jumlah rumah tangga yang seharusnya dicacah dengan P2K08-ID. Hal ini berdampak pada pelaksanaan lapangan, seperti, bila kuota lebih kecil dari kuota yang ditetapkan sedangkan pelaksanaan pencacahan telah selesai dilakukan, maka terjadi kelebihan rumah tangga, dan sebaliknya. Hal ini juga berdampak pada realisasi anggaran untuk pencacahan. Semua daerah mengeluhkan hal ini. Sebagai solusinya, kelebihan rumah tangga yang telah dicacah akan tetap dibayar seperti seharusnya.