• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1.5 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana di Desa Ndokum Siroga saat ini dapat dinilai telah cukup memadai. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis sarana yang telah tersedia baik sarana angkutan, sarana pendidikan maupun sarana sosial. Dari urian diatas dapat diketahui bahwa petani tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh sarana

produksi dan penjualan hasil karena sarana transportasi sudah cukup tersedia. Keadaan sarana dan prasarana di Desa Ndokum Siroga dapat dihat pada Tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana Umum di Desa Ndokum Siroga Tahun 2014

No . Uraian Jumlah 1. SMP 1 buah 2. Poskesdes 1 unit 3. Puskemas 1 unit 4. Posyandu 2 unit 5. Mesjid 2 buah

6. Gereja Protestan 2 buah

7. Industri Rumah Tangga 15 buah

8. Bengkel Sepeda Motor 2 buah

9. Bengkel Mobil 3 buah

10. Tenaga Medis (Bidan/Bides) 7 orang

11. Jambur 1 buah 12. Jenis Kendaran Mobil Penumpang Pickup Sepeda Truk 6 buah 38 buah 278 buah 4 buah 13. Jalan Aspal Diperkeras Tanah Setapak 11,97km 6,0km 22,0km 15,0km

Sumber : Kantor Kepala Desa Ndokum Siroga, 2015

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana di Desa Ndokum Siroga sudah tersedia dengan memadai. Walaupun sarana pendidikan yang ada hanya satu Sekolah Menagah Pertama, tetapi penduduk dapat melanjutkan pendidikannya ke sekolah lanjutan yang ada di Berastagi dan Ibukota Kabupaten Karo (Kabanjahe). Hal ini tidak mempersulit penduduk karena jaraknya tidak terlalu jauh dan mudah ditempuh, serta didukung oleh sarana jalan dan transpotasi yang memadai.

Pada bidang kesehataan terdapat 1 unit Poskesdes, 1 Puskemas dan 2 Posyandu, dan 7 orang Tenaga Medis (Bidan/Bides). Pada bidang keagaman terdapat 2 buah mesjid dan 2 buah gereja dan sebagai wadah upacara adat masyarakat karo 1 bauh jambur. Di Desa Ndokum Siroga terdapat juga 2 buah bengkel sepeda motor dan 3 buah bengkel mobil. Dan terdapat juga industri rumah tangga sebanyak 15 buah yang penambahan pendapatan masyarakat di Desa Ndokum Siroga. Sarana transportasi juga sudah memadai, karena jalan menuju Desa Ndokum Siroga sudah cukup baik yaitu aspal 11,97 km, diperkeras ada 6,0 km , tanah ada 22,0 km dan setapak 15,0 km

4.1.6. Distribusi Penduduk Menurut Agama yang Dianut

Penduduk Desa Ndokum Siroga menganut 3 (tiga) agama yaitu Islam, Kristen Protestan dan Khatolik. Kehidupan beragama di Desa Ndokum Siroga secara umum berlangsung harmonis. Distribusi penduduk menurut agama yang dianut dapat dilihat jelas pada Tabel 4.5 dibawah ini :

Tabel 4.5 Distribusi Penduduk Menurut Agama yang Dianut Tahun 2015

No. Agama Jumlah Penduduk

(Jiwa) Persentase (%) 1. Kristen Protestan 1250 69.79 2. Kristen Khatolik 127 7.09 3. Islam 414 23.12 Jumlah 1.791 100.00

Sumber : Simpang Empat Dalam Angka, 2015

Penduduk Desa Ndokum Siroga menganut agama Kristen Protestan sebesar 1.250 jiwa (69.79% dari total penduduk di Desa Ndokum Siroga), agama Islam sebesar 414 jiwa (23.12% dari total penduduk Desa Ndokum Siroga) dan agama Khatolik sebesar 127 jiwa (7.09% dari total penduduk Desa Ndokum Siroga).

4.2 Deskripsi Variabel yang Diteliti

Pada bagian ini akan membahas perkembangan produksi di Sumatera Utara, Kabupaten Karo dan Kecamatan Simpang Empat. Perkembangan yang diamati dalam jangka waktu sepuluh tahun 2005 sampai dengan 2014.

4.2.1 Perkembangan Luas Panen Produksi dan Rata-Rata Produksi Buncis Di Sumatera Utara

Tabel 4.6 Perkembangan Produksi Buncis Tahun 2005-2014 di Sumatera Utara.

No. Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Rata-Rata Produksi (Ton/Ha) 1. 2005 3049 37.675 12,357 2. 2006 2758 27.555 9,990 3. 2007 3298 32.818 9,950 4. 2008 3390 38.631 11,396 5. 2009 4004 55.965 13,977 6. 2010 4004 55,965 13,977 7. 2011 3323 51.096 15,361 8. 2012 3244 47.111 14,522 9. 2013 2790 36.482 13,076 10. 2014 2139 33.560 15,695 Jumlah 31.999 416.858 130.301

Sumber: Badan Pusat Statistik Sumatera Utara

Dari Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa luas lahan buncis paling tertingi di Sumatera Utara pada tahun 2005-2014 pada tahun 2009 dan 2010 sebesar 4004 ha dan luas lahan buncis tahun yang terendah pada tahun 2014 sebesar 2139. Total luas panen buncis di Sumatera Utara pada tahun 2005-2010 sebesar 31.999 ha. Sedangkan pada produksi buncis tertingi di Sumatera Utara pada tahun 2009 dan 2010 sebesar 55.965 ton dan produksi buncis terendah pada tahun 2007 sebesar 27.555 ton . Total produksi buncis di Sumatera Utara pada tahun 2005-2014 sebesar 416.858 ton. Dan rata-rata Produksi buncis tertinggi di Sumatera Utara tahun 2005-2014 terjadi pada tahun 2014 sebesar 15,695 ton/ha dan rata-rata

produksi terendah pada tahun 2005-2010 terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 99,50. Total rata-rata produksi buncis di Sumatera utara pada tahun 2005-2014 adalah sebesar 130.301 ton/ha.

4.2.2 Perkembangan Luas Panen Produksi dan Rata-Rata Produksi Buncis di Kabupaten Karo

Tabel 4.7 Perkembangan Produksi Buncis Tahun 2005-2014 di Kabupaten Karo.

No. Tahun Luas Lahan ( Ha) Produksi ( Ton) Rata-Rata Produksi (Ton/Ha) 1. 2005 2.483 26.671 10,741 2. 2006 1.943 19.251 9,907 3. 2007 1.921 23.918 12,451 4. 2008 2.064 26.815 12,992 5. 2009 2.092 26.985 12,899 6. 2010 2.617 33.873 12,943 7. 2011 1.684 14.597 8,668 8. 2012 1.762 25.642 14,553 9. 2013 1.760 23.481 13,342 10. 2014 846 11.881 14,043 Jumlah 19.172 233.114 122.539

Sumber : Karo Dalam Angka

Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa luas lahan buncis paling tertingi di Kabupaten Karo pada tahun 2005-2014. Pada tahun 2010 luas lahan yang tertinggi sebesar 2.617 ha dan luas lahan buncis tahun yang terendah pada tahun 2014 sebesar 846 ha. Total luas panen buncis di Kabupaten Karo pada tahun 2005-2010 sebesar 19.172 ha. Sedangkan pada produksi buncis tertingi Di Kabupaten Karo pada tahun 2009 sebesar 33.873 ton dan produksi buncis terendah pada tahun 2014 sebesar 11.881 ton. Total produksi buncis Di Kabupaten Karo pada tahun 2005-2014 sebesar 233.114 ton. Dan rata-rata Produksi buncis tertinggi di Kabupaten Karo tahun 2005-2014 terjadi pada tahun 2010 sebesar 12,943 ton/ha dan rata-rata produksi terendah pada tahun 2005-2010 terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar

86,68 Total rata-rata produksi buncis di Kabupaten Karo pada tahun 2005-2014 adalah sebesar 122.5209 ton/ha.

4.2.3 Perkembangan Luas Panen Produksi dan Rata-Rata Produksi Buncis Di Simpang Empat

Tabel 4.8 Perkembangan Produksi Buncis Tahun 2005-2014 di Simpang Empat

No. Tahun Luas Panen (Ha) Produksi ( Ton) Rata-Rata Produksi (Ton/Ha) 1. 2005 1.128 11.180 9,911 2. 2006 1.050 9.472 9,021 3. 2007 1.131 15.661 13,847 4. 2008 977 14.685 15,031 5. 2009 414 5.358 12,942 6. 2010 641 8.297 12,943 7. 2011 221 2.792 12,633 8. 2012 185 1.970 10,649 9. 2013 190 3.415 17,974 10. 2014 187 2.716 14,524 Jumlah 6.124 75.545 129,475

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo

Dari Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa luas lahan buncis paling tertingi di Simpang Empat pada tahun 2005-2014. Pada tahun 2007 paling tertinngi luas lahan sebesar 1.131 ha dan luas lahan buncis tahun yang terendah pada tahun 2012 sebesar 185 ha. Total luas panen buncis di Simpang Empat pada tahun 2005-2014 sebesar 6.124 ha. Sedangkan pada produksi buncis tertingi Kabupaten Karo pada tahun 2007 sebesar 15.661 ton dan produksi buncis terendah pada tahun 2012 sebesar 1,970 ton. Total produksi buncis di Simpang Empat pada tahun 2005-2014 sebesar 75.545 ton.

Dan rata-rata Produksi buncis tertinggi di Simpang Empat tahun 2005-2014 terjadi pada tahun 2008 sebesar 15,031 ton/ha dan rata-rata produksi terendah

pada tahun terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 9,021. Total rata-rata produksi buncis di Simpang Empat pada tahun 2005-2014 adalah sebesar 129,475 ton/ha.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Produksi dan Produktivitas Tanaman Buncis di Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat

Buncis merupakan salah satu jenis tanaman sayuran polong yang memiliki banyak kegunaan. Buncis bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah (Cahyono,2007).

Produktivitas dalam hal ini merupakan pembagian antara produksi yang diperoleh dengan luas lahan. Produktivitas tanaman buncis sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat dapat diketahui dengan melihat jawaban-jawaban responden terhadap kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan produksi dan pendapatan petani buncis.

Kecamatan Simpang Empat merupakan salah satu sentra penghasil tanaman buncis terbesar di Kabupaten Karo. Namun produksi dan produktivitas buncis mengalami penurunan semenjak erupsi Gunung Sinabung pada tahun 2010. Hal ini dikarenakan morfologi tanaman buncis yang bertumbuh di atas permukaan tanah menimbulkan dampak yang sangat nyata. Tabel 5.1 menyajikan data produktivitas tanaman buncis sesudah (tahun 2009) dan sesudah (tahun 2015) erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat.

Tabel5.1 Produktivitas Buncis Sebelum (Tahun 2009) dan Sesudah (Tahun2015) Erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga

Sumber : Data Primer diolah, lampiran 16 dan 17

Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa produktivitas tanaman buncis per Ha mengalami penurunan dari 30.968,75 Kg/Ha sebelum erupsi (tahun 2009) Gunung Sinabung menjadi 28.592,857 Kg/Ha sesudah erupsi (tahun 2015) dan Produktivitas tanaman buncis per petani mengalami penurunan dari 31.163,528 Kg/Ha sebelum erupsi (tahun 2009) Gunung Sinabung menjadi 28.390,064 Kg/Ha sesudah erupsi (tahun 2015). Hal ini disebabkan menurunnya luas panen tanaman buncis per Ha adalah dari 1,6 Ha sebelum erupsi (tahun 2009) menjadi 1,4 Ha sesudah terjadinya erupsi (tahun 2015) dan luas panen tanaman buncis per buncis adalah dari 0,053 Ha sebelum erupsi (tahun 2009) menjadi 1,4 Ha sesudah terjadinya erupsi (tahun 2015). Penurunan produksi per Ha adalah dari 49.550 Kg sebelum erupsi (tahun 2009) menjadi 40.030 sesudah erupsi (2015) dan produksi per petani adalah dari 1.651,667 Kg sebelum erupsi (tahun 2009) menjadi 1.334,333 Kg sesudah Erupsi (tahun 2015) . Penurunan luas panen dan produksi yang berdampak pada penurunan produktivitas tanaman Buncis ini disebabkan oleh abu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Sinabung menutupi sebagian besar lahan pertanian di daerah penelitian sehingga mengganggu perkembangan tanaman Buncis di daerah penelitian.

No. Uraian

Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi Persentase (%) Sebelum dan Sesudah Erupsi Per Ha Per Petani Per

Ha

Per Petani Per Ha Per petani 1. 2. 3.

Luas Panen (Ha) Produksi (Kg) Produktivitas(Kg/Ha) 1,6 49.550 30.968,75 0,053 1.651,667 31.163,528 1,4 40.030 28.592,857 0.047 1.334,333 28.390,064 12,5 19,21 7,67 11,32 19,21 8,89

Tabel 5.2 Hasil Uji Beda Rata-Rata T-Test Produktivitas Buncis Sebelum (Tahun 2009) dan Sesudah (Tahun 2015) Erupsi Gunung Sinabung

Dari tabel 5.2 diperoleh nilai t sebesar 7.751 dengan sig (2-tailed) sebesar 0.000 atau lebih kecil dari 0.05 maka H0 : ditolak dan H1 : diterima. Sehingga disimpulkan ada perbedaan nyata dan signifikan produkstivitas usahatani buncis di Desa Ndokum Siroga sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

5.2Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Pendapatan Petani Buncis Sebelum (Tahun 2009) dan Sesudah (Tahun 2015) Erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat

Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis dampak erupsi Gunung Sinabung terhadap pendapatan petani. Pendapatan dalam hal ini merupakan selisih dari total penerimaan dan total biaya produksi. Total penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi terhadap harga produk, dan total biaya merupakan hasil perkalian antara jumlah input produksi terhadap harga input produksi tersebut.

Gunung Sinabung mulai menunjukkan aktivitas vulkanik pada pertengahan tahun 2010. Dan terus mengalami erupsi yang sangat sulit untuk diprediksi. Semenjak

Paired Samples Test Paired Differences T df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Produktivitas Sebelum Erupsi - Produktivitas Sesudah Erupsi 317.33 3 224.253 40.943 233.596 401.071 7.751 29 .000

berasal dari aktivitas erupsi. Hal ini sangat berdampak pada aktivitas ekonomi yang berlangsung di sekitar lokasi erupsi dimana mayoritas penduduk di Kabupaten Karo menggantungkan pendapatannya dari hasil pertanian.

Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada aktivitas pertanian buncis, salah satu yang paling nyata adalah aktivitas pemeliharaan. Secara nominal erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh biaya produksi. Pada tabel 5.3 disajikan data perubahan biaya variable dan biaya tetap sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

Tabel 5.3 Data Perubahan Biaya Variabel dan Biaya Tetap Usahatani Buncis Sebelum (Tahun 2009) Sesudah (Tahun 2015) Erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga

N

o. Uraian

Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi Persentase% Sebelum dan Sesudah Erupsi Per Ha (Rp) Per Petani (Rp) Per Ha (Rp) Per Petani (Rp) Per Ha (Rp) Per Petani (Rp) 1 Biaya Variabel Biaya Benih 2.746.562,5 146.483,33 3.185.775 146.476,191 15,99 0,005 Biaya Pupuk 3.845.000 205.066,67 4.660.000 217.466,667 21,19 6,04 Biaya Pestisida 2.640.000 140.800 4.740.000 221.200 79,54 57,10 Biaya T. Kerja 26.762.500 1.427.333,3 3 34.350.000 1.603.000 28,35 8,10 2 Biaya Tetap Biaya Penyusut an 1.488.281,2 5 79.375 1.800.892,85 7 84.041,667 21,00 5,87 Biaya PBB 377.500 20.133,33 476.785,714 22.250 26,30 10,51 TOTAL 37.859.834,7 5 2.019.191,67 49.213.453,571 2.294.434,460 29,99 13,63 Sumber : Data primer diolah lampiran 12 dan 13

Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa biaya pestisida mengalami peningkatan yang cukup besar. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani buncis di desa penelitian, hal ini disebabkan petani meningkatkan dosis dan frekuensi penyemprotan pestisida untuk mencegah penyakit dan membersihkan permukaan tanaman akibat debu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Sinabung.

Tabel 5.4 Pendapatan Petani Buncis Sebelum (Tahun 2009) dan Sesudah (Tahun2015) Erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga

No

. Uraian Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi

Presentase (%) Sebelum dan Sesudah Per Ha Per Petani Per Ha Per Petani Per Ha Per Petani 1 Luas Panen (Ha) 1,6 0,053 1,4 0,047 12,5 0,375 2 Produksi (kg) 49.550 1.651,67 40.030 1.334,33 19,21 19,21 3 Harga Jual (Rp/kg) 2.500 4.000 60 60 4 Penerimaa n (Rp) 123.875.000 4.129.166,667 160.120.000 5.337.333,333 29,25 29,25 5 Biaya Produksi (Rp) 62.513.750 2.083.791,667 71.576.500 2.385.883,333 14,49 14,49 6 Pendapatan (Rp) 61.361.250 2.045.375 88.543.500 2.951.450 44,29 44,29

Sumber : Data Primer diolah, Lampiran 14, 15,18 dan 19

Tabel 5.4 menjelaskan bahwa pendapatan petani mengalami peningkatan setelah erupsi Gunung Sinabung. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan harga jual buncis dari Rp. 2.500/kg pada tahun 2009 (sebelum erupsi) menjadi Rp. 4.000/kg pada tahun 2015 (sesudah erupsi). Peningkatan harga jual terjadi akibat adanya kelangkaan komoditi buncis dipasaran akibat erupsi Gunung Sinabung.

Tabel 5.5 Hasil Uji Beda Rata-Rata T-Test Pendapatan Buncis Sebelum (Tahun 2009) dan Sesudah (Tahun 2015) Erupsi Gunung Sinabung

Dari tabel 5.5 diperoleh nilai t sebesar 3.458 dengan sig. (2-tailed) sebesar 0.002 atau lebih kecil dari 0.05 maka H0 : ditolak dan H1 : diterima. Sehingga disimpulkan ada perbedaan nyata dan signifikan pendapatan petani buncis di Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat.

Paired Samples Test Paired Differences T df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Pendapatan Petani

Sebelum Erupsi - Pendapatan Petani Sesudah Erupsi -906075.000 1435100.113 262012.2 35 -1441950 .189 -370199.8 11 -3.458 29 .002

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Bersadarkan data yang telah dikumpulan baik melalui wawancara maupun melalui kuisioner yang telah di analisis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1) Erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang besar terhadap

keberadaan sumberdaya petani tanaman sayur buncis. Sumberdaya yang berpengaruh langsung akibat abu vulkanik oleh erupsi Gunung Sinabung ini diantaranya adalah lahan usahatani dan produksi tanaman terutama tanaman buncis. Tanaman yang terkena erupsi gunung Sinabung menyebabkan gagal panen dan butuh bagi petani untuk memperbaiki tanaman yang terkena erupsi Gunung Sinabung. Kerusakan sumberdaya tersebut memberikan dampak yang sangat besar terhadap luas panen dan produksi usahatani pada tanaman buncis. Sebelum (tahun 2009) erupsi Gunung Sinabung luas lahan tanaman buncis sebesar 1,6 Ha dan 0,053 Ha/Petani sesudah (tahun2015) erupsi Gunung Sinabung tanaman buncis menurun sebesar 1,4 Ha dan 0,047 Ha/Petani. Produksi tanaman buncis sebelum (tahun 2009) erupsi Gunung Sinabung tanaman buncis sebesar 49,550 Kg/ha dan 1.651,667 Kg/Petani dan sesudah (tahun 2015) erupsi Gunung Sinabung tanaman buncis sebesar 40.030 Kg/Ha dan 1.334,333 Ha/Petani. Produktivitas tanaman buncis sebelum (2009) erupsi Gunung Sinabung sebesar 30.968,75 Kg/Ha dan 31.163,528 Kg/ha untuk per

Kg/Ha dan 28.390,064 Kg/Ha untuk Per Petani. Berdasarkan uji beda rata-rata T-test dihasilkan sig.(2-tailed) 0.000 atau lebih kecil dari 0.005 menunjukan adanya perbedaan nyata dan siginifikan produktivitas tananaman buncis sebelum (Tahun 2009) dan sesudah (tahun 2015) erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga.

2) Erupsi Gunung Sinabung memberikan dampak buruk bagi petani buncis.

Sumberdaya yang berpengaruh langsung akibat abu vulkanik oleh erupsi Gunung Sinabung diantaranya adalah pendapatan petani buncis. Sebelum terjadinya erupsi (tahun 2009) pendapatan petani tanaman buncis satu musim panen untuk seluruh petani sebesar per Ha Rp 61.361.250 dan untuk per petani sebesar Rp 2.045.375 dan sesudah erupsi Gunung Sinabung (tahun 2009) pendapatan petani tanaman buncis untuk seluruh petani sebesar per Ha Rp 88.543.500 dan untuk per petani sebesar Rp 2.951.450. berdasarkan hasil uji beda rata-rata T-test dihasilkan sig.(2-tailed) 0.000 atau lebih kecil dari 0.005 menunjukan adanya perbedaan nyata dan signifikan produktivitas tanaman buncis sebelum (tahun 2009) dan sesudah (tahun 2015) erupsi Gunung Sinabung di Desa Ndokum Siroga.

6.2 Saran

Berdasarkan dari kesimpulan penelitian maka dirumuskan saran-saran sebagai berikut:

1) Kepada Petani Buncis

Diharapakan kepada petani agar dapat mengelola lahan dengan cara memberi pupuk kandang atau merawat tanaman buncis dengan cara penyemporatn pestisida, pemberian pupuk, dan penyiraman air secara teratur sehingga kualitas komoditi dapat terjaga dan produksi tidak menurun secara drastis pasca erupsi.

2) Kepada pemerintah

Diharapakan lebih meningkatakan pelaksanaan bentuk program pengarahan, sosialisai dan lebih berperan aktif lagi untuk membantu petani dalam kondisi yang saat ini di Desa Ndokum Siroga yang mengalami perubahan yang menurun akibat dampak erupsi Gunung Sinabung agar memberikan perhatian terhadap kebutuhan petani serta masalah-masalah yang dihadapi petani buncis dengan memperdayakan penyuluh pertanian. Membantu para petani yang terkena dampak erupsi Gunung Sinabung dengan membantu membuat pompa subur air di petani yang terkena dampaknya dan membantu petani agar produksi meningkat, minimumkan biaya produksi seperti harga pupuk, harga pestisida, ,alat-alat yang digunakan untuk tanaman buncis dan memberikan cara pengolahan lahan agar menjadi ke semula . Terkhusus bagi petani yang terkena erupsi Gunung Sinabung dengan tujuan agar kegiatan usahatani di Desa Ndokum

Siroga dapat kembali berjalan semula disaat sebelum terkena erupsi Gunung Sinabung.

3) Kepada Penelitian Selanjutnya

Diharapakan untuk dapat meneliti lebih lanjut tentang material yang ada pada debu vulkanik di daerah erupsi Gunung Sinabung, agar pengaplikasiannya di dunia pertanian bisa menjadi terobosan baru untuk pertanian Indonesia kedepannya dan bagi peneliti selanjutkan mengenani erupsi Gunung Sinabung melanjutkan meneliti komoditi yang berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Tanaman Buncis

Buncis merupakan salah satu jenis tanaman sayuran polong yang memiliki banyak kegunaan. Sebagai bahan sayuran , polong buncis dapat dikonsumsi dalam keadaan muda atau dikonsumsi dalam keadaan muda atau dikonsumsi bijinya. Buncis bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari mesiko selama dan Amerika Tengah. Buncis yang dibudidayakan oleh masyarakat di Indonesia memilki banyak jenis. Dari ragam varietas tersebut, tanaman buncis secara garis besar dibagi dalam dua tipe, yaitu buncis tipe membelit atau merambat dan buncis tipe tegak atau tidak merambat.

Dalam ilmu tumbuhan, tanaman buncis diklasifikasikan sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Rosales ( Leguminales )

Family : Leguminosae ( Papilionaceae)

Genus : Phaseolus

Spesies : Phaseolus vulgaris L.

2.1.2 Pengertian Dampak

Pengertian dampak adalah pengaruh atau efek tidak langsung dari erupsi Gunung Sinabung atau dari bencana alam. Pengaruh atau efek adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi.

Pengertian dampak lain menurut Hari Sabari adalah sesuatu yang muncul setelah adanya suatu kejadian. Sedangkan menurut Schemel adalah tingkat perusakan terhadap tata guna tanah lainya yang ditimbulkan oleh suatu pemanfaatan lingkungan tertentu (KBBI Online, 2010).

2.2.3 Bencana Alam dan Dampaknya

Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, hurikan, badai tropis, topan, tornado, kebakaran liar dan wabah penyakit. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.

Dampak lain dari erupsi Merapi adalah masalah sosial ekonomi masyarakat tani. Disamping kehilangan sanak saudara, harta benda, mereka juga kehilangan mata pencarian dari usahataninya (Martini, 2011).

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan. Salah satu bencana alam yang paling menimbulkan dampak paling besar, misalnya gempa bumi, selama 5 abad terakhir, telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang tewas, 20 kali lebih banyak daripada korban gunung meletus.

Dalam hitungan detik dan menit, jumlah besar luka-luka yang sebagian besar tidak menyebabkan kematian, membutuhkan pertolongan medis segera dari fasilitas kesehatan yang seringkali tidak siap, rusak dan runtuh karena gempa. Bencana seperti tanah longsor pun dapat memakan korban yang signifikan pada komunitas manusia karena mencakup suatu wilayah tanpa ada peringatan terlebih dahulu dan dapat dipicu oleh bencana alam lain terutama gempa bumi, letusan gunung berapi, hujan lebat dan topan (Wikipedia, 2014).

2.2.4 Erupsi Gunung Sinabung dan Dampaknya

Gunung Sinabung yang berada di Kabupaten Karo, merupakan salah salah satu gunung penghasil air yang banyak dan strategis, gunung ini di kelilingi oleh hutan. Gunung Sinabung adalah gunung di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung dan Sibayak adalah dua gunung berapi aktif yang berdekatan di Kabupaten Karo. Ketinggian Gunung Sinabung 2.460 meter.

Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600. Kordinat puncak Gunung Sinabung adalah 3˚10’’ LU, 98 ˚23’’ BT.

Peristiwa letusan pertama sejak 27 agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 agustus 2010 sekitar pukul 00.15 WIB Gunung Sinabung mengeluarkan Lava. Status gunung dinaikkan menjadi “awas” 28.000 warga disekitarnya dari 29 desa dievakuasi dan ditampung ditempat yang lebih aman. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari barat daya menuju timur laut. Sebagian kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung

(Purba, 2013).

Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, dalam bulan September 2013 telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Status Gunung Sinabung dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (level III). Pada 17 September 2013, terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari.

Letusan ini melepaskan awan panas dan abu vulkanik. Tidak ada tasnda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan Berastagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman. Abu vulkanis selain menutupi jalanan, rumah-rumah penduduk juga menutupi tanaman.

Debu vulkanik berdampak pada 6 (enam) kecamatan di sekitar Gunung Sinabung yaitu Kecamatan Namanteran, Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Merdeka, Kecamatan Dolat rayat, Kecamatan Payung, dan Kecamatan Mardinding. Letusan terkini terjadi pada tanggal 15 Oktober 2013 dan dilaporkan juga mengeluarkan lava.

Abu vulkanik letusan Gunung Sinabung menyelimuti pemukiman masyarakat di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Letusan Gunung yang disertai dengan gempa itu membuat masyarakat dilanda kepanikan. Sebanyak 17 jiwa meninggal akibat guguran awan panas sinabung. Akibat letusan gunung berapi, beberapa material yang keluar dari kepundan gunung tersebut antara lain adalah awan

Dokumen terkait