E. Kendala-kendala yang dihadapi dinas kebudayaan dan pariwisata
1. Sarana dan prasarana
D. Fokus Penelitian
Penelitian ini di fokuskan pada tata kelola wisata Bantimurung sehingga terciptanya pengelolaan objek wisata yang baik akan mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, memajukan industri pariwisata yang ada di kabupaten Luwu Utara. menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya melalui pengelolaan objekwisata Bantimurung.
E. Deskripsi Fokus Penelitian
Adapun deskripsi fokus penelitian yang ingin di teliti adalah sebagai berikut:
Pengelolaan Objek Wisata Bantimurung Yang Baik 1. Perencanaan 2. Pembangunan 3. Pengembangan Kendala-kendala dalam pengelolaan objek wisata.
1. Sarana dan prasarana. 2. Kesadaran masyarakat. 3. Keamanan pengunjung Pengelolaan Objek Wisata Air Terjun Bantimurung Di
Desa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara
23
1) Perencanaan
“Perencanaan adalah penerapan pengetahuan tepat guna secara sistematik, untuk mengontrol dan mengarahkan kecenderungan perwujudan masa depan yang diinginkan sebagai tujuan yang akan dicapai dalam pengelolaan objek wisata Bantimurung didesa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
2) Pembangunan
pembangunan adalah “suatu usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu daerah dalam rangka pembinaan dalam pengelolaan objek wisata Bantimurung didesa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
3) Pengembangan
Pengembangan adalah suatu proses mendesain pembelajaran secara logis, dan sistematis dalam rangka untuk menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam proses pengelolaan objek wisata Bantimurung didesa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
24 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu Dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Oktober sampai November 2017. Lokasi penelitian dilakukan di wilayah kabupaten Luwu Utara di kawasan wisata desa Bantimurung kecamatan Bone-Bone dengan alasan untuk mengidentifikasi bagaimana pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan wisata air terjun Bantimurung Alasan lain dipilih sebagai tempat Penelitian kerena kurangnya Pengelolaan kawasan wisata air terjun Bantimurung di kabupaten Luwu Utara terkhusus didesa Bantimurung kecamatan Bone-Bone.
B. Jenis Dan Tipe Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan yang bersifat ilmiah, melalui prosedur yang telah ditetapkan.
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan objek kawasan wisata Bantimurung di desa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone kabupaten Luwu Utara.
b. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah kualitatif dalam fenomenologi dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami informan. Adapun masalah-masalah yang diteliti adalah mengenai peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan objek
25
kawasan wisata Bantimurung didesa Bantimurung kecamatan Bone-Bone kabupaten Luwu Utara.
C. Sumber Data
Sumber data penelitian ini terutama dijaring dari sumber data primer dan data sekunder dengan proporsi sesuai dengan tujuan penelitian ini.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan langsung (observasi), dan wawancara yang dilakukan penulis tentang Pengelolaan Objek Wisata Bantimurung Didesa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui dokuman-dokumen mengenai bagaimana Pengelolaan Objek Wisata Bantimurung Didesa Bantimurung Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
D. Informan Penelitian
Adapun informan dalam penelitian ini sebanyak 8 orang, yaitu: No
.
Nama Lengkap Inisial Jabatan/ Status Keterangan 1. Drs. F.P. Patuang,
MM
FPP Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara
1 orang
2. Maslang M Kepala Desa Bantimurung Kabupaten Luwu Utara
1 orang
3. Salim S Pengunjung wisata air
terjun Bantimurung
1 orang
4. Pendi P Pengunjung wisata air
terjun Bantimurung
5. Untung U Pengunjung wisata air terjun Bantimurung
1 orang 6. Hasmiati H Masyarakat desa
Bantimurung
1 Orang
7 Bahar B Masyarakat desa
Bantimurung
1Orang
8 Tamsil T Masyarakat desa
Bantimurung
1 Orang 9 Mishadi K.P S.TP Kepala UPTD Dinas
Kebudayan Dan Pariwisata
1 Orang
Jumlah Informan 9 Orang
Alasan peneliti dalam memilih informan diatas dengan bertujuan agar data-data yang diperoleh mengenai pengelolaan wisata Bantimurung tepat dan akurat tentang kebenarannya berdasarkan informan yang dipilih langsung.
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu: a) Observasi
Informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Lebih rincinya observasi ini terkait dengan strategi yang digunakan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas pariwisata dalam pengelolaan wisata Bantimurung
27
b) Wawancara
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara langsung (tanya jawab dalam bentuk komunikasi verbal) kepada semua informan yang ada. Dengan objek wawancara dengan beberapa sumber seperti kepala Dinas kebudayyan dan pariwisata, kepala desa Bantimurung, masyarakat desa Bantimurung, serta pengunjung desa Bantimurung. Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan bentuk-bentuk pertanyaan yang sama antar informan satu dengan yang lainnya.
c) Dokumentasi
Teknik dokumentasi, pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan pengelolaan wisata Bantimurung dengan penelitian ini. Telaah kepustakaan dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dengan konsep dan teori yang berkaitan secara langsung.
F. Teknik analisis data
Analissi data adalah tahap selanjutnya untuk mengolah data dimana data yang diperoleh, dikerja dan dimanfaatkan untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Menurut Miles dan Hubermen terdapat tiga aktivitas dalam analisis data, yaitu:
1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas,
dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data merupakan rakitan informasi dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya agar makna peristiwa lebih mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data merupakan rakitan informasi dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya agar makna peristiwa lebih mudah dipahami. sehingga penarikan kesimpulan diambil dari informan.
G. Pengabsahan Data
Validasi data sangat mendukung hasil akhir penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan menggunakan teknik trianggulasi. Trianggulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.
Menurut William (dalam Sugiyono, 2009:273) trianggulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat trigulasi sumber, trigulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.
29
1. Trianggulasi sumber
Trianggulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Trianggulasi Teknik
Trianggulasi teknik bermakna data yang diperoleh di uji keakuratan dan ketidak akuratanya dengan menggunakan teknik tertentu.
3. Trianggulasi waktu
Triangulasi dengan waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, dan pada sore hari saat narasumber sudah merasa jenuh dan dipenuhi oleh banyak masalah.
30 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi lokasi penelitian
1. Deskripsi Kabupaten Luwu Utara
Kabupaten Luwu Utara adalah merupakan salah satu kabupaten di bagian selatan yang berjarak krang lebih 420 km dari ibukota porvinsi Sulawesi Selatan terletak di antara 01° 53’019”-02° 55’ 36” Lintang Selatan (LS) dan 119°47’ 46”- 120° 37’ 44” Bujur Timur (BT) dengan batas-batas administrasi:
- Sebelah utara : berbataasan dengan sulawesi tengah
- Sebelah selatan :berbatasan dengan kabupaten Luwu dan Teluk Bone - Sebelah barat : berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
- Sebelah timur : berbatasan dengan Luwu Timur
Ibu kota kabupaten ini terletak di Masamba. kabupaten Luwu Utara yang dibentuk berdasarkan UU No. 19 tahun 1999 dengan ibukota Masamba merupakan pecahan dari kabupaten Luwu. Saat pembentukannya daerah ini memiliki luas 14.447,56 km2 dengan jumlah penduduk 442.472 jiwa. Dengan terbentuknya kabupaten Luwu Timur maka saat ini luas wilayahnya adalah 7.843,57 km2. Secara administrasi terdiri 12 kecamatan 169 desa dan 4 kelurahan. Penduduknya berjumlah 250.111 jiwa (2003) atau sekitar 50.022 Kepala Keluarga yang sebagian besar (80,93%) bermata pencaharian sebagai petani, namun kontribusi sektor ini terhadap PDRB kabupaten Luwu Utara pada tahun 2003 hanya 33,31% atau sebanyak Rp. 4,06 triliun. Dan terdapat 8 sungai besaryang
31
mengairi wilayah Luwu Utara . dan sungai terpanjang adala sungai Rongkong dengan panjang 108 Km Serta curah hujan beragam selama tahun 2010.
Diantara 12 kcamatan, kecamatan Seko merupakan kecamatan terluas dengan luas 2.109,19 atau 28,11% dari total wilayah kabupaten Luwu Utara. Sekaligus meruakan kecamatan yang paling terjauh dari ibu kota kabupaten Luwu Utara, yakni berjarak 198 Km. pada tahun 2012 di bentuk 1 kecamatan baru yang merupakan perpecahan dari kecamatan Bone-Bone berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Luwu Utara Nomor : 01 tahun 2012 tanggal 5 april 2012 dan peraturan bupati Luwu Utara Nomor 19 Tahun 2012 4 juni 2012 tentang pembentukan kecamatan Tana Lili dengan jumlah 10 desa.
Tabel 2. Administratif Kabupaten Luwu Utara.
NO Kecamatan Ibu Kota Kecamatan Jumlah Desa/Kel Luas 1 Seko Eno 12 2.109,19 2 Rampi Onondoa 6 1.565,65 3 Masamba Masamba 19 1.068,85 4 Limbong Limbong 7 686,50 5 Sabbang Marobo 20 525,08 6 Malangke Pattimang 14 350,00 7 Baebunta Salassa 21 295,25 8 Mappedeceng Kapidi 15 275,50 9 Sukamaju Sukamaju 25 255,48
10 Tana Lili Minna 10 155,1
11 Bone-bone Bone-bone 11 122,23
12 Malangke Barat Tolada 13 93,75
2. Deskripsi Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara Berdasarkan ketentuan Pasal 39 Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Utara Nomor 1 3 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Luwu Utara, perlu menetapkan peraturan Bupati tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Uraian tugas serta Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara.
1. Perumusan kebijakan teknis dibidang Kebudayaan dan Pariwisata; 2. Pelaksanaan kebijakan teknis bidang Kebudayaan dan Pariwisata;
3. Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dan pelayanan umum bidang Kebudayaan dan Pariwisata;
4. Pelaksanaan administrasi bidang Kebudayaan dan Pariwisata;
5. Pembinaan, pengoordinasian, pengelolaan, pengen-dalian dan pengawasan program dan kegiatan dinas Kebudayaan dan Pariwisata;
6. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan bidang Kebudayaan dan Pariwisata; dan
7. Pelaksanaan fungsi kedinasan lainnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
33
Bagan 2. Srtuktur Organisasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata :
B. Sumber Daya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata 1. Sumber Daya SKPD
Kemajuan suatu Organisasi dalam menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya sangat ditentukan oleh kemajuan SDM yang dimilikinya. Kualitas SDM sebagai penggerak roda organisasi merupakan faktor internal yang
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKRETARIS KEPALA DINAS UPTD SEKSI PEMBINAAN USAHA WISATA BIDANG KEBUDAYAAN BIDANG PARIWISATA SEKSI PENGEMBANGAN SDM DAN KEMITRAAN PARIWISATA SEKSI SEJARAH, TRADISI DAN KESENIAN SEKSI. CAGAR BUDAYA & PERMUSEUMAN SEKSI TENAGA KEBUDAYAAN
SEKSI PROMOSI DAN PEMASARAN PARIWISATA SUBAG. PERENCANAAN DAN PELAPORAN SUBAG. UMUM, KEPEGAWAIAN DAN KEUANGAN KKke KEPEGAWAIAN
berpengaruh secara langsung terhadap lingkungan strategis. Berikut Sumber daya Manusia yang dimiliki oleh Disbudpar:
Daftar pegawai negeri sipil Dispudpar berdasarkan golongan ruang:
1. Golongan IV/c sebanyak : 1 Orang 2. Golongan IV/a sebanyak : 3 Orang 3. Golongan III/d sebanyak : 5 Orang 4. Golongan III/c sebanyak : 2 Orang 5. Golongan III/b sebanyak : 3 Orang 6. Golongan III/a sebanyak : 4 Orang 7. Golongan II/d sebanyak : 1 Orang 8. Golongan II/c sebanyak : 4 Orang 9. Golongan II/b sebanyak : 1 Orang
2. Anggaran
Anggaran merupakan salah satu faktor pendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi. Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kab. Luwu Utara dalam pelaksanaan program dan kegiatan, alokasi anggaran APBD Tahun 2017 Rp. 2.675.000.000,- (Dua Milyar Enam Ratus Tujuh Puluh Lima Juta Rupiah). Awal Penggunaan anggaran melalui APBD Tahun 2017 disesuaikan dengan masa pembentukan Organisasi kelembagaan pemerintah daerah khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Luwu Utara yang ditetapkan pembentukannya melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang
35
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Utara Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Luwu Utara.
3. Kinerja Pelayanan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata
Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Disbudpar harus dilaksanakan secara terkoordinasi lintas bidang dan lintas sub secara terpadu (integritied), terukur (mesurable) dan dapat dipertanggungjawabkan (accountable) dengan senantiasa memperhatikan hirarki struktural yang berlaku di dalam lingkungan Disbudpar. Tugas pokok dan fungsi yang dikemukakan diatas dapat digambarkan diatas melalui pelayanan yang dilaksanakan oleh Disbudpar adalah sebagai berikut :
A. Bidang Kebudayaan
- Menggali situs-situs di masing-masing daerah di Luwu Utara - Membentuk Sanggar-Sanggar Seni
- Menggali musik tradisional khususnya rekaman lagu-lagu daerah B. Bidang Pariwisata
- Memperbaiki sarana di tempat-tempat wisata - Menyediakan tempat sampah di daerah wisata
4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata.
a. Tantangan
1. Tuntutan Masyarakat akan pentingnya pembenahan Kebudayaan dan Pariwisata yang semakin kuat keseluruh wilayah Kabupaten Luwu Utara. 2. Tuntutan masyarakat akan pentingnya pengembangan dan pembinaan
3. Tuntutan masyarakat terhadap proses pengembangan kewisataan di wilayah Kabupaten Luwu Utara.
4. Tuntutan masyarakat mengenai penguatan nilai-nilai lokal budaya dan adat-istiadat masyarakat Luwu Utara.
5. Terbatasnya anggaran yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan yang diperlukan;
6. Lemahnya koordinasi lintas sektoral dalam mendukung pembangunan pariwisata;
7. Belum menerapkan teknologi informasi yang utuh dalam pengelolaan data kepariwisataan dan kebudayaan ;
b. Peluang
1. Undang-undang Republik Indonesia nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
2. Undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
3. Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
C. Kawasan Objek Wisata Air Terjun Bantimurung
1. Letak Kawasan Objek Wisata Air Terjun Bantimurung
Air Terjun Bantimurung yang terletak di Desa Bantimurung yang merupakan salah satu Desa yang masuk dalam wilayah kerja Kantor Kecamatan Bone-Bone yang terdiri atas 12 Desa/Kelurahan yakni :
37
NO Kelurahan/ Desa Luas
1 Bantimurung 24,00 2 Patoloan 23,71 3 Tamuku 21,24 4 Batangtongka 12,30 5 Pongko 11,20 6 Sadar 10,75 7 Sidomukti 10,50 8 Banyuurip 7,52 9 Bone-Bone 6,31 10 Muktisari 5,79 11 Sukaraya 4,95 12 UPT Bantimurung 2,79
Sumber: Bone-Bone dalam angka
Air terjun bantimurung yang terletak di desa bantimurung mempunyai batasan-batasan sebagai berikut.
a. sebelah utara : berbatasan dengan provinsi Sulawesi Barat b. sebelah timur : berbatasan dengan kecamatan Mangkutana c. sebelah selatan : berbatasan dengan kelurahan Bone-Bone
Gambar 1. Denah desa Bantimurung.
Desa Bantimurung dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dalam waktu 35 menit dari ibukota kabupaten, dengan luas wilayah desa Bantimurung 24,00 .
Desa Bantimurung memiliki kondisi daerah datar dan pegunungan dengan ketinggian150- 300 di atas permukaan air laut. Di desa Bantimurung mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, sebagaian besar merupakan petani coklat, sawah, kelapa sawit, dan lain-lain. Dan adapun jumlah dusun yang terdapat di desa Bantimurung yakni ada 5 dusun yaitu dusun Salulemo, Karangan, Ulusalu, Buntuporingan dan Salupangi.
2. Sarana dan prasarana umum A. Transportasi darat
39
B. Tempat parkir
Sarana parkir di kawasan objek wisata belum optimal di karenakan hanya kendaraan roda dua yang bisa menempati areal parkir tersebut, dan mampu menampung sekitar 25-30 kendaraan roda dua
C. Listrik
Belum ada akses listrik di kawasan objek wisata bantimurung D. Akses komunikasi
Belum ada akses komunikasi di lokasi objek wisata berupa jaringan telekomunikasi karna jarak dari tower pemancar signal sangatlah jauh E. Fasilitas kesehatan
Belum ada fasilitas kesehatan di kawasan objek wisata bantimurung F. Sistem keamanan dan penyelamatan
Belum ada sistem keamanan dan penyelamatan yang ada di kawasan objek wisata
indikator di atas kita bisa menyimpulkan bahwa sarana dan prasarana belum memadai seperti tempat parkir, listrik, akses komunikasi, fasilitas kesehatan, serta keamanan dan penyelamatan.
Gambar 2. Dokumentasi air terjun Bantimurung
Menurut pantauan penulis terhadap objek wisata Bantimurung masih sangat alami dan asri, karena belum terlalu terjamah oleh manusia, naumun yang sangat memprihatinkan yakni akses menuju ke lokasi wisata tergolong kurang baik karena terdapat tanjakan yang tinggi dan turunan yang curam sehingga membahayakan para pengunjung untuk menuju ke lokasi objek wisata air terjun Bantimurung.
D. Hasil Dan Pembahasan
Sebagaimana dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif yang menganalisis lebih mendalam terhadap data-data yang diperoleh. Data yang dimaksud dalam hal ini yaitu wawancara yang dilakukan pada pihak-pihak yang dianggap berkompeten terhadap permasalahan dalam fokus penelitian. Dalam hal ini adalah pengelolaan dan pengembangan obyek wisata Air Terjun Bantimurung yang berfokus pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kebudayaan dan pariwisata.
41
Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Utara Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005 – 2025, yang menyebutkan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berkewajiban menyusun rencana strategis yang memuat landasan hukum, maksud dan tujuan Renstra, gambaran pelayanan SKPD, tugas dan fungsi SKPD, sumber daya SKPD, kinerja pelayanan SKPD, tantangan dan peluang pengembangan pelayanan SKPD, issu-issu strategis, visi dan misi SKPD, tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD, strategi dan kebijakan SKPD serta Rencana Program dan Kegiatan dan Pendanaan Indikatif yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah 5 (lima) tahun kedepan yakni Tahun 2013 – 2018.
1. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu cara rasional untuk mempersiapkan masa depan apa yang ingin dicapai serta menetapkan tahapan-tahapan yang di butuhkan untuk mencapainya. Pada dasarnya tujuan pengelolaan dan pengembangan kawasan objek wisata Bantimurung ini iyalah untuk menarik para wisatawan datang berkunjung dan menikmati keindahan alam dari pada objek wisata air terjun Bantimurung, meningkatnya pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata, serta juga akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitaran objek wisata air terjun Bantimurung.
Program adalah berupa urutan-urutan tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Adapun program-program yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata adalah :
1) Pembangunan infrastruktur pariwisata
Infrastruktur sebagai salah satu faktor penting pada pengembangan pariwisata, dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pengunjung tentunya akan meningkatkan jumlah pengunjung yang berkunjung pada kawasan wisata tersebut. Penyediaan infrastruktur yang baik perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing kawasan wisata tersebut. Saat ini masih banyak pembenahan infrastruktur yang harus dilakukan untuk meningkatkan kawasan objek wisata Bantimurung.. Untuk itu pada pengembangan pariwisata perlu adanya perencanaan penyediaan infrastruktur yang memadai untuk kawasan wisata.
Pembangunan infrastruktur yang baik akan menunjang pendapatan asli daerah tersebut, dengan melalui pungutan retribusi masuk ke kawasan objek wisata. Menapa demikian karena dengan adanya pembangunan infrastruktur yang menunjang kebutuhan pengunjung, tentunya akan membuat nyaman dalam berkunjung dan hasil akhir yang didapatkan yaitu peningkatan jumlah pengunjung yang akan berdampak kembali pada pendapatan dari hasil pembangunan infrastruktur dari pada kawasan objek wisata itu sendiri.
Hal ini juga di tammbahkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata yang menyatakan.
’’Bantimurung ini memang sangat potensi untuk di kembangkan mudah mudahan di 2017 ini bisa dibangun salah satu fasilitas objek wisata ini yaitu ruang ganti, gasebo atau tempat istirahat
para pengunjung wisata. Sedikit demi sedikit bisa
43
Kepala Unit Pengelola Teknis Dinas juga menambahkan
‘’ perbaikan terhadap akses jalan yang menuju ke kawasan objek wisata bantimurung sehingga akan mempermudah para pengunjung menuju kawasan objek wisata Bantiimurung.’’(M. Wawancara pada tanggal 12/10/2017).
Pernyataan kepala dinas kebudayaan dan pariwisata dapat di jelaskan bahwa pengelolaan suatu objek wisata harus dimulai dari perbaikan infrastrukturnya, sehingga dapat atau mampu menarik wisatawan lokal ataupun mancanegara untuk berkunjung menikmati keindahan dari pada objek wisata air terjun Bantimurung yaitu dengan cara perbaikan akses jalan menuju kawasan objek wisata Bantimurung akan mempermudah para pengunjung wisata dalam mengakses kawasan objek wisata Bantimurung.
Adanya perhatian khusus pemerintah terhadap pengelolaan objek wisata Bantimurung dari segi perbaikan infrastruktur , juga mampu meningkatkan usaha mikro masyarakat di sekitar kawasan objek wisata Bantimurung serta meningkatkan pemasukan pendapatan asli daerah dari hasil penjualan karcis masuk ke kawasan objek wisata air terjun Bantimurung.
Kepala desa Bantimurung menambahkan.
‘’kalau di kawasan wisata Bantimurung ini nantinya yang di masukkan dalam penganggaran yaitu akses jalan menuju kawasan objek wisata serta pembuatan tangga menuju air terjun tingkat ke dua.’’(M. Wawancara pada tanggal 13/10/2017).
Penyampaian kepala desa Bantimurung kita bisa menarik kesimpulan bahwa pemerintah menaruh perhatian terhadap objek wisata air terjun
Bantimurung dalam hal penganggaran guna untuk menunjang berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh pengunjung objek wisata Bantimurung. pembangunan ke arah kemajuan tidak terlepas dari peran seorang kepala daerah yang dapat mengkordinir kinerja bawahannya dalam melakukan suatu tugas yang di berikan oleh kepala daerah demi meningkatkan taraf hidup masyarakatnya dan menunjang pendapatan asli daerah agar nantinya anggaran pendapatan tersebut bisa digunakan untuk membangun kembali destinasi objek wisata ataupun dapat dialih fungsikan untuk membangun infrastruktur yang lain.
2) Pemenuhan fasilitas standar
Pemenuhan fasilitas standar merupakan penyediaan kebutuhan yang harus