• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

4.1.3. Sarana dan Prasarana

Kelurahan Tambun Nabolon memiliki beberapa sarana dan prasarana. Keadaan sarana dan prasarana di Kelurahan Tambun Nabolon akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan masyarakat Kelurahan Tambun Nabolon. Tingkat perkembangan sebuah daerah dapat diukur dengan kondisi sarana dan prasarana yang tersedia di daerah tersebut.

Keberadaan sarana dan prasarana menunjukkan laju petumbuhan di suatu daerah, baik dari sektor perekonomian maupun sektor-sektor lainnya. Semakin baik sarana dan prasarana pendukung maka akan mempercepat laju pembangunan di daerah tersebut.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Kelurahan Tambun Nabolon meliputi bidang pendidikan, kesehatan, dan tempat-tempat ibadah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 Sarana dan Prasarana Di Kelurahan Tambun Nabolon, 2019

No Keterangan Jumlah (Unit)

1 Pendidikan

- SD 1

- SLTA 1

2 Kesehatan

- Puskesmas 1

- Praktek Dokter 1

- Praktek Bidan 6

- Toko Obat 3

3 Sarana Ibadah

- Mesjid 8

- Gereja 4

Jumlah 25

Sumber : Kecamatan Siantar Martoba dalam Angka,2020 4.2 Karakterisitik Sampel

Sampel dalam penelitian ini ada sebanyak 49 petani. Karakteristik petani sampel dalam penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, lama berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, serta luas lahan.

4.2.1 Umur

Umur seorang petani berpengaruh terhadap kinerja dalam kegiatan usahatani.

Petani yang umurnya lebih muda memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dalam bekerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.4 Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur

No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 37-47 10 20,40

2 48-58 19 38,80

3 59-69 17 34,70

4 70-80 3 6,10

Jumlah 49 100,00

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan umur di Kelurahan Tambun Nabolon yang paling tinggi yakni berumur 48 – 58 tahun

sebanyak 19 orang dengan persentase 38,8%, sedangkan yang paling rendah yakni 70 – 80 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 6,1 %.

4.2.2 Jenis Kelamin

Jenis kelamin mempengaruhi kualitas tenaga kerja, apalagi dalam kegiatan proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria memiliki spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanaman. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.5 Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Laki-Laki 29 59,20

2 Perempuan 20 40,80

Jumlah 49 100,00

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Tambun Nabolon yang paling tinggi yakni jenis kelamin laki – laki dimana jenis kelamin laki – laki lebih besar 18,4 % dari persentase jenis kelamin perempuan.

4.2.3 Pendidikan

Salah satu indikator yang dapat menunjukkan tingkat kemajuan dan tingkat keberhasilan pembangunan di daerah adalah tingkat pendidikan. Kualitas sumber daya manusia menjadi komponen penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup salah satunya dengan pendidikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.6 Karakteristik Sampel Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 SD 10 20,40

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan pendidikan di Kelurahan Tambun Nabolon yang paling tinggi yakni SMP

sebanyak 19 orang dengan persentase 38,8%, sedangkan yang paling rendah yakni STM sebanyak 1 orang dengan persentase 2 %.

4.2.4 Lama Berusahatani

Lama berusahatani yaitu jumlah tahun berupa lamanya yang dilalui petani dalam melakukan kegiatan usahatani sebagai bagian dari kegiatan budidaya, produksi, pemanenan maupun pemasaran hasil panen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.7 Karakteristik Sampel Berdasarkan Lama Berusahatani

No Lama Berusahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 10-15 9 18,40

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan lama berusahatani di Kelurahan Tambun Nabolon yang paling tinggi yakni 16 – 20 tahun sebanyak 15 orang dengan persentase 30,6 %, sedangkan yang paling rendah yakni 31 - 35 tahun sebanyak 1 orang dengan persentase 2 %.

4.2.5 Jumlah Tanggungan Keluarga

Petani yang memiliki jumlah tanggungan keluarga yang banyak akan mendorong petani untuk melakukan berbagai aktivitas dalam mencari dan menambah pendapatan sehingga petani dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.8 Karakteristik Sampel Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga No Jumlah Tanggungan

Keluarga (Orang)

Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 1 10 20,40

2 2 24 49,00

3 3 15 30,60

Jumlah 49 100,00

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan jumlah tanggungan keluarga yang paling tinggi yakni 2 orang dengan persentase sebesar 49%.

4.2.6 Luas Lahan

Luas lahan adalah areal lahan yang diusahakan oleh petani dan dinyatakan dalam satuan hektar (Ha). Luas lahan yang ditanami akan mempengaruhi banyaknya tanaman yang dapat ditanam sehingga mempengaruhi besarnya produksi.

Semakin luas lahan yang ditanami jagung maka akan semakin besar pula produksinya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.9 Karakteristik Sampel Berdasarkan Luas Lahan

No Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 0,32-0,60 4 8,20

2 0,64-0,92 27 55,10

3 0,96-1,24 12 24,50

4 1,28-1,56 5 10,20

5 1,60-1,88 1 2,00

Jumlah 49 100,00

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 1)

Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa karakteristik sampel berdasarkan luas lahan di Kelurahan Tambun Nabolon yang paling tinggi yakni 0,64 – 0,92 Ha sebanyak 27 orang dengan persentase 55,1%, sedangkan yang paling rendah yakni 1,60 – 1,88 Ha sebanyak 1 orang dengan persentase 2%.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Produktivitas dan Penerimaan Usahatani Jagung

Penerimaan petani dipengaruhi oleh hasil produksi. Penerimaan adalah perkalian antara produksi dengan harga jual. Penerimaan petani dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.1 Rata – Rata Penerimaan Usahatani Jagung Per Musim Tanam No Uraian Satuan Rata – Rata/Ha Rata-Rata/Petani

1 Produksi Kg 7.760 6.518

2 Harga Rp 3.981 3.981

Jumlah Rp 30.892.560 25.948.158

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 10)

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa produksi jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebesar 7.760 Kg/Ha.

Produksi jagung secara nasional adalah 5.573 Kg/Ha (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2020). Bila produksi jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar dibandingkan dengan produksi rata – rata jagung secara nasional maka dapat dilihat bahwa produksi jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar lebih tinggi 39,24% dari rata – rata produksi jagung secara nasional. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yaitu produktivitas jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar tinggi.

5.2 Analisis Usahatani Jagung

Analisis usahatani jagung bertujuan untuk menganalisis apakah usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar menguntungkan atau tidak. Analisis pendapatan usahatani jagung dapat dihitung dari selisih antara total penerimaan dengan total biaya. Selain itu, digunakan juga analisis kelayakan usahatani jagung yaitu R/C Rasio untuk mengetahui apakah usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar layak atau tidak.

5.2.1 Biaya Usahatani Jagung

Dalam mengelola usahatani jagung, petani di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar mengeluarkan biaya untuk dapat menghasilkan output produksi. Biaya produksi dalam penelitian ini terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Adapun penjabaran masing-masing komponen biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebagai berikut.

Tabel 5.2 Rata - Rata Biaya Usahatani Jagung Per Musim Tanam

No Komponen Biaya Satuan Rata – Rata/Ha Rata-Rata/Petani

1 Biaya Variabel Rp 8.634.888 7.253.306

2 Biaya Tetap Rp 2.729.165 2.292.499

Jumlah Rp 11.364.053 9.545.805

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 9)

Berdasarkan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan petani dalam melakukan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar per 1 kali musim tanam yaitu sebesar Rp 9.545.805 sedangkan rata-rata biaya per hektarnya yaitu sebesar Rp11.364.053.

5.2.2 Pendapatan Usahatani Jagung

Pendapatan yang diperoleh petani jagung dapat dihitung dari selisih antara total penerimaan dengan total biaya. Pendapatan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.3 Rata – Rata Pendapatan Usahatani Jagung Per Musim Tanam No Komponen Biaya Satuan Rata – Rata/Ha Rata-Rata/Petani

1 Total Penerimaan Rp 30.892.560 25.948.158

2 Total Biaya Rp 11.364.053 9.545.805

Jumlah Rp 19.528.507 16.402.353

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 10)

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh petani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar per 1 kali musim tanam adalah sebesar Rp16.402.353 sedangkan rata-rata pendapatan per hektarnya yaitu sebesar Rp19.528.507.

5.2.3 Analisis Kelayakan Usahatani Jagung

Analisis kelayakan usahatani jagung bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan usahatani jagung apakah layak untuk diusahakan atau sebaliknya. R/C rasio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan tersebut, dimana :

- Jika R/C rasio > 1 maka usahatani layak di usahakan - Jika R/C rasio < 1 maka usahatani tidak layak diusahakan - Jika R/C rasio = 1 maka usahatani dikatakan impas Tabel 5.4 Analisis Kelayakan Usahatani Jagung

No Komponen Biaya Satuan Jumlah

1 Total Penerimaan Rp 25.948.158

2 Total Biaya Rp 9.545.805

R/C 2,72

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 10)

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa R/C rasio yaitu sebesar 2,72. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usahatani jagung layak untuk di usahakan karena nilai R/C > 1. Maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan H1 diterima yaitu usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar layak diusahakan.

5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar dapat dilihat dengan menggunakan analisis regresi linear berganda yaitu dengan menggunakan aplikasi SPSS 20 dan Microsoft Excel.Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) dimana variabel bebas tersebut akan diuji dengan menggunakan Regresi Linear Berganda untuk melihat faktor yang mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung (Y) sebagai variabel terikat.

5.3.1 Uji Asumsi Klasik 5.3.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov.

 Jika nilai Sig > 0,05 maka data berdistribusi normal.

 Jika nilai Sig ≤0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

Tabel 5.5 Hasil Uji Normalitas

Uji Sig

Kolmogorov - Smirnov 0,974

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa nilai signifikasi Kolmogorov - Smirnov sebesar 0,974. Nilai signifikasi Kolmogorov - Smirnov (0,974) > α (0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

5.3.1.2 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terdapat korelasi antar variabel bebas. Adanya multikolinieritas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan nilai VIF (variance inflationfactor). Model regresi yang baik tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas.

 Jika Tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas.

 Jika Tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas.

Tabel 5.6 Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel Bebas Collinearity Statistics Tolerance VIF

Biaya Benih 0,222 4,498

Biaya Pupuk 0,304 3,29

Biaya Pestisida 0,283 3,532

Biaya Tenaga Kerja 0,234 4,273

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa masing-masing variabel bebas mempunyai nilai VIF (variance inflation factor) < 10 dan nilai Tolerance masing masing variabel bebas > 0,10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak terjadi multikolinearitas.

5.3.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan varience dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Oleh karena itu, uji yang digunakan adalah uji Glejser dengan melihat nilai signifikansi.

 Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Homoskedastisitas

 Jika nilai signifikansi ≤0,05, maka Heteroskedastisitas Tabel 5.7 Hasil Uji Glejser

Variabel Bebas Sig

Biaya Benih 0,177

Biaya Pupuk 0,211

Biaya Pestisida 0,192

Biaya Tenaga Kerja 0,504

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11) Berdasarkan Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa :

 Nilai signifikansi Biaya Benih sebesar 0,177 > 0,05 maka Biaya Benih adalah homoskedastisitas.

 Nilai signifikansi Biaya Pupuk sebesar 0,211 > 0,05 maka Biaya Pupuk adalah homoskedastisitas.

 Nilai signifikansi Biaya Pestisida sebesar 0,192 > 0,05 maka Biaya Pestisida adalah homoskedastisitas.

 Nilai signifikansi Biaya Tenaga Kerja sebesar 0,504 > 0,05 maka Biaya Tenaga Kerja adalah homoskedastisitas.

Nilai signifikansi keempat variabel bebas > 0,05. Maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

5.3.1.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terdapat korelasi antara variabel itu sendiri pada pengamatan di waktu yang berbeda. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi yaitu dengan melihat pola hubungan antara residual dan variabel bebas. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah uji Durbin-Watson (DW Dest).

 Jika d < dL, maka autokorelasi positif.

 Jika dL ≤ d ≤ dU, maka tidak dapat mengambil kesimpulan apa apa.

 Jika dU ≤ d ≤ 4 – du, maka tidak ada autokorelasi.

 Jika 4 – dU ≤ d ≤ 4 – dU, maka tidak dapat mengambil kesimpulan apa –apa

 Jika d > 4 – dL, maka autokorelasi negatif Tabel 5.8 Hasil Uji Durbin-Watson

Uji d

Durbin Watson 1,939

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.8 dapat dilihat bahwa nilai d sebesar 1,939. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan signifikansi 5%.

- Jumlah sampel (n) = 49 dan jumlah variabel bebas (k) = 4, maka di tabel Durbin-Watson didapatkan nilai dL = 1,3701 nilai dU =1,7210 dan 4 - dU = 2,279.

- Pengambilan keputusannya adalah dU (1,7210) < d (1,939) < 4 - dU (2,279).

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi pada model regresi.

5.3.2 Uji Kesesuain Model

5.3.2.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase pengaruh variabel bebas yaitu Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) mampu menjelaskan variabel terikat yaitu Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

Nilai dari koefisien determinasi (R2) berkisar antara 0 < R2 < 1, dimana dalam kriteria pengujiannya apabila nilai R2 semakin tinggi (mendekati 1) menunjukkan bahwa model yang terbentuk mampu menjelaskan keragaman dari variabel terikat, begitu pula sebaliknya.

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa nilai R2 (Koefisien Determinasi) atau R Square adalah 0,868. Hal ini menunjukkan bahwa Biaya Benih (X1),

Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) berpengaruh 86,8% terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar. Sisanya sebesar 13,2 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk ke dalam penelitian.

5.3.2.2 Uji F (Simultan)

Uji F digunakan untuk mengetahui signifikan tidaknya pengaruh variabel bebas secara simultan yaitu Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) terhadap variabel terikat yaitu Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

Adapun kriteria pengujian dalam uji F ini adalah:

 Jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jika H0 diterima artinya Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) secara simultan tidak berpengaruh nyata terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

 Jika nilai signifikansi ≤0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jika H1 diterima artinya Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) secara simultan berpengaruh nyata terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

Tabel 5.10 Hasil Uji F

Uji Sig

Uji F ,000

Sumber : Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.10 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi yaitu 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari nilai α yaitu 5%

atau 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang mempunyai arti Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) berpengaruh secara simultan dan nyata terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

5.3.2.3 Uji t (Parsial)

Uji t digunakan untuk mengetahui signifikan tidaknya pengaruh variabel bebas secara parsial yaitu Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3)

dan Biaya Tenaga Kerja (X4) terhadap variabel terikat yaitu Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

Adapun kriteria pengujian dalam uji t ini adalah:

 Jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jika H0 diterima artinya Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

 Jika nilai signifikansi ≤0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jika H1 diterima artinya Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) dan Biaya Tenaga Kerja (X4) secara parsial berpengaruh nyata terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y).

Tabel 5.11 Hasil Uji t

Variabel Koefisien Regresi t Sig

Konstanta 504655,913 4,533 ,000

Biaya Benih 3,634 4,204 ,000

Biaya Pupuk 2,511 3,002 ,004

Biaya Pestisida 3,083 3,547 ,001

Biaya Tenaga Kerja -0,987 -1,385 ,173

Sumber: Data Primer Diolah (Lampiran 11)

Berdasarkan Tabel 5.11 dapat dilihat bahwa Biaya Benih (X1), Biaya Pupuk (X2), Biaya Pestisida (X3) berpengaruh secara parsial terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) sedangkan Biaya Tenaga Kerja (X4) tidak berpengaruh secara parsial terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y), maka dapat dilihat persamaan dan keterangannya sebagai berikut :

Y = 5046505,913 + 3,634 X1 + 2,511 X2 + 3,083 X3 - 0,987 X4

Dimana :

Y = Pendapatan Usahatani Jagung (Rp) a = Konstanta

b1-b4 = Koefisien Variabel Regresi X1 = Biaya Benih (Rp)

X2 = Biaya Pupuk (Rp) X3 = Biaya Pestisida (Rp) X4 = Biaya tenaga kerja (Rp)

1. Pengaruh Biaya Benih (X1) Terhadap Pendapatan Usahatani Jagung Hasil uji t pada Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai signifikansi Biaya Benih (X1) sebesar 0,000 < 0,05 atau α = 5%, artinya Biaya Benih (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

Nilai koefisien biaya benih pada Tabel 5.11 yaitu sebesar 3,634 yang bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan biaya benih sebanyak 1 Rp dengan menganggap faktor lain tetap maka terjadi peningkatan pendapatan usahatani jagung. Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebesar 3,634 rupiah.

Pembelian benih yang dilakukan oleh petani tergantung dari luas lahan yang dimiliki. Petani menggunakan benih dalam satu musim tanam hanya sekali yaitu membeli benih jagung untuk awal penanaman. Benih yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih hibrida terdiri dari Bisi 18, NK 212 dan Pioneer P32.

Biaya benih yang dikeluarkan oleh petani mempengaruhi pendapatan usahatani jagung karena benih jagung yang bermutu tinggi dapat meningkatkan produksi jagung sehingga pendapatan usahatani jagung meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amini Pali (2016) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung. Di dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya benih berpengaruh siginifikan terhadap pendapatan usahatani jagung karena pemberian benih kedalam lahan pertanaman sesuai dengan luas lahan yang ditanami.

2. Pengaruh Biaya Pupuk (X2) Terhadap Pendapatan Usahatani Jagung Hasil uji t pada Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai signifikansi Biaya Pupuk (X2) sebesar 0,004 < 0,05 atau α = 5%, artinya Biaya Pupuk (X2) bepengaruh secara signifikan terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

Nilai koefisien biaya pupuk pada Tabel 5.11 yaitu sebesar 2,511 yang bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan biaya pupuk sebesar 1 Rp dengan menganggap faktor lain tetap maka terjadi peningkatan

pendapatan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebesar 2,511 rupiah.

Penggunaan pupuk sangatlah bermanfaat dalam mempertahankan unsur hara yang ada di dalam tanah, menyediakan kandungan unsur hara yang kurang atau bahkan yang tidak tersedia di dalam tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman. Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pupuk urea, pupuk phonska, pupuk za serta pupuk npk mutiara. Petani jagung mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk agar produksinya dapat meningkat sehingga pendapatan petani jagung juga meningkat.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yan Frandy Ginting (2020) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani jagung. Di dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya pupuk berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani jagung.

3. Pengaruh Biaya Pestisida (X3) Terhadap Pendapatan Usahatani Jagung Hasil uji t pada Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai signifikansi Biaya Pestisida (X3) sebesar 0,001 < 0,05 atau α = 5%, artinya Biaya Pestisida (X3) bepengaruh secara signifikan terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

Nilai koefisien biaya pestisida pada Tabel 5.11 yaitu sebesar 3,083 yang bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan biaya pestisida sebanyak 1 Rp dengan menganggap faktor lain tetap maka terjadi peningkatan pendapatan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebesar 3,083 rupiah.

Pembelian pestisida dilakukan oleh petani untuk menjaga dan mempertahankan produksi jagung dari serangan hama dan penyakit. Adapun pestisida yang digunakan oleh petani terdiri dari herbisida, insektisida dan fungsida. Jika terdapat hama (ulat, tikus) dan penyakit (busuk batang, bulai, kerdil) serta muncul gulma, maka petani akan menggunakan ketiga jenis pestisida tersebut. Sebelum tanam, petani menggunakan herbisida seperti gramoxon, basmilang, maupun round up untuk mengatasi gulma. Apabila masih terdapat gulma sesudah tanam, maka petani akan menggunakan calaris. Insektisida yang digunakan petani yaitu triton,

megacyper maupun prevathon. Fungisida yang digunakan petani yaitu vilan maupun topsin. Penggunaan pestisida ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman jagung.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amini Pali (2016) bahwa pengeluaran biaya pestisida yang dilakukan oleh petani mempengaruhi pendapatan petani jagung karena penggunaan pestisida yang sesuai dengan kebutuhan jagung dapat mempertahankan hasil produksi akibat serangan hama dan penyakit sehingga produksi jagung diharapkan lebih baik yang mana dapat meningkatkan pendapatan usahatani jagung.

4. Pengaruh Biaya Tenaga Kerja (X4) Terhadap Pendapatan Usahatani Jagung Hasil uji t pada Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai signifikansi Biaya Tenaga Kerja (X4) sebesar 0,173 > 0,05 atau α = 5%, artinya Biaya Tenaga Kerja (X4) tidak bepengaruh secara signifikan terhadap Pendapatan Usahatani Jagung (Y) di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar.

Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.

Nilai koefisien biaya tenaga kerja pada Tabel 5.11 yaitu sebesar - 0,987 yang bertanda negatif. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan biaya tenaga kerja sebanyak 1 Rp dengan menganggap faktor lain tetap maka terjadi penurunan pendapatan usahatani jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar sebesar 0,987 rupiah.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rangkuti, et al (2014).

Tenaga kerja menjadi salah satu faktor dalam keberlangsungan usahatani jagung mulai dari penanaman, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit tanaman (HPT) serta pemanenan. Tenaga kerja yang digunakan berasal dari luar maupun dari dalam keluarga. Penggunaan tenaga kerja akan menaikkan biaya produksi sehingga pendapatan yang diperoleh akan berkurang.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

1. Produktivitas jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar tinggi.

2. Usahatani Jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar adalah usaha yang menguntungkan.

2. Usahatani Jagung di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar adalah usaha yang menguntungkan.

Dokumen terkait