5.7 Karakteristik Lapak Pemulung
5.7.2 Sarana Air Bersih
Ketersediaan air bersih merupakan suatu komponen penting bagi seseorang guna memenuhi kebutuhan hidup seperti untuk air minum, mandi, mencuci pakaian, mencuci beras dan sebagainya. Pada lapak pemulung di Kelurahan Beji ini ketersediaan air bersih diperoleh dari air tanah. Dalam hal ini air diambil dengan menggunakan mesin jet pump. Terdapat dua mesin jet pump yang diletakkan di dua kamar mandi. Kamar mandi pertama berada di samping bedeng Ibu Msm sedangkan kamar mandi kedua terdapat di tempat penimbangan. Para pemulung bebas untuk memilih kamar mandi yang akan digunakan.
Mesin jet pump yang tiba-tiba rusak menjadi kendala bagi para pemulung yang ingin mengambil air bersih. Hal ini sering terjadi pada mesin jet pump yang berada di tempat penimbangan. Berikut pernyataan Ibu Snr:
“….kamar mandi yang di tempat penimbangan itu toh mba, suka ngadat. Tapi ntar bisa dibenerin sama Mas Ags, kalo udah ngadat jadi suka pada ngantri di kamar mandi yang dideket Ibu Msm. Kita semua disini perlu air bersih mba, buat minum, mandi, nyuci pakaian, nyuci beras sama sayuran. Kalo ga ada air bersih bisa repot semua mba. Alhamdulillah, kalo air disini bersih kok mba, airnya diambil dari tanah mba.”
Kasus Ibu Snr memperlihatkan bahwa keberadaan air bersih sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat tersedianya air bersih ini dapat menjaga kesehatan bagi para pemulung yang tinggal di lapak pemulung ini. Namun kondisi bangunan kamar mandi yang digunakan pemulung untuk mengambil air bersih kurang layak digunakan. Kedua bangunan kamar mandi tersebut memiliki luas sekitar 2 x 3 meter. Bahan bangunan yang digunakan adalah bilik-bilik bambu dan bambu kuning digunakan sebagai pondasi kamar mandi. Pintu kamar mandi berbentuk persegi panjang dan terbuat dari seng bekas. Kamar mandi di lapak ini
tidak memiliki atap sebagai pelindung dari sinar matahari dan air hujan. Setiap kamar mandi dilengkapi satu bak besar yang berfungsi sebagai penampung air dan dua buah gayung. Posisi WC terdapat di setiap pojok kamar mandi. Letak WC dengan bak kamar mandi dibatasi oleh tembok setinggi 1 meter. Sarana WC pula kurang layak untuk digunakan para pemulung. Sebab WC tersebut terkadang mengalami macet ketika digunakan pemulung. Berikut pernyataan Ibu Spn:
“…..kondisi kamar mandinya emang begini adanya mba, namanya juga kamar mandi dipake bareng-bareng ya mba. kalo ujan saya sebenernya suka males ke kamar mandi, habis ga ada gentengnya gitu mba. Jadi saya harus pake payung biar ga kebasahan. Wc nya kadang-kadang juga suka macet mba, pokoknya WC nya itu harus diguyur pake aer banyak mba biar ga macet. Nyuci baju, nyuci sayuran ya di kamar mandi juga mba, semuanya juga pada begitu”.
Kasus Ibu Spn memperlihatkan bahwa sarana kamar mandi yang menjadi tempat sumber air bersih kurang layak digunakan oleh para pemulung. Tidak adanya sarana kamar mandi lain yang jauh lebih bersih membuat para pemulung bertahan untuk tetap menggunakan kedua kamar mandi tersebut. Belum ada upaya dari Bos Mch untuk merenovasi kamar mandi yang berada di lapak pemulung ini. Kondisi keuangan yang belum tersedia menjadi kendalanya.
5.7.3 Sanitasi
Sanitasi didefinisikan sebagai cara seseorang membuang air limbah rumah tangga. Sistem sanitasi yang baik adalah yang higienis. Artinya, cara mereka membuang limbah rumah tangga tidak mempengaruhi kesehatan diri mereka sendiri, orang lain dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Kondisi lapak pemulung tidak memiliki sanitasi yang baik dan jauh dari kondisi yang higienis. Letak lapak yang bersebelahan dengan rawa, membuat air limbah rumah tangga pemulung mengalir ke daerah rawa. Kondisi rawa sendiri dipenuhi oleh sampah-sampah rumah tangga masyarakat setempat. Akibatnya setiap malam para pemulung disengat oleh nyamuk-nyamuk yang besar. Bagian tubuh pemulung yang disengat nyamuk tersebut akan terasa panas, gatal, dan kulit memerah. Berikut pernyataan Bapak Sdr:
“……kalo abis magrib disini mba, akeh banget nyamukke. Gede-gede mba nyamuknya. Kalo digigit rasanya panas mba, kulitnya jadi agak merah, gatel lagi mba. Sudah saya kasih baygon juga ga mempan mba. Kalo udah malem ga enak aja mba, tidur nya sambil neplokin nyamuk”.
Air yang mengalir dari kamar mandi ke rawa kadang kala alirannya tersumbat. Hal ini karena banyak sampah yang menyumbat di saluran air buangan kamar mandi pemulung sendiri. Banyaknya nyamuk-nyamuk yang berada di lapak ini disebabkan pula oleh tumpukan barang pulungan yang ditimbun pemulung. Barang-barang pulungan tersebut kadang kala dibiarkan berserakan di depan rumah. Sebab pemulung kadang-kadang sudah lelah untuk menyortir barang pulungan sesuai jenisnya setelah memulung. Hal ini terlihat dari kasus Ibu Msm yang hampir setiap hari membiarkan barang pulungannya berserakan di depan bedeng.
Para pemulung di lapak ini pula kurang menjaga kesehatan akan kebersihan tangan mereka. Hal ini terlihat pada kasus Tf yang setelah memulung akan segera makan tanpa terlebih dahulu mencuci tangan. Tf menganggap bahwa ia tidak akan sakit hanya karena tidak cuci tangan sebelum makan. Kasus Ibu Msm pula tidak memperhatikan kebersihan tangannya. Biasanya Ibu Msm setelah menyortir barang pulungannya akan segera makan tanpa terlebih dahulu mencuci tangan.
Para pemulung yang berada di lapak ini biasanya mandi sekali dalam sehari. Biasanya mereka tidak akan mandi ketika memulung dan akan mandi ketika mau tidur. Berikut pernyataan Ibu Km :
“…..kalo mau mulung saya ga mandi mba, entar kan juga kotor lagi toh mba. saya baru mandi kalo udah mau tidur biar seger mba. yah, namanya juga kerjaan gini itu kotor terus mba, bersihnya cuma kalo mau tidur. Bapaknya juga gitu kok.”
Pada kasus Ibu Spn memperlihatkan bahwa kehidupan pemulung memang selalu berdekatan dan berdampingan dengan barang-barang yang kotor dan lingkungan yang tidak sehat. Namun para pemulung dapat bertahan hidup dengan kondisi tersebut. Salah satu hal yang membuat para pemulung dapat bertahan hidup di lapak ini adalah terbatasnya keterampilan untuk memasuki sektor formal.
Para pemulung hanya memiliki keterampilan untuk mencari dan mengumpulkan barang-barang pulungan yang memiliki nilai jual di industri daur ulang. Sebagai contoh, kasus Mas Agk yang tidak memiliki keahlian lain untuk bekerja selain memulung.