• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORANG MINANG SULIT AIR: PEMBENTUKAN JATI DIRI DAN KEBANGGAAN BERNAGARI

C. SAS dan Jejaring Sosial Perantau Sulit Air Lainnya

Masyarakat Sulit Air dikenal sukses dalam perdagangan di rantau, tapi juga ada kebanggaan dalam memberi bantuan bagi pembangunan nagarinya. Bila diteliti banyak lagu-lagu Minang yang menggambarkan hal ini. Dalam percakapan pribadi dan kelompok, Fachry Ali, seorang pengamat politik dan budaya, mengatakan bahwa ‘Indonesia’ dalam pandangan kaum Minang adalah ‘proyeksi etnik’ mereka. Jadi, ‘pusat’-nya tetap Minangkabau. Hatta, Tan Malaka, Agus Salim dan lain-lain, dengan demikian, mereka adalah ‘dubes’ Minang. Terdapat lagu-lagu yang mengumandangkan ‘membalik’ pusat ke Jawa (Tanah Jao). ‘Jawa’ bisa menjadi ‘koloni’. Tetapi sekaligus ‘medan pertempuran’. Eksistensi seseorang ditentukan ditentukan oleh kejayaan yang berhasil diraih di Jawa. Tetapi, keberhasilan tersebut bersifat ‘ekonomis’. Salah satu indikasinya adalah sang perantau tetap bertekad mengirimkan dana ke kampung (Minangkabau) ‘walau hanya sebenggol,’ kata lagu-lagu itu. Ini yg menguatkan pandangan bahwa Jawa adalah ‘koloni’. Sementara, kerinduan tetap berlabuh ke kampung halaman.

Perlu ditekankan di sini bahwa keberhasilan para perantau bukan hanya semata keberhasilan ekonomis, tetapi kebanggaannya terletak bagaimana mereka ‘berbagi’ dalam bentuk praktik filantropi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Sulit Air dalam rangka membangun kampung halamannya. Filantrofi yang dilakukan para perantau sangat penting sebagai alat transformasi prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam dalam pengembangan ekonomi umat, khususnya dengan menggunakan instrumen filantropi Islam.

Didorong oleh pandangan hidup adat Minangkabau dan didesak oleh kebutuhan ekonomi, mereka meninggalkan kampung halaman pergi ke rantau menjadi keharusan. Merantau bukan berarti melepaskan identitas sosial, melainkan semacam upaya, ikhtiar meraih kehidupan yang layak. Orientasi merantau untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang lebih baik secara filsofis menurut adat adalah untuk kembali ke kampung, tempat ia dilahirkan atau tanah asal keluarganya.

Ada nilai yang dibawa ke rantau orang. Sanak saudara ditinggalkan, di rantau harus mendapat gantinya. Hiyu bali balanak bali, ikan panjang bali dahulu. Ibu cari

dunsanak cari, induak samang cari dahulu (Hiyu dibeli, balanak pun dibeli, ikan

panjang beli dahulu; Ibu dicari dunsanak dicari, induk semang cari dahulu). Secara simbolik, merantau bukan berarti kehilangan segala sesuatu yang ada di kampung

halaman. Lebih dari itu, harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Inggok mancakam, tabang manumpu (Hinggap mencekam dahan, jika terbang

bertumpu dengan dahan tersebut).

Proses merantau ke kota-kota yang ada di daerah Sumatera atau pun Jawa dimulai dengan mencari induk semang yang biasanya berasal dari keluarga yang terlebih dahulu merantau. Merantau bagi seorang laki-laki Minangkabau tidak diiringi dengan membawa modal atau uang yang berlimpah. Melainkan membawa tulang nan

ampek karek, tubuah nan tigo runggo.5 Dengan cara ‘magang’ dengan keluarga yang sudah ada di rantau ia belajar berdagang dan memulai ‘mengintip’ jenis dagangan, apakah ia nantinya akan membuka jenis perdagangan yang serupa atau membuka usaha baru yang lebih menguntungkan. Biasanya ‘magang’ dilakukan selama 2 atau 3 tahun dan setelah itu ia akan berusaha sendiri. Prinsip regenerasi perdagangan seperti ini selalu dilakukan antar generasi.

Situasi jaringan kerja ekonomi perantau Minang menuntut para perantau agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat dia merantau. Meski hidup merantau di negeri orang, namun identitas keminangannya tetap terbawa sebagai identitas dan jati diri, seperti melaksanakan ajaran agama Islam dan adat-istiadat yang telah menjadi bagian dari falsafah hidup orang Minang. Pepatah Minag mengatakan

cupak nan tatagak (adat istiadat) di rantau orang ditaati dan diikuti. Di ma bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Menghormati dan ikut berpartisipasi dalam

kehidupan sosial masyarakat rantau, sesuai dengan adat istiadat mereka.

Hidup di perantauan yang jauh dari anak dan isteri telah membuat eratnya hubungan kekerabatan masyarakat Sulit Air dan mendorong mereka untuk berkumpul membentuk organisasi sosial guna menjaga hubungan silaturahim sesama mereka. Tidak sekedar itu, organisasi yang mereka bentuk tanpa disadari telah membentuk jejaring sosial yang kuat sehingga bisa dijadikan modal sosial (social capital) bagi masyarakat Sulit Air untuk mengembangkan perekonomian, atau membangun kampung halaman mereka. Melihat suasana kegotongroyongan masyarakat Sulit Air, Prof. Ahmad Syafii Maarif yang juga berasal dari Minang, dalam buku otobiografinya memuji kekompakan dan keharmonisan organisasi perantau asal Sulit Air.

Secara historis sangat banyak organisasi yang dibentuk oleh perantau Sulit Air. Bahkan ada juga yayasan-yayasan sosial yang juga mereka bentuk, seperti Yayasan Gunung Merah Yogyakarta, Yayasan Yaraja, Yayasan Rosma Rais, Yayasan Haji, dan lain sebagainya. Namun, organisasi warga Sulit Air yang terkenal adalah Sulit Air Sepakat (SAS), khusus untuk mereka yang telah berkeluarga; sedangkan Ikatan Pemuda Pelajar Sulit Air (IPPSA) untuk para pemuda dan pelajar Sulit Air, baik yang merantau atau yang lahir dan besar di rantau orang. Tak ketinggalan, berdirinya Dewan Dakwah Risalah (DDR) pada tahun 2005 dalam rangka memperkuat rancangan bagi pengembangan dakwah dan lembaga pendidikan Islam nagari Sulit Air ke depan.

5 Tulang nan ampek karek, artinya tulang yang empat bagian: dua tangan dan kaki. Adapun tubuah nan tigo runggo, artinya tubuh yang terdiri dari tiga rongga: kepala, dada, dan perut. Dada merupakan simbol ilmu pengetahuan, dada adalah tempat bersemayamnya keimanan, dan perut adalah kesejahteraan ekonomi.

Transformasi SAS pada Era 4.0

Keberadaan SAS sebagai organisasi perkumpulan perantau Minangkabau yang cukup solid tidak terlepas dari kemampuannya melakukan transformasi dengan perkembangan zaman. Sebagaimana temuan Addiarrahman, perkumpulan SAS secara perlahan mampu melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi.6

Ini dapat terlihat dari program-program kegiatan pengurus DPP SAS Periode 2017-2021 di bawah pimpinan H. Samsuddin Muchtar. Sekalipun tidak termasuk dalam rekomendasi musyawarah besar (Mubes SAS 2017), ketua umum DPP SAS sangat responsive menjawab kebutuhan berorganisasi dan bermasyarakat.

“Saya ini pebisnis. Dituntut mampu melihat perkembangan yang ada. Jika tidak, maka kita kalah. Online ini kemutlakan. Kita harus sikapi. Saat ini saja kita sudah ketinggalan berpuluh langkah. Jika tidak disakapi, maka kita akan terbelakang.”7

Komitmen Samsuddin agar SAS mampu merespon perkembangan informasi dan digitalisasi, tercerminkan pada program kegiatan yang dilaksanakannya. Berikut adalah laporan kegiatan yang disampaikan pada kegiatan musyarakat kerja nasional pada tahun 2019.

1. Bidang Hubungan Kerjasama Antar Lembaga

Pemakaian Narkoba dikalangan masyarakat belakangan ini sering kita dengan dan telah menelan beberapa korban jiwa dikalangan remaja termasuk di Sulit Air, sebelum kita melangkah untuk melakukan kerjasama dengan pihak BNN, perlu kepedulian dan perhatian serius dari semua pihak dalam masyarakat baik dari pemerintah Nagari, Alim Ulama dan datuk-datuk/penghulu kepala kaum terutama dari pihak sekolah yaitu secara rutin memberikan pengertian kepada anak didik dan para remaja dan masyarakat diluar sekolah mengenai bahaya narkoba, jika langkah ini tidak berhasil maka perlu kita adakan kerjasama dengan pihak BNN.

DPP SAS melalui Ketua Bidang Hubungan Kerjasama Antar Lembaga juga telah melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pemerintahan Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Diatas, Pemda Kab. Solok, dan Pemda Sumatera Barat. Oleh sebab itu, DPP SAS juga ikut berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan penting yang bersentuhan langsung dengan masyarakat Sulit Air, seperti:

6 Addiarrahman Addiarrahman, “Kearifan Lokal Dan Aktifitas Filantropi Perantau Sulit Air Sepakat (SAS) Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0,” INFERENSI: Jurnal

Penelitian Sosial Keagamaan 13, no. 1 (20 Juli 2019): 177–200, https://doi.org/10.18326/infsl3.v13i1.177-200.

a.

Kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa/Nagari;

b.

Mendukung secara aktif program Pemda Sumbar yang telah menetapkan Nagari Sulit Air sebagai Nagari Binaan Kerjasama Rantau;

c.

Melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan/ Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri, untuk memperoleh beasiswa atau minimal keringanan pembayaran uang kuliah bagi putra-putri Sulit Air yang kuliah di PT tersebut. Untuk saat ini, DPP SAS telah menandatangani Naskah Kesepahaman (MoU) dengan UIN Imam Bonjol Padang;

d.

Pada tanggal 26 April 2019, DPP SAS berkunjung ke Kantor Gubernur Sumatera Barat dalam rangka kerjasama antar lembaga dan diterima oleh Asisten II Gubernur, Bapak Benny dan Kepala Bidang Bina Rantau, Ibu Hilma;

e.

Melakukan kerjasama dengan Yayasan, perkumpulan, dan badan lainnya terutama dalam bidang sosial kemasyarakatan, seperti: pengumpulan dana untuk korban bencana alam dan kebakaran dari warga Sulit Air, baik di rantau maupun di kampung halaman;

f.

Kerjasama dengan travel dan biro perjalanan haji dan umrah, seperti dengan PDA Travel di Pekanbaru, Sianok Travel di Padang

2. Bidang Pemuda dan Olahraga

Wafatnya Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga, sedikit menghambat kinerja pada bidang ini. Namun, trobosan utama yang telah dilakukan adalah pendirian Akademi Sepak Bola (ASB) di Sulit Air yang pada mulanya dibiayai sepenuhnya oleh DPP SAS. Melihat perkembangan dan kemajuan SSB, masyarakat luas menjadi antusias dan ikut memberikan dukungan dana setiap bulannya untuk operasional ASB. Di samping itu, Bpk. Muslim sebagai pengganti almarhum Drs. H. Firdaus Syam, telah berperan aktif dalam membantu IPPSA melaksanakan LDK.

3. Bidang Penelitian dan Pengembangan

Kami telah melakukan diskusi-diskusi dan konsultasi dengan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang pendidikan dan penyaluran tenaga kerja, antara lain dengan Enleght, salah satu lembaga di Australia (Sydney) yang bergerak dalam bidang agensi pendidikan dan tenaga kerja di Australia. Australia masih sangat membutuhkan tenaga kerja yang bersifat Skill seperti Dokter, Perawat, tenaga mekanikal dan keahlian lainnya. Untuk bidang pendidikan Enlight juga memberikan konsultasi dan mencarikan perguruan tinggi yang berkualitas untuk warga Indonesia khususnya warga Sulit Air yang ingin melanjutkan study ke Jenjang S2 di Australia. Mahasiswa yang belajar di Australia diberikan kesempatan oleh pemerintah Australia untuk bekerja 18 jam/minggu dengan upah berkisar antara 20 s.d 40 Dollar/jam, sehingga mahasiswa dapat membiayai hidup sendiri sembari menuntut ilmu.

4. Bidang Pariwisata, Sosial, Adat dan Budaya

Program unggulan pada bidang ini adalah SAS Peduli. Hingga saat ini, DPP SAS melalui program SAS Peduli telah berperan aktif dalam meringankan beban korban bencana alam, seperti: kebakaran, gempa bumi, sunami, angina putting beliung, dan lainnya. Total dana yang telah disalurkan adalah sebesar: Rp. 246.990.000 (Dua ratus empat puluh enam juga sembilan ratus Sembilan puluh

juta rupiah). Adapun rinciannya, sebagai berikut:

▪ Kebakaran Ujung Batu terkumpul sebesar Rp.10.500.000;

▪ Kebakaran di Kerinci dan Way Halim telah terkumpul Rp.24.840.000 untuk 9 keluarga;

▪ Kebakaran di Pasar Natar dan Angin Puting Beliung di Sulit Air telah terkumpul dana sebesar Rp.103.750.000 (Termasuk dari YTMP Rp.12.800.000) telah disalurkan sbb. :

a. Untuk warga SAS Natar Rp.74.650.000 (Incl Transportasi) b. Untuk warga di Sulit Air Rp.27.900.000 (Incl Transportasi)

▪ Musibah angin Puting beliung dan badai serta kebakaran Rumah Ibu Nurhayati di Linawan telah terkumpul dana sebesar Rp.16.900.000;

▪ Bantuan utk Warga SAS KCS Yen Marnis yang terkena Kanker Rp.14.600.000;

▪ Bantuan Gempa Lombok Rp.18.850.000 dan 500 kg Rendang; ▪ Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala Rp.31.200.000;

▪ Bantuan Kebakaran Warga SAS Petamburan Rp.10.600.000 tanggal 29 Januari 2019;

▪ Bantuan Kebakaaran warga SAS Tanah Abang Rp.2.250.000 tanggal 29 Januari 2019;

▪ Bantuan Kebakaran warga SAS Pekanbaru Rp.4.500.000;

▪ Bantuan Computer untuk MAM Sawitan Rp.9.000.000 (5 unit computer); ▪ Bantuan musibah kebakaran dan banjir di Bengkulu, diserahkan tanggal 7

Mei 2019 uang sejumlah Rp. 11.650.000 dan rendang dari pemda Sumbar sebanyak 12 Kotak.

5. Bidang Hukum dan Perlindungan Anggota

Masalah utama yang dihadapi dalam bidang ini adalah kesadaran masyarakat tentang hukum dan advokasi hukum. Sdr. Afdhal Muhammad, SH sebagai ketua bidang hukum dan perlindungan anggota senantiasa menghimbau bahwa advokasi hukum bukanlah melindungi orang yang salah, melainkan melindungi hak-hak hukum setiap anggota/ warga Sulit Air yang mengalami masalah hukum. Oleh sebab itu, yang diperlukan adalah kesadaran warga Sulit Air untuk mematuhi setiap peraturan/ hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

6. Bidang Pembinaan Asset

Tugas utama bidang pembinaan asset adalah melakukan balik nama kepemilikan Gedung DPP SAS menjadi milik “Perkumpulan SAS”. Program ini telah terlaksana dengan baik sesuai dengan limit waktu yang ditetapkan oleh Mubes SAS 2017. Awalnya, banyak pihak yang meragukan kemampuan DPP SAS melakukan hal itu karena biaya yang diperlukan terbilang cukup besar. Jika berpatokan pada nilai NJOP, DPP SAS harus menyiapkan dana + Rp. 970.000.000. Namun, dalam proses balik nama, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, proses balik nama tersebut bisa terwujud dengan hanya menghabiskan biaya Rp. 265.000.000,-.

Terhitung sejak tanggal 27 Desember 2017 dengan Nomor Sertifikat Hak Guna Bangunan: 00702/Manggarai Selatan telah resmi menjadi milik Perkumpulan SAS. Oleh sebab itu, DPP SAS telah menghimbau agar seluruh cabang melakukan hal yang sama melalui Surat Edaran Nomor SE.11/DPP SAS/XII/2017 tertanggal 08 Desember 2017.

Sampai saat ini, ada DPC SAS yang telah melakukan balik nama, yaitu: DPC SAS Kebayoran, Ciledug, dan Sekitarnya (KCS), Parung Panjang, Muara Dua, Kota Bumi, Petamburan, dan Padang. Adapun yang masih dalam proses, yaitu: DPC SAS Palembang, Bandar Jaya, Kepahiang, Pulau Beringin, Liwa, dan Bandung.

7. Bidang Media, Informasi dan Teknologi

Penerbitan Suara SAS sebagaimana yang di amanat Mubes SAS 2017 adalah dalam bentuk cetak. Hal ini telah dilakukan dengan diterbitkannya Suara SAS Edisi 1 Tahun 2018. Akan tetapi, masalah utama terbitan majalah dalam versi cetak saat ini adalah informasi yang disajikan relatif telah usang atau kadaluarsa. Keberadaan social media, seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, menyebabkan setiap informasi tersebar secara real time. Oleh sebab itu, dan atas pertimbangan efisiensi dan efektifitas, DPP SAS memutuskan menghentikan majalah Suara SAS dalam versi cetak. Sebagai gantinya, DPP SAS membuat laman informasi versi daring yang dapat diakses melalui https://www.sas.or.id. Website ini berfungsi sebagai Sistem Informasi SAS (Sinfo-SAS) yang memuat

menu-menu utama, seperti: Suara SAS, Kaba Nagari, KAN, IPPSA, dan lainnya. Di samping itu, pada link tersebut juga tersedia online library (e-Library) yang menyediakan referensi-referensi penting tentang Sulit Air, sehingga memudahkan siapapun yang hendak melakukan kajian tentang Sulit Air. Menu lainnya yang sedang dikembangkan adalah laman Lazis SAS. Pada laman ini, warga SAS dapat mengakses informasi berkaitan dengan pengelolaan dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah; baik dari aspek pengumpulan dan pemanfaatannya. Seluruh sistem informasi tersebut dapat diakses melalui telepon pintar dan saat ini, sedang dilakukan pembuatan aplikasi yang akan tersedia di google playstore sehingga setiap warga dapat mengaksesnya secara cepat. Di samping itu, bidang ini juga telah membuat youtube channel Perkumpulan SAS.

Gambar 3. Homepage sas.or.id