• Tidak ada hasil yang ditemukan

SASARAN DAN CAPAIAN

G

erakan literasi sekolah (GLS) merupakan program nasional yang merupakan turunan dari gerakan literasi nasional (GLN), yang di dalamnya tercakup gerakan literasi keluarga (GLK) dan gerakan literasi masyarakat (GLM). Sebagai gerakan nasional, GLS wajib dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan yang pelaksanaannya didasarkan pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam Permendikbud tersebut secara eksplisit diwajibkan setiap siswa membaca selain buku pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan bagian integeral dari sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu SLB pun wajib melaksanakan program GLS.

SLB merupakan salah satu jenis pendidikan formal yang secara spesifik disiapkan untuk melayani kebutuhan pendidikan dan pembelajaran anak-anak yang berkebutuhan khusus (ABK). Oleh orang awam, ABK sering dikonotasikan sebagai anak yang memiliki kekurangan; sesungguhnya tidaklah demikian. Dalam logika kurva normal, yang dikategorikan ABK tidak hanya anak ‘berketerbatasan’, tetapi juga mencakup anak yang ‘berkelebihan’. Akan tetapi kajian ini difokuskan pada anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita. Anak tunanetra umumnya menjalani pendidikan pada SLB­A, anak tunarungu pada SLB­B, dan anak tunagrahita pada SLB­C. Akan tetapi,

untuk saat ini, klasifikasi itu sudah ditiadakansehingga setiap SLB dapat melayani beberapa rumupun anak berkebutuhan khusus. Terkait pelaksanaan GLS di SLB dapat disimpulkan hal­

hal berikut ini.

Pertama, pelaksanaan GLS bagi peserta didik tunanetra masih banyak menghadapi kendala, antara lain kecepatan membaca huruf Braille masih berada di bawah rata-rata.

Untuk mengimbangi kecepatan membaca huruf Braille yang jauh lebih rendah daripada kecepatan membaca huruf awas diperlukan teks literasi berhuruf Braille yang dikemas secara singkat dan padat, tanpa mengurangi informasi pokok. Kendala lain bersumber dari internal personlitas perserta didik, seperti kecemasan dan frustasi yang mengurangi motivasi berprestasi para peserta didik tunanetra. Untuk mengatasi kendala itu, pihak sekolah mengembangkan tiga pola kegiatan literasi tunanetra, yaitu dibacakan guru, menggunakan audio book, dan menyediakan pojok Braille di belakang ruang kelas.

Penerapan tiga pola itu merupakan upaya implementasi kegiatan early literacy, basic literacy, library literacy, media literacy dan technology literacy. Karena keterbatasannya pada aspek penglihatan, kepada peserta didik tunanetra tidak dapat dilakukan kegiatan visual literacy. Kegiatan ini diganti dengan pajanan benda tiruan tiga dimensi yang fokus pada penggunaan indera takstil. Untuk menyukseskan program nasional ini, dukungan publik sangat dibutuhkan. Dukungan konkret telah banyak dilakukan oleh dunia usaha dan Industri.

Dukungan konkret komite sekolah dan orang tua/wali murid perlu lebih didorong, bukan hanya pada pemahaman terhadap pentingnya keterampilan literasi bagi peserta didik, tetapi

Kebutuhan Teks Literasi Peserta Didik Sekolah Luar Biasa

juga pemotivasian dan penumbuhan kesadaran berliterasi.

Komite sekolah dapat membentuk komite literasi Braille yang membantu tumbuh kembang keterampilan literasi para peserta didik tunanetra.

Kedua, hal yang sama pun terjadi pada anak tunarungu.

Anak tunarungu mengalami hambatan serius dalam berliterasi. Berdasarkan data terungkap bahwa anak-anak tunarungu memiliki keterampilan berbahasa Indonesia yang sangat rendah; sedangkan keterampilan berbahasa Indonesia tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung keterampilan literasi mereka. Hambatan kebahasaan yang dialami anak tunarungu terdapat pada semua aspeknya:

kosakata, morfologi, sintaksis, dan kewacanaan. Oleh karena itu diperlukan upaya perekayasaan teks literasi yang diperuntukkan bagi anak-anak tunarungu. Perekayasaan teks dilakukan dengan mengikuti kapasitas kebahasaan anak­

anak tunarungu. Perlu ada upaya penyederhanaan kosakata;

menghindari penggunaan kata abstrak, istilah, kiasan, dan kata majemuk; jika harus menggunakan kata polimorfemis upayakan menggunakan afiks produktif yang biasa digunakan anak-anak tunarungu. Penyususnan kalimat diupayakan menggunakan kalimat tunggal­aktif dan paragraf singkat.

Untuk memenuhi kebutuhan literasi anak tunarungu, perlu digunakan teks telegrafis, yakni teks yang sederhana, singkat, dan jelas. Teks ini mementingkan informasi inti, sehingga dalam pembacaannya tidak memerlukan waktu yang lama, mengingat KEM anak tunarungu sangat rendah dibandingkan anak normal. Strategi ini diharapkan dapat ‘menutupi’

keterbatasannya untuk mendapatkan informasi.

Ketiga, hambatan literasi pun dialami oleh anak tunagrahita. Hambatan literasi yang dialami anak-anak tunagrahita bersumber dari 2 hal yang saling berhubungan, yakni hambatan penguasaan bahasa dan tingkat inteligensinya yang relatif rendah. Skor integensi anak­anak tunagrahita berada di bawah 70. Rendahnya inteligensi anak tunagrahia berimplikasi pada performasi bahasa Indonesia yang tercermin melalui keterbatasan karakteristik kosakata dan pola kalimat yang digunakan, serta rendahnya tingkat kecepatan efektif membacanya. Kosakata bahasaa Indonesia anak-anak tunagrahita didominasi oleh nomina konkret dan monomorfemis. Dalam bidang sintaksis, didominasi oleh penggunaan kalimat berklausa tunggal­aktif. Antara karakteristik kosakata dan pola kalimat yang digunakan anak­

anak tunagrahita saling bersesuaian. Dengan karakteristik dan tingkat inteligensi yang terbatas, kecepatan efektif membaca anak-anak tunagrahita hanyaberkisar pada skor 11,609 kata per menit. Berdasarkan realitas kebahasaan dan perkembangan kognitif anak tunagrahita seperti itu maka dibutuhkan intervensi teks untuk mendukung pelaksanaan program gerakan literasi sekolah. Intervensi teks yang dibutuhkan harus bersesuaian dengan performansi bahasa Indonesia yang dimiliki anak-anak tunagrahita. Untuk mendukung kegiatan lieterasinya, anak tunagrahita membutuhkan teks telegrafis, yakni teks yang singkat, padat, tetapi jelas dengan mengutamakan gagasan pokok dan penting. Ide penjelas dapat diungkapkan dengan penggunaan analogi dan contoh konkret.

Jadi, secara umum, untuk mendukung pelaksanaan program gerakan literasi sekolah di SLB dibutuhkan

Kebutuhan Teks Literasi Peserta Didik Sekolah Luar Biasa

perekayasaan teks literasi. Teks literasi yang dibutuhkan anak-anak berkebutuhan khusus, terutama dari rumupn tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita adalah teks telegrafis, yakni singkat, padat, dan jelas. Selain itu, penyusunan teks telegrafis perlu mempertimbangkan karakteristik performansi bahasa Indonesia anak-anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita.

***

Berdasakran simpulan tersebut, dapat disarankan hal-hal berikut. Pertama, perlu ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mendukung pelaksanaan GLS pada SLB. Upaya yang sungguh­sungguh tidak hanya dilakukan oleh guru dan pihak sekolah tetapi juga perlu diupayakan oleh orang tua, komite sekolah, dan pengampu kepentingan yang lain. Kedua, Perlu dilakukan kajian lanjutan untuk mewujudnyatakan temuan konseptual ini menjadi langkah konkret. Kajian terapan sangat dibutuhkan untuk menemukan model atau prototipe teks literasi yang paling sesuai dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Model atau prototipe teks literasi yang akan dihasilkan dari riset terapan, selanjutnya, diharapkan dapat dikembangkan secara luas melalui riset pengembangan.

Kajian pengembangan merupakan wahana validasi produk secara lebih luas dan terbuka. Verifikasi luas dan terbuka merupakan langkah dalam kegiatan ilmiah. Semoga harapan ini menjadi kenyataan.

***

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan dan Tekonolgi yang telah membiayai penerbitan ini melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat; Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para guru, kepala sekolah dan peserta didik yang telah berkenan mendukung pelaksanaan riset ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang telah memberikan perhatian dan dukungan sehingga riset ini dapat dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Y; Mulyati, T; and Yunansah, H. (2017) Pembelajaran Literasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Al-Mubarrok, M.R. and Wagiati. (2021). Analisis Struktur dan Pola Kalimat pada Karangan Anak Penyandang Tunagrahita Sedang IQ 40 – 50: Kajian Sintaksis. Nusa Vol. 6(1), pp 20 – 34. https://ejournal.undip.ac.id/

index.php/nusa/article/view/35243/0

Alothman, A.A. (2021). Language and Literacy of Deaf Children.

Psychology and Education, 58(1), 799 – 819. https://

doi.org/10.17762/pae.v58i1.832

Alwasilah, A. C. (1985) Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung : Angkasa.

Arnawa, N. (2008). Wawasan Linguistik dan Pengajaran Bahasa. Denpasar: Plawa Sari.

Arnawa,N; Geria, A.A.G.A; Arsana, I G.L; Sugata, IM. (2020).

The Implementaation of School Literacy Program for Blind Students at Special Schools in Bali Province.

PalArch’s Journal of Archeology of Egypt/Egyptology.

17(6), 4262 – 4272. https://archives.palarch.nl/index.

php/jae/article/view/1667/1667

Arnawa, N; Geria, A.A.G.A; Arsana, I G.L. (2020). Gerakan Literasi pada SLB­A di Provinsi Bali. Makalah disampaikan pada Senarilip IV, 6 -7 Oktober 2020.

Arnawa, N; Geria, A.A.G.A; Arsana, I G.L. (2021). Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman untuk Penguatan Literasi pada Anak Tunarungu. Makalah disampaikan pada Senarilip V, 5 – 6 Nopember 2021.

Teks Literasi Anak Tunagrahita: Studi berdasarkan kompetensi linguistiknya. Makalah disampaikan pada Santimas I, 24 September 2022.

Arnawa, N; Geria, A.A.G.A; Arsana, I G.L. (2022). Indonesian Language Characteristics of Deaf Children and Implications for Literacy Skills. Theory and Practice in Language Studies. 12(1), 103 – 109. DOI: https://doi.

org/10.17507/tpls.1201.12

Arnawa, N; Geria, A.A.G.A; Arsana, I G.L. (2022). Aspek­

Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia Sebagai Upaya Penguatan Literasi Anak Tunarungu. Stilistika Vol. 10(2) pp 378 – 390. DOI: 10.5281/zenodo.6864936 https://

ojs.mahadewa.ac.id/index.php/stilistika/article/

download/2061/1505/7566

Baradja, M.F. (1976). Membaca. Jurnal Pengajaran Bahasa dan Sastra, 2(1), 2 – 9.

Baradja, M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang : IKIP Malang Press.

Bloomfield. L. (1995). Bahasa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Briggle, S.J. (2005). Language and Literacy Development in Children Who Are Deaf or Hearing Impaired. Kappa Delta pi Record, 68 – 71. https://files.eric.ed.gov/

fulltext/EJ683441.pdf

Camalia, F. (2016). Pengembangan Audiobook Dilengkapi Alat Peraga Materi getaran Gelombang Untuk Tunanetra Kelas VIII SMP. In Universitas Negeri Semarang. https://

lib.unnes.ac.id/26695/

Chafe, W.L. (1970). Meaning and The Structure of Language.

Chicago : The University of Chicago Press.

Chomsky, N. (1965). Aspect of The Theory of Syntax. New York:

The MIT Press.

Damiati, V.S. (2021). Literasi Membaca: Hasrat Memahami Kehidupan. Bandung: Refika.

Dardjowidjojo, S. (2003). Psikolonguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Darmawati. (2019). Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan Menggunakan Metode Klos Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 3 Palopo. Jurnal Onoma Vol. 5(1), 369 – 376. https://e­journal.my.id/onoma/article/

view/45/45

Danis Association of the Blind and the International Council for Educatian of People with Visual Impairment. (2018).

Braille Teaching and Literacy: A Report for the European Blind Union and European Commission.

https://www.pathstoliteracy.org/research/braille-teaching-and-literacy-report- european-blind-union-and-european-commission

Delphie, B. (2012). Pembelajaran Anak Tunagrahita. Bandung:

PT. Refika Aditama.

Emerson, R. ., Holbrook, M. C., & D’Andrea, F. M. (2009).

Acquisition of Literasi Skills by Young Chikdren Who Are Blind: Results from the ABC Brille Study. Journal of Visual Impairment & Blindness, 610 – 624. https://

www.researchgate.net/publication/286232902

Engdahl, E. (1991). Parametric Variation. In Natural Language and Speech (Veltman, eds). New York: Springer-Verlag.

Enns. C. (2009). Critical Literacy: Deaf Adults Speak Out.

Jurnal Exceptionality Education International, 19(2), hal 3 – 20. https://www.researchgate.net/

Adults_Speak_Out

Gleason, H.A. (1970). An Intoduction to Descriptive Linguistics.

London: Holt.

Haenudin. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu. Jakarta: PT. Luxima Metro Media.

Harris, M. (2015). The Impact of New Technologies on the Literacy Attainment of Deaf Children. Top Lang Disorder, 35(2), 120 – 132 http://doi.org/101097/TLD.

0000000000000052

Hassanzadeh, S. and Nikkhoo, F. (2019). Reading Literacy Development of Deaf Students in Special Schools in Iran. International Journal of Special Education, 34(1), 245 – 254 https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1237148.

pdf

Hidayat, A. A., & Suwandi, A. (2016). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra. Jakarta: Luxima Metro Media.

Hoskin, E., & Davis, T. C. (2019). Assistive Technology for Braille Literacy Education: Identifying Ideal Design Criteria.

Building and Designing Assistive Technology Lab, Queen University. https://www.resna.org/sites/default/files/

conference/2019/cognitive/Hoskin.html

Humaira, D. 2012. Pelaksanaan Pembelajaran bahasa Indone-sia bagi Anak Tunagrahita Ringan Kelas III di SLB Sabi-luna Pariaman. Dalam E-Jupekhu, Vol. 1 No. 3 hal. 95 – 109.

Ina, B.T. (2018). Pemerolehan Bahasa Anak berkebutuhan Khusus Kelas VI SLB Sumba Timur NTT. NOSI Vol 6(2), pp 1 – 10. https://pbindoppsunisma.com/wp­content/

uploads/2018/10/Brigita-Tamu-Ina.pdf

Ingvalson, E.M; Grieco­Calub, T.M; Perry, L.K; and VanDam, M.

(2020). Rethinking Emergent Literacy in Children with Hearing Loss. Frontier in Psychology, Vol. 11, 1 – 12 http://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00039

Jumaidi, Atmazaki, & Thahar, H. E. (2013). Peningkatan Kecepatan Membaca Tulisan Braille dengan Teknik Dua Tangan Bagi Tunanetra Kelas V SLB Negeri 2 Padang.

Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pembelajarannya, 1(3), 60 – 70. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/bsp/article/

view/5016

Kemendikbud. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. https://simpuh.

kemenag.go.id/regulasi/permendikbud_23_15.pdf Kemendikbud. (2016a). Panduan Gerakan Literasi

Sekolah di Sekolah Luar Biasa. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. https://

pusatstudiliterasi.unesa.ac.id/assets/uploads/

dokumen/b00721a0-635e-11e8-922d-095faec5a65b.

pdf

Kemendikbud. (2016b). Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah.

Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. http://repositori.kemdikbud.go.id/39/1/

Desain­Induk­Gerakan­Literasi­Sekolah.pdf

Kemendikbud. (2017). Panduan Gerakan Literasi Nasional.

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/

uploads/2017/08/panduan-gln.pdf

Kemis dan Rosnawati, Ati. (2020). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunagrahita. Jakarta: Luxima Kridalaksana, H. (1996). Pembentukan Kata dalam Bahasa

Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, H. (1993). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

(2014). Foundations for Literacy: An Early Literacy Intervention for Deaf and Hard­of­Hearing Children.

Journal of Deaf Studies and Deaf Education, 9(4), 438 – 455. http://doi.org/10.10903/deafed/enu0202

Luckner, J.L., Sebald, A.M., Cooney J., and Muir, S.G. (2005). An Examination of the Evidence­Based Literacy Research in Deaf Education. American Annals of the Deaf, 150(5), 443 – 456. http://doi.org/10.1353/aad.2006.0008 Lyons. J. 1992. Langauge and Linguistics. Cambridge :

Cambridge Univerity Press.

MacQueen, J.C; Betts, C.E; Felling, C.R. (1973). Classroom Ap-proach to Language Development for Mentally Retard-ed Children. Research Report, The University of Iowa.

https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED082398.pdf

Mullis, I.V.S. et al. (2012). International Results Reading.

Boston: Lynch School of Education.

Nisa, A.F; Nurjamin, A; and Julianto, C.D. (2021). Kemampuan Penggunaan Kosakata Bahasa Indonesia pada Anak Tunagrahita. Caraka Vol 10(2), pp 125 – 134. https://

journal.institutpendidikan.ac.id/index.php/caraka/

article/view/1415/950

National Council for Special Education (2011). The Education of Deaf and Hard of Hearing Children in Ireland.

https://ncse.ie/wp-content/uploads/2014/09/

DeafEducationReport.pdf

National Federation of The Blind. (2009). The Braille Literacy Crisis in America: A Report to the Nation. Jernigan Institute. https://www.nfb.org/sites/www.nfb.org/

files/images/nfb/documents/pdf/braille_literacy_

report_web.pdf

Nugrahani, F; Imron, A; and Widayati, M. (2020). Gerakan

Literasi Sekolah Berbasis Kearifal Lokal dan Kontribusinya bagi Pendidikan Karakter. Jurnal Widyaprana, 48 (1), 50 – 64 https://www.widyaparwa.com/index.php/

widyaparwa/article/download/438/pdf_1

Oka, I G.N. (1976). Membaca Kreatif. Jurnal Pengajaran Bahasa dan sastra 2(2), hal. 2 – 7.

Parera, J.D. (1987). Lingusitik Edukasional. Jakarta: Erlangga.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Pratiwi, E.A; Mulianingsih, M; Romadonika, F; and Supriyadi.

(2021). Upaya Peningkatan Perkembangan Bahasa Melalui Metode Role Playing bagi Anak Tunagrahita di SLB Pembina Mataram. Adma Vol. 2(1), pp 117 ­124.

https://journal.universitasbumigora.ac.id/index.php/

ADMA/article/download/1264/771/

Rahma, D.N. (2016). Peranan Perpustakaan dalam Menumbuhkan Kemampuan Literasi Informasi Bagi Anak Tunanetra di SLB­A PRPCN Palembang. Repositori Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

http://repository.radenfatah.ac.id/613/1/DIAN%20 NURBAITI%20RACHMA_AdabIlmPerp.pdf

Sag, Ivan A. (1991) Linguistic Theory and Natural Language Processing. In Natural Language and Speech (Veltman, eds). New York: Springer-Verlag.

Saussure, F. de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah mada University Press.

Schiff, R.A. (2009). Information Literacy and Blind and Visual Impaired Students. New York: City University of New York. https://www.researchgate.net/

publication/251500738_Information_Literacy_and_

Blind_and_Visually_Impaired_Students

and Gather Information Written in Braille, Journal of Visual Impairment & Blindness, pp 322 – 329. https://

www.researchgate.net/publication/234690620_How_

Blind_Readers_Perceive_and_Gather_Information_

Written_in_Braille/link/5ba7d55e45851574f7e0aee5/

download

Suhardi, B. (1976). Pelajaran Membaca. Jurnal Pengajaran Bahasa dan Satra, 1(5), 33 – 41.

Sulistiani., A; Ratnawati, I. I; and Maryatin. (2021). Pemerolehan Kosakata Berdasarkan Kelas Kata bahasa Indonesia pada Anak Tunagrahita Kelas VI SDLB C Negeri Balikpapan.

Jurnal Basataka Vol. 4 (2), pp 16 – 168. http://jurnal.

pbsi.uniba­bpn.ac.id/index.php/BASATAKA/article/

view/131

Suparno. (1997). Komunikasi Total. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta Press.

Suparno. (2001). Pendidikan Anak Tunarungu (Pendekatan Orthodidaktik). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Press.

Suwandi, S. (2019). Pendidikan Literasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Thurlow, M.L; Moen, R.E; Liu, K.K; Scullin, S; Kristin E.

Hausmann, K.E; and Shyyan, V. (2009). Disabilities and Reading: Understanding the Effects of Disabilities and Their Relationship to Reading Instruction and Assessment. Minneapolis : Partnership for Accessible Reading Assessment University of Minnesota.

University of Minnesota https://rtc3.umn.edu/

docs/OnlinePubs/PARA/DisabilitiesReadingReport/

PARADisabilitiesReadingReport.pdf

Triwiati, R. and Assjari, M. (2017). Program Literasi Sekolah untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa

Tunanetra di SLB Cimahi. Jurnal Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus, 8(2), 51 – 56 https://

ejournal.upi.edu/index.php/jassi/article/view/9697 Unesco. (2003). The Prague Declaration: Towords an

Information Literate Society. http://www.unesco.

org/new/fileadmin/MULTIMEDIA/HQ/CI/CI/pdf/

PragueDeclaration.pdf

Verhaar, J.W.M. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Waldron, K., Steer, M., & Bhargava, D. (2014). Literacy and Australians with Low Vision. Melbourne:

Tirnity University Press https://sites.trinity.edu/

sensoryimpariment/literacy-and-australians-low-vision Widodo, A.P.A. (2016). Meningkatkan Kemampuan Membaca

Permulaan dengan Media Papan Flakat pada Anak Tunagrahita Ringan Kelas VII SMPLB YPLB Banjarmasin.

Laporan Penelitian, Universitas Lambung Mangkurat.

http://eprints.ulm.ac.id/3882/1/%20penelitian%20flakat.pdf Wijaya, A. (2016). Teknik Mengajar Siswa Tunagrahita.

Yogyakarta: Kyta.

A

adaptasi sosial 22 Alothman 51, 52, 93 Assjari 15, 18, 100

audio book 10, 11, 24, 47, 88 B

bahasa Indonesia 3, 15, 16, 53, 54, 55, 56, 60, 61, 62, 63, 65, 67, 90, 91, 96, 100

Bali ii, 4, 5, 17, 29, 30, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 93, 104, 105, 106

Baradja 18, 52, 60, 94 Bhargava 26, 101

Braille 5, 6, 10, 11, 17, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 40, 46, 47, 48, 88, 89, 95, 96, 97, 98, 100

C

Chafe 77, 94 Cimahi 15, 101

Covid-19 35, 38, 46, 57 G

gerakan lieterasi sekolah 2 gerakan literasi keluarga 1,

87

gerakan literasi masyarakat 2, 87

gerakan literasi nasional iii, 1, 87

GLN 1, 87 H

Haenudin 9, 12, 49, 51, 96 Humaira 15, 96

human trafficking 10 K

kecepatan efektif membaca 3, 7, 25, 31, 37, 90 kompetensi linguistik 17 kompetensi literasi 3, 4, 5, 6,

15, 17 L

language aquistion divice 51 Lederberg 17, 98

literasi dasar 6, 14, 31 literasi dini 6, 14, 30

literasi informasi 2, 3, 4, 5, 6, 13, 15, 16, 17

literasi media 6, 14

literasi perpustakaan 6, 14 literasi teknologi 7, 14, 31 M

masyarakat global 4, 5, 13 masyarakat Indonesia 4 monomorfemis 70, 76, 77,

78, 85, 90 Mubarrok 73, 93 N

National Federation of The Blind 23, 98

Nisa 73, 98 NTT 16, 96 Nugrahani 18, 98 P

Palembang 16, 99 Pariaman 15, 16, 96 patomimik 11

Provinsi Bali 4, 5, 17, 29, 30, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 93, 105, 106

R

Rachma 16

Rosnawati 70, 77, 97 S

Schiff 26, 99

Sitem Pendidikan Nasional 9 sosio-emosional 11

state of arts 7 Steer 26, 101 Suhardi 18, 100 Sulistiani 73, 100 Sumba Timur 16, 96 Suparno 53, 55, 56, 100 Suwandi 10, 19, 21, 22, 23,

96, 100

T

teori Tagmemik 81 Thurlow 69, 100 Triwiaty 15 tunadaksa 9

tunagrahita 3, 4, 8, 9, 10, 13, 15, 16, 22, 32, 87, 90, 91

tunalaras 9

tunanetra 3, 4, 8, 9, 10, 11, 12, 15, 17, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 45, 46, 47, 48, 87, 88, 89, 91

tunarungu 3, 4, 8, 9, 10, 12, 15, 16, 22, 28, 32, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 87, 89, 91

U

UNESCO 4 W

Wagiati 73, 93 Waldron 26, 101 Widodo 73, 101 Wijaya 69, 71, 101

Nengah Arnawa lahir di Jinengdalem, Singaraja, Bali, Indonesia pada tanggal 24 Desember 1965. Gelar sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia diraih pada tahun 1989 dari FKIP Universitas Udayana, Singaraja. Sejak tahun 1990 diangkat sebagai dosen Kopertis Wilayah VIII dpk pada IKIP PGRI Bali. Pada tahun 1998 mendapat beasiswa mengikuti pendidikan magister linguistik yang diselesaikan pada tahun 2000 dari Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, Denpasar. Pada tahun 2002 mendapat beasiswa mengikuti pendidikan doktor linguistik di Universitas Udayana yang diselesaikan pada tahun 2005. Bidang yang menjadi fokus kajiannya, antara lain semantik, pragmatik, dan filsafat bahasa. Sejak 1 November 2002 ditetapkan sebagai lektor kepala dalam mata kuliah Semantik Bahasa Indonesia.

Artikel dan buku yang dihasilkan, antara lain: Meaning Truth Explication Language Philosophy: A Multicultural Communication Dimension (2015); Children Indirect Speech Acts at Ages 18-24 Month Old: A Case Studi on Indonesian Language Acquisition by Balinese Children (2016); Shift of Balinese Language Vocabulary of Agriculture: A Study on Antrophological Linguistics (2016). Interpretasi Pragmatis Analogis Metafora Bahasa Bali (2016); The Implementation of Natural Semantic Metalanguage and Semantic Filed in Language Teaching: A Case Study (2017), BLADBADAN:

Dinamika Semantik dan Pragmatik dalam Bahasa Bali (2017), Penerapan Leksikostatistik Pada Studi Kekerabatan Bahasa Austronesia (2018); bersama kolega menerbitkan buku berjudul Kesantunan Hegemonis Bahasa Bali: Studi Kasus pada

Awig-Awig Desa Pakraman (2018); dan Aspek-Aspek Semantik Paribasa Bali (2021). Email penulis: nengah.arnawa65@gmail.

com

Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si., adalah dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Ia lahir di Br. Petak, Desa Petak Kaja Gianyar Bali pada tanggal 21 April 1963.

Menyelesaikan pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Bali di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tahun 1987. Ia meraih gelar Magister Kajian Budaya di Program Pascasarjana Universitas Udayana pada tahun 2004. Beliau menempuh pendidikan S3 Linguistik Konsentrasi Wacana Sastra di Program Pascasarjana Universitas Udayana pada tahun 2012, dengan judul disertasi “Wacana Siwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra: Analisis Penerimaan”. Pernah bekerja di bagian Naskah Perpustakaan Nasional RI Jakarta 1990­­1996, serta Dosen Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta 1990--1996. Sebelumnya bekerja di Perpustakaan Provinsi Bali 1997--2005 dan di Art Center 2005--2006. Sejak tahun 2006 menjadi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Ketekunan dalam bidang manuskrip selalu dipupuk hingga kini. Sejumlah lontar telah diteliti, dikatalogkan, ditransliterasikan, diterjemahkan, bahkan dipelajari. Buku yang telah diterbitkan antara lain:

Geguritan Uwug Kengetan [2014], Musala Parwa [2015], Prastanika Parwa [2016], Bhomakawya [2017], Wacana Siwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra [2018], Ala-ayuning Dina mwah Sasih [2018], Tutur Sundhari Bungkah [2019], Geguritan Ni Dyah Anggreni [2019], Kakawin Nilacandra Abad XX [2019], dan Singhalangghyala Parwa [2020]. Selain itu, ia juga mengajar Studi Naskah di Program Studi Pascasarjana

Denpasar sejak tahun 2013. Di sela­sela aktivitasnya sebagai dosen, ia juga aktif menulis dan berkecimpung di bidang naskah. serta menghadiri pertemuan ilmiah baik nasional maupun internasional.

I Gusti Lanang Rai Arsana lahir di Padang Tegal, Ubud, Gianyar, Bali, Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1960. Beliau meraih gelar master pada tahun 2008 dari Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, Indonesia.

Bidang minatnya adalah penelitian dan evaluasi pendidikan. Sejak 1 Oktober 2023, ia meraih gelar profesor. Beberapa artikel yang telah dihasilkannya antara lain: Model Layanan Bimbingan Kecakapan Hidup Berlandaskan Tri Hita Karana pada Warga Belajar di Kabupaten Bangli, Klungkung dan Karangasam Provinsi Bali (2014), Pelaksanaan Program Literasi Sekolah (2020), Peran Konselor dalam Membimbing Siswa Menuju Perguruan Tinggi yang Tepat Sesuai Minat dan Bakat (2021), Pemetaan Gerakan Literasi pada Sekolah Luar Biasa di Provinsi Bali (2021). Sejak 2014 menjadi anggota Ikatan Dosen Indonesia.

Dokumen terkait