• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1.4 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana di Kecamatan Tigabinanga sudah cukup memadai.

Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis sarana yang telah tersedia baik sarana

kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, dan prasarana lainnya seperti pasar tempat

penjualan hasil-hasil pertanian, sarana transportasi, listrik, KUD, Kios Saprodi,

Bank Umum serta prasarana lainnya.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa petani tidak mengalami kesulitan

dalam memperoleh sarana produksi dan penjualan hasil karena sarana dan

prasarana sudah mendukung tataniaga pertanian di Kecamatan Tigabinanga.

Keadaan sarana dan prasarana di Kecamatan Tigabinanga dapat dilihat pada

Tabel 8. Sarana dan Prasarana di Kecamatan TigabinangaTahun 2009

No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah

(unit) 1 Kesehatan a. Puskesmas b. Polindes c. Pustu d. BPU e. BKIA 1 10 10 3 7 2 Pendidikan a. TK b. SD c. SLTP d. SLTA 4 22 4 2 3 Tempat ibadah a. Gereja b. Mesjid C. Mushola 36 13 2 4 KUD

Kios Saprodi Pertanian Bank Umum BPR Penginapan 6 40 3 1 2

Sumber : Kecamatan Tigabinanga dalam angka, BPS Sumut Tahun 2010

Melalui Tabel 8 dapat dilihat bahwa di Kecamatan Tigabinanga telah

tersedia sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan sosial masyarakat

Tigabinanga. Prasarana lainnya yang yang tersedia di Kecamatan Tigabinanga

berupa jalan dan jembatan sebagai jalur transportasi bagi pengangkutan. Keadaan

prasarana jalan yang tersedia antar desa di kecamatan sudah mendukung kegiatan

sosial ekonomi masyarakat, akan tetapi jalan provinsi yang menghubungkan

Kecamatan Tigabinanga dengan Ibukota Kabupaten Karo kondisinya sangat

memprihatinkan sehingga mengganggu kegiatan transportasi.

Jumlah rumah tangga pelanggan PLN di Kecamatan Tigabinanga adalah 4167 dari

5789 kepala keluarga. Di Kelurahan Tigabinanga terdapat pasar tradisional yang

tangga, hasil-hasil tanaman keras, tanaman hortikultura, tanaman semusim kecuali

jagung dan padi. Kondisi pasar ini sudah cukup baik dalam mendukung roda

perekonomian masyarakat Kecamatan Tigabinanga.

Penyelenggaraan Sistem perbankan yang menyediakan fasilitas untuk

pembayaran dan memperoleh kredit guna pembiayaan tataniaga juga sudah

dirasakan masyarakat yang dijalankan oleh bank umum, BPR atau

koperasi-koperasi, maupun melalui skim kredit tradisional dengan catatan pelaku skim

kredit tradisional cukup banyak.

4.1.5. Karakteristik Responden

Adapun karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur,

tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, lama bermitra. Karakter petani responden

dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini:

Tabel 9. Karakteristik Responden petani Jagung

No Uraian Satuan Range Rataan

1 Luas Lahan Ha 0,50-4,40 1,77

2 Umur Tahun 30-62 45,10

3 Tingkat Pendidikan Tahun 6-17 10,16

4 Lama Bermitra Tahun 2-12 6,50

5 Jumlah Tanggungan Jiwa 0-4 2,27

Sumber : Data diolah dari lampiran 1

Dari Tabel 9 diketahui bahwa luas lahan rata-rata petani jagung adalah

1,77 Ha dengan range0,50-4,40 Ha. Umur rata-rata petani adalah 45,10 Tahun

dengan range 30-62 Tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia petani responden

masih tergolong pada usia produktif dimana secara fisik memiliki potensi dalam

dan range 6-17 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani

responden adalah setingkat SMP.

Petani responden sudah cukup lama bermitra dengan avalis, hal ini dapat

dilihat dari Tabel 9 bahwa lama bermitra rata-rata 6,50 Tahun, dengan range 2-12

tahun. Ini menunjukkan pembiayaan usahatani jagung melalui skim kredit

tradisional sudah berlangsung cukup lama di daerah penelitian.

Jumlah tanggungan keluarga petani rata-rata 2,27 jiwa denan range 0- 4

jiwa. Jumlah ini menunjukkan bahwa tanggungan keluarga petani responden

relatif kecil. Dalam berusahatani jagung petani tesponden memerlukan tenaga

kerja luar keluarga dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Selanjutnya karakter avalis dapat dilihat pada Tabel 10 berikut:

Tabel 10. Karakteristik Responden Avalis

No Uraian Satuan Range Rataan

1 Umur Tahun 41-48 40

2 Tingkat Pendidikan Tahun 15-17 16,33

3 Lama Berusaha Tahun 7-15 10

4 Jumlah pelanggan Jiwa 240-370 320

5 Jumlah kredit dikucurkan

setiap musim tanam

Rp 400 Juta-

1 Milyar

700 Juta

Sumber : Data diolah dari lampiran 2

Dari Tabel 10 dapat dikemukakan bahwa umur rata-rata sampel avalis

adalah 44 tahun dengan kisaran 41-48 tahun. Artinya responden masih tergolong

dalam usia produktif dan secara fisik masih punya potensi tinggi untuk melakukan

aktifitas.

Tingkat pendidikan rata-rata sampel avalis cukup tinggi mulai dari D3

sampai S1, artinya wawasannya cukup tinggi dalam mengelola Skim Kredit

Tradisional. Pengalaman adalah lamanya avalis bermitra dengan petani dan

10 tahun dengan range 7-15 tahun. Dua diantaranya sebagai avalis melanjutkan

usaha orang tua, dan dari segi pengalaman tentu sampel avalis dalam mekanisme

kredit tradisional dalam pembiayaan usahatani jagung di daerah penelitian.

Jumlah pelanggan sampel avalis rata-rata 320 orang petani dengan range

240-370 orang. Data mengindikasikan bahwa petani jagung di daerah penelitian

bermitra dengan avalis usahatani jagung terutama dalam pemanfaatan mesin jasa

mesin pipil milik avalis dan membantu pembiayaan terutama dalam penyediaan

sarana produksi usahatani jagung.

Jumlah Kredit yang dikucurkan avalis ke petani sampel rata-rata

Rp 4.910.132 dengan range Rp 1.175.000- Rp 12.564.000. Avalis responden

mengucurkan kredit kepada petani jagung antara 400 juta sampai Rp 1 Milyar dan

rataan sebesar Rp 700 Juta. Hal ini menunjukkan bahwa petani jagung di

Kecamatan Tigabinanga sangat berminat menggunakan pembiayaan melalui Skim

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Sekilas Mengenai Petani Jagung dan Skim Kredit Tradisional

Kecamatan Tigabinanga terdiri dari 19 desa seluruhnya mengusahakan

tanaman jagung sehingga kecamatan ini termasuk sentra produksi jagung di

Kabupaten Karo. Pada umumnya petani tidak memiliki mesin pipil, petani jagung

memanfaatkan jasa mesin pipil milik avalis, karena hasil produksi jagung yang

dijual petani adalah jagung pipil. Pemilik mesin pipil punya areal yang luas untuk

menampung produksi jagung tongkol.

Di daerah penelitian jagung diusahakan dua kali setahun dimana kisaran

produksi per Ha berkisar 7-9 ton jagung pipil setiap musim tanam. Jagung

tongkolan yang sudah dipanen dibawa ke tempat pemipilan. Setelah ada

kesepakatan harga dengan pedagang, tongkolan jagung dipipil oleh karyawan

avalis. Jagung dipipil dengan ongkos Rp 80/kg. Setelah pemipilan selesai jagung

disimpan ke dalam gudang avalis sebelum diangkut oleh pedagang. Dari keadaan

dari keadaan inilah awal kemitraan antara petani dengan avalis dalam Skim Kredit

Tradisional.

Pada awalnya pemilik mesin pipil ini hanya menyewakan mesin pipil

jagung dengan ongkos Rp 80/kg, untuk mempertahankan jumlah pelanggan

pengguna jasa mesin pipil dan jumlah pipilan avalis sekaligus menyediakan

kebutuhan usahatani jagung sebagai kredit usahatani.

Kredit usahatani jagung diberikan dengan pembayaran setelah hasil panen

Pemberian kredit ini adalah kesepakatan petani dengan pemilik mesin pipil

(avalis) tanpa ada persyaratan yang mengikat (agunan) hanya dengan ikatan sosial

dan saling percaya. Kemudahan pemberian kredit hanya dengan hubungan

integrasi sosial yang kuat menyebabkan Skim Kredit Tradisional ini sebagai

lembaga informal yang diminati oleh petani jagung di Kecamatan Tigabinanga.

Pada umumnya avalis bertempat tinggal di areal pemipilan jagung

sehingga mudah ditemui oleh petani jagung. Karena alasan kekurangan modal

petani datang menemui avalis dan meminta kredit untuk kekurangan kebutuhan usahataninya, bahkan ada petani meminjam dalam bentuk uang tunai seperti untuk

keperluan sekolah anak, biaya perobatan dan kebutuhan mendadak lainnya juga

dipenuhi yang jumlahnya disesuaikan dengan hasil panen petani dan dikenakan

bunga 3% - 5% per bulan sampai pada pelunasan. Avalis mencatat jumlah dan tanggal transaksi peminjaman. Di lokasi ini juga avalis mendirikan bangunan gudang penyimpanan sarana produksi, penyimpanan alat dan mesin pipil,

penyimpanan sementara hasil panen sebelum diangkut oleh pedagang, dan tempat

tinggal karyawan. Avalis menggunakan 2 mesin pipil dengan kapasitas 16,5 HP yang dioperasikan oleh 7-10 orang per mesin, dengan upah Rp30/kg.

5.2 Kinerja Skim Kredit Tradisional Dengan Petani Jagung

Menurut pendapat Prawiro Suntaro (1999) kinerja adalah prosedur dan

hasil kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi

dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu.

Mengukur kinerja berarti mengukur sejauhmana tingkat keberhasilan suatu

digunakan para ahli, salah satunya adalah model CIPP ( Context – Input – Process – Product). Model CIPP melihat kepada keempat dimensi yaitu dimensi perencanaan tujuan , dimensi dasar hubungan, dimensi proses pencapaian tujuan

dan dimensi pencapaian tujuan. Keunggulan model ini adalah pada setiap tipe

evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan yang menyangkut

perencanaan dan operasional program, memberikan suatu format evaluasi yang

koperhensif.

Menurut hafsah (2000), sebelum dua pihak memulai untuk bekerja sama dalam

kemitraan, maka pasti ada suatu nilai tambah yang ingin diraih oleh

masing-masing pihak. Nilai tambah itu tidak selalu dalam bentuk nilai ekonomi seperti

peningkatan modal dan keuntungan, perluasan pangsa pasar, tetapi juga

non-ekonomi seperti peningkatan kemampuan manajemen, penguasaan teknologi dan

kepuasan tertentu. Batasan dari pencapaian keinginan tersebut harus didasari

sampai sejauh mana kemampuan untuk memanfaatkan keinginan tersebut untuk

memperkuat keungulan-keunggulan yang dimiliki, sehingga dengan bermitra

terjadi sinergi antara pelaku yang bermitra, sehingga nilai tambah yang diterima

akan lebih besar.

Begitu juga dengan pembiayaan usahatani jagung pada skim kredit

tradisional, avalis menyediakan input produksi kepada petani yang kekurangan

modal, atau pinjaman dalam bentuk uang tunai, sehingga terjamin

keberlangsungan produksi pada usahatani jagung, petani tidak perlu menyerahkan

jaminan akan tetapi hanya dengan saling mengenal dan saling percaya dalam

yang kuat, dan rasa percaya avalis karena telah mengetahui hasil produksi jagung

dari musim tanam sebelumnya.

Disamping karena kepercayaan hubungan kekeluargaan ada juga

kepercayaan pada kelancaran sistem tataniaga jagung di Kecamatan Tigabinanga.

Kemudahan lain yang dirasakan petani adalah jenis, jumlah dan waktu

peminjaman disesuikan dengan kebutuhan usahatani jagung. Fleksibelitas sangat

diutamakan dalam skim kredit tradisional, tanpa prosedur yang panjang dan

pinjaman akan dikembalikan setelah hasil produksi terjual, pembeli menyerahkan

hasil penjualan jagung kepada avalis kemudian memotong pinjaman serta bunga

dan menyerahkan kepada petani.

Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja Skim kredit Tradisional

dalam pembiayaan usahatani jagung di daerah penelitian adalah gambaran empat

dimensi Evaluasi sebuah kerja sama, antara lain:

1. Kebutuhan avalis dan petani jagung

2. Dasar Kepercayaan antara avalis terhadap petani dan kepercayaan petani

terhadap avalis dalam kerja sama

3. Cara avalis dan petani jagung mencapai tujuan dalam pembiayaan usahatani

jagung

4. Evaluasi hasil kerja sama yang diukur dari pencapaian kebutuhan-kebutuhan.

Dari empat dimensi ini akan diuraikan secara rinci atas beberapa indikator.

Berdasarkan hasil penelitian gambaran Penilaian atas kinerja Skim kredit

tradisional dalam pembiayaan usaha tani jagung di daerah penelitian dapat dilihat

Tabel 11. Penilaian Kinerja Skim Kredit Tradisional Dalam Pembiayaan Usahatani Jagung

No Uraian Penilaian

Indikator Kinerja Jawaban Responden Jumlah

Skor a (orang) b (orang) c (orang) Harapan Diperoleh 1. 2. 3. 4. Context Input Procces Product

1. Ada perencanaan meperoleh keuntungan dari kerjasama

2. Ada perencanaan adanya penyedia modal dalam bentuk input produksi pada usahatani jagung

3. Ada Perencanaan adanya penyedia pinjaman dalam bentuk uang tunai

1. Terjalin rasa saling percaya antara avalis dengan petani 2. Ada komunikasi yang terbuka

antara avalis dengan petani 3. Ada jaminan kualitas, kuantitas

dan kontiunitas input produksi yang diberikan avalis sesuai dengan kebutuhan petani jagung 4. Avalis dapat menjamin

ketersediaan pinjaman petani dalam bentuk uang tunai

1. Petani menyerahkan agunan kepada avalis

2. Avalis dapat memenuhi permintaan jumlah dan jenis input produksi usaha tani jagung yang diminta petani

3. Avalis dapat memenuhi permintaan pinjaman petani dalam bentuk uang tunai 4. Lama realisasi Pinjaman

kebutuhan usahatani dan uang tunai oleh avalis

5. Frekuensi petani mengambil pinjaman kepada avalis dalam satu

periode tanam

6. Jumlah bunga yang dibebankan kepada petani

7. Petani menggunakan pinjaman input produksi hanya untuk keperluan usaha tani jagung

1.Avalis Dapat Memenuhi Kebutuhan Usaha Tani Jagung

2.Avalis Dapat Memenuhi Permintaan Pinjaman Dalam Bentuk Uang Tunai

3.Ketepatan Waktu Ketersediaan Pinjaman oleh avalis

4.Petani melunasi pinjamannya tepat 5.kerjasama Menguntungkan Ketercapaian Kinerja 33 33 15 33 33 33 24 33 33 33 33 33 0 19 33 33 33 16 21 0 0 18 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 17 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 0 0 0 0 0 0 99 99 99 297 99 99 99 99 396 99 99 99 99 99 99 99 693 99 99 99 99 99 595 1881 99 99 81 279 (93.93%) 99 99 99 90 387 (97.72%) 99 99 99 99 99 33 85 613 (88.45%) 99 99 99 82 87 466 (78.31%) 1745 (92.76%)

Berdasarkan Tabel 11 dapat dikemukakan bahwa penilaian kinerja Skim

Kredit tradisional dalam pembiayaan usahatani jagung di daerah penelitian adalah:

4. Evaluasi Kebutuhan

Perencanaan kebutuhan antara avalis dan petani jagung diketahui mencapai

93,93 % yang berarti petani dan avalis sudah mengerti betul apa yang mereka

butuhkan dalam pembiayaan usahatani jagung.

5. Evaluasi Kepercayaan

Dasar kepercayaan avalis terhadap petani jagung dan kepercayaan petani

terhadap avalis diketahui mencapai 97,72% data ini menunjukkan bahwa

dasar kepercayaan antara avalis dengan petani jagung sangat kuat. Responden

dalam penelitian ini mengatakan bahwa avalis dan petani peminjam memiliki

ikatan sosial yang kuat, berada dalam ikatan tradisi yang masih memegang

kuat ikatan Rakut sitelu Tutur siwaluh dalam budaya Karo, avalis dan petani selalu bertemu dalam acara adat seperti pernikahan atau acara adat lainnya.

Kedekatan dalam hubungan sosial inilah menjadi dasar keparcayaan avalis

terhadap petani. Dari pengalaman inilah Avalis dapat percaya bahwa petani

peminjam tidak akan mengingkari pinjamannya karena petani tidak ingin

dinilai oleh masyarakat sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut avalis responden apabila hasil panen rendah atau harga jual rendah

sehingga pinjaman petani lebih besar dari hasil produksi, petani tidak harus

melunasi pinjamannya dari usaha yang lain tetapi petani akan membayar

utangnya setelah panen pada musim tanam berikutnya apabila hasil jual

sebagai sumber pembiayaan usahatani jagung karena petani mengetahui dari

pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain.

6. Evaluasi Proses

Evaluasi mengenai Proses peminjaman melalui skim kredit tradisional

diketahui mencapai 88,45% data menunjukkan bahwa prosedur peminjaman

melaui skim kredit tradisional sangat mudah dan jenis kredit yang ditawarkan

avalis sangat diminati petani jagung. Seperti yang dikatakan petani sampel,

avalis mampu memenuhi kebutuhan sarana produksi dan uang tunai yang

diminta petani tepat pada saat dibutuhkan, peminjaman dapat dilakukan

berkali-kali dengan batasan jumlah pinjaman tidak melebihi hasil produksi,

petani tidak perlu menyerahkan agunan, Waktu ketrsediaan pinjaman sangat

cepat yaitu setelah petani menemui avalis dan mengutarakan kebutuhannya,

avalis memberikan pinjaman kepada petani dan mencatat nama, tanggal, jenis

dan jumlah pinjaman. Namun yang dari evaluasi proses diketahui bunga yang

dibebankan avalis cukup tinggi yaitu sebesar 3-5%/bulan, tetapi mengingat

kemudahan-kemudahan peminjaman melalui skim kredit tradisional petani

banyak menggunakannya sebagai sumber pembiayaan.

7. Evaluasi Hasil

Evaluasi terhadap pencapaian kebutuhan diketahui mencapai 78,31% dari

harapan. Hasil dari kerja sama ditetapakan antara lain : jumlah, jenis dan

ketersediaan kebutuhan usahatani oleh avalis sangat sesuai dengan kebutuhan

petani jagung. Tetapi karena Kemarau dan keadaan lingkungan yang

jagung tidak selalu menguntungkan sehingga pelunasan pinjaman

kadang-kadang tidak tepat waktu.

Dari keseluruhan evaluasi CIPP diketahui kinerja skim kredit tradisional dalam pembiayaan usahatani jagung di daerah penelitian mencapai 92,76% (1745) dari

skor harapan adalah 1881. Melaui tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kinerja

kemitraan antara petani jagung dengan avalis di daerah penelitian tergolong dalam

kategori baik. Dengan demikian hipotesis (1) diterima, yang menyatakan bahwa

Kinerja antara skim kredit dengan petani jagung di daerah penelitian adalah baik.

5.3 Kelayakan Usahatani Jagung

Sistem usahatani jagung di Kecamatan Tigabinanga menerapkan pola

monokultur yaitu hanya menanam satu tanaman pada satu usahatani yaitu

tanaman jagung. Tanaman jagung ditanam dua kali dalam setahun, musim tanam I

pada Bulan Januari - Februari, musim tanam II yaitu antara Bulan Juli- Agustus.

Tahapan usahatani jagung adalah sebagai berikut:

Pengolahan lahan, penanaman, penyemprotan herbisida, pemupukan I,

pemberantasan gulma, penyemprotan fungisida, pemupukan II, panen, pipil.

Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan bertujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai

bagi pertumbuhan dan pembentukan hasil. Lahan yang telah memadat dan keras

harus diolah kembali agar menjadi agrega-agregat tanah yang lebih halus sehingga

berstruktur gembur. Di daerah penelitian pengolahan lahan dilakukan dengan

Penanaman

Penanaman dilakukan apabila lahan sudah cukup lembab. Penanaman benih tidak

dilaksanakan apabila hujan belum turun, karena pada masa perkecambahan

membutuhkan air yang banyak. Apabila air tidak cukup akan mengakibatkan

keterlambatan perkecambahan dan pertumbuhan tanaman jagung tidak merata.

Cara-cara penaman benih dilakukan sebagai berikut: Lubang tanam dibuat

dengan menggunakan tugal sedalam ± 3 cm, jarak tanam yang umum digunakan

adalah 40 cm x 80 cm dan jumlah benih 2 biji per lubang tanam. Jumlah benih

rata-rata yang digunakan petani sampel di daerah penelitian 17.95 kg/Ha dengan

biaya sebesar Rp 807711.86/Ha. Benih jagung yang digunakan dari jenis hibrida

yaitu NK 22, NK 99, BISI 12, BISI 816, C7 dan Pioner. Beberapa petani

menggunakan pupuk organik dan dolomit sebagai pupuk dasar. Tenaga kerja yang

dibutuhkan dalam 1 Ha lahan siap tanam adalah 7.97 HKO dengan biaya Rp

49361.7/HKO atau dengan biaya Rp 393220.32/ Ha.

Penyemprotan Herbisida

Setelah penanaman lahan disemprot menggunakan herbisida sistemik.

Herbisida yang biasa digunakan adalah Round-up dengan volume semprot 1.96

liter/ Ha, biaya untuk pembelian herbisida adalah sebesar Rp 60054.24. Tenaga

kerja yang digunakan dalam 1Ha lahan adalah 1.28 HKO menggunakan sprayer

dengan biaya sebesar 77589.45/ Ha. Penyemprotan II menggunakan herbisida

kontak. Herbisida yang digunakan adalah Gromoxone dengan volume semprot

2.91 liter/Ha dengan biaya pembelian sebesar Rp. 145480.23. Tenaga kerja dalam

Pemupukan

Di Kecamatan Tigabinanga waktu pemupukan sangat bergantung kepada

ketersedaian air oleh alam. Bila hujan turun pemupukan dilakukan setelah

tanaman berumur 7 hari. Jenis pupuk yang digunakan cukup bervariasi antara lain

Urea sebanyak 229.38 kg/Ha, SP36 sebanyak 99.81 kg/Ha, KCl sebanyak 45.20

kg/Ha, Za sebanyak 86.63 kg/Ha, NPK sebanyak 6.59 Kg/Ha, Amophos sebanyak

23.54 Kg/Ha, Phonska sebanyak 53.67 kg/Ha, Rata-rata jumlah pupuk yang

digunakan petani jagung di daerah penelitan sebanyak 544.82kg/Ha dengan

kombinasi 3 dan 4 jenis pupuk. Pemupukan pertama sebanyak 6 zak (300 kg) dan

pemupukan II sebanyak 5 zak (250kg). Tenaga kerja yang dibutuhkan 3.76 HKO

dengan biaya Rp 337288.14/ Ha.

Pembubunan

Pembubunan dalam bahasa setempat disebut dengan tutup kaki dilakukan setelah

pemupukan II. Tanah untuk membumbun diambil dari sekitar tanaman.

Pembubunan dilakukan menggunakan cangkul. Dalam 1 Ha lahan membutuhkan

10 HKO dengan biaya sebesar Rp 700000.

Penyemprotan Fungisida

Penyakit yang sering menyerang tanaman jagung di daerah penelitian adalah

penyakit hawar daun, apabila penyakit tanaman terlambat ditangani dapat

menyebabkan penurunan jumlah produksi. Petani sampel menggunakan fungisida

biaya sebesar Rp 60054.24. Tenaga kerja yang digunakan dalam penyemprotan

fungisida adalah 1.28 HKO dengan biaya sebesar Rp 40037.67.

Penyemprotan dilaksanakan sebelum pemupukan II.

Panen

Panen jagung dilakukan setelah tanaman berumur 4 bulan. Pemanenan dilakukan

dengan cara memetik tongkol dari tanaman. Tenaga kerja untuk panen 15.38 HKO

dengan biaya sebesar Rp 949755.18 / Ha. Petani menggunakan bekas Goni pupuk

urea sebagai tempat penyimpanan sementara tongkol jagung dan kemudian

diangkut ke tempat pemipilan jagung.

Pemipilan Jagung

Petani jagung tidak memiliki alat pipil sendiri, sehingga harus mengangkut

hasil panen tongkolan jagung ke tempat pemipilan dengan biaya pipil Rp 80/ kg.

Dari sinilah awal kerja sama petani jagung dengan pemilik mesin pipil jagung,

karena alasan kekurangan modal dalam berusaha tani jagung, petani meminta

pinjaman kepada avalis dan pengembalian pinjaman adalah setelah hasil panen

terjual.

Analisis Usahatani Jagung dan uraian kegiatan usahatani di daerah

penelitian yang menggunakan sumber pembiayaan dari avalis dapat dilihat pada

Tabel 12. Analis Usahatani Jagung di daerah penelitian

Luas lahan Per petani

Per Ha

No

. Uraian Kegiatan Volume Jumlah

Satuan Satuan Biaya (Rp) Volume Jumlah (Rp) (Rp) I INPUT A. Penggunaan Sarana Produksi 1. Benih Kg 45000 31.77 1429500 17.95 807711.86 2. Pupuk Anorganik a. Urea Kg 2000 406 813333.3 229.38 458757.06 b. SP-36 Kg 3700 176.67 653666.7 99.81 369310.17 c. KCl Kg 5800 80 464000 45.20 262146.89 d. Za Kg 1600 153.33 245333.3 86.63 138603.39 e. NPK Kg 7700 11.67 89833.33 6.59 50767.80 f. Amophos Kg 5000 41.67 208333.3 23.54 117711.86 g. Phonska Kg 2000 95 190000 53.67 107344.63 3. Pupuk organik Kg 2000 43.33 86666.67 24.48 48960.45 4. Dolomit Kg 1200 11.67 14000 6.59 7911.86 Jumlah Pupuk 2765167 1562241.06 5..Insektisida ml 250 313.13 78333.33 176.91 44227.40 6. Fungisida ml 600 177.16 106300 100.09 60054.24 7. Herbisida Sistemik liter 50000 3.47 173333.3 1.96 98022.60

8. Herbisida kontak liter 50000 5.15 257500 2.91 145480.23

Jumlah Pestisida 615466.7 347721.28

B.

Penggunaan Tenaga

Kerja

1. Pengolahan Lahan 700000/Ha Traktor 1178333 Traktor 700000.00 2. Penanaman HKO 49361.7 14.1 696000 7.97 393220.32 3. Pemeliharaan a. Penyemprotan Herbisida I HKO 60499.26 2.27 137333.3 1.28 77589.45 b. Penyemprotan Herbisioda II HKO 84982.94 2.93 249000 1.66 140677.97 c. Penyemprotan fungisida HKO 31218.80 2.27 70866.67 1.28 40037.67 d. Pembubunan HKO 46231.88 7.13 329633.3 4.03 186233.52 4. Pemupukan I HKO 89639.64 3.33 298500.00 1.88 168644.07 5. Pemupukan II HKO 89639.64 3.33 298500.00 1.88 168644.07 6. Panen HKO 61735.83 27.23 1681067 15.38 949755.18 7. Pemipilan Kg 80 13990 1119235 7904.20 632335.82 Jumlah Tenaga Kerja 4640733 2621883.24 C. Penyusutan dan Transportasi 1. Penyusutan alat-alat 381194.4 215364.09 2. Transportasi 1780567 1005969.87 Jumlah 2161761 1221333.96 D. Bunga Pinjaman 736666.7 416195.859 Total Biaya 16327929 9224818.71 II OUT PUT 1. Produksi Kg 13990.43 7904.20 2. Harga Jual Rp/kg 2200 2200.00 3. Nilai Total Produksi Rp/kg 30778953 17389235.03 III PENDAPATAN BERSIH 14451024 13198296.55 IV. R/C 1.88 1.88

Analisis kelayakan usahatani jagung dilakukan untuk mengetahui apakah

usahatani jagung yang dijalankan oleh petani di daerah penelitian layak atau tidak.

Untuk mengetahui kelayakan digunakan kriteria Return Of Cost ( R/C) ratio. Untuk R/C ratio diketahui sebesar 1,88 artinya setiap biaya Rp.1 yang dikeluarkan

petani jagung akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp.1.88. Beradasarkan

kriteria investasi yang menyatakan usaha dapat dikatakan layak untuk diusahakan

Dokumen terkait