• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Kesehatan Masyarakat

AKUNTABILITAS KINERJA A. Capaian Kinerja Organisasi

1) Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Kesehatan Masyarakat

Kementerian Kesehatan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan, maka Kementerian Kesehatan bertugas untuk terus mengupayakan peningkatan status kesehatan masyarakat. Kondisi atau status kesehatan masyarakat dapat digambarkan melalui indikator-indikator yang bersifat dampak (impact atau outcome), yakni Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta tingkat atau persentase Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

Dalam Laporan Kinerja ini, karena hasil pengukuran indikator-indikator tersebut hanya dapat diperoleh melalui suatu survey pada populasi atau masyarakat Indonesia yang pada umumnya tidak setiap tahun diselenggarakan, maka indikator yang digunakan adalah indikator antara (proxy) yang relevan dengan sasaran strategis dimaksud.

Dalam kaitan dengan Sasaran Strategis ini, Kementerian Kesehatan mengidentifikasi empat Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai berikut:

1. Persentase persalinan di fasilitas kesehatan 2. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)

3. Meningkatnya desa yang mengalokasikan dana desa untuk UKBM 4. Persentase kab/kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan

Setelah dilakukan revisi Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 terdapat tiga Indikator Kinerja Utama (IKU), yaitu sebagai berikut:

1. Persentase persalinan di fasilitas kesehatan 2. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)

3. Persentase kab/kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan Adapun uraian IKU sebagai berikut:

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 20 Tabel 3.1.

Capaian IKU pada Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Kesehatan Masyarakat

SS1: Meningkatnya Kesehatan Masyarakat

Indikator Kinerja Target Realisasi % Realisasi 1a. Persentase persalinan di fasilitas kesehatan 81% 82,79% 102,21% 1b. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) 21,2% 14,8% 130,86% 1c. Persentase kab/kota yang memenuhi kualitas

kesehatan lingkungan

30% 53,89% 179,63%

Cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF) menggambarkan indikator pelayanan kesehatan terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Indikator PF menjadi penting karena penyebab kematian ibu di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh karena perdarahan dan infeksi pada saat persalinan. Menurunkan angka kematian ibu merupakan bagian dari kesepakatan global terhadap pembangunan kesehatan berkelanjutan (SDGs).

Persentase ibu hamil Kurang energi Kronik (KEK) menggambarkan risiko yang akan dialami ibu hamil dan bayinya dalam masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Uraian tentang ketiga IKU tersebut adalah sebagai berikut:

a. Persentase persalinan di fasilitas kesehatan

Pelayanan persalinan memerlukan penanganan oleh tenaga kesehatan (dokter/bidan) dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. IKU ini bertujuan untuk menjamin setiap ibu bersalin memperoleh pelayanan persalinan yang sesuai standar sehingga pada akhirnya diharapkan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). IKU akan dianggap semakin baik bila realisasinya lebih besar atau lebih tinggi dari yang ditargetkan.

Persentase persalinan di fasilitas kesehatan dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

Jumlah ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas yang mendapat pertolongan sesuai standar oleh tenaga kesehatan di fasilitas

kesehatan dalam kurun waktu satu tahun X

100% Jumlah sasaran ibu bersalin yang ada di wilayah kerja

Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun yang sama

Salah satu upaya percepatan penurunan AKI dan AKB adalah melalui peningkatan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF). Dalam salah satu point pembahasan trilateral meeting tahun 2017 persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan dijadikan salah satu kegiatan untuk mendukung prioritas nasional di bidang kesehatan. Sebagai tindak lanjut dari hasil trilateral meeting tersebut adalah peningkatan target indikator persalinan di fasyankes dari 79% menjadi 81 % (kenaikan 2%). Salah satu alasan kenaikan 2 % tersebut berdasarkan trend kenaikan cakupan indikator persalinan di fasyankes tahun sebelumnya, selain itu indikator tersebut juga bermakna pemberian pelayanan bayi baru lahir minimal kurang dari 48 jam (Neonatal esensial) dimana target kunjungan neonatus pertama (KN1) di tahun 2017 sebesar 81%.

Peningkatan target indikator persalinan di fasyankes ini kemudian dituangkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) , Renja-Kl dan Perjanjian Kinerja antara

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 21 Direktur Jenderal Masyarakat dengan Ibu Menteri Kesehatan sebesar 81% di tahun 2017.

Trend realisasi cakupan persalinan di fasilitas pelayanan Kesehatan berdasarkan Riskesdas menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun. Riskesdas tahun 2007 persalinan di faskes menunjukan angka sebesar 41,6%, tahun 2010 sebesar 56,8%, dan pada tahun 2013 sebesar 70,4%. Berdasarkan Data Rutin Direktorat Bina Kesehatan Ibu tahun 2014, realisasi cakupan PF sebesar 73,29%. Data tersebut, sebagaimana digambarkan pada grafik dibawah dijadikan dasar dalam penentuan target awal di tahun 2015.

Grafik 3.1.

Trend Cakupan Pf Riskesdas Tahun 2007-2013 dan Laporan Rutin Tahun 2014

Sumber : Riskesdas 2007-2013 dan Laporan Data Rutin Direktorat Kesehatan Ibu Tahun 2014 Pada tahun 2017, indikator Persalinan di Fasilitas Kesehatan berdasarkan target dalam PK Menteri Kesehatan telah terealisasi sebesar 104,79% yaitu dari target 79% dengan capaian sebesar 82,79%. Adapun berdasarkan PK Unit Organisasi (Ditjen Kesehatan Masyarakat) dimana target indikator tersebut berdasarkan renja K/L telah terealisasi sebesar 102,21% yaitu dari target sebesar 81% dengan capaian sebesar 82,79%, berarti sudah 4.204.473 ibu bersalin telah bersalin di fasilitas kesehatan. Dengan cakupan tersebut, maka capaian kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga terkait indikator PF adalah sebesar 102,21%.

Grafik 3.2.

Target, Cakupan, dan Capaian Kinerja Persalinan di Fasilitas Kesehatan (PF) Tahun 2017

81 82,79

102,2

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 22 Grafik 3.3

Target dan Cakupan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Tahun 2015-2019 75 77 81 82 85 78,4 77,3 82,79 2015 2016 2017 2018 2019

Renstra Cakupan Linear (Renstra)

Sumber : Laporan Data Rutin Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2017

Bila di lihat trend cakupan PF sebagaimana ditampilkan grafik diatas, pada tahun 2015 cakupan PF sebesar 78,4% dan pada tahun 2016 sebesar 77,3%. Angka ini menunjukan kesan trend penurunan cakupan walaupun tetap tercapai. Kesan penurunan ini disebabkan belum semua provinsi melaporkan data capaian saat LAKIP disusun. Adapun di tahun 2017 cakupan Pf kembali meningkat menjadi 82.79%, melihat hal ini indikator PF meningkat, dikarenakan sudah ada kesepahaman, kepatuhan waktu pelaporan dan kemudahan baik dari segi pencatatan dan pelaporan untuk persalinan di fasilitas kesehatan.

Dengan melihat trend yang terus meningkat maka dapat dikatakan cakupan Pf, “on the track”, dan diperkirakan mampu mencapai target di akhir Renstra 2015-2019 sebesar 85%.

Grafik 3.4

Cakupan Persalinan di Fasilitas Kesehatan (Pf) Tahun 2017

114.42 96.01 94 .37 94.08 92.02 91.78 89. 52 83.91 83.89 82.79 82. 63 81.92 81.90 81.79 81.17 80.37 80.32 78.06 76.37 74.86 74.27 73.55 72.65 72.37 69.20 63.01 61.03 60.35 51.96 49.88 47.40 46. 49 44.67 32.94 30.65

81

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0 140.0 D KI J A K A R T A B a li JA T E N G JA T IM N T B JA B A R KA LT A R A S U M S E L LA M PU N G N A S IO N A L B a n ten KA LT IM Kep . R IA U B E N G KU LU S U LS E L S U M B A R G O R O N T A LO A CE H JA M B I Kep . B A B E L S U M U T S U LT E N G KA LS E L DIY S U LB A R KA LB A R R IA U S U LT R A N T T S U LU T KA LT E N G PA PB A R PA PU A M A LU T M A LU KU Cakupan Target

Sumber : Laporan Rutin Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2017

Dari grafik diatas tergambar bahwa cakupan PF masih terjadi disparitas di 34 provinsi di Indonesia. Bila dibandingkan dengan target nasional sebesar 81%, maka 14 provinsi telah mencapai target dan 20 Provinsi belum mencapai target nasional.

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 23 Dibalik pencapaian cakupan persalinan di fasilitas kesehatan pada tahun 2017 yang menunjukkan hasil realisasi kinerja dengan kriteria baik, terdapat sejumlah kegiatan atau upaya yang telah dilakukan sebagai pendukung keberhasilan tersebut, yaitu:

1. Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil.

Kelas Ibu Hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas fisik/ senam ibu hamil.

2. Puskesmas melakukan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

Orientasi P4K menitikberatkan pada kegiatan monitoring terhadap ibu hamil dan bersalin. Pemantauan dan pengawasan yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil dan bersalin yang dilakukan diseluruh Indonesia dalam ruang lingkup kerja Puskesmas setempat serta menyediakan akses dan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang sekaligus merupakan kegiatan yang membangun potensi masyarakat khususnya kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindakan dalam menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir.

3. Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali (K4).

Melalui kegiatan ini diharapkan ibu hamil dapat dideteksi secara dini adanya masalah atau gangguan atau kelainan dalam kehamilannya dan dilakukan penanganan secara cepat dan tepat. Pada saat ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan memberikan pelayanan antenatal secara lengkap (10 T) yang terdiri dari: timbang badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai status gizi (ukur LiLA), ukur tinggi fundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi TT dan bila perlu pemberian imunisasi Td, pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan), test lab sederhana (Golongan Darah, Hb, Glukoprotein Urin) dan skrining terhadap Hepatitis B, Sifilis, HIV, Malaria, TBC, tata laksana kasus, dan temu wicara/ konseling termasuk P4K serta KB PP.

4. Dukungan regulasi pelayanan KIA oleh Pemda.

5. Dukungan Lintas Program/Lintas Sektor dan organisasi profesi didalam pelayanan KIA.

6. Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), tranportasi rujukan dan pembiayaan persalinan d dalam Jampersal

7. Dukungan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan

Meski hasilnya cukup baik, sejumlah tantangan masih perlu menjadi perhatian Kementerian Kesehatan. Tantangan tersebut adalah:

1) Masih adanya kesenjangan cakupan antar provinsi, dimana ada Provinsi yang cakupannya sangat rendah dan ada provinsi yang cakupannya lebih dari target bahkan lebih dari 100%.

2) Belum meratanya jumlah tenaga kesehatan di daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

3) Kondisi geografis masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan menyebabkan kesulitan untuk mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.

4) Budaya di masyarakat dimana ibu hamil lebih senang bersalin di rumah atau di polindes.

5) Tingkat pendidikan ibu yang masih rendah

6) Dukungan keluarga dan masyarakat yang masih rendah 7) Belum ada analisa kualitatif dari pelayanan persalinan

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 24 Dalam menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan inovasi yang merupakan terobosan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Program Kemitraan Bidan dan Dukun. Program tersebut mendorong terciptanya kejelasan peran dan tugas antara bidan dan dukun dengan tujuan akhir mewajibkan persalinan dirujuk ke bidan dan tidak lagi dilaksanakan oleh dukun. 2. Upaya lain adalah dengan penyelenggaraan Rumah Tunggu Kelahiran, yakni suatu

tempat atau rumah yang berlokasi di dekat fasilitas kesehatan yang disediakan bagi ibu hamil yang telah mendekati waktu persalinannya. Selama menunggu kelahirannya, ibu hamil akan mendapat pemantauan, pemeriksaan dan perawatan dari tenaga kesehatan.

b. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)

Status gizi adalah aspek penting untuk menentukan apakah seorang ibu yang sedang hamil dapat melewati masa kehamilannya dengan baik, tanpa ada gangguan apapun. Status gizi ibu hamil haruslah normal, karena ketika ibu hamil tersebut mengalami gizi kurang atau gizi berlebih akan banyak komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan dan berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Salah satu permasalahan gizi ibu hamil adalah kekurangan energi kronik (KEK).

Kekurangan energi kronis (KEK) adalah masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan makanan dalam waktu yang cukup lama, hitungan tahun. Berdasarkan Studi Diet Total (SDT) tahun 2014, gambaran asupan makanan ibu hamil di Indonesia masih memprihatinkan, dimana proporsi ibu hamil dengan tingkat kecukupan energi kurang dari 70% angka kecukupan energi (AKE) sedikit lebih tinggi di pedesaan dibandingkan dengan perkotaan yaitu sebesar 52,9% dibandingkan dengan 51,5%. Sementara proporsi ibu hamil dengan tingkat kecukupan protein kurang dari 80% angka kecukupan protein (AKP) juga lebih tinggi di pedesaan dibandingkan dengan perkotaan yaitu sebesar 55,7% dibandingkan 49,6%.

Kurangnya asupan energi yang berasal dari zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) maupun zat gizi mikro terutama vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium dan iodium serta zat gizi mikro lain pada wanita usia subur yang berkelanjutan (remaja sampai masa kehamilan), mengakibatkan terjadinya kurang energi kronik (KEK) pada masa kehamilan, yang diawali dengan kejadian „risiko‟ KEK dan ditandai oleh rendahnya cadangan energi dalam jangka waktu cukup lama yang diukur dengan lingkar lengan atas (LiLA). Ibu hamil dengan masalah gizi dan kesehatan berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi serta kualitas bayi yang dilahirkan. Kondisi ibu hamil KEK berisiko menurunkan kekuatan otot yang membantu proses persalinan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kematian janin (keguguran), prematur, lahir cacat, bayi berat lahir rendah (BBLR) bahkan kematian bayi, ibu hamil KEK dapat mengganggu tumbuh kembang janin yaitu pertumbuhan fisik (stunting), otak dan metabolisme yang menyebabkan penyakit menular di usia dewasa.

Masalah ibu hamil KEK merupakan salah satu fokus perhatian dan menjadi salah satu indikator kinerja program Kementerian Kesehatan, karena berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi risiko KEK pada ibu hamil (15-49 tahun) masih cukup tinggi yaitu sebesar 24,2%. Prevalensi tertinggi ditemukan pada usia remaja (15-19 tahun) sebesar 38,5% dibandingkan dengan kelompok lebih tua (20-24 tahun) sebesar 30,1%. Indikator persentase ibu hamil KEK diharapkan turun sebesar 1,5% setiap tahunnya. Pada awal periode di tahun 2015, persentase ibu hamil KEK ditargetkan tidak melebihi 24,2%, dan diharapkan di akhir periode pada tahun 2019, maksimal ibu hamil dengan risiko KEK adalah sebesar 18,2%. Dasar penetapan persentase bumil KEK

Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2017 25 mengacu kepada hasil Riskesdas tahun 2013. Dengan ditetapkannya target tersebut, maka diharapkan persentase ibu hamil KEK menurun setiap tahunnya.

Definisi operasional IKU ini adalah Proporsi ibu hamil dengan lingkar lengan atas (LiLA) < 23,5 cm yang ada di suatu wilayah pada periode waktu tertentu. Semakin rendah cakupan persentase ibu hamil KEK dari target yang ditetapkan, maka semakin baik capaian indikator. Persentase ibu hamil KEK dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

Jumlah ibu hamil yang diukur lingkar lengan atasnya dengan menggunakan pita LiLA dengan hasil kurang dari 23,5 cm pada periode

tertentu X

100% Jumlah ibu hamil yang diukur lingkar lengan atasnya pada periode

tertentu

Dikarenakan indikator ini adalah indikator outcome, maka data hanya dapat diperoleh melalui survei yang dilakukan setiap tahun.

Hasil survei pemantauan status gizi (PSG) tahun 2017, menunjukkan persentase ibu hamil dengan risiko KEK sebesar 14,8%, dimana angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan persentase tahun lalu dan target yang telah ditetapkan. Hasil ini menjadi gambaran status gizi ibu hamil yang sesuai dengan harapan.

Grafik 3.5.

Perbandingan Persentase Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) Tahun 2017 dengan Target Jangka Menengah

24,2 22,7 21,2 19,7 18,2 13,3 16,2 14,8 0 5