• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Program : Terwujudnya Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang Berkualitas

Pencapaian Sasaran Program 5: Terwujudnya Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang Berkualitas ditunjukkan oleh pencapaian satu indikator kinerja yaitu:

1. Persentase Rekomendasi Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang diterima Menko Perekonomian

Capaian indikator kinerja tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

5.1. Persentase Rekomendasi Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang diterima Menko Perekonomian

Latar Belakang

Persentase Rekomendasi Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang diterima Menteri Koordinator Bidang Perekonomian adalah jumlah rekomendasi kebijakan penyelesaian bidang perniagaan dan industri berupa nota dinas dan/atau bahan tayang yang diterima Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Hasil Pengukuran Kinerja

Hingga Triwulan IV Tahun 2021, Persentase Rekomendasi Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang telah terealisasi sebesar 100% atau

mencapai 100% dari target Tahun 2021 sebesar 100% dengan ringkasan sebagai berikut:

Indikator Kinerja

Utama Satuan Target Realisasi % Kinerja IKU-5.1 Persentase

Rekomendasi Kebijakan Bidang Perniagaan dan Industri yang diterima Menko Perekonomian

Persentase 100 100 100

Undang – Undang No. 11 Tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) telah menetapkan penggunaan konsep berbasis risiko untuk menentukan jenis perizinan berusaha. Reformasi dalam perizinan berusaha ini bertujuan untuk menjadi solusi dari permasalahan rumitnya perizinan dalam hal memulai dan menjalankan kegiatan usaha di Indonesia.

Untuk mengimplementasikan perizinan berusaha berbasis risiko tersebut, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (PP No.5/2021) dan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Cipta Kerja. Selanjutnya, semua peraturan pelaksanaan yang telah diterbitkan tersebut ditanamkan didalam sistem Online Single Submission (OSS) yang baru, yang dibangun mengacu kepada konsep perizinan berusaha berbasis risiko yang diamanatkan oleh PP No.5/2021.

Sistem Layanan Pengaduan Konsumen Nasional mengintegrasikan sistem layanan pengaduan yang ada di Kementerian/Lembaga. Sistem juga akan diintegrasikan dengan sistem Dukcapil untuk validasi data konsumen yang menyampaikan pengaduan, dan dengan sistem OSS untuk validasi pelaku usaha yang diadukan. Kedepan, diharapkan respon pelaku usaha atas aduan konsumen akan dapat menjadi bagian dari penilaian resiko pelaku usaha di OSS. Bisnis proses Sistem Pengaduan Online Konsumen Nasional telah mencakup integrasi dengan BPSK dalam rangka penyelesaian sengketa secara non litigasi. Terkait hal tersebut, Kemenko Perekonomian berharap Kemendag dapat mulai koordinasi dengan BPSK mengingat beberapa BPSK seperti di Jawa Timur saat ini sedang mengembangkan sistem penerima aduan sengketa secara online.

Harapannya, BPSK tidak perlu lagi mengalokasikan sumberdaya untuk mengembangkan sistem karena akan difasilitasi dengan Sistem yang dikembangkan Kemendag. Landasan hukum pengembangan sistem perlu diperkuat mengingat RUU Perlindungan Konsumen yang mengamanatkan pengembangan sistem tersebut belum akan disahkan dalam waktu dekat karena tidak masuk dalam Prolegnas 2022, serta Perpres Stranas Perlindungan Konsumen yang juga masih dalam proses penyusunan.

Kemenko Perekonomian mengusulkan agar disusun Perpres tersendiri sebagai landasan hukum karena pengembangan sistem membutuhkan penyesuaian proses bisnis dan sistem penerimaan pengaduan konsumen di berbagai Kementerian/Lembaga dan sesuai dengan road map Kemendag sistem tersebut akan mulai diujicobakan pada tahun 2022.

Sejalan dengan penyusunan revisi UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, nomenklatur kelembagaan dan tugas fungsi BPKN dan BPSK tidak disebutkan secara eksplisit di RUUPK dan akan diatur lebih lanjut dengan Perpres. Hal ini bertujuan agar pengaturan kelembagaan dan tugas fungsi BPKN dan BPSK dapat lebih fleksibel menyesuaikan dinamika perkembangan perlindungan konsumen pada

masa yang akan datang. Pengaturan pendirian dan pembiayaan BPSK telah harmonis dengan UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah, dimana BPSK didirikan dan dibiayai dengan anggaran Pemerintah Provinsi meskipun dengan wilayah kerja mencakup beberapa Kab/Kota dalam satu provinsi. Pengaturan ini bertujuan agar pelayanan penyelesaian sengketa konsumen dapat berjalan secara efektif dan efisien menyesuaikan dengan kemampuan keuangan setiap daerah. Ketentuan ini juga mendorong setiap BPSK untuk lebih kreatif dalam mendekatkan diri dan menyediakan akses ke konsumen, misalnya dengan mengembangkan sistem online dispute resolution. Selama ini data keluhan konsumen yang disampaikan hanya mencakup data keluhan yang disampaikan ke Kementerian Perdagangan dan BPKN. Kemenko Perekonomian mendorong peningkatan koordinasi antar Kementerian/Lembaga agar data keluhan konsumen dapat lebih lengkap dan mencakup berbagai bidang. Pengembangan Sistem Penanganan Keluhan Nasional sebagaimana telah dimasukkan dalam ketentuan pada draft RUUPK juga akan memudahkan konsolidasi data keluhan konsumen lintas Kementerian/Lembaga.

Dalam Pertemuan The 23rd ASEAN Committee on Consumer Protection (ACCP), Indonesia akan terus mendorong perbaikan website ACCP khususnya terkait menu daftar barang yang di-banned/recall. Elemen data pada menu tersebut perlu disesuaikan agar memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian status secara cepat mengingat beberapa barang yang sebelumnya di-banned/recall telah diizinkan untuk dipasarkan kembali setelah dilakukan perbaikan. Berkaitan dengan pelaksanaan ASEAN Consumer Empowerment Index (ACEI), Indonesia menyetujui penyelenggaraan survey ACEI berikutnya dengan catatan bahwa penilaian dilakukan dengan tata cara pengambilan sample survey yang sama dan seragam pada masing-masing AMS, sehingga hasil akhirnya layak untuk disandingkan. Penyeragaman tata cara penilaian dan pengambilan sample survey dapat dilakukan dengan cara seluruh penilaian dan survey dilakukan oleh ACCP atau jika tidak memungkinkan maka survey yang dilakukan di masing-masing negara harus didampingi oleh perwakilan ACCP. Jika hal tersebut tidak dimungkinkan maka Indonesia mengusulkan untuk dilakukan capacity building terlebih dahulu kepada seluruh AMS dan pelaksanaan survey ACEI bersifat voluntary oleh masing-masing AMS.

Pelaksanaan survey ACEI secara serentak dapat dilakukan jika seluruh AMS melakukan penilaian dan survey dengan tata cara yang sesuai dengan standar yang dibuat ACCP.

Perkembangan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik atau e-commerce di Indonesia diproyeksikan akan semakin pesat pada tahun-tahun yang akan datang. Dalam rangka turut menjaga agar perkembangan e-commerce tetap memperhatikan aspek-aspek perlindungan konsumen dan persaingan usaha yang sehat, Kedeputian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, berinisiatif untuk menyusun Buku “Perspektif Perlindungan Konsumen dan Persaingan Usaha pada Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (e-Commerce)”, yang merupakan konsolidasi dan dokumentasi atas pandangan-pandangan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap isu perlindungan konsumen dan persaingan usaha pada e-commerce, serta dapat menjadi sumbangsih yang memperkaya wawasan serta memberi masukan konstruktif dalam proses perumusan kebijakan (policy making) terkait perlindungan konsumen dan persaingan usaha pada e-commerce di Indonesia. Kemeko Perekonomian juga telah menyelenggarakan FGD Perlindungan Konsumen pada PMSE dengan beberapa rekomendasi: (1) RUU PK yang saat ini sedang disusun akan lebih memperkuat pelaksanaan perlindungan konsumen untuk PMSE; (2) Beberapa pengaturan RUUPK yang mendukung PMSE: definisi transaksi yang mencakup luring dan daring, adanya perjanjian baku dengan tanda tangan elektronik, penanganan keluhan/sengketa secara daring, dan keabsahan alat bukti elektronik.

Materi muatan yang disepakati dalam RPermendag tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36 Tahun 2020 tentang Minyak Goreng Wajib Kemasan yaitu Kemendag menetapkan bahwa kebijakan yang diambil terkait kewajiban minyak goreng kemasan/larangan perdagangan minyak goreng curah adalah bersifat penundaan pemberlakuan hingga waktu yang akan ditetapkan oleh Menteri Perdagangan lebih lanjut. Ketetapan Menteri tersebut dapat didelegasikan kepada Dirjen Perdagangan Dalam Negeri; Sanksi administratif dikenakan secara bertahap berupa: (1) peringatan tertulis; (2) penghentian kegiatan sementara; (3) pencabutan perizinan berusaha; serta menghapus pengaturan mengenai pengemasan ulang minyak goreng sawit yang didistribusikan oleh produsen dan/atau pengemas.

Kawasan Industri Halal (KIH) Sidoarjo telah membangun 26 unit bangunan yang diperuntukkan untuk IKM. Unit bangunan tersebut saat ini sudah laku terjual dimana pembelinya merupakan IKM disekitar KIH. Sampai saat ini bangunan tersebut belum ditempati dan dipergunakan untuk operasional produksi para IKM. KIH masih memiliki lahan yang luas untuk dijadikan unit bangunan bagi IKM. Oleh karena itu, KIH berharap mendapat fasilitas pembebasan PPN sebagaimana insentif untuk pembelian rumah tempat tinggal dibawah Rp 2 miliar yang saat ini disediakan pemerintah. Saat ini di KIH sedang dibangun kantor manajemen halal dan Masjid. Kantor manajemen halal diharapkan akan menjadi lokasi pelayanan satu atap baik untuk sertifikasi halal maupun kebutuhan perizinan lainnya yang dibutuhkan oleh tenan KIH. KIH Sidoarjo sampai saat ini masih belum beroperasi maksimal. IKM yang telah membeli unit bangunan di KIH juga belum mulai berproduksi di dalam Kawasan KIH. Oleh karena itu, Kemenko Perekonomian akan melengkapi Rencana Aksi Percepatan Implementasi KIH Sidoarjo dengan kegiatan/inisiatif yang mendorong agar IKM dapat segera beroperasi di dalam Kawasan KIH.

Menindaklanjuti arahan Bapak Presiden untuk sertifikasi halal bagi UMK, BPJPH Kementerian Agama menargetkan 15.000 UMK untuk mendapatkan fasilitasi sertifikasi halal di akhir tahun 2021 dengan yang membutuhkan 3.000 pendamping PPH sehingga kebutuhan anggaran TA 2021 diperkirakan sebesar Rp7.492.500.000,-. Sedangkan pada tahun 2022, BPJPH menargetkan 779.328 UMK untuk mendapatkan fasilitasi sertifikasi halal di tahun 2022 yang membutuhkan 7.375 Pendamping PPH sehingga kebutuhan anggaran TA 2022 diperkirakan sebesar Rp408.031.876.000,-. BPJPH sampai saat ini belum dapat memberikan fasilitasi sertifikasi halal untuk UMK pemegang NIB Perizinan Tunggal dengan mekanisme self declare karena keterbatasan anggaran yang dimiliki. Kemenko Perekonomian telah melakukan pembahasan dan penyusunan Rencana Aksi fasilitasi sertifikasi halal UMK. Pembiayaan fasilitasi sertifikasi halal UMK TA 2021 akan memanfaatkan 2 opsi: (1) Pengajuan usulan tambahan anggaran fasilitasi sertifikasi halal UMK untuk TA 2021 dan 2022 oleh BPJPH; (2) Kolaborasi penggunaan anggaran pembinaan UMKM yang ada di beberapa Kementerian/Lembaga.

Berdasarkan hasil rakortek, untuk TA 2021 anggaran K/L sudah tidak tersedia. Untuk TA 2022 masih memungkinkan namun K/L mebutuhkan surat arahan dan pernambahan Klasifikasi Rincian Output (KRO).

Berdasarkan Pasal 139 ayat (3) PP 39 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal bahwa kerjasama internasional dalam bidang JPH baik dalam bentuk pengembangan JPH, penilaian kesesuaian dan pengakuan sertifikat halal dilaksanakan oleh BPJPH berdasarkan hasil koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Saat ini RPMA Kerja Sama Internasional JPH sebagai peraturan pelaksanaan PP 39 Tahun 2021 telah selesai dilakukan harmonisasi.

Selain itu, BPJPH sedang memproses perpanjangan kerjasama saling keberterimaan sertifikat halal khususnya terhadap LHLN yang sebelumnya telah memiliki MRA dengan MUI serta sedang disusun Perka BPJPH yang diantaranya mengatur tarif registrasi sertifikat halal luar negeri.

Pelaksanaan Rencana Aksi TW IV

No Rencana Aksi TW IV Status Keterangan

1 Sosialisasi/Edukasi Implementasi OSS RBA

Terlaksana Telah dilakukan rapat koordinasi tingkat eselon II (Kemenko Perekonomian, Sekretariat Kabinet, dan Tim Gabungan Pelaksanaan Evaluasi Regulasi Perizinan Berusaha Berbasis Risiko) yang membahas Terkait persiapan evaluasi perizinan berusaha berbasis risiko (PP Nomor 5 Tahun 2021)

2 Laporan Akhir

3 Penyelesaian sengketa konsumen melalui Online Dispute Resolution

Terlaksana • Rapat Pengembangan Sistem Pengaduan Online

3 Koordinasi kebijakan persaingan usaha yang sehat di sektor

perdagangan dalam negeri

Terlaksana • Buku Perspektif

Perlindungan Konsumen

• Rapat Harmonisasi RPermendag tentang

• Workshop Fasilitasi Sertifikasi Halal dan Kemudahan Permodalan

untuk IKM di KIH Safe N Lock Sidoarjo

• Rapat Pembiayaan Sertifikasi Halal untuk UMK

• Rapat Kerjasama Internasional Bidang JPH

Kendala Pencapaian Target

Sampai dengan Triwulan IV Tahun 2021, terdapat beberapa kendala atau hambatan yang dihadapi dalam mencapai target yang telah ditetapkan.

Adapun berikut beberapa kendala yang dihadapi dalam mencapai target tersebut:

1. Adanya perubahan mekanisme perizinan yang baru

mengakibatkan kementerian/lembaga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan pembelajaran.

2. Koordinasi penyesuaian timeline dengan K/L mitra dikarenakan banyaknya agenda yang lebih prioritas dan mendesak.

3. Sumber data yang masih terbatas dan belum up to date.

6

Sasaran Program 6: Terwujudnya Tata Kelola Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan

Dokumen terkait