• Tidak ada hasil yang ditemukan

SARANA DAN PRASARANA

B. Hasil Penelitian

3. Sarana dan prasarana pembelajaran

Dalam kursus pra nikah sarana merupakan penunjang dalam efektifnya suatu kegiatan yang akan di laksanakan begitu pun dengan pelaksanaan kursus pra nikah kursus pra nikah di KUA Tondong Tallasa dimana pasangan akan diberikan sebuah bacaan berupa silabus atau modul yang dimana merupakan acuan atau pegangan kepada pasangan kursus pra nikah

Pada wawancara pada informan P (Wawancara 08 April 2021) Menyatakan bahwa:

“Iya dikasi itu semacam silabus tentang tahara dan lainnya. Untuk prasarananya sendiri yah kurang mendukung sebenarnya karena masih banyak kekurangannya”

Sedangkan pada pasangan kursus pra nikah oleh A dan S (Wawancara 12 April 2021) menyatakan bahwa:

“Untuk sarana dan pra sarananya sendiri itu sudah bisa dibilang 60% lah karena kurang lengkap”

Penuturan yang hampir sama juga dikemukan oleh pasangan J dan A (Wawancara 08 Mei 2021) yang dimana pihak A mengatakan

“Dari segi sarana dan prasarana sepertinya masih perlu di tingkatkan tapi yah sudah lumayan bagus, penyampaiannya lumayan bagus yah itulah masih perlu di tingkatkan”

Dari hasil wawancara diatas maka dapat dikatakan bahwasa sarana dan prasarana yang di berikan oleh pihak KUA Tondong Tallasa itu masih kurang memadai atau kurang mendukung. Namun dalam pelaksanaan tugas-tugas seperti salah satunya kursus pra nikah ini sudah dapat berjalan.

4. Sertifikat

Sertifikat sendiri atau tanda bukti yang diberikan oleh pihak KUA bagi para peserta kursus pra nikah yang telah mengikutinya dimana seritifikat ini disiapkan oleh organisasi atau lembaga atau badan yang menyelenggarakan kursus pra nikah ini.

Berdasarkan wawancara dengan informan P (Wawancara 08 April 2021) yang menyatakan bahwa:

“Jadi bagi para pasangan calon pengantin yang telah mengikuti kursus pra nikah ini, kita dari pihak KUA memberikan semacam piagam atau sertifikat sebagai tanda bukti telah mengikuti kursus pra nikah ini”

Hal yang hampir sama juga di kemukakan oleh pasangan J dan A (Wawancara 08 Mei 2021) yang mengatakan:

“Iya ada, kemarin itu diberikan berupa sertifikat yang nantinya digunakan untuk mengambil buku nikah”

Dari apa yang ada di atas ini maka pelaksanaan kursus pra nikah ini bukan semata-mata demi kepentingan pihak KUA saja namun juga pada pasangan kursus pra nikah ini terlebih mereka tidak hanya

mendapatkan ilmu-ilmu mengenai masalah rumah tangga tetapi juga diberikan sebuah sertifikat atau tanda bukti telah mengikuti kursus pra nikah. Yang dimana selanjutnya sertifikat itu akan masuk sebagai pemberkasan di KUA.

b. Kursus pra nikah sebagai upaya pengurangan angka perceraian

Tujuan pelaksanaan kursus pra nikah sendiri adalah untuk mengurangi perceraia, perselisihan, KDRT dan lainnya. Hal ini sesuai pada peraturan peraturan Direktural Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Nomor DJ.II/542 Tahun 2013 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kursus Pra Nikah. Hal ini juga yang menjadi tujuan utama di KUA Tondong Tallasa ini selain pada pelaksanaan kursus pra nikah ada berbagai bentuk pelayanan islam lainnya seperti haji, zakat dan lainnya.

Saat ini perceraian di masyarakat sudah menjadi sesuatu yang biasa di dengar dengan latar belakang masalah yang berbeda-beda. Di Kabupaten Pangkep sendiri angka perceraian sudah menurun dari 5 tahun terakhir. Hal ini berdasarkan pada situs Sistem Informasi Penelususran perkara (SIPP) Pengadilan Agama Pangkajene yang dimana menunjukan angka perceraian sebagai berikut:

Tabel 4.6 Data perceraian Pengadilan Agama Pangkajene

NO. PERCERAIAN JUMLAH

1. 2017 558

2. 2018 548

3. 2019 523

4. 2020 518

5. 2021 ( Sampai April) 180

Berdasarkan data di atas dapat kita lihat bahwa angka perceraian yang ada di masyarakat setiap tahunnya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Untuk itu maka tujuan dari apa yang ingin di capai dari pelaksanaan kursus pra nikah ini dapat di katakana berjalan dengan baik. Dari hasil wawancara dengan informan AS (Wawancara 09 April 2021) menyatakan bahwa:

“Angka perceraian itu tinggi karena yang pertama dari segi pendidikan, desakan ekonomi, ketatnya persaingan sehingga banyak yang suami selingkuh kalau bukan suami maka istrinya yang selingkuh hal ini terjadi karena desakan ekonomi, bagaiamana lagi kalau dia kawin muda, belum sampai umurnya baru nikah, ada anaknya satu sudah bentrok dan faktor umur juga”

Hal lain juga di kemukan oleh remaja usia nikah I (Wawancara 15 Mei 2021) yang menyatakan:

“Itulah mengapa pengadaan kursus pra nikah untuk diberikan penjelasan yang lebih kepada atau calon pengantin sebelum melanjutkan kejenjang pernikahan yang lebih serius.mengingat banyaknya pernikahan di bawah umur. Sehingga perceraian di masyarakat mungkin ada tapi tidak signifikan”

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa perceraian yang terjadi di masyarakat itu diakibatkan oleh berbagai faktor-faktor seperti kurangnya pemahaman, pendidikan, desakan ekonomi dan adanya pernikahan dini dimana dari segi kesiapan baik dari pengetahuan dan fisik belum siap sehingga suatu perceraian itu dapat terjadi. Berdasarkan hasil observasi langsung di lapangan tidak jarang ditemui ditengah-tengah masyarakat Tondong Tallasa ini mengenai pernikahan dini dengan berbagai alasan yang melatar belakanginya seperti, hamil duluan, keterbatasan ekonomi atau bahkan dari pihak orang tuanya sendiri yang sudah ingin menikahkan anaknya. Hal ini merupakan di luar

tanggung jawab pihak KUA sebagai pencatatan kawin di masyarakat Tondong Tallasa dimana yang kita ketahui bahwa usia nikah bagi laki-laki dan perempuan itu sama-sama 19 tahun.

Dari pelaksanaan kursus pra nikah ini diharapakan dapat menjadi jalan keluar dari berbagai permasalahan rumah tangga yang kerap terjadi di masyarakat sekitar terlebih pada perceraian. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat informan A (Wawancara 23 Mei 2021) mengenai kursus pra yang menyatakan bahwa:

“Bisa berkurang karena adanya kegiatan saling kenal sebelumnya dan keterbukaan sikap pribadi masing-masing. Maka membangun komunikasi yang baik, dan saling adanya keterbukan dalam rumah tangga dapat menciptakan keluarga yang di inginkan”

Hal lain juga di kemukan oleh masyarakat inisial MS (Wawancara 20 Mei 2021) yang mengatakan bahwa:

“Saya pikir sangat baik itu makanya kalau di perbanyak kursus-kursus seperti ini saya rasa pasangan suami istri akan lebih jelas, bagaimana tujuannya berrumah tangga dimana dalam hal berhubungan apapun itu pacaran, back streat atau suami istri lah paling penting itu komunikasi, mau pahit atau manis harus selalu di komunikasikan maka akan tercipta itu kelurga yang sakinah itu”

Dari hasil wawancara di atas maka dapat kita simpulkan bahwa suatu hubungan rumah tangga akan terjalin dengan baik apabila adanya saling keterbukaan dan komunikasi yang baik sehingga hubungan itu akan terjalin lebih erat. Serta dalam penyelesaian masalah-masalah rumah tangga seorang suami atau istri tidak boleh mementingkan ego sendiri karena dalam suatu keluarga itu di bangun bersama-sama dengan saling percaya, keterbukaan komunikasi yang lancer sehingga berbagai permasalahan rumah tangga yang dimana kita ketahui pasti di hindari oleh setiap orang. Karena setiap orang yang berkeluarga pasti menginginkan

sebuah keluarga bahagia, sakinah, mawaddah, dan warahma terlebih menghindari yang namanya perpisahan atau perceraian.

C. Pembahasan

1. Pelaksanaan kursus pra nikah di KUA Tondong Tallasa,

Dokumen terkait