• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. AKUNTABLITAS KINERJA

3.2. Analisis Capaian Kinerja

3.2.3. Sasaran Strategis (SS-3) : Perlindungan Usaha

Salah satu kegiatan prioritas Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam adalah Bantuan Pembayaran Premi Asuransi Perikanan bagi Pembudi Daya Ikan Kecil (APPIK).

Bantuan pembayaran premi APPIK dilaksanakan dalam rangka memberikan jaminan perlindungan terhadap usaha pembudidayaan ikan khususnya untuk usaha pembesaran udang, bandeng, nila, patin, dan lele di kolam dan/atau tambak dengan metode monokultur dan/atau polikultur serta menggunakan teknologi sederhana.

Perlindungan ini memberikan jaminan akan keberlanjutan usaha budidaya yang dilakukan dari risiko kerugian nilai ekonomi usaha akibat gagal panen, sehingga pembudidaya ikan tetap memiliki modal kerja untuk penebaran siklus berikutnya karena adanya harga pertanggungan (santunan) yang dapat digunakan untuk memulai usaha kembali. Bentuk bantuan yang diberikan adalah pembayaran premi asuransi perikanan selama 1 (satu) tahun.

Selain itu dengan adanya asuransi perikanan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pembudidaya ikan kecil untuk berasuransi, dan menjadikan usaha pembudidayaan ikan semakin diminati lembaga pembiayaan, karena sudah terdapat mitigasi risiko terhadap kegagalan usaha. Dengan demikian diharapkan dapat turut meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan.

Target IKU Jumlah Bantuan Premi Asuransi Usaha Budidaya yang tersalurkan pada tahun 2022 adalah 6.500 (enam ribu lima ratus) orang. Terdapat penyesuaian terhadap target IKU tersebut jika dibandingkan dengan target yang tercantum dalam Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (7.500 hektar).

Justifikasi terhadap penyesuaian target tersebut dijelaskan sebagai berikut:

31 1. Sejak tahun 2021 terdapat perubahan satuan target dari semula “hektar” menjadi

“orang”, hal tersebut sebagaimana hasil evaluasi pada trilateral meeting dalam rangka penyesuaian satuan target sesuai yang tercantum dalam aplikasi perencanaan.

2. Usulan CPCL bantuan premi asuransi perikanan memiliki komoditas dan luasan usaha yang beragam (udang, bandeng, nila, patin, lele), sehingga tidak dapat secara langsung dikonversi antara hektar : orang.

3. Nilai rata-rata premi untuk setiap komoditas dan luasan usaha berbeda, bantuan premi disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.

Target IKU Jumlah Bantuan Premi Asuransi Usaha Budidaya yang tersalurkan pada Triwulan II tahun 2022 adalah 0 (nol) orang. Capaian IKU tersebut sampai dengan Triwulan II adalah sebanyak 0 (nol) orang atau sesuai dengan target. Jika dibandingkan dengan target tahun 2022 yaitu 6.500 orang maka capaian tersebut masih 0%, dikarenakan capaian IKU akan dihitung pada akhir tahun (Tabel 8). Apabila dibandingkan dengan target dalam Renstra yaitu 7.500 hektar maka capaian sampai dengan Triwulan II masih 0%.

Tabel 7. Capaian IKU Jumlah Bantuan Premi Asuransi Usaha Budidaya yang tersalurka

Nama SS : Perlindungan Usaha Budidaya Ikan

Nama Indikator: Jumlah Bantuan Premi Asuransi Usaha Budidaya yang tersalurkan (orang)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahu nan

TW II TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra

- - 6.500 - - - - - - -

Pada tahun 2021 bantuan pembayaran premi APPIK tidak terealisasi dikarenakan adanya refocusing anggaran, sehingga capaian pada Triwulan II tahun 2022 tidak dapat dibandingkan dengan realisasi tahun 2021.

Pada tahun 2022 anggaran yang ditetapkan untuk mendukung IKU tersebut adalah sebesar Rp. 3.900.000.000, namun demikian anggaran tersebut dikenakan tagging Automatic Adjustment (AA) sebesar Rp. 3.575.000.000, sehingga anggaran yang dapat digunakan untuk mendukung IKU tersebut yaitu sebesar Rp. 325.000.000.

Realisasi anggaran sampai dengan Triwulan II sebesar Rp. 205.052.700,- (63,09%).

Beberapa permasalahan dalam pencapaian target IKU tersebut antara lain:

32 1. Pada tahun 2022 proses pengadaan barang/jasa bantuan pembayaran premi APPIK diharapkan dapat terlaksana melalui proses E Katalog. Hal tersebut sesuai dengan telah diterbitkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 2/SJ Tahun 2022 tentang Hasil Penelaahan Produk Katalog Elektronik Sektoral Etalase Produk Asuransi Kelautan dan Perikanan. Dalam Kepmen KP tersebut terdapat persyaratan pencantuman barang/jasa pada Katalog Elektronik, termasuk produk asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil.

2. Sampai dengan Triwulan II belum ada perusahaan asuransi yang mendaftarkan produk asuransi perikanan pada sistem E Katalog Sektoral LKPP.

Upaya-upaya yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian IKU tersebut pada Triwulan II adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan validasi data usulan CPCL bantuan pembayaran premi APPIK di 28 Provinsi (111 Kabupaten/Kota).

2. Mengikuti sosialisasi bersama UKPBJ terkait pendaftaran produk asuransi perikanan di e katalog sektoral LKPP.

3. Melaksanakan rapat koordinasi bersama OJK dan Asosiasi Asuransi terkait produk asuransi perikanan di e katalog sektoral LKPP.

Rencana aksi pada triwulan selanjutnya untuk mendukung IKU ini antara lain adalah (1) melakukan update data usulan CPCL bantuan premi APPIK untuk persiapan data CPCL tahun 2023, (2) melakukan koordinasi dengan UKPBJ, OJK, dan Asosiasi Asuransi untuk percepatan pendaftaran produk asuransi di e katalog sektoral LKPP.

3.2.4 Sasaran Strategis (SS-4) : Terkelolanya Perizinan Sesuai Ketentuan IKU4. Perizinan usaha perikanan budidaya yang diterbitkan

Dalam rangka percepatan perizinan usaha perikanan budidaya maka pada tahun 2021 telah diundangkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no.

10/PERMEN-KP/2021 tentang Standar Pelayanan Kegiatan Usaha dan Produk Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kelautan dan Perikanan. Permen KP tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah No.5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko.

Dalam PP 5/2021 ini bidang usaha perikanan budidaya terdapat dalam 31 Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia (KBLI) yang tercantum dalam lampiran 1 dalam PP tersebut. Ke 31 KBLI tersebut mencakup kegiatan pembenihan dan produksi dengan pembagian 28 KBLI untuk kegiatan produksi dan 3 lainnya untuk kegiatan produksi. Direktorat Produksi dan Usaha melalui Kelompok Pelayanan Usaha bertanggung jawab dalam 28 KBLI terkait produksi dimulai dari kode KBLI 03211 (Pembesaran pisces/ikan bersirip laut) sampai dengan kode KBLI 03263 (Jasa Pasca Panen Budidaya Ikan Air Payau). Berdasarkan semangat simplifikasi perizinan yang teramanatkan dalam PP 5 Tahun 2021 ini pula jenis perizinan RPIPM dihapuskan dan untuk kedepannya layanan perizinan usaha langsung dapat diakses melalui OSS

33 RBA. Selain RPIPM, kewenangan penerbitan SIKPI dan SIUP untuk Kapal Angkut Perikanan Budidaya telah beralih ke Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP sejak bulan Juli 2021.

Terkait dengan adanya perubahan kewenangan sebagaimana telah disampaikan diatas maka pada tahun 2022 Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya hanya menerbitkan Rekomendasi Pemasukan Calon Induk, Induk, Benih Ikan dan/atau Inti Mutiara. Ketentuan terkait Rekomendasi Pemasukan Calon Induk, Induk, Benih Ikan dan/atau Inti Mutiara diatur oleh PP 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko dalam Lampiran 1 Bagian B tentang Perizinan Berusaha untuk Menunjang Kegiatan Berusaha Sektor Kelautan dan Perikanan dan pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 30/PERMEN-KP/2020 tentang Rekomendasi Pemasukan Calon Induk, Induk, Benih Ikan dan Inti Mutiara.

Tabel 8. Capaian IKU Perizinan Usaha Perikanan Budidaya yang Diterbitkan.

Nama SS : Pengelolaan Perizinan sesuai ketentuan

Nama Indikator : Perizinan Usaha Perikanan Budidaya yang diterbitkan (unit/Lembaga)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahu nan

TW II TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra

- - 50 35 43 - 86 - - -

Satuan untuk realisasi tahun 2021 berupa unit sedangkan satuan realisasi pada tahun 2022 menggunakan lembaga, sehingga tidak bisa dibandingkan karena tidak setara. Pencapaian perizinan usaha perikanan budidaya yang diterbitkan pada Triwulan II Tahun 2022 adalah sebanyak 43 lembaga atau sebesar 122.8%

dibandingkan target sebesar 35 lembaga. Hal ini sesuai dengan rekomendasi pada Triwulan sebelumnya meningkatkan kinerja pelayanan, kualitas layanan perizinan dan menjaga performa kinerja pelayanan sesuai dengan SOP untuk melayani perusahaan/lembaga yang diterbitkan layanan perizinannya.

Dukungan anggaran kegiatan Perizinan Usaha Perikanan Budidaya sebesar Rp.250.000.000,- dengan capaian realisasi sampai dengan Triwulan II tahun 2022 sebesar Rp. 179.192.350 (71.68%).

Tindak lanjut rekomendasi Triwulan I kelompok pelayanan usaha telah menjaga layanan perizinan sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan. Rencana aksi pada Triwulan III dari apa yang telah dicapai sampai dengan periode Triwulan II Tahun 2022 ini yaitu tetap menjaga kualitas layanan perizinan dengan tetap menjalankan SOP yang telah ditetapkan sebelumnya.

34 1.2.5. Sasaran Strategis (SS-5) : Terkelolanya perikanan budidaya

berkelanjutan lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya

IKU 5. Rekomendasi kebijakan tata kelola bidang produksi dan usaha budidaya (rekomendasi kebijakan)

Melalui program-program yang dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, diharapkan dapat membantu peningkatan gizi masyarakat dengan peningkatan angka konsumsi ikan dalam rangka mendukung program pencegahan stunting dan ketahanan pangan keluarga, mendorong peningkatan produksi ikan hasil budidaya untuk pemenuhan permintaan konsumsi ikan segar, mengoptimalkan usaha budidaya dalam satu kawasan secara terintegrasi melalui pola hemat lahan dan pemanfaatan lahan pekarangan dengan melibatkan kelompok pembudidaya ikan dan kelompok wanita tani, serta meningkatkan peran usaha hilir perikanan, pengolah dan pemasar hasil perikanan dan perdagangan. Pengembangan perikanan budidaya membutuhkan input sarana dan prasarana produksi yang memadai dalam rangka menunjang peningkatan produksi budidaya sehingga diperlukan rekomendasi kebijakan dalam mendukung tata kelola bidang produksi dan usaha budidaya. . Tabel 9. Capaian IKU Rekomendasi Kebijakan Tata Kelola Bidang Produksi dan

Usaha Budidaya (Rekomendasi Kebijakan).

Nama SS : Terkelolanya perikanan budidaya berkelanjutan lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya

Nama Indikator : Rekomendasi kebijakan tata kelola bidang produksi dan usaha budidaya (rekomendasi kebijakan)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahu nan

TW II TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra

3 - 11 2 2 66.67 18,18 - - -

Target Triwulan II Tahun 2022 telah tercapai dengan telah tersusunnya 2 (dua) rekomendasi kebijakan. Penghitungan capaian target untuk Rekomendasi kebijakan di Triwulan II secara kumulatif. Rekomendasi kebijakan tersebut terdiri dari petunjuk teknis bioflok dan petunjuk teknis kampung perikanan budidaya Bandeng

Dukungan anggaran kegiatan rekomendasi kebijakan tata kelola bidang produksi dan usaha budidaya sebesar Rp. 1.655.750.000,- untuk pelaksanaan sampai Triwulan IV (target tahunan)

35 Pelaksanaan kegiatan untuk Triwulan II adalah adanya kebutuhan stakeholder rekomendasi kebijakan yang pada Triwulan II targetnya sebanyak 2. Realisasi capaian Triwulan II pada tahun sebelumnya lebih besar dibandingkan Triwulan II pada tahun 2022 ini dikarenakan bahan RSNI-3 yang telah disusun oleh Komite Teknis bidang perikanan budidaya masih menunggu proses penetapan oleh BSN.

Rencana aksi pelaksanaan Triwulan III adalah menyampaikan 5 rekomendasi kebijakan RSNI bidang Produksi dan Usaha Budidaya yang telah disusun ke Sekretariat komisi teknis disampaikan ke BSN untuk diproses penetapannya menjadi SNI, mempercepat usulan ke BSN untuk melakukan rapat fast track RSNI CBIB sampai tahapan rapat konsensus.

IKU 6. Bantuan sarana prasarana ikan hias (paket)

Teknologi budidaya ikan hias saat ini telah dikuasai dengan baik oleh unit pelaksana teknis di lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya maupun oleh masyarakat khususnya pembudi daya ikan hias. Sentra-sentra produksi ikan hias masih terpusat di pulau Jawa seperti Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Oleh karena itu perlu upaya untuk menyebarluaskan kegiatan budidaya ikan hias di seluruh wilayah Indonesia.

Rencana Aksi Nasional (RAN) pengembangan industri ikan hias nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, saat ini sedang memasuki tahap finalisasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mempunyai tanggung jawab untuk peningkatan produksi dan mutu ikan hias melalui tersedianya sarana dan prasarana pembudidayaan ikan hias. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut di atas maka perlu adanya kegiatan yang dapat memberikan stimulus bagi masyarakat khususnya pembudi daya ikan hias.

Bantuan ikan hias tahun 2022 ini dilakukan dalam rangka mengoptimalkan pengembangan kampung ikan hias dan peningkatan produksi ikan hias. Ikan hias sebagai salah satu komoditas utama di sektor perikanan, berhasil memberikan kontribusi yang cukup baik yaitu dengan jumlah produksi ikan hias nasional tahun 2020 sebesar 1,49 milyar ekor (angka sementara, sumber: satudata.kkp.go.id) yang mengalami peningkatan produksi dari tahun 2019 dengan jumlah produksi 1,34 milyar ekor (angka sementara, sumber: satudata.kkp.go.id). Pada tahun 2022 telah ditetapkan target produksi ikan hias nasional yaitu sebesar 1,56 milyar ekor, untuk mencapai target tersebut perlu adanya strategi khusus dalam peningkatan produksi ikan hias nasional. Oleh karena itu Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengalokasikan anggaran untuk kegiatan bantuan budidaya ikan hias.

36 Tabel 10. Capaian IKU Bantuan Sarana Prasarana Ikan Hias (Paket).

Nama SS : Terkelolanya perikanan budidaya berkelanjutan lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya

Nama Indikator : Bantuan sarana prasarana ikan hias (paket)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahu nan

TW II TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra

- - 30 - - - - - - -

Bantuan ikan hias yang pemerintah berikan adalah dalam bentuk barang berupa Induk Ikan Koi (20 paket) dan Induk Ikan Maskoki (10 paket). Upaya yang sudah dilakukan untuk pelaksanaan bantuan ikan hias di Triwulan II adalah 1) menyusun survei harga yang menjadi dasar dalam menetapkan harga induk ikan hias koi dan maskoki, 2) pengecekan penyusunan dokumen kontrak dalam hal ini sudah berkoordinasi dengan pihak PBJ dan inspektorat jenderal bidang III, 3) penandatangan dokumen kontrak dengan pihak pemenang lelang.

Realisasi pada Triwulan II tahun 2022 tidak dapat dibandingkan dengan realisasi Triwulan II tahun 2021, dikarenakan pada tahun 2021 bantuan untuk ikan hias dilakukan oleh UPT lingkup DJPB. Adapun yang menjadi kendala pelaksanaan kegiatan selama Triwulan II adalah dalam hal menyusun spesifikasi teknis untuk induk ikan hias yang akan dituangkan atau dideskripsikan dalam dokumen kontrak.

Rencana aksi kegiatan pada Triwulan III sebagai rekomendasi adalah 1) proses distribusi bantuan induk ikan hias sebanyak 30 paket di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Bogor dengan melibatkan tim teknis kelompok kerja pusat maupun kabupaten dinas, 2) Koordinasi dengan pihak pemenang lelang terkait dengan pelaksanaan distribusi bantuan dan 3) penandatangan berita acara serah terima serta pemeriksaan hasil pekerjaan.

IKU7. Jumlah tenaga kerja (orang)

Sesuai intruksi Presiden untuk mendorong program program yang bersifat padat karya, maka pihaknya akan fokus dengan mendorong kegiatan yang langsung menyerap lebih banyak tenaga kerja. Disisi lain, karakteristik usaha budidaya di Indonesia hampir 80 persen merupakan skala kecil menengah, menurutnya menjadi nilai tersendiri bagi kekuatan struktur ekonomi Indonesia karena lebih banyak mendorong pemberdayaan masyarakat.

Program terobosan berikutnya adalah pembangunan kampung perikanan budidaya tawar, payau, dan laut berbasis kearifan lokal dengan tujuan pengentasan

37 kemiskinan melalui peningkatan pendapatan pembudidaya ikan dan menjaga komoditas yang bernilai ekonomis tinggi dari kepunahan. Kampung perikanan budidaya menjadi salah satu andalan untuk bisa menjadi ketahanan pangan nasional.

Selain itu, program terobosan KKP terkait subsektor perikanan budidaya diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Tabel 11. Capaian IKU Jumlah Tenaga Kerja (Orang).

Nama SS : Terkelolanya perikanan budidaya berkelanjutan lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya

Nama Indikator : Jumlah Tenaga Kerja (orang)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahunan TW II

TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra

- - 12.588 - - - - - - -

Pada periode Triwulan II ini belum terdapat capaian target dikarenakan pada periode ini pelaksanaan kegiatan masih berada pada tahapan persiapan dan koordinasi.

Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana aksi yaitu persiapan dan koordinasi kegiatan. Tindak lanjut kegiatan pada Triwulan III sebagai rekomendasi adalah mendapatkan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa maupun penerima bantuan pemerintah.

3.2.6. Sasaran Strategis (SS-6) : Meningkatnya Kualitas Pengendalian dan Pengawasan Perikanan Budidaya Bidang Produksi Dan Usaha.

IKU 8. Unit pembudidayaan ikan yang siap di sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) (Unit)

Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang merupakan salah satu bagian penting dari Sistem Pengendalian Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SJMKHP) di bidang perikanan budidaya, yang dikembangkan untuk menjamin mutu dan keamanan pangan hasil pembudidayaan ikan dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik.

Penerapan CBIB oleh unit pembudidayaan ikan tersebut dilakukan dengan cara memelihara dan/atau membesarkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga memberikan jaminan keamanan pangan dari

38 pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, benih, pakan, obat ikan dan bahan kimia serta biologis.

Seiring dengan perubahan kebijakan terkait dengan pelaksanaan kegiatan sertifikasi unit budidaya, sesuai dengan amanat Undang – Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja dan PP No. 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko yang selanjutnya diturunkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kelautan dan Perikanan bahwa pelaku usaha budidaya diwajibkan untuk memenuhi CBIB.

Untuk pelaku usaha budidaya skala mikro dan kecil diwajibkan untuk memiliki surat pemenuhan prinsip – prinsip CBIB dan untuk pembudidaya skala menengah dan besar wajib memiliki sertifikat CBIB. Dalam pelaksanaan kegiatan CBIB dimaksud, perubahan mekanisme prosedur sertifikasi yang semula akan dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Proses (LSPro) terakreditasi oleh KAN yaitu LSPro BBPBAT Sukabumi, BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar, tidak jadi dilaksanakan. Sertifikasi CBIB tetap dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Adapun tujuan kegiatan CBIB adalah untuk

1. Meningkatkan pemahaman pembudidaya akan SNI CBIB dan penerapannya;

2. Meningkatkan kesiapan unit budidaya mengikuti sertifikasi SNI CBIB;

3. Meningkatkan performa pembudidaya ikan Indonesia dalam memenuhi persyaratan perikanan budidaya yang bertanggung jawab dan berkelanjutan;

4. Memenuhi aturan/regulasi yang berlaku.

Capaian sertifikasi CBIB Triwulan II tahun 2022 sejumlah 1,193 sertifikat yang berasal dari unit produksi budidaya yang tersebar di 34 Provinsi. Target CBIB tahun 2022 adalah Unit pembudidayaan ikan yang siap di sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik dengan sebaran sebagaimana terlampir (Lampiran 3). Kegiatan yang mendukung pencapaian sertifikasi CBIB adalah rapat koordinasi dengan Provinsi, Penyiapan LSPro, penilaian sertifikasi ke lapangan, sosialisasi/pelatihan CBIB.

Dukungan anggaran kegiatan sertifikasi CBIB untuk Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya sebesar Rp. 350.000.000,- dengan pencadangan sebesar Rp.

102.100.000 (29,17%). Realisasi penyerapan anggaran sampai dengan Triwulan II tahun 2022 adalah sebesar Rp. 174.626.200 (70,44%), sebagaimana tabel berikut.

Tabel 12. Rincian Kegiatan Pendukung Sertifikasi CBIB.

Kegiatan Pagu Realisasi

Pedoman CBIB 79.100.000 44.726.200

Pencadangan Pedoman CBIB 70.900.000 -

Pedoman LS Pro 168.800.000 129.900.000

Pencadangan Pedoman LS Pro 31.200.000 -

39 Kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan sertifikasi CBIB antara lain :

1. Tidak ada organisasi khusus yang menangani CBIB, tidak ada fungsi standardisasi dan sertifikasi di unit kerja DJPB pusat. Terbatasnya personil yang menangani CBIB dan pekerjaan tambahan lainnya yang di membebani tugas utama personil yang menangani CBIB;

2. Mutasi personil/ petugas CBIB baik pusat maupun di daerah;

3. Keterbatasan anggaran karena adanya automatic adjustment pada anggaran CBIB pusat dan dekonsentrasi pada Provinsi; serta

4. Adanya perubahan kebijakan unit yang melakukan sertifikasi.

Pada tahun 2022, kegiatan sertifikasi CBIB dilaksanakan oleh 34 provinsi dengan total target 2.500 unit dan total anggaran Rp. 350.000.000,- dan terkena penghematan (automatic adjustment) sebesar Rp. 1.883.553.000,- (60% dari pagu awal) sehingga nilai anggaran dekon CBIB tahun 2022 adalah Rp. 1.266.447.000,-.

Tabel 13. Capaian IKU Unit Pembudidayaan Ikan yang Siap di Sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) (Unit).

Nama SS : Meningkatnya kualitas pengendalian dan pengawasan perikanan budidaya bidang produksi dan usaha

Nama Indikator : Unit pembudidayaan ikan yang siap di sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahunan (unit)

TW II (uni

t)

TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra 667 2.250 2.500 1.0

00

1193 178,86 119,3 178,86 - -

Dalam periode ini telah diterbitkan sertifkat CBIB sebanyak 1.193 sertfikat, dari target sudah sangat melampaui dengan prosentase sebesar 119,3%.

Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana aksi. Kedepannya sebagai rekomendasi yaitu penyesuaian target kinerja sesuai pemotongan anggaran serta kebijakan untuk penyediaan sumber daya manusia dan organisasi pelaksana sertifikasi.

40 3.2.7. Sasaran Strategis (SS-8) : Tata Kelola Pemerintah yang baik lingkup

Produksi dan Usaha Budidaya.

IKU 9. IP ASN lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya

Indikator kinerja IKU ini adalah adalah suatu instrument yang digunakan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat profesionalitas ASN yang hasilnya digunakan untuk penilaian dan evaluasi guna pengembangan profesionalitas profesi ASN. Indeks profesionalitas ASN diukur menggunakan standar profesionalitas ASN.

Standar professional ASN terdiri dari empat dimensi, yaitu:

1. Kualifikasi, merupakan dimensi yang menggambarkan tingkat atau jenjang pendidikan yang dicapai seseorang untuk memperoleh suatu pengetahuan dan/atau keahlian khusus, sehingga seseorang tersebut mengetahui, memahami dan dapat menjalankan pekerjaan tertentu sesuai tugas jabatannya.

Alat ukur yang digunakan adalah persentase berdasarkan jenjang riwayat pendidikan terakhir yang dicapai oleh PNS;

2. Kompetensi, merupakan dimensi yang menggambarkan kemampuan seseorang yang merupakan kombinasi antara pengetahuan, keterampilan dan sikap serta didukung dengan program pengembangan kompetensi berkesinambungan yang tercermin melalui perilaku kinerja, yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Alat ukur yang digunakan adalah persentase berdasarkan jenis diklat yang pernah diikuti (seperti Diklat Kepemimpinan, Diklat Fungsional, Diklat Teknis, Kursus-kursus, dan Seminar/Workshop/Magang/sejenis;

3. Kinerja, merupakan dimensi yang menggambarkan pencapaian sasaran kerja pegawai yang didasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit kerja atau organisasi dengan memperhatikan target, capaian, hasil dan manfaat yang dicapai serta perilaku PNS. Alat ukur yang digunakan adalah rata-rata kinerja individu pada suatu unit kerja;

4. Disiplin, merupakan dimensi yang menggambarkan kesanggupan seorang pegawai untuk mentaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, peraturan kedinasan apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas jabatan. Alat ukur yang digunakan persentase jumlah PNS yang memperoleh hukuman disiplin berdasarkan tingkatan hukuman disiplin.

41 Gambar 5. Matrik Perhitungan Indeks profesionalitas ASN.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan upaya dalam hal pencapaian Indeks Profesionalitas dengan cara memberikan kesepatan ASN untuk meningkatkan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan organisasi melalui: tugas belajar, izin belajar, Diklat, seminar/workshop/magang, dan sejenisnya. Selain itu didukung pula dengan capaikan kinerja individu melalui penilaian prestasi kerja PNS dan pembinaan terhadap setiap PNS agar menjalankan tugasnya sesuai dengan kode etik.

Tabel 14. Capaian IKU Indeks Profesionalitas ASN Lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya.

Nama SS: Tata Kelola Pemerintah yang baik lingkup Produksi dan Usaha Budidaya Nama Indikator: Indek profesionalitas ASN lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya (%)

2021 2022

% Capaian

% Pertumbuhan TW II 2021 thd

TW II 2022

Rancangan Renstra DJPB 2020-2024 Realisasi Target Realisasi

TW II Tahun 2021

Tahunan TW II

TW II terhadap realisasi TW II 2021

terhadap target tahun 2022

Target 2024

% Capaian thd target

akhir Renstra 70,9

2

73 80 60 74,84 84,60 93,55 178,86 - -

Realisasi indeks profesionalitas ASNI lingkup Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya pada Triwulan II tahun 2022 mencapai nilai 74,84 dari target yang ditetapkan

Dokumen terkait